Triyarkara

By safegoreti

Driyarkara

Menurut Driyarkara, llmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah tentang realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik ). Pemikir ilmiah bersifat kritis, metodis, dan sistematis.

Driyakara menjelaskan sifat kritis, metodis dan sistematis sebagai berikut:

a. Kritis berarti semua pernyataan, semua afrimasi harus mempunyai dasar yang cukup kuat. Orang yang bersifat kritis ingin mengerti betul-betul (tidak hanya membeo), ingin mentyelami sesuatu dengan seluk beluknya dan adasar-dasrnya.

b. Metodis berarti bahwa dalam proses berpikir dan menyeliki itu orang menggunakan cara tertentu.

c. Sistemmatis berarti bahwa pemikiran ilmiah dalam prosesnya itu dijiwai oleh suatu ide yang menyeluruh dan menyatukan, sehingga pemikiran-pemikiranya dan pendapat-pendapatnya tidak tanpa hubungan, melainkan merupakan kesatuan. (Wahana, 2006:6)

Pendidikan merupakan fenomena insani atau gejala insani yang fundamental dan juga mempunyai sifat kontruktif (membangun) dalam hidup manusia. Oleh karena itu, kita (manusia) harus mengadakan refleksi (pemikiran ) ilmiah tentang pendidikan itu. Refleksi ilmiah sebagai peretanggung jawaban sebagai perbuatan manusia, mendidik dan dididik. Pendidikan juga merupakan manusia. Pendidikan lahir dari pergaulan antara orang dewasa dengan orang yangv belum dewasa dalam suatu kesatuan hidup. Tindakan mendidik yang dilakukan orang dewasa dengan sadar dan sengaja didasari oleh nilai-nilai kemanusiaan. Tindakan tersebut menyebabkan orang yang belum dewasa menjadi dewasa dengan memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan hidup menurut nilai-nilai tersebut. Kedewasaan diri merupakan tujhuan pendidikan yangt hendak dicapai melalui perbuatan atau tindakan pendidikan.

Mendidik dan dididik merupakan perbuatan yang fudamental. Artinya, perbuatan yang mengubah dan menentukan hidup manusia. Baik dari pihak pendidik maupun dari pihak anak didik. Bagi anak didik, ia menerima didikan dan bertumbuh sehingga menjadi manusia. Bagi pendidik adalah mendidik diartikan menetukan suatu sikap.

Isi dari perbuatan fudamental ialah pe-manusia-an manusia muda (anak) dan ini berarti hominisasi dan humanisasi. Perwujudan yang primer dan fudamental dari pendidikan itu termuat dalam kesartuan hidup tritunggal (ayah, ibu, dan anak)

Jadi intisari pendidikan menurut Driyakara adalah suatu hubungan manusia antara pendidik dan si pendidik satu sama lain. Kedua belah pihak saling menghargai sebagai manusia dan saling membantu mewujudkan kemanusiaan mereka, namun ada perbedaan yaitu yang satu lebih membimbing dan yang lain lebih dibimbing.

Jadi, ajaran pokok Driyakara adalah “Manusia kawan bagi sesama”. Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini digunakan untuk mengkritisi, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas prema; sosialitas yang saling memangsa dan membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia)

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian.

Sr. Ety, FdCC.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan