November kelabu

By safegoreti

November Kelabu

Senja di perbukita Merapi yang masih memutahkan lahar apinya sejak setahun yang silam berselimutkan kabut. Awan hitam tampak bergelayut berat di langit. Kilat bersahutan membentuk simponi tak beraturan. Sesekali langit terbatuk diikuti semburan dahak sejenak. Sepertinya langit sedang flu berat. Maklumlah, cuaca akhir-akhir ini agak kurang bersahabat. “Tampaknya langit akan menggugurkan air matanya hari ini, gumam Yety. Benar dugaan itu, tak lama kemudian, butir-butir air dari langit membasahi perumahan Samirono dan sekitarnya. Belum sampai lima menit, banjir telah terlihat meluap di lajan-jalan sehingga mengakibatkan kemacetan lalulintas.

Hari itu adalah hari pertama mengawali pekan, dan merupakan hari pertama memasuki bulan Nevember. Suasana kota Yogyakarta yang tadinya panas bagaikan mutahan lahar api dari Merapi, diliputi suasana yang berbeda seketika. Keramaian lalulintas tidak seperti biasanya. Para pengendara sepeda motor tidak tahan mengedarai sepeda motornya, sepertinya ingin menelan beratus-ratus kilometer dalam waktu sedetik. Para pejalan kaki terlihat serius memperhatikan bus-bus yang lalu-lalang untuk beranjak pulang. Di sofa, Yety masih saja duduk terpaku sambil melihat orang lalu-lalang di depan rumah.

Dari jauh terlihat segerombolan remaja berbusana putih-abu, menyerbu sebuah bus yang hampir lewat.Terlihat akan peristiwa itu, pikiran Yety melayang kepada Wempy, teman sekolahnya di SMA. Yety cinta pada Wempy waktu sekolah. “Telah lama aku tidak dengar berita dari Wempy. Dimana dia sekarang?” pikir Yeti. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, ingat saat yang telah lalu dan tidak akan kembali lagi. Saat itu telah lewat dan sekarang hanya dapat dikenang, dengan tidak merusak pikiran dan perasannya. Malahan terdapat sesuatu, semacam kepuasan dengan mengenang dirinya. Yety tersenyum kembali pada dirinya dan keadaannya sekarang. “Ya Tuhan, semoga dia selalu berbahagia” Yety berdoa.

Tiba-tiba sesuatu menggelepar dalam perutnya. Geleparan urat-urat perut yang kosong. Serangkir teh hangat masih penuh di depannya, diangkat tinggi-tinggi seperti orang dalam upacara hendak minum anggur. Teh itu diminum teguk-teguk besar yang tak putus-putus terlihat lewat di tenggorokannya. Setelah menghabiskan secangkir teh hangat itu, tangan kirinya memukul-mukul perutnya. “Sudah diisi sekarang, jangan keroncong lagi” kata Yety kepada perutnya yang kosong. “Belum makan sejak pagi rupanya.” Yety berciraca sendiri pada dirinya. Dan sekarang sesuatu dalam perutnya telah berhenti menggelepar. Tubuhnya yang lemas sekarang rasanya agak segar sedikit. Pening kepalaya telah hilang. “O…karena lapar saja, untung tidak sakit apa-apa” pikirnya. Pikiran itu menggembirakan hatinya.

“Yety…, Yety…” teriak temannya, tapi suara itu tak digubrisnya. Rupanya, sunyi masih tetap berperan penting dalam dirinya siang itu. “Entahlah, aku juga belum menemukan sebuah jawaban untuk mengatasi perasaan ini” tuturnya. “Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku setelah semalam bergulat dalam diri” lanjutnya.

Pada saat itu, tepatnya tiga tahun yang lalu, di tengah hiruk-pikuk keramaian di bandar udara, suara pramugari, melalui pengeras suara mengumumkan bahwa pesawat terbang dengan nomor sekian-sekian yang ditumpangi Wempy segera akan berangkat. Yempy mengelus-elus kedua tangannya pada kedua belah pipi Yety. Dengan suara serak bertahan-tahan, Wempy berbicara lembut “Tidak lama aku pergi, sayang, aku tak mau kehilangan engkau”. Yety memegang telapak tangan Wempy yang masih terletak pada kedua belah pipinya, menjawab, “Selesaikan dahulu apa yang perlu untuk diselasaikan, jangan tergesa-gesa, aku setia menunggumu, sayang”.

Nama wempy terdengar berulang kali dipanggil. Tanpa menghiraukan orang yang berada di samping mereka, Wempy memeluk dan mencium Yety dengan penuh mesrah. Dengan tawa yang dibuat-buat menahan air mata, Yety menyambung: “Wempy, dengan cara kamu memelukku seperti ini, aku merasa seakan-akan kita tak akan berjumpa lagi, seakan-akan ini adalah pelukan yang terakhir”. “Jangan berkata begitu Yety.” jawab Wempy. Ini bukan yang terakhir, justru ini adalah permulaannya. Tanpa engkau, Yety, rasanya aku ini tak berarti. Yet, aku pergi hanya untuk satu tahun.lanjut Wempy.

“Pesawat akan segera take off, saudara yang bernama Wempy, segera masuk pesawat” demikian bunyi yang terdengar melalui pembesar suara di tengah hiruk-pikuk di bandar udara itu. Tanpa kata, Wempy segera berlari-lari menuju pesawat terbang. Yety, yang saat itu seperti kehilanagn sebuah permata besar, belum beranjak dari tempatnya. Matanya masih mengikuti pesawat yang langsung take off setelah Wempy menginjaki pintu pesawat. Tanpa sadar, mulutnya komat-kamit, “Wempy…kamu dimana sekarang” air matanya pun mengalir membasahi pipinya.

“Ya…beginilah hidup, hidup telah banyak mengajarku” tutur Yety, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri. “Bagaimana tidak, Wempy yang telah dikenalnya dan disayangi selama tiga tahun semasa SMA, tiga tahun yang silam, berpamitan hanya ingin mengikuti kursus musik selama satu tahun, sudah tiga tahun tanpa berita; seolah-olah diantara mereka berdua tidak pernah terjadi apa-apa. “Ya…benar, hari ini tepat tiga tahun kepergian Wempy” kenang Yety. “Apa Wempy mencintaiku hanya karena ia membutuhkanku. Apa tidak lebih dari itu; tetapi inilah kenyataannya; benar, Wempy tidak mencintaiku dengan tulus” gumamnya. Airmata yang sejak tadi hendak disembunyikan, mulai merebak. Mulutnya komat-kamit perlahan terucap, “Wempy, kau memang tega melakukan semua ini, tiga tahun bagiku adalah waktu yang tidak singkat untuk menunggumu”.

Telepon yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya, berdering mengagetkannya. Dengan bermalas-malasan Yety beranjak mengambil telepon itu. “Selamat malam, biasa berbicara dengan Yety?” kata si penelpon. “Semalat malam, saya sendiri” jawab Yety. “Yety…Yety…Yety…” sambung si penelepon dengan nada rendah. Yety termenung sejenak, suara itu memang sudah lama tak didengar tapi sepertinya tidak asing di kupingnya. Yety tahu dengan baik suara itu, tetapi ia tidak cepat menebak, Yety malu jika tebakannya salah. Karena keingintahuan Yety kuat untuk mengetahui lawan bicaranya, maka ia mendesak untuk mengetahui identitasnya. Namun jawabannya begitu jauh dari dugaan Yety, ia dengan nada yang agak berat melanjutkan pembicaraannya, “Engkau tidak perlu mengetahui, siapa lawan bicaramu tapi yang penting untuk diketahui adalah “Engkau adalah sebuah lagu cinta bagiku, sebuah musik yang membuat dunia tersenyum. Aku telah menyanyi bagimu, namun dengan kasih yang membisu, serba terselubung oleh aneka macam peraturan. Sekarang aku menjerit kepadamu tanpa aling-aling semu. Memang bukankah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri sampai datangnya berpisah? Selama ini kutelusuri kota demi kota, akhirnya aku menemukan cinta yang sejati pada sebuah pilihan yang mungkin aneh menurutmu. Aku memilih untuk menjadi seorang biarawan alias imam”. Aku adalah Wempy yang selama ini membuatmu menanti tanpa harapan. Maafkan aku, aku tak akan merubah pilihan ini.” dan telepon pun ditutup.

Siulan burung tekukur piaraan tetangga seperti koor di Gereja, datang dari arah utara kota Jogjakarta. Pelan-pelan Yety kembali ketempat duduknya. Sekelompok burung elang terbang membentuk huruf V, barangkali dari persawahan yang jauh. “Mereka hidup dan berbahagia, terbang, dan terbang. ”Burung-burung itu memberi sebuah pelajaran yang berharga bagiku, akupun ingin terbang meninggalkan masa laluku dan ingin memulai suatu hidup baru.” pikir Yety.

Hujan rintik-rintik turun berbisik-bisik dengan atap. Seekor burung melintas mencoba menggapai dahan pohon, terpelanting dan terbang jauh. Tak lama kemudian matahari dengan malu-malu bangun dari peraduaanya, mengintip jendela bumi dari sela-sela dedaunan dan mulai mengusir awan. Sedikit kilasan kilauan emasnya di setiap butir-butir gerimis. Sang surya telah meninggalkan peraduaannya, suasana kota sudang semakin sunyi, dengan tenang terlihat sedih, Yety ingin memulai sebuah lembaran baru dalam hidupnya.

Maria Goreti Safe, FdCC.

PBSID 06, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan