Arsip untuk April, 2008

Mind Manager

April 27, 2008

MIND MAP, MIND MANAGER, DAN FREE  MIND

 

 

I.       Pendahuluan

 

Dalam perkembangan teknologi saat ini, telah banyak kita temukan berbagai program yang dibuat untuk mempermudah pekerjaan, khususnya dalam kaitannya dengan komputer atau multimedia. Beberapa program perangkat lunak yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Mind Map yang kreatifi dan menghasilkan alat-alat yang digunakan dalam suatu metode multimedia. Mind Manager adalah suatu pemahaman tentang alat-alat yang mendukung secara efisien dan benar atau dapat dipercaya, dan  Free Mind merupakan aplikasi untuk memetahkan pikiran (Mind Maping) yang dapat berjalan pada semua sistem operasi. Untuk lebih jelas, marilah kita pelajari satu per satu, dibawa ini.

 

            II. Isi

 

  1. Pengertian Mind Map

Mind Map merupakan alat yang paling hebat untuk membuat otak Anda untuk berpikir secara teratur dan berfungsi untuk “memetahkan” pikiran Anda. Mind Map juga bekerja seperti otak Anda yang menandakan asosiasi satu dengan yang lainnya. (Salim, 2007)

Mind mapping (peta pikiran) adalah memiliki kreatifitas dan menghasilkan alat-alat yang digunakan oleh metode visual yang dapat dilaksanakan oleh siswa dan orang-orang dewasa yang memiliki kekurangan cacat otak ( www.dyslexic.com)

 

  1.  
    1. Cara membuat Mind Map

Mind Map dapat dibuat denga cara yang mudah yaitu :

a.       kertas kosong atau bergaris

b.      pena dan pensil berwarna

c.       otak

d.      imajinasi

  1.  
    1. Fungsi Mind Map

Mind map dapat membantu kita dalam hal :

a.       menjadi lebih kreatif

b.      menghemat waktu

c.       memecahkan masalah

d.      brainstorming meeting

e.       mengingat dengan lebih baik

f.       membuat rencana

 

  1. Pengertian Mind Manager

Mind manager adalah aplikasi komersial yang cukup banyak dipakai untuk melakukan Mind Mapping. Aplikasi ini sangat mudah digunakan dengan tampilan yang baik. Diagram pun dapat diekspor ke format ms word, ms powerpoint, dan PDF. Namun saat ini sudah populer pula gratis mind maping berwarna free mind. Aplikasi ini dibuat dalam Java, yang daoat dijalankan di hampir setiap sistem operasi. Sehingga dapat dijalankan pada sistem operasi Linux maupun Windows. Fiturnya juga cukup baik walaupun dari segi tampilannya masih kalah dengan mind manager. Namun dengan harga yang gratis aplikasi ini menjadi yang cukup baik. Bagi yang sudah terbiasa menggunakan mind manager kemudian ingin melakukan free mind dapat juga melakukan konversi-konversi bekasnya. Free Mind telah mendukung impor Mind Manager X5. Jadi Anda masih dapat melakukan editing di Mind Manager, kemudian melakukan editing di Free Mind (Kumar Shailaja : 2007).

Mind manager adalah suatu pemahaman tentang alat-alat yang mendukung secara efisien dan managemant yang benar atau dapat dipercaya dan sangat jelas mengidentifikasikan hasil-hasil yang digunakan oleh gerakan visual. Ini sangan mempermudah/menyederhanan otak, pembuatan nota, perencanaan, tugas-tugas dan proyek yang kompleks. Teks, nota, gambar dan hyperlinks dapat diciptakan dengan sangat mudah diatur dan ditambah dalam Mind Map. Multi Map (keanekaragaman) ini berfungsi untuk memampukan mind map untuk menjadi pemecah dalam mengelola ukuran-ukuran dalam membantu yang diprioritaskan , difokus dan komunikasi (www.dyslexic.com)

 Layar

1.      Bersih/jelas  dan meliputi banyak hal untuk pengajar

2.      Gambar dari tanda-tanda di perpustakaan  atau gambarmu

3.      Insert, dengan mengklik bagian bawa, sehingga teks dapat bergerak, berhubungan(bergabung), nota teks, macam-macam warna, cek tanda-tanda dan kode-kode, memberi warna terang pada topik teks yang diutamakan.

4.      Menciptakan/membuat hyperlink untuk menghubungkan dengan dokumen-dokumen lain atau web site.

5.      Keluar untuk menghasilkan jaringan mind map untuk menambah pada web page.

6.      Membuka maps dalam potongan yang lebih besar dan menggunakan fasilitas multi-map

7.      Memindahkan mapmu ke dalam MS PowerPoint, word, outlook, dan project .

Cara presentasi dengan menampilkan selingan/gangguan paling kecil. (www.dyslexic.com)

 

  1. Pengerian Free Mind

Free Mind adalah perangkat lunak bebas dilisensikan di bawah GPL (GNU- General Public License), yang berarti kita dapat dengan bebas menggunakan Free Mind untuk tujuan apapun tanpa harus membayar, dan semua kode yang diturunkan dari kode Free Mind harus dilisensikan di bawa GPL. Free Mind juga merupaka perangkat lunak open source. Free Mind adalah salah satu softwere yang dapat membantu Anda untuk membuat Mind Map dengan cepat dan mudah (Salim, Andri : 2007). Free Mind merupakan aplikasi untuk memetahkan pikiran (Mind Maping) yang dapat berjalan pada semua sistem operasi di Java Runtime Environment (JRE)1-4 atau lebih sehingga Free Mind dijalankan tidak hanya di sistem operasi windows, tetapi Linux dan Mac OS. Untuk itu sebelum menjalankan Free Mind di kompuuter, sebelumnya perlu terpasang Java Runtime Environment (Kumar, Shailaja : 2007).

 

1. Kegunaan Free Mind

            Free Mind merupakan aplikasi yang sangat bagus untuk membuat Mind Map (peta pikiran). Peta pikiran adalah alat pengorganisasian pengetahuan yang digunakan untuk menancing ide dari satu atau lebih orang. Kegunaan utama aplikasi pemetaan pikiran adalah mengorganisir, mengaitkan dan mengintegrasikan pikiran-pikiran. Faktor utama dalah sebuah peta pikiran yaitu pengaturan hubungan antara kata-kata dan gambar, dimana konseputama diletakkan di tengah atau bagian atas halaman, sementara kata-kata atu konsep-konsep cabang dikaitkan dengan konsep dengan bantuan garis dan panah.

            Aplikasi pemetaan pikiran dapat digunakan untuk mencurahkan ide dan membuat konsep tentang sesuatu, sehingga ide-ide itu dapat ditulis, ditata, dikembangkan, dan dihubungkan. Free Mind juga dapatt digunakan sebagai tree editor yang dapat membuat tree yang dapat diliipat dan diperkaya dengan warna, ikon, bentuk awan, dan bentuk lainnya dari sebuah catatan teks biasa (Kumar, Shailaja : 2007).

Free Mind dapat diaplikasikan ke dalam berbagai bidang :

a.       Proyek : Free Mind membantu memantau perkembangan suatu proyek, meliputi sub-subtugas, tahap-tahap perkembangan pengerjaan subtugas, dan pencatatan waktu.

b.      Informasi : Free Mind membantu mengola informasi, dengan kemampuan membuat pautan (link) ke berkas-berkas yang berkaitan, berkas yang dapat dieksekusi, dan berbagai sumber informasi.

c.       Riset berbasis internet : Free Mind membantu dalam melakukan riset/penelitian menggunakan internet, misalnya Google atau sumber lain.

d.      Basis pengetahuan : Free Mind membantu mengelola catatan berumuran kecil atau menengah dengan link di beberapa tempat yang d apat berkembang jika diperlukan.

e.       Essay :  Free Mind dapat membantu dalam penulisan essay atau karya ilmiah yang pencurahan ide-ide, menggunakan warna-warna untuk menunjukkan essay mana yang sedang, sudah selasai, atau belum dikerjakan.

f.       Basis Data : Free Mind membantu memelihara basis data kecil dari sesuatu dengan struktur yang sangat dinamis atau tidak diketahui secaara lanjut.

g.      Favorit di Internet : Free Mind membantu mengelola catatan favorit di internet atau bookmark dengan menggunakan warna dan font yang bermakna bagi kita.

 

2. Fitur Free Mind

                        Kelebihan Free Mind terletak pada antarmukanya yang sederhana dan intuitif membuat aplikasi ini mudah digunalan dan dipahami. Hampir semua fasilitas didalamnya dapat akses dari keybord. Free Mind (versi 0.8.0) memiliki sekumpulan fitur yang menarik, diantaranya :

a.       Folding : merupakan kemampuan Free Mind untuk menyembunyikan atau menampilkan informasi di bawa obyek terpilih dengan kontrol yang mudah.

b.      Navigasi dengan sekali klik saja. Navigasi ke banyak fitur hanya dengan sekali klik saja, misalnya membuat/menutup liputan (fold) dan membuka pautan (link). Penggeseran peta dapat dilakukan dengan menyeret latar belakang peta atau dengan menggunakan roda mause.

c.       Link HTML : pautan HTML yang disimpan di node, termasuk pautan ke web atau file lokal saja.

d.      Undo : fasilitas ini dapat menghilangkan efek aksi yang dilakukan sebelumnya.

e.       Smart Dragging dan Droping : misalnya menyalin sebuahh node atau style node, menyeret dan meletakkan banyak node terpilih, meletakkan tek satau file dari sumber luar.

f.       Smart Copying and Pasting: fitur ini membanti menyalin pautan dari HTML atau menata isi yang ditempelkan berdasarkan banyak spasi di depan baris atau menempel daftar file-file terpilih.

g.      Eksport peta sebagai HTML. Fitur ini mengkonversi peta pikiran ke struktur teks standar danberhirarki.

h.      Fasilitas Fine. Fitus ini dapat dicari di dalampeta berdasarkan suatu kata kunci kemudian menampilkan item-item yang ditemukan satu per satu dengan memilih pilihan fine next. Peta dibuka liputannya dengan item-item yang ditemukan saja.

i.        Ikon-ikon bawaan. Iko-ikon bawaan Free Mind dapat digunakan denga warna-warnaan dan font yang berguna untuk menghiasi node.

j.        Menyimpan peta dalam  format XML. Dengan fasilitas ini pengguna mendapatkan kemudahan untuk berpindahh ke aplikasi pemetaan pikiran yang lain karena Free Mind menyimpan peta dalam format XML.

k.      File Mode. Fitur ini dapat digunakan untuk menjelajahi berkas-berkasi di dalam komputer, melihat folder sebagaipeta pikiran.

 

III. Kesimpulan

 

Mind Map merupakan alat yang paling hebat untuk membuat otak Anda untuk berpikir secara teratur dan berfungsi untuk “memetahkan” pikiran Anda. Mind Map juga bekerja seperti otak Anda yang menandakan asosiasi satu dengan yang lainnya. (Salim, 2007)

            Mind manager adalah aplikasi komersial yang cukup banyak dipakai untuk melakukan Mind Mapping.

Free Mind adalah perangkat lunak bebas dilisensikan di bawah GPL (GNU- General Public License), yang berarti kita dapat dengan bebas menggunakan Free Mind untuk tujuan apapun tanpa harus membayar, dan semua kode yang diturunkan dari kode Free Mind harus dilisensikan di bawa GPL    

Bye…GBU

Sr. Safe, FdCC         

   

           

J.E.Tatengkeng

April 27, 2008

A. Riwayat

J.E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng memang merupakan salah satu fam (marga) dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907. J.E Tatengkeng menutup usianya pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda, HIS, di Manganitu. Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk Middagkweekscool (Sekolah Pendidikan Guru Kristen) di Bandung, Jawa Barat dan Christelijk Hogere Kweekschool (Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen) di Solo, Jawa Tengah.

Di sekolah-sekolah itulah J.E. Tatengkeng mulai berkenalan dengan kesusastraan Belanda dan gerakan Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karyanya.

B. Karya-karya J.E. Tatengkeng

Dalam bidang sanjak, terdapat perbedaan di antara sanjak-sanjak yang dihasilkannya sebelum Perang Dunia II dengan sanjak-sanjak yang dihasilkannya sesudah perang tersebut. Sanjak-sanjak yang dihasilkan sebelum perang tersebut bersifat halus, religious, dan banyak mencerminkan kecintaannya, kepada keindahan khususnya kaindahan alam. Contoh sanjak yang dihasilkannya sebelum Perang Dunia II adalah Kuncup, Masih mencari, Anakku, Akhir kata, dan KataMu Tuhan. Sedangkan sanjak yang dihasilkannya sesudah Perang Dunia II bersifat kritik/sinis terhadap keburukan-keburukan yang terdapat dalammasyarakat. Contoh sanjak yang dihasilkannya sesudah Perang Dunia II adalah Aku dilukis, Penumpang kelas I, Aku berjasa, Mengheningkan cipta, dan Aku dan temanku (Moeljono, 1986:50-60)

Selain itu, J.E. Tatengkeng adalah satu-satunya penyair zaman Pujangga Baru yang membawa warna kekristenan dalam karya-karyanya. Hal ini tidaklah aneh, jika ditelusuri latar belakang kehidupannya, ia adalah putra dari seorang guru Injil yang juga merupakan kepala sekolah zending. Di samping itu, tanah kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang tuanya, adalah sebuah pulau kecil di timur laut Sulawesi yang konon masyarakatnya hampir seluruhnya beragama Kristen.

Romantisme yang berasal dari Eropa Barat terus menjalar ke Indonesia melalui sastrawan Gerakan 80. Sastrawan Indonesia, J. E. Tatengkeng termasuk Gerakan 80, selain Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbaa, dan Sanusi Pane. Berdasarkan pertimbangan luasnya cakupan dan telah sastra, sajak J.E. Tatengkeng “Di Pantai, Waktu Petang” termasuk sajak romantis

Di Pantai, Waktu Petang

  1. Merca-mercik ombak kecil memecah,
  2. Gerlap-gerlip sri syamsu mengerling,
  3. Terang menyenang terang cuaca,
  4. Biru kemerahan pegunungan keliling.
  5. Berkawan-kawan perahu nelayan
  6. tinggalkan teluk masuk halungan
  7. Merawan-rawan lagunya nelayan
  8. Bayangkan cinta kenang-kenangan
  9. Syamsu menhintai di balik gunung,
  10. Bulab naik tersenyum simpul
  11. Hati pengarang renung-termenung
  12. Memuji rasa sajak terkumpul,
  13. Makin alam lengang dan sunyi
  14. Makin merindu sukma menyanyi

Dengan membaca secara sepintas sajak “Di pantai, Waktu Petang”, ada sesuatu lirik, ada curahan perasaan yang kuat, tetapi lembut. Nampak usaha Tatengkeng menghela secara pelan-pelan dan halus perasaan pembaca ke suasana alam yang menjelang redup memasuki kesunyian malam. Baginya keheningan malam adalah sesuatu yang dinanti-nanti, bagai muara yang diracik oleh berbagai fenomena alam yang patut dinikmati sepuas hati. Terasa benar rasa syukur sang penyair kepada sang Khalik (larik 11).

Larik makin alam lenggang dan sunyi serta makin merindukan sukma menyanyi….yang mengakhiri sajak ini ibarat canang sang penyair bahwa keheninan malam adalah sebuah kerinduan, terminal, saat menunggu, mengasah rasa, dan mewujutkannya dalam bentuk sajak yang bernama seni. Jadi sajak ini bersifat romantisme.

Sajak “Di Pantai, Waktu Petang” lebih emosional, lebih akrab, dan lebih dekat dengan pembaca. Ini adalah kemampuan seniman mewujutkan cita rasanya melalui kata. (Trisman, Sulistiati, Marthalena, 2003:38-41)

Karya-Karya Tatengkeng:

Puisi

Dalam majalah Pujangga Baru

“Hasrat Hati”
“Laut”
“Petang”
“O, Bintang”
“Sinar dan Bayang”
“Sinar di Balik”
“Tangis”
“Anak Kecil”
“Beethoven”
“Alice Nahon”
“Gambaran”
“Katamu Tuhan”
Dalam majalah lain

“Anak Kecil”
“Gadis Bali”
“Gua Gaja”
Ke Balai”
“Sekarang Ini”
“Sinar dan Bayang”
“Aku Dilukis”
“Bertemu Setan”
“Penumpang kelas 1”
“Aku Berjasa”
“Cintaku”
“Mengheningkan Cipta”
“Aku dan Temanku”
“Kepada Dewan Pertimbangan Kebudayaan”
“Sang Pemimpin (Waktu) Kecil”

Prosa

“Datuk yang Ketularan”
“Kemeja Pancawarna”
“Prawira Pers Tukang Nyanyi”
“Saya Masuk Sekolah Belanda”
“Sepuluh Hari Aku Tak Mandi”

C. Pembaharuan

J.E. Tatengkeng adalah golongan pujangga pertama yang berpenda[pat bahwa seni adalah nafsu, seni adalah perasaan (nafsu yang imajinatif, seni adalah pernyataan yang paling individual dari perasaan yang paling individual. Selain itu, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang menjelma ke indah kata, itulah seni bahasa. Sukma itu ada dalam masyarakat, alam, dan waktu. Sebagai penyair, ia dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam (J.E. Tatengkeng hlm. 42)

Sajak, kritik-kritik, esai-esai asngat penting karena sifatnya yang tegas dan jujur. Bahasa yang digunakan bukanlah bahasa yang baik menurut norma-norma bahasa melayu. struktur puisinya bebas dari pengaruh pantun dan syair atau bentuk puisi Melayu lama lainnya.

