Ilmu Daun
Daun hijau, menguning, jatuh dan membusuk.
Tak beda dengan jagad di jaman ini
Kehidupan semakin berat dan mengerikan
Lihat, banyak orang menjadi sengsara
Pengangguran memenuhi jagad ini
Sedangkan orang terlantar semakin membebani
Zaman apa ini?
Mengapa banyak orang seperti itu?
Apakah ini akibat hukum rimba?
Ataukah hanya kemalasan orang saja?
Andai ini dibiarkan, akan menjadi apa jagad ini?
Jagad yang dipenuhi tangisan?
Tangisan meminta sesuap nasi?
Ataukah Jagad yang dipenuhi kejahatan?
Karena yang miskin berlomba ingin memiliki kekayaan
yang kaya dengan cara mencuri
Jangan biarkan ini menjadi
Buatlah daun itu bukan hanya kuning
Tetapi menjadi emas yang berkilauan
Agar tak banyak daun yang jatuh dan membusuk tiada guna
Beratnya Hidup
Jutaan ton pasir telah ia kumpulkan selama puluhan tahun
Puluhan truk sudah menghampiri ia selama ratusan hari
Ratusan keringat telah ia teteskan di setiap aliran air yang melewatinya
Dan hampir belasan jam per hari ia habiskan di atas sungai
Walau sang hari enggan menutup diri
la tetap berkarya demi sesuap nasi untuk keluarganya
Taukah kamu? Bila sungai sedang banjir atau badai hujan sedang mendera,
mereka tidak bisa berbuat apa-apa
Lubang tambang tertutup air, arus sungai semakin deras,
dan air akan meluap naik
Tetapi terkadang mereka berbuat nekat, karena anak menangis dan istri
menderita belum makan seharian.
Mungkin dalam setiap doanya, ia ingin menjadi orang yang serba kecukupan
dan tidak usah bersusah payah untuk menambang pasir
Yah, itulah kehidupan penambang pasir di sungai
Yang sebagian besar waktunya ia abdikan kepada sungai
Andai sungai dibuat banjir oleh ulah manusia
Berarti manusia itu telah membuat penambang dan keluarganya menderita
Tak Mau Putus Belajar
Kegigihan dan ketekunan mewarnai kehidupanku
Impian dan angan menjadikan pemberi semangat dalam mengarungi hidup ini
Buku menjadi teman
Guru menjadi sahabat
Keceriaan selalu memancar dari wajahku
Dengan sepeda jawa yang mulai rapuh
Kukayuh menuju sekolah demi mengejar ilmu
Tapi pada akhirnya semua itu kandas
Aku mulai murung, sedih, dan tak bersemangat
Ketika ayah berkata tak sanggup lagi menyekolahkan aku
Hatiku hancur
Serasa bumi ini berhenti
Angan pun menghilang meninggalkan aku
Sahabat juga akan meninggalkan aku
Namun teman, kegigihan dan ketekunan masih setia bersamaku
Bersama teman aku akan mencari
anganku yang hilang
Dan percaya akan ada secercah harapan yang menanti
Liku-Liku Malam
Tabir surya telah menutup
Ratu malam mulai memancarkan sinar
Temaram lampu jalan pun turut menghias susana malam
Inilah pesta malam akan dimulai
Riuh suara anak-anak jalanan mulai mengusik
Sepajang terotoar di sudut lampu merah menjadi peraduannya
Kejora menjadi kawan dan hujan menjadi lawan
Tak ketinggalan gitar menjadi sahabat.
