Cerita Binatang
Seratus Cara Menyelamatkan Diri
“Tahukah Kamu, Paman Kucing?” seekor moyet remaja membual di hadapan seekor kucing hutan yang sudah tua. “Aku menguasai banyak cara cerdik untuk menyelamatkan diri dari musuh.” “Oh, ya?” Kucing hutan menanggapi dengan tenang sambil menjilati bulu di telapak kaki bagian depan sebelah kiri. “Mmm, aku punya sekarung cara.” Ada seratus cara menyelamatkan diri di dalamnya. Ia mengulangi bualannya. “Itu bagus sekali.” si kucing memuji. “Dengan cara-cara berupa jurus dan tipuan-tipuan, aku punya. Tidak ada musuh yang bisa menyergapku.” lanjut si moyet. “Apalagi si pemburu yang hanya menggunakan senapan dan anjing untuk memburuku, hem…tidak takut sama sekali.” Itu kecilll…! lanjutnya dengan suara meninggi. Ia ingin kucing hutan memujinya lebih hebat. Bukan sekadar. “Bagus sekali”. Karena belum ditanggapi, monyet terus berujar, “Aku bisa menyamar jadi seperti rumput, juga bisa menggali lubang lalu bersembunyi di dalamnya. Dan kalau berlari, lebih kencang dari angin, bisa juga pura-pura mati. Paman lihat!, Lihatlah!” kata moyet sambil bergerak sesuai apa yang baru ia ucapkan. “Paman sendiri punya beberapa cara?” tanya monyet.
“Anak muda”, jawab kucing hutan itu. “Aku hanya punya satu cara melarikan diri,
karena aku sudah tua dan mulai lemah”. “Paman harus belajar beberapa jurus dariku,” saran si monyet. “Terima kasih, Anak muda. Jika aku tertangkap, tandanya memang aku sudah tua dan tidak kuat lagi”, ungkap kucing hutan sambil melangkah ke arah batang pohon didekatnya. Ia mencakar-cakar kulit pohon itu, untuk mengasah kukunya supaya tetap tajam. “Aha…, kalau begitu, Paman belajar tipuan saja. Ada beberapa tipuan yang tak perlu banyak tenaga, kok”, tutur monyet. “Aku rasa jurus pingsan kejatuhan bulan, bisa Paman pelajari sebentar. Begini, nih…” monyet memperagakan.
Monyet meloncat ke depan, lalu menutup hidungnya dengan dua kaki sampai mukanya memerah kehabisan nafas. Bergulingan hingga semua debu dan tanah menempeli bulu badan, lalu terlentang seperti sudah mati.
“Tidak sulit kan, Paman?” ujar monyet sambil mondar-mandir seperti mau mengulangi gerakannya sekali lagi. Tiba-tiba ia melonjat. “Ada yang lebih gampang. Paman pernah melihat aku menggunakannya. Saat aku dikejar lima ekor elang, aku bisa mengelabui mata mereka dengan bertiarap di tanah sambil terus berjalan menjauhi mereka”. Tuturnya berapi-api untuk meyakinkan si kucing tua itu. “Iya…! aku pernah melihatnya, tapi aku tidak tahu, jika anda sedang menggunakan satu jurus dari seratus jurus itu. Aku pikir, anda hanya berusaha untuk menjauhi mereka”, jawab kucing. “Oh, itu bukan sekedar melarikan diri dari musuh, tapi aku sedang menggunakan salah satu jurusku, namanya ‘jurus rubuh’ mengincar kelinci dan elang, Paman”.
Kucing hutan tersenyum mendengar bualan itu. Sebenarnya ia tidak pernah menyaksikan elang-elang mengejar monyet, “Elang lebih suka menangkap anak ayam”, gumamnya.
Di kejauhan terdengar sorak-sorai para pemburu dan gonggongan anjing-anjing milik pemburu. “Sepertinya, mereka menuju ke sini, Anak Muda”, kata kucing hutan terperanjat. “Tenang, Paman. Aku sudah memberitahu mereka supaya tidak menangkapku”. Jawab monyet sambil membusungkan dadanya. “Cepat bersembunyi atau berlari jauh”, nasehat Kucing hutan. “Paman berlari duluan. Paman kan hanya punya satu cara menyelamatkan diri”, jawab Monyet.