Beberapa sanjak yang dihasilkannya menyatakan kepada kita bahwa ia sudah diliputi nasionalisme dan patriotisme seperti yang dialami oleh sebagian besar pemuda Indonesia pada masa itu. Hal ini diperkuat oleh seorang temannya menyakan bahwa pada awal zaman kemerdekaan, Tatengkeng ikut mendirikan Barisan Nasional Indonesia (BNI).

Karena pengetahuannya luas, ia dapat menulis dengan ragam bahasa yang bermacam-macam sesuai dengan fungsi dan tujuan tulisannya. Misalmya ketika ia menulis dengan judul “Coretan Perjalanan” di surat kabar Tinjauan, ia menulis dengan ragam santai. Dalam majalah Poejangga Baroe, Sulawesi, dan Esensi selalu dengan ragam bahasa ilmiah.

Salah satu sajaknya “Kuncup” disusun secara tipografi.

D. Beberapa komentar

  1. Menurut Dr. B. H. Yassin

J.E. Tatengkeng bersifat ramah, suka humor dan banyak cerita. Swajak-sajaknya bersifat halus, romantis, dan religius. Tetapi sejak tahun 1949, sajak-sajakn ya bersifat sinisme yang halus.

2. Drs. Ishas Ngeljaratan (dosen sastra Unhas)

J. E. Tatangken adalah seorang tokoh yang benar-benar berjiwa Pancasila. Ia menulis puisi yang menggambarkan pernyataan cinta seorang pemuda kepada seorang gadis idamannya. Tatengkeng adalah seorang tokoh yang dapat bereaksi secara cepat dan tepat.

Bye…GBU…

Sr. Ety, FdCC. PBSID ‘06, USD, Yogyakarta.

KTSP

April 25, 2008

KTSP

  1. PENGERTIAN

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan ( BSNP )

2. LANDASAN KTSP

a. UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

b. PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

c. Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi

d. Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan

e. Permendiknas No. 24/2006 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23/2006

3. CIRI-CIRI KTSP

1) KTSP memberi kebebasan kepada tiap-tiap sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah, kemampuan peserta didik, sumber daya yang tersedia dan kekhasan daerah.

2) Orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

3) Guru harus mandiri dan kreatif.

4) Guru diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran..

Beberapa ciri terpenting dari KTSP adalah sebagai berikut :

1) KTSP menganut prinsip Fleksibilitas

2) KTSP membutuhkan pemahaman dan keinginan sekolah untuk mengubah kebiasaan lama yakni pada kebergantungan pada birokrat..

3) Guru kreatif dan siswa aktif.

4) KTSP dikembangkan dengan prinsip diversifikasi.

5) KTSP sejalan dengan konsep desentralisasi dan MBS ( Manajemen Berbasis Sekolah )

6) KTSP tanggap terhadap perkembangan iptek dan seni.

7) KTSP beragam dan terpadu

4. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN KTSP

a. Menurut http://re-searchengines.com/imamhanafie3-07-2.html

1) KELEBIHAN

a) Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.

b) Mendorong para guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.

c) KTSP memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang aspektabel bagi kebutuhan siswa..

d) KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20%.

e) KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan.

2) KEKURANGAN

a) Kurangnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada

b) Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendikung sebagai kelengkapan dari pelaksanaan KTSP

c) Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara Komprehensif baik konsepnya, penyusunanya maupun prakteknya di lapangan

d) Penerapan KTSP yang merokomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan guru.

5. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN KTSP DENGAN KURIKULUM SEBELUMNYA

a. Pada umumnya perbedaan KTSP dengan kurikulum sebelumnya adalah

No.

KTSP

Kurikulum Sebelumnya

1.

Dibuat oleh sekolah

Dibuat oleh pusat

2.

Berbasis kompetensi

Berbasis kontens

3.

Siswa aktif

Guru aktif

4.

Berdasar Standar Nasional

Belum ada Standar Nasional

b. Perbedaan KTSP dengan KBK ( kurikulum 2004 )

KBK

KTSP

Kurang operasional

Lebih operasional

Guru cenderung tidak kreatif

Guru lebih kreatif

Guru menjabarkan kurikulum yang dibuat Depdiknas

Guru membuat kurikulum sendiri

Sekolah kurang diberi kewenangan untuk mengembangkan kurikulum

Sekolah diberi keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum

Kurang relevan dengan otonomo daerah

Lebih relevan

c. Persamaan KTSP dengan KBK

1) Sama sama menekankan pada aspek kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa

2) Sama sama merupakan kurikulum yang bersifat otonomi daerah dimana setip daerah diberikan kesempatan yng seluas-uasnya untuk mengembangkanya.

3) Adanya persamaan dalam prancangan pembelajaran berupa adanya standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator pencapaian.

4) Sama sama danya system evaluasi dalam penenentuan hasil belajar sisiwa.

5) Adanya kebebasan dalam pengembngan yang dilakukan oleh guru waluapun di KTSP itu guru diberikan kebebasan yang lebih.

6) Sama -sama berorientasi pada prinsip pendidikan sepanjang hayat.

7) Sama- sama memerlukan sarana dan prasarana yang memadai

6. CONTOH STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR YANG DIKEMBANGKAN DALAM PEMBELAJARAN BERBICARA BAHASA INDONESIA

a. SD (Sekolah Dasar)

1) Kelas I

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pikiran perasaan dan, informasi secara lisan dengan perkenalan, dan tegur sapa, pengenalan benda dan fungsi anggota tubuh ,dan deklamasi

1.1 Memperkenalkan diri dengan kalimat sederhana dan bahasa yang santun

1.2 Menyapa orang lain dengan menggunakan kalimat sapaan yang tepat dan bahasa yang santun

1.3 Mendiskripsikan benda-benda di sekitar dan fungsi anggota tubuh dengan kalimat sederhana

1.4 Mendeklamasikan puisi anak dengan lafal dan intonasi yang jelas

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara lisan dengan gambar, percakapan sederhana dan dongeng

1.1 Menjelaskan gambar tunggal atau gambar seri sederhana dengan bahasa yang mudah dimengerti

1.2 Melakukan percakapan sederhana dengan menggunakan kalimat dan kosa kata yang sudah dikuasai

1.3 Menyampaikan rasa suka atau tidak suka tentang suatu hal atau kegiatan dengan alasan sederhana

1.4 Memerankan tokoh dongeng atau cerita rakyat yang disukai dengan ekspresi yang sesuai

2) Kelas II

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pengalamansecara lisan melalui kegiatan bertanya, bercerita, dan deklamasi

1.1 Bertanya kepada orang lain dengan menggunakan pilihan kata yang tepat dan santun berbahasa

1.2 Menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain

1.3 Mendeklamasikan puisi dengan ekspresi yang tepat

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapakan secara lisan beberapa informasi dengan mendiskripsikan benda dan bercerita

1.1 Mendiskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar sesuai dengan ciri-cirinya dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami

1.2 Menceritan kembali cerita anak yang didengarkan dengan menggunakan kata-kata sendiri

3) Kelas III

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapakan pikiran, perasaan, pengalaman , dan petunjuk dengan bercerita dan memberikan tanggapan /saran

1.1 Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan kalimatyang runtut dan mudah dipahami

1.2 Menjelasakan urutan membuat atau melakukan sesuatu dengan kalimat yang runtut dan mudah dipahami

1.3 Memberikan tanggapan dan saran sederhana terhadap suatau masalah dengan menggunakan kalimat yang runtut dan pilihan kata yang tepat

Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapakan pikiran, perasaan, dan pengalaman secara lisan dengan bertelepon dan bercerita

1.1Melakukan percakapan melalui telepon/alat komunikasisederhana dengan menggunakan kalimat ringkas

1.2 Menceritakan peristiwa yang pernah dialami , dilihat, dan didengar

4) Kelas IV

a) Semester1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mendiskripsikan secara lisan tempat sesuai denah dan petunjukpengggunaan suatu alat

1.1 Mendiskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut

1.2 Menjelaskan petunjuk pengggunaaan suatu alat dengan bahasa yang baik dan benar

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapakan pikiran, perasaan, dan informasi dengan berbalas pantun dan bertelepon

1.1 Berbalas pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat

1.2 Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan

5) Kelas V

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapakan pikiran, pendapat, perasaan, fakta, secara lisan dengan menanggapi suatu persoalan, menceritakanhasil pengamatan atau berwawancara

1.1 Menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dan memberikan saran pemecahannya dengandengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa

1.2 Menceritakan hasil pengamatan/kunjungandengan bahasa runtut, baik, dan benar

1.3 Berwawancara sederhana dengan nara sumber ( petani, pedagang, nelayan, karyawan,dll ) dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa

a) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama

1.1 Mengomentari persoalan factual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa

1.2 Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat

6) Kelas VI

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Memberikan informasi dan tanggapan secara lisan

Menyampaiakan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media denan bahasa yang runtut, baik , dan benar

Menanggapi ( mengkritik/memuji )disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun

Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapakan pikiran, perasaan, dan informasi, dengan berpidato, melaporkan isi buku, dan baca puisi

1.1 Berpidato atau presentasi untuk berbagai keperluan ( acara perpisahan, perayaan ulang tahun, dll ) dengan lafal, intonasi, dan sikap yang tepat

1.2 Melaporkan isi buku yang dibaca ( judul, pengarang, jumlah halaman, dan isi ) dengan kalimat yang runtut

1.3 Membacakan puisi karya sendiridengan ekspresi yang tepat

b. SMP ( Sekolah Menengah Pertama )

1) Kelas VII

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pengalaman

dan informasi melalui kegiatan

bercerita dan menyampaikan

pengumuman

1.1 Menceritakan pengalaman yang

paling mengesankan dengan

menggunakan pilihan kata dan

kalimat efektif

1.2 Menyampaikan pengumuman

dengan intonasi yang tepat serta

menggunakan kalimat-kalimat

yang lugas dan sederhana

2. Mengekspresikan pikiran dan

perasaan melalui kegiatan

bercerita

2.1 Bercerita dengan urutan yang baik,

suara, lafal, intonasi, gesture, dan

mimik yang tepat

2.2 Bercerita dengan alat peraga

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman melalui kegiatan menanggapi cerita dan bertelepon

1.1 Menceritakan tokoh idola dengan

mengemukakan identitas dan

keunggulan tokoh, serta alasan

mengidolakannya dengan pilihan

kata yang sesuai

1.2 Bertelepon dengan kalimat yang

efektif dan bahasa yang santun

2. Mengungkapkan tanggapan terhadap pembacaan cerpen

2.1 Menanggapi cara pembacaan cerpen

2.2 Menjelaskan hubungan latar suatu

cerpen (cerita pendek) dengan

realitasa social

2) Kelas VIII

a) Semester I

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkap berbagai informasi

melalui wawancara dan

presentasi laporan

1.1 Berwawancara dengan narasumber dari berbagai kalangan dengan memperhatikan etika berwawancara

1.2 Menyampaikan laporan secara lisan dengan bahasa yang baik dan benar

2. Mengungkapkan pikiran dan

perasaan dengan bermain peran

2.1 Bermain peran sesuai dengan naskah

yang ditulis siswa

2.2 Bermain peran dengan cara

improvisasi sesuai dengan kerangka

naskah yang ditulis siswa

Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengemukakan pikiran perasaan, dan informasi melalui kegiatan diskusi dan protokoler

1.1 Menyampaikan persetujuan,

sanggahan, dan penokan

pendapat dalam diskusi disertai

dengan bukti atau alas an

1.2 Membawakan acara dengan

bahasa yang baik dan benar,

serta santun

2. Mengapresiasi kutipan novel remaja (asli atau terjemahan) melalui kegiatan diskusi

2.1 Mengomentari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)

2.2 Menanggapi hal yang menarik dari kutipan novel remaja (asli atau terjemahan)

3) Kelas IX,

1. Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk komentar dan laporan

1.1 .Mengkritik/memuji berbagai karya

(seni atau produk) dengan bahasa

yang lugas dan santun

1.2 Melaporkan secara lisan berbagai

peristiwa dengan menggunakan

kalimat yang jelas

2. Mengungkapkan kembali cerpen dan puisi dalam bentuk yang lain

2.1 Menceritakan kembali secara lisan

isi cerpen

2.2 Menyanyikan puisi yang sudah

dimusikalisasi dengan berpedoman

pada kesesuaian isi puisi dan suasana/

irama yang dibangun

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam pidato dan diskusi

1.1 Berpidato/berceramah/berkhotbah

dengan intonasi yang tepat dan

artikulasi serta volume suara yang

jelas

1.2 Menerapkan prinsip-prinsip diskusi

Mengungkapkan tanggapan terhadap pementasan drama

2.1 Membahas pementasan drama yang

ditulis siswa

2.2 Menilai pementasan drama yang

dilakukan siswa

c. SMA ( Sekolah Menengah Atas )

1) Kelas X

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan . informasi melalui kegiatan berkenalan,

Berdiskusi, dan bercerita

1.1 Memperkenalkan diri dan orang lain di

dalam forum resmi dengan intonasi

yang tepat

1.2 Mendiskusikan masalah (yang ditemu-

kan dari berbagai berita,artikel, atau

buku)

1.3 Menceritakan berbagai pengalaman de-

ngan pilihan kata dan ekspresi yang te-

pat

2. Membahas cerita pendek melalui

kegiatan diskusi

2.1 Mengemukakan hal-hal yang menarik

atau mengesankan dari cerita pendek

melalui kegiatan diskusi

2.2 Menemukan nilai-nilai cerita pendek

melalui kegiatan diskusi

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan komentar terhadap

informasi dari berbagai sumber

1.1 Memberikan kritik terhadap informasi

Dari media cetak dan atau elektronik

1.2 Memberikan persetujuan/dukungan ter

hadap artikel yang terdapat dalam

media cetak dan atau elektronik

2. Mengungkapkan pendapat terhadap puisi melalui diskusi

2.1 Membahas isi puisi berkenaan dengan

gambaran penginderaan, perasaan,

pikiran, dan imajinasi melalui diskusi

2.2 Menghubungkan isi puisi dengan

realitas alam, social budaya, dan

masyarakat melalui diskusi

2) Kelas XI

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

Berbicara

1. Mengungkapkan secara lisan informasi

Hasil membaca dan wawancara

1.1 Menjelaskan secara lisan uraian topic

tertentu dari hasil membaca (artikel

atau buku

1.2 Menjelaskan hasil wawancara tentang

tanggapan narasumber terhadap topic

tertentu

Berbicara

2. Memerankan tokoh dalam pementasan

drama

2.1 Menyampaikan dialog disertai gerak-

gerik dan mimic, sesuai dengan watak

tokoh

2.2 Mengekpresikan perilaku dan dialog

protogonis dan atau antagonis

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Menyampaikan laporan hasil penelitian dalam diskuasi atau seminar

1.1 Mempresentasikan hasil penelitian

secara runtut dengan menggunanakan

bahasa yang baik dan benar

1.2 Mengomentari tanggapan orang lain

terhadap presentasi hasil penelitian

Mengungkapkan wacana sastra dalam

bentuk pementasan drama

2.1 Mengekspresikan dialog para tokoh

dalam pementasan drama

2.2 Menggunakan gerak-gerik, mimic, dan

intonasi, sesuai dengan watak tokoh

dalam pementasan drama

3) Kelas XII

a) Semester 1

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan gagasan, tanggapan, dan informasi dalam diskusi

1.1 Menyampampaikan gagasan dan

tanggapan dengan alas an yang

logis dalam diskusi

1.2 Menyampaikan intisari buku non

fiksi dengan menggunakan bahasa

yang efektif dalam diskusi

2. Mengungkapkan pendapat tentang

pembacaan puisi

2.1 Menanggapi pembacaan puisi lama

tentang lafal, intonasi, dan ekspresi

yang tepat

2.2 Mengomentari pembacaan puisi

baru tentang lafal, intonasi, dan

ekspresi yang tepat

b) Semester 2

Standar Kompetensi

Kompetensi Dasar

1. Mengungkapkan informasi melalui

presentasi program/proposal dan

pidato tanpa teks

1.1 Mempresentasikan program kegiatan/

Proposal

1.2 Berpidato tanpa teks dengan lafal,

intonasi, nada, dan sikap yang tepat

2. Mengungkapkan tanggapan

terhadap pembacaan puisi lama

2.1 Membahas cirri-ciri dan nilai-nilai

yang terkandung dalam gurindam

2.2 Menjelaskan keterkaitan gurindam

dengan kehidupan sehari-hari

Safe Goreti, FdCC

PBSID, 06, USD, Yogyakarta

Khayalan

April 25, 2008

1.  Kangen

 

Kau tak akan mengerti

bagaimana kesepian-Ku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti

segala luka-Ku

karena cinta telah tersembunyikan pisaunya

membayangkan wajahmu adalah siksa

kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

engkau telah menjadi racun bagi darah-Ku

Apabila Aku dalam kangen dan sepi

itu berarti

Aku adalah tungku tanpa api

jika tiada tanda-tanda perubahan.

 

2. Penguasa

 

Manusia berjas duduk rapi

Menghitung waktu dari pagi

Sok berkuasa di kursi panas

Rakyat jelata dibuatnya ganas

Mulut berbusa bantai KKN

Untuk penguasa pengeret APBN

Gemuruh garang suara mahasiswa

Pertaruhkan kebenaran gejolak jiwa

Wahai…….

Para pemimpin penunpuk hutang

Kapan kemakmuran akan datang

Kasihan kami yang tinggal tulang

Karena makantak sampai serantang

Oh …….bapak berkantong tebal

Berilah makan bagi yang kerdil

Agar kami tak semakin mengcil

Menghadapi dunia yang semakin usil

Bukalah jasmu bahu membahu

Berilah uangmu barang separoh

Agar kami juga tahu

Kalau bapak suka membantu

Dengan tegakkan prinsip baru

Bersatu kita teguh

Bercerai kita runtuh.

 

3. Resah 

 

Saat lara kian membeban

Dan tawa memudar

Goreskan luka pada jiwa yang merana

Saat air mata menggenang

Dan tak satupun sapa terkembang

Benamkan senjaku yang s’makin mengambang

 

Dalam gelap malam sunyi

Sendiri, kujalani resah tak bertepi

Mengembara mencari jati diri

 

Dalam congkak sang surya

Tergelar sejuta asa

Kadang gemakan tawa

Kadang percikkan lara

 

Aku mencari apa yang tak bisa kucari

Aku mendapat apa yang tak kucari

 

Jika kubisa memilih

Kutak ingin seperti ini

Menjadi bukan diriku sendiri

 

Jika kuharus mamilih

Ku hanya ingin waktu

Kan segera berganti

 

Pekat malam semakin menyayat

Sengat surya semakin serakah

Akupun semakin meresah

Oleh asa yang tak kunjung terjamah

 

 

4. M i m p i

Ada kedamaian yang Kau bawakan

 ia mengiringi malam ini beserta senyuman di wajahMu
jika Engkau adalah mimpi, bangunkanlah aku;
dan jika Engkau adalah nyata sadarkanlah aku;

aku terlalu berharap akan diriMu

 menghiasi langit hatiku dan menerangi rumah jiwaku
cukup lama aku mengharapkanMu,

 menghayalkan perasaan yang kusimpan,

 hingga aku sendiripun tak mengerti penyakit yang menimpaku saat ini

jika ada rasa dalam hatiMu untukku,

 katakanlah kepadaku melalui bait-bait syairMu
dan jika rasa itu tak pernah ada

 katakanlah padaku melalui bait-bait kesunyian
jiwaku adalah jiwa yang selalu menerima apa adanya

 dan aku takkan bersedih sedikitpun jika rasa  ini adalah sebuah mimpi

wahai diriMu , dengarlah perasaan ini;
ia takkan pernah mati,

walaupun ini adalah sebuah mimpi ,

karena ia teramat indah untuk dilupakan.

 

 

Safe Goreti , FdCC.

PBSID 06, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Bahasa Jurnalistik

April 21, 2008

Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.

Bahkan bahasa jurnalistik pun sekarang sudah memiliki kaidah-kaidah khas seperti dalam penulisan jurnalisme perdamaian (McGoldrick dan Lynch, 2000). Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis berita utama ada yang menyebut laporan utama, forum utama akan berbeda dengan bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis tajuk dan features. Dalam menulis banyak faktor yang dapat mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah, angle tulisan, pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan). Namun demikian sesungguhnya bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana (Reah, 2000). Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.

Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa. Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers.

Bahasa jurnalistik memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menuliskan reportase investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features.

Dengan paparan bahasa jurnalistik seperti yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh jurnalis dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik bersifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancer, jelas, baku, dan netral.

Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus dipenuhi oleh ragam bahasa jurnalistik mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal. Hal ini dikarenakan tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu bahasa jurnalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang dibawa kepada pembaca secepatnya dengan mengutamakan daya komunikasinya.

Bye…GBU.

Sr. Ety, PBSID, 06, USD, Yogyakarta

November kelabu

April 21, 2008

November Kelabu

Senja di perbukita Merapi yang masih memutahkan lahar apinya sejak setahun yang silam berselimutkan kabut. Awan hitam tampak bergelayut berat di langit. Kilat bersahutan membentuk simponi tak beraturan. Sesekali langit terbatuk diikuti semburan dahak sejenak. Sepertinya langit sedang flu berat. Maklumlah, cuaca akhir-akhir ini agak kurang bersahabat. “Tampaknya langit akan menggugurkan air matanya hari ini, gumam Yety. Benar dugaan itu, tak lama kemudian, butir-butir air dari langit membasahi perumahan Samirono dan sekitarnya. Belum sampai lima menit, banjir telah terlihat meluap di lajan-jalan sehingga mengakibatkan kemacetan lalulintas.

Hari itu adalah hari pertama mengawali pekan, dan merupakan hari pertama memasuki bulan Nevember. Suasana kota Yogyakarta yang tadinya panas bagaikan mutahan lahar api dari Merapi, diliputi suasana yang berbeda seketika. Keramaian lalulintas tidak seperti biasanya. Para pengendara sepeda motor tidak tahan mengedarai sepeda motornya, sepertinya ingin menelan beratus-ratus kilometer dalam waktu sedetik. Para pejalan kaki terlihat serius memperhatikan bus-bus yang lalu-lalang untuk beranjak pulang. Di sofa, Yety masih saja duduk terpaku sambil melihat orang lalu-lalang di depan rumah.

Dari jauh terlihat segerombolan remaja berbusana putih-abu, menyerbu sebuah bus yang hampir lewat.Terlihat akan peristiwa itu, pikiran Yety melayang kepada Wempy, teman sekolahnya di SMA. Yety cinta pada Wempy waktu sekolah. “Telah lama aku tidak dengar berita dari Wempy. Dimana dia sekarang?” pikir Yeti. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, ingat saat yang telah lalu dan tidak akan kembali lagi. Saat itu telah lewat dan sekarang hanya dapat dikenang, dengan tidak merusak pikiran dan perasannya. Malahan terdapat sesuatu, semacam kepuasan dengan mengenang dirinya. Yety tersenyum kembali pada dirinya dan keadaannya sekarang. “Ya Tuhan, semoga dia selalu berbahagia” Yety berdoa.

Tiba-tiba sesuatu menggelepar dalam perutnya. Geleparan urat-urat perut yang kosong. Serangkir teh hangat masih penuh di depannya, diangkat tinggi-tinggi seperti orang dalam upacara hendak minum anggur. Teh itu diminum teguk-teguk besar yang tak putus-putus terlihat lewat di tenggorokannya. Setelah menghabiskan secangkir teh hangat itu, tangan kirinya memukul-mukul perutnya. “Sudah diisi sekarang, jangan keroncong lagi” kata Yety kepada perutnya yang kosong. “Belum makan sejak pagi rupanya.” Yety berciraca sendiri pada dirinya. Dan sekarang sesuatu dalam perutnya telah berhenti menggelepar. Tubuhnya yang lemas sekarang rasanya agak segar sedikit. Pening kepalaya telah hilang. “O…karena lapar saja, untung tidak sakit apa-apa” pikirnya. Pikiran itu menggembirakan hatinya.

“Yety…, Yety…” teriak temannya, tapi suara itu tak digubrisnya. Rupanya, sunyi masih tetap berperan penting dalam dirinya siang itu. “Entahlah, aku juga belum menemukan sebuah jawaban untuk mengatasi perasaan ini” tuturnya. “Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku setelah semalam bergulat dalam diri” lanjutnya.

Pada saat itu, tepatnya tiga tahun yang lalu, di tengah hiruk-pikuk keramaian di bandar udara, suara pramugari, melalui pengeras suara mengumumkan bahwa pesawat terbang dengan nomor sekian-sekian yang ditumpangi Wempy segera akan berangkat. Yempy mengelus-elus kedua tangannya pada kedua belah pipi Yety. Dengan suara serak bertahan-tahan, Wempy berbicara lembut “Tidak lama aku pergi, sayang, aku tak mau kehilangan engkau”. Yety memegang telapak tangan Wempy yang masih terletak pada kedua belah pipinya, menjawab, “Selesaikan dahulu apa yang perlu untuk diselasaikan, jangan tergesa-gesa, aku setia menunggumu, sayang”.

