Arsip untuk Mei, 2008

Bakhita

Mei 21, 2008

 

Sta. Yosefina Bakhita

(Madra Nera dari Sudan)

Bakhita. Hidup Bakhita telah diceritakan dalam dua puluh enam bahasa. Hal ini tidaklah mengherankan, karena hidupnya adalah sesuatu yang khusus dan luar biasa. Selama sepuluh tahun menjadi budak dan mengalami semua penghinaan dan penderitaan, tetapi setelah mengenal Tuhan, suatu saat ia berkata “Seandainya saya tahu bahwa ada Tuhan selama tahun-tahun yang panjang dalam perbudakan, penderitaan saya pasti lebih ringan.”

Bakhita, salah satu dari ribuan orang yang diculik dan dijadikan budak setelah dua puluh tahun pembuatan undang-undang penghapusan perbudakan oleh kerajaan Ingris pada tahun 1833, kongres Paris 1856 dengan persetujuan seluruh Negara Eropa dan Mesir.

Siapa Bakhita? Dari mana asalnya? Apa yang telah terjadi dengan dirinya? Bakhita sendiri telah menjawab pertanyaan-pertanyan ini, riwayatnya begitu rumit, pengalaman hidupnya begitu luar biasa.

Kini, saatnya membiarkan Bakhita yang menceritakan kebenaran dari pengalamannya sejak diculik sampai ia dibabtis dan akhirnya menjadi biarawati.

Keluargaku hidup di Olgossa di wilayah Darfur, Sudan, Afrika. Kami keluarga besar, tujuh bersaudara; tiga laki-laki dan tiga perempuan. Saya mempunyai saudari kembar tetapi sampai sekarang saya tidak tahu keadaan keluargaku sejak saya diculik.

Saudari tertua saya diculik saat kami bersama ibu pergi ke ladang. Saudariku bersama adik kecilku tinggal karena tidak enak badan. Syukurlah, adik kecil saya tidak diculik karena bersembunyi di belakang reruntuhan pondok. Saya masih ingat, bagaimana kesedihan kami waktu itu, berbagai usaha ditempuh oleh ayah dan para pekerja kami untuk mencari kakak saya tetapi usaha itu sia-sia, kakak saya tidak ditemukan.

Pada suatau pagi, ketika saya berumur delapan tahun atau sembilan tahun, bersama teman yang berumur dua belas atau tiga belas tahun, berjalan-jalan di padang dekat rumah, tiba-tiba dua orang asing muncul dan menyuruh saya untuk mengambil bungkusan yang terjatuh agak jauh di belakang kami, sementara teman saya disuruh jalan terus. Tanpa curiga, saya menuruti permintaan mereka. Sebelum jauh, seorang dari mereka menarik tangan saya dengan kasar dan menekan pisau ke sisi saya serta berkata “Jika berteriak, engkau akan mati! Mari ikut kami.” Saya ditakut-takuti dengan teror, mata saya terbelalak karena takut, badan saya yang kecil gemetar tak terkendalikan. Saya mencoba untuk berteriak tetapi mereka menyumbat mulut saya.

Pada saat itulah mereka menanya nama saya; karena takut, saya tidak memjawab. “Baik!” kata penculik, “Kami akan memanggilmu Bakhita! Itulah nama yang kami pakai untuk memanggilmu! Bakhita artinya orang yang beruntung’ dan memang engkau adalah orang yang beruntung.” kata mereka.

Saya ditarik dengan kasar ke tengah hutan, melalui jalan setapak, saya dipaksa berjalan sampai sore. Kaki dan tungkai saya berdarah karena kerikil tajam dan semak berduri. Tetapi setiap tangisan tak mampu meluluhkan hati kedua orang itu. Meskipun haus dan lapar mereka memaksa saya untuk berjalan sepanjang malam. Saat subuh kami tiba di kampung mereka, saya dimasukan di sebuah kamar kacil yang gelap tanpa selimut, tikar, tempat tidur; itulah tempat saya selama satu bulan, sementara mereka mencari pembeli budak.

Sungguh tidak mudah untuk melukiskan penderitaan saya. Capai karena menangis dan kesepian. Saya berbaring dilantai bagaikan dalam keadaan pingsan, daya khayal saya membawa saya kepada orang tua dan saudara-saudara yang saya cintai.

Pada suatu pagi, pintu dibuka lebih awal dari biasanya. Di sebelah majikan berdiri seorang pembeli budak, ia membeli saya dan menggabungkan saya dengan enam orang budak yang telah dibelinya (tiga perempuan dan tiga laki-laki). Tanpa menunda waktu, kami berjalan kaki selama delapan hari. Setiap kampung yang kami lalui selalu menambah jumalah kami karena banyak budak yang dibeli oleh majikan yang sama.

Di sepanjang perjalanan, kaki diikat dengan rantai serta gembok besar digantung di leher. Laki-laki berjalan di depan, diikuti perempuan lalu menyusul kami anak-anak tanpa diikat dan berjalan bersama majikan dari belakang. Setelah berhari-hari berjalan kaki, akhirnya tiba di tempat penjualan budak. Singkat cerita, setelah semua budak dijual, saya dan teman sebaya saya dipekerjakan sebagai pembantu mereka untuk sementara. Dalam keadaan seperti itu, kami berusaha untuk meloloskann diri dengan kabur dari rumahnya dan kembali ke kampung halaman kami, tetapi usaha kami sia-sia karena dalam pejalanan, kami ditangkap lagi oleh pedagang budak lain dan diperjual-belikan beberapa kali lagi.

Sampailah saat-saat yang paling mengerikan, pada suatu hari nyonya dari majikan itu mengatakan bahwa semua budak yang belum menjalani operasi harus secepatnya menjalaninya. Oleh karena itu, seorang wanita yang mempunyai keterampilan dalam bidang seni yang kejam datang ke rumah majikan. Ia membawa kami ke beranda, sementara nyonya berdiri di belakang kami dengan sebuah cambuk di tangannya. Adapun perlengkapan yang dibawa oleh wanita itu adalah pisau cukur, sebuah piring yang penuh dengan tepung putih, dan sebuah piring penuh dengan garam.

Lalu ia memerintahkan yang pertama dari antara kami supaya berbaring di tanah sementara dua orang budak yang lain memegangnya; satu pada bagian kakinya dan lain pada tangannya. Lalu wanita itu mulai membuat gambar yang ganjil di atas perut gadis malang itu dengan tepung putih sekitar enam puluh banyaknya. Saya berdiri terpaku, takut setengah mati, ketika melihat apa yang sedang berlangsung, sementara menyadari bahwa giliran saya akan segera datang.

Setelah membuat gambar dengan tepung, wanita itu mengambil pisau cukur dan membuat irisan-irisan menurut gambar itu, sementara si korban itu berteriak-teriak dan mengeluarkan banyak darah. Tatapi itu belum merupakan akhir operasi yang sangat menyakitkan. Yang paling menyakitkan ketika garam digosok pada enam puluh luka irisan itu, dengan pertimbangan bahwa garam akan merasuk ke dalam luka-luka itu sehingga luka-luka itu cepat sembuh. Orang yang malang itu gemetar sekujur tubuhnya, bagitu pun saya dan teman saya juga menunggu giliran kami. Dan benar sekali, setelah korban pertama dibawa pergi dalam keadaan tak sadarkan diri, tibalah giliran saya.

Saya ragu untuk bergerak tetapi pandangan dari wanita yang berdiri di belang dengan cambuk di tangannya meyakinkan saya bahwa tak ada jalan lain. Cepat-cepat saya berbaring di lantai. Untung wajah saya tidak diapa-apakan, tetapi enam gambar yang rumit digambarkan pada buah dada saya dan enam puluh gambar pada perut dan lengan saya. Sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata apa yang saya rasakan. Saya pikir saya akan mati, terutama ketika garam merasuk kedalam luka-luka saya, tetapi ternyata Tuhan masih menjaga saya.

Dengan bermandikan darah saya sendiri, saya dibawa pergi dan dibaringkan pada sebuah tikar jerami. Ketika sadar, setelah berjam-jam saya berbaring di atas tikar itu tanpa sadarkan diri, saya melihat disamping saya ada dua teman saya yang malang, yang telah menjalani siksaan yang sama. Selama satu bulan kami dihukum untuk berbaring dengan diam tanpa selembar kain pun untuk menghapus darah yang mengalir dari luka-luka kami yang terbuka.

Kini, saya dapat melihat bahwa hanya karena mujizat Tuhan, saya tidak mati. DIA telah menentukan saya untuk hal-hal yang lebih baik.

Singkat cerita, pada suatu hari, majikan mendapat kunjungan dari Wakil Konsul Italia, Callisto Legnani di Sudan. Kehadiran konsul ini membawa angin baru bagi saya. Konsul itu menaruh perhatian dan kasih sayang kepada saya dan membeli saya dari majikan itu, dan itu merupakan jual-beli yang kelima.

Benar-benar saya adalah orang yang beruntung. Majikan saya yang baru ini bersikap ramah dan menyayangi saya. Ia membawa saya ke Italia. Melalui perjalanan yang menyita waktu, akhirnya kami tiba di Italia. Untuk menyenangkan temannya, Tuan konsul menyerahkan saya kepada mereka. Bersama majikan saya yang baru, saya menjadi pengasuh anak mereka yang baru lahir.

Ketika Tuan dan Nyonya memutuskan untuk kembali ke Afrika untuk melanjutkan usahanya, saya diharapkan untuk tinggal bersama anak mereka di asrama suster Kanossian, dengan tujuan agar anaknya mendapat pendidikan yang baik dan sekaligus belajar katekumen. Ini menjadi moment yang baik bagi saya karena juga ikut belajar agama katolik.

Para suster yang suci itu mengajar saya dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada saya yang telah saya imani sejak kanak-kanak tanpa kenal siap Dia. Dengan bimbingan Tuhan, saya dibabtis sebagai orang Katolik pada 9 Januari 1890 dengan nama Yosefina Bakhita. Merupakan suatu moment yang tak pernah dilupakan. Setelah dibabtis, saya masih menjalani katekumen selama empat tahun. Dan akhirnya suara Tuhan semakin jelas, mendorong saya untuk membaktikan diriku seutuhnya hanya kepada Allah.

Pada 7 Desember 1893, saya memasuki novisiat di Venesia, dan satu tahun kemudian saya dipindahkan ke Verona (rumah induk) untuk menerima jubah suci. Dan pada 8 Desember 1896 saya mengucapkan kaul religius sebagai Putri Cinta Kasih Canossian.

Saat menulis semua pengalaman ini, saya telah hidup sebagai religius selama empat belas tahun (1910).”

Inilah memori sederhana Madre Nero (Bunda Hitam-panggilan akrap dari orang-orang dekatnya). Teringat kembali kata-kata Rasul Paulus: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan kepada orang yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8 : 28

Pedagang mamba yang telah menterornya dan membuatnya menderita begitu banyak, secara tidak langsung mengungkapkan pesan Tuhan ketika mereka memberinya nama Bakhita” yang artinya “Orang yang beruntung.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika ditanya seorang mahasiswa Italia, “Apa yang akan dilakukan, jika secara kebetulan Bakhita bertemu lagi dengan para penculik.” Tanpa ragu, Bakhita menjawab , “Saya akan berlutut dan mencium tangan mereka. Karena seandainya apa yang telah terjadi dengan saya tidak pernah terjadi, bagaimana saya menjadi orang Katolik bahkan seorang biarawati. Saya mengasihi mereka. Mereka tidak sadar akan penderitaan yang mereka berikan kepada saya. Mereka majikan dan saya hamba. Mereka berbuat begitu berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan kejahatan, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Jelas, kata-kata Suster Yosefina Bakhita, FdCC menjadi sebuah inspirsi bagi siapa saja yang mau membuka hatinya kepada rahmat dan kasih Allah.

Memperpendek kata, 8 Februari 1947, Suster Yosefina Bakhita menutup usianya di biara Canossa, Schio, Itali. Atas berbagai mujizat yang dialami setiap orang yang menaruh harapannya melalui Suster ini, tahun 1955-1957 Gereja membuka proses biasa bagi keutamaan suster Bakhita pada tingkat keuskupan Vicenza-Itali. Tahun 1968-1969 dimulai proses apostolik yang aktual. Pada 17 Mei 1992 secara resmi Paus Yohanes Paulus II menyatakan suster Yosefina Bakhita sebagai yang berbahagia (Beatifikasi), dan pada 10 Oktober 2000, disaksikan oleh ribuan umat, suster nero (hitam) ini dinyatakan sebagai “Santa oleh Paus Yohanes Paulus II di halaman Gereja Santo Petrus, Italia.

Kini, pesta Santa Yosefina Bakhita dirayakan setiap tanggal 8 Februari.

By…GBU

Sr. Maria Goreti Safe, FdCC.

 

Montessori

Mei 12, 2008

Maria Montessori

Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Italia, telah menyediakan lingkungan yang berbeda hampir 100 tahun lalu. Ia membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan berhitung dasar

Menurut Maria Montessori, tahun prasekolah menjadi masa bagi anak untuk membina kepribadian mereka. Oleh karena itu setiap usaha yang dirancang harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensinya, menimba ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat, dan kepribadian secara utuh.

Pelopor dalam pengembangan metode belajar matematika bagi anak-anak usia dini, Maria Montessori, telah mempraktekkan pembelajaran matematika lewat kegiatan sehari-hari. Pengalaman tersebut diperolehnya setelah menangani anak-anak bermental terbelakang. Ia menciptakan alat-alat belajar dari benda-benda yang akrab di sekeliling kita. Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang diulang setiap hari, misalnya “Ada dua kancing baju yang hilang” atau “Kita memerlukan tiga piring lagi diatas meja.” Atau cara lain yang digunakan adalah menghitung uang logam, yaitu dengan menyebut satu, dua, tiga, empat,…sampai sepuluh. Dengan cara seperti ini, sebagian besar anak-anak mengalami kemajuan yang pesat. Sehingga pada dasarnya, anak yang berumur tiga tahun sudah tahu menghitung sebelum mereka masuk sekolah. Mereka lebih mudah belajar menghitung angka yang sederhana dengan menghitung benda-benda, karena hal inilah yang menjadi alat belajar yang menarik bagi anak-anak. Dibawa ini adalah teorinya dalam bidang belajar menghitung.

Pelajaran Matematika: Pengantar Ilmu Hitung

a. Pelajaran tentang bilangan

Pelajaran ini menggunakan satu set batang kayu yang berwarna alternatif merah dan biru. Caranya: batang kayu disusun mulai dengan warna merah dan selalu mulai dari sisi A: satu; satu, dua; satu, dua, tiga; dan seterusnya sampai sepuluh. Setelah menyusun batang kayu itu, anak disuruh memberi nama pada setiap batang kayu itu. Selanjutnya untuk mengetahui nomor dari batang kayu-batang kayu itu, kita menghitung dari sisi A: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Hal ini akan menarik minat anak untuk mengulanginya pada kesempatan lain (waktu luangnya). Latihan selanjutnya, batang kayu itu digabungkan secara acak diatas karpet. Pengajar memilih satu batang kayu dan menunjukkan kepada anak, sebagai contoh 5. Pengajar kemudian memintanya untuk memberi satu ukuran panjang setelah angka 5, lalu pengajar meminta dia untuk membuktikan pilihannya dengan menempatkan dua potongan kayu itu bersebelahan. Untuk lebih mahir, dapat diulang dalam pelajaran berikutnya.

b. Latihan bilangan dalam bentuk grafik

Latihan ini terdiri dari penempatan setiap benda pada setiap angka. Caranya sebagai berikut: mengatur dua benda sejenis nampan yang terdiri dari lima bagian kecil. Di belakang setiap bagian ditempelkan sebuah kartu yang berisi satu angka. Dalam nampan pertama berisi 0, 1, 2, 3, 4, dan yang kedua berisi 5, 6, 7, 8, 9. Sebagai latihan, pada nampan tersebut, kita menempatkan sebuah benda pada satu angka di depan anak, biarlah mereka menyelesaikan tugas itu sendiri di tempat mereka dan ketika tugasnya selesai, barulah mereka menunjukkan kepada pengajarnya.

Pelajaran tentang nol (zero). Pada pelajaran ini, anak akan menunjukan kartu yang bertulis angka nol, dan bertanya “Apa yang harus saya letakan di sini” Lalu kita menjawab “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zoro is nothing). Tetapi sering kali anak tidak mengerti. Oleh karena itu, pada akhir pelajaran kita membuat suatu permainan. Pengajar berdiri di antara mereka, dan berbalik kepada salah satu dari mereka, lalu berkata, “Mari sayang, datanglah

kepadaku secepatnya dalam waktu nol (zero)”. Anak hampir berlari kepada pengajar dan berbalik kembali ketempatnya. “Tetapi anakku, datanglah pada satu waktu, dan saya mengatakan padamu, datanglah pada waktu nol” (zero times). Dan anak itu mulai ragu, dan berkata “Sekarang, apa yang harus saya lakukan?” Pengajar menjelaskan, “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zero is nothing). “Tetapi apa yang harus saya lakukan kalau tidak ada?” “Jangan lakukan apapun” “Kamu harus tetap duduk. Kamu tidak perlu datang kapanpun. Waktu nol (zero time) tak ada waktu apapun”, Latihan ini diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan mereka akan senang sekali dan berteriak, saat pengajar memanggil mereka untuk datang kepadanya pada waktu nol (zero time), atau memberikan kepada mereka nol ciuman (zero kisses), (diulang-ulang). Mereka akan berteriak, “Zero is nothing ! Zero is nothing !

C. Latihan untuk mengingat angka

Pelajaran ini dilakukan dengan cara memotong angka-angka dari kelender bekas, kemudian dilipat dan dimasukan kedalam sebuah kotak. Kegiatan selanjutnya, setiap anak mengambil satu kertas yang masih dalam keadaan terlipat di dalam kotak dan membukanya setelah ditempat duduk, tetapi masih dalam keadaan rahasia. Kemudian secara sendiri atau dalam bentuk kelompok pergi ke meja pengajar yang diatasnya terletak berbagai jenis benda dan mengambil benda sesuai angkanya. Sementara lipatan kertas itu harus tetap rahasia. Ketika benda-benda itu telah dikumpulkan, kegiatan selanjutnya benda-benda itu disusun diatas meja mereka; jika bendanya ganjil, benda itu dilebihkan di bawa atau di bagian terakhir dua benda. Sususnannya sebagai berikut :

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

X

XX


x : benda

·: lipatan kertas yang berisi angka

Setelah menyusun benda-benda itu, pengajar datang membuka lipatan kertas, membaca angkanya, lalu menghitung benda-benda itu untuk disesuaikan dengan angka yang ada.

Selain latihan ini, sangatlah menarik untuk mempelajari ekspresi anak-anak ketika mereka membuka lipatan kertas yang ada angka nol. Anak yang mendapat zero tidak akan pindah dari tempatnya ketika ia melihat semua teman-temannya bangkait dan mengambil benda-benda itu dengan bebas. Disini akan terlihat dengan jelas perbedaan karakter dari setiap individu. Beberapa dari mereka terlihat tenang dan mampu menyembunyikan perasaan kecewa, tetapi beberapa dari mereka menunjukkan kekacewaannya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa disengaja. Mereka berusaha untuk menyimpan rahasia (zero) itu rapat-rapat.

d. Penjumlahan dan pengurangan dari satu sampai dua puluh,

perkalian dan pembagian

1. Penjumlahan dan perkalian

Pelajaran ini menggunakan batang kayu seperti pada bagian pertama. Caranya: batang kayu nomor 1 diletakkan di sebelah batang kayu nomor 9 (sebelah kanan), dan seterusnya. Kegiatan ini akan dipadu dengan perintah, “Ambil satu dan tambahkan dengan sembilan; ambil dua dan tambahkan dengan delapan, ambil tiga dan tambahkan dengan tujuh, ambil empat dan tambahkan dengan enam. Dengan cara ini kita membuat empat batang kayu menjadi sepuluh. Yang tersisa adalah lima, tetapi susunlah di tempat terpisah, terlihat dari satu sampai sepuluh satu sama lain. Dan akhirnya terlihat jelas bahwa 2 x 5 = 10.

Latihan ini diulang-ulang sambil mengajarkan simbol dari tambah (+), sama dengan (=), dan kali (x). Tulisannya seperti contoh dibawa ini:

9 + 1 = 10

8 + 2 = 10

7 + 3 = 10 5 x 2 = 10

6 + 4 = 10

2. Pengurangan dan pembagian

Pelajaran ini dilakukan dengan cara, persentuhan angka sepuluh tadi, kita ambil empat dan tersisa enam; ambil tiga dan tersisa tujuh; berikut dua dan tersisa delapan; terakhir ambil satu dan tersisa sembilan. Dalam hal ini sisa lima merupakan setengah dari sepuluh dan dengan memotong batang kayu yang panjang menjadi dua, itu menunjukkan pembagian sepuluh dibagi dua, sehingga kita akan memperoleh lima.

Tulisannya seperti contoh dibawa ini :

10 - 4 = 6

10 - 3 = 7

10 - 2 = 8 10 ¸ 2 = 5

10 - 1 = 9

Untuk kemahiran anak-anak bisa diulang pada pelajaran berikutnya.

Pada kotak ini dapat membantu anak-anak untuk mengingat angka.

Bilangan yang tidak bisa dibagi dua adalah semua bilangan yang tidak ada kotak genap dibagian bawa. Itu adalah bilangan ganjil karena tidak dapat diatur dalam pasangan dua dengan dua. Supaya tidak membosankan, sebagai selingan, ambil lagi kumpulan batang kayu itu untuk belajar angka sebelas, dua belas dan seterusnya sampai dua puluh. Caranya, letakkan batang kayu nomor satu setelah sembilan dan letakkan nomor sepuluh disebelahnya, dengan cara yang sama letakkan nomor dua setelah sembilan lalu sepuluh di sebelahnya, sama halnya dengan tiga dan delapan dan seterusnya sampai dua puluh.

e. Pelajaran desimal : kalkulasi aritmatika lebih dari sepuluh

Materi ini terdiri dari kartu persegi empat. Angka sepuluh telah disusun dalam jumlah yang besar mulai dari satu sampai sembilan. Kita meletakkan nomor-nomor ini dalam suatu barisan; 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Kemudian tidak ada angka, kita harus memulai dan mengambil angka satu lagi tetapi angka satu ini lebih tinggi dari arti pertama dan kita menaruh nol di depannya. Ini adalah angka 10. Lalu angka nol ditutup dengan angka satu sehingga akan terbentuk : 11, selanjutnya 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19. Nomor-nomor itu disususn dengan menambahkan batang kayu nomor 1, 2, 3, dan seterusnya sampai 9. Ini akan membentuk kayu yang sangat panjang karena hasilnya sembilan belas. Latihan ini dapat diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan bahkan bisa menambahkan angka-angka itu sampai 100.

Daftar Pustaka :

Montessori, Maria. 2002. The Montessori Method. New York: Dover Publication.

Bagi rasa

Mei 9, 2008

Ujian Nasional 2008

Mei 6, 2008

Perut Mulas Lihat Soal Ujian Nasional

Bukan hanya seorang siswa yang mengeluh demikian. Keluhan serupa dilontarkankan siswa lain yang baru saja mengikuti ujian nasional (UN) selama tiga hari (22-24/4). “Ujian ini merupakan tiga hari untuk selamanya dan merupakan moment yang sangat menegangkan” kata Lucia Isabella Ari Vadiani, siswi SMA Stella Duce II Yogyakarta.

Menurut Luci (sapaan akrapnya), UN tahun ini memaksanya untuk memeras otak lebih kuat karena soal-soal UN lebih sulit jika dibandingkan dengan soal-soal UN tahun lalu. “Saya takut tidak lulus. Bayangkan saja standar minimal nilai kelulusan tiap mata pelajaran yang diuji 4,25. Saya merasa tidak yakin bisa lulus” kata Luci dengan mata berkaca-kaca sebagai ungkapan kekhawatirannya.

Menurut Luci yang mengambil jurusan bahasa di SMA Stela Duce II ini, kendala yang muncul saat UN, ketika melihat soal-soal yang diberikan, perutnya terasa mules, konsentrasi hilang, kedua tangannya gemetar, tidak percaya diri, cemas, takut, dan pesimis. “Semua itu muncul secara tiba-tiba pada hari pertama ujian nasional, khususnya mata pelajaran matematika; saya hanya mampu mengerjakan 40 soal dari 50 soal karena waktunya tidak cukup” kata Luci dengan kesal. Dia mengatakan, ujian hari ke dua dan hari ke tiga dilaluinya dengan dengan baik, tidak seperti hari pertama.

Menjelang UN, dari pihak sekolah telah mengintensifkan persiapan siswa dengan latihan soal-soal, baik dari guru mata pelajaran maupun dari wali kelasnya. “Sebagai bekal pribadi, selain latihan soal dari guru, saya juga mengikuti les tambahan, melengkapi buku-buku catatan yang belum sempurna, mendekati guru bidang studi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang akan diuji, curhat pada guru bidang studi dan menanyakan soal yang kurang dimengerti, selain itu mempersiapan fisik saya dengan makan yang teratur, istirahat yang cukup agar pada saat UN badanku tetap segar dan vit” tutur Luci dengan mantap.

Sementara kegiatan kerohanian juga menjadi prioritas utama bagi Luci karena menurut Luci tanpa Tuhan segala usaha kita akan sia-sia belaka. Luci mengadakan doa pribadi, doa bersama teman-teman kelas yang seiman, doa bersama keluarganya, bahkan mereka mendatangkan Pastor untuk merayakan Ekaristi (ibadah umat Katolik) di rumahnya. Menurut Luci semua itu untuk menguatkan mental dan menambah kepercayaan diri menghadap eman mata pelajaran yang diujikan. Menurut dia persiapan-persiapan yang dilakukan sudah optimal.

Enam mata pelajaran diuji pada UN diantaranya Bahasa Indonesia dan Matematika (hari pertama), Bahasa Ingris dan Sastra (hari kedua), Bahasa Jerman dan Antropologi (hari ketiga).

Menaggapi kemungkinan terjadi kecurangan selama ujian nasional berlangsung di sekolahnya, Luci yang bermukim di Samirono Baru mengaku, di sekolahnya tidak ada kecurangan karena pengawas UN dari sekolah lain, sementara dari pihak keamanan (polisi) pun selalu siap-siaga di depan sekolahnya. “Kecurangan yang terjadi di luar sekolah saya (mendapat kunci jawaban) merupakan hal yang disesalkan karena tidak ada kejujuran dan belum tentu kunci jawaban itu benar, jadi yang rugi adalah diri sendiri karena tidak pede dengan berbagai persiapan yang dilaluinya” tutur Luci.

Meskipun masih dalam ketidakpastian (lulus atau tidak lulus) Luci sudah diterima di program studi hukum, Universitas Atmajaya, Yogyakarta. “Daripada terlambat, lebih baik mendahului, lulus atau tidak lulus, urusan belakang, yang penting diterima dulu” kata Luci dengan percaya diri.

Diakhir pertemuan Luci mengatakan “Menjadi pelajar itu tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kreatifitas pelajar itu sendiri. Maka berjuanglah untuk menjadi agen pembaharu! Terima kasih”.

By…Thanks…GBU.



Universitas Sanata Dharma

Mei 6, 2008

PBSID – USD

SADAR! Siapa yang tidak tahu tentang yang satu ini? Sadar adalah singkatan dari Sanata Dharma, atau yang sering disebut USD oleh kebanyakan orang. Nah, apa itu USD? Mari kita lihat bersama. USD adalah singkatan dari Universitas Sanata Dharma. Universitas ini adalah satu-satunya universitas Khatolik di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlokasi di empat tempat. Kampus I dan Kampus II berlokasi di Mrican, Depok, Yogyakarta. Kampus III berlokasi di Paingan, Kampus IV, berlokasi di Kentungan, dan Kampus V berlokasi di Kota Baru Yogyakarta. Kampus I dan Kampus II, dipakai untuk kegiatan perkuliahan bagi program Studi Keguruan. Kampus III digunakan untuk perkuliahan non keguruan kecuali program studi matematika dan Fisika, kampus IV untuk fakultas Teologi, dan kampus V dipakai untuk perkuliahan Ilmi Pengetahuan Agama Katholik. 

Salah satu keunggulan dari universitas Khatolik ini, indeks prestasi pogram studi (prodi) Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID)  yang memenuhi daya saing nasional bahkan pernah mendapat prestasi gemilang dari para visitasi akreditasi tahun 2003 dengan peringkat nilai A. Selain itu kekeluargaan di antarmahasiswa dengan mahasiswa, mahasiswa dan dosen sangat berbeda dari universitas lain. Hal ini berlatarkan visi dan misi dari Universitas Sanata Dharma yaitu memanusiakan manusia muda, baik dari segi jasmani, rohani, sosial maupun ilmu pengetahuan.

PBSID, salah satu bidang pengajaran yang berhasil dicapai dan hingga saat ini mengalami proses yang luar biasa pengaruhnya. Prodi ini telah banyak menghasilkan bibit-bibit unggul yang berkualitas dan berdaya guna. Tentu semuanya di dasari oleh tingkat kreatifitas serta keahlian yang dimiliki oleh para dosen pembimbing dalam menyajikan metode pembelajaran serta keseriusan dan keaktifan para mahasiswa dalam setiap perkuliahan. Keunggulan lain dari prodi ini, memecahkan rekor MURI pembacaann cerpen yang melibatkan para pelajar, mahasiswa, dosen, dan masyarakat PADA TAHUN 2000; mengadakan seminar nasional pada tahun 2000, mengadakan seminar-seminar, memberikan latihan kepada para wartawan kompas pada tahun 2005, 2006, dan 2007; bekerja sama dengan BBC London dalam penyuntingan bahasa pada tahun 2000, dan mengikuti HIBAHI-MHERE (2x sampai vissitasi), HIBAH KEMITRAAN memenangkan HIBAH PERALATAN (2 x)

Mahasiswa PBSID dipandang mempunyai nilai positif kerana latar belakang daerah mahasiswa yang bervariasi, tersedianya berbagai jenis kegiatan, serta adanya banyak peluang pengembangan diri sebagai dampak positif dari kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan, media massa, industry, serta alumni.

Dosen tetap ideal. Jumalah, tingkat pendidikan, jabatan akademik, dan fasilitas yang disediakan dosen memadai. Partisipasi dan kehadiran dosen dan maupun karyawan tercatat baik. Selain itu terbuka kesempatan kepada dosen untuk terus melengkapi diri dengan pengetahuan yang menjadi modal bagi perkembangann pengetahuan mahasiswa.

 

Kurikulum dipandang baik. Kurikulum PBSID mampu mengembangkan empat kompetensi keguruan, kompetensi pengajaran BIPA, dan kompetensi tenaga jurnalistik. Selain itu, suasana akademik pada umumnya sudah tercipta dengan baik.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan di setiap tahun ajaran baru banyak mahasiswa yang memilih jurusan ini dan lulus dengan hasil yang memuaskan. Prodi PBSID sungguh-sungguh mampu menghasilkan manusia yang berpotensi dan berdaya guna.

 

 Sr. safegoreti, fdcc

PBSID ‘06 USD, Yogyakarta.

Pengungsi

Mei 4, 2008

Pengungsi yang selalu membuat onar

Sejak jajak pendapat di Timor-Timor yang sekarang telah menjadi negara baru dengan nama Timor Leste (Timor matahari terbit),yang tidak kunjung henti pertikaian ini, menjadi beban tersendiri bagi warga Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berbatasan langsungn dengan Timor Lesta sebagai negara tetangga.

Hal ini dikerenakan penggungsi yang mencapai puluhan juta jiwa masih saja betah menginap di tempat penggungsian dengan berbagai suka-dukanya karena sebagian besar masih menginap di pondok-pondok, sementara sebagian besar dari mereka sampai sekarang hanya menganggur karena belum mempunyai pekerjaan tetap karena tidak memiliki pengalaman kerja, atau menjadi malas kerena terbiasa dengan berbagai bantuan yang terus mengalir semenjak kerusuhan tahun 1999 lalu. Hal inilah yang cepat memicu terjadinya keributan-keributan di wilayah Atambua.

Senin (7/4) siang, situasi Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mencekam. Ribuan eks pengungsi Timor-Timur mencoba menyerang Markas Kepolisian Resort Belu. Ratusan anggota Brigade Mobil Kepolisian Daerah NTT terpaksa mengeluarkan tembakan peringatan dan memukul mundur para demostran.

…bye..

safegoreti