Arsip untuk September, 2008

Cinta

September 27, 2008

 

Cinta dan Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampinga dengan baik.
Namun, suatu ketika datang badai menghempas seluruh pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.
Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. “Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” Teriak Cinta. “Aduh! Maaf, Cinta” kata kekayaan, “perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu diperahuku ini.”
Lalu kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan ia tak mendengar teriakan Cinta.
Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. “Kecantikan! bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta. “Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini.” Sahut kecantikan.
Cinta sedih sekali mendengarnya, ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. “Oh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,” kata Cinta. “Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja…” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, “Cinta! Mari cepat naik perahuku!” Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.
Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakan kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapakah sebenarnya orang tua itu. “Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu.” kata orang itu. “Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran. “Sebab,” kata orang itu, “hanya Waktu lah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu …

 

Dalai Lama

September 27, 2008

 

Dalai Lama, Pembawa Obor Perdamain dari Tibet

 

 

Karena kita semua berbagi di bumi yang kecil ini. Kita harus saling belajar untuk hidup dengan harmonis dan damai satu sama lain, termasukk dengan alam.”

(Pidato Delai Lama saat penyerahan penghargaan Nobelnya 11 Desember 1989)

 

Dalai lama. Siapa yang tak kenal tokoh satu ini? Namanya kerap menghias headline berbagai media massa di seluruhh dunia, terlebih dalam beberapa bulan lalu. Perjuangannya tanpa kekerasann telah menghantarnya merahi Nobel Perdamaian tahun 1989, bahkan ia disebut-sebut sebagai penerus Mahatma Gandhi, salah satu tokoh perdamaian terbesar abad ini.

Terlebih sebagai Lhamo Thondup pada 6 Juni 1935, anak ke-9 dari keluarga petani ini diidentifikasikan sebagai pewaris Dalai Lama ke-13 saat usianya baru 2 tahun. Dalai Lama berarti semua yang menyangkut lama, yaitu seorang yang dianggap sebagai reinkarnasi arwah leluhur serta perwujudan Avalokiteshvara, gabungan dari seluruh kasih sayang sang Budha. Saat usianya menginjak 15 tahun ia secara resmi dinobatkan sebagai perwujudan ke-14 Dalai Lama. Sebagai Dalai Lama, ia menjadi pemimpin spiritual umat Budha di Tibet serta pemimpin monarki Tibet.

Penobatan tersebut dilakukan karena situasi keamanan di Tibet yang semakin memburuk. Saat itu, 7 Oktober 1950 China mengawasi dan menguasai Tibet sehingga mengancam kemerdekaan negeri ’atap dunia’ itu. Penduddukan tersebut memicu berbagai perlawanan baik dari 6 juta rakyat Tibet sendiri maupun dari pasukan Amerika Serikat. Dalai Lama tidak menyetujuai perjuangan dengan kekerasan yang dilakukan rakyatnya dan para pendukungnya. Alasannya, kekerasan hanya akan melahirkan semakin banyak kekerasan dan penderiataan.

Pada tahun 1959, Karena alasan keselamatan, Dalai Lama beserta 80.000 pengikutnya mengungsi ke Dharamsala, di kaki Gunung Himalaya, India Utara. Di tempat itulah ia mendirikan markas dan membentuk pemerintahan pengungsian Tibet sampai sekarang.

Sementara itu pada waktu yang sama, saat dia meninggalkan negerinya, China semakin kuat menancapkan kekuasaannya di seluruh wilayah Tibet. Situasi di Tibert semakin memburuk pada tahun 1966, Mao Zedong mengumumkan ”Revolusi Besar Budaya Proletar”, sebuah dekade panjang bencana politik dimana kehormatan tradisional diabaikan, artefak budaya dihancurkan dan dimusnahkan, ekspresi budaya dibatasi, dan praktik keagamaan ditekan. Bahkan China sering kali menghukum mati mereka yang menolak mengakui kedaulatan China atas Tibet ataupun pengakuan kesetiaan mereka pada Dalai lama. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia oleh China telah menjadi hal yang biasa terjadi di Tibet.

Di tempat pengungsian, Delai Lama tidak tinggal diam melihat China melakukan genosida budaya negerinya. Perjuangannya mencapai kebebasan untuk Tibet tidak pernah surut. Dia berkeliling dunia mengelilingi tokoh-tokoh besar untuk mencari dukungan atas kemerdekaan negerinya. Prinsip yang selalu dipegang teguh adalah berusaha mencegah kekerasan dalam perjuangan rakyatnya meraih kemerdekaan. Dalai yang memiliki nama lain Tenzin Gyatsi ini, terus berupaya menjalin perundingan dengan China untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua pihak.

Selama bertahun-tahun, Dalai Lama dan rakyatnya tak pernah lelah dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka. Puncaknya saat peringatan 49 tahun pemborontakan Tibet terhadap pemerintah komunis China yang gagal dan menyebabkan Dalai Lama mengungsi ke India sampai sekarang pada Jumat, 14 Maret 2008 lalu. Dalam demonstrasi yang didampingi oleh para biksu itu, 100 orang diperkirakan tewas oleh tembakan ribuan tentara yang dikerahkan pemerintah China. Akibatnya kerusuhan merebak di berbagai wilayah di Tibet atas aksi anarkis yang dilakukan tentara China itu.

China memang pantas merasa berang atas hunjuk rasa yang memakan puluhan bahkan ratusan korban jiwa itu. Pasalnya pada bulan Agustus nanti China akan menjadi tuan rumah Olimpiade di Beijing sehingga kerusuhan di Tibet dikhawatirkan akan mengganggung pelaksanaan pesta olahraga sejagat itu. Bahkan bukan hal yang tidak mungkin jika terjadi pemboikotan Olimpiade oleh negara-negara penjunjung hak asasi manusia.

Obor Olimpiade yang melambangkan perdamaian memang belum lama disulut. Namun obor perdamaian yang sesungguhnya telah menyala di Tibet jauh sebelumnya. Dalai Lama sang pembawa obor itu masih teguh pada prinsipnya untuk menghindari kekerasan dan rakyatnya dalam mencapai kemerdekaan. Atas nama segala penindasan dan kekarasan, semoga obor perdamaian itu terus menyala dan mampu mempersatukan jurang pemisah baik antara Tibet dan China sendiri, maupun seluruh dunia.

 

 

 

Dawan

September 27, 2008

 

Bahasa Dawan (Uab Meto/Baikenu)

 

Pengantar

Bahasa Dawan (Uab Meto) adalah bahasa Austronesia yang digunakan oleh sekitar 600.000 penutur yang sebagian besar berdiam di bagian barat Pulau Timor, yaitu di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kotamadya Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan [TTS], Timor Tengah Utara [TTU], dan sebagian Kabupaten Belu) dan Distrik Oecusse-Ambeno (Timor-Leste), tempat dialek ini disebut Baikenu walaupun penduduk setempat menyebutnya Uab Meto atau Molok Meto.

Berdasarkan pengamatan penulis, secara umum, para penutur bahasa Dawan yang berdiam di luar “Planet Uab Meto”, khususnya di Yogyakarta, masih bangga menggunakan bahasa mereka. Bahasa dengan jumlah penutur yang cukup besar ini acapkali disebut Meto, Uab Atoni Pah Meto, Uab Pah Meto, Timor, Timorese, Timol, Timoreesch, Timoreezen, Timor Dawan, atau Rawan (http://www.ethnologue.com).

Menurut sumber tersebut, bahasa Dawan memiliki dialek-dialek berikut: Amfoan-Fatule’u-Amabi (Amfoan, Amfuang, Fatule’u, Amabi), Amanuban-Amanatun (Amanuban, Amanubang, Amanatun), Mollo-Miomafo (Mollo, Miomafo), Biboki-Insana (Biboki, Insana), Ambenu (Ambeno, Vaikenu, Vaikino, Baikenu, Bikenu, Biqueno), Kusa-Manlea (Kusa, Manlea).

Bahasa Timor ini diklasifikan sebagai Austronesian, Malayo-Polynesian, Central-Eastern, Central Malayo-Polynesian, Timor, Nuclear Timor, West. Walaupun sumber di atas tidak menyebutkan bahasa penduduk Amarasi sebagai salah satu dialek Dawan (karena telah dinyatakan sebagai bahasa terpisah dan kerabat terdekat bahasa Dawan dengan nama alternatif Timor Amarasi), penulis, berdasarkan pengalaman sebagai penutur asli bahasa Dawan yang pernah berkontak dengan sejumlah penutur dialek Amarasi, sependapat dengan Tarno dkk. (Tata Bahasa Dawan, hal.1), yang menyebutkan bahasa Amarasi sebagai dialek integral bahasa Dawan, paling tidak untuk abad ini, begitu juga dengan dialek Kusa-Manlea yang pada tataran kosakata dan bunyi

memiliki banyak kemiripan dengan dialek anak-cucu Na’i Rasi.

Hal paling menonjol yang membedakan dialek Amarasi dengan dialek lainnya, selain dialek Kusa-Manlea, adalah huruf/bunyi r (bukan l) yang digunakan untuk sejumlah besar kata. Kata-kata seperti kolo (burung), laku (ubi), lasi (hal, perihal, perkara, bahasa), plenat (perintah, titah), sulat (surat, buku) dan kalu (kalau, jika) dalam Dawan L masing-masing memiliki padanan kata koro, raku, rasi, prenat, surat dan karu dalam dialek Amarasi. Jika http://www.ethnologue.com menyebutkan dialek Kusa-Manlea sebagai salah

satu dialek bahasa Dawan, maka sewajarnya dicakup juga dialek Amarasi, karena kemiripan kedua buah dialek tersebut.

Seseorang yang bukan pakar kebahasaan, namun memiliki hubungan komunikasi yang intens dengan para penutur dari kedua dialek tersebut, secara praksis akan mengetahui dan dapat menunjukkan perbedaan-perbedaan kedua dialek ini. Sekadar contoh, penggalan dari Kitab Kejadian, pasal 11: 3 (dari Alkitab Online dalam dialek Amarasi) akan memberikan sedikit gambaran tentang kesatuan dialek Amarasi dan dialek-dialek Uab Meto lainnya. (Dialek Amarasi): Hit taktutâ fatu naan ma traem sin tpaek ter. (Dialek lain): Hit taktutâ fatu nan(e) ma tlaem sin tpaek ter.

Secara umum dialek Amarasi, Kusa-Manlea, dan Noemuti (tidak sepenuhnya “r”) sering disebut bahasa Dawan R. Karena begitu beragamnya dialek bahasa Dawan, maka lambat-laun dialek-dialek tersebut dapat berkembang menjadi bahasa-bahasa terpisah, atau sengaja diberi nama terpisah, seperti yang terjadi pada dialek bahasa Dawan Oecusse-Ambeno, yang sudah lebih sering disebut bahasa Baikenu oleh sebagian orang.

Padahal nama tersebut masih asing di telinga para penutur Dawan sendiri. Namun terlepas dari segala macam nama yang diberikan oleh “para pembaptis”, orang-orang Dawan ( Atoni Pah Meto) sendiri pada umumnya masih tetap berpandangan bahwa mereka berbahasa yang satu, walaupun ada perbedaan di sana-sini pada bahasa mereka. Pada umumnya mereka menyebut bahasa mereka dengan salah satu dari nama-nama berikut: Uab Meto, Molok Meto, Lais-Meto, atau Rais-Meto.

Lalu, seperti Shakespeare, kita akan bertanya tentang apa artinya sederet nama yang berbeda jika kesatuan masih terasakan dalam perbedaan itu. Bukankah seseorang pun dapat saja menggunakan sederet alias (nama lain) dengan muatan yang berbeda? Jadi, berdasarkan kenyataan ini, kita dapat berpendapat bahwa para Atoni Pah Meto sudah lama menerapkan moto e pluribus unum (bhinneka tunggal ika) pada alat 3 komunikasi mereka, yang juga menyandang nama Meto.

Dan kenyataan ini tidak jauh berbeda dari pengalaman bahasa Indonesia, atau bahasa Tetun di Timor-Leste, yang sampai saat ini masih memiliki banyak corak lafal, yang semuanya diterima sejauh hal itu tidak menciptakan suasana “Babel” baru. Di era modern ini, dengan kemajuan yang pesat di bidang transportasi dan komunikasi, patutlah kita berharap agar jurang perbedaan komunikasi dalam bahasa.

Dawan akan semakin menyempit, namun tidak mengikis kekhasan setiap dialek yang ada. Dan demi memupuk rasa saling pengertian di antara para penutur dialek yang sangat beragam tersebut, perlu ditumbuhkan rasa hormat yang setara (karena semua dialek itu pada hakikatnya sederajat), dan bukan cibiran atau ejekan, kepada tiap-tiap dialek.

Perbendaharaan Kata

Bahasa Dawan menyerap banyak kosakata dari bahasa Portugis (lensu, meja, kapela, dll.), bahasa Belanda (voris, fanderen, forok, pakansi, dll.), bahasa Indonesia (guru, pegawi, kantor, dll.), dan bahasa Inggris (modem, internet, blog, klik, dll.). Pada umumnya dialek bahasa Dawan di bagian Indonesia (Nusa Tenggara Timur) menyerap banyak kosakata dari bahasa Indonesia, sedangkan di bagian Timor-Leste (Enklave Oecusse-Ambeno) menyerap dari bahasa Portugis. Misalnya obrigadu/-a (terima kasih), sertidaun (surat keterangan), aosliar (pembantu, pesuruh), bispu (uskup), kantu (sudut, pojok), dll. 

Perkembangan Kepustakaan

Dapat dikatakan bahwa bahasa Dawan baru memiliki bentuk tulis ketika ada misionaris Katolik dan Protestan yang mulai giat menggunakannya untuk menghasilkan bahan tulis, baik asli maupun terjemahan, seperti buku ibadat, katekismus1, buku sembahyang dan buku puji-pujian dalam rangka mengajarkan agama kepada para penduduk setempat, yang pada masa itu lebih banyak berbicara bahasa daerah.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada misionaris yang lain, patut dicantumkan tiga nama berikut ini, yakni Pdt. Pieter (1 Kitab pelajaran agama Kristen (dalam bentuk daftar tanya jawab), KBBI Edisi ke-2 hal. 453.)

4 Middelkoop (Belanda), P. Vincent Lechovic, SVD (Slovakia), dan P. Richard Daschbach, SVD (Amerika Serikat) yang, dengan cara mereka masing-masing, telah merintis penggunakan bahasa Dawan dalam bentuk tulis.

Beberapa bahan tulis lama tersebut di atas masih dapat ditemukan di kampung-kampung, tetapi sudah sangat langka. Agaknya kelangkaan ini disebabkan oleh kerusakan dan penerbitan yang terhenti. Dewasa ini tampaknya buku-buku jenis ini lebih banyak tersedia dalam bahasa-bahasa resmi.

Diperlukan kesadaran yang tinggi dan kehendak baik untuk menggalakkan kembali penyediaan kepustakaan dalam bahasa ini guna mendukung upaya-upaya pelestariannya. Karena itu, kehadiran buku-buku, baik religius maupun sekuler, patut disambut dengan gembira.

Menurut informasi lisan yang diperoleh penulis, kini telah hadir dua buah karya terjemahan Alkitab dalam bahasa Dawan dialek TTS (Beno Alekot, Kabar Baik) dan Amarasi. Yang terakhir bahkan telah tersedia di situs internet. Tentu ini adalah kabar gembira dan pertanda baik bagi perkembangan kepustakaan Dawa

Bunyi

Bahasa Dawan memiliki huruf-huruf vokal dan diftong berikut: a, E, e, i, u, o, O, dan ai. Konsonannya terdiri atas p, b, t, k, ?, f, s, h, l, m, dan n (Tarno dkk. hal. 149). Berdasarkan pengamatan penulis, dengan masuknya sejumlah besar kata pungutan (di sini hanya diberikan satu contoh untuk setiap konsonan), muncul konsonan c (camat), d (desa), g (gaji), j (jati), r (radio), v (vitamin), w (wisuda), x (xilofon), y (Yahudi), dan z (zona).

Untuk vokal E dan O, sebaiknya menggunakan simbol è dan ò, jika perlu. Dan untuk menandai konsonan ? di akhir kata, penulis menggunakan aksen sirkumpleks (^) pada vokal di akhir kata; dan bila konsonan itu muncul di tengah kata, maka akan dilambangkan dengan tanda trema (¨) pada vokal kedua (baca bagian berikut).

                                                                  Ejaan dan Aksen

Sejauh ini belum ada ejaan (ortografi) resmi bahasa Dawan yang ditetapkan melalui sebuah kongres bahasa yang resmi pula, sebagaimana yang terjadi pada bahasa Jawa dll. Memang telah ada ejaan yang digunakan dalam naskah-naskah terjemahan, tetapi belum ada keseragaman dalam penulisan. Dari segi bunyi, bahasa Dawan mempunyai banyak tekanan pada kata-katanya. Untuk menandai tekanan-tekanan tersebut, biasanya digunakan apostrof (tanda petik), di depan, di tengah, atau di akhir kata.

Cara ini diterima, namun sebuah kata menjadi lebih panjang karena banyaknya apostrof yang digunakan. Jadi, untuk membuat kata itu lebih pendek dan lebih efisien, penggunaan aksen-aksen tertentu (yang tersedia pada papan tuts komputer internasional) yang ditempatkan di atas kata yang diberi tekanan dipandang lebih sederhana dan lebih jelas.

