Berita

Juni 19, 2009 by safegoreti

tv bali 4

Bali Televisi
Bali Televisi (Bali TV) sebagai televisi lokal telah hadir di Bali sejak 24 Mei 2002 untuk memperkaya jagat pertelevisian Bali dan Indonesia. Pintu telah dibuka untuk menyampaikan penghargaan atas khasanah keunikan Bali. Kehadirannya dirancang untuk mampu menumbuhkan inspirasi dan motivasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Bali di masa depan. “Bali Televisi hadir karena pemirsa. Masyarakat Bali membutuhkan media yang memiliki kredibilitas dan mengerti kebutuhan mereka.” demikian kata Gayatri salah karyawati Bali TV yang menyambut kami dan menjelaskan kepada kami, rombongan wisata dari Universitas Sanata Dharma, pada Jumat, (5/6) di aula Bali TV.
Karyawati itu menjelaskan bahwa dalam surat yang dikeluarkan Gubernur Bali tertanggal 29 Juli 2002 secara tegas menyebutkan bahwa Pemerintah Propinsi Bali dan masyarakat Bali sangat berkepentingan terhadap jasa pelayanan informasi lokal dan selama dilakukan uji coba penyiaran, Bali TV sangat mendapat respons positif dari masyarakat Bali. Selain itu, kehadiran Bali TV akan sangat menunjang pelaksanaan otonomi daerah khususnya di bidang pelestarian adat dan budaya serta perkembangan pariwisata Bali.
Bali adalah salah satu destinasi penting di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam percaturan nasional bahkan dunia. Banyak peristiwa nasional dan internasional digelar di Bali sehingga menjadi pusat perhatian. Hal ini ditambah potensi Bali lainnya, misalnya budaya dan tradisi unik, yang informasinya selalu diburu masyarakat dunia. Oleh karena itu, keberadaan media khususnya televisi yang didasari pemahaman yang obyektif atas Bali menjadi semakin relevan.
Dengan maksud memberikan alternatif tontonan yang berkualitas, karyawati itu menjelaskan bahwa Bali TV hadir di dunia pers sejak tujuh tahun silam dengan tujuan memberikan wahana bagi masyarakat Bali untuk berkreasi. Bali TV ingin menjadi lembaga penyiaran profesional yang menyediakan informasi, pendidikan dan hiburan yang memberikan pencerahan bagi masyarakat, tetap pada komitmennya yaitu menjaga budaya dan adat Bali.
Media elektronik yang beralamat di Jl. Hayam Wuruk no. 98, Denpasar, Bali ini hadir di tengah-tengah masyarakat Bali pada umumnya sebagai sarana untuk menyalurkan perubahan, menyebarluaskan pengetahuan, pendidikan, informasi dan hiburan, serta memelihara warisan budaya masyarakat Bali. Selain itu, sasaran dari Bali TV adalah dengan program-program yang ditayangkan dapat membantu masyarakat Bali untuk berkembang dalam keharmonis dengan lingkungan dan masyarakat.
Bali TV yang baru merayakan ulang tahun yang ke-7 ini dioperasikan dengan peralatan peralatan digital yang mutakhir. Seluruh peralatan seperti kamera, editing, master control, dan lain sebagainya menggunakan peralatan dengan spesifikasi unggul guna memberikan tayangan dengan kualitas terbaik. Semua program siaran dipancarkan melalui peralatan transmisi merk ROHDE&SCHWARZ NH/NV 8600 Transmitters Family dengan kekuatan 10K watt. Coverage area Bali TV meliputi seluruh bagian daerah pulau Bali kecuali kota Singaraja, serta daerah di luar Bali meliputi Lombok dan Banyuwangi.

Pragram pemasaran Bali TV sebagai televisi komersial membiayai kegiatan operasional dari para pengiklan. Untuk itu, Bali TV bergiat terus memproduksi program acara yang disukai pemirsa untuk memikat dan mengikat para pengiklan secara rutin berinvestasi pada program yang digemari pemirsa. Program-program Bali TV merangkul semua segmen mulai anak anak, remaja, dewasa dan orang tua.

sma 4

Itulah penjelasan dari wartawan TV Bali kepada mahasiswa Universitas Sanata Dharma, yang mengadakan kunjungan ke TV Bali.
Di luar program pemasaran yang memadukan dengan tepat unsur-unsur pemasaran untuk mengoptimalkan sasaran, Bali TV mengkonsentrasikan sasaran melalui dua cara yaitu penjualan group dan penjualan retail. Penjualan group memberikan paket penawaran menarik dengan diskon dengan bonus khusus langsung kepada pemilik produk atau merek. Program ini dijalankan untuk menjaring pemasang iklan dalam jangka panjang. Sedangkan
penjualan secara retail ini dijual kepada pengiklan yang memiliki program berkala atau tidak rutin dan menyesuaikan dengan pelaksanaan event atau program tertentu.
Dengan moto “Bali TV berkarya dengan kreativitas tak terbatas” ini dengan rendah hati, tetap menerima saran, masukan dan pemikiran positif yang sangat berarti bagi langkah kami ke depan. Bali TV akan tetap eksis atas dukungan pemirsa yang memiliki komitmen yang sama untuk berkontribusi pada Bali. Di Bali TV saatnya kita bergabung mensinergikan semua potensi untuk meraih kegemilangan Bali. Bali TV sekali oke, tetap oke!

Ekspedisi

Juni 16, 2009 by safegoreti

GUA MARIA SENDANGSONO

Sendangsono 059
Sendangsono adalah tempat ziarah Gua Maria tertua di pulau Jawa. Secara geografis, Sendangsono berada di pegunungan Menoreh dan beralamatkan di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangsono berbatasan dengan Jawa Tengah kira-kira 30 km dari Kota Magelang dan 15 km sebelah selatan Muntilan. Lima tahun yang silam, yaitu tepatnya tahun 2004 telah memperingati usianya yang ke 100 tahun.
Dari Yogyakarta ke Sendangsono dapat ditempuh melalui dua arah yaitu melalui jalan yang mengarah ke Borobudur atau Muntilan. Setelah memasuki arah candi Borobudur peziarah yang belum pernah ke sana bisa mengikuti petunjuk, tetapi petunjuk itu kurang lengkap ke arah Sendangsono. Oleh karena itu, setelah berada di Borobudur, candi Budha yang terkenal di terkenal di Jawa Tengah itu, peziarah bisa bertanya kepada penduduk sekitar untuk mendapat informasi mengenai jalan menuju Sendangsono.
Jalaur lain yang bisa ditempuh yaitu melalui arah barat dari Yogyakarta menuju desa Kalibawang. Meskipun tidak ada petunjuk tetapi dengan bertanya, orang akan dengan mudah menunjukkan jalan ke Kalibawang lalu ke Sendangsono karena tempat itu sudah terkenal. Bagi yang memakai kendaraan umum juga tidak kesulitan karena tersedia ojek motor yang bisa mengantar peziarah dari jalan raya ke lokasi Sendangsono.
Jalan di desa Kalibawang pas untuk satu mobil sehingga harus saling menepi jika berpapasan dengan kendaraan lain. Jalan masuk Sendangsono sudah diaspal. Sendangsono terletak beberapa kilo meter dari jalan raya. Selain jalannya sempit, di sepanjang jalan masuk lokasi Sendangsono terdapat jalan rusak sedikit tetapi mobil sedan masih bisa lewat dengan mulus.

Bagi yang berkendaraan beroda dua dan baru pertama pergi ke daerah perbukitan itu pasti mengalami kesulitan karena jalannya menanjak lalu menurun, dan juga banyak tikungan. Sementara di sebelah kanan dan kiri jalan terlihat jurang yang cukup menakutkan. Maklum, Sendangsono berada di perbukitan Menoreh. Tetapi justru di sepanjang jalan masuk Sendangsono yang begitu menantang itulah, peziarah akan menikmati keindahan alam berupa tebing-tebing dan hamparan perbukitan yang dihiasi aneka tanaman. Suatu keindahanalami yang memang layak dan pantas dipromosikan kepada publik.
Arsitektur Sendangsono
Komplek ziarah Sendangsono yang luasnya hanya sekitar 1 hektar ini memiliki dua tempat parkir yang cukup luas akan tetapi jika musim ziarah atau liburan, tempat itu bisa menjadi sangat padat. Dari depan, jalan masuk lokasi Sendangsono dari tempat parkir, di kiri dan kanan terdapat penjualan barang-barang rohani seperti patung Bunda Maria, Patung Yesus Kristus, salib, rosario, lilin, dan jerigen beserta botol berbentuk patung Bunda Maria untuk diisi air Sendangsono.
Begitu masuk lokasi Sendangsono di sebelah kanan dibangun jalan salib yang jarak satu dengan perhentian ke perhentian lain sangat dekat, hanya beberapa langkah saja. Diorama-diorama kisah sengsara Yesus Kristus berbentuk kecil dan dinaungi atap berwarna merah tua.
Di sekitar tempat tersebut dibuat semacam tempat duduk bertingkat dari batu, dengan maksud tempat ini bisa digunakan sebagai tempat duduk atau tempat untuk berlutut bagi yang berdoa di sekitarnya. Di akhir jalan salib, terdapat pelataran yang berada di tengah dan di bagian bawah terdapat keran air untuk mengambil air dari sumber air Sendangsono.
Di bagian depan sumber air terdapat gua Maria. Di depan gua Maria terdapat pohon sono besar dan sekitar 10 m sebelah kanan pohon sono terdapat pohon beringin yang tidak kalah besarnya sehingga tempat di sekitar gua Maria menjadi teduh dan memberi kenyamanan dan kesejukan bagi peziarah yang ingin memanjatkan devosinya Bunda Maria.
Di dalam lokasi Sendangsono terdapat tiga kapel yang bisa digunakan para peziarah untuk berdoa atau bagi rombongan peziarah yang membawa pastor, biasanya digunakan untuk perayaan ekaristi. Di sebelah kanan berdampingan dengan gua Maria, terdapat salah satu kapel yaitu kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal Mahakudus adalah rumah joglo. Atapnya disusun menjadi tiga lapis. Tiga lapisan atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
Kapel yang kedua adalah Kapel Para Rasul. Bangunan ini berada di sebelah utara gua. Ciri bangunan itu, tiang terdiri dari tiga pilar, atapnya disangga oleh kerangka seperti ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran yang dibuat dengan model kolosium romawi. Sesuai namanya, atap kapel ini terdiri dari 12 sudut untuk menggambarkan ke-12 rasul Yesus.Kapel yang lain adalah Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong dan ditandai dengan tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Ketiga tempat suci ini dipagari. Pagar besi itu dibuka jika akan digunakan untuk ibadat bersama atau merayakan ekaristi.
Halaman gua Maria merupakan bagian dari halaman kapel Tritunggal Mahakudus. Halaman kapel tersebut merupakan ‘pendapa’ yang berfungsi selayaknya tempat tertemuan rakyat dengan junjungannya di tempat terbuka bersuasana dialogis. Di sebelah utara pada dinding bagian pohon sono yang besar dan rindang terpasang dua batu prasasti yang bertanggal 15 Oktober 1972.
Prasasti pertama bertuliskan dua kutipan yaitu “Berkat pada manusai yang menaruh percaya pada Tuhan. Dengan Tuhan selaku harapannya. Ia bagaikan pohon di dekat air yang mempercayakan akar-akarnya pada arus sungai. Bila panas datang tidaklah ia bingung; daun-daunya tetap hijau; tak pernah ia sedih dalam tahun-tahun yang kering” (Yeremia, 17,7-8) dan “Barang siapa berbahagia hendaklah ia datang kepadakKu dan hendaklah ia minum, siapa saja yang percaya akan Daku. Sungai-sungai air hidup akan berpancaran dari batinnya” (Yohanes 7,37).
Prasasti di bawanya bertuliskan “Dipersembahkan dengan rasa syukur penuh harapan di tengah masa yang sedang bergolak oleh umat yang percaya pada rahmat Roh Kudus, keibuan Meriam yang telah mengandung benih sabda Bapa dan melahirkan penyelamat kita, Yesus Kristus.”
Selain kedua prasasti itu, dekat jembatan masuk menuju pelataran Sendangsono terdapat sebuah prasasti dengan tulisan: “Ikatan Arsitek Indonesia menganugerahkan IAI AWARD 1991: Penghargaan Karya Arsitektur Terbaik 1991 kepada Bangunan Ini untuk Kategori Bangunan Khusus Usaha Penataan Lingkungan”.
Di sebelah kanan atas Kapel Bunda Maria Segala bangsa, terdapat sebuah gapura besar menuju pemakaman yang bertuliskan “Makam Lingkungan Semanggung.” Makam itu adalah makam umat Katolik penduduk sekitar Sendangsono. Di sebelah kanan depan gapura itu, langsung terlihat pemakaman dari dua katekis pertama Kalibawang yaitu Barnabas Sarikromo dan Adrianus Sarikromo.
Makam kedua katekis peratama itu kelihatan mencolok dari semua makam di lokasi pemakaman itu karena dibuat lebih tinggi dan agak istimewa dari makam yang lain. Diatas makam yang dibagun menjadi satu bangunan, dipasang satu patung setengah badan berpakaian adat Jawa sebagai suatu penghormatan kepada kedua pewaris iman Khatolik itu. Di antara kedua makam itu, pada bagian kaki yang menghadap ke arah gapura masuk, terpasang sebuah prasasti besar dengan tulisan, “Makam
rnabas Sarikromo.Wafat 15-7-1945. Adrianus Sarikromo. Wafata 6-5-1966. Katekis Pertama di Kalibawang.” Di dekat gapura pemakaman dan depan kapel Bunda Maria Segala Bangsa, juga berdiri tegak Salib Milenium besar berukuran kira-kira 2 meter yang dipasang pada tahun 2000.
Di antara kapel Tri Tunggal dan Kapel Bunda Maria Segala Bangsa terpasang pahatan peristiwa pembabtisan pertama 171 umat Sendangsono. Menurut Aloyisius Agus Suparto (78), pemilik kios yang paling banyak dikunjungi peziarah mengatakan bahwa 171 orang itu dibabtis oleh Romo Van Lith, SJ pada tanggal 14 Desember 1904. “Romo Van Lith adalah salah satu dari dua pastor yang memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang Jawa di Kalibawang ini.” bapak yang tak hentinya mengakui bahwa ia diberkati Bunda Maria di tempat itu menjelaskan.
Antara pelataran gua Maria dan pelataran jalan salib dihubungkan dengan sebuah jembatan berukutan kira-kira 4 meter. Di sebelah kiri dan kanan jembatan dipasang besi bercat merah sebagai pagar sehingga peziarah merasa nyama melewatinya. Di bawa jembatan itu terdapat sekitar 50-an keran air yang dipasang berjejer di sepanjang tembok aliran air lokasi Sendangsono. Untuk mengambil air, dibuatkan trap-trap berupa anak tangga sehingga peziarah tidak kesulitan mengambil air. Pada keran-keran air itulah para peziarah mengisi batol dan jerigen mereka untuk didoakan di depan patung Bunda Maria dan akan dibawa pulang kerumah mereka. Air itu diyakini sebagai air suci. Air dari suci Sendangsono. Pada jembatan yang dibuat dengan memperhatikan daya seninya, peziarah bisa lewat dari situ menuju ke tempat parkir kendaraan bagaian depan.

Patung Bunda Maria
Patung Bunda Maria pada gua yang tersusun dari batu-batu karang itu, tingginya 1,8 cm dan beratnya 300 kilogram. “Patung Bunda Maria di Sendangsono itu didatangkan dari Denmark melalui Semarang, lalu digotong ke Slanden melalui Sentolo, lalu menuju Sendangsono pada tahun 1929 oleh umat Katolih Kalibawang. “Sendangsono dipilih sebagai tempat untuk membangun gua Maria sebagai peringatan kepada peristiwa pembabtisan ke-171 orang di sumber sendang dekat dua pohon sono pada 14 Desember 1904 yang silam oleh Romo Van Lith, SJ.” kata bapak yang dihormati di lingkungan Sendangsono sebagai sesepuh.
Aloysius Agus Suparto yang menuturkan kisah di atas mengaku mengumpulkan berbagai keterangan dari Antonius Sokariyo (katekis awal) Marianus Somokariyo (pamong lingkungan), Plasidus Tanurejo (katekis angkatan kedua), ayahnya, Agustinus Partodikromo, dan para sesepuh di dusun Semanggung, Sendangsono.

Sejarah Sendangsono
Sendangsono adalah nama tempat mempunyai sajarah. Awalnya, sebutan Sendangsono tidak untuk menyebut suatu nama tempat. Sendangsono merupakan sebutan untuk sumber air yang berada di bawah pohon Sono. Istilah Sendangsono merupakan gabungan dua kata, ”Sendang” dan ”Sono”. Sendang merupakan istilah Jawa untuk menyebut sumber air. Sono adalah nama sebuah pohon (baca: angsana). Oleh karena itu, Sendangsono merupakan sebutan untuk mata air yang berada di bawah pohon sono.
Dulu, sebelum nama Sendangsono dikenal, orang sering menyebut sumber air itu dengan sumber Semagung. Dalam perkembangannya, orang mengenal dengan nama Sendangsono.
Sendangsono sebagai tempat ziarah merupakan peristiwa lahirnya Gereja atau umat Katolik di sekitar Kalibawang.
Proses terbentuknya tempat ziarah ini berkaitan erat dengan perkembangan umat Katolik di sekitar Kalibawang. Perkembangan umat Katolik yang pesat mendorong lahir dan berkembangnya Sendangsono.Sebelum menjadi tempat ziarah yang berciri katolik, sumber air di bawah pohon Sono dikenal sebagai tempat keramat. Konon, di tempat itu digunakan untuk semedi. Masyarakat sekitar yakin ada roh-roh yang berdiam di tempat itu.
Menurut legenda, bila roh-roh terganggu, mereka akan mencelakai. Konon pula, di pohon Sono itu berdiam seorang ibu yang bernama Dewi Lantamsari dan anak tunggalnya Den Baguse Samijo. Dua makhluk itu menjadi ”penguasa” daerah itu. Menurut dongeng kuna juga, sumber air Semagung juga digunakan sebagai tempat istirahat para bikshu yang mengadakan perjalanan dari Borobudur ke Boro atau sebaliknya.
Dulu Boro dikenal sebagai tempat biara para bikshu meskipun sekarang ini sudah tidak ada bekasnya. Memang bila dilihat dari jaraknya, sumber Semagung ini berada di tengah-tengah antara Borobudur dan Boro. Pada tanggal 14 Desember 1904, sumber air Semagung dipilih sebagai tempat untuk membaptis. Ketika orang-orang sekitar Semagung masuk agama Katolik, sumber air Semagung dan digunakan digunakan untuk membaptis mereka. Oleh karena itu, sumber air Semagung tidak lagi diperlakukan sebagai tempat tinggal roh-roh tetapi digunakan sebagai tempat berjumpa dengan Tuhan.
Peristiwa baptisan itu menjadi awal mula lahirnya umat Katolik yang berciri Jawa. Dan Sendangsono menjadi monumen sejarah berdirinya umat Katolik di sekitar Kalibawang. Maka Sendangsono lahir karena umat Katolik lahir dan berkembang di sana.
Tanah Milik Tuhan
Berkisah mengenai latar belakang dan asal mula Sendangsono, areal itu awalnya tanah milik penduduk setempat. Pak Luis berkisah, “Dulu areal tanah yang sekarang ditempati Bunda Maria adalah tanah milik Abraham Dipodongso. Tanah itu diwariskan kepada anaknya, Yoakim Ronojoyo, dan diwariskan lagi kepada anaknya, Agustinus Partodikromo, ayah saya.” Kisahnya lagi, “Pada waktu itu tempat itu masih hutan/semak dengan dua pohon sono yang besar dan dua pohon beringin yang rindang. Tempat itu dianggap angker oleh penduduk sekitar.”

bunda

Aloysius Agus Suparto menuturkan bahwa pada saat itu ayahnya, Agustinus Partodikromo ditemui Barnabas Sarikromo dan Antonius Sokariyo, katekis-katekis awal dari daerah itu bermusyawarah. Kedua katekis itu mengharapkan sebagian tanah milik ayahnya untuk tempat ziarah. Bapak yang ramah itu menjelaskan, “Awalnya ayah saya tidak setuju, tetapi setelah direnungkan dan meminta pertimbangan dari keluarga, akhirnya ayah merelekan sebagian tanahnya seluas lebih kurang 300 m². Ayah berpendapat bahwa “Segala sesuatu yang ia miliki adalah milik Tuhan. Jadi tanah ini milik Tuhan, ia hanya mengolahnya.”

Setelah disetujui, kedua katekis itu mengumpulkan umat Katolik dan merencanakan tempat itu untuk mendirikan gua Maria. Pembangunan itu melibatkan seluruh umat Katolik. Mereka bergotong royong mencari bahan material.
Setelah ayah Pak Luis, Agustinus Partodikromo meninggal, untuk perluasan lokasi tempat ziarah gua Maria Sendangsono, pada tahun 1970, sepupu Pak Luis, Bruder Tirto Sumarto, SJ menawarkan untuk membeli tanah warisannya. Pak Luis menjelaskan bahwa saat itu ia menjawab “Saya tidak mau jual. Tanah ini tanah warisan, tetapi jika ini untuk Bunda Maria, saya relakan. Saya tidak mau berhitung dengan Bunda Maria. Saya tidak mau pelit karena bapak saya juga dulu tidak pelit.”
Pak Luis secara jujur mengatakan bahwa dengan memberikan tanah leluhurnya untuk dipakai Bunda Maria adalah hal yang jauh lebih berharga dan bernilai daripada uang sebesar dan sebanyak apapun “Saya sangat bersyukur karena Tuhan memakai tanah kami sebagai RumahNya.” Pak Luis bertutur dengan nada iklas. Ia menambahkan bahwa saat mati ia tidak akan membawa tanah atau uang. Ia menagatakn bahwa Tuhan berkenan menggunakan tanah keluarga mereka, sudah merupakan berkah sangat besar bagi kehidupan keluarga besarnya.
Melalui berkat Bunda Maria di temapt itu, Pak Luis dapat menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi dan sekarang sudah mendapat pekerjaan semua. “Itulah berkata yang saya dapat dari Bunda Maria.” Ia mengatakan bahwa dengan memberi dari hati yang tukus kepada Tuhan, Tuhan juga akan memberi yang terbaik kepadanya bahkan pemberiaanNya berlipat ganda.

Berkat Bunda
Atas berkat dan rahmat dari Bunda Maria, Aloyisius Agus Suparto memulai usahanya di Sendangsono sejak 21 tahun yang silam. Singkat cerita, di sebelah kiri gua Maria, terdapat kios milik Aloyisius Agus Suparto, yang akrap dipanggil Pak Luis oleh penduduk sekitar. Kios tersebut ramai dikunjungi para peziarah. Tidak mengherankan karena di tempat yang strategis, tepat di sebelah kiri gua Maria, hanya dibatasi oleh tembok. Kios yang sudah layak disebut tokoh itu lengkap dengan berbagai makanan ringan, berbagai suvenir benda-benda rohani dari harga yang paling murah sampai paling mahal seperti satu rangkaian rosario bisa mencapai harga Rp. 350.000-Rp. 500.000.
Menurut Ani (25) penjaga kios, “Barang-barang rohani itu mahal karena merupakan barang impor dari Roma-Itali.” Dan kelihatannya, hanya menyebutkan asal barang itu, peziarah tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk mendapatkan satu barang kecil. “Walaupun mahal, saya senang mendapat barang buatan Itali karena tanpa harus pergi ke Itali.” ungkap Tari (32), peziarah dari Jakarta yang baru membeli satu rangkaian Rosario yang bagus made in Roma-Itali dengan harga 450 ribu rupih, di kios Pak Luis pada Minggu, (10/5).
Selain kios, bapak yang tidak mau kiosnya disebut toko ini memiliki warung makan yang banyak dikunjungi peziarah, masih satu atap dengan kios. “Pengunjung warung makan kami sekitar 50-60 tiap hari tetapi jika pada hari Minggu atau bulan Maria (Mei dan Oktober), pengunjung mencapai 300-400 orang per hari. Bahkan kami pernah kewalahan karena kehabisan bahan makanan, seperti sayur-mayur karena belum belanja” ungkap bapak yang memiliki tiga anak dan enam cucu.
Di depan kios dan warung makan terdapat ruangan serbaguna dengan daya tampung 100 orang yang merupakan lantai dua dari sepuluh kamar toilet yang selalu bersih dan siap dipakai oleh peziarah. Di sebelah ruang serbaguna dan toilet terdapat sebuah rumah berlantai dua yang siap dipakai oleh peziarah yang ingin menginap. Dalam rumah itu terdapat empat kamar, setiap kamar terdapat dua tempat tidur berukuran tempat tidur keluarga. Tempat tidur yang satu setinggi lutut dan yang lain lebih pendek sehingga jika tidak dipakai bisa digeser masuk ke kolong tempat tidur yang lebih tinggi.
Tepat di bagian belakang ruang serbaguna dan toilet terdapat dua kolam ikan besar yang menurut Pak Luis, hasil dari kolam ikan itu biasanya tidak diperdagangkan tetapi dibagi-bagi kepada tetangga sebagai rasa ungkapan syukur atas berkat Bunda Maria yang melimpah bagi keluarganya.Di lokasi tanah warisan yang berukuran 300 m², selain terisi penuh oleh bangunan, di antara bagunan itu di tata sedemikian rupa sehingga memancarkan nilai seni tersendiri. “Ini adalah hasil kerja dari anak bungsu saya yang berprofesi sebagai arsitek” ungkap Pak Luis. Ungkapnya lagi, “Segala sesuatu yang saya dan keluarga saya miliki adalah semata-mata berkat dari Bunda Maria. Pujian dan hormatku untuk Bunda tak henti-hentinya. Dia adalah Ibu yang tahu kebutuhan anaknya.”

Peziarah
Di depan patung Bunda Maria, setiap hari banyak peziarah yang khusyuk berdoa dan terdapat banyak lilin pezirah yang sedang menyala dan banyak bunga indah untuk dipersembahkan di depan patung Bunda Maria. Selain itu, diletakan juga jerigen-jerigen dan botol yang berbentuk seperti patung Bunda Maria berisi air yang diambil dari keran (sendang), dengan maksud air itu disucikan dengan berdoa.
Dalam keadaan khusyuk seperti itu, terlihat seorang nenek berambut putih, jalannya tidak tegak lagi (kira-kira berumur 80-an) mengorek-mengorek tumpukan sisa-sisa lelehan lilin yang banyak sekali. Bapak yang hanya mengakhiri pendidikannya di tingkat SMP ini menjelaskan bahwa sisa-sisa lilin yang dikumpulkan itu akan dibawa pulang ke rumahnya untuk didaur ulang. “Nenek itu adalah penduduk lokal yang diberi ijin khusus untuk mengumpulkan sisa-sisa lilin untuk didaur ulang menjadi lilin yang siap pakai.” ujarnya.
Tempat ini ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia pada bulan Mei dan bulan Oktober, bulan Maria gabi umat Katolik. Selain berdoa, pada umumnya para peziarah mengambil air dari sumber air Sendangsono. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Feature

Juni 8, 2009 by safegoreti

Batu berbentuk lingga kuno

“Inilah penghubung antara jang silam dengan jang mendatang. Pada tanggal 28 Desember 1957, dalam rangka pembangunan gedung ini, ditemukan di tanah ini sebuah batu berbentuk lingga kuno.Warisan nenek moyang kita tahun 882 Masehi jang kini menjadi hak milik Dinas Purbakala Prambanan demi
kelanjutan kebudayaan nasional.”
Demikian tulisan pada prasastri yang ditempelkan di tembok bagian depan Pastoran Kolese SJ de Britto, Jln. Laksda Adisupcipto, no. 161, Yogyakarta. Tulisan yang menggunakan ejaan lama ini, menarik perhatian setiap tamu yang berkunjung. Warmin (56) yang telah mengabdikan dirinya sebagai karyawan sejak tahun 1972 di Pastoran De Brotto, sambil memandang prasasti tersebut, menjelaskan, “Sesuai pernyataan pada prasasti itu, memang benar, pada tahun-tahun pertama pembangunan rumah ini ditemukan batu berbentuk lingga kuno yang bertuliskan bahasa Jawa kuno tetapi saya juga tidak mengerti arti tulisan itu.”
Pernyataan pada prasasti itu merupakan pernyataan peneguhan mengenai suatu hal yang perlu dicatat dalam sejarah Indonesia. Mengapa? Benda bersejarah itu selain mengingatkkan manusia dari generasi ke generasi pada sejarah masa lalu juga bernilai edukatif bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu peniggalan sejarah itu purlu dilestarikan.
Warmin yang memulai kerjanya sejak pukul 05.00-21.00 WIB menjelaskan bahwa peninggalan sejarah yang ditemukan di tempat ini membuktikan bahwa di tempat ini pernah terjadi suatu peristiwa yang sampai sekarang belum ada ahli sejarah yang menemukan titik terang, peristiwa apa yang pernah terjadi di tempat ini.

Sambil menunjuk ‘bingkai foto penemuan batu berbentuk lingga’ peninggalan sejarah yang dipajang di ruang tamu, bapak yang sudah bungkuk dan batuk-batuk ini menjelaskan bahwa batu itu telah dimusiumkan oleh Dinas Purbakala Prambanan sebagai sebuah peninggalan sejarah yang berharga yang perlu dijaga. Pada foto batu yang berbentuk lingga kuno itu bertuliskan “Piagam Demangan ditemukan 28 Desember 1957 di tanah pembangunan de Britto, Yogyakarta.”
Terkait dengan penemuan itu, pria yang hanya mengingat tahun kelahiranya dan telah lupa tanggl lahirnya kecuali lihat di KTP-nya ini memperkirakan ada berbagai benda bersejarah yang memiliki nilai tinggi berada di dalam tanah. Diperkirakan, benda-benda tersebut merupakan peninggalan dari masyarakat primitif.

Feature

Juni 8, 2009 by safegoreti

Yudhistira Ghalia Indonesia Terbukti Sukses

Takut tidak lulus ujian, tegang tidak masuk sekolah favorit, tidak usah takut dan bimbang. Temukan solusinya di tokoh buku Yudhistira Ghalia Indonesia di kota asalmu.
Dengan tujuan mencerdaskan sumber daya manusia, Penerbit Yudhistira Ghalia Indonesia telah banyak menerbitkan buku-buku pelajaran dari tingkat pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi yang layak untuk Anda miliki dan telah tersebar di berbagai toko Yudhistira Ghalia Indonesia di seluruh kota besar di Indonesia.
Penerbit Yudhistira yang berdiri pada tahun 1971 dan baru disahkan pada 6 Januari 1996 ini didirikan oleh Almarhum Lukman Sa’ad dan kini dipimpin oleh Dr.Tiarnugini ini, memang terkenal karena selalu menerbitkan buku-buku yang high quality. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penerbitannya. Mengapa? Setelah laku terjual, sebelum buku tersebut dicetak ulung, pelanggang dari berbagai yayasan sudah menelepon berulang-ulang ke bagian percetakan atau toko buku terdekat untuk memesan buku tersebut. Hal ini bukan hanya keberhasilah penulis buku tetapi peran penerbit sangatlah penting. Pihak percetakan yang dengan daya upaya mempromosikan buku tersebut kepada semua yayasan di Indonesia. Saat ditanya tentang taktik ampuh untuk menarik pelanggan, dengan mantap, Direktur Cabang Yogyakarta, Suhari, S.Pd. menjelaskan, “Taktik yang biasanya digunanakan untuk menarik pelanggan adalah dengan menyebar brosur ke berbagai lembaga pendidikan. Usaha lain yang dilakukan Percetakan Yudhistira yaitu melalui jalur internet (website).”
Ketika ditemui di tempat pameran buku, Jogya Expo Center (JEP), Minggu, (15/3), Tri (34) salah satu karyawan Yudhistira menjelaskan bahwa berdasarkan catatan pada brosur, Penerbit Yudhitira Ghalia Indonesia telah menerbitkan 170 judul buku untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), 110 judul buku untuk tingkat Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP), 98 judul buku untuk tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU), dan sedikitnya 50-an judul buku untuk tingkat Perguruan Tinggi. “Penerbit yang memfokuskan penerbitannya pada dunia pendididkan sesuai kurikulum ini bertekat menjadi penerbit buku bermutu dan senantiasa memberikan yang terbaik bagi dunia pendididkan.” jelas Tri.
Di stand no. 3, stand toko buku Yudhistira, pameran buku tahun 2009 di JEC, karyawati yang bekerja sejak pukul 8.00 sampai 16.00 WIB ini menjelaskan, “visi Percetakan Yudhistira yaitu “Mendarmabaktikan diri pada dunia perbukuan untuk berperan serta mencerdaskan kehidupan bangsa guna meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.” Ia melanjutkan penjelasannya, “Visi yang luhur ini diterapkan dalam tri misinya yaitu menciptakan buku bermutu untuk memenuhi sarana pendidikan bangsa, memenuhi kebutuhan pelanggan dengan memberikan pelayanan terbaik melalui jaringan distribusi yang kuat dan luas, serta menumbuhkan perusahaan yang sehat secara berkesinambungan dari tahun ke tahun.”
Sehubungan dengan pameran buku yang diadakan oleh anggota IKAPI, Suhari mengatakan bahwa toko buku Yudhistira Ghalia Indonesia cabang Yogyakarta bukan anggota IKAPI tetapi Yudhistira turut mengambil bagian dalam memeriahkan Pesta Buku Tahun 2009, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa anggota IKAPI hanya 49 PT percetaka, sementara yang ikut pameran buku tahun ini, berdasarkan dena penempatan, ada 90 stand yang turut ambil bagian dalam memeriahkan pameran buku tahun ini. Saat ditanya tentang alasan mengapa Yudhistira tidak masuk sebagai anggota IKAPI, Suhari dengan spontan menjelaskan, “Yudhistira tidak masuk anggota IKAPI karena pusat Percetakan Yudhistira tidak berlokasi di Yogyakarta tetapi di Jawa Barat. Di Yogyakarta, Yudhistira hanya membuka usaha penjualan buku.”
Percetakan yang berpusat di Jl. Rancamaya Km. 1. No. 47, Ciawi, Bogor, Jawa Barat ini dalam rentang waktu 37 tahun, melalui kerja keras dan komitmen yang utuh dari seluruh karyawan dan manajemen Yudhistira Ghalia Indonesia telah berhasil meraih kepercayaan publik dengan hasil yang membanggakan. “Penerbit ini mendapat respons positif dari masyarakat. Peminatnya dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan yang signifikan.”ujar Suhari. Hal senada juga disampaikan oleh Tri. Ia berpendapat bahwa berdasarka laporan tiap tahun, diperkirakan sebanyak ribuan juta eksemplar yang terjual.
Saat ditemui stand toko buku Yudhistira di JEC, tempat pemeran buku tahun 2009 yang diadakan oleh 49 anggota IKAPI, Daerah istimewa Yogyakarta, Minggu, (15/3), Toni (23) mahasiswa semester IV Fakultas Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta yang baru membeli buku Panduan Belajar untuk SMA, berpendapat bahwa buku panduan belajar yang sudah cukup lengkap berdasarkan kurikulum ini akan cukup membatu dia untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk persiapan mata kuliah Micro Teaching di kampusnya dan buku itu juga akan dipakai untuk praktek mengajar di SMA semester depan. Menurut Toni, ia sudah lama mencari buku panduan mengajar seperti yang baru dibelinya di beberapa toko buku di Yogyakarta tetapi tidak ada. Dengan bangga ia mangatakan “Tujuan kedatangan saya ke JEC bukan untuk membeli buku. Saya hanya ingin menyegarkan pikiran di sini, tetapi ternyata ketemu buku yang selama ini saya cari di toko Yudhistira.”
Saat dihubungi melalui telepon, Kepala Sekolah SMUN I Insana, NTT, Drs. Melki Suni (45), yang sudah lima tahun menjadi pelanggan Yudhistira, Selasa , (17/3) berpendapat bahwa dengan adanya kerja sama antara pihak sekolahnya dan toko Yudhistira yang berlokasi di Kupang, sekolahnya tidak ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan. “Sekolah yang berlokasi di desa, kadang sulit mendapat sumber-sumber yang relevan, tetapi saya beruntung karena bekerja sama dengan toko buku Yudhidtira di Kupang, jadi kami tidak kesulitan.” Guru bidang studi Matematika yang sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama lima tahun ini menjelaskan bahwa jika ada buku penerbitan baru, pihak toko buku Yudhistira langsung memberitahukan, dan jika ada persetujuan antarkedua pihak, biasanya buku langsung dikirimkan melalui paket”. Menurut Pak Melki, panggilan akrapnya, sumber bahan pelajaran sangat berpenaruh bagi tingkat kelulusan tiap tahun. “Saya bersyukur karena sekolah kami yang berlokasi di desa pun tidak kalah saing dengan sekolah yang berlokasi di kota.”katanya membandingkan. Kepala sekolah yang terkenal sebagai kepala sekolah muda, pintar, dan gaul ini, mengatakan bahwa semua yang dikatakannya itu terbukti karena pada ujian nasional setiap tahun, sekolahnya selalu menduduki peringkat lima besar di tingkat provinsi.”
Hal senada juga disampaikan oleh guru bidang studi Bahasa Indonesia, Bernadete Da Silva, S.Pd. (35). Saat dihubungi melalui telepon, Rabu (18/3), berpendapat bahwa dalam hal belajar-mengajar para guru bidang studi dipermudah oleh kepala sekolah dengan membelikan buku panduan mengajar yang sudah lengakap, mulai dari standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator, materi, bahkan sampai evaluasi. Selain buku panduan belajar berdasarkan kurikulum yang berlaku, guru juga dituntut oleh kepala sekolah agar kreatif menggunakan berbagai media pembelajaran dalam menyajikan teori agar siswa memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.” jelas ibu yang akrap disapa Ibu Bernadete.
Menanggapi kedua narasumber di atas, saat dihubungi melalui telepon, Kamis, (19/3), Suhari yang menghabiskan waktunya selama 12 jam per hari di kantor pusat area Yogyakarta yang beralamat di Jl. Sugeng Jeroni, no. 8, Yogyakarta ini mengatakan bahwa selain respon positif dari masyarakat, penerbit ini pun mendapat ancungan jempol dari pemerintah. Mengapa demikian? Ini adalah suatu keberhasilan yang patut disyukuri karena Yudhistira berhasil masuk nominasi penilaan buku pada pusat perbukuan nasional pemerintah Indonesia pada tahun 2004 yang diselenggarakan oleh tim Panitia Nasional Penelaian Buku Pelajaran (PNPBP) pusat perbukuan Depdiknas. Buku-buku yang berhasil diseleksi adalah buku Matematika SD/MI dan buku ILMU Pengetahuan sosia untuk SD/MI.
Hal senada juga dikatakan oleh Tri yang sudah berstatus karyawan tetap di Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Penerbit Yudhistira bekerja sama dengan berbagai sekolah dan yayasan di berbagai kota sehingga jika ada buku baru yang terbit, pihak Yudhistira tidak mengalami kesulitan dalam proses penyaluran buku-buku tersebut. Sebagai rekan kerja, pelanggan buku biasanya diberi kemudahan dengan membarikan diskon sebanyak 10% setiap pembelian, baik dalam jumlah sedikit maupun dalam jumlah banyak.
Selain menerbitkan buku, Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia telah memiliki yayasan pendidikan yang meliputi SLTP, SMU, SMEA, dan STM, dan pendidikan lanjutan untuk tingkat tinggi (Politeknik, STIE, STMIK, STKIP, LPK, serta PKMB) yang terseber di Bandung, Subang, dan Sumedang Jawa Barat. Sampai saat ini, yayasan yang mempekerjakan karyawan sekitar 900-an orang ini, telah meluluskan sekitas 3000 siswa yang telah bekerja dalam berbagai bidang lapangan kerja sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki masing-masing.
Selain visi dan misi Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia yang telah disebutkan diatas, saat ditemui di pameran buku JEC tahun 2009 yang mengambil tema “Pikiran dibuka nurani berbicara”, menurut Suhari, Yayasan Lembaga Pendidikan Yudhistira juga memiliki visi dan misi tersendiri. Pria yang menamatkan pendidikan terakhirnya di UNY tahun 1994 ini menjelaskan bahwa visi Yayasan Pendidikan Yudhistira yaitu mempersiapkan para lulusannya yang terdidik dan taqwa kepada SWT, adaptif, trampil, mandiri, dan mampu mengembangkan diri agar dapat berkompetisi mengisi pasar kerja tingkat menengah sesuai dengan tuntutan otonomi daerah, nasional maupun internasional.Visi ini diterapkan dalam tiga misi yaitu menyiapkan peserta didik melalui upaya peningkatan manajemen sekolah tenaga kependidikan dan pengembangan fasilitas kesiswaan, lingkungan sekolah, proses belajar mengajar, hubungan kerja dengan unit produksi dengan memperhatikan tingkat keterampilan ketercapaian tujuan.
Yayasan penerbit yang telah memiliki 22 lembaga pendidikan ini, kini mempunyai website. Informasi mengenai sekolah-sekolah dari pendididkan menengah sampai pendidikan tinggi yang berada di bawa naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Yudhistira ada semua pada alamat website tersebut. Dalam website itu memuat status, waktu belajar, fasilitas, alamat, program studi, syarat dan biaya pendaftaran. Anda bisa mendapatkan informasi secara lengkap pada alamat website ini www.yudhistira.ac. Id.
Direktur Cabang Yogyakarta, Suhari, berpendapat bahwa usaha yang awalnya bersifat mikro ini sekarang sudah berkembang dan mempunyai suatu tujuan yang mulia yaitu untuk memberdayakan masyarakat, khususnya untuk menyerap tenaga kerja, pengentasan kemiskinan di bidang pendidikan, dan memperbaiki mutu pendidikan Indonesia.
Untuk menghubungi Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia, dapatkan alamat Yudhistira di halaman belakang semua buku terbitannya. Namun untuk mempermudah Anda, silahkan menghubungi alamat kantor pusat yang telah disebutkan di atas atau menghubungi toko buku Yudhistira di kota asalmu.
Jadi, jika Anda ingin menjadi orang yang sukses, kunjungilah toko buku Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia di mana saja Anda berada karena percetakan ini kini tersebar di semua kota di Indonesiin percaya diri dan berani menghadapi ujian serta mudah diterima di sekolah favorit; tidak usah takut dan bimbang. Temukan solusinya di tokoh buku Yudhistira Ghalia Indonesia di kota asalmu karena Yudhistira Ghalia Indonesia Terbukti Sukses.

Sastra Lama

April 30, 2009 by safegoreti

P u i s i L a m a

1. Macam-macam puisi lama.
a. Pantun
Pantun yaitu salah satu bentuk puisi lama Melayu yang di dalamnya tersirat kehalusan budi dan ketajaman pikiran.
Ciri-ciri;
1) Setiap baris pantun dapat berdiri sendiri.
2) Bersajak ab-ab
3) Bersifat lirik: mengungkapkan perasaan.
4) Tediri atas sampiran dan isi.
5) Dua baris pertama: sampiran, dua baris terakhir:isi.
6) Terdiri ndari 4 baris, tiap baris terdiri dari 4 kata, 9-12 suku kata.
7) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
b. Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, jumlah barisnya lebih dari empat.
Ciri-ciri:
1) Merupakan jenis puisi bebas.
2) Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk mmenjelaskan pemerian.
3) Tidak ada pembayang, setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita.
4) Terdiri dari 6-20 baris.
c. Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde. Mantra
Mantra adalah puisi yang memiliki aspek ritual, diucapkan pada kesempatan tertentu dengan cara-cara tertentu dan ditujukan pada makhluk gaib.
Ciri-ciri:
1) Bersifat lisan, sakti atau magis
2) Adanya perulangan
3) Metafora merupakan unsur penting
4) Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
5) Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.
d. Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk cerita yang mementingkan irama sajak.
Ciri-ciri:
1) Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
2) Bersajak aa-aa, aa-bb
3) Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
4) Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
5) Semua baris diawali huruf capital.
6) Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
7) Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
e. Karmina
Karmina adalah pantun dua seuntai (pantun kilat)yang terdiri dari dua baris, baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi.
Ciri-ciri:
1) Memiliki rumus rima a-a
2) Isi biasanya berupa sindiran.
f. Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisi kisah, cerita, dongeng atau sejarah. Biasanya mengisahkan tentang kehebatan atau kepahlawanan seseorang.

2. Tokoh pembeharu dalam puisi Indonesia dan kebaharuannya.

a. Rustam Effendi
1) Tidak mengikuti pola penulisan pantun atau syair melainkan menggunakan pola penyusunan kalimat.
2) Tiap bait terdiri dari 4 baris, tiap baris terdiri 4 kata, 9-10 suku kata, terbagi oleh jeda dalam dua bagian elahan napas.
3) Cara menyusun larik-lariknya khas: larik 1 dan 3 menjorok kedalam.
4) Tiap bait: 4 larik bersajak ab-ab, mengiatkan kita pada pantun tetapi tak terbagi sampiran dan isi.
5) Menggunakan persajakkan akhir dan persajakan dalam.
6) Lima bait merupakan kesatuan, mengiatkan kita akan syair.
7) Penggunaan tipografi dan enjembement
8) Puisi-puisinya bersifat tulisan bikan lisan.
9) Mencari kesamaan bunyi dalam sebuah baris.
10) Menggunakan konsep licentia poetica (kebebasan penyair).
11) Memperhatikan purwakanti dalam dan akhir.
12) Menjaga penggunaan tanda baca.

b. Chairil Anwar
1) Bahasa yang digunakan terlepas dari cirri-ciri bahasa Indonesia lama yang didominasi bahasa Melayu.
2) Puisi Chairil Anwar lebih mementingkan isi daripada bentuk.
3) Bahasa Indonesia bukan lagi alat menyampaikan perasaan-perasaan yang sangsai dan romantis, tetapi telah mencapai alat pengucapan sastra yang dewasa.
4) Chairil Anwar menciptakan bahasa yang lebig demokratis. Ia tidak lagi menyatakan dirinya dengan kata “beta” tetapi menyebut dirinya dengan kata “aku”.
5) Ungkapan-ungkapannya pendek (tidak panjang).

c. Muhammad Yamin
1) Bentuk puisinya bukan pantun bukan syair maupun gurindam.
2) Baitnya terdiri dari 9 baris.
3) Lebih dekat dengan syair tapi lirik sifatnya.
4) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
5) Berusaha mempromosikan penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.
6) Bersifat lirikdia menulis sajak 9 seuntai( Tanah Air), lalu sajak-sajaknya kemudian berbentuk soneta.

d. Amir Hamzah :
Bentuk kebaharuannya dalam puisi Indonesia:
1. Meninggalkan bentuk tradisional tetapi masih memanfaatkan bentuk-bentuk syair dan pantun
2. Amir,melepaskan bentuk syair yang monoton dan memberi bentuk puisinya sesuai dengan jiwanya. Memberi gaya baru bagi bahasa Indonesia ,kalimat-kalimat yang padat dalam seruannya,tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir,bisa dikataka destructive terhadap bahasa lama tetapi merupakan sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru ( HB Jassin,1986)
3. Puisi Buah Rindu,memakai perlambangan bunga,dipengaruhi oleh kesusastraan sansekerta (fungsi simbolik) telah diubah secara sistimatis dalam artian telah meninggalkan kesan kesusastraan Jawa Purba.
4. Bahasa yang dipakai banyak memakai kata-kata yang arkhais (tidak hidup)
5. Puisinya banyak menggunakan kosa kata lama yang diambilnya dari khasanah bahasa Melayu,Kawi,Sunda,Jawa.
6. Isi sajak Amir Hamzah kebanyakan bernada kerinduan,penuh ratap kesedihan,rasa sunyi dan pasrah diri tapi ia juga menekankan pada rasional. Perumpamaan dan lambang yang diciptakan untuk memperhidup ungkapan sangat bagus dan khas.
7. Memakai kiasan dan pengertian dari sastra mistik
8. Puisi Amir dipengaruhi oleh sejarah dan agama islam. Seperti puisinya yang berjudul “ PadaMu jua.” Yang dimaksud Mu disini adalah Tuhan,sehingga puisi-puisinya dianggap puisi Religius.
9. Puisi Amir Hamzah mendapat pengaruh dari para Sufi dan Parsi.

Secara lebih lengkap jenis-jenis rima diuraika sebagai berikut:

e. Berdasarkan jenisnya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima sempurna.
Yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir
contoh:
Purnama raya,
Bulan bercahaya.
Amat cuaca,
Ke mayapada.

2) Rima tak sempurna.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
contoh:

Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

3) Rima mutlak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

4) Rima terbuka.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
contoh:
Purnama raya,
bulan bercahaya.
Amat cuaca,
ke mayapada.

5) Rima tertutup.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

6) Rima aliterasi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
contoh:
Susah sungguh saya sampaikan,
degup degupan didlam kalbu,

7) Rima asonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

8) Rima disonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

f. Berdasarka letaknya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima awal.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
Contoh:
Rajah kalacakra

Ya maraja jaramaya
Ya marani niraman
Ya silapa palasiya
Ya midosa rodomiya
Ya midosa sadomiya
Ya dayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya

2) Rima tengah.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
contoh:

Bunda dan Anak

Masak jambak
buah sebuah
Diperam alam diujung dahan
Merah darah
beruris uris
Bendera masak bagi selera

3) Rima akhir.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
contoh:
syair

inilah taman orang bahari,
pungguk wahai jangan tuan kemari,
bukannya tidak kakandan beri,
jikalau tuan digoda peri,

4) Rima tegak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertical.
Contoh:

Purnama raya
Bulan bercahaya
Amat cuaca
Ke mayapada

5) Rima datar.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horizontal
Contoh:
Anak lakak
Tersera sera
Bunda berlari mengambil jambu
Ibu sugu
Buah sebuah

6) Rima sejajar.
yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
Contoh:
Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

7) Rima berpeluk.
yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
Contoh:
Betapa Kami

Betapa sari
Tidakkah kembang
Melihat terang
Si matahari

3. Gaya atau ekspresi.

1) Tataran grafologis.
a. Tanda kutip.
Contoh: “ Persetan beslit! Persetan kegubernuran! Persetan masa depan yang baik! Persetan patungnya nanti di museum nasional! Persetan! Persetan!!”

b. Tanda kapital.
Contoh: “Di atas meja didapati sepotong kertas tulisan almarhum: DEMI KELENGKAPAN DAN KESEMPURNAAN.”

2) Tipografi tataran wajah.
Contoh:
Tragedy Winka dan Shika

Kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
….

3) Tataran fonologis.
a. Aliterasi
Contoh:

kerdil dekil
Takut tulisan titik lalu tumpah
Keras-keras kerak kena air lembut juga
D e b a t-d e b i t; bolak-balik:
Sering saya susah sesaat
Sebab madahan tida na, dating.
Sering saya sulit menekat.

b. Asonansi.
Contoh: Ini muka penuh luka siapa punya.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu

4) Tataran Sintaksis
a. Repetisi.
Contoh: Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal (Selamat Tinggal, Chairil Anwar)
b. Asindenton dan Paralelisme.
Contoh: Sinar mata mereka, warna wajah mereka, nada-nada suara mereka, arti tiap kata yang mereka ucapan, telah berubah semua.

5) Tataran Semantik.
a. Makna denotatif.
1. Paradok.
Contoh; ” Tiba-tiba saja muncul dalam dirinya untuk mencoba mencari kenikmatan dalam penyiksaan”
2. Antiklimaks.
Contoh: “ Kini dia memacu menuju warna merah yang sangat tua, melalui taraf-taraf hijau tua, jingga merah tua, merah sangat tua.”
b. Makna konotatif.
1. Majas perbandingan.
• Majas perumpamaan.
Contoh: Ujung lidahnya laksana ikan hiu menyambar buntal tadi sekali lagi.
Seputih dan sebersih wajahnya yang tampah gembira.
Tiba-tiba bagaikan gunung berapi yang meletus, wali kota tertawa terbahak-bahak.
• Majas metafora.
Contoh: Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan bertapa
Ke rawa-rawa mesum ini.
Masa lampaunya adalah gumpalan hitam
Di dalam sakunya lah justru terletak kunci kehidupan.
• Majas personifikasi.
Contoh:

Tiupan terompet yang merengekkan lagu kepahlawanan
Senja yang telah tua sekali
Alam semesta dimakinya habis-habisan

• Majas aligori.
Contoh:
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

2. Majas pertentangan.
• Majas hiperbola.
Contoh:
Amarahnya tumpah mualnya luber sudah

• Majas litotes.
Contoh:
Pengapur sebenarnya menginginkan tiaadanya dia sang opseter itu

3. Majas pertautan.
• Majas sinekdok.
 Majas pars prototo.
Contoh:
Pembicaraan empat mata

 Mjas totem proparte.
Contoh:
Negri itu sedang berduka
.
• Majas euvimisme.
Contoh:
Wakil wali kota yang berintelegensi sederhan itu

6. Analisis puisi! Unsur baru dan unsur tradisionalnya:
BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Rustam Efendi

Bukan beta/bijak berperi,
pandai menggubah/madahan syair,
Bukan beta/budak negeri,
musti menurut/undangan mair.

Sarat saraf/saya mungkiri,
untai rangkaian/seloka lama;
Beta buang/beta singkiri,
sebab laguku/menurut sukma.

Susah sungguh/saya sampaikan,
degup-degupan/di dalam kalbu;
Lemah laun/lagu dengungan,
matnya digamat, rasain waktu.

Sering saya/susah sesa’at
sebab madahan/tida na’datang;
Sering saya/sulit menekat,
sebab terkurang/lukisan mamang.

Bukan beta/bijak berlagu,
dapat melemah/bingkaian pantun;
Bukan beta/terbuat baru,
hanya mendengar/bisikan alun.

a. Unsur lamanya, yaitu:
1) Bersajak ab ab.
2) Baris kedua diakhiri tanda ( ; ).
3) Tiap bait terdiri dari 4 baris.
4) Setiap baris terdiri dari 4 kata, 9-19 suku kata.
5) Menggunakan bahasa Melayu lama.
6) Terdapat perulangan kata.
7) Setiap baris merupakan isi dari keseluruhan.
8) Bersifat lirik

b. Unsur barunya, yaitu:
1) Baris partama dan ketiga menjorok kedalam.
2) Baris pertama dan ketiga diakhiri tanda koma ( , ).
3) Terdiri dari dua elahan nafas
4) Baris ke-1 dan ke-3 diawali dengan huruf kapital dan diakhiri tanda koma
5) Tiap bait tidak terbagi atas sampiran dan isi
6) Terdapat perulangan bunyi
7) Kelima baitnya merupakan satu kesatuan

Drama

April 30, 2009 by safegoreti

Kubur Kosong

 

Pemain:

Prajurit Roma 1, Prajurit Roma 2, Maria, Maria Magdalena, Yohana, Malaikat, Yesus, Yohanes, Petrus.

Peralatan:

  1. Pakaian.
  2. Kubur (dapat dibuat dari kayu dan ditutup dengan kain supaya terlihat seperti batu, dapat berupa sebuah tenda (dome) yang ditutup dengan kain abu-abu, atau dapat juga lorong buntu yang ditempatkan di panggung).
  3. Pintu yang dibuat seperti pintu batu.
  4. Pelbet yang ditutup dengan kain putih.
  5. Jubah putih dengan kerudung untuk Yesus.
  6. Lampu yang terang di dalam kubur.
  7. Tombak dan perapian untuk para prajurit (jika ada).
  8. Efek suara batu digeser.
  9. Tiga jambangan atau kotak tempat rempah-rempah untuk orang meninggal.

Dekorasi:

Kubur dengan perapian di depannya. Akan lebih baik jika adegan didukung dengan pencahayaan yang redup “Kubur yang Kosong”.

Skenario:

(Prajurit 1 dan 2 masuk. Prajurit 1 duduk di dekat perapian; prajurit 2 berjalan mondar-mandir.)

Prajurit 1

:

Apa yang kita kerjakan di sini? Masa kita harus menjaga kuburan orang mati? Siapa juga Dia ini sebenarnya?

 

Prajurit 2

:

Dia seorang tukang kayu dari Nazaret, tapi banyak orang yang percaya bahwa Dia lebih dari itu. Ada legenda yang dipercayai bangsa ini bahwa Raja dari segala raja akan dilahirkan di sebuah kota kecil yang bernama Betlehem, di dekat daerah ini. Mereka akan memanggil Raja ini Kristus. Banyak orang yang percaya bahwa orang dari Nazaret ini adalah Kristus yang dijanjikan itu.

 

Prajurit 1

:

Hmm, Dia sekarang adalah Raja yang sudah mati dan kuburan-Nya ini adalah kerajaan-Nya. Bagaimana kamu tahu semua itu?

 

Prajurit 2

:

(mengangkat bahu dan berpura-pura tidak tertarik sambil menjelaskan dengan berjalan mondar-mandir lagi) Kepercayaan orang-orang di sini menarik juga. Dan … aku melihat Dia mati. Ada tulisan di salib-Nya. Tulisan itu bunyinya Raja orang Yahudi. Ada juga gempa bumi, tidak seperti biasanya ….

 

Prajurit 1

:

O, ya? Kalau memang Dia raja, Dia sekarang sudah mati. Apa yang bisa Dia lakukan?

 

Prajurit 2

:

[berhenti berjalan dan berbicara menghadap jemaat] Dia menyembuhkan orang buta, tuli, dan lumpuh. Dia mengusir roh jahat dan membangkitkan orang mati.

 

Prajurit 1

:

Kamu tidak percaya itu semua, kan?

 

Prajurit 2

:

(berjalan lagi) Aku tidak tahu. Aku dengar Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mati dan akan bangkit lagi pada hari yang ketiga.

 

Prajurit 1

:

Tak seorang pun akan keluar dari kubur batu itu.

 

Prajurit 2

:

Bagaimana jika para pengikut-Nya mencoba untuk mencuri mayat-Nya dan kemudian mengatakan bahwa Dia telah menepati janji-Nya?

 

Prajurit 1

:

Kita ini prajurit. Kita punya tombak. Kita bisa mengatasi masalah seperti itu. Sekarang, aku mau tidur dulu sebentar. Kamu yang menjaga batu itu kalau memang kamu begitu khawatir tentangnya. [menyandarkan kepalanya ke lutut lalu tidur]

(Terdengar suara batu digeser ketika muncul cahaya yang terang dari dalam kubur dan malaikat menggeser batu penutup kubur itu tanpa terlihat.)

Prajurit 2

:

(membangunkan Prajurit 1) Batu itu bergeser!

 

Prajurit 1

:

(berjalan mendekati kubur) Mayat itu hilang! Ada di mana mayat itu?

Prajurit 2

:

Aku tidak tahu! Aku tidak melihat apa-apa!

 

Prajurit 1

:

Lebih baik kita laporkan saja kejadian ini! Ayo!

(Para prajurit lari keluar dan meninggalkan tombak mereka. Kuburan menjadi sunyi dan perlahan cahaya diatur lebih terang. Yohana, Maria, dan Maria Magdalena masuk membawa rempah-rempah untuk mengurapi orang mati.)

Yohana

:

Aku senang matahari sudah terbit. Lebih mudah melihat jalan setapak ini. Aku yakin prajurit yang disuruh menjaga kubur itu akan menghadang kita di sini.

 

Maria

:

Mereka tidak punya alasan untuk menghadang kita. Kita harus meminyaki tubuh Guru kita dengan baik. Apakah menurutmu kita bisa membujuk para prajurit itu untuk menggeser batu itu untuk kita?

 

Maria Magdalena

:

Ah, prajurit Roma! Sepertinya tidak. Kita harus meminta tolong pada

 orang lain.

 

Yohana

:

(nampak terkejut dan menjatuhkan kotak rempah- rempah) Lihat! Batu itu sudah bergeser!

 (Ketiga wanita itu bergegas menuju kubur itu dan melihat ke dalam kubur.)

Malaikat

:

(muncul) Jangan takut. Aku tahu kalian mencari Yesus yang disalibkan itu. Dia tidak ada di sini. Dia sudah bangkit dari kematian seperti yang dikatakan-Nya kepada kalian. Pergilah dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit!

(Maria dan Yohana segera keluar, Maria Magdalena tetap tinggal di situ sambil menangis. Yesus masuk.)

Yesus

:

Ibu, mengapa engkau menangis?

 

Maria Magdalena

:

Mereka sudah mengambil Tuhanku dan aku tidak tahu

 ke mana mereka membawa-Nya.

 

Yesus

:

Siapa yang engkau cari?

 

Maria Magdalena

:

(melihat Dia untuk yang pertama kalinya) Apakah Engkau penunggu taman? Apakah Engkau yang mengambil Tuhanku itu? Tuan, katakanlah di mana Dia sekarang dan aku akan pergi mencari-Nya.

 

Yesus

:

Maria, apakah Engkau tidak mengenali Aku?

 

Maria Magdalena

:

(berlutut dan berniat memegang Dia) Rabuni!

 

 

Yesus

:

Janganlah engkau memegang Aku, Maria, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Pergilah dan katakan kepada saudara-saudara-Ku bahwa Aku akan kembali kepada Bapa-Ku.

(Maria Magdalena segera keluar; Yesus diikuti oleh Malaikat keluar melalui arah yang berlawanan lebih perlahan-lahan. Yohanes, kemudian Petrus dan Maria Magdalena masuk.)

Yohanes

:

(berlutut di luar kubur) Dia tidak ada di tempat kami meletakkan Dia.

 

Petrus

:

(masuk ke dalam kubur dan menyentuh kain kafan) Dia sudah bangkit! Sekarang aku tahu. Kuasa-Nya lebih besar dari para raja yang ada; Dia telah mengalahkan maut!

(Mereka bertiga berdiri dan berkata satu kepada yang lain dan kepada jemaat: “Kristus telah bangkit! Tuhan Yesus Kristus telah bangkit hari ini!” Keluar melalui tiga arah yang berbeda jika memungkinkan.)

 

 

Renungan

April 25, 2009 by safegoreti

REFLEKSI RUANG: KOMPUTER, KAPEL, DAN HATI

Jam menunjuk setengah satu siang. Kesepuluh jariku masih saja asyik menari-nari pada tuts-tuts keyboard komputer di ruang komputer. Yang sedang saya kerjakan ini ialah tugas mata kuliah yang cukup sulit bagiku, paling tidak di semester ini. Bobotnya tiga kredit. Mata kuliah itu adalah psikolinguistik, sebuah interdisipliner, gabungan antara disiplin psikologi dengan linguistik yang mempelajari, antara lain, bagaimana otak manusia sejak dini dan hingga dewasa merekam, memproses, memperoleh, dan menggunakan bahasa.
Sementara otakku masih mengutak-atik persoalan “otak”, di sebelah, ruang doa, terdengar kumandang suara tak asing: “Ya, Allah, bersegerahlah menolong aku…”. Oh, jadi sudah ibadat siang? Dan saya terhentak kaget karena roda waktu begitu cepat berputar. Sebentar lagi jam satu saya harus balik ke kampus, dan di sana saya mesti mempresentasikan makalah yang belum juga kunjung selesai kubuat ini.
Ah, satu persoalan lagi. Kalau saya nanti menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju kampus, lima belas menit tiadalah cukup bagiku untuk beristirahat barang lima menit buat sebentar saja menarik napas. Karena itu, kalau saya ke ruang doa sekarang, jelas saya akan terlambat tiba di kampus. Akan tetapi, kalau saya tidak ke ruang doa, nah, ini…apa kata hati? Terjadilah, ruang hatiku tiba-tiba tersekat jadi dua: mau ke ruang doa dulu? Atau, mau langsung selesaikan tugas ini lalu berangkat?
***
Dengan rendah hati harus kuakui, kerap ruang hatiku tak mampu memilah, mana ruang doa dan mana ruang komputer. Maka tak jarang pula ruang hatiku itu berkata bahwa ruang komputer, tempat saya mengerjakan tugas-tugas kuliah (tugas yang mulia, tentu!), sama saja dengan ruang doa. Sebab, masih bisikan dari ruang hati, bukankah dengan tekun mengerjakan tugas-tugas, toh itu bagian dari ‘doa’? Dan sebaliknya, bukankah dengan tekun memanjatkan doa di ruang doa (tentu dengan sebuah keyakinan total!), toh itu juga dapat ‘memperlancar’ pengerjaan tugas-tugas? Nah, di sini persis masalahnya: ruang hatiku merelativir dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa.
Untuk keluar dari jerat relativisme macam itu, saya memang butuh sebuah ruang hati yang jernih, tak bercela untuk memilih prioritas nilai. Bagiku, prioritas nilai dapat membantuku untuk membongkar sekat ruang hati yang telah terbelah, tersekat. Prioritas nilai yang saya maksudkan di sini bukan pertama-tama saya harus menentukan ruang mana (entah doa, entah komputer) yang ‘lebih’ penting untuk saya dahulukan, melainkan kedewasaan ruang hati itu sendiri untuk mengambil keputusan. Apalah gunanya kalau saya di ruang komputer hanya asyik ber-games, sementara saudara-saudaraku sekomunitas sedang menunaikan sholat suci? Tapi apalah pula salahnya, jika karena tugas mulia, mengingat ke kampus memang saya diutus untuk itu dan jam kuliah kebetulan sekali bertepatan dengan jam acara di ruang doa, saya terpaksa tidak ikut menunaikan sholat suci bersama karena tugas itu? Inilah yang saya maksudkan dengan kedewasaan ruang hati dalam mengambil keputusan. Kedewasaan ruang hati di sini memang butuh suatu kualitas kepekaan tertentu. Kualitas kepekaan itu haruslah murni, tidak omong kosong! Maksudnya, jangan sampai ruang hati menggunakan alasan “demi tugas mulia”, lalu meniadakan acara di ruang doa.
Untuk sampai pada kedewasaan dan kualitas kepekaan ruang hati dalam mengambil keputusan berkaitan dengan dua ruang yang lain, ruang (doa) dan ruang (komputer), setidaknya saya melihat dua hal. Pertama, hakikat dari doa sendiri, dan apalagi kegiatan doa (berdoa) senantiasa tidak sama dengan hakikat kegiatan di ruang komputer. Konkretnya, ofisi bersama di ruang doa, yang adalah kegiatan doa bersama, jelas berbeda dari kegiatan pribadi saya dalam mengerjakan sebuah paper, makalah, skripsi (atau entah apalah) di ruang komputer. Sebaliknya, sebuah diskusi kelompok di kampus tidaklah sama intensinya dengan sebuah kegiatan doa pribadi saya di ruang doa. Ini jelas!
Kedua, kegiatan saya di luar komunitas (baca: aktivisme) boleh-boleh saja saya hayati sebagai sebuah bentuk doa, tetapi tak boleh saya samakan begitu saja dengan kegiatan berdoa. Bagiku, keduanya tak terpisahkan satu sama lain, tetapi keduanya memang harus tetap dibedakan satu dari yang lain. Sebab, kalau ruang hatiku tak mampu membedakan keduanya, bisa jadi saya akan jatuh pada ekstremisme, lebih mementingkan yang satu sambil melalaikan yang lain. Ekstermisme macam ini akan berefek pada relativisme: saya lalu menyamaratakan keduanya, padahal hakikat, tujuan, dan efek dari keduanya sama sekali berbeda.
Maka dalam konteks refleksi ini, ruang hatiku mau kembali menegaskan bahwa dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa, jelas berbeda, dengan mengingat kata-kata St. Magdalena dari Canossa kepada Maria Goreti: “Saudara Maria Goreti, saya setuju engkau mengajarkan “Tugas suci” asal engkau tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian tersuci Akhirnya, bersama St Magdalena pula, pada Pesta Kerahiman Ilahi (Minggu, 19/4/20089) saya pun ingin memohon penerangan hati dengan berdoa: “Allah yang Mahatinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Berilah aku, ya Tuhan, perasaan yang peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintahMu yang kudus, dan yang tak akan menyesatkan…Amin.” ***

Media

April 24, 2009 by safegoreti

Peran Media Pembalajaran Bagi Dunia Pendidikan

Bab I
Pendahuluan

Media memiliki peran penting dalam pembelajaran. Paran ini antara lain media sebagai sarana pembentuk konstruksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi. Media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilannya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
Sementara, media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar (Arsyad 2005:5, melalui Rishe, 2007:132, dalam Gatra).
Beberapa peran media yang penulis paparkan di atas, diharapkan dapat memberikan sumbangan minat bagi dunia pendidikan pada umumnya.
Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dikemukakan dalam makalah ini adalah mengapa media pembelajaran sangat penting bagi dunia pendidikan?

Bab II
Kajian Teori

Media berasal dari bahasa Latin medium berarti perantara atau pengantar yaitu perantara atau pengantar sumber pesan kepada penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Masih berkaitan dengan pengertian media, Bachtiar (1984) memberikan batasan bahwa media pembelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Sementara, Arief S. Sadiman dkk, (1986) berpendapat bahwa media dapat mewakili guru menyampaikan informasi secara lebih teliti, jelas, dan menarik. Menurut Bovee (1997) media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/PKP-4c.pdf .

Berdasarkan kategori media, Paul dan David (1999) melalui Rishe (2007) berpendapat bahwa ada enam kategori, yaitu media yang tidak diproyeksikan, media yang diproyeksikan, media audio, media film dan video, multimedia, dan media berbasis komunikasi. Sementara, menurut Rudy Bretz (1971) dalam Harsja W. Bachtiar (1984) mengidentifikasikan media menjadi tiga unsur pokok yaitu media suara, visual, dan gerak. Selain, Schramm mengkategorikan media dari dua segi: dari segi kompleksitas dan besarnya biaya dan menurut kemampuan daya liputannya. Briggs mengidentifikasikan tiga belas macam media pembelajaran yaitu objek, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film rangkai, film bingkai, film televise, dan film gambar. Gagne menyebutkan tujuh macam pengelompokkan media, yaitu benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Menurut Edling, ada enam macam media pembelajaran yaitu kodifikasi subjektif visual dan kodifikasi objektif audio kodifikasi subjektif audio dan kodifikasi objektif visual pengalaman langsung dengan orang dan pengalam langsung dengan benda-benda. Soeparno (1988), berpendapat bahwa klasifikasi media dilakukan dengan menggunakan tiga unsure berdasarkan karakteristiknya, berdasarkan dimensi presentasinya, dan berdasarkan pemakaiannya.

Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005) melalui Rishe (2007). Peran itu antara ialah media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi, media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Abdul Gafur (1982) mengatakan bahwa kegiatan belajar mengajar sekarang telah bergerak menuju dikuranginya sistem panyampaian dengan ceramah dan berpindah kea rah digunakannya banyak media Harsja W. Bachtiar (1984) mengatakan bahwa media yang dirancang dengan baik, dalam batas tertentu dapat merangsang timbulnya semacam dialog interaktif dalam diri siswa yang belajar. Menurut Akhmad Sudrajat, media memiliki beberapa fungsi yaitu dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik, melampaui batasan ruang kelas, memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya, media menghasilkan keseragaman pengamatan, menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis, media membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar, pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).
Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami materi yang disajikan di atas, maka penulis akan mencoba menguraikannya pada bagian pembahasan.

Bab III
Pembahasan

A. Pengetian Media

Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Arief S. Sadiman dkk, (1986) memberikan batasan, media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Gegne (1970) dalam Arif S. Sudirman,1986:6, menagtakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnnya untuk belajar. Semetara Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Asosiasi Pendidikan Nasional memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk\komunikasi, baik cetak maupun audio visual serta peralatannya (Arif Sudirman 1986:7)
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Tidak begitu beda, Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra) berpendapat bahwa media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver).
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya media pembelajaran adalah sebagai:
a. sarana pembelajaran berupa alat fisik (manusia, materi, peristiwa),
b. berisi pesan pembelajaran,
c. mampu menciptakan komunikasi efektif atara pembelajar dengan materi pembelajaran, dan
d. mampu mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran

B. Macam-Macam Media

Macam media pembelajaran sangatlah beragam. Banyak ahli mengkategotikan media pembelajaran secara berbeda-beda.
1. Paul dan David (1999: 144-149, melalui Rishe, 2007: 133, dalam Gatra)
mengkategorikan media pembelajaran menjadi enam kategori, yaitu:
a. Media yang tidak diproyeksikan
Meliputi: papan tulis, papan flip, grafik, peta, gambar, realia, model tiruan, papan pameran, dan diorama.
b. Media yang diproyeksikan
Meliputi: OHP, slide, dan proyektor.
c. Media audio
Meliputi: pita kaset, rekaman piringan, dan compact disc.

d. Media film dan video (audio-visual)
Berupa kaset video (DVD dan sejenisnya) yang memuat pengkisahan (film).
e. Multimedia
Menyangkut koleksi berbagai tipe media yang terikat dalam satu topik tertentu. Misalnya, modul pembelajaran yang berupa teks berisi soal-soal dilengkapi dengan gambar dan program powerpaint.
f. Media berbasis komunikasi
Diantaranya teleconference, dan kuliah jarak jauh (telelecture).

1. Rudy Bretz
Menurut Rudy Bretz (1971) dalam Harsja W. Bachtiar (1984) mengidentifikasikan ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok yaitu media suara, visual, dan gerak. Bentuk visual sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gambar visual, garis, dan simbol verbal yang sebenarnya merupakan satu kesinambungan dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan.
Selain itu juga Bretz membedakan antara media rekaman dengan media telekomunikasi (transmisi). Dengan demikian terdapat tujuh klasifikasi media sebagai berikut.
1. Media audio visual gerak. Media audio visual merupakan media yang paling lengkap
yaitu menggunakan kemampampuan visual dan gerak.
2. Media audio visual diam. Merupakan kedua dari segi kelengkapan kemampuannya karena ia memiliki semua kemampuan yang ada pada golongan sebelumnya kecuali penampilan gerak.
3. Media audio visual semi gerak; memiliki kemampuan menampilkan suara serta gerak secara linear jadi tidak dapat menampilkan gerak nyata secara utuh.
4. Media visual gerak; memiliki kemampuan seperti golongan pertama kecuali penampilan suara.
5. Media visual diam; memiliki kemampuan menyampaikan informasi secara visual tetapi tidak dapat menampilkan suara maupun gerak.
6. Media audio; media yang hanya memanipulasikan kemampuan-kemampuan suara semata-mata.
7. Media cetak; merupakan media yang hanya mampu menampilkan informasi berupa huruf-angka (alphanumeric) dan simbol-simbol tertentu saja.

2. Schramm
Dari segi kompleksitas dan besarnya biaya, Schramm membedakan antara media rumit mahal (big media) dan media sederhana (little media). Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputannya yaitu
1 liputan luas dan serentak seperti televisi, radio, facsimile
2 liputan terabata pada tempat/ruang seperti film suara, film bisu, audio tape,
piringan audio, foto, poster, papan tulis, dan radio vision
3 media untuk belajar individual (mandiri) seperti buku, modul, program belajar
dengan komputer, dan tilpon.
3. Briggs
Menurut Briggs, perbedaan media didasarkan atas stimulus atau rangsangan yang ditimbulkan dari media itu sendiri, yaitu kesesuaian rangsangan tersebut dengan karekteristik siswa, tugas pembelajaran, bahan, dan transmisinya. Ia mengidentifikasikan 13 macam media yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar yaitu

a. Objek
b. Model
c. suara langsung
d. rekaman audio
e. media cetak
f. pembelajaran terprogram
g. papan tulis
h. media transparansi
i. film rangkai
j. film bingkai
k. film televise, dan
l. film gambar

4. Gagne
Tanpa menyebutkan jenis dari masing-masing medianya, Gagne menyebutkan 7 macam pengelompokkan media yaitu

a. Benda untuk didemostrasikan
b. komunikasi lisan
c. media cetak
d. gambar diam
e. gambar gerak
f. film bersuara
g. dan mesin belajar.

5. Edling
Menurut Edling, ada enam unsur pengalaman belajar yaitu
a. dua untuk pengalaman audio, meliputi kodifikasi subjektif visual dan kodifikasi objektif audio
b. dua untuk pengalaman visual meliputi kodifikasi subjektif audio dan kodifikasi objektif visual
c. dua pengalaman belajar 3 dimensi yaitu pengalaman langsung dengan orang dan pengalam langsung dengan benda-benda.

6. Soeparno
Menurut Soeparno (1988), klasifikasi media dilakukan dengan menggunakan tiga kriteria:
1. Berdasarkan karakteristiknya
Menurut Rudy Bretz, media mempunyai lima karakteristik utama, yaitu suara, gerak, gambar, garis, dan tulisan. Selain itu, ada media yang memiliki karakteristik tunggal dan ada media yang memiliki karakteristik ganda.
Media yang memiliki karakteristik tunggal adalah
a. radio: memiliki karakteristik suara saja,
b. rekaman: memiliki karakteristik suara saja,
c. HP: memiliki karakteristik suara saja,
d. slide: memiliki karakteristik gambar saja,
e. reading book: memiliki karakteristik tukisan saja, dan
f. reading machine: memiliki karakteristik tukisan saja.

Media yang memiliki karakteristik ganda:
a. film bisu: memiliki karakteristik gambar dan gerak,
b. film suara: memiliki karakteristik gambar, gerak, dan suara,
c. TV dan VTR: memiliki karakteristik suara, gambar, dan gerak (garis dan tulisan),
d. OHP: memiliki karakteristik suara, gambar, garis, dan tulisan,
e. slide: memiliki karakteristik gambar dan suara, dan
f. bermain peran, sosiodrama, dan psikodrama: memiliki karakteristik suara dan gerak.
2. Berdasarkan dimensi presentasinya
Berdasarkan dimensi presentasinya, media dapat dibedakan menurut lamanya presentasi dan sifat presentasi.
a. Lama presentasi
Berdasarkan lamanya presentasi, media dapat dibagi menjadi dua:
1. Presentasi sekilas: informasi yang disampaikan hanya sekilas berlalu saja. Media yang tergolong dalam kategori ini adalah radio, rekaman, film, TV, dan flash card.
2. Presentasi tak sekilas: informasi yang dikomunikasikan berlangsung secara relatif lama. Media yang tergolong kategori ini adalah slide, film strips, OHP, flow chart, kubus struktur, dan bumbung subsitusi.
b. Sifat presentasi:
Berdasarkan sifat presentasi, media dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
1. Media dengan presentasi kontinyu: tidak boleh diputus-putus atau diselingi dengan program lain. Yang tergolong jenis ini adalah radio, TV, dan film.
2. Media dengan presentasi tidak kontinyu: dapat diputus-putus atau diselingi dengan program lain. Yang tergolong jenis ini adalah OHP, kubus struktur, bumbung substitusi, flow chart, dan slot board, epidiascope.
3. Berdasarkan pemakaiannya
Berdasarkan jumlah pemakaiannya, media dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Media untuk kelas besar.
b. Media untuk kelas kecil.
c. Media untuk belajar secara individual.
Berdasarkan usia dan tingkat pendidikan pemakai, media dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Media untuk murid TK.
b. Media untuk murid SD.
c. Media untuk siswa SMTP.
d. Media untuk siswa SMTA.
e. Media untuk siswa di perguruan tinggi.

Pada hakekatnya, hampir semua media dapat dipakai pada semua tingkatan, asal materinya disesuaikan dengan tingkatan masing-masing.
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya :
1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/)
Menurut Soeparno (1988) derajat kemedian suatu alat adalah tingkat-tingkatan yang secara gradual (berangsur-angsur) yang memberikan ukuran sejauh mana suatu alat dapat diisi dengan suatu program. Berdasarkan derajat kemediaan suatu alat dapat dibagi menjadi empat kelompok:
1. alat yang derajat kemediaannya tinggi: VTR, TV, dan film;
2. alat yang derajat kemediaannya sedang:slide, OHP, radio, rekaman, film biru, film strips;
3. alat yang derajat kemediaannya rendah: papan tulis, papan tali, papan magnetis, papan flanel, papan selip, kubus struktur, bumbung subtitusi; dan
4. alat yang derajat kemediaannya nol yang berarti alat tersebut sama sekali tidak dapat diisi.

C. Fungsi Media Pembelajaran

Dewasa ini media pembelajaran memegang paran penting di dalam membantu tercapainya proses belajar mengajar. Media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra).
Peran itu antara lain:
a. media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi,
b. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan
c. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
Menurut Akhmad Sudrajat dalam wordpress.com-nya, mengatakan bahwa media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (g) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).

Sementara, menurut R. Rahardjo, media berfungsi untuk:
1. Membuat konkrit konsep yang absrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah.
2. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar, seperti binatang-bitanang buas atau penguin dari kutup selatan.
3. Menampilkan objek yang terlallu besar, seperti pasar, candi Borobudur, dan sebagainya.
4. Menampilkan objek yang dapat diamati dengan mata telanjang seperti micro organisme.
5. Mengamati gerakkan yang terlalu cepat dengan slowmotion.
6. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkkungannya.
7. Memungkinkan keseragaman pematangan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa.
8. Membangkitkan motivasi belajar
9. Memberi kesan perhatian kepada semua anggota kelompok belajar
10. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan
11. Menyajikan informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu maupun ruang
12. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Bab IV

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran terlebih dalam pembentukan konstruksi pengalaman belajar tentang suatu objek.
2. media pembelajaran haruslah berorientasi pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
3. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif
4. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
5. 5. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
6. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
7. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
8. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
9. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
10. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
11. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
13. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit
sampai dengan abstrak Sementara,
14. Membuat konkrit konsep yang absrak, misalnya untuk menjelaskan sistem
peredaran darah.
15. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan
belajar, seperti binatang-bitanang buas atau penguin dari kutup selatan.
16. Menampilkan objek yang terlalu besar, seperti pasar, candi Borobudur,
dan sebagainya.
17. Menampilkan objek yang dapat diamati dengan mata telanjang seperti
micro organisme.
18. Mengamati gerakkan yang terlalu cepat dengan slowmotion.
19. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkkungannya.
20. Memungkinkan keseragaman pematangan dan persepsi bagi pengalaman
belajar siswa.
21. Membangkitkan motivasi belajar
22. Memberi kesan perhatian kepada semua anggota kelompok belajar
23. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun
disimpan menurut kebutuhan
24. Menyajikan informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu
maupun ruang
25. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Daftar Pustaka

Anderson,Ronald H. 1983. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pemebalajaran.Jakarta:Rajawali.

Gafur, Abd. 1982. Desain Intruksional. Solo: Tiga Serangkai.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran
Miarso,Yusufhadi dkk. 1984. Teknologi komunikasi Pendidikan. Jakarta:CV.Rajawali.

Sadiman, Arief.S dkk. 1984.Media Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soeparno.1988. Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Inter-Pariwisata.
www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/PKP-4c.pdf

…. 2007. Penyususnan Bahan dan Media Pembelajaran. Gatra. Januari. Hlm. 132-135.
Yogyakarta:PBSID FKIP Universitas Sanata Dharma.

Sastra

April 24, 2009 by safegoreti

Permasalahan Pengajaran Sastra
di Indonesia

1. Pendahuluan

1. 1 Latar Belakang
Situasi pengajaran sastra di sekolah saat ini tidak hanya memprihatinkan, tapi sudah pada taraf “mengerikan”. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra rendah (Mukhlis A. Hamid, M.S. : 1996). Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra “diomprengkan” pada pengajaran bahasa. Pengajaran sastra memang perlu dibenahi secara menyeluruh. Banyak masalah-masalah yang seharusnya tidak muncul dalam pengajaran sastra di sekolah.
Masalah pertama yaitu tingkat kemampuan guru yang masih perlu diperbaiki. Banyak sekali guru sastra yang kurang memahami apa yang diminati oleh siswanya, sehingga ia tidak mampu memberikan penyajian yang menarik dalam pengajaran sastra. Seorang guru sastra seharusnya mempunyai semangat yang berhubungan dengan pengajarannya (DR. Yus Rusyana: 1982). Guru sastra hendaknya juga menyadari bahwa mengajarkan sastra itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengajarkan sikap terhadap nilai-nilai.
Permasalahan kedua yaitu metode pengajarannya. Selama ini, pengajaran kesusastraan di sekolah hanya menekankan bentuk hafalan. Menurut Setya Yuwana Sudikan dalam tulisannya yang berjudul ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)” dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra ”Gatra”, kegiatan menghafal yang banyak dilakukan adalah menghafal nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, maupun menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia, yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada ujian akhir maupun pada kuis-kuis yang diadakan. Hal ini tentu saja mengingkari dan mengkhianati hakikat sastra yang sesungguhnya. Pengajaran sastra hendaknnya lebih bersifat apresiatif. Keaktifan siswa seharunya lebih ditingkatkan dari yang semula lebih “dikuasai” oleh para guru dan pada gilirannya kini “dibebankan” kepada para siswa.
Ketiga, yaitu ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah. Hal ini tentu saja menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Dalam kurikulum yang sudah disempurnakan saat ini pun materi ajar sastra masih terintegrasi dengan materi kebahasaan. Pelajaran khusus yang bernama “sastra” tidak ada, yang ada hanyalah pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru sastra maupun piahka sekolah seharusnya pandai-pandai memanfaatkan semua media yang ada dalam pengajaran sastra.
Berbagai permasalahan yang telah penulis ungkapkan di atas, sedikit banyak tentu saja mempengaruhi minat belajar sastra siswa. Faktor minat belajar memang merupakan masalah lain yang sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Masalah minat ini sangat personal sifatnya sehingga pola penanganannya pun sangat bervariasi.
Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dua rumusan masalah yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut: (i) Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia; (ii) Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa

2. Kajian Pustaka
Berbagai permasalahan yang ada dalam pengajran sastra jangalah membuat kita semakin ciut. Masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengatasinya. Banyak ahli yang telah meneliti tentang hal ini. Wahyudi (2007) menyatakan bahwa salah satu masalah dalam pembelajaran sastra adalah pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Masih berkaitan dengan anggapan tersebut di atas Tajuddin Noor Ganie (1998) menyatakan bahwa tidak jarang guru yang ditugaskan sebagai pengajar mata pelajaran bahasa dan sastra merangkap tugas sebagai pengajar mata pelajaran lain yang saling berbeda disiplin ilmunya di berbagai sekolah yang berbeda pula. M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajaran Sastra” dalam buku yang berjudul “Sastra Masuk Sekolah” juga mengatakan bahwa tudingan tentang rendahnya mutu pengajran sastra di sekolah diarahkan kepada guru.
Dalam hal ini, Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajaran apresiasi sastra.
Sejalan dengan pendapat Suharianto, M. Atar Semi juga mengatakan bahwa banyak pecinta sastra, bahkan kalanngan sastrawan meneriakkan bahwa peningkatan kualitas pengajran sastra di sekolah mestilah mengadakan guru sastra khusus, atau guru spesialis sastra, tidak lagi seperti sekarang, dirangkap oleh guru bahasa Indonesia. Maka, siap atau tidak siap, yang segera harus dilakukan adalah memperkaya atau juga menyadarkan para guru akan posisi strategis mereka sehingga sekiranya ada yang memang “tersesat” selama ini, dapat dan mampu menata atau berbenah.
Permasalahan sastra yang kedua yaitu metode pengajarannya. Dalam mencapai tujuan pengajran di dalam kelas, kita perlu mempergunakan berbagai cara atau metode. Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra dapat ditempuh dengan cara-cara antara lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
b. Siswa membaca
c. Siswa menonton pementasan drama
d. Siswa bertukar pengalaman
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
f. Siswa membaca nyaring
g. Siswa mengarang
h. Siswa memainkan peranan
Ketersediaan buku-buku penunjang atau buku paket sangatlah penting dalam proses pembelajaran. “Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Namun lain halnya dengan pendapat M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajran Sastra” yang mengatakan bahwa buku penunjang sastra dalam bentuk buku teks untuk peserta didik tidak perlu. Teori-teori dasar tentang sastra dapat dijelaskan oleh guru di depan kelas secara klasikal.
Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami semua permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya, maka penulis akan mencoba menguraikannya di dalm bagian pembahasan.

3. Pembahasan

3. 1 Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia ?
Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, banyak hal yang harus kita benahi. Hal pertama yang agaknya sangat perlu kita sadari adalah bahwa ditilik dari kualitas dan kuantitas guru di Indonesia dapat dikatakan memang sangat rendah. Adanya anggapan pelajaran bahasa dan sastra di tanah air kita adalah pelajaran yang kurang begitu penting, yang manfaatnya masih diragukan dalam kehidupan keseharian ini, maka tugas mengajar untuk mata pelajaran bahasa dan sastra ini tidak jarang diserahkan kepada guru yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat secara kualititatif. Dalam hal ini guru yang bersangkutan tidak mempunyai kapasitas atau latar belakang pendidikan bahasa dan sastra [sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia]. Kalaupun ia adalah seorang sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di LPTK sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Bagaimana mungkin, guru yang pengetahuan dan kemampuan dasar kesastraannya sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa Namun hal ini bukanlah suatu penghalang, banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru sastra. Pertama, secara kita harus menyadarkan diri sendiri bahwa kita secara sadar sudah memilih profesi guru sebagai pekerjaan. Sebagai seorang guru seharusnya kita mengetahui sedikit lebih banyak daripada murid atau subjek ajar. Penyadaran diri ini memacu kita untuk menambah wawasan dan keterampilan dalam bidang yang kita ajarkan secara otodidak. Kedua, kita hanya berperan sebagai organisator dan fasilitator dalam pembelajaran.
Menurut Rusyana (19082, 9-10) seorang guru sastra haruslah mempunyai semangat, mempunyai kecintaan pribadi terhadap sastra, sastra seharusnya menjadi sumber kenikmatannya. Selain itu, guru sastra haruslah rajin membaca karya sastra dan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang sastra. Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajran apresiasi sastra.
Tujuan pengajaran sastra yang sebenarnya bisa tercapai dengan berbagai cara atau metode. Dalam melaksanakan pengajaran, guru hendaknya memilih cara yang sesuai dengan tujuan, bahan, keadaan siswa, dan suasana kelas (DR. Yus Rusyana, 1982: 17). Guru harus kreatif dan memiliki inisiatif yang tinggi untuk menentukan cara dan metode penggajarannya. faktor penggunaan metode penyajian sastra di sekolah erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat belajar pada siswa.
Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra untuk memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi dapat ditempuh dengan cara-cara anatar lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
Seorang guru yang pandai bercerita, biasanya akan disenangi siswa-siswanya. Dari kegiatan bercerita itu, secara tidak langsung akan terjalin hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Hubungan ini nantinya akan sangat berharga sekali dalam pendidikan Mengingat kegiatan bercerita ini sangat baik untuk pengajaran sastra maupun pendidikan yang lebih luas, maka kegiatan bercerita ini seharusnya mendapat perhatian yang besar dari guru. Guru harus mempersiapkan banyak cerita dan cara dalam penyamapaiannya.
b. Siswa membaca
Siswa hendaknya didorong bukan saja agar senang membaca di sekolah, tetapi juga di rumah. Meningkatkan minat baca siswa sebenarnya tidaklah sukar, yang harus kita lakukan hanyalah menyediakan bahan untuk mereka baca, memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat-lihat bacaan itu, dan kemudian memilihnya sesuai dengan minat mereka sendiri. Sebagai guru sastra, kita bukan saja harus senang membaca hasil sastra, tetapi juga buku anak-anak.
c. Siswa menonton pementasan drama
Menonton drama merupakan suatu kegiatan yang menggembirakan bagi anak. Sekolah bisa saja mengaakan pagelaran, misalnya pementasan sebuah drama secara sederhana di kelas, atau pementasan drama pada akhir tahun, atau hari pendidikan, dan hari kemerdekaan. Kegiatan menonton pementasan drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh kenikmatan. Hal itu tentu saja berguna bagi kepentingan pengajaran sastra. Mereka nantinnya kan tertarik pula untuk mengetahuinya lebih lanjut.
d. Siswa bertukar pengalaman
Setelah siswa mendengarkan cerita, puisi, mnyaksikan pementasan drama, atau setelah mereka membaca, dengan bimbingan guru, mereka dapat saja memperbincangkannya. Hal-hal yang dibicarakan adalah soal penikmatan. Cara-cara menyampaiakn pengalaman itu tidak terbatas dengan kata-kata saja. siswa bisa saja membuat lukisan, karikatur tentang peristiwa yang terjadi.
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
Kesenangan bercerita siswa juga bisa dimanfaatkan untuk pengajaran sastra. Setelah membaca, atau mendengar bermacam-macam cerita, baik lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka tentu mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan. Semuanya itu tentu saja bisa digunakan sebagai bahan bercerita.
Dalam kegiatan bercerita, siswa hendaknya bukan saja menikmati isi yang disampaikannya, tetapi juga menikmati cara menyampaikannya. Guru harus menngusahakan adanya suasana yang menyenangkan, sehingga siswa merasa leluasa untuk berbicara, dan pembicaraannya tidak kaku.
Jika kegiatan bercerita macet, guru bisa mendorongnya dengan mengajukan pertanyaan yang merangsang imajinasi mereka. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru, diharapkan imajinasi anak akan tergugah. Ia bisa memperkaya pembicaraan denga fikiran, perasaan, khayal, kehendak, dll, sehingga ia bisa terlepas dari kekakuan pembicaraan.
f. Siswa membaca nyaring
Siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk membaca dengan ekspresinya sendiri. Bila ada ekspresi yang menurut guru kurang tepat, guru hendaknya membetulakan kesalahan tersebut dengan jalan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggugah dan mengarahkan. Setelah itu, siswa diberi kesempatan untuk mencoba membacanya lagi. Guru tdak perlu memberi contoh dan kemudian anak menirukannya. Guru harus berusaha agar siswa dapat mengekspresikan pengalamannya dengan pembacaannya.
g. Siswa mengarang
Kemampuan mengemukakan sesuatu secara tertulis penting kedudukannya dalam kehidupan kita sekarang. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk dapat mengungkapkan dirinya secara tertulis. Dalam kegiatan ini, yang terpennting adalah mereka mengungkapkan pikiran, perasaannya, khayalnya dengan lancar dan hidup.
Peranan guru dalam mendorong kegiatan siswa sangatlah besar. Guru harus bisa menggugah keinginan dan keberanian murid untuk mengarang. Guru harus pula menunjukkan perhatian dan penghargaan terhadap karangan siswa. Guru bisa saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa berhubungan dengan karangannya, hal ini dilakukan untuk merangsang pengembangan daya batin siswa. Kegiatan karang-mengarang ini bisa kita hubungkan dengan kegiatan lain, seperti mendengarkan, membaca, dan menonton pementasan.
h. Siswa memainkan peranan
Kegitaan ekspresi sastra dapat pula dilakukan oleh siswa dengan memerankan pelaku cerita. Kegiatan membawakan peranan ini sangt bermanfaat, bukan saja untuk keperluan ekspresi, tetapi juga untuk memberikan pengalaman cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Pementasan dapat dilakukan di dalam kelas atau di panggung.

Kedelapan cara untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi di atas tampak sekali bahwa siswa menjadi pelaku yang aktif dalam proses belajar. Hal tersebuit hendaknya menjadi peganngan guru, karena kegiatan siswa dalam pelajarannya sangtlah berfaedah dan membuat pelajaran terlaksana secara efektif. Pengalaman siswa membaca cerita, puisi, drama, atau pengalaman mereka mengarang atau berpentas, dapat digunakan sebagai dasar untuk beroleh pengetahuan tentang sastra.
Untuk mencapai tujuan memperoleh pengetahuan pun, hendaknya guru melibatkan kegiatan siswa. Tentu saja jika memang diperlukan, guru dapat menerangkan dengan cara memberikan ceramah, walaupun hanya sederhana. Setelah itu diadakan tanya jawab.
Kegiatan-kegiatan untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi yang telah dikemukakan di atas pun merupakan usaha usaha untuk menanamkan sikap yang baik terhadap sastra. Siswa dibawa menggemari sastra dan menjadilkan sastra sebagai bagian dari kehidupan mereka.
“Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Ketersediaan buku-buku sastra yang diperlukan di perpustakaan sekolah sebenarnya harus menjadi syarat minimal. Hasan Alwi dalam tulisannya yang berjudul ”Sastra dan Tingkat Keberaksaraan” dalam buku yang berjudul ”Sastra Masuk Sekolah” mengatakan bahwa apresiasi dan pemahaman siswa terhadap sastra akan terasa sangat gersang dan miskin karena mereka hanya mengandalkan bahan yang diberikan guru.
Kendala ketiadaan buku dan bahan penunjang pembelajaran yang dikeluhkan selama ini sebenarnya dapat ditanggulangi melalui beberapa cara. Pertama, pemanfaatan media massa tercetak, seperti koran harian, mingguan, tabloid, dan majalah yang memuat karya sastra. Sekolah dapat berlangganan secara rutin koran atau majalah tertentu sesuai dengan kemampuan dana sekolah. Bila tidak memungkinkan, guru atau pihak sekolah membeli koran atau majalah tertentu pada hari, minggu, atau bulan tertentu sesuai dengan keperluan. Bila hal ini juga tidak memungkinkan, guru menugasi siswa untuk mencari secara personal atau kelompok teks sastra yang dipublikasikan di media cetak sesuai dengan topik yang diajarkan.
Cara lain yang dapat digunakan ialah pemanfaatan berbagai media yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, guru meminta siswa untuk membuat rekaman (kaset atau tertulis) sastra yang ada dalam masyarakat di sekitarnya. Hasil rekaman inilah yang dibawa dan dibicarakan di sekolah. Di samping itu, pemanfaatan media elektronik daerah dan nasional (milik pemerintah atau swasta) yang pada hari dan saat tertentu menayangkan ragam sastra tertentu untuk dinikmati oleh pemirsa. Pembacaan puisi, musikalisasi puisi, drama, dan sebagainya yang ditayangkan di radio dan televisi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa melalui pemberian tugas secara personal ataupun kelompok.

3. 2 Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa ?
DR. Yus Rusyana (1982) dalam bukunya yanng berjudul “Metode Pengajaran Satra” menyatakan bahwa pengajaran sastra termasuk ke dalam pengajaran yang sudah tua umurnya, dan hingga sekarang tetap bertahan dalam kuirikulum pengajaran di sekolah. Hal ini tentu saja disebabkan oleh nilai pengajaran sastra untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran sastra mempunyai peranan dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti aspek pendidikan susila, sosial, perasaan, sika penilaian, dan keagaman.
Drs. Rizanur Gani dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Sastra Indonesia Respon dan Analisis” memaparkan bahwa peranan pendidikan sastra menjadi lebih dari sekedar pengisian kepala siswa dengan setumpuk kebijaksanaan sastra dan sejarah budaya. Proses penddidikan ini menjelama menjadi upaya membantu pribadi pembaca meningkatkan kemampuannya terlibat dengan buku lebih sukses lagi.
Selain itu, banyak alasan lain mengapa pengajaran sastra penting sekali diberikan kiepada siswa, B. Rahmanto (1988) menyebutkan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:

a. membantu keterampilan berbahasa
Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih meningkatkan empat keterampilan berbahasa. Delam pengajaran sastra, siswa dapat melatih keterampilan menyimaknya dengan mendengarkan suatu karya yang dibacakan guru, teman, atau lewat rekaman. Siswa dapt melatih keterampilan berbicaranya dengan cara ikut berperan dalam suatu drama. Siswa dapat juga melatih keterampilan membacanya dnegan membacakan puisii atau cerita. Dan mendiskusikannya, kemudian menuliskan hasil diskusinya.
b. meningkatkan pengetahuan budaya
Sastra tidak seperti halnya ilmu kimia dan sejarah yang menyajikan ilmu pengatahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam denngan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan ‘sesuatu’ dan kerap menyajikan banyak hal yang bila dihayati dengan benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya.
c. mengembangkan cipta dan rasa
Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, dan sosial, serta religius. Karya sastra dapat memberi peluang untuk menigkatkan kecakapan-kecakapan semacam itu. Pengajaran sastra yang dilakukan denga benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembanngkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain.
d. menunjang pembentukan watak
Dibandingkan pelajaran-pelajran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengena seluruh rangkaian kemungkinan hidup menusia, seperti: kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri sampai pada kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian, dan kematian. Selain itu, pengjaran sastra juga dapat memberikan bantuan dalam usaha pengembanngan berbagai kualitas kepribadian siswa yang meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pengjaran sastra memang benar-benar sangt penting bagi siswa didik kita. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana.

4. Penutup
Itulah gambaran sepintas terhadap kondisi sastra dan pengajaran sastra Indonesia hingga hari ini. Tampaknya masih banyak yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal tidak lagi sarat dengan berbagai masalah pada masa yang akan datang. Bila guru sastra (dan bahasa) Indonesia masih tetap berdiam diri dan hanya duduk mengurut dada, kondisi tersebut akan terus berlanjut pada hari-hari yang akan datang.
Penulisan makalah ini bertujuan mengajak kita untuk kembali memperbaharui niat, menumbuhkan tekad, dan bersiap untuk kembali membenahi pengajaran sastra Indonesia di sekolah. Memang ada di antara kita yang terlanjur menjadi guru dan terlanjur pula memilih menjadi guru bahasa Indonesia. Namun, keterlanjuran itu harus kita nikmati sampai hari-hari yang akan datang. Karenanya, saat ini kita harus memilih: tetap menjadi guru sastra atau beralih ke bidang lain yang mungkin jauh lebih mudah dan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cemerlang. Bila kita tetap memilih menjadi guru sastra Indonesia, mulai sekarang kita harus bertekad membuka diri, menambah wawasan, dan berusaha menjadi guru yang ditunggu-tunggu oleh para siswa.
Sebagai calon guru sastra (dan bahasa) pada masa yang akan datang seharusnya kita punya kemampuan yang lebih baik daripada pendahulu kita. Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada dan ditawarkan dalam pembelajaran sastra saat ini hendaknya dimanfaatkan secara maksimal. Bila perlu, kegiatan lain yang berkait dengan kesastraan yang dilaksanakan di luar kampus kita ikuti untuk menambah bekal ilmu dan bekal keterampilan yang kita butuhkan nanti saat menjadi guru. Semoga ulasan ini menggugah kita semua dalam usaha peningkatan kualitas pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal.

Daftar Pustaka

A. Hamid, Mukhlis. 1996. ”Antara Harapan dan Kenyataan”. diakses di http://gemasastrin.wordpress.com/2007/04/20/pengajaran-sastra-indonesia-di-sekolah/

Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.

Ganie, Tajuddin Noor . 1998. Problema Pengajaran Sastra di Sekolah. diakses di http://www.indomedia.com/BPost/9807/29/opini/opini1.htm

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Sarumpaet, Riris K. Toha (ed.). 2002. Sastra M asuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.

Sudikan, Setya Yuwana. 2006, No 31 Th XXII Juli. ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran). ”Gatra”, hlm. 69.

Wahyudi, Ibnu. 2007. “Menyiasati Kurikulum Pelajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Kiat untuk Mafhum dan Berbenah”. diakses di http://johnherf.wordpress.com/2007/02/07/bahasa-dan-sastra-indonesia-di

KTSP

April 24, 2009 by safegoreti

KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia

1. Pendahuluan
Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh isu pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007.
Adanya tiga macam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar di masyarakat. Guru sebagai orang yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang paling dibingungkan dengan situasi ini. Tulisan ini akan membahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
2. KTSP
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.
KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.
Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan komite sekolah. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
3. Bahan Ajar
Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan.
Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.
Untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Kedua jenis sumber ini dapat dimanfaatkan. Bahan bacaan yang mengandung muatan nasional dan global dapat diambil dari surat kabar berskala nasional, sedangkan bahan bacaan yang mengandung muatan lokal dapat diambil dari surat kabar daerah. Berdasarkan bahan bacaan ini, guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual. Peserta didik diperkenalkan dengan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan masyarakat yang tatarannya lebih luas.
Bahan ajar yang beragam jenis dan sumbernya ini tentu juga dapat digunakan untuk pelajaran-pelajaran yang lain (menulis, mendengarkan, dan berbicara).
Mengingat pentingnya televisi dan komputer (internet) dalam kehidupan sekarang ini, guru perlu memanfaatkan bahan ajar dari kedua sumber ini. Televisi dan komputer juga dapat dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang menarik.
4. Metode Pembelajaran
Dalam KTSP guru juga diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat, perhatian, dan kreativitas peserta didik. Karena dalam KTSP guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik, metode ceramah perlu dikurangi. Metode-metode lain, seperti diskusi, pengamatan, tanya-jawab perlu dikembangkan.
Pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi, misalnya, dapat melibatkan partisipasi dari semua peserta didik. Semua peserta didik dapat berbicara, mengemukakan pendapatnya masing-masing. Guru dalam hal ini hanya mengarahkan bagaimana diskusi berjalan. Isu diskusi perlu dikaitkan dengan lingkungan sekitar (sekolah, daerah) hingga lingkungan global.
Kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kegiatan dapat dilakukan di luar kelas (perpustakaan, kantin, taman, dsb.), di luar sekolah (mengunjungi lembaga bahasa, stasiun radio/televisi, penerbit, dsb.). Beragamnya tempat pembelajaran dapat membuat suasana belajar yang tidak membosankan.
Kegiatan pembelajaran dapat juga melibatkan orang tua dan masyarakat. Sekolah dapat mengundang orang yang mempunyai profesi tertentu atau ahli dalam bidang tertentu untuk berbicara dan berdialog dengan peserta didik. Sebagai contoh, dalam pelajaran menulis dan berbicara (wawancara), kalau ada orang tua peserta didik yang berprofesi sebagai wartawan, guru dapat mengundang orang yang bersangkutan untuk berbicara dan berdiskusi tentang pekerjaannya denga peserta didik. Kegiatan seperti ini akan berguna untuk peserta didik, guru, dan orang tua. Mereka dapat saling belajar dan proses pembelajaran menjadi menarik dan bersifat kontekstual.
Dalam lingkungan sekolah, staf sekolah juga dapat dimanfaatkan. Misalnya, untuk pelajaran menulis surat resmi guru bisa meminta staf administrasi untuk berbicara tentang penulisan surat. Di samping berguna sebagai sumber pembelajaran, kegiatan ini juga berguna untuk membentuk lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu adanya hubungan dan kerja sama yang baik di antara peserta didik, guru, dan staf.
Kalau memungkinkan, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan kunjungan peserta didik kepada orang dengan profesi tertentu (misalnya penyunting bahasa atau penterjemah) atau ke lembaga tertentu (misalnya lembaga bahasa atau penerbit) untuk menggali informasi tentang bahasa Indonesia. Kegiatan ini akan membuka wawasan peserta didik dan guru akan profesi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan akan pentingnya bahasa Indonesia sehingga diharapkan muncul sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
5. KTSP: Peluang dan Tantangan
Pemberlakuan KTSP pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah. KTSP merupakan kurikulum yang sesuai dengan dinamika kehidupan di Indonesia sekarang ini dikaitkan dengan isu-isu seperti globalisasi dan otonomi daerah. Akan tetapi, pelaksanaan KTSP menuntut banyak hal dari sekolah dan masyarakat seperti profesionalisme, kreativitas, kemandirian guru dan kepala sekolah, serta keterlibatan masyarakat. Pelaksanaan KTSP juga menuntut banyak hal dari pemerintah seperti perencanaan pendidikan yang baik dan terarah, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, dan birokrasi/prosedur administrasi yang sederhana. KTSP juga menuntut partisipasi dan kepedulian masyarakat. Dengan persiapan yang matang dan suasana yang kondusif, KTSP berpeluang besar untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi yang diharapkan.
Tantangan bagi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah meningkatkan profesionalisme. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, guru perlu terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pembelajaran dan berbahasa Indonesia.
6. Penutup
Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apa pun kurikulumnya, guru bahasa Indonesia harus tetap berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik. Karena kurikulum yang akan berlaku dalam beberapa tahun mendatang adalah KTSP, guru perlu mengenal, mempersiapkan diri, dan menyiasati kurikulum ini. Dengan demikian, guru akan dapat menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 2006. “Kurikulum Bahasa Berbasis Sastra.” Makalah untuk Seminar Nasional Kondisi Bahasa Indonesia Masa Kini, Akademi Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Drost, J. 2006. Dari KBK sampai MBS. Jakarta: Buku Kompas.
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdkarya.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
_________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Statu Tinjauan Kritis. Yakarta: Rineka Cipta