Nama wempy terdengar berulang kali dipanggil. Tanpa menghiraukan orang yang berada di samping mereka, Wempy memeluk dan mencium Yety dengan penuh mesrah. Dengan tawa yang dibuat-buat menahan air mata, Yety menyambung: “Wempy, dengan cara kamu memelukku seperti ini, aku merasa seakan-akan kita tak akan berjumpa lagi, seakan-akan ini adalah pelukan yang terakhir”. “Jangan berkata begitu Yety.” jawab Wempy. Ini bukan yang terakhir, justru ini adalah permulaannya. Tanpa engkau, Yety, rasanya aku ini tak berarti. Yet, aku pergi hanya untuk satu tahun.lanjut Wempy.

“Pesawat akan segera take off, saudara yang bernama Wempy, segera masuk pesawat” demikian bunyi yang terdengar melalui pembesar suara di tengah hiruk-pikuk di bandar udara itu. Tanpa kata, Wempy segera berlari-lari menuju pesawat terbang. Yety, yang saat itu seperti kehilanagn sebuah permata besar, belum beranjak dari tempatnya. Matanya masih mengikuti pesawat yang langsung take off setelah Wempy menginjaki pintu pesawat. Tanpa sadar, mulutnya komat-kamit, “Wempy…kamu dimana sekarang” air matanya pun mengalir membasahi pipinya.

“Ya…beginilah hidup, hidup telah banyak mengajarku” tutur Yety, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri. “Bagaimana tidak, Wempy yang telah dikenalnya dan disayangi selama tiga tahun semasa SMA, tiga tahun yang silam, berpamitan hanya ingin mengikuti kursus musik selama satu tahun, sudah tiga tahun tanpa berita; seolah-olah diantara mereka berdua tidak pernah terjadi apa-apa. “Ya…benar, hari ini tepat tiga tahun kepergian Wempy” kenang Yety. “Apa Wempy mencintaiku hanya karena ia membutuhkanku. Apa tidak lebih dari itu; tetapi inilah kenyataannya; benar, Wempy tidak mencintaiku dengan tulus” gumamnya. Airmata yang sejak tadi hendak disembunyikan, mulai merebak. Mulutnya komat-kamit perlahan terucap, “Wempy, kau memang tega melakukan semua ini, tiga tahun bagiku adalah waktu yang tidak singkat untuk menunggumu”.

Telepon yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya, berdering mengagetkannya. Dengan bermalas-malasan Yety beranjak mengambil telepon itu. “Selamat malam, biasa berbicara dengan Yety?” kata si penelpon. “Semalat malam, saya sendiri” jawab Yety. “Yety…Yety…Yety…” sambung si penelepon dengan nada rendah. Yety termenung sejenak, suara itu memang sudah lama tak didengar tapi sepertinya tidak asing di kupingnya. Yety tahu dengan baik suara itu, tetapi ia tidak cepat menebak, Yety malu jika tebakannya salah. Karena keingintahuan Yety kuat untuk mengetahui lawan bicaranya, maka ia mendesak untuk mengetahui identitasnya. Namun jawabannya begitu jauh dari dugaan Yety, ia dengan nada yang agak berat melanjutkan pembicaraannya, “Engkau tidak perlu mengetahui, siapa lawan bicaramu tapi yang penting untuk diketahui adalah “Engkau adalah sebuah lagu cinta bagiku, sebuah musik yang membuat dunia tersenyum. Aku telah menyanyi bagimu, namun dengan kasih yang membisu, serba terselubung oleh aneka macam peraturan. Sekarang aku menjerit kepadamu tanpa aling-aling semu. Memang bukankah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri sampai datangnya berpisah? Selama ini kutelusuri kota demi kota, akhirnya aku menemukan cinta yang sejati pada sebuah pilihan yang mungkin aneh menurutmu. Aku memilih untuk menjadi seorang biarawan alias imam”. Aku adalah Wempy yang selama ini membuatmu menanti tanpa harapan. Maafkan aku, aku tak akan merubah pilihan ini.” dan telepon pun ditutup.

Siulan burung tekukur piaraan tetangga seperti koor di Gereja, datang dari arah utara kota Jogjakarta. Pelan-pelan Yety kembali ketempat duduknya. Sekelompok burung elang terbang membentuk huruf V, barangkali dari persawahan yang jauh. “Mereka hidup dan berbahagia, terbang, dan terbang. ”Burung-burung itu memberi sebuah pelajaran yang berharga bagiku, akupun ingin terbang meninggalkan masa laluku dan ingin memulai suatu hidup baru.” pikir Yety.

Hujan rintik-rintik turun berbisik-bisik dengan atap. Seekor burung melintas mencoba menggapai dahan pohon, terpelanting dan terbang jauh. Tak lama kemudian matahari dengan malu-malu bangun dari peraduaanya, mengintip jendela bumi dari sela-sela dedaunan dan mulai mengusir awan. Sedikit kilasan kilauan emasnya di setiap butir-butir gerimis. Sang surya telah meninggalkan peraduaannya, suasana kota sudang semakin sunyi, dengan tenang terlihat sedih, Yety ingin memulai sebuah lembaran baru dalam hidupnya.

Maria Goreti Safe, FdCC.

PBSID 06, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Triyarkara

April 19, 2008

Driyarkara

Menurut Driyarkara, llmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah tentang realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik ). Pemikir ilmiah bersifat kritis, metodis, dan sistematis.

Driyakara menjelaskan sifat kritis, metodis dan sistematis sebagai berikut:

a. Kritis berarti semua pernyataan, semua afrimasi harus mempunyai dasar yang cukup kuat. Orang yang bersifat kritis ingin mengerti betul-betul (tidak hanya membeo), ingin mentyelami sesuatu dengan seluk beluknya dan adasar-dasrnya.

b. Metodis berarti bahwa dalam proses berpikir dan menyeliki itu orang menggunakan cara tertentu.

c. Sistemmatis berarti bahwa pemikiran ilmiah dalam prosesnya itu dijiwai oleh suatu ide yang menyeluruh dan menyatukan, sehingga pemikiran-pemikiranya dan pendapat-pendapatnya tidak tanpa hubungan, melainkan merupakan kesatuan. (Wahana, 2006:6)

Pendidikan merupakan fenomena insani atau gejala insani yang fundamental dan juga mempunyai sifat kontruktif (membangun) dalam hidup manusia. Oleh karena itu, kita (manusia) harus mengadakan refleksi (pemikiran ) ilmiah tentang pendidikan itu. Refleksi ilmiah sebagai peretanggung jawaban sebagai perbuatan manusia, mendidik dan dididik. Pendidikan juga merupakan manusia. Pendidikan lahir dari pergaulan antara orang dewasa dengan orang yangv belum dewasa dalam suatu kesatuan hidup. Tindakan mendidik yang dilakukan orang dewasa dengan sadar dan sengaja didasari oleh nilai-nilai kemanusiaan. Tindakan tersebut menyebabkan orang yang belum dewasa menjadi dewasa dengan memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan hidup menurut nilai-nilai tersebut. Kedewasaan diri merupakan tujhuan pendidikan yangt hendak dicapai melalui perbuatan atau tindakan pendidikan.

Mendidik dan dididik merupakan perbuatan yang fudamental. Artinya, perbuatan yang mengubah dan menentukan hidup manusia. Baik dari pihak pendidik maupun dari pihak anak didik. Bagi anak didik, ia menerima didikan dan bertumbuh sehingga menjadi manusia. Bagi pendidik adalah mendidik diartikan menetukan suatu sikap.

Isi dari perbuatan fudamental ialah pe-manusia-an manusia muda (anak) dan ini berarti hominisasi dan humanisasi. Perwujudan yang primer dan fudamental dari pendidikan itu termuat dalam kesartuan hidup tritunggal (ayah, ibu, dan anak)

Jadi intisari pendidikan menurut Driyakara adalah suatu hubungan manusia antara pendidik dan si pendidik satu sama lain. Kedua belah pihak saling menghargai sebagai manusia dan saling membantu mewujudkan kemanusiaan mereka, namun ada perbedaan yaitu yang satu lebih membimbing dan yang lain lebih dibimbing.

Jadi, ajaran pokok Driyakara adalah “Manusia kawan bagi sesama”. Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini digunakan untuk mengkritisi, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas prema; sosialitas yang saling memangsa dan membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia)

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian.

Sr. Ety, FdCC.

Ki Hajar Dewantara

April 19, 2008

Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebaggai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya(Suwarno, 1985 : 2 – 3). Batasan atau rumusan di atas adaah batasan atau rumusan menurut ahli ilmu pengetahuan yang membahas perilaku manusia terhadap manusia. Pada dasarnya rumusan-rumusan itu ada yang member tekanan pada kegiatan orang dewasa dan ada yang member tekanan pada kehidupan setiap orang dewasa, dan ada yang member tekanan pada kehidupan setia orang. Namun dengan berkembangnya Teori Pendidikan Seumur Hidup (sejak tahun 1960-an), dan pemahaman akan kegiatann fundamental manusia dalam mengembangkan dirinya, maka arti atau makna pendidikan terikat pada ‘waktu sekarang’ dan dapat dilihat dari tiga sudut. Adapun ketiga sudut itu adalah :

1. Sudut orang dewasa susila: “Pendidikan adalah bantuan, pengaruhh orang dewasa susila kepada orang belum dewasa susila tertuju ke pendewasaan diri orang belum dewasa susila”.

2. Sudut orang belumm dewasa susila: “Pendidikan adalah penggunaan bantuan dari orang dewasa susila oleh belum dewasa susila demi pendewasan dirinya”

3. Sudut interaksi keduanya : “Pendidikan adalah kegiatan interaksi orang dewasa susila dan orang belum dewasa susila demi pendewasaan orang yang belum dewasa susila” (Hand out ‘Pengantar Pendidikan’ Drs. Wens Tanlain, M. Pd.,hlm. 18-19).

Tujuan pepndidikan adalah membangun anak didik menjadi manusia merdeka lahir-batin, luhur akal budinya,, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya (hand out Tamansiswa).

Asas-asas Menurut Ki Hajar Dewantara (pidato peresmian berdirinya

Tamansiswa,1922):

1. Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam perikehidupan umum. Tertib dan damai itulah tujuan yang sesungguh-sungguhnya. Tidak ada ketertiban jika tidak bersandar pada kedamaian. Bertumbuh menurut kodrat adalah tujuan sesungguhnya.

2. Pendidikan berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka secara batinnya, merdeka pikiran dan merdeka tenaga. Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, tetapi mengajar murid supaya dapat mencari sendiri pengatahuan guna beramal kepada kepentingan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu pengetahuanyang bermanfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama.

3. Tentang zaman yang akan dating, rakyat kita ada dalam kebingungan. Sering kali kita tertipu oleh keadaan yang kita pandang perlu cocok untuk hidup kita, padahal itu itu keperluan bangsa asing yang dengan kehidupan bangsa kita sendiri. Demikian sering kali kita merusak kedamaian diri kita sendiri.

4. Pengajaran yang hanya dapat dijangkau oleh sebagaian kecil rakyat, tidak berfaedah untuk bangsa kita. Oleh karena itu semua golongan dari bangsa kita harus mendapat pelajaran secukupnya. Oleh karena itu lebih baik memajukan pengajaran untuk rakyat umum dari pada mempertinggi pengajaran, karena mempertinggi pengajaran seolah-olah mengurangi tersebarnya pengajaran.

5. Untuk dapat berusaha dengan asas bebas yang leluasa, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri. Walaupun kita tidak menolak bantuan dari orang lain, akan tetapi jika bantuan itu mengurangi kemerdekaan k ita lahir dan batin harus ditolak

6. Oleh karena kita bersandar pada kekuatan kita sendiri, maka haruslah seggala belanja dari usaha kita itu dipakai sendiri denganuang pendapat biasa. Ini yang dinamakan dengan ‘Zelf beruiping system’. Yang menjadi alatnya adalah semua perusahaan yang tetap berdiri sendiri.

7. Dengan tidak terikat lahir batin serta kesucian hati berniatlah kita untuk berdekatan dengan sang anak. Kita tidak meminta suatu hak, akan tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada sang anak (hand out Taman Siswa)

Yang dimaksud dengan sistem ‘among’ oleh Ki Hajar Dewantara:

Sistem “Among” adalah sebagai realisasi dan asas kemerdekaan diri, tertib dan damai dalam masyarakat, pimpinan kebijaksanaan dengan laku ‘Tutwuri Handayani. ‘Among’ (mengemong) berarti memberi kebebasan kepada anak didik dan guru akan bertindak bila tindakan anak didik membahayakan keselamatan dirinya. Dalam keadaan biasa pimpinan harus tegas, anak didik harus tunduk pada pimpinan yang berlaku, kedudukan pimpinan diatas peraturan yang berlaku. Sistem ‘among’ adalah cara pendidikan yang dilakukan Tamansiswa yaitu mewajibkan para pamong agar mengikuti dan mementingkan kodrat pribadi anak didik dengan tidak melupakan pengaruh-pengaruh yang melingkunginya (hand out Taman Siswa)

Metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “Educatethe head, the heart, and the hand”.

Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.)
Oleh karena itu boleh dapat disimpulkan bahwa sistem ‘among’ adalah suatu sistem yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan dua asas yaitu:

a. Kodrat alam, sebagai syarat mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.

b. Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir-batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir dan bertindak merdeka (hand out Tamansiswa).

Pendidikan berlangsung dalam tiga lingkungan yang disebut “Tri pusat

Pendidikan” yaitu :

1. Lingkungan keluarga: terutama mengenai budi pekerti, keagamaan dan kemasyarakatan secara informal.

2. Lingkungan sekolah: mengenai ilmu pengetahuan, kecerdasan dan pengembangan budi pekerti secara formal.

3. Lingkungan masyarakat: pengembangan keterampilan, latihan kecakapan, dan pengembangan bakat secara non formal. (hand out Tamansiswa)

Tri pusat itu diwujudkan dalam sistem :

1. Menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk perguruan, dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi

2. Menyebarluaskan ajaran hidup ketamansiswaan

Jadi, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand!”

Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.

Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya, budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda.

Sr. Ety

Cinta…

April 17, 2008

Apa kata mereka tentang yang satu ini……Sssst…….

Sobat pembaca yang budiman…..pada pertemuan yang pertama ini, kita diberi kesempatan untuk mengungkpakan pendapat kita masing-masing tentang yang satu itu…tu…tu… .. Pendapat kita tentunya beraneka ragam, oh…, no problem…., silahkan menanggapi, tapi pleace deh…dengarkan yang satu ini…….

Menurut saya, Cinta tak pernah dapat didefinisikan dengan tuntas. Bahasa manusia terlalu terbatas untuk mengungkapkan realitas cinta. Karena cinta bukan soal definisi. Cinta adalah praktis: kontemplasi dan aksi; perenungan dan perbuatan. Dan kadang-kadang melampaui akal budi manusia.

Tuhan Yesus pernah merasakan cinta demikian. Kejadiaanya di Betania, seminggu menjelang penyalibanNya. Seorang wanita, Yohanes mencatat, namanya Maria saudara Lazarus yang Ia bangkitkan dari kebangkitan, mengurapiNya dengan sekitar setengah kilo minyak narwastu murni yang mahal harganya. Tidak hanya sampai disitu, wanita itu juga kemudian menyeka kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya.

Demi meraih perhatian dan popularitas ? Bukan ! Itu adalah spontanitas yang keluar dari hati yang mencintai, sebab disana tidak ada tuntutan, tidak ada perhitungan untung dan rugi, juga tidak ada dinding gengsi dan kebanggaan diri yang menghalangi. Yang ada hanyalah keinginan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dari apa yang dimilikinya. Hanya itu ! Cinta tak bersyarat! !!!

Bye…GBU.

Sr. Ety

Maria Montessori

April 17, 2008


Maria Montessori

Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Italia, telah menyediakan lingkungan yang berbeda hampir 100 tahun lalu. Ia membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan berhitung dasar

Menurut Maria Montessori, tahun prasekolah menjadi masa bagi anak untuk membina kepribadian mereka. Oleh karena itu setiap usaha yang dirancang harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensinya, menimba ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat, dan kepribadian secara utuh.

Pelopor dalam pengembangan metode belajar matematika bagi anak-anak usia dini, Maria Montessori, telah mempraktekkan pembelajaran matematika lewat kegiatan sehari-hari. Pengalaman tersebut diperolehnya setelah menangani anak-anak bermental terbelakang. Ia menciptakan alat-alat belajar dari benda-benda yang akrab di sekeliling kita. Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang diulang setiap hari, misalnya “Ada dua kancing baju yang hilang” atau “Kita memerlukan tiga piring lagi diatas meja.” Atau cara lain yang digunakan adalah menghitung uang logam, yaitu dengan menyebut satu, dua, tiga, empat,…sampai sepuluh. Dengan cara seperti ini, sebagian besar anak-anak mengalami kemajuan yang pesat. Sehingga pada dasarnya, anak yang berumur tiga tahun sudah tahu menghitung sebelum mereka masuk sekolah. Mereka lebih mudah belajar menghitung angka yang sederhana dengan menghitung benda-benda, karena hal inilah yang menjadi alat belajar yang menarik bagi anak-anak. Dibawa ini adalah teorinya dalam bidang belajar menghitung.

Pelajaran Matematika: Pengantar Ilmu Hitung

a. Pelajaran tentang bilangan

Pelajaran ini menggunakan satu set batang kayu yang berwarna alternatif merah dan biru. Caranya: batang kayu disusun mulai dengan warna merah dan selalu mulai dari sisi A: satu; satu, dua; satu, dua, tiga; dan seterusnya sampai sepuluh. Setelah menyusun batang kayu itu, anak disuruh memberi nama pada setiap batang kayu itu. Selanjutnya untuk mengetahui nomor dari batang kayu-batang kayu itu, kita menghitung dari sisi A: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Hal ini akan menarik minat anak untuk mengulanginya pada kesempatan lain (waktu luangnya). Latihan selanjutnya, batang kayu itu digabungkan secara acak diatas karpet. Pengajar memilih satu batang kayu dan menunjukkan kepada anak, sebagai contoh 5. Pengajar kemudian memintanya untuk memberi satu ukuran panjang setelah angka 5, lalu pengajar meminta dia untuk membuktikan pilihannya dengan menempatkan dua potongan kayu itu bersebelahan. Untuk lebih mahir, dapat diulang dalam pelajaran berikutnya.


b. Latihan bilangan dalam bentuk grafik

Latihan ini terdiri dari penempatan setiap benda pada setiap angka. Caranya sebagai berikut: mengatur dua benda sejenis nampan yang terdiri dari lima bagian kecil. Di belakang setiap bagian ditempelkan sebuah kartu yang berisi satu angka. Dalam nampan pertama berisi 0, 1, 2, 3, 4, dan yang kedua berisi 5, 6, 7, 8, 9. Sebagai latihan, pada nampan tersebut, kita menempatkan sebuah benda pada satu angka di depan anak, biarlah mereka menyelesaikan tugas itu sendiri di tempat mereka dan ketika tugasnya selesai, barulah mereka menunjukkan kepada pengajarnya.

Pelajaran tentang nol (zero). Pada pelajaran ini, anak akan menunjukan kartu yang bertulis angka nol, dan bertanya “Apa yang harus saya letakan di sini” Lalu kita menjawab “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zoro is nothing). Tetapi sering kali anak tidak mengerti. Oleh karena itu, pada akhir pelajaran kita membuat suatu permainan. Pengajar berdiri di antara mereka, dan berbalik kepada salah satu dari mereka, lalu berkata, “Mari sayang, datanglah

kepadaku secepatnya dalam waktu nol (zero)”. Anak hampir berlari kepada pengajar dan berbalik kembali ketempatnya. “Tetapi anakku, datanglah pada satu waktu, dan saya mengatakan padamu, datanglah pada waktu nol” (zero times). Dan anak itu mulai ragu, dan berkata “Sekarang, apa yang harus saya lakukan?” Pengajar menjelaskan, “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zero is nothing). “Tetapi apa yang harus saya lakukan kalau tidak ada?” “Jangan lakukan apapun” “Kamu harus tetap duduk. Kamu tidak perlu datang kapanpun. Waktu nol (zero time) tak ada waktu apapun”, Latihan ini diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan mereka akan senang sekali dan berteriak, saat pengajar memanggil mereka untuk datang kepadanya pada waktu nol (zero time), atau memberikan kepada mereka nol ciuman (zero kisses), (diulang-ulang). Mereka akan berteriak, “Zero is nothing ! Zero is nothing !

.

c. Latihan untuk mengingat angka-angka

Pelajaran ini dilakukan dengan cara memotong angka-angka dari kelender bekas, kemudian dilipat dan dimasukan kedalam sebuah kotak. Kegiatan selanjutnya, setiap anak mengambil satu kertas yang masih dalam keadaan terlipat di dalam kotak dan membukanya setelah ditempat duduk, tetapi masih dalam keadaan rahasia. Kemudian secara sendiri atau dalam bentuk kelompok pergi ke meja pengajar yang diatasnya terletak berbagai jenis benda dan mengambil benda sesuai angkanya. Sementara lipatan kertas itu harus tetap rahasia. Ketika benda-benda itu telah dikumpulkan, kegiatan selanjutnya benda-benda itu disusun diatas meja mereka; jika bendanya ganjil, benda itu dilebihkan di bawa atau di bagian terakhir dua benda. Sususnannya sebagai berikut :

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

X

XX


x :
benda

·: lipatan kertas yang berisi angka

Setelah menyusun benda-benda itu, pengajar datang membuka lipatan kertas, membaca angkanya, lalu menghitung benda-benda itu untuk disesuaikan dengan angka yang ada.

Selain latihan ini, sangatlah menarik untuk mempelajari ekspresi anak-anak ketika mereka membuka lipatan kertas yang ada angka nol. Anak yang mendapat zero tidak akan pindah dari tempatnya ketika ia melihat semua teman-temannya bangkait dan mengambil benda-benda itu dengan bebas. Disini akan terlihat dengan jelas perbedaan karakter dari setiap individu. Beberapa dari mereka terlihat tenang dan mampu menyembunyikan perasaan kecewa, tetapi beberapa dari mereka menunjukkan kekacewaannya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa disengaja. Mereka berusaha untuk menyimpan rahasia (zero) itu rapat-rapat.

d. Penjumlahan dan pengurangan dari satu sampai dua puluh,

perkalian dan pembagian

1. Penjumlahan dan perkalian

Pelajaran ini menggunakan batang kayu seperti pada bagian pertama. Caranya: batang kayu nomor 1 diletakkan di sebelah batang kayu nomor 9 (sebelah kanan), dan seterusnya. Kegiatan ini akan dipadu dengan perintah, “Ambil satu dan tambahkan dengan sembilan; ambil dua dan tambahkan dengan delapan, ambil tiga dan tambahkan dengan tujuh, ambil empat dan tambahkan dengan enam. Dengan cara ini kita membuat empat batang kayu menjadi sepuluh. Yang tersisa adalah lima, tetapi susunlah di tempat terpisah, terlihat dari satu sampai sepuluh satu sama lain. Dan akhirnya terlihat jelas bahwa 2 x 5 = 10.

Latihan ini diulang-ulang sambil mengajarkan simbol dari tambah (+), sama dengan (=), dan kali (x). Tulisannya seperti contoh dibawa ini:

9 + 1 = 10

8 + 2 = 10

7 + 3 = 10 5 x 2 = 10

6 + 4 = 10

2. Pengurangan dan pembagian

Pelajaran ini dilakukan dengan cara, persentuhan angka sepuluh tadi, kita ambil empat dan tersisa enam; ambil tiga dan tersisa tujuh; berikut dua dan tersisa delapan; terakhir ambil satu dan tersisa sembilan. Dalam hal ini sisa lima merupakan setengah dari sepuluh dan dengan memotong batang kayu yang panjang menjadi dua, itu menunjukkan pembagian sepuluh dibagi dua, sehingga kita akan memperoleh lima.

Tulisannya seperti contoh dibawa ini :

10 - 4 = 6

10 - 3 = 7

10 - 2 = 8 10 ¸ 2 = 5

10 - 1 = 9

Untuk kemahiran anak-anak bisa diulang pada pelajaran berikutnya.

Pada kotak ini dapat membantu anak-anak untuk mengingat angka.

Bilangan yang tidak bisa dibagi dua adalah semua bilangan yang tidak ada kotak genap dibagian bawa. Itu adalah bilangan ganjil karena tidak dapat diatur dalam pasangan dua dengan dua. Supaya tidak membosankan, sebagai selingan, ambil lagi kumpulan batang kayu itu untuk belajar angka sebelas, dua belas dan seterusnya sampai dua puluh. Caranya, letakkan batang kayu nomor satu setelah sembilan dan letakkan nomor sepuluh disebelahnya, dengan cara yang sama letakkan nomor dua setelah sembilan lalu sepuluh di sebelahnya, sama halnya dengan tiga dan delapan dan seterusnya sampai dua puluh.

e. Pelajaran desimal : kalkulasi aritmatika lebih dari sepuluh

Materi ini terdiri dari kartu persegi empat. Angka sepuluh telah disusun dalam jumlah yang besar mulai dari satu sampai sembilan. Kita meletakkan nomor-nomor ini dalam suatu barisan; 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Kemudian tidak ada angka, kita harus memulai dan mengambil angka satu lagi tetapi angka satu ini lebih tinggi dari arti pertama dan kita menaruh nol di depannya. Ini adalah angka 10. Lalu angka nol ditutup dengan angka satu sehingga akan terbentuk : 11, selanjutnya 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19. Nomor-nomor itu disususn dengan menambahkan batang kayu nomor 1, 2, 3, dan seterusnya sampai 9. Ini akan membentuk kayu yang sangat panjang karena hasilnya sembilan belas. Latihan ini dapat diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan bahkan bisa menambahkan angka-angka itu sampai 100.

Daftar Pustaka :

Montessori, Maria. 2002. The Montessori Method. New York: Dover Publication.