Merah menjadikan rejeki dan hijau perusak rejeki itu
Kertas menjadikan keberuntungan sedangkan koin menjadikan kesialan
Senyum menjadikan kebahagiaan sedangkan murung menjadikan kecemasan
Dan Trantib yang menghantui semuanya itu
Sebentar lagi tengah malam mengampiri
Dan angin malam mengiringi mereka pulang
Mereka pulang dengan membawa segenggam kehidupan
Dan mereka pun tidur berselimutkan harapan esok akan lebih baik
Tangisan di Tujuh Koma Tiga
Lihatlah saudara
Begitu dahsyatnya
Gempa di Tasik Malaya
Tujuh koma tiga
Datang tak terduga
Merobohkan berbagai bangunan
Merusakkan keindahan sebuah kota
Hanaur hati melihat keadaan
Kini hanya tersisa puing-puing reruntuhan kota
Yang sudah rata dengan tanah
Banyak orang yang bingung
Sebagian terlihat panik
Tidak sedikit yang takut
Walau hanya satu yang menjerit-jerit histeris
Tetapi semuanya masih diselimuti kegelisahan
Pedih dan perih hatiku
Melihat banyak orang yang terluka
Sebagian karban berdarah
Ada puluhan orang yang meninggal
Sehingga begitu banyak tangisan
Tuhan…
Berilah ketabahan dan kesabaran kepada mereka
Ingatkan kami pula untuk membantu mereka dalam doa
Kami semua percaya, Engkau punya rencana, dan rencana-Mu selalu indah
Ingatkan mereka pula bahwa hidup harus terus berjalan
Biar mereka menhadapi semua ini dengan tegar
Mereka tidak sendiri
Kami berjuang membantu mereka
Misdinar kecil di lorong Sakristi
Ketika misa usai aku melangkahkan kakiku ke sakristi
Aku mendengar seseorang menangis di lorong itu
Lihatlah! Ada gadis kecil di sana
Dia duduk seorang diri, menangis tersedu-sedu
Seakan-akan ada yang berusaha untuk menyakitinya
Aku semakin mendekatinya perlahan dan ia pun melihatku
Ketika kutanya mengapa ia menangis
Dia minta maaf kepadaku
Mengapa? Mengapa dia harus minta maaf kepadaku?
Ternyata dia merasa belum bisa melayani Tuhan dengan benar
Dia diejek oleh teman-temannya dan menjadi bahan omongan umat
Dia merasa sangat bersalah
Apa artinya sebuah kesalahan kecil
dibanding dengan pelayanan yang tulus
Tuhan, hatinya begitu murni dan lembut
Hatiku terasa perih mendengar jawabnya
Jujur, aku terharu mendengarnya
Oh Tuhan, itu jawaban terindah yang pernah aku dengar
Aku menenangkannya dan berjanji
Akan melatihnya supaya dia bisa melayaniMu dengan benar
Ada perasaan gembira tersirat di wajahnya yang mungil
Hatiku sangat bersyukur, Engkau mengirimkan malaikat kecil untukku
Malaikat kecil yang ingin melayaniMu dengan tulus
Puisi untuk Ayah
Bagaikan sinar rembulan yang menyinari bumi
Engkau selalu ada disampingku dari waktu ke waktu
Yang selalu hadir dalam setiap derap langkahku
Yang selalu memberikanku semangat dan dorongan
Dan yang tak pernah letih menemaniku
Ayah wajahmu mengingatkanku akan sebuah perjuangan
Perjuangan yang panjang dan melelahkan yang tiada habisnya
Namun tak kudengar satupun kata yang terlontarkan dari bibirmu
Semuanya itu hanya untuk aku anakmu
Ayah maafkanlah aku yang telah buatmu kecewa
Yang telah buat hatimu hancur karena semua kesalahanku
Aku yakin hatimu pasti menangis melihat tingkah anakmu yang tak tahu balas budi
Ayah dapatkah kau dengar tangisan dari lubuk hatiku
Tangisan dari semua kesalahanku yang telah membuatmu kecewa
Tangisan yang mungkin bagiku tiada arti dan tiada berguna
Sepertinya kata maaf pun tak cukup untuk menebus semua kesalahanku
Ayah hanya sepucuk puisi yang mampu kupersembahkan untukmu
Terima kasih atas semua yang telah engkau berikan padaku
Pengorbananmu akan selalu menyertai derap langkahku
Sampai nanti hingga ujung usiaku
Sendiri di Sini
Aku merasa diriku bagaikan besi tua tak berdaya
Yang tak pernah dihiraukan sepanjang masa
Meski kuberusaha menanti setia
Tetapi aku tetap terbuang sia-sia
Hidupku sungguh terasa hampa
Tanpa kehadiranmu sang pelipur lara
Hatiku terasa ditusuk peluru baja
Saat kutahu kau pergi meninggalkan aku
Rasa sedih ‘kan terus terasa
Sampai saat dirimu datang membawa penghangat jiwa
Jiwa yang telah lama menanggung lara
Jiwa yang menginginkan kehangatan cinta
Harapan Kosong
Malam kelam datang membayang
Menyelimuti mimpi akan bayang-bayang suram
Gerutu hati tak dapat diam
Karena benalu tak kunjung hilang
Akankah aku harus menunggumu?
Ataukah aku harus mencari penggantimu?
Wahai pangeran impianku
Pangeran pembawa damai di kalbu
Penantianku ‘kan terus ada
Sampai saatnya tiba
Saat dimana aku bisa bahagia
Atau saat dimana aku harus melepas dirimu
Hidup Adalah Anugerah
Hidup ini bagaikan anugerah yang sangat indah
Dimana aku harus selalu melangkah
Menghadapi dunia yang penuh jeripayah
Dengan semangat pantang menyerah
Sepatutnya kita tunjukkan kepada-Nya
Bahwa kita bisa
Bahwa kita tak serapuh manusia biasa
Bahwa kita telah mensyukuri kebesaranNya
Kesepianku
Hari-hariku kini telah berganti
Disambut mendungnya alam ini
Alam yang tak kunjung menampakan mentari pagi
Hingga akhirnya aku harus menanti sendiri
Akankah ada yang akan menghibur hati
Saat aku sedang sendiri
Meratapi hari yang sepi
Tanpa kehadiranmu sang teman sejati
Kini aku mulai menyadari
Kehadiranmu membawa damai di hati
Tanpamu aku seperti orang mati
Dan rasa sepi akan terus melanda hati ini
Hidup adalah Roda Berputar
Walaupun aku terhempas
Di tengah kesepian
Aku bertanya pada diri
Mengapa ini terjadi
Apa salahku
Dosakah aku
Aku adalah manusia yang berdosa
Hanya memandang waktu berlalu
Yang memandang bulan malam
Melihat kerlib-kerlib bintang
Cahaya yang memukau
Kubimbing hidupku lagi
Tak kuserahkan masa depanku
Sebagai takdir yang kutanggung
Kukejar laut yang membiru
Agar tak dicuri masa terangku
Kutata hidupku kembali
Demi masa depan yang kudambakan
Aku bukanlah bintang berpijar di saat malam telah tiba
Tetapi aku hanyalah orang
Yang mengabdi padaMu, ya Bapa
Kado Terindah
Raut wajahnya penuh ketenangan
Matanya memandang penuh kasih
Tangannya membelai lembut
Senyumnya mendamaikan jiwa
Kau beri segala yang kubutuhkan
Kau korbankan jiwa dan ragamu
Demi sebuah kehidupan baru, yaitu aku
Tak pernah kau tunjukan kesedihanmu
Kau coba tutupi itu dariku
Tak ‘kan habis rasa sabarmu
Untuk setiap tindakan nakalku
Tak ‘kan habis kata maafmu
Bagiku
rasa sayang dan perhatianmu tak ‘kan habis
Tangisku jadi duka bagimu
Tawaku jadi duka bagimu
Bahagiaku jadi segalanya untukmu
Dan bagiku
Ibu, kau kado terindah yang Tuhan beri padaku
saat ini dan selamanya
PENANTIAN
Aku takut awan gelap ini tak pergi
Aku takut tangis ini tak berakhir
Aku takut cobaan ini tak berujung
Beban ini terlalu berat untuk kupikul
Hidup tak semudah yang dibayangkan
Saat pilihan yang kudiambil salah
Itu hancurkan semuanya
Tapi ada satu keyakinanku
Tuhan tidak akan pernah tinggalkanku
Awan gelap itu boleh saja berganti hujan deras
Tapi akan ada pelangi yang mengakhirinya
Setiap cobaan yang kita alami
Tuhan pasti telah siapkan akhir yang indah
Entah nanti atau saat ini
Hanya waktu dan penantian yang menjawab
Bencana Gempa Bumi
Saat mata belum terbuka
Saat mentari belum menampakkan dirinya
Bumi berguncang tak disangka
Semua orang terjaga setelah terjadi adanya bencana
Ribuan rumah Kau jadikan rata
Ribuan jiwa melayang begitu saja
Tak pandang baik atau buruknya manusia
Juga tak pandang berapa usia mereka
Manusia hanya dapat berdoa dan berusaha
Semoga arwah korban bencana senantiasa Kau terima
Semua itu bukanlah hukuman bagi manusia
Tetapi semua itu adalah peringatan bagi manusia
untuk peduli terhadap sesamanya
Kuberdoa kepadaMu Sang Perkasa
Ampunilah dosa mereka
Maafkanlah semua kesalahan umatMu
Hanya padaMulah kuberdoa
Tuhan
Belaian kasihMu
Melembutkan jiwaku
Di saat kumenunduk
Kau mengangkat daguku
Kau bagaikan pelita
Di dalam kegelapan
Kasihmu s’lalu terpancar dalam hatiku
cintaMu yang tulus
kesabaranMu yang mendalam
adalah bunga abadi bagiku
Kau yang maha kuasa
Kau yang maha agung
Aku sadar
Aku hanya manusai biasa
Kau detakkan jantungku
Kau bukakan pintu maaf bagiku
Oh Tuhan
Cahaya kasihMu akan kuletakkan dalam hatiku
Dan akan kubagikan kepada para umatMu
Sahabat Jadi Cinta
Detik pertemuanku denganmu
menjadi sejarah mengukir mimpi
hari demi hari kulalui hanya bersamamu
indah tak terpandang diam tak bicara
Walaupun banyak waktu terbuang
Tuk memikirkan kehadiranmu di sisiku
Tawamu, senyummu, candamu
Selalu ada di benakku
Apakah ini yang dinamakan “cinta pertama”?
Namun nyata yang tersirat dalam hidupku
Dua insan yang takkan pernah bisa bersatu
karena persahabatan adalah kunci kebersamaan kita
Cinta Kasih Tuhan Sungguh Besar
Setiap detik engkau memberikan cinta kepada setiap orang
Tapi terkadang manusia tak sadar atas kemurahan hati-Mu
Setiap detik pula manusia mengabaikan-Mu
Mereka datang hanya meminta dan meminta kepada-Mu
Saat mereka senang tak ada yang mengingat Engkau
Sumber hidup dan kasih yang Engkau berikan
Bak air mengalir tenang yang tak ada hentinya
Tetapi Engkau tak mempedulikan semua itu
Engkau sembuhkan orang yang sakit
Engkau tak memandang kasta ataupun harta mereka
Kasih-Mu sungguh besar Tuhan
Bagiku Engkau adalah Bapa yang Maha Pengasih
Kasih Bunda Sepanjang masa
Aku tersenyum di ruang sepi dan sunyi
dimana hanya ada aku dan kenangan-kenangan bersamamu
Bunda, aku rindu kasih sayangmu
kau begitu sempurna di mataku
Bunda, sembilan bulan kau kandung aku dalam rahimmu
Kenakalanku menghiasi hari-harimu
lelah tak berarti bagimu untuk temani aku
kau rawat diriku dengan cinta kasihmu
Mengapa cintamu susah untuk aku lupakan
Kenangan bersamamu membuat aku sadar
Cintamu sungguh hebat tertanam di hatiku
dan selalu kukenang selamanya hingga akhir hayatku
Pancarkanlah
Jurang yang dalam ini
Kegelapan yang menakutkan
Hidup yang suram
Lumpur dosa melumuriku
Kuterperosok di dalamnya
Cahaya tak kutemukan
Hingga kutak dapat keluar
Semuanya musnah begitu saja
Goresan dosa bertambah
Hidup tiada berarti lagi
Tuhan, kumohon
Pancarkan kasih dan setiaMu padaku
Janganlah berpaling dariku
Kelaurkan aku dari jurang keberdosaan
Pulihkanlah aku kembali
Aku percaya
Engkau takkan membiarkanku
Takkan meninggalkanku sendirian
Engkaulah Bapa dan Sahabatkku
Jalan kebenaran dan keselamatanku
Remaja
Waktu semakin bergulir
Hari berganti tiada henti
Banyak cerita telah lahir
Mencoba mencari jati diri dalam prestasi
Tumbuh dari hati mencoba berdiri
Punya hasrat punya niat
Untuk meraih cita-cita tertinggi
Yang impiannya lahir dari sebuah semangat
Akankah itu tercapai?
Wahai para remaja
Capailah impian di tenggah badai
Ketika kekacauan menghantam bangsa
Dimanakah jiwa kesatriamu yang membara bagai api?
Wahai para remaja
Wahai para remaja
Hadapilah masa depanmu
Karena engkau merupakan harapan bangsa
Dan ingatlah selalu akan negaramu
Senyumanmu
Waktu tak pernah terhenti
Terus berjalan menemani langkahku
Membuat setiap detik menjadi sebuah kenangan
Menciptakan mimpi dalam angan-anganku
Langkahku tak pernah terdiam
Terus berputar bagaikan jagad raya ini
Terus mengalir bagai air dalam keheningan
Yang terkadang tak tahu ke mana arahnya
Waktu tak mungkin terulang lagi
Dan takkan pernah terulang
Tapi air mata ini terus membasahiku
Bayanganmu menjadi kenangan terindah
Yang takkan pernah terlupakan
Dalam kehidupan ini
Aku hanya ingin membuat kenangan dalam senyuman
Untuk mereka yang tersenyum
Aku hanya menghabiskan waktu hidupku
Dengan kebahagian mereka
Dalam terang duniamu
Dalam kegelapan duniamu
Membuat mimpi menjadi sebuah kenyataan
Tak ada lagi keheningan dalam hati ini
Hanya senyuman untukmu
Keheningan sebuah Kekecewaan
Keheningan menyapa hati
Tinggal dalam kebisuan yang tanpa arti
Suasana mendung menyelumuti raga
Sungguh kesendirian yang menyakitkan
Hiruk-pikuk kota t’lah lenyap
Suasanan canda tawa tl’ah hilang
Bahkan detak jantung pun tak terdengar
Hanya terdengar suara tangis
Menyisakan sebuah kekecewaan
Berbekas rasa sakit hati
Pergi dengan perkara batin
Menyesakkan s’luruh jiwa raga
Termenung
Hawa dingin merasuki sumsum tulang
Keheningan mengisi jiwa
Badan dianiaya hembusan angin
Nafas sesak terbalut penat
Keramaian pergi menjauh dari anganku
Keheningan bersemayam di hati dan pikiran
Diam membisu dalam nafasku
Termenung dalam heningnya suasana
Menatap tak tentu arah memandang
Pandangan kosong melamunkan sosoknya
Melamun dalam kegalauan hati
Kegalauan yang mengusik pikiran
Sejuta perasaan berkecamuk dalam hati
Bercengkrama dalam kesunyian hati
Terdiam dalam bibir terkatup
Berbicara dalam kepenatan hati
Nyawa Hidupku
Ketika aku berjalan sendiri di sebuah lorong itu
Tak ada seseorang pun yang dapat menolongku
Bukanlah kamu ataupun dia
Tetapi hanyalah diriku seorang
Aku tak tahu apa yang sedang ku alami
Akankah aku terjebak di sini seorang diri?
Ataukah aku akan keluar dari situ
karena seseorang yang menolongku?
Tidak…
Karena seseorang itu hanya datang dan menyamarkan semuanya
Bukan untuk menolongku
Aku tak tahu apa yang sedang kualami
Kepada siapa aku harus mengeluh?
Dapatkah kupanggil nyawa hidupku?
Agar aku dapat berkeluh kesah kepadanya
Aku tak tahu apa yang sedang kualami
Mungkin inilah kehidupan
Kehidupan yang hanya terasa hampa
Karena hidup adalah sebuah perjalanan mencari kebahagiaan
Sekaligus kehilangan kebahagiaan yang lainnya
Karena setiap insani pasti akan mengalami hal itu
Apalah arti sebuah nyawa di dalamnya
Jika kita tak bisa menghargai kehidupan
Semuanya akan berlalu begitu saja
Tuhanku
Aku tahu Kau selalu mendampingiku
Aku tahu Kau tak pernah meninggalkanku
Aku tahu Kau tak jauh dariku
Tak ada yang bisa menggantikan kasih sayang-Mu
Tak ada yang bisa menggantikan kemuliaan-Mu
Tak ada yang bisa menggantikan keagungan-Mu
Tuhan tempatku memohon
Tuhan tempatku meminta
Tuhan tempatku berlindung
Di setiap jalan kehidupanku
Kau tuntunku ke jalan yang benar
Di setiap jalan kehidupanku
Kau selalu memberiku yang terbaik
Saat aku jatuh
Kau angkat aku
Saat aku jatuh
Kau menopang aku
Walau tubuhku penuh dengan dusta dan dosa
Saat hati ini rapuh
Saat jiwa ini letih
Kau pulihkanku
Sebab kaulah Tuhan yang paling mengerti
Jalan hidup dalam dirimu
Deg, Deg…
Denyut nadiku
Kupegang kertas penuh dosa
Dalam kantong permenku
Jantungku mulai membeku
Saat malaikat mulai berkkeliling
Otak mulai berputar
Walau tak karuan
Hari berlalu
Lampu gelap mulai menjadi terang
Pintu surga mulai terbuka
Walau hanya anganku
Malaikat mulai menjauh
Kulempar kartas penuh dosa
Dalam jurang perlindungan
Sayang …
Malaikat punya seribu mata
Malaikat munguap
Krek, krek…
Kertas harapanku
Semua umat diam
Diam menatapku
Sang malaikat mengusirku
Hatiku menangis
Menanti bulan menimpaku
Tapi sang malaikat berkata
Bulan menantimu
Tapi…
Tuhan menantimu juga
Tuk hidup dalam dirimu
Arus Kehidupan
Aku hanya mengikuti arus kehidupan
yang berlari dan terus berlari
dan tak ‘kan pernah bisa kuhentikan
Aku hanya mengikuti arus kehidupan
yang berputar dan terus berputar
dan tak ‘kan pernah bisa kuulang
Aku hanya mengikuti arus kehidupan
yang berubah dan terus berubah
dan tak ’kan pernah bisa kembali
Surat Untuk Tuhan
Tuhan
Dimanakah alamat surga?
Ketika aku terdiam diri
Kutulis semua peristiwa hidupku untuk-Mu
Terdengarkah suaraku?
Aku hanyalah semut kecil,
Lemah dan terinjak
Mengahapi dunia yang begitu besar
Dimanakah Engkau?
Perjalanan hidup bagaikan koma. Yang ku temukan hanyalah koma, koma, dan koma. Tak ada titik dimana aku bisa berhenti. Menyudahi semua pergelutan panjang. Tak mudah temukan topangan hidup. Sebab yang begitu berarti akan hilang. Seiring dengan berjalanannya waktu, yang akan menghapus semua kenangan. Hanya aku akan terus melangkah. Menghadapi semua takdirku.
Ketika waktu berlalu terlalu cepat
Detik demi detik, menit demi menit
Terus menerus berjalan tanpa lelah
Buat kuterhanyut dalam kesibukan
Hingga kusadari semua telah berubah
Aku tak menjadi sama seperti dulu
Kasih Tuhan
Di pagi yang cerah ini
Burung-burung merdu menyanyi dengan gembira
Udara yang sejuk menyegarkan hati
Sungguh agung dan indah kasihMu Tuhan
Pencipta alam semesta nan indah
Dengan segala isinya
karyaMu sungguh sempurna Tuhan
atas kebesaran dan keagunganMu
Engkau selalu memberi kepada kami
Walau kami jarang berterima kasih padaMu
Tetapi Engkau selalu membimbing kami
Kami merasa kecil di hadapanMu Tuhan
Tatapan Indoensia
Indonesia merintih
Indonesia menangis
Harga diri yang dibangun, hancur sudah
Budaya, politik, sudah teracuni
Racun yang masuk, bagaikan t’lah membusuk di darah daging
Hancur sudah, semua impian yang kuharapkan pada Indonesia
Hanya impian semu yang tertinggal
Kau telah berubah, negaraku
Masyarakat, budaya, politik yang dulu diagungkan
Sekarang, bagaikan lebur ditelan bumi
Aku kecewa melihat negaraku hancur seperti ini
Bagaikan api yang dulu berkobar
Kini ditiup angin, menjadi padam
Semangatmu kini t’lah padam
Apalagi kini kau sudah lupa pada Yang Kuasa
Kau bukan lagi Indonesia yang dulu
Kau bukan lagi negara taat hukum
Kau bagaikan negara komunis
Korupsi menyebar dimana-mana
Katanya rakyatnya selalu taat hukum, rajin beribadah
Dimana Indonesia yang dulu?
Banyak beban yang harus kau tanggung Indonesia
Bebanmu sangat berat Indonesia
Terus…terus… dan terus berkembang
Tunjukkan semangatmu yang dulu berkobar tiada henti
Kehidupan
Kehidupan bagaikan sebuah misteri
Menunggu waktu yang berjalan
Terasa menyesakkan dada
Meributkan masalah dunia
Ada perbuatan baik
Ada pula perbuatan jahat
Dengan persoalan yang memburu
Dan tak kunjung berlalu
Kehidupan terasa tak berkata
semua terasa semakin fana
Kehidupan penuh dengan dosa
Namun semuanya hanya teka-teki dunia
Kehidupan adalah sebuah keraguan
Tinggal menunggu nasib dan takdir
Memilih mimpi atau kematian
Hanya Tuhanlah yang maha tahu
Kesalahan dalam hidup
Hidupku
Kau anugerahi dengan sempurna
Kau ciptakan aku tanpa kekurangan
Dan dengan suatu kelebihan
Aku mempunyai anggota tubuh yang lengkap
Orang tua, kasih sayang, dan perhatian
Semua itu kumiliki dan kudapati
Karena Kau yang merancang semua itu
Tapi…
Kusia-siakan hidupku
Tak kumanfaatkan semua yang kumiliki
Semua yang kau berikan padaku
Aku sadar semua itu salah
Tapi mengapa tetap saja kulakukan
Tak kuhiraukan semua yang ada
Yang kudapatkan hanyalah kesenangan sesaat
Aku tahu
Kau yang menciptakanku, mencintaiku, dan mengutusku
Untuk menjalankan semua rencanaMu
Kini akau mengerti akan semua kesalahanku
Hanya satu kata yang dapat kuucapkan “AKU MENYESAL”
Dendam alam
kehilangan tempat tinggal bagaikan ditelan bumi
bumi yang kembali menunjukan kekuasaannya
yang membuat semua orang berhamburan
bagai beras yang tumpah
berserakan di jalan-jalan
ia bagaikan harimau yang sedang mengamuk
itulah gempa
gempa yang mengguncang bagai kiamat
tanah pun bertindak,
mengubur orang hidup-hidup
di tenda-tenda pengungsian
berjejal mereka menahan duka
orang-orang yang mereka cintai telah tiada
tak ada yang bisa disalahkan
inilah karma alam yang harus kita terima
alam yang mulai murka dengan kita
alam yang mulai tak percaya dengan janji-janji palsu
mungkin ini juga adalah peringatan bagi manusia
untuk menepati janjinya pada alam
peringatan kepada manusia agar tetap tunduk akan kuasa Tuhan
Hutanku
Hutanku
Kau adalah paru–paru dunia
Mengeluarkan oksigen demi kelangsungan hidup manusia
Membebaskan kami manusia dari polusi udara.
Hutanku
Karena keegoisan manusia, kau mulai berkurang jumlahnya
Kau kini mulai tak kelihatan,
Seiring dengan perkembangan zaman.
Hutanku
Bila kau ada
Kami senang dan tertawa
Bila kau tiada
Semua makhluk hidup akan binasa