“Meski hanya satu cara, tetapi dapat digunakan untuk setiap keadaan” kata Kucing hutan. Baru saja ia mengatakan itu, sorakan dan gonggongan terdengar makin jelas. Berarti para pemburu dan anjing-anjingnya bertambah dekat. Setelah terperanjat sebentar, Kucing hutan langsung terbirit-birit memanjat pohon. Lalu bersembunyi di atas dahan. “Beginilah rencanaku menyelamatkan diri, Anak Muda”. Kucing hutan berbisik keras dari balik daun-daun. “Sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Kucing.
Monyet diam sejenak. Ia kelihatan bingung. “Ah, aku harus bersembunyi di balik batu”, katanya ragu-ragu sambil melangkah tergesah ke arah batu.
“Aduh…! Batu ini terlalu kecil untuk bersembinyi”, kata Monyet sambil berdiri dan mondar-mandir ketakutan. “Mmm, aku harus membuat lubang”, katanya dengan semangat. Lalu ia mulai menggali lubang. Kucing hutan tua yang telah aman di balik daun-daun, menggeleng-geleng kepala menyaksikan si monyet yang terlihat ketakutan tanpa ide yang baik untuk menyelamatkan diri.
“Aah, tanah di sini terlalu keras. Aku pura-pura mati saja”. Kata monyet. “Ooh, tidak! Nanti aku dimakan anjing-anjing itu”, lanjutnya. “Ya! Aku rasa bersembunyi di balik daun-daun itu ide yang bagus juga”. Kata monyet sambil berpaling kepada kucing yang telah aman dari ancaman bahaya. “Mudah-mudahan saja ia selamat”, Kucing hutan berdoa untuk keselamatan monyet muda itu. Baru saja doa diucapkan, kucing hutan mendengar Monyet menggerutu. “Ti-tidak. Rasanya ini bukan ide yang paling cocok” . Ia berlari ke bawah pohon tempat kucing hutan bersembunyi. “Memanjat pohon? Ti-tidak! Itu ide kuno” katanya sambil menggoyang-goyangkan kepala tak setuju. “Huh, kalau saja ada sungai di dekat sini, pasti aku menggunakan jurus renang untuk menyelamatkan diri”, sambungnya. Kucing hutan tua merasa kasihan kepadanya karena kelihatan sudah lemas kecapaian. “Tapi tidak apa-apa, aku banyak akal. Yeaaah! Aku bisa bergelayut di akar-akar itu. Atau lebih baik tiarap di balik gundukan tanah”, kata monyet dengan semangat karena mendapat ide baru. “Tapi…kurasa, tidak juga. Tanah disini terlalu terbuka. Aku pasti akan gampang ketahuan” ungkapnya setelah berpikir sesaat. Melihat kejadian itu, kucing hutan menegaskan, “Putuskanlah satu cara saja untuk menyelamatkan dirimu!” “Ini darurat!” lanjutnya.
Banyak sekali ide sang Monyet muda. Dipikirkan dengan cermat setiap rencananya.
Saat masih berpikir bagaimana cara menyelamatkan diri, para pemburu sudah sangat dekat. Monyet Muda mulai kebingungan, anjing-anjing pemburu sudah mengepungnya. Anjing-anjing itu kekar tinggi dan bertaring tajam. Tidak lama kemudian Monyet pun tertangkap. Monyet Muda sudah kehabisan tenaga ketika seorang pemburu mengarahkan senapan ke arahnya. Door…! Akhirnya sang Monyet Muda mati tertembak. Menyaksiakan kejadian itu, Kucing hutan menunduk sedih. Sejak saat itu, kucing selalu menasehati teman penghuni hutan lainnya, supaya hanya memiliki satu cara untuk menyelamatkan diri, daripada memiliki seratus cara tetapi tidak dapat mempergunakannya dan akhirnya mati konyol.
Tag: dongeng