Sebagian aksen ini sudah lama digunakan dalam bahasa Prancis dan Portugis. Akan tetapi, aksen-aksen yang sama dalam bahasa Dawan memiliki

fungsi (untuk menandai bunyi) yang berbeda. Bandingkan contoh-contoh berikut ini:

  1. Fun-ahunut i au uhakeb ume mese’. = Fun-ahunut i au uhakeb ume mesê. Bulan lalu saya membangun sebuah rumah.

  2. In a-nmui’ oto nua. In lof na’sosa’ es. = In a-nmuî oto nua. In lof nâsosâ

es. Dia mempunyai dua buah mobil. Dia akan menjual salah satu.

  1. Au fe’ oum u’ko kota. = Au fê oum ûko kota. Saya baru saja datang dari

kota.

4. Ho tataf a’naet nato’. = Ho tataf ânaet natô. Kakak sulungmu marah.

5. In olif akliko’ nahín. = In olif aklikô. Adik bungsunya tahu.

6. Miun kle’o-kle’o! = Miun kleö-kleö! Minumlah sedikit demi sedikit!

7. Li’ana’ i nah neik palu’. = Liänâ i nah neik palû. Anak ini makan dengan

lahap.

Tekanan juga muncul di depan kata yang diawali dengan sebuah konsonan.

Tekanan ini biasanya ditandai dengan apostrof pembuka (‘). Contoh: Au nao eu tasi he tifkai/kifkai ikâ. Saya pergi ke laut untuk menjala ikan. Sedangkan untuk membentuk gabungan kata (kata majemuk) dari suatu kata yang telah mengalami metatesis (pergeseran bunyi atau penggantian tempat bunyi dalam sebuah kata) digunakan apostrof penuntup (’). Contoh: Sin esan uem’onen (dari ume [rumah] + onen [doa, sembahyang]). Mereka (berada) di rumah ibadat.

Apabila sebuah kata yang bermetatesis diikuti oleh kata sifat (atau kata lain yang berfungsi sebagai kata sifat), maka, jika dipandang perlu, dua kata tersebut dapat dihubungkan dengan tanda hubung (-). Meskipun demikian penggunaan tanda hubung ini tidak berarti kedua kata tersebut menjadi kata majemuk. Contoh: Sekau es natua uem-feü nae? Siapa yang menghuni rumah baru itu? Kata 6 majemuk yang “utuh” dibentuk dari dua kata yang tidak mengalami pergeseran bunyi yang dirangkaikan dengan tanda hubung dan dimaksudkan untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan, atau untuk menciptakan arti baru. Contoh: ainaf-amaf ibu-bapak, kedua orangtua; olif-tataf bersaudara, sisi-‘makâ makanan, loli-laku umbiumbian, dan lain-lain.

Tata Bahasa

Sebagaimana bahasa Indonesia, bahasa Dawan tidak memiliki kategori kata benda/nomina berdasarkan jenis kelamin kata/gender, misalnya maskulin (laki-laki) dan feminine (perempuan) dalam bahasa-bahasa turunan Latin pada umumnya dan maskulin (laki-laki), feminin (perempuan) dan neuter (banci) dalam bahasa Jerman.

Untuk menunjukkan jenis kelamin manusia, perlu ditambahkan kata atoni atau mone untuk laki-laki, dan bifé atau feto untuk perempuan. Misalnya, liän’atoni (anak laki-laki), anmone (putra, anak lakilaki),

liänbifé, liänfeto (anak perempuan), anfeto (putri, anak perempuan). Dan untuk binatang, ditambahkan kata mone, keso, atau nai untuk jantan, dan ainaf, einaf, oupû untuk betina. Misalnya, faif-mone (babi jantan), bijae keso (sapi jantan), beb-ainaf (itik betina), dan maun-nai (ayam jantan).

Bentuk plural/jamak dalam bahasa Dawan pada umumnya dapat dibuat dengan menambahkan huruf -sin di akhir kata. Tetapi apabila kata benda itu diikuti sebuah kata sifat, maka penanda jamak muncul setelah itu. Namun penjamakan bisa juga dilakukan dengan cara yang tidak beraturan. Hal ini wajar dalam bahasa Dawan. Misalnya, ume [rumah] menjadi ume-sin atau uemnin atau uimnin [rumah-rumah], bifé [perempuan] menjadi bifé-sin atau bifénin [para perempuan/perempuan-perempuan].

Kata kerja bahasa Dawan berubah (dikonjugasikan) menurut subjek, tetapi tidak berubah (dikonjugasikan) menurut kala (waktu) dan modus. Untuk menunjukkan kapan

suatu kegiatan terjadi, diperlukan penambahan keterangan waktu, misalnya neno i(a) [hari ini], afi [kemarin], fini [tadi malam], nokâ [besok], fun-amnenat [bulan depan], dll. Misalnya kata kerja makan untuk orang ketiga tunggal adalah nah. Secara lengkap perubahan itu digambarkan sebagai berikut: 7

Au uah : Saya makan

Ho muah : Engkau/kamu makan

In nah : Dia makan

Hit tah : Kita/Anda makan

Hai miah : Kami makan

H(e)i miah : Kamu/kalian makan

Sin nahan : Mereka makan

 

Struktur kalimat bahasa Dawan mirip dengan yang dimiliki bahasa Tetun Prasa. Misalnya,

  1. In lof nait buku ‘naek nua (Dawan), Nia sei foti livru boot rua

(Tetun); Ia akan mengambil dua buah buku besar;

  1. Hai he mnao on lele (Dawan), Ami atu bá (iha) to’os (Tetun); Kami

mau pergi ke kebun. Tetapi jika dikaji lebih jauh secara gramatikal,

bahasa Dawan lebih sulit daripada bahasa Tetun.

  Sumber:http://uabmeto.blogspot.com

 

 

Semantik

September 19, 2008

Peribahasa

1. Pengertian

Peribahasa

Peribahasa

adalah ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas padat , yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasehat, prinsip hidup atau aturan tingkal laku (KBBI)Peribahasa adalah suatu kiasan bahasa yang berupa kalimat atau kelompok kata yang bersifat padat, ringkas dan berisi tentang norma, nilai, nasihat, perbandingan, perumpamaan, prinsip dan aturan tingkah laku. adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan suatu maksud tertentu (Poedarminta, 1976 : 738 dalam Tarigan, 1986 : 156)

2. Jenis-jenis peribahasa (Tarigan, 1986: 57- 65)

a. Pepetah: peribahasa yang berisi nasehat dan ajaran

Misalnya: Datang tampak muka, pergi tampak punggung (Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula)

b. Perumpaman : ibarat, amsal: persamaan (perbandingan); peribahasa yang menandung perbandingan. Kata-kata kunci dalam perumpamaan: seperti, bagai, laksana, baik, ibarat, bagai (kan), umpama, dan macam.

Misalnya: Bagai air di daunt alas (dikiaskan kepada orang yang tidak tetap hatinya, mudah berubah-ubah jika ada orang yang menyalahkan pendiriannya.

c. Ungkapan: perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk menyatakan suatu maksud dengan arti kiasan.

Misalnya:

a. melihat bulan, datang bulan yang berarti haid

b. celaka tiga belas : selakasekali

c. buah hati : kekasih

Contoh peribahasa· Di mana bumi dipijak di sana langit di junjung
artinya : jika kita pergi ke tempat lain kita harus menyesuaikan, menghormati dan toleransi dengan budaya setempat.

· Tiada rotan akar pun jadi
artinya : tidak ada yang bagus pun yang jelek juga tidak apa-apa.

· Buah yang manis biasanya berulat
artinya : kata-kata yang manis biasanya dapat menyesatkan atau menjerumuskan.

· Tak ada gading yang tak akan retak
artinya : Tidak ada satu pun yang sempurna, semua pasti akan ada saja cacatnya

Cakupan peribahasa: pepatah, perumpamaan, pemeo, dan ungkapan.Pepatah ialah sejenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua-tua.

Contoh:
Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua. ‘ Budi baik itu tidak akan dilupakan orang.’Perumpamaan
ialah sejenis peribahasa yang berisi perbandingan. Biasanya menggunakan kata: seperti, bagai, bak, laksana, dan lain-lain.
Contoh:
Seperti air dengan tebing. ‘persahabatan yang kokoh dan tolong-menolong’Pemeo ialah sejenis peribahasa yang dijadikan semboyan.
Contoh:
Patah tumbuh hilang berganti. ’sesuatu yang hilang pasti ada penggantinya’Idiom

1. Pengertian Idiom

Idiomatik

Kata:

Frasa:

Kalimat:

Jadi makna idiomatik adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frasa, dan kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya (Chaer, 2002:75)

2. Macam-macama idiom

d. Idiom penuh: idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satua makna.

Misalnya: meja hijau : pengadilan, membanting tulang: bekerja keras, dan rumah batu (bermakna ganda) : rumah gandai atau pegadaian (makna gramatikal: rumah yang terbuat dari batu)

e. Idiom sebagian: masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri.

Misalnya: daftar hitam: daftar nama orang-orang yang dicurigai, Koran kuning: Koran yang memuat berita sensasi (Chaer, 2002:75).Contoh:
tinggi hati : sombong
ringan kepala : mudah belajar
darah daging : anak kandung
dingin hati : tidak bersemangat
uang panas : uang tidak halal
panas rezeki : sukar mencari rezeki

cuci mata = cari hiburan dengan melihat sesuatu yang indah
kambing hitam = orang yang menjadi pelimpahan suatu kesalahan yang tidak dilakukannya
jago merah = api dalam kebakaran
kupu-kupu malam = wanita penghibur atau pelacur komersial
ringan tangan = kasar atau suka melakukan tindak kekerasan
hidung belang = pria yang merupakan pelanggan psk atau pekerja seks komersil

Meja hujau (pengadilan) menjual gigi (tertawa keras-keras) kemaluan – idiom: satuan-satuan bahasa (kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan dari unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Misalnya: Majas
ialah bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.1. Simile (perumpamaan) ialah majas yang berupa perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda tetapi sengaja dianggap sama.

Biasanya dinyatakan dengan kata: seperti, bagai,sebagai, laksana, bak, ibarat, dan sebagainya.
Contoh: Bedanya seperti langit dan bumi.2. Metafora
ialah perbandingan yang singkat dan padat dinyatakan secara implisit dan langsung.
Contoh: bunga bangsa (pemuda), kuli tinta (wartawan), raja siang (matahari)3. Personifikasi ialah majas yang menggambarkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat insani (seperti manusia).
Contoh: Badai mengamuk merobohkan rumah-rumah.4. Antitesis ialah majas yang berupa paduan dua kata yang berlawanan.
Contoh: Bahasa dapat menunjukkan tinggi rendahnya bangsa.5. Alegori ialah cerita yang diceritakan dalam lambang-lambang. Alegori kerapkali mengandung sifat-sifat moral atau spiritual.

Biasanya alegori merupakan cerita-cerita yang panjang dengan tujuan yang terselubung. Alegori dapat berbentuk puisi atau prosa.
Misalnya: Kancil dan Buaya.C. Hubungan Makna
Hubungan makna antarkata dapat berwujud : sinonim, antonim, homonim, homograf, homofon, polisemi, hiponim dan hipernim (superordinat).1. Sinonim
Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki makna sama atau hampir sama.
Contoh:
a. Yang sama maknanya:
sudah – telah
sebab – karena
b. Yang hampir sama maknanya
untuk – bagi – buat – guna
cinta – kasih – sayang2. Antonim
Antonim adalah kata-kata yang berlawanan makna.
Contoh:
besar x kecil
ibu x bapak3. Homonim
Homonim ialah dua kata atau lebih yang ejaan dan lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda.
Contoh:
buku 1 : buku kaki/tangan ‘ tulang sendi’
buku 2 : buku tulis ‘kitab’4. Homograf
Homograf adalah kata-kata yang sama ejaannya, tetapi ucapan dan artinya berbeda.
Contoh:
mental 1 : mental dari sepeda ‘terpelanting’
mental 2 : mental baja ‘batin, jiwa’5. Homofon
Homofon adalah kata-kata yang ucapannya sama, tetapi ejaan dan artinya berbeda.
Contoh:
sangsi : tidak sangsi ‘ragu-ragu, bimbang’
sanksi : tidak ada sanksinya ‘ tindakan, hukuman’

6. Polisemi
Polisemi adalah satu kata yamg memiliki makna banyak.
Contoh:
a. Didik jatuh dari sepeda.
b. Harga gabah jatuh. ‘merosot’
c. Setiba di rumah dia jatuh sakit. ‘menjadi’
d. Dia jatuh dalam ujian. ‘gagal’7. Hiponim dan Hipernim
Hiponim adalah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi superordinat/ hipernim (kelas atas), sedangkan hipernim adalah sebaliknya.
Contoh:
Kata bunga merupakan superordinat, sedangkan mawar, melati, anggrek, flamboyan, dan sebagainya merupakan hiponimnya.D. Istilah
Istilah, bentuknya dapat berupa kata atau gabungan kata, tetapi mengungkapkan makna konsep sesuatu (proses, keadaan, atau khas bidang tertentu).

Ada dua kelompok istilah, yaitu istilah umum (digunakan secara umum) dan istilah khusus (digunakan dalam bidang tertentu, misalnya: pertanian, ekonomi, seni, agama, dsb.)

Makna istilah, tidak terpengaruh oleh konteks dan bermakna pasti.
Contoh:
a. Distribusi bahan bakar minyak di Bali mengalami hambatan.
Makna distribusi, ialah pengiriman atau penyaluran ke beberapa orang atau beberapa tempat (istilah umum).
b. Karya sastra menunjukkan fenomena masyarakat tempat karya itu dilahirkan.
Makna fenomena, ialah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah; fakta; kenyataan.
c. Dia berobat kepada okulis. (istilah khusus)
Makna okulis, ialah dokter mata, ahli penyakit mata.

 

Cerpen

September 12, 2008

Tembang yang Tertunda

Valerina adalah seorang wanita karier yang tak pernah menelantarkan Ary suaminya dan kedua anaknya Kezia dan Revo. Dua puluh tahun menikah, sebagai istri, ia tidak pernah mengecewakan mereka. Semua urusan rumah tangga selalu beres. Sebagai anak SMA, Kazia dan Revo tak pernah mengecewakan orang tua mereka. Segala sesuatu yang berhungan dengan masa remaja kedua anak meraka tidak menjadi problem karena Valerina dan Ary adalah orang berwawasan luas dan termasuk orang modern.

Segala urusan anak-anak menjadi urusan orangtua mereka, termasuk masalah dengan pacar kedua anaknya. Terumatama Aryanto selalu ikut campur urusan Revo dan Desi, pacarnya. Jika ada pertengkaran di antara mereka, maka yang akan menyelesaikan adalah Ary, ayah Revo. Suatu saat, karena masalah kecemburuan di antara mereka belum diselesaikan, Aryanto menemui Desi di sekolahnya. Awalnya Desi jual mahal tetapi lama-kelaman Desi telah merubah penampilannya di depan Ary. Ia merasa diperlakuakan sebagai wanita dewasa oleh Ary sebagai laki-laki dewasa yang bisa diajak berdiolog. Mula-mula tentu saja maksud Aryanto hanya pertemuan itu, tetapi akhirnya pertemuan mereka berulang-ulang, dari pertemuan rahasi mereka, jatuh ke pertemuan berikutnya. Ternyata Desi lebih tertarik pada lelaki yang telah matang, bukan anak kemarin sore seperti Revo, putra Ary. Sekarang Desi tidak peduli lagi Revo.

Gosip tetangga sudah menyebar tentang hubungan Ary dengan pacar anaknya. Tapi Valerina tidak percaya, suaminya tidak mungkin menyeleweng karena mereka saling mencinta. Tapi suatu hari Revo pulng dengan wajah merah padam. “Gosip itu benar Ma, bapak selingkuh dengan pacar Revo, bapak menghamili Desi” kata Revo menahan amarahnya. Benar, dikianati kekasih itu menyakitkan, tapi ditipu oleh ayah yang menjadi idolanya memang meremukan.

Berawal dari problem itu, setelah mengelesaikan jenjang SMA, Revo ingin memulai hidup barunya dengan memutuskan melanujutkan studinya di Swiss, di universitas yang pernah di lewati Valeria, ibunya. Kesempatan itu juga digunakan Valerina untuk menenangkan diri dari persoalan yang sedang menimpa rumah tangganya. Tanpa sengaja, di sebuah restoran ternama di Swiss, Valerina bertemu dengan Tristan Putradewa cinta pertamanya waktu semester V universiatas perhotelan 19 tahun lalu, yang telah bercerai dengan istrinya beberapa tahun yang lalu. Tentu penampilannya sudah berubah, tidak seperti sembilan belas tahun yang lalu. “Aku sudah menyiapkan cincin untakmu sembilan belas tahun yang lalu” gumam Tristan sambil menahan emosinya. Setiap tahun selama empat tahun berturut-turut akau membawa cincin itu ke sini. Ketika kamu tidak muncul, kutukar cincin itu dengan cincin kawin istriku. Tetapi bahkan sedang memakaikan cincin itu di jarinya aku masih membayangkan dirimu.

Valerina tak mungkin melupaka semua kenangan bersama Tristan. “Kembali ke sini tahun depan, Val, akan kita lanjutkan tembang kita yang tertunda.” Ucapan Tristan masih segar di ingatan Valerina. “Maafkan aku Tris, aku baru kembali setelah dua puluh tahun menghilang” keluh Valeriana dalam hati.

Dua puluh tahun yang lalu Valerina dan Tristan mengikrarkan janji untuk bertemu kembali setahun kemudian di Swiss. Tetapi setelah kembali ke Jakarta, Valerina tidak dapat menepati janjinya, ia malah menikah dnegan Aryanto dan dikaruniai dua orang anak. Dua puluh tahun kemudian ketika suaminya mengkhianatinya, Valerina kembali ke Swiss untuk menyembuhkan sakit hatinya dan di sanalah dia bertemu dengan Tristan yang dapat mengembalikan kepercayaan dirinya.

Sementara di Jakarta, untuk mempertahankan kerukunan keluarganya, sebagai pengacara yang kaya, Ary telah meloloskan diri dari Desi dengan membayar salah satu bawahannya untuk mengakui Desi sebagai istrinya dan anak dalam kandungan Desi sebagai anaknya di depan orangtua Desi. Namun segala usaha Ary untuk memulihkan kembali kerukunan keluarganya sia-sia belaka karena Valeriana telah bertemu dengan cinta sejatinya dan disanalah mereka melanjutkan tembang mereka yang tertunda.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, Valerina kembali ke Jakarta mengurus permohonan cerai mereka. “Kalau mama tanya, Papa mau bercerai atau tidak, jawabannya pasti tidak. Tapi kalau mama mencinta laki-laki itu, Papa rela kehilangan Mama dan anak-anak. Mama boleh menikah dengan dia, kalau itu memang yang mama inginkan.” Kata Aryanto dengan mata berkaca-kaca karena ia sangat mencinta istri dan anak-anaknya.

Valerina sebenarnya tidak tega melakukan hal demikiann kepada suaminya tetapi demi masa depan Desi, yang katanya semua urusan telah beres, tetapi ternyata tidak segampang membalik telapak tangan, menjaga perasaan Revo, dan nama baik mereka, Valerina mengambil langkah itu. Singkat cerita, urusan penceraian selesai dan Valerina bersama kedua anaknya kembali ke Swiss dan memulai hidup barunya bersama Tristan Putradewa, yang telah menunggunaya selama sembilann belas tahun.

Tanggapan saya : novel ini termasuk novel yang modern dengan gaya bahasanya lugas dan mengikuti perkembangan zaman. Ceritanya menarik dan mudah karena pemilihan kata-katanya sederhana.

Kesan saya: novel ini cukup menarik karena menceritakan apa yang sering terjadi di masyarakat, khususnya di Indonesia, cerai adalah hal yang biasa. Dengan membaca novel ini, pembaca dapat belajar sesuatu tentang hidup ini, terutama bagaimana membina relasi yang dalam kelurga.

Semantik

September 5, 2008

Makna Idiomatikal dan Peribahasa

A. Makna Idiomatikal
1. Pengertian
Idiomatik – idiom: satuan-satuan bahasa (kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan dari unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Misalnya:
Kata: kemaluan
Frasa: menjual gigi (tertawa keras-keras)
Kalimat: Meja hujau (pengadilan)
Jadi makna idiomatik adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frasa, dan kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya (Chaer, 2002:75)
2. Macam-macama idiom
a. Idiom penuh: idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satua makna.
Misalnya: meja hijau : pengadilan, membanting tulang: bekerja keras, dan rumah batu (bermakna ganda) : rumah gandai atau pegadaian (makna gramatikal: rumah yang terbuat dari batu)
b. Idiom sebagian: masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri.
Misalnya: daftar hitam: daftar nama orang-orang yang dicurigai, Koran kuning: Koran yang memuat berita sensasi (Chaer, 2002:75).
B. Peribahasa
1. Pengertian
Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan suatu maksud tertentu (Poedarminta, 1976 : 738 dalam Tarigan, 1986 : 156)
Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas padat , yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasehat, prinsip hidup atau aturan tingkal laku (KBBI)
2. Jenis-jenis peribahasa (Tarigan, 1986: 57- 65)
a. Pepetah: peribahasa yang berisi nasehat dan ajaran
Misalnya: Datang tampak muka, pergi tampak punggung (Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula)
b. Perumpaman : ibarat, amsal: persamaan (perbandingan); peribahasa yang menandung perbandingan. Kata-kata kunci dalam perumpamaan: seperti, bagai, laksana, baik, ibarat, bagai (kan), umpama, dan macam.
Misalnya: Bagai air di daunt alas (dikiaskan kepada orang yang tidak tetap hatinya, mudah berubah-ubah jika ada orang yang menyalahkan pendiriannya.
c. Ungkapan: perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk menyatakan suatu maksud dengan arti kiasan.
Misalnya:
a. melihat bulan, datang bulan yang berarti haid
b. celaka tiga belas : celaka sekali
c. buah hati : kekasih

Filsafat

September 5, 2008

Lapangan Penyelidikan Filsafat

Beberapa pandangan tentang filsafat
Selama sejarah peradaban Barat, filsafat dipandang meliputi setiap hal, mulai dari sikap pribadi orang terhadap dunia sekitarnya sampai dengan seluruh jumlah pengetahuan manusia. Aristoteles menulis tentang metafisika, etika, politik, biologi, fisika, bahasa dan sebagainya. Sedangkan menurut Hoking, filsafat adalah suatu penelitian tentang kepercayaan, yakni kepercayan sebagai paham yang kita hayati yang berbeda dengan paham yang kita pertimbangkan. Upaya mengadakan kritik berulang-ulang terhadap kepercayan kita yang utama mendorong kita kepada kepercayaan yang menyeluruh mengenai dunia kita hidup sehingga filsafat menjadi penafsiran yang bersifat umum mengenai pengalaman. Hal ini merupakan usaha kita dan bertujuan untuk melukiskan secara benar satu penyelidikan yang kritis, logis, dan tepat mengenai kategori-kategori. Karena pada akhirnya keharusan untuk memahami itulah yang mendorong kita ke arah filsafat, dan apapunn penafsiran manusia terhadap dunia, bagi mereka hal itu merupakan filsafat, baik mengakuinya maupun tidak. Hal ini memberikan gambarann bahwa filsafat merupakan suatu percobaan. Katakanlah , untuk keluar dan berada di atas dunia yang kita diami, serta memandang dunia itu dari sudut lebih tinggi. Pandangan ini berhubungan erat dengan Spinoza, yang berpendapat bahwa seorang filsuf harus melihat segala hal ‘sub specie aetarnitalitas’ yakni dari segi keabadian.
Filsafat dan peradaban
Menurut John Dewey (1859-1952), filsafat dari suatu masa harus dipandang sebagai suatu ungkapan perjuangan manusia di dalam usaha yang sudah lama dan selalu baru, untuk menyelesaikan sebagian terbesar tradisi yang membentuk akal pikiran manusia yang sesungggunya (pada suatu waktu) dengan kecenderungan-kecenderungan ilmiah serta hasrat-hasrat politik yang baru dan yang tidak cocok dengan otoritas-otoritas yang telah diterima. Bagi Dewey, filsafat memiliki dua segi: filsafat melihat ke masa yang lampau tetapi juga ke masa yang akan datang.
Filsafat sebgai usaha mengetahui
Masih berhunungan dengan konsep Aristoteles, Jacques Maritain berpendapat bahwa filsafat bukanlan suatu ‘kebijaksanaan’ mengenai tingkah laku atau kehidupan praktik yang berupa perbuatan yang baik. Tetapi filsafat adalah suatu kebijaksanaan dan sifatnya pada hakekatnya berupa usaha mengetahui. Dalam hal ini, arti yang paling penuh dan tegas, yaitu mengetahui dengan kepastian dan dapat mengatakan mengapa barang sesuatu itu seperti keadaannya dan tidak dapat lain dari pada itu. Artinya mengetahui berdasarkan sebab-sebabnya.
Jadi Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang dengan cahaya kodrati akal budi mempelajari sebab-sebab pertama atau asas-asas tertinggi dari segala sesuatu. Dengan kata lain, filsafat merupakan ilmu pengetahuan tentang hal-hal pada sebab-sebabnya yang pertama, sejauh sebab-sebab ini termasuk dalam ketertiban alam.
Filsafat sebagai usaha penilaian
Menurut Ducasse, ada tujuh hipotesa mengenai hakekat dan metode filsafat yang akhir-akhir ini dibicarakan, dan yang kedelapan adalah tambahan Ducasse. Menurut Ducasse, filsafat adalah suatu usaha mencari pengetahuan dan pengetahuan yang dicarinya adalah mengenai fakta-fakta yang dinamakan penilaian. Penilaian terjadi jika kita menggunakan kata-kata sifat, seperti baik dan buruk, susila dan tidak susila, sehat dan khilaf, dapat dipercaya dan menghayal, sah dan salah dan sebagainya. Dengan kata lain Ducasse memandang filsafat sebagai suatu usaha mencari makna yang kita berikan bila kita membuat penilaian-penilaian tersebut.
Melakukan analisis terhadap pertanyaan
1. Makna Subyektif
Dalam arti tertentu, hal ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Ducasse, yaitu bagaimana pandangan orang tentang perkataan filsafat. Dipandang dari sudut tertentu setiap orang berhak untuk membuat defenisi mengenai suatu perkataan yang disukainya, asalkan secara runtut selanjutnya ia memakai perkataan tadi dalam makna seperti yang telah diberikannya. Oleh karena itu untuk menjawab pertanyaan apa yang dimaksud dengan filsafat, yaitu dengan mendapatkan jawaban dari orang yang ditanya.
2, Makna operasional
Langkah pertama untuk membuat defenisi tentang filsafat adalah dengan menunjukkan masalah-masalah serta keragua-raguan tersebut yang juga merupakan langkah pertama dalam penyelidikan yang sesungguhnya tentang filsafat itu.
3. Makna obyektif
Filsafat diamanapun dijalankan oleh siapapun diusahakan, mempunya defenisi yang selalu sama.
Cabang-cabang filsafat
Para pendidik modern membagi mata pelajaran menjadi dua yaitu mata pelajaran mengenai alat yaitu mata pelajaran yang mengajarkan alat bagi mata pelajaran lain. Bahasa misalnya menjadi mata pelajaran alat yang memungkinkan kita memperoleh keterangan lain. Dan yang kedua adalah mata kuliah mengenai isi yaitu mata pelajaran yang mengajarkan fakta-fakta, bahan-bahan atau informasi.

Logika sebagai mata pelajaran mengenai alat
Pelajaran mengenai alat di dalam filsafat dinamakan logika. Logika mempelajari teknik-teknik untuk memperoleh kesimpulan dari suatu perangkat bahan tertentu. Kadang-kadang logika diberi defenisi sebagai ilmu pengetahuan tentang penarikan kesimpulan. Logika dibagi dalam dua cabang utama:
1. Logika deduktif: berusaha menemukan aturan-aturan yang dapat digunakan untuk menark kesimpulan yang bersifat keharuasan dari alat premis tertentu atau lebih. Memperoleh keharusan yang lebih mudah yaitu bila didasari atas sususnan proposisi-proposisi, dan akan lebih sulit bila yang diperhatikan adalah isi proposisi-proposisi tersebut.
2. Logika induktif: mencoba untuk menarik kesimpulan tidak dari susunan proposisi-proposisi, melaikan dari sifat-sifat seperangkat bahan yang diamati.
Ruang gerak induktif:
1. Dari satu perangkat yang diamati secara khusus menuju kepada pernyataan yang bersifat umum mengenai semua fakta yang bercorak demikian.
2. Dari suatu perangkat akibat tertentu menuju kepada satu sebab atau sebab-sebab dari akibat-akibat tersebut.
Bagi logika deduktif, ada perangkat aturan-aturan yang dapat di terapkan hampir-hampir secara otomatis, sedangkan bagi logika induktif, tidak ada aturan-aturan yang demikian, kecuali hukum-hukum probalitas.
Metodologi
Metodologi adalah ilmu pengetahuan atau mata pelajaran tentang metode, khususnya metode ilmiah. Metodologi mempelajari hal-hal seperti sifat observasi, hipotesa, hukum, teori, susunan eksperimen, dan sebagainya.
Pendekatan terhadap cabang-cabang filsafat
Ada banyak cara yang digunakan untuk mengadakan pendekatan filsafat. Theles, seorang filsuf Yunani kuno mengajukan pertanyaan: “Apakah yang menjadi substansi terdalam dari segala sesuatu?” Mungkin pertanyaan itulah yang memungkinkan orang untuk belajar filsafat. Di lain pihak Socrates mengajukan pertanyaan: “Apakah manusia itu dan apakah yang merupakan kebaikan tertinggi bagi manusia?” Agustinus bertanya: “Apakah Tuhan itu dan bagaimana hubungan manusia dengan Dia?” dan bagi sebagian orang, pertanyaan ini sangat penting sekali. Sementara Khant ingin mengetahuai: “Bagaimanakah dimungkinkan adanya pengetahuan?” Ada juga pertanyaan lain, Apakah negara itu? Apakah pengetahuan itu? Menjawab pertanyaan itu berarti sangat cepat terlibat dalam semua pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Metafisika
Metafisika berasal dari bahasa Yunani, meta ta physika, yang berarti hal-hal yang terdapat sesuada fisika. Aristoteles mendefenisikannya sebagai yang ada yang dilawankan misalnya dengan ‘yang ada’ sebagai yang digerakan atau ‘yang ada ‘sebagai yang dijumlahkan. Metafisika dapat didefenisikan sebagai bagian manusia yang bersangkutan dengan pertanyaan menjadi hakekat ‘yang ada’ yang dalam.
Ontologi dan kosmologi
Kosmologi berasal dari bahasa Yunani, cosmos dan logos yang masing-masing berarti ‘alam semesta yang teratur’ dan penyelidikan tentang atau lebih yang tepatnya asas-asas rasional. Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘yang ada’ dan sekali lagi, logos. Ontologi membicarakan asas-asas rasional dari yang ada sedangkan kosmologi membicarakan asas-asas rasional yang ada-yang teratur. Ontologi berusaha untuk mengetahui esensi terdalam dari ‘yang ada’ sedangkan kosmologi berusaha mengetahui ketertibannya serta susunannya. Materialisme adalah ajaran ontologi yang mengatakan bahwa ‘yang ada’ yang terdalam bersifat material. Evolusi sebagai teori kefilsafata, merupakan teori kosmologi karena teori ini memberitahukan kepada kita bagaimana timbulnya ketertiban yang ada sekarang ini.
Epistemologi, filsafat pengetahuan
Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal mula, susunan, metode-metode, dan sahnya pengetahuan. Pertanyaan mendasar yang dikaji adalah: Apakah mengetahui itu? Apakah yang merupakan asal mula pengetahuan kita? Bagaimana kita mengetahui bila kita mempunyai pengetahuan? Bagaimanakah cara membedakan pengetahuan dengan pendapat? Apakah yang merupakan bentuk pengetahuan itu? Corak-corak pengetahuan apakah yang ada? Bagaimana cara kita memperoleh pengtahuan? Apakah kebenaran dan kesalahan itu? Kelompok pertanyaan itu pertama adalah mengacu kepada sumber pengtahuan kita. Kedua merupakan masalah semantik yakni menyangkut hubungan antara pengetahuan kita dengan obyek pengetahuan tersebut. Epistemologi sangat erat hubungannya dengan kosmologi.
Biologi kefilsafatan
Biologi kefilsafatan membicarakan persoalan-persoalan mengenai biologi. Biologi kefilsafatan mencoba untuk menganalisis pengertian-pengertian hakiki dalam biologi dengan cara hampir sama sebagaimana fisika kefilsafatan menganalisis pengertian-pengertian tentang fisika.
Psikologi kefilsafatan
Psikologi filsafat dibagi dua lapangan psikologi: psikologi sebgai ilmu dan psikologi sebagai kefilsafatan. Keduanya ini tidak pernah terpisahkan hanya merupakan segi-segi yang berbeda dari masalah yang sama. Psyche dapat diterjemahkan sebagai jiwa atau nyawa.
Antropologi kefilsafatan
Ini bersifat ontologi dan kosmologi. Socrates mengatakan :”Kenalilah diri sendiri.” Antropologi kefilsafatan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang manusia. Apakah hakekat terdalam manusia? Antropologi kefilsafatan juga tentang makna sejarah manusia.
Sosiologi kefilsafata
Ini membahas tentang filsafat sosial dan filsafat politik. Kita mengemukakan pertanyaan tenteng hakekat masyarakat serta hakekat negara.
Etika
Dalam malakukan pilihan kita mengacu pada istilah-istilah seperti baik, buruk, kebajikan, dan kejahatan. Etika dapa dasarnya berbeda dengan ontologi. Dalam ontologi kita berusaha untuk memperoleh pertanyaan-pertanyaan bersifat fakta, sedangkan dalam etika kita berusaha memperoleh kesimpulan bersifat norma. Tetapi tidak berbeda jauh karena di dalam ontologi kita juga mencari norma-norma yang menjadi dasar apakah sesuatu itu bersifat nyata atau tidak.
Estetika
Estetika adalah cabang filsafat yang membicarakan defenisi, susunan dan peranan keindahan, khususnya di dalam seni. Seorang filsuf ingin mengetahui: Apakah keindahan itu? Apakah hubungan antara yang indah dan yang baik? Dan sebagainya yang berkaitan dengan keindahan.
Filsafat agama
Dalam filsafat agama, seorang filsuf akan mencari jawaban atas pertanyaan: Apakah agama itu? Apakah yang Anda maksudkan dengan istilah Tuhan? Apa bukti-bukti tentang Tuhan sehat itu menurut logika? Bagaimanakah caranya kita mengetahui Tuhan?
Saling hubungan diantara cabang-cabang filsafat
Dalam arti tertentu kita telah membuat suatu lingkaran , karena pertanyaan mengenai keabadian hidup mengacu kepada hakekat jiwa yang pada gilirannya mengacu pada hakekat kenyataan, dan semuanya menimbulkan pertanyaan mengenai pengetahuan. Di dalam agama, kepercayaan acapkali dilawankan dengan pengetahuan sebagai suatu bantuan, suatu tambahan atau sebagai cara baru untuk mengetahui. Sama hal

Filsafat

September 5, 2008

Filsafat Ilmu Pengetahuan

A. Pengertian Filsafat
Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan.
Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin, dan menerbitkan dan mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.
Keinginann kefilsafatan adalah pemikiran secara ketat.
Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran suatu masalah, dan penyususnan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan. Pada hendaknya perlu diingat bahwa kegiatan yang dinamakan kegiatan kefilsafatan itu sesungguhnya merupakan perenungan atau pemikiran.
Pemikiran jenis ini berupa meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan yang lain, menanyakan “mengapa” dan mencari jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang tersedia pada pandangan pertama. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keruntutan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar kita dapat mengetahui pemahaman.
Filsafat merupakan pemikiran secara sitematis
Kegiatan kefilsafatan adalah merenung. Perenungan kefilsafatan adalah percobaan untuk menyususn suatu sistem pengtahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendiri. Perenungan kefilsafatan adalah sejenis percakapan yang dilakukan dengan diri sendiri atau dengan orang lain. Itulah sebabnya mengapa seorang filsuf tampak selalu berhubungan dengan polimik, dan tampak lebih menaruh perhatian kepada usaha merusak dan menentang dibandingkan dengan usaha membangun. Dalam arti tertentu perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai pertentangan di antara alternatif-arternatif yang masing-masing berpegangan pada unsur yang penting dan kemudian mencoba untuk mengujinya pada pengalaman, kenyataan empirik, dan akal. Hal ini mudah ditunjukkan dalam masalah filsafat pengetahuan.
Ada dua pendapat yang mengatakan bahwa:
1. Pengetahuan diperoleh hanya melalui pengalaman, yang disebut pengikut empiris.
2. Pengetahuan diperoleh hanya melalui akal, yang disebut pengikut rasionalisme.
Kedua pendapat ini dapat diuraikan secara panjang lebar sampai salah satu diantaranya terbukti salah atau sampai tercapai sintesa. Soalnya ialah uraian-uraian itu berusaha menyingkirkan kesalahan-kesalahan dan hal-hal yan tidak runtut dan menyerahkan pekerjaan untuk menciptakan sistem-sistem kepada orang lain.

B. Ciri-ciri pemikiran filsafat
Suatu bagan konsepsional
Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyusun suatu bagan konsepsional. Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi dan abstraksi dari pengalaman tentang hal-hal dan proses-proses satu demi satu. Karena itu filsafat merupakan pemikiran tentang hal-hal serta proses-proses dalam hubungan yang umum. Di antara proses-proses yang dibicarakan adalah pemikiran itu sendiri. Filsafat merupakan hasil menjadi – sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri sebagai pemikir dan menjadi – kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di dalam dunia yang dipikirkannya.
Sebagai konsekuensinya, seorang filsif tidak hanya membicarakan dunia yang ada di sekitarnya dan dunia yang ada di dalam dirinya, melainkan juga membicarakan perbuatan berpikir itu sendiri. Ia tidak hanya mengetahui hakekat kenyataan dan ukuran-ukuran untuk melakuakan verifikasi terhadap pernyataan-pernyataan mengenai segala sesuatu, melainkan ia berusaha menemukan kaidah berpikir itu sendiri. Kapankah pemikiran itu membawa kita kepada kesimpulan yang sah?
Saling berhubungan antara jawaban-jaban kefilsafatan. Kesukaran menyangkut pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan pemikiran tentang proses pikiran, akan segera muncul setelah seseorang berusaha menjawab salah satu diantaranya, sebab usaha menjawab pertanyaan yang satu bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Dalam usaha untuk mengatakan apa itu kebenaran, orang harus berusaha menemukan apakah yang dinamakan kenyataan. Untuk mengatakan apakah yang dinamakan kebajikan, orang terpaksa harus mencari penyelesaian mengenai pernyataan tentang kemerdekaan kehendak yang mau tidak mau membawa kita pada pernyataan tentang susunan dunia tempat kita hidup. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan merdeka dan karenanya bersifat bijak jika dunia ini merupakan suatu sistem yang serba tentu (deterministik) dan jika manusia tidak lebih daripada sesuatu yang tidak berarti yang ditentukan oleh hukum-hukum alam yang tetap dan berlaku tiada putus-putusnya?
Contoh ini dapat dari buku Plato yang menggambarkan Socrates sedang disertai teman-temannya dalam usaha menemukan jawaban atas pertanyaan “Apa yang dimanakan ‘keadilan’ itu?” semua itu dilakukan dalam bentuk percakapan dan dengan dalam memikirkan secara mendalam masalah-masalah yang terkandung di dalamnya.
Sebuah sistem filsafat harus bersifat koheren.
Perenungan kefilsafatan berusaha untuk menyususn suatu bagan yang koheren (runtut), yang konsepsional. Bagan konsepsional yang merupakan hasil perenungan kefilsafatan haruslah bersifat runtut.
Filsafat merupakan pemikiran secara rasional
Perenungan kefilsafatan haruslah menyususn suatu bagan konsepsioanal yang bersifat rasional. Maksudnya adalah bagan yang bagian-bagiannya secara logis berhubungan satu dengan yang lain yaitu bagan yang berisi kesimpulan yang diperoleh dari premis-premis dan bagan yang premis-premisnya ditetapkan dengan baik. Ilmu ukur merupakan suatu contoh mengenai sistem yang rasional.
Tetapi filsafat tidak dimulai dari pengertian-pengertian yang diterima oleh akal sehat sebagaimana ilmu ukuran Euclides. Di samping itu, filsafat biasanya tidak mengambil bentuk seperti sistem yang dibuktikan secara ketat semacam itu. Filsafat dimulai dari bahan-bahan yang ditetapkan secara baik dan berusaha mengambil kesimpulan dari bahan-bahan tersebut secara logika.
Didalam filsafat salah satu kesukaran yang muncul adalah usaha untuk mengadakan uraian secara geometrik, bahwa defenisi yang diajukan justru perlu memperoleh kritik. Dalam arti tertentu, filsafatt memang tidak lain daripada usaha mencari penjelasan dan kecermatan secara gigih yang dilakukan secara terus-menerus. Ditinjau dari sudut pandang ini, filsafat mempunya sifat kritik yang luar biasa. Tetapi filsafat juga berusaha bersifat konstruktif dan beralih kepada usaha malakukan rekonstruksiterhadap alam semesta secara spekulatif.
Filsafat senantiasa bersifat menyeluuruh (komprehensif)
Suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif, dalam arti tidak ada satu pun yang ada di luar jangkauannya. Descartes (filsuf Prancis abad XVII), merasa bahwa jika ia dapat menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan dan kemudian dapat membuat deduksi kebenaran yang logis, maka ia dapat menerangkan dunia. Tetapi ia sendiri mengatakan, perlu menanyakan ‘apakah kebenaran itu’ agar ia mendapat suatu pengetahuan yang tidak dapat diragukan lagi.
Suatu pandangan dunia
Secara singkat, perenungan berusaha memahami segenap kenyataan dengan jalan menyususn suatu pandangan dunia yang memberikan keterangan tentang dunia dan segala hal yang ada di dalamnya.
Suatu defenisi pendahuluan
Sesua penjelasan panjang lebar, filsafat merupakan suatu defenisi operasional. Oleh karena itu, filsafat adalah hasil perenungan kefilsafatan. Perenungan kefilsafatan tidak berusaha menemukan fakta-fakta, filsafat menerimanya dari mereka yang mendapatkannya. Tetapi fisafat selalu memadai. Filsafat membicarakan fakta-fakta dengan dua cara:
1. Filsafat mengajukan kritik atas makna yang dikandung fakta-fakta
2. Filsafat menarik kesimpulan-kesimpulan yang bersifat umum dari fakta-fakta.
Seorang filsuf tidak pernah menerima suatu fakta secara dangkal. Seorang ahli fisika mengatakan “Kecepatan ialah jarak dibagi waktu.” Tetapi bagi seorang filsuf menanyakan “Apakah jarak itu? Apakah waktu itu? Dalam arti tertentu filsafat bersifat mendasar ketimbang suatu ilmu manapun juga.

Cerpen

September 5, 2008

Topeng


Sudah lama Leni merasa sangat bosan tersenyum. Padahal statusnya sebagai biarawati menuntutnya selalu tersenyum. Pikir-pikir, Leni yang biasa dipanggil Sr Leni memutuskan untuk membeli sebuah topeng senyum. Tentu saja bagi Sr Leni sarana untuk mendapatkan topeng senyum itu bukan persoalan yang terlalu sukar karena relasinya baik dan banyak donator. Sementara topeng seperti itu bisa diperoleh di toko-toko, di salon-salon, bahkan di pedagang kaki lima. Tergantung jenis topeng, harga, dan kualitasnya.
Yang dibutuhkan hanyalah sedikit waktu untuk memilih topeng yang pas, yang mengesankan keaslian, yang tidak mendatangkan efek samping, dan yang cocok baginya. “Jangan berdiskusi soal harga. Asal situ mau nyimpan rahasia, berapapun tak jadi soal. Tahu sama tahulah,” kata Sr Leni. Itulah sebabnya setiap ada waktu, ia selalu mencari topeng yang dibutuhkannya.
Suatu sore Sr Leni memasuki sebuah toko besar. “Mau cari yang bagaimana Bu?” seorang menyapanya dengan senyum manis. Entah kenapa, tiba-tiba Sr Leni merasa ia tidak disenyumi secara wajar. “Jangan-jangan ia memakai topeng senyum” pikir Sr Leni. “Ah, tidak. Tidak. Mau lihat-lihat dulu” balas Sr Leni dengan gugup dan juga tersenyum.
“Kalau untuk pesta topeng, ada yang baru Bu. Selama ini orang-orang menggunakan topeng klasik seperti wajah singa, kelelawar, buaya, kadal, anjing dan sejenisnya. Tapi sekarang ada yang lumayan baru. Mumpung lagi ngetren Bu. Pokoknya asyiklah Bu,” kata penjaga toko itu sambil tertawa. Sr Leni juga tertawa. “O, iya juga ya. Persis sekali. Bagus. “Tapi…” Sr Leni sengaja menghentikan kalimatnya. “Saya bukan cari yang seperti itu. Saya sedang mencari yang lebih special dari itu. Wajah yang sama sekali tidak dikenal. Maksud saya, eehm, wajah yang mirip dengan wajah saya sendiri. Dan….”
“O, kalau cuma itu, mudah Bu.” Sambung pemilik toko. “Saya berharap memang begitu. Jangan lupa, wajah itu dalam keadaan tersenyum.” “Jangan khawatir Bu. Topeng itu memang lebih khusus. Tempatnya juga di ruang khusus. Mari ikut saya. Sr Leni dibawa ke ruang atas dengan menaiki escalator.
“Nah, sekarang Ibu tinggal pilih sendiri. Mana yang paling cocok dengan wajah Ibu. Pada prinsipnya topeng-topeng ini fleksibel kok Bu. Topeng ini tidak terlalu merubah struktur wajah pemakainya. Tergantung topeng apa yang akan dipilih. Kalau yang ini, mengesankan agak tertawa dan membuat mata agak melebar.Memberi kesan intelek bagi pemakainya.” “Tidak. Saya tidak butuh yang membari kesan intelek. Nanti saya tidak disukai piko (pimpinan kominitas) saya.” “Oke. Tidak masalah. Nah, yang ini yang memberi kesan senyum tapi dingin. Sangat cocok bagi yang merasa kaya, apalagi, maaf, bagi mereka yang keturunan bangsawan, keturunan darah biru.” “Aduh, bagaimana ya. Begini saja, saya membutuhkan topeng senyum yang mengesan kejujuran dan kepolosan,” potong Sr Leni. “Oh itu. Sebentar ya Bu. Saya cek, apakah masih ada. Soalnya kebetulan topeng seperti itu memang laku sekali.” “Semoga ada. Saya ingin seperti diri saya dulu, ketika masih remaja, tetapi dengan wajah selalu tersenyum.” Terbersit juga ketidaknyamanan di hatinya bahwa ia akan menjadi seorang penipu. Tak lama kemudian penjaga toko datang dengan membawa sebuah bungkusan kecil. “Ibu orang yang beruntung. Kebetulan masih tersisa. Barangkali Ibu perlu memeriksanya atau mencobanya.” “Tidak perlu. Tidak perlu. Cukup saya lihat saja.” jawab Sr Leni.
Sejak memiliki topeng senyum itu, Sr Leni sungguh terhindar dari kerja rutinnya. Ia memutuskan untuk tidak memberitahukan rahasianya kepada seorangpun. Semua urusan yang berkaitan dengan topeng senyumnya itu dia selesaikan di kamar mandi. Topeng itu dipakai pada pagi hari sehabis mandi dan baru dibuka ketika akan tidur malam. Dampak awal yang paling merasakan perubahan Sr Leni tentu di komunitasnya sendiri. Misalnya suatu pagi pikonya menyapa, “Wah, kok kelihatan bahagia sekali. Ada berita gembira ya?”. Bahkan sesama suster dalam komunitas pun berujar, “Kalau tampang Sr Leni kaya gitu, kan enak dilihat.” Tapi teguran-teguran seperti itu tidak ditanggapai Sr Leni dengan serius. Ia hanya menjawab, “Ah, kok mau tahu saja sih urusan orang.”
Pekerjaan Sr Leni lebih lancer. Banyak orang menjadi lebih kerasan bila berurusan dengannya. Setiap berpapasan dengan orang, selalu saja orang itu menegur Sr Leni sambil tersenyum, seolah membalas senyum Sr Leni. “Pagi Sr, hari yang indah.” Setiap orang yang bertemu dengan Sr ini, pasti memujinya bahwa Sr Leni polos, murah hati, flaksibel, dan cepat bergaul. “Dia cocok sebagai biarawati.” kata seorang ibu yang berkunjung ke biara. Tapi di lain waktu, harus diakui juga bahwa tidak jarang ia lupa bahwa ia sedang tersenyum. Ketika ia sedang terkantuk-kantuk di sebuah lift, seorang koleganya menegurnya, “Sr Leni kelihatan tambah muda saja. Seperti masa puber.” Sr Leni tergagap. Ia merasa tak siap membalas canda temannya.
Suatu siang Sr Leni marah besar kepada calon suster (novis) yang tidak beres dalam pekerjaannya. “Sudah saya bilang, pekerjaan itu harus dibereskan segera. Supaya anda tahu, dengan kelalaian anda, semua pekerjaan tertunda. Akan saya laporkan kasus ini kepada magistramu, dan sebagai resikonya, anda siap-siap angkat kaki dari sini.” Sr Leni berharap sang novis itu akan mati ketakutan dan membungkuk-bungkuk untuk meminta maaf. Di luar dugaan, novis itu kelihatan senyum-senyum saja. Betul calon suster itu merasa bersalah dan dia dalam keadaan dimarahi, hanya marah Sr Leni baginya lebih sebagai teguran sayang. Seperti seorang bapak yang sedang marah kepada anaknya yang ketahuan tidak mengerjakan tugasnya. “Wah, bagaimana lagi. Sudah terlanjur, maaf Sr.” jawab sang novis dengan senyum. “Maaf, maaf. Kurang ajar, setan.” Muncul juga keraguan dari sang novis, “Jangan-jangan sr Leni marah benar, tapi wajah Sr. Leni tak bisa menipu. Wajah adalah cermin perasaan, cermin hati. O…Sr Leni tak marah, hanya formalitas saja, biar kelihatan bertanggung jawab, biar dianggap berwibawa. Orang yang memiliki wajah seperti Sr Leni tidak mungkin marah sungguhan.”
Yang tidak kalah bingung dan heran justru Sr Leni denga dirinya sendiri. Mengapa marahnya tidak membuat calonnya ketakutan. Dulu, jangan kan marah dengan berteriak segala. Cukup dengan diam dan memperlihatkan wajah yang merengut, telah membuat semua calon tak memiliki nyali untuk mendekatinya, apalagi menatapnya. Sekarang semuanya menjadi lain. Ia berteriak setinggi langit pun calonnya dengan tenang dan senyum menghadapi semua kemarahannya. Kegelisahann Sr Leni menjadi tak tertahankan ketika ia ditegur oleh pikonya karena dianggap terlalu ramah. “Mulai hari ini saya perintahkan Sr Leni untuk tidak senyum setiap saat, kecuali untuk keperluan-keperluan tertentu.”
Di dalam kamar sebelum tidur, Sr Leni memikirkan teguran piko tadi. “Why? Why? Why?” Buntu kepalanya memikirkan kasus yang dianggap tidak wajar. Ia merasa tidak membuat keramahan apapun. Sr Leni merasa berbuat wajar-wajar saja. Sebelum sungguh terlelap, tiba-tiba Sr Leni mendapat sebuah ide dan membuatnya tersenyum kecil. Ia memutuskan untuk membeli beberapa topeng lagi yang berlainan karakternya. Topeng-topeng itu ia akan pakai sesuai dengan kebutuhan. “Itu akan lebih manusiawi,” katanya dalam hati.

Sr. Maria Goreti, FdCC