Ujian Nasional 2008

By safegoreti

Perut Mulas Lihat Soal Ujian Nasional

Bukan hanya seorang siswa yang mengeluh demikian. Keluhan serupa dilontarkankan siswa lain yang baru saja mengikuti ujian nasional (UN) selama tiga hari (22-24/4). “Ujian ini merupakan tiga hari untuk selamanya dan merupakan moment yang sangat menegangkan” kata Lucia Isabella Ari Vadiani, siswi SMA Stella Duce II Yogyakarta.

Menurut Luci (sapaan akrapnya), UN tahun ini memaksanya untuk memeras otak lebih kuat karena soal-soal UN lebih sulit jika dibandingkan dengan soal-soal UN tahun lalu. “Saya takut tidak lulus. Bayangkan saja standar minimal nilai kelulusan tiap mata pelajaran yang diuji 4,25. Saya merasa tidak yakin bisa lulus” kata Luci dengan mata berkaca-kaca sebagai ungkapan kekhawatirannya.

Menurut Luci yang mengambil jurusan bahasa di SMA Stela Duce II ini, kendala yang muncul saat UN, ketika melihat soal-soal yang diberikan, perutnya terasa mules, konsentrasi hilang, kedua tangannya gemetar, tidak percaya diri, cemas, takut, dan pesimis. “Semua itu muncul secara tiba-tiba pada hari pertama ujian nasional, khususnya mata pelajaran matematika; saya hanya mampu mengerjakan 40 soal dari 50 soal karena waktunya tidak cukup” kata Luci dengan kesal. Dia mengatakan, ujian hari ke dua dan hari ke tiga dilaluinya dengan dengan baik, tidak seperti hari pertama.

Menjelang UN, dari pihak sekolah telah mengintensifkan persiapan siswa dengan latihan soal-soal, baik dari guru mata pelajaran maupun dari wali kelasnya. “Sebagai bekal pribadi, selain latihan soal dari guru, saya juga mengikuti les tambahan, melengkapi buku-buku catatan yang belum sempurna, mendekati guru bidang studi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang akan diuji, curhat pada guru bidang studi dan menanyakan soal yang kurang dimengerti, selain itu mempersiapan fisik saya dengan makan yang teratur, istirahat yang cukup agar pada saat UN badanku tetap segar dan vit” tutur Luci dengan mantap.

Sementara kegiatan kerohanian juga menjadi prioritas utama bagi Luci karena menurut Luci tanpa Tuhan segala usaha kita akan sia-sia belaka. Luci mengadakan doa pribadi, doa bersama teman-teman kelas yang seiman, doa bersama keluarganya, bahkan mereka mendatangkan Pastor untuk merayakan Ekaristi (ibadah umat Katolik) di rumahnya. Menurut Luci semua itu untuk menguatkan mental dan menambah kepercayaan diri menghadap eman mata pelajaran yang diujikan. Menurut dia persiapan-persiapan yang dilakukan sudah optimal.

Enam mata pelajaran diuji pada UN diantaranya Bahasa Indonesia dan Matematika (hari pertama), Bahasa Ingris dan Sastra (hari kedua), Bahasa Jerman dan Antropologi (hari ketiga).

Menaggapi kemungkinan terjadi kecurangan selama ujian nasional berlangsung di sekolahnya, Luci yang bermukim di Samirono Baru mengaku, di sekolahnya tidak ada kecurangan karena pengawas UN dari sekolah lain, sementara dari pihak keamanan (polisi) pun selalu siap-siaga di depan sekolahnya. “Kecurangan yang terjadi di luar sekolah saya (mendapat kunci jawaban) merupakan hal yang disesalkan karena tidak ada kejujuran dan belum tentu kunci jawaban itu benar, jadi yang rugi adalah diri sendiri karena tidak pede dengan berbagai persiapan yang dilaluinya” tutur Luci.

Meskipun masih dalam ketidakpastian (lulus atau tidak lulus) Luci sudah diterima di program studi hukum, Universitas Atmajaya, Yogyakarta. “Daripada terlambat, lebih baik mendahului, lulus atau tidak lulus, urusan belakang, yang penting diterima dulu” kata Luci dengan percaya diri.

Diakhir pertemuan Luci mengatakan “Menjadi pelajar itu tidak mudah. Dibutuhkan ketekunan dan kreatifitas pelajar itu sendiri. Maka berjuanglah untuk menjadi agen pembaharu! Terima kasih”.

By…Thanks…GBU.



Tag:

Tinggalkan Balasan