Arsip untuk Desember, 2008

Religi

Desember 22, 2008

NATAL

Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih – (Tuhan Yesus).

Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Kelahiran Yesus

Lukas 2:1-8: Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
Demikian juga Yusuf pergi dan kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.

Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat yang bagi mereka di rumah penginapan.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

Dalam injil, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam Ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertugas ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut Matius 2:1, 10, 11:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya.

Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintahkan tahun 37 SM – 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.

Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?

Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (sudah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi – 14 Sesudah Masehi. Sedangkan Matius 2:1, menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi – 4 sesudah Masehi.

Asal usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke 4 M. Dan peringatan ini pun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Khatolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Khatolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan-Yesus).

Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan: Pertama, hari Minggu (Sunday – hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus, untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 Masehi, maka rakyat pun ikut memeluk agama Khatolik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.

Marry Christmas 2008 and Happy New Year 2009

Religi

Desember 11, 2008

Pesan Natal 2008

(KWI)

Hidup Dalam Damai

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam Pesan Natal Bersama 2008 mengajak umat Kristiani di seluruh Indonesia agar hidup dalam perdamaian dengan semua orang.

Pesan Natal bersama KWI dan PGI yang ditandatangani Ketua Umum PGI Pdt. Dr A.A. Yewangoe, Sekretaris Umum,Pdt.Dr Richard M. Daulay serta Ketua KWI Mgr. Martinus D. Situmorang, O.F.M.Cap dan Sekretaris Jenderal Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, M.S.F.

Pesan Natal Bersama KWI-PGI 2008 bertemakan ‘Hiduplah dalam Perdamaian dengan Semua Orang’. “Di tengah sukacita Natal, perayaan kelahiran Yesus Kristus, marilah kita melantunkan mazmur syukur ke hadirat Allah. Ia datang ke dalam dunia untuk membawa damai bagi seluruh umat manusia. Kedatangan-Nya mendamaikan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya, tulis KWI-PGI.

Sebab itu dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup dalam damai, khususnya dalam keadaan dewasa ini yang diwarnai ketegangan dan kecenderungan untuk mementingkan diri atau kelompok sendiri.

Umat Kristiani memahami dirinya sebagai bagian utuh dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Selama ini kita telah tinggal dalam rumah bersama, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam kerukunan dan kedamaian.

Namun, akhir-akhir ini rumah kita dipenuhi dengan berbagai ketegangan, bahkan krisis. Keberadaan negara sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh para warga bangsa. Berbagai benturan antarkelompok dalam masyarakat membuat warga tidak lagi dapat hidup damai.

Berbagai kelompok berusaha menunjukkan kekuatan mereka di hadapan kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman. Dalam usaha untuk memberi rasa aman kepada seluruh warga negara, pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengambil langkah-langkah nyata menuju kebersamaan yang rukun dan damai.

Kita merindukan keadaan damai yang memberi rasa aman bagi warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan afiliasi politik. Rasa aman itu membuat warga negara dapat bekerja sama untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

Dengan rasa aman itu seluruh warga negara dapat menjalin relasi tanpa merasa terancam, tertekan, atau dikucilkan. Memang banyak usaha positif untuk menciptakan perdamaian telah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa. Namun, usaha ini belum mencapai hasil yang diharapkan secara maksimal dan masih harus terus dilakukan secara terarah,berencana dan berkualitas.

Dalam suasana hari raya Natal, kelahiran Yesus, Sang Raja Damai, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk mendengarkan nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma. Ia menasihati Jemaat untuk hidup dalam damai dengan semua orang.

Untuk itu Rasul Paulus mengajak mereka untuk memberkati sesama, termasuk orang yang menganiaya mereka (Rm. 12:14). Memberkati berarti memohon agar Allah melimpahkan kasih karunia, damai sejahtera dan perlindungan.

Ia juga menasihati Jemaat untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi melakukan apa yang baik bagi semua orang. Semangat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Roma itu kiranya juga menjadi semangat umat Kristiani di Indonesia, yang hidup dalam masyarakat majemuk yang terus berubah. Dinafasi oleh semangat Natal, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk melibatkan diri secara proaktif dalam berbagai upaya untuk membangun masyarakat yang damai, memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum dalam mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama.

Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat perlu dihadapi secara bersama-sama dan diselesaikan dengan cara-cara dialog.

Selain itu, ikut mengambil bagian secara sungguh-sungguh dalam usaha-usaha menciptakan persaudaraan sejati di antara anak-anak bangsa dengan membangun kehidupan bersama di komunitas masing-masing, serta peka dan tetap berusaha ramah terhadap lingkungan sekitar.

Umat Kristiani pun diminta mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan jangan sampai dikalahkan oleh kejahatan. Kita perlu menyadari bahwa musuh kita bukanlah sesama warga, melainkan kejahatan yang bisa menggerakkan orang untuk berlaku jahat dan menyakiti sesama.

“Maka, marilah kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya supaya jangan ada ruang dimana kejahatan dapat merajalela,” kata KWI dan PGI mengakhiri Pesan Natal Bersama 2008.

Sastra Melayu Lama

Desember 11, 2008

Sastra Melayu Lama

A. Pengertian sastra Melayu lama

Sastra lama adalah sastra yang berbentuk lisan atau sastra Melayu yang tercipta dari suatu ujaran atau ucapan. Sastra lama masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam pada abad ke-13. Peninggalan sastra lama terlihat pada dua bait syair pada batu nisan seorang muslim di Minye Tujuh, Aceh. Ciri-ciri sastra lama yaitu : anonim atau tidak ada nama pengarangnya, istana sentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan), tema karangan bersifat fantastis, karangan berbentuk tradisional, proses perkembangannya statis,

dan bahasa klise.

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh jumlah kata dalam 1 baris, jumlah baris dalam 1 bait, persajakan (rima), banyak suku kata tiap baris, dan irama (http://agepelesson.blogspot.com)

Puisi lama adalah puisi yang belum dipengaruhi oleh puisi Barat.Bentu puisi lama adxalah pantun, gurindam, syair, mantra, bidal, dan seloka; puisi tradisional (Abdul Rozak Zaidan, Anita K. Rustapa, dan Hani’ah; 2004:162; dalam Kamus Istilah Sastra)

B. Pengarang sastra Melayu lama dan karyanya

No

Pengarang

Karya

1

G. Francis (Indonesia)

Nyai Dasima

2

A.F van Dewall

Bunga Rampai, Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe, Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan, Kisah Pelayaran ke Makassar.

3

H.F.R Kommer (Indo)

Cerita Siti Aisyah, Cerita Nyi Paina, Cerita Nyai Sarikem, Cerita Nyonya Kong Hong Nio, danNona Leonie.

4

Kat S.J

Warna Sari Melayu

5

F.D.J. Pangemanan

Cerita Si Conat dan Cerita Rossina.

6

F. Wiggers

Nyai Isah, Drama Raden Bei Surioretno, danSyair Java Bank Dirampok

7

Gouw Peng Liang

Lo Fen Kui

8

Thio Tjin Boen

Cerita Oey See, Tambahsia

9

R.M.Tirto Adhi Soerjo

Busono, Nyai Permana

10

Hadji Moekti (indo)

Hikayat Siti Mariah

11

Terjemahan

Mengelilingi Bumi dalam 80 hari

12

Terjemahan

Graaf de Monte Cristo

13

Terjemahan

Kapten Flamberger

14

Terjemahan

Rocambole

15

Terjemahan

Robinson Crusoe

16

Terjemahan

Lawan-lawan Merah

17

Dari masyarakat

Ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu lama lainnya

C. Macam-macam puisi lama.

1. Pantun

Pantun yaitu salah satu bentuk puisi lama Melayu yang di dalamnya tersirat kehalusan budi dan ketajaman pikiran.

Contoh

Kayu cendana di atas batu

Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

1.1 Dilihat dari bentuknya, pantun dibagi menjadi:
a. pantun biasa
Pantun biasa sering juga disebut pantun saja.
Contoh :

Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
b. seloka (pantun berkait)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab

pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan

Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan

c. talibun
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi

harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. Jika satu bait berisi enam

baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan

empat isi. Jadi, apabila enam baris, sajaknya a – b – c – a – b – c. Bila

terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d
Contoh :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
d. pantun kilat (karmina), ciri-cirinya: setiap bait terdiri dari 2 baris, baris

pertama merupakan sampiran, baris kedua merupakan isi, bersajak a – setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata.
Contoh :

Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)


1.2 Dilihat dari isinya, pantun dibagi atas:
a. pantun anak-anak
Contoh :

Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang

b. pantun orang muda
Contoh :

Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua

c. pantun orang tua
Contoh :

Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
d. pantun jenaka
Contoh :

Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
e. pantun teka-teki
Contoh :

Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki

(http://agepe-lesson.blogspot.com)

2. Mantra

Mantra adalah puisi yang memiliki aspek ritual, diucapkan pada kesempatan tertentu dengan cara-cara tertentu dan ditujukan pada makhluk gaib.
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:

Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

http://agepe-lesson.blogspot.com

3. Syair

Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk cerita yang mementingkan irama sajak. Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.

Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)
Berdasarkan isinya, syair dapat dibagi ke dalam enam golongan (Hooykaas, 1937: 66–74; Liaw Yock Fang, 1982: 293– 316). Masing-masing bagian akan diberi contoh dan akan dibahas lebih lanjut. Beberapa golongan tersebut adalah:

1. Syair Romantis: Syair Bidasari

2. Syair Kiasan: Syair Ikan Terubuk Berahikan Puyu-puyu

3. Syair Sejarah: Syair Perang Mengkasar

4. Syair Saduran: Syair Damar Wulan

5. Syair Keagamaan: Syair Perahu

4. Karmina

Karmina adalah pantun dua seuntai (pantun kilat)yang terdiri dari dua baris, baris

pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi.

Contoh:

Sudah gaharu cendana pula

Sudah tahu masih bertanya pula

5. Hikayat

Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisi kisah, cerita, dongeng

atau sejarah. Biasanya mengisahkan tentang kehebatan atau kepahlawanan

seseorang.

6. Gurindam

Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris

kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh.

Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua

berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama

tadi.

Contoh :

Pabila banyak mencela orang

Itulah tanda dirinya kurang

Dengan ibu hendaknya hormat

Supaya badan dapat selamat

Gurindam Dua Belas

Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari kepulauan Riau.

Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang

ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada

anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.
Contoh :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
http://agepe-lesson.blogspot.com

7. Seloka

Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun

perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan.

contoh seloka 4 baris:

anak pak dolah makan lepat,

makan lepat sambil melompat,

nak hantar kad raya dah tak sempat,

pakai sms pun ok wat ?

contoh seloka lebih dari 4 baris:

Baik budi emak si Randang

Dagang lalu ditanakkan

Tiada berkayu rumah diruntuhkan

Anak pulang kelaparan

Anak dipangku diletakkan

Kera dihutan disusui

8. Bidal

Perihabasa atau pepatah yang mengandung nasehat dan sindiran dalam bentuk kalimat singkat dan memperhitungkan rima atau keindahanbunyi.

Contoh:

Ikut hati mati, ikut rasa binasa

9. Fabel

D. Ciri-ciri khusus sastra Melayu lama

1. Ciri-ciri pantun

a. Setiap baris pantun dapat berdiri sendiri.

b. Bersajak ab-ab

c. Bersifat lirik: mengungkapkan perasaan.

d. Tediri atas sampiran dan isi.

e. Dua baris pertama: sampiran, dua baris terakhir:isi.

f. Terdiri ndari 4 baris, tiap baris terdiri dari 4 kata, 9-12 suku kata.

g. Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.

2. Ciri-ciri mantra

a. Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.

b. Bersifat lisan, sakti atau magis

c. Adanya perulangan

d. Metafora merupakan unsur penting

e. Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan

misterius

f. Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan

persajakan.

3. Ciri-ciri syair

a. terdiri dari 4 baris

b. berirama aaaa

c. keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud

penyair

4. Ciri-ciri karmina

a. Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.

b. Bersajak aa-aa, aa-bb

c. Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.

d. Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.

e. Semua baris diawali huruf capital.

f. Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.

g. Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.

5. Ciri-ciri hikayat

Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama

6. Ciri gurindam

a. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian

b. baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

7. ciri-ciri seloka

a. ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,

b. namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

8. Ciri-ciri bidal

1. Merupakan jenis puisi bebas.

2. Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk mmenjelaskan pemerian.

3. Tidak ada pembayang, setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita.

4. Terdiri dari 6-20 baris.

9. Fabel