Arsip untuk April, 2009

Sastra Lama

April 30, 2009

P u i s i L a m a

1. Macam-macam puisi lama.
a. Pantun
Pantun yaitu salah satu bentuk puisi lama Melayu yang di dalamnya tersirat kehalusan budi dan ketajaman pikiran.
Ciri-ciri;
1) Setiap baris pantun dapat berdiri sendiri.
2) Bersajak ab-ab
3) Bersifat lirik: mengungkapkan perasaan.
4) Tediri atas sampiran dan isi.
5) Dua baris pertama: sampiran, dua baris terakhir:isi.
6) Terdiri ndari 4 baris, tiap baris terdiri dari 4 kata, 9-12 suku kata.
7) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
b. Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, jumlah barisnya lebih dari empat.
Ciri-ciri:
1) Merupakan jenis puisi bebas.
2) Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk mmenjelaskan pemerian.
3) Tidak ada pembayang, setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita.
4) Terdiri dari 6-20 baris.
c. Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde. Mantra
Mantra adalah puisi yang memiliki aspek ritual, diucapkan pada kesempatan tertentu dengan cara-cara tertentu dan ditujukan pada makhluk gaib.
Ciri-ciri:
1) Bersifat lisan, sakti atau magis
2) Adanya perulangan
3) Metafora merupakan unsur penting
4) Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
5) Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.
d. Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk cerita yang mementingkan irama sajak.
Ciri-ciri:
1) Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
2) Bersajak aa-aa, aa-bb
3) Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
4) Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
5) Semua baris diawali huruf capital.
6) Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
7) Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
e. Karmina
Karmina adalah pantun dua seuntai (pantun kilat)yang terdiri dari dua baris, baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi.
Ciri-ciri:
1) Memiliki rumus rima a-a
2) Isi biasanya berupa sindiran.
f. Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisi kisah, cerita, dongeng atau sejarah. Biasanya mengisahkan tentang kehebatan atau kepahlawanan seseorang.

2. Tokoh pembeharu dalam puisi Indonesia dan kebaharuannya.

a. Rustam Effendi
1) Tidak mengikuti pola penulisan pantun atau syair melainkan menggunakan pola penyusunan kalimat.
2) Tiap bait terdiri dari 4 baris, tiap baris terdiri 4 kata, 9-10 suku kata, terbagi oleh jeda dalam dua bagian elahan napas.
3) Cara menyusun larik-lariknya khas: larik 1 dan 3 menjorok kedalam.
4) Tiap bait: 4 larik bersajak ab-ab, mengiatkan kita pada pantun tetapi tak terbagi sampiran dan isi.
5) Menggunakan persajakkan akhir dan persajakan dalam.
6) Lima bait merupakan kesatuan, mengiatkan kita akan syair.
7) Penggunaan tipografi dan enjembement
8) Puisi-puisinya bersifat tulisan bikan lisan.
9) Mencari kesamaan bunyi dalam sebuah baris.
10) Menggunakan konsep licentia poetica (kebebasan penyair).
11) Memperhatikan purwakanti dalam dan akhir.
12) Menjaga penggunaan tanda baca.

b. Chairil Anwar
1) Bahasa yang digunakan terlepas dari cirri-ciri bahasa Indonesia lama yang didominasi bahasa Melayu.
2) Puisi Chairil Anwar lebih mementingkan isi daripada bentuk.
3) Bahasa Indonesia bukan lagi alat menyampaikan perasaan-perasaan yang sangsai dan romantis, tetapi telah mencapai alat pengucapan sastra yang dewasa.
4) Chairil Anwar menciptakan bahasa yang lebig demokratis. Ia tidak lagi menyatakan dirinya dengan kata “beta” tetapi menyebut dirinya dengan kata “aku”.
5) Ungkapan-ungkapannya pendek (tidak panjang).

c. Muhammad Yamin
1) Bentuk puisinya bukan pantun bukan syair maupun gurindam.
2) Baitnya terdiri dari 9 baris.
3) Lebih dekat dengan syair tapi lirik sifatnya.
4) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
5) Berusaha mempromosikan penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.
6) Bersifat lirikdia menulis sajak 9 seuntai( Tanah Air), lalu sajak-sajaknya kemudian berbentuk soneta.

d. Amir Hamzah :
Bentuk kebaharuannya dalam puisi Indonesia:
1. Meninggalkan bentuk tradisional tetapi masih memanfaatkan bentuk-bentuk syair dan pantun
2. Amir,melepaskan bentuk syair yang monoton dan memberi bentuk puisinya sesuai dengan jiwanya. Memberi gaya baru bagi bahasa Indonesia ,kalimat-kalimat yang padat dalam seruannya,tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir,bisa dikataka destructive terhadap bahasa lama tetapi merupakan sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru ( HB Jassin,1986)
3. Puisi Buah Rindu,memakai perlambangan bunga,dipengaruhi oleh kesusastraan sansekerta (fungsi simbolik) telah diubah secara sistimatis dalam artian telah meninggalkan kesan kesusastraan Jawa Purba.
4. Bahasa yang dipakai banyak memakai kata-kata yang arkhais (tidak hidup)
5. Puisinya banyak menggunakan kosa kata lama yang diambilnya dari khasanah bahasa Melayu,Kawi,Sunda,Jawa.
6. Isi sajak Amir Hamzah kebanyakan bernada kerinduan,penuh ratap kesedihan,rasa sunyi dan pasrah diri tapi ia juga menekankan pada rasional. Perumpamaan dan lambang yang diciptakan untuk memperhidup ungkapan sangat bagus dan khas.
7. Memakai kiasan dan pengertian dari sastra mistik
8. Puisi Amir dipengaruhi oleh sejarah dan agama islam. Seperti puisinya yang berjudul “ PadaMu jua.” Yang dimaksud Mu disini adalah Tuhan,sehingga puisi-puisinya dianggap puisi Religius.
9. Puisi Amir Hamzah mendapat pengaruh dari para Sufi dan Parsi.

Secara lebih lengkap jenis-jenis rima diuraika sebagai berikut:

e. Berdasarkan jenisnya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima sempurna.
Yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir
contoh:
Purnama raya,
Bulan bercahaya.
Amat cuaca,
Ke mayapada.

2) Rima tak sempurna.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
contoh:

Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

3) Rima mutlak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

4) Rima terbuka.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
contoh:
Purnama raya,
bulan bercahaya.
Amat cuaca,
ke mayapada.

5) Rima tertutup.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

6) Rima aliterasi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
contoh:
Susah sungguh saya sampaikan,
degup degupan didlam kalbu,

7) Rima asonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

8) Rima disonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

f. Berdasarka letaknya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima awal.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
Contoh:
Rajah kalacakra

Ya maraja jaramaya
Ya marani niraman
Ya silapa palasiya
Ya midosa rodomiya
Ya midosa sadomiya
Ya dayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya

2) Rima tengah.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
contoh:

Bunda dan Anak

Masak jambak
buah sebuah
Diperam alam diujung dahan
Merah darah
beruris uris
Bendera masak bagi selera

3) Rima akhir.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
contoh:
syair

inilah taman orang bahari,
pungguk wahai jangan tuan kemari,
bukannya tidak kakandan beri,
jikalau tuan digoda peri,

4) Rima tegak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertical.
Contoh:

Purnama raya
Bulan bercahaya
Amat cuaca
Ke mayapada

5) Rima datar.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horizontal
Contoh:
Anak lakak
Tersera sera
Bunda berlari mengambil jambu
Ibu sugu
Buah sebuah

6) Rima sejajar.
yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
Contoh:
Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

7) Rima berpeluk.
yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
Contoh:
Betapa Kami

Betapa sari
Tidakkah kembang
Melihat terang
Si matahari

3. Gaya atau ekspresi.

1) Tataran grafologis.
a. Tanda kutip.
Contoh: “ Persetan beslit! Persetan kegubernuran! Persetan masa depan yang baik! Persetan patungnya nanti di museum nasional! Persetan! Persetan!!”

b. Tanda kapital.
Contoh: “Di atas meja didapati sepotong kertas tulisan almarhum: DEMI KELENGKAPAN DAN KESEMPURNAAN.”

2) Tipografi tataran wajah.
Contoh:
Tragedy Winka dan Shika

Kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
….

3) Tataran fonologis.
a. Aliterasi
Contoh:

kerdil dekil
Takut tulisan titik lalu tumpah
Keras-keras kerak kena air lembut juga
D e b a t-d e b i t; bolak-balik:
Sering saya susah sesaat
Sebab madahan tida na, dating.
Sering saya sulit menekat.

b. Asonansi.
Contoh: Ini muka penuh luka siapa punya.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu

4) Tataran Sintaksis
a. Repetisi.
Contoh: Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal (Selamat Tinggal, Chairil Anwar)
b. Asindenton dan Paralelisme.
Contoh: Sinar mata mereka, warna wajah mereka, nada-nada suara mereka, arti tiap kata yang mereka ucapan, telah berubah semua.

5) Tataran Semantik.
a. Makna denotatif.
1. Paradok.
Contoh; ” Tiba-tiba saja muncul dalam dirinya untuk mencoba mencari kenikmatan dalam penyiksaan”
2. Antiklimaks.
Contoh: “ Kini dia memacu menuju warna merah yang sangat tua, melalui taraf-taraf hijau tua, jingga merah tua, merah sangat tua.”
b. Makna konotatif.
1. Majas perbandingan.
• Majas perumpamaan.
Contoh: Ujung lidahnya laksana ikan hiu menyambar buntal tadi sekali lagi.
Seputih dan sebersih wajahnya yang tampah gembira.
Tiba-tiba bagaikan gunung berapi yang meletus, wali kota tertawa terbahak-bahak.
• Majas metafora.
Contoh: Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan bertapa
Ke rawa-rawa mesum ini.
Masa lampaunya adalah gumpalan hitam
Di dalam sakunya lah justru terletak kunci kehidupan.
• Majas personifikasi.
Contoh:

Tiupan terompet yang merengekkan lagu kepahlawanan
Senja yang telah tua sekali
Alam semesta dimakinya habis-habisan

• Majas aligori.
Contoh:
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

2. Majas pertentangan.
• Majas hiperbola.
Contoh:
Amarahnya tumpah mualnya luber sudah

• Majas litotes.
Contoh:
Pengapur sebenarnya menginginkan tiaadanya dia sang opseter itu

3. Majas pertautan.
• Majas sinekdok.
 Majas pars prototo.
Contoh:
Pembicaraan empat mata

 Mjas totem proparte.
Contoh:
Negri itu sedang berduka
.
• Majas euvimisme.
Contoh:
Wakil wali kota yang berintelegensi sederhan itu

6. Analisis puisi! Unsur baru dan unsur tradisionalnya:
BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Rustam Efendi

Bukan beta/bijak berperi,
pandai menggubah/madahan syair,
Bukan beta/budak negeri,
musti menurut/undangan mair.

Sarat saraf/saya mungkiri,
untai rangkaian/seloka lama;
Beta buang/beta singkiri,
sebab laguku/menurut sukma.

Susah sungguh/saya sampaikan,
degup-degupan/di dalam kalbu;
Lemah laun/lagu dengungan,
matnya digamat, rasain waktu.

Sering saya/susah sesa’at
sebab madahan/tida na’datang;
Sering saya/sulit menekat,
sebab terkurang/lukisan mamang.

Bukan beta/bijak berlagu,
dapat melemah/bingkaian pantun;
Bukan beta/terbuat baru,
hanya mendengar/bisikan alun.

a. Unsur lamanya, yaitu:
1) Bersajak ab ab.
2) Baris kedua diakhiri tanda ( ; ).
3) Tiap bait terdiri dari 4 baris.
4) Setiap baris terdiri dari 4 kata, 9-19 suku kata.
5) Menggunakan bahasa Melayu lama.
6) Terdapat perulangan kata.
7) Setiap baris merupakan isi dari keseluruhan.
8) Bersifat lirik

b. Unsur barunya, yaitu:
1) Baris partama dan ketiga menjorok kedalam.
2) Baris pertama dan ketiga diakhiri tanda koma ( , ).
3) Terdiri dari dua elahan nafas
4) Baris ke-1 dan ke-3 diawali dengan huruf kapital dan diakhiri tanda koma
5) Tiap bait tidak terbagi atas sampiran dan isi
6) Terdapat perulangan bunyi
7) Kelima baitnya merupakan satu kesatuan

Drama

April 30, 2009

Kubur Kosong

 

Pemain:

Prajurit Roma 1, Prajurit Roma 2, Maria, Maria Magdalena, Yohana, Malaikat, Yesus, Yohanes, Petrus.

Peralatan:

  1. Pakaian.
  2. Kubur (dapat dibuat dari kayu dan ditutup dengan kain supaya terlihat seperti batu, dapat berupa sebuah tenda (dome) yang ditutup dengan kain abu-abu, atau dapat juga lorong buntu yang ditempatkan di panggung).
  3. Pintu yang dibuat seperti pintu batu.
  4. Pelbet yang ditutup dengan kain putih.
  5. Jubah putih dengan kerudung untuk Yesus.
  6. Lampu yang terang di dalam kubur.
  7. Tombak dan perapian untuk para prajurit (jika ada).
  8. Efek suara batu digeser.
  9. Tiga jambangan atau kotak tempat rempah-rempah untuk orang meninggal.

Dekorasi:

Kubur dengan perapian di depannya. Akan lebih baik jika adegan didukung dengan pencahayaan yang redup “Kubur yang Kosong”.

Skenario:

(Prajurit 1 dan 2 masuk. Prajurit 1 duduk di dekat perapian; prajurit 2 berjalan mondar-mandir.)

Prajurit 1

:

Apa yang kita kerjakan di sini? Masa kita harus menjaga kuburan orang mati? Siapa juga Dia ini sebenarnya?

 

Prajurit 2

:

Dia seorang tukang kayu dari Nazaret, tapi banyak orang yang percaya bahwa Dia lebih dari itu. Ada legenda yang dipercayai bangsa ini bahwa Raja dari segala raja akan dilahirkan di sebuah kota kecil yang bernama Betlehem, di dekat daerah ini. Mereka akan memanggil Raja ini Kristus. Banyak orang yang percaya bahwa orang dari Nazaret ini adalah Kristus yang dijanjikan itu.

 

Prajurit 1

:

Hmm, Dia sekarang adalah Raja yang sudah mati dan kuburan-Nya ini adalah kerajaan-Nya. Bagaimana kamu tahu semua itu?

 

Prajurit 2

:

(mengangkat bahu dan berpura-pura tidak tertarik sambil menjelaskan dengan berjalan mondar-mandir lagi) Kepercayaan orang-orang di sini menarik juga. Dan … aku melihat Dia mati. Ada tulisan di salib-Nya. Tulisan itu bunyinya Raja orang Yahudi. Ada juga gempa bumi, tidak seperti biasanya ….

 

Prajurit 1

:

O, ya? Kalau memang Dia raja, Dia sekarang sudah mati. Apa yang bisa Dia lakukan?

 

Prajurit 2

:

[berhenti berjalan dan berbicara menghadap jemaat] Dia menyembuhkan orang buta, tuli, dan lumpuh. Dia mengusir roh jahat dan membangkitkan orang mati.

 

Prajurit 1

:

Kamu tidak percaya itu semua, kan?

 

Prajurit 2

:

(berjalan lagi) Aku tidak tahu. Aku dengar Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mati dan akan bangkit lagi pada hari yang ketiga.

 

Prajurit 1

:

Tak seorang pun akan keluar dari kubur batu itu.

 

Prajurit 2

:

Bagaimana jika para pengikut-Nya mencoba untuk mencuri mayat-Nya dan kemudian mengatakan bahwa Dia telah menepati janji-Nya?

 

Prajurit 1

:

Kita ini prajurit. Kita punya tombak. Kita bisa mengatasi masalah seperti itu. Sekarang, aku mau tidur dulu sebentar. Kamu yang menjaga batu itu kalau memang kamu begitu khawatir tentangnya. [menyandarkan kepalanya ke lutut lalu tidur]

(Terdengar suara batu digeser ketika muncul cahaya yang terang dari dalam kubur dan malaikat menggeser batu penutup kubur itu tanpa terlihat.)

Prajurit 2

:

(membangunkan Prajurit 1) Batu itu bergeser!

 

Prajurit 1

:

(berjalan mendekati kubur) Mayat itu hilang! Ada di mana mayat itu?

Prajurit 2

:

Aku tidak tahu! Aku tidak melihat apa-apa!

 

Prajurit 1

:

Lebih baik kita laporkan saja kejadian ini! Ayo!

(Para prajurit lari keluar dan meninggalkan tombak mereka. Kuburan menjadi sunyi dan perlahan cahaya diatur lebih terang. Yohana, Maria, dan Maria Magdalena masuk membawa rempah-rempah untuk mengurapi orang mati.)

Yohana

:

Aku senang matahari sudah terbit. Lebih mudah melihat jalan setapak ini. Aku yakin prajurit yang disuruh menjaga kubur itu akan menghadang kita di sini.

 

Maria

:

Mereka tidak punya alasan untuk menghadang kita. Kita harus meminyaki tubuh Guru kita dengan baik. Apakah menurutmu kita bisa membujuk para prajurit itu untuk menggeser batu itu untuk kita?

 

Maria Magdalena

:

Ah, prajurit Roma! Sepertinya tidak. Kita harus meminta tolong pada

 orang lain.

 

Yohana

:

(nampak terkejut dan menjatuhkan kotak rempah- rempah) Lihat! Batu itu sudah bergeser!

 (Ketiga wanita itu bergegas menuju kubur itu dan melihat ke dalam kubur.)

Malaikat

:

(muncul) Jangan takut. Aku tahu kalian mencari Yesus yang disalibkan itu. Dia tidak ada di sini. Dia sudah bangkit dari kematian seperti yang dikatakan-Nya kepada kalian. Pergilah dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit!

(Maria dan Yohana segera keluar, Maria Magdalena tetap tinggal di situ sambil menangis. Yesus masuk.)

Yesus

:

Ibu, mengapa engkau menangis?

 

Maria Magdalena

:

Mereka sudah mengambil Tuhanku dan aku tidak tahu

 ke mana mereka membawa-Nya.

 

Yesus

:

Siapa yang engkau cari?

 

Maria Magdalena

:

(melihat Dia untuk yang pertama kalinya) Apakah Engkau penunggu taman? Apakah Engkau yang mengambil Tuhanku itu? Tuan, katakanlah di mana Dia sekarang dan aku akan pergi mencari-Nya.

 

Yesus

:

Maria, apakah Engkau tidak mengenali Aku?

 

Maria Magdalena

:

(berlutut dan berniat memegang Dia) Rabuni!

 

 

Yesus

:

Janganlah engkau memegang Aku, Maria, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Pergilah dan katakan kepada saudara-saudara-Ku bahwa Aku akan kembali kepada Bapa-Ku.

(Maria Magdalena segera keluar; Yesus diikuti oleh Malaikat keluar melalui arah yang berlawanan lebih perlahan-lahan. Yohanes, kemudian Petrus dan Maria Magdalena masuk.)

Yohanes

:

(berlutut di luar kubur) Dia tidak ada di tempat kami meletakkan Dia.

 

Petrus

:

(masuk ke dalam kubur dan menyentuh kain kafan) Dia sudah bangkit! Sekarang aku tahu. Kuasa-Nya lebih besar dari para raja yang ada; Dia telah mengalahkan maut!

(Mereka bertiga berdiri dan berkata satu kepada yang lain dan kepada jemaat: “Kristus telah bangkit! Tuhan Yesus Kristus telah bangkit hari ini!” Keluar melalui tiga arah yang berbeda jika memungkinkan.)

 

 

Renungan

April 25, 2009

REFLEKSI RUANG: KOMPUTER, KAPEL, DAN HATI

Jam menunjuk setengah dua belas siang. Kesepuluh jariku masih saja asyik menari-nari pada tuts-tuts keyboard komputer di ruang komputer. Yang sedang saya kerjakan ini ialah tugas mata kuliah yang cukup sulit bagiku, paling tidak di semester ini. Bobotnya tiga kredit. Mata kuliah itu adalah psikolinguistik, sebuah interdisipliner, gabungan antara disiplin psikologi dengan linguistik yang mempelajari, antara lain, bagaimana otak manusia sejak dini dan hingga dewasa merekam, memproses, memperoleh, dan menggunakan bahasa.
Sementara otakku masih mengutak-atik persoalan “otak”, di sebelah, ruang doa, terdengar kumandang suara tak asing: “Ya, Allah, bersegerahlah menolong aku…”. Oh, jadi sudah ibadat siang? Dan saya terhentak kaget karena roda waktu begitu cepat berputar. Sebentar lagi jam satu saya harus balik ke kampus, dan di sana saya mesti mempresentasikan makalah yang belum juga kunjung selesai kubuat ini.
Ah, satu persoalan lagi. Kalau saya nanti menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju kampus, lima belas menit tiadalah cukup bagiku untuk beristirahat barang lima menit buat sebentar saja menarik napas. Karena itu, kalau saya ke ruang doa sekarang, jelas saya akan terlambat tiba di kampus. Akan tetapi, kalau saya tidak ke ruang doa, nah, ini…apa kata hati? Terjadilah, ruang hatiku tiba-tiba tersekat jadi dua: mau ke ruang doa dulu? Atau, mau langsung selesaikan tugas ini lalu berangkat?
***
Dengan rendah hati harus kuakui, kerap ruang hatiku tak mampu memilah, mana ruang doa dan mana ruang komputer. Maka tak jarang pula ruang hatiku itu berkata bahwa ruang komputer, tempat saya mengerjakan tugas-tugas kuliah (tugas yang mulia, tentu!), sama saja dengan ruang doa. Sebab, masih bisikan dari ruang hati, bukankah dengan tekun mengerjakan tugas-tugas, toh itu bagian dari ‘doa’? Dan sebaliknya, bukankah dengan tekun memanjatkan doa di ruang doa (tentu dengan sebuah keyakinan total!), toh itu juga dapat ‘memperlancar’ pengerjaan tugas-tugas? Nah, di sini persis masalahnya: ruang hatiku merelativir dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa.
Untuk keluar dari jerat relativisme macam itu, saya memang butuh sebuah ruang hati yang jernih, tak bercela untuk memilih prioritas nilai. Bagiku, prioritas nilai dapat membantuku untuk membongkar sekat ruang hati yang telah terbelah, tersekat. Prioritas nilai yang saya maksudkan di sini bukan pertama-tama saya harus menentukan ruang mana (entah doa, entah komputer) yang ‘lebih’ penting untuk saya dahulukan, melainkan kedewasaan ruang hati itu sendiri untuk mengambil keputusan. Apalah gunanya kalau saya di ruang komputer hanya asyik ber-games, sementara saudara-saudaraku sekomunitas sedang menunaikan sholat suci? Tapi apalah pula salahnya, jika karena tugas mulia, mengingat ke kampus memang saya diutus untuk itu dan jam kuliah kebetulan sekali bertepatan dengan jam acara di ruang doa, saya terpaksa tidak ikut menunaikan sholat suci bersama karena tugas itu? Inilah yang saya maksudkan dengan kedewasaan ruang hati dalam mengambil keputusan. Kedewasaan ruang hati di sini memang butuh suatu kualitas kepekaan tertentu. Kualitas kepekaan itu haruslah murni, tidak omong kosong! Maksudnya, jangan sampai ruang hati menggunakan alasan “demi tugas mulia”, lalu meniadakan acara di ruang doa.
Untuk sampai pada kedewasaan dan kualitas kepekaan ruang hati dalam mengambil keputusan berkaitan dengan dua ruang yang lain, ruang (doa) dan ruang (komputer), setidaknya saya melihat dua hal. Pertama, hakikat dari doa sendiri, dan apalagi kegiatan doa (berdoa) senantiasa tidak sama dengan hakikat kegiatan di ruang komputer. Konkretnya, ofisi bersama di ruang doa, yang adalah kegiatan doa bersama, jelas berbeda dari kegiatan pribadi saya dalam mengerjakan sebuah paper, makalah, skripsi (atau entah apalah) di ruang komputer. Sebaliknya, sebuah diskusi kelompok di kampus tidaklah sama intensinya dengan sebuah kegiatan doa pribadi saya di ruang doa. Ini jelas!
Kedua, kegiatan saya di luar komunitas (baca: aktivisme) boleh-boleh saja saya hayati sebagai sebuah bentuk doa, tetapi tak boleh saya samakan begitu saja dengan kegiatan berdoa. Bagiku, keduanya tak terpisahkan satu sama lain, tetapi keduanya memang harus tetap dibedakan satu dari yang lain. Sebab, kalau ruang hatiku tak mampu membedakan keduanya, bisa jadi saya akan jatuh pada ekstremisme, lebih mementingkan yang satu sambil melalaikan yang lain. Ekstermisme macam ini akan berefek pada relativisme: saya lalu menyamaratakan keduanya, padahal hakikat, tujuan, dan efek dari keduanya sama sekali berbeda.
Maka dalam konteks refleksi ini, ruang hatiku mau kembali menegaskan bahwa dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa, jelas berbeda, dengan mengingat kata-kata St. Magdalena dari Canossa kepada: “Saudara, saya setuju engkau mengajarkan “Tugas suci” asal engkau tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian tersuci Akhirnya, bersama St Magdalena pula, pada Pesta Kerahiman Ilahi (Minggu, 19/4/2009) saya pun ingin memohon penerangan hati dengan berdoa: “Allah yang Maha tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Berilah aku, ya Tuhan, perasaan yang peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintahMu yang kudus, dan yang tak akan menyesatkan…Amin.” ***

Media

April 24, 2009

Peran Media Pembalajaran Bagi Dunia Pendidikan

Bab I
Pendahuluan

Media memiliki peran penting dalam pembelajaran. Paran ini antara lain media sebagai sarana pembentuk konstruksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi. Media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilannya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
Sementara, media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar (Arsyad 2005:5, melalui Rishe, 2007:132, dalam Gatra).
Beberapa peran media yang penulis paparkan di atas, diharapkan dapat memberikan sumbangan minat bagi dunia pendidikan pada umumnya.
Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dikemukakan dalam makalah ini adalah mengapa media pembelajaran sangat penting bagi dunia pendidikan?

Bab II
Kajian Teori

Media berasal dari bahasa Latin medium berarti perantara atau pengantar yaitu perantara atau pengantar sumber pesan kepada penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Masih berkaitan dengan pengertian media, Bachtiar (1984) memberikan batasan bahwa media pembelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Sementara, Arief S. Sadiman dkk, (1986) berpendapat bahwa media dapat mewakili guru menyampaikan informasi secara lebih teliti, jelas, dan menarik. Menurut Bovee (1997) media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/PKP-4c.pdf .

Berdasarkan kategori media, Paul dan David (1999) melalui Rishe (2007) berpendapat bahwa ada enam kategori, yaitu media yang tidak diproyeksikan, media yang diproyeksikan, media audio, media film dan video, multimedia, dan media berbasis komunikasi. Sementara, menurut Rudy Bretz (1971) dalam Harsja W. Bachtiar (1984) mengidentifikasikan media menjadi tiga unsur pokok yaitu media suara, visual, dan gerak. Selain, Schramm mengkategorikan media dari dua segi: dari segi kompleksitas dan besarnya biaya dan menurut kemampuan daya liputannya. Briggs mengidentifikasikan tiga belas macam media pembelajaran yaitu objek, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film rangkai, film bingkai, film televise, dan film gambar. Gagne menyebutkan tujuh macam pengelompokkan media, yaitu benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Menurut Edling, ada enam macam media pembelajaran yaitu kodifikasi subjektif visual dan kodifikasi objektif audio kodifikasi subjektif audio dan kodifikasi objektif visual pengalaman langsung dengan orang dan pengalam langsung dengan benda-benda. Soeparno (1988), berpendapat bahwa klasifikasi media dilakukan dengan menggunakan tiga unsure berdasarkan karakteristiknya, berdasarkan dimensi presentasinya, dan berdasarkan pemakaiannya.

Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005) melalui Rishe (2007). Peran itu antara ialah media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi, media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Abdul Gafur (1982) mengatakan bahwa kegiatan belajar mengajar sekarang telah bergerak menuju dikuranginya sistem panyampaian dengan ceramah dan berpindah kea rah digunakannya banyak media Harsja W. Bachtiar (1984) mengatakan bahwa media yang dirancang dengan baik, dalam batas tertentu dapat merangsang timbulnya semacam dialog interaktif dalam diri siswa yang belajar. Menurut Akhmad Sudrajat, media memiliki beberapa fungsi yaitu dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik, melampaui batasan ruang kelas, memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya, media menghasilkan keseragaman pengamatan, menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis, media membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar, pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).
Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami materi yang disajikan di atas, maka penulis akan mencoba menguraikannya pada bagian pembahasan.

Bab III
Pembahasan

A. Pengetian Media

Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Arief S. Sadiman dkk, (1986) memberikan batasan, media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Gegne (1970) dalam Arif S. Sudirman,1986:6, menagtakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnnya untuk belajar. Semetara Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Asosiasi Pendidikan Nasional memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk\komunikasi, baik cetak maupun audio visual serta peralatannya (Arif Sudirman 1986:7)
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Tidak begitu beda, Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra) berpendapat bahwa media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver).
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya media pembelajaran adalah sebagai:
a. sarana pembelajaran berupa alat fisik (manusia, materi, peristiwa),
b. berisi pesan pembelajaran,
c. mampu menciptakan komunikasi efektif atara pembelajar dengan materi pembelajaran, dan
d. mampu mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran

B. Macam-Macam Media

Macam media pembelajaran sangatlah beragam. Banyak ahli mengkategotikan media pembelajaran secara berbeda-beda.
1. Paul dan David (1999: 144-149, melalui Rishe, 2007: 133, dalam Gatra)
mengkategorikan media pembelajaran menjadi enam kategori, yaitu:
a. Media yang tidak diproyeksikan
Meliputi: papan tulis, papan flip, grafik, peta, gambar, realia, model tiruan, papan pameran, dan diorama.
b. Media yang diproyeksikan
Meliputi: OHP, slide, dan proyektor.
c. Media audio
Meliputi: pita kaset, rekaman piringan, dan compact disc.

d. Media film dan video (audio-visual)
Berupa kaset video (DVD dan sejenisnya) yang memuat pengkisahan (film).
e. Multimedia
Menyangkut koleksi berbagai tipe media yang terikat dalam satu topik tertentu. Misalnya, modul pembelajaran yang berupa teks berisi soal-soal dilengkapi dengan gambar dan program powerpaint.
f. Media berbasis komunikasi
Diantaranya teleconference, dan kuliah jarak jauh (telelecture).

1. Rudy Bretz
Menurut Rudy Bretz (1971) dalam Harsja W. Bachtiar (1984) mengidentifikasikan ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok yaitu media suara, visual, dan gerak. Bentuk visual sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gambar visual, garis, dan simbol verbal yang sebenarnya merupakan satu kesinambungan dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan.
Selain itu juga Bretz membedakan antara media rekaman dengan media telekomunikasi (transmisi). Dengan demikian terdapat tujuh klasifikasi media sebagai berikut.
1. Media audio visual gerak. Media audio visual merupakan media yang paling lengkap
yaitu menggunakan kemampampuan visual dan gerak.
2. Media audio visual diam. Merupakan kedua dari segi kelengkapan kemampuannya karena ia memiliki semua kemampuan yang ada pada golongan sebelumnya kecuali penampilan gerak.
3. Media audio visual semi gerak; memiliki kemampuan menampilkan suara serta gerak secara linear jadi tidak dapat menampilkan gerak nyata secara utuh.
4. Media visual gerak; memiliki kemampuan seperti golongan pertama kecuali penampilan suara.
5. Media visual diam; memiliki kemampuan menyampaikan informasi secara visual tetapi tidak dapat menampilkan suara maupun gerak.
6. Media audio; media yang hanya memanipulasikan kemampuan-kemampuan suara semata-mata.
7. Media cetak; merupakan media yang hanya mampu menampilkan informasi berupa huruf-angka (alphanumeric) dan simbol-simbol tertentu saja.

2. Schramm
Dari segi kompleksitas dan besarnya biaya, Schramm membedakan antara media rumit mahal (big media) dan media sederhana (little media). Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputannya yaitu
1 liputan luas dan serentak seperti televisi, radio, facsimile
2 liputan terabata pada tempat/ruang seperti film suara, film bisu, audio tape,
piringan audio, foto, poster, papan tulis, dan radio vision
3 media untuk belajar individual (mandiri) seperti buku, modul, program belajar
dengan komputer, dan tilpon.
3. Briggs
Menurut Briggs, perbedaan media didasarkan atas stimulus atau rangsangan yang ditimbulkan dari media itu sendiri, yaitu kesesuaian rangsangan tersebut dengan karekteristik siswa, tugas pembelajaran, bahan, dan transmisinya. Ia mengidentifikasikan 13 macam media yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar yaitu

a. Objek
b. Model
c. suara langsung
d. rekaman audio
e. media cetak
f. pembelajaran terprogram
g. papan tulis
h. media transparansi
i. film rangkai
j. film bingkai
k. film televise, dan
l. film gambar

4. Gagne
Tanpa menyebutkan jenis dari masing-masing medianya, Gagne menyebutkan 7 macam pengelompokkan media yaitu

a. Benda untuk didemostrasikan
b. komunikasi lisan
c. media cetak
d. gambar diam
e. gambar gerak
f. film bersuara
g. dan mesin belajar.

5. Edling
Menurut Edling, ada enam unsur pengalaman belajar yaitu
a. dua untuk pengalaman audio, meliputi kodifikasi subjektif visual dan kodifikasi objektif audio
b. dua untuk pengalaman visual meliputi kodifikasi subjektif audio dan kodifikasi objektif visual
c. dua pengalaman belajar 3 dimensi yaitu pengalaman langsung dengan orang dan pengalam langsung dengan benda-benda.

6. Soeparno
Menurut Soeparno (1988), klasifikasi media dilakukan dengan menggunakan tiga kriteria:
1. Berdasarkan karakteristiknya
Menurut Rudy Bretz, media mempunyai lima karakteristik utama, yaitu suara, gerak, gambar, garis, dan tulisan. Selain itu, ada media yang memiliki karakteristik tunggal dan ada media yang memiliki karakteristik ganda.
Media yang memiliki karakteristik tunggal adalah
a. radio: memiliki karakteristik suara saja,
b. rekaman: memiliki karakteristik suara saja,
c. HP: memiliki karakteristik suara saja,
d. slide: memiliki karakteristik gambar saja,
e. reading book: memiliki karakteristik tukisan saja, dan
f. reading machine: memiliki karakteristik tukisan saja.

Media yang memiliki karakteristik ganda:
a. film bisu: memiliki karakteristik gambar dan gerak,
b. film suara: memiliki karakteristik gambar, gerak, dan suara,
c. TV dan VTR: memiliki karakteristik suara, gambar, dan gerak (garis dan tulisan),
d. OHP: memiliki karakteristik suara, gambar, garis, dan tulisan,
e. slide: memiliki karakteristik gambar dan suara, dan
f. bermain peran, sosiodrama, dan psikodrama: memiliki karakteristik suara dan gerak.
2. Berdasarkan dimensi presentasinya
Berdasarkan dimensi presentasinya, media dapat dibedakan menurut lamanya presentasi dan sifat presentasi.
a. Lama presentasi
Berdasarkan lamanya presentasi, media dapat dibagi menjadi dua:
1. Presentasi sekilas: informasi yang disampaikan hanya sekilas berlalu saja. Media yang tergolong dalam kategori ini adalah radio, rekaman, film, TV, dan flash card.
2. Presentasi tak sekilas: informasi yang dikomunikasikan berlangsung secara relatif lama. Media yang tergolong kategori ini adalah slide, film strips, OHP, flow chart, kubus struktur, dan bumbung subsitusi.
b. Sifat presentasi:
Berdasarkan sifat presentasi, media dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
1. Media dengan presentasi kontinyu: tidak boleh diputus-putus atau diselingi dengan program lain. Yang tergolong jenis ini adalah radio, TV, dan film.
2. Media dengan presentasi tidak kontinyu: dapat diputus-putus atau diselingi dengan program lain. Yang tergolong jenis ini adalah OHP, kubus struktur, bumbung substitusi, flow chart, dan slot board, epidiascope.
3. Berdasarkan pemakaiannya
Berdasarkan jumlah pemakaiannya, media dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Media untuk kelas besar.
b. Media untuk kelas kecil.
c. Media untuk belajar secara individual.
Berdasarkan usia dan tingkat pendidikan pemakai, media dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Media untuk murid TK.
b. Media untuk murid SD.
c. Media untuk siswa SMTP.
d. Media untuk siswa SMTA.
e. Media untuk siswa di perguruan tinggi.

Pada hakekatnya, hampir semua media dapat dipakai pada semua tingkatan, asal materinya disesuaikan dengan tingkatan masing-masing.
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya :
1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/)
Menurut Soeparno (1988) derajat kemedian suatu alat adalah tingkat-tingkatan yang secara gradual (berangsur-angsur) yang memberikan ukuran sejauh mana suatu alat dapat diisi dengan suatu program. Berdasarkan derajat kemediaan suatu alat dapat dibagi menjadi empat kelompok:
1. alat yang derajat kemediaannya tinggi: VTR, TV, dan film;
2. alat yang derajat kemediaannya sedang:slide, OHP, radio, rekaman, film biru, film strips;
3. alat yang derajat kemediaannya rendah: papan tulis, papan tali, papan magnetis, papan flanel, papan selip, kubus struktur, bumbung subtitusi; dan
4. alat yang derajat kemediaannya nol yang berarti alat tersebut sama sekali tidak dapat diisi.

C. Fungsi Media Pembelajaran

Dewasa ini media pembelajaran memegang paran penting di dalam membantu tercapainya proses belajar mengajar. Media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra).
Peran itu antara lain:
a. media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi,
b. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan
c. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
Menurut Akhmad Sudrajat dalam wordpress.com-nya, mengatakan bahwa media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (g) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).

Sementara, menurut R. Rahardjo, media berfungsi untuk:
1. Membuat konkrit konsep yang absrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah.
2. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar, seperti binatang-bitanang buas atau penguin dari kutup selatan.
3. Menampilkan objek yang terlallu besar, seperti pasar, candi Borobudur, dan sebagainya.
4. Menampilkan objek yang dapat diamati dengan mata telanjang seperti micro organisme.
5. Mengamati gerakkan yang terlalu cepat dengan slowmotion.
6. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkkungannya.
7. Memungkinkan keseragaman pematangan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa.
8. Membangkitkan motivasi belajar
9. Memberi kesan perhatian kepada semua anggota kelompok belajar
10. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan
11. Menyajikan informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu maupun ruang
12. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Bab IV

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran terlebih dalam pembentukan konstruksi pengalaman belajar tentang suatu objek.
2. media pembelajaran haruslah berorientasi pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
3. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif
4. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
5. 5. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
6. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
7. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
8. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
9. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
10. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
11. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
13. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit
sampai dengan abstrak Sementara,
14. Membuat konkrit konsep yang absrak, misalnya untuk menjelaskan sistem
peredaran darah.
15. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan
belajar, seperti binatang-bitanang buas atau penguin dari kutup selatan.
16. Menampilkan objek yang terlalu besar, seperti pasar, candi Borobudur,
dan sebagainya.
17. Menampilkan objek yang dapat diamati dengan mata telanjang seperti
micro organisme.
18. Mengamati gerakkan yang terlalu cepat dengan slowmotion.
19. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkkungannya.
20. Memungkinkan keseragaman pematangan dan persepsi bagi pengalaman
belajar siswa.
21. Membangkitkan motivasi belajar
22. Memberi kesan perhatian kepada semua anggota kelompok belajar
23. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun
disimpan menurut kebutuhan
24. Menyajikan informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu
maupun ruang
25. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Daftar Pustaka

Anderson,Ronald H. 1983. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pemebalajaran.Jakarta:Rajawali.

Gafur, Abd. 1982. Desain Intruksional. Solo: Tiga Serangkai.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran
Miarso,Yusufhadi dkk. 1984. Teknologi komunikasi Pendidikan. Jakarta:CV.Rajawali.

Sadiman, Arief.S dkk. 1984.Media Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soeparno.1988. Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Inter-Pariwisata.
www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/PKP-4c.pdf

…. 2007. Penyususnan Bahan dan Media Pembelajaran. Gatra. Januari. Hlm. 132-135.
Yogyakarta:PBSID FKIP Universitas Sanata Dharma.

Sastra

April 24, 2009

Permasalahan Pengajaran Sastra
di Indonesia

1. Pendahuluan

1. 1 Latar Belakang
Situasi pengajaran sastra di sekolah saat ini tidak hanya memprihatinkan, tapi sudah pada taraf “mengerikan”. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra rendah (Mukhlis A. Hamid, M.S. : 1996). Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra “diomprengkan” pada pengajaran bahasa. Pengajaran sastra memang perlu dibenahi secara menyeluruh. Banyak masalah-masalah yang seharusnya tidak muncul dalam pengajaran sastra di sekolah.
Masalah pertama yaitu tingkat kemampuan guru yang masih perlu diperbaiki. Banyak sekali guru sastra yang kurang memahami apa yang diminati oleh siswanya, sehingga ia tidak mampu memberikan penyajian yang menarik dalam pengajaran sastra. Seorang guru sastra seharusnya mempunyai semangat yang berhubungan dengan pengajarannya (DR. Yus Rusyana: 1982). Guru sastra hendaknya juga menyadari bahwa mengajarkan sastra itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengajarkan sikap terhadap nilai-nilai.
Permasalahan kedua yaitu metode pengajarannya. Selama ini, pengajaran kesusastraan di sekolah hanya menekankan bentuk hafalan. Menurut Setya Yuwana Sudikan dalam tulisannya yang berjudul ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)” dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra ”Gatra”, kegiatan menghafal yang banyak dilakukan adalah menghafal nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, maupun menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia, yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada ujian akhir maupun pada kuis-kuis yang diadakan. Hal ini tentu saja mengingkari dan mengkhianati hakikat sastra yang sesungguhnya. Pengajaran sastra hendaknnya lebih bersifat apresiatif. Keaktifan siswa seharunya lebih ditingkatkan dari yang semula lebih “dikuasai” oleh para guru dan pada gilirannya kini “dibebankan” kepada para siswa.
Ketiga, yaitu ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah. Hal ini tentu saja menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Dalam kurikulum yang sudah disempurnakan saat ini pun materi ajar sastra masih terintegrasi dengan materi kebahasaan. Pelajaran khusus yang bernama “sastra” tidak ada, yang ada hanyalah pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru sastra maupun piahka sekolah seharusnya pandai-pandai memanfaatkan semua media yang ada dalam pengajaran sastra.
Berbagai permasalahan yang telah penulis ungkapkan di atas, sedikit banyak tentu saja mempengaruhi minat belajar sastra siswa. Faktor minat belajar memang merupakan masalah lain yang sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Masalah minat ini sangat personal sifatnya sehingga pola penanganannya pun sangat bervariasi.
Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dua rumusan masalah yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut: (i) Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia; (ii) Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa

2. Kajian Pustaka
Berbagai permasalahan yang ada dalam pengajran sastra jangalah membuat kita semakin ciut. Masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengatasinya. Banyak ahli yang telah meneliti tentang hal ini. Wahyudi (2007) menyatakan bahwa salah satu masalah dalam pembelajaran sastra adalah pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Masih berkaitan dengan anggapan tersebut di atas Tajuddin Noor Ganie (1998) menyatakan bahwa tidak jarang guru yang ditugaskan sebagai pengajar mata pelajaran bahasa dan sastra merangkap tugas sebagai pengajar mata pelajaran lain yang saling berbeda disiplin ilmunya di berbagai sekolah yang berbeda pula. M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajaran Sastra” dalam buku yang berjudul “Sastra Masuk Sekolah” juga mengatakan bahwa tudingan tentang rendahnya mutu pengajran sastra di sekolah diarahkan kepada guru.
Dalam hal ini, Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajaran apresiasi sastra.
Sejalan dengan pendapat Suharianto, M. Atar Semi juga mengatakan bahwa banyak pecinta sastra, bahkan kalanngan sastrawan meneriakkan bahwa peningkatan kualitas pengajran sastra di sekolah mestilah mengadakan guru sastra khusus, atau guru spesialis sastra, tidak lagi seperti sekarang, dirangkap oleh guru bahasa Indonesia. Maka, siap atau tidak siap, yang segera harus dilakukan adalah memperkaya atau juga menyadarkan para guru akan posisi strategis mereka sehingga sekiranya ada yang memang “tersesat” selama ini, dapat dan mampu menata atau berbenah.
Permasalahan sastra yang kedua yaitu metode pengajarannya. Dalam mencapai tujuan pengajran di dalam kelas, kita perlu mempergunakan berbagai cara atau metode. Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra dapat ditempuh dengan cara-cara antara lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
b. Siswa membaca
c. Siswa menonton pementasan drama
d. Siswa bertukar pengalaman
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
f. Siswa membaca nyaring
g. Siswa mengarang
h. Siswa memainkan peranan
Ketersediaan buku-buku penunjang atau buku paket sangatlah penting dalam proses pembelajaran. “Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Namun lain halnya dengan pendapat M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajran Sastra” yang mengatakan bahwa buku penunjang sastra dalam bentuk buku teks untuk peserta didik tidak perlu. Teori-teori dasar tentang sastra dapat dijelaskan oleh guru di depan kelas secara klasikal.
Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami semua permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya, maka penulis akan mencoba menguraikannya di dalm bagian pembahasan.

3. Pembahasan

3. 1 Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia ?
Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, banyak hal yang harus kita benahi. Hal pertama yang agaknya sangat perlu kita sadari adalah bahwa ditilik dari kualitas dan kuantitas guru di Indonesia dapat dikatakan memang sangat rendah. Adanya anggapan pelajaran bahasa dan sastra di tanah air kita adalah pelajaran yang kurang begitu penting, yang manfaatnya masih diragukan dalam kehidupan keseharian ini, maka tugas mengajar untuk mata pelajaran bahasa dan sastra ini tidak jarang diserahkan kepada guru yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat secara kualititatif. Dalam hal ini guru yang bersangkutan tidak mempunyai kapasitas atau latar belakang pendidikan bahasa dan sastra [sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia]. Kalaupun ia adalah seorang sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di LPTK sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Bagaimana mungkin, guru yang pengetahuan dan kemampuan dasar kesastraannya sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa Namun hal ini bukanlah suatu penghalang, banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru sastra. Pertama, secara kita harus menyadarkan diri sendiri bahwa kita secara sadar sudah memilih profesi guru sebagai pekerjaan. Sebagai seorang guru seharusnya kita mengetahui sedikit lebih banyak daripada murid atau subjek ajar. Penyadaran diri ini memacu kita untuk menambah wawasan dan keterampilan dalam bidang yang kita ajarkan secara otodidak. Kedua, kita hanya berperan sebagai organisator dan fasilitator dalam pembelajaran.
Menurut Rusyana (19082, 9-10) seorang guru sastra haruslah mempunyai semangat, mempunyai kecintaan pribadi terhadap sastra, sastra seharusnya menjadi sumber kenikmatannya. Selain itu, guru sastra haruslah rajin membaca karya sastra dan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang sastra. Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajran apresiasi sastra.
Tujuan pengajaran sastra yang sebenarnya bisa tercapai dengan berbagai cara atau metode. Dalam melaksanakan pengajaran, guru hendaknya memilih cara yang sesuai dengan tujuan, bahan, keadaan siswa, dan suasana kelas (DR. Yus Rusyana, 1982: 17). Guru harus kreatif dan memiliki inisiatif yang tinggi untuk menentukan cara dan metode penggajarannya. faktor penggunaan metode penyajian sastra di sekolah erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat belajar pada siswa.
Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra untuk memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi dapat ditempuh dengan cara-cara anatar lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
Seorang guru yang pandai bercerita, biasanya akan disenangi siswa-siswanya. Dari kegiatan bercerita itu, secara tidak langsung akan terjalin hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Hubungan ini nantinya akan sangat berharga sekali dalam pendidikan Mengingat kegiatan bercerita ini sangat baik untuk pengajaran sastra maupun pendidikan yang lebih luas, maka kegiatan bercerita ini seharusnya mendapat perhatian yang besar dari guru. Guru harus mempersiapkan banyak cerita dan cara dalam penyamapaiannya.
b. Siswa membaca
Siswa hendaknya didorong bukan saja agar senang membaca di sekolah, tetapi juga di rumah. Meningkatkan minat baca siswa sebenarnya tidaklah sukar, yang harus kita lakukan hanyalah menyediakan bahan untuk mereka baca, memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat-lihat bacaan itu, dan kemudian memilihnya sesuai dengan minat mereka sendiri. Sebagai guru sastra, kita bukan saja harus senang membaca hasil sastra, tetapi juga buku anak-anak.
c. Siswa menonton pementasan drama
Menonton drama merupakan suatu kegiatan yang menggembirakan bagi anak. Sekolah bisa saja mengaakan pagelaran, misalnya pementasan sebuah drama secara sederhana di kelas, atau pementasan drama pada akhir tahun, atau hari pendidikan, dan hari kemerdekaan. Kegiatan menonton pementasan drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh kenikmatan. Hal itu tentu saja berguna bagi kepentingan pengajaran sastra. Mereka nantinnya kan tertarik pula untuk mengetahuinya lebih lanjut.
d. Siswa bertukar pengalaman
Setelah siswa mendengarkan cerita, puisi, mnyaksikan pementasan drama, atau setelah mereka membaca, dengan bimbingan guru, mereka dapat saja memperbincangkannya. Hal-hal yang dibicarakan adalah soal penikmatan. Cara-cara menyampaiakn pengalaman itu tidak terbatas dengan kata-kata saja. siswa bisa saja membuat lukisan, karikatur tentang peristiwa yang terjadi.
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
Kesenangan bercerita siswa juga bisa dimanfaatkan untuk pengajaran sastra. Setelah membaca, atau mendengar bermacam-macam cerita, baik lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka tentu mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan. Semuanya itu tentu saja bisa digunakan sebagai bahan bercerita.
Dalam kegiatan bercerita, siswa hendaknya bukan saja menikmati isi yang disampaikannya, tetapi juga menikmati cara menyampaikannya. Guru harus menngusahakan adanya suasana yang menyenangkan, sehingga siswa merasa leluasa untuk berbicara, dan pembicaraannya tidak kaku.
Jika kegiatan bercerita macet, guru bisa mendorongnya dengan mengajukan pertanyaan yang merangsang imajinasi mereka. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru, diharapkan imajinasi anak akan tergugah. Ia bisa memperkaya pembicaraan denga fikiran, perasaan, khayal, kehendak, dll, sehingga ia bisa terlepas dari kekakuan pembicaraan.
f. Siswa membaca nyaring
Siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk membaca dengan ekspresinya sendiri. Bila ada ekspresi yang menurut guru kurang tepat, guru hendaknya membetulakan kesalahan tersebut dengan jalan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggugah dan mengarahkan. Setelah itu, siswa diberi kesempatan untuk mencoba membacanya lagi. Guru tdak perlu memberi contoh dan kemudian anak menirukannya. Guru harus berusaha agar siswa dapat mengekspresikan pengalamannya dengan pembacaannya.
g. Siswa mengarang
Kemampuan mengemukakan sesuatu secara tertulis penting kedudukannya dalam kehidupan kita sekarang. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk dapat mengungkapkan dirinya secara tertulis. Dalam kegiatan ini, yang terpennting adalah mereka mengungkapkan pikiran, perasaannya, khayalnya dengan lancar dan hidup.
Peranan guru dalam mendorong kegiatan siswa sangatlah besar. Guru harus bisa menggugah keinginan dan keberanian murid untuk mengarang. Guru harus pula menunjukkan perhatian dan penghargaan terhadap karangan siswa. Guru bisa saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa berhubungan dengan karangannya, hal ini dilakukan untuk merangsang pengembangan daya batin siswa. Kegiatan karang-mengarang ini bisa kita hubungkan dengan kegiatan lain, seperti mendengarkan, membaca, dan menonton pementasan.
h. Siswa memainkan peranan
Kegitaan ekspresi sastra dapat pula dilakukan oleh siswa dengan memerankan pelaku cerita. Kegiatan membawakan peranan ini sangt bermanfaat, bukan saja untuk keperluan ekspresi, tetapi juga untuk memberikan pengalaman cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Pementasan dapat dilakukan di dalam kelas atau di panggung.

Kedelapan cara untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi di atas tampak sekali bahwa siswa menjadi pelaku yang aktif dalam proses belajar. Hal tersebuit hendaknya menjadi peganngan guru, karena kegiatan siswa dalam pelajarannya sangtlah berfaedah dan membuat pelajaran terlaksana secara efektif. Pengalaman siswa membaca cerita, puisi, drama, atau pengalaman mereka mengarang atau berpentas, dapat digunakan sebagai dasar untuk beroleh pengetahuan tentang sastra.
Untuk mencapai tujuan memperoleh pengetahuan pun, hendaknya guru melibatkan kegiatan siswa. Tentu saja jika memang diperlukan, guru dapat menerangkan dengan cara memberikan ceramah, walaupun hanya sederhana. Setelah itu diadakan tanya jawab.
Kegiatan-kegiatan untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi yang telah dikemukakan di atas pun merupakan usaha usaha untuk menanamkan sikap yang baik terhadap sastra. Siswa dibawa menggemari sastra dan menjadilkan sastra sebagai bagian dari kehidupan mereka.
“Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Ketersediaan buku-buku sastra yang diperlukan di perpustakaan sekolah sebenarnya harus menjadi syarat minimal. Hasan Alwi dalam tulisannya yang berjudul ”Sastra dan Tingkat Keberaksaraan” dalam buku yang berjudul ”Sastra Masuk Sekolah” mengatakan bahwa apresiasi dan pemahaman siswa terhadap sastra akan terasa sangat gersang dan miskin karena mereka hanya mengandalkan bahan yang diberikan guru.
Kendala ketiadaan buku dan bahan penunjang pembelajaran yang dikeluhkan selama ini sebenarnya dapat ditanggulangi melalui beberapa cara. Pertama, pemanfaatan media massa tercetak, seperti koran harian, mingguan, tabloid, dan majalah yang memuat karya sastra. Sekolah dapat berlangganan secara rutin koran atau majalah tertentu sesuai dengan kemampuan dana sekolah. Bila tidak memungkinkan, guru atau pihak sekolah membeli koran atau majalah tertentu pada hari, minggu, atau bulan tertentu sesuai dengan keperluan. Bila hal ini juga tidak memungkinkan, guru menugasi siswa untuk mencari secara personal atau kelompok teks sastra yang dipublikasikan di media cetak sesuai dengan topik yang diajarkan.
Cara lain yang dapat digunakan ialah pemanfaatan berbagai media yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, guru meminta siswa untuk membuat rekaman (kaset atau tertulis) sastra yang ada dalam masyarakat di sekitarnya. Hasil rekaman inilah yang dibawa dan dibicarakan di sekolah. Di samping itu, pemanfaatan media elektronik daerah dan nasional (milik pemerintah atau swasta) yang pada hari dan saat tertentu menayangkan ragam sastra tertentu untuk dinikmati oleh pemirsa. Pembacaan puisi, musikalisasi puisi, drama, dan sebagainya yang ditayangkan di radio dan televisi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa melalui pemberian tugas secara personal ataupun kelompok.

3. 2 Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa ?
DR. Yus Rusyana (1982) dalam bukunya yanng berjudul “Metode Pengajaran Satra” menyatakan bahwa pengajaran sastra termasuk ke dalam pengajaran yang sudah tua umurnya, dan hingga sekarang tetap bertahan dalam kuirikulum pengajaran di sekolah. Hal ini tentu saja disebabkan oleh nilai pengajaran sastra untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran sastra mempunyai peranan dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti aspek pendidikan susila, sosial, perasaan, sika penilaian, dan keagaman.
Drs. Rizanur Gani dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Sastra Indonesia Respon dan Analisis” memaparkan bahwa peranan pendidikan sastra menjadi lebih dari sekedar pengisian kepala siswa dengan setumpuk kebijaksanaan sastra dan sejarah budaya. Proses penddidikan ini menjelama menjadi upaya membantu pribadi pembaca meningkatkan kemampuannya terlibat dengan buku lebih sukses lagi.
Selain itu, banyak alasan lain mengapa pengajaran sastra penting sekali diberikan kiepada siswa, B. Rahmanto (1988) menyebutkan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:

a. membantu keterampilan berbahasa
Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih meningkatkan empat keterampilan berbahasa. Delam pengajaran sastra, siswa dapat melatih keterampilan menyimaknya dengan mendengarkan suatu karya yang dibacakan guru, teman, atau lewat rekaman. Siswa dapt melatih keterampilan berbicaranya dengan cara ikut berperan dalam suatu drama. Siswa dapat juga melatih keterampilan membacanya dnegan membacakan puisii atau cerita. Dan mendiskusikannya, kemudian menuliskan hasil diskusinya.
b. meningkatkan pengetahuan budaya
Sastra tidak seperti halnya ilmu kimia dan sejarah yang menyajikan ilmu pengatahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam denngan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan ‘sesuatu’ dan kerap menyajikan banyak hal yang bila dihayati dengan benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya.
c. mengembangkan cipta dan rasa
Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, dan sosial, serta religius. Karya sastra dapat memberi peluang untuk menigkatkan kecakapan-kecakapan semacam itu. Pengajaran sastra yang dilakukan denga benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembanngkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain.
d. menunjang pembentukan watak
Dibandingkan pelajaran-pelajran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengena seluruh rangkaian kemungkinan hidup menusia, seperti: kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri sampai pada kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian, dan kematian. Selain itu, pengjaran sastra juga dapat memberikan bantuan dalam usaha pengembanngan berbagai kualitas kepribadian siswa yang meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pengjaran sastra memang benar-benar sangt penting bagi siswa didik kita. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana.

4. Penutup
Itulah gambaran sepintas terhadap kondisi sastra dan pengajaran sastra Indonesia hingga hari ini. Tampaknya masih banyak yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal tidak lagi sarat dengan berbagai masalah pada masa yang akan datang. Bila guru sastra (dan bahasa) Indonesia masih tetap berdiam diri dan hanya duduk mengurut dada, kondisi tersebut akan terus berlanjut pada hari-hari yang akan datang.
Penulisan makalah ini bertujuan mengajak kita untuk kembali memperbaharui niat, menumbuhkan tekad, dan bersiap untuk kembali membenahi pengajaran sastra Indonesia di sekolah. Memang ada di antara kita yang terlanjur menjadi guru dan terlanjur pula memilih menjadi guru bahasa Indonesia. Namun, keterlanjuran itu harus kita nikmati sampai hari-hari yang akan datang. Karenanya, saat ini kita harus memilih: tetap menjadi guru sastra atau beralih ke bidang lain yang mungkin jauh lebih mudah dan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cemerlang. Bila kita tetap memilih menjadi guru sastra Indonesia, mulai sekarang kita harus bertekad membuka diri, menambah wawasan, dan berusaha menjadi guru yang ditunggu-tunggu oleh para siswa.
Sebagai calon guru sastra (dan bahasa) pada masa yang akan datang seharusnya kita punya kemampuan yang lebih baik daripada pendahulu kita. Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada dan ditawarkan dalam pembelajaran sastra saat ini hendaknya dimanfaatkan secara maksimal. Bila perlu, kegiatan lain yang berkait dengan kesastraan yang dilaksanakan di luar kampus kita ikuti untuk menambah bekal ilmu dan bekal keterampilan yang kita butuhkan nanti saat menjadi guru. Semoga ulasan ini menggugah kita semua dalam usaha peningkatan kualitas pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal.

Daftar Pustaka

A. Hamid, Mukhlis. 1996. ”Antara Harapan dan Kenyataan”. diakses di http://gemasastrin.wordpress.com/2007/04/20/pengajaran-sastra-indonesia-di-sekolah/

Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.

Ganie, Tajuddin Noor . 1998. Problema Pengajaran Sastra di Sekolah. diakses di http://www.indomedia.com/BPost/9807/29/opini/opini1.htm

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Sarumpaet, Riris K. Toha (ed.). 2002. Sastra M asuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.

Sudikan, Setya Yuwana. 2006, No 31 Th XXII Juli. ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran). ”Gatra”, hlm. 69.

Wahyudi, Ibnu. 2007. “Menyiasati Kurikulum Pelajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Kiat untuk Mafhum dan Berbenah”. diakses di http://johnherf.wordpress.com/2007/02/07/bahasa-dan-sastra-indonesia-di

KTSP

April 24, 2009

KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia

1. Pendahuluan
Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh isu pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007.
Adanya tiga macam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar di masyarakat. Guru sebagai orang yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang paling dibingungkan dengan situasi ini. Tulisan ini akan membahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
2. KTSP
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.
KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.
Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan komite sekolah. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
3. Bahan Ajar
Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan.
Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.
Untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Kedua jenis sumber ini dapat dimanfaatkan. Bahan bacaan yang mengandung muatan nasional dan global dapat diambil dari surat kabar berskala nasional, sedangkan bahan bacaan yang mengandung muatan lokal dapat diambil dari surat kabar daerah. Berdasarkan bahan bacaan ini, guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual. Peserta didik diperkenalkan dengan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan masyarakat yang tatarannya lebih luas.
Bahan ajar yang beragam jenis dan sumbernya ini tentu juga dapat digunakan untuk pelajaran-pelajaran yang lain (menulis, mendengarkan, dan berbicara).
Mengingat pentingnya televisi dan komputer (internet) dalam kehidupan sekarang ini, guru perlu memanfaatkan bahan ajar dari kedua sumber ini. Televisi dan komputer juga dapat dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang menarik.
4. Metode Pembelajaran
Dalam KTSP guru juga diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat, perhatian, dan kreativitas peserta didik. Karena dalam KTSP guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik, metode ceramah perlu dikurangi. Metode-metode lain, seperti diskusi, pengamatan, tanya-jawab perlu dikembangkan.
Pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi, misalnya, dapat melibatkan partisipasi dari semua peserta didik. Semua peserta didik dapat berbicara, mengemukakan pendapatnya masing-masing. Guru dalam hal ini hanya mengarahkan bagaimana diskusi berjalan. Isu diskusi perlu dikaitkan dengan lingkungan sekitar (sekolah, daerah) hingga lingkungan global.
Kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kegiatan dapat dilakukan di luar kelas (perpustakaan, kantin, taman, dsb.), di luar sekolah (mengunjungi lembaga bahasa, stasiun radio/televisi, penerbit, dsb.). Beragamnya tempat pembelajaran dapat membuat suasana belajar yang tidak membosankan.
Kegiatan pembelajaran dapat juga melibatkan orang tua dan masyarakat. Sekolah dapat mengundang orang yang mempunyai profesi tertentu atau ahli dalam bidang tertentu untuk berbicara dan berdialog dengan peserta didik. Sebagai contoh, dalam pelajaran menulis dan berbicara (wawancara), kalau ada orang tua peserta didik yang berprofesi sebagai wartawan, guru dapat mengundang orang yang bersangkutan untuk berbicara dan berdiskusi tentang pekerjaannya denga peserta didik. Kegiatan seperti ini akan berguna untuk peserta didik, guru, dan orang tua. Mereka dapat saling belajar dan proses pembelajaran menjadi menarik dan bersifat kontekstual.
Dalam lingkungan sekolah, staf sekolah juga dapat dimanfaatkan. Misalnya, untuk pelajaran menulis surat resmi guru bisa meminta staf administrasi untuk berbicara tentang penulisan surat. Di samping berguna sebagai sumber pembelajaran, kegiatan ini juga berguna untuk membentuk lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu adanya hubungan dan kerja sama yang baik di antara peserta didik, guru, dan staf.
Kalau memungkinkan, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan kunjungan peserta didik kepada orang dengan profesi tertentu (misalnya penyunting bahasa atau penterjemah) atau ke lembaga tertentu (misalnya lembaga bahasa atau penerbit) untuk menggali informasi tentang bahasa Indonesia. Kegiatan ini akan membuka wawasan peserta didik dan guru akan profesi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan akan pentingnya bahasa Indonesia sehingga diharapkan muncul sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
5. KTSP: Peluang dan Tantangan
Pemberlakuan KTSP pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah. KTSP merupakan kurikulum yang sesuai dengan dinamika kehidupan di Indonesia sekarang ini dikaitkan dengan isu-isu seperti globalisasi dan otonomi daerah. Akan tetapi, pelaksanaan KTSP menuntut banyak hal dari sekolah dan masyarakat seperti profesionalisme, kreativitas, kemandirian guru dan kepala sekolah, serta keterlibatan masyarakat. Pelaksanaan KTSP juga menuntut banyak hal dari pemerintah seperti perencanaan pendidikan yang baik dan terarah, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, dan birokrasi/prosedur administrasi yang sederhana. KTSP juga menuntut partisipasi dan kepedulian masyarakat. Dengan persiapan yang matang dan suasana yang kondusif, KTSP berpeluang besar untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi yang diharapkan.
Tantangan bagi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah meningkatkan profesionalisme. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, guru perlu terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pembelajaran dan berbahasa Indonesia.
6. Penutup
Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apa pun kurikulumnya, guru bahasa Indonesia harus tetap berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik. Karena kurikulum yang akan berlaku dalam beberapa tahun mendatang adalah KTSP, guru perlu mengenal, mempersiapkan diri, dan menyiasati kurikulum ini. Dengan demikian, guru akan dapat menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 2006. “Kurikulum Bahasa Berbasis Sastra.” Makalah untuk Seminar Nasional Kondisi Bahasa Indonesia Masa Kini, Akademi Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Drost, J. 2006. Dari KBK sampai MBS. Jakarta: Buku Kompas.
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdkarya.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
_________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Statu Tinjauan Kritis. Yakarta: Rineka Cipta

Renungan

April 21, 2009

Sayangi Ibumu

Waktu kamu berumur 1 tahun,

dia menyuapi dan memandikanmu …

sebagai balasannya …

kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun ,

dia mengajarimu cara berjalan ..

sebagai balasannya ….. kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun,

dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang .. sebagai balasannya ….

kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun,

dia memberimu pensil warna …

sebagai balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun,

dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya …

kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu kamu berumur 6 tahun,

dia mengantarmu pergi ke sekolah … sebagai balasannya …

kamu berteriak “NGGAK MAU…!

Waktu berumur 7 tahun,

dia membelikanmu bola …..

sebagai balasannya …

kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun,

dia memberimu es krim … sebagai balasannya…….kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun ,

dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu …

sebagai balasannya ….

kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun,

dia mengantarmu kemana saja,

dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ..

sebagai balasannya … kamu melompat

keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun,

dia mengantar kamu dan temen-temen kamu ke bioskop ..

sebagai balasannya … kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun,

dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa …

sebagai balasannya …..

kamu tunggu sampai dia keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun,

dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya …

sebagai balasannya..

kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun,

dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ..

sebagai balasannya ….. kamu nggak pernah menelponnya

Waktu kamu berumur 15 tahun,

pulang kerja dia ingin memelukmu …

sebagai balasannya …

kamu kunci pintu kamarmu


Waktu kamu berumur 16 tahun,

dia mengajari kamu mengemudi mobil sebagai balasannya …

kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun,

dia sedang menunggu telpon yang penting … sebagai balasannya ….

kamu pakai telpon nonstop semalaman,

Waktu kamu berumur 18 tahun,

dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ….

kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun,

dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama …. sebagai balasannya …

kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun,

dia bertanya “Darimana saja seharian ini?”… sebagai balasannya …

kamu menjawab “Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang…..”

Waktu kamu berumur 21 tahun,

dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu … sebagai balasannya ….

kamu bilang “Aku nggak mau seperti kamu.”

Waktu kamu berumur 22 tahun,

dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi .. sebagai balasanmu …. kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun,

dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu … sebagai balasannya …

kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun,

dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan … sebagai balasannya … kamu mengeluh

“Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu.”

Waktu kamu berumur 25 tahun,

dia membantumu membiayai pernikahanmu, sebagai balasannya … kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun,

dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu … sebagai balasannya …. kamu katakan “Sekarang jamannya sudah beda.”

Waktu kamu berumur 40 tahun ,

dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ..

sebagai balasannya kamu jawab “Aku sibuk sekali, nggak ada waktu.”

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu …. sebagai balasannya ….. kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang … dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, … dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam.

MAKA …

JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA …

BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN

LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI .

JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA …

INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKAN DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

Ini adalah mengenai nilai kasih ibu dari seorang anak

yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.

Kemudian dia mengulurkan sesobek kertas yang

bertulis sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima

kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya..

Ongkos upah membantu ibu:

1) Membantu pergi ke warung Rp20.000

2) Menjaga adik Rp20.000

3) Membuang sampah Rp 5.000

4) Membereskan tempat tidur Rp10.000

5) Menyiram bunga Rp15.000

6) Menyapu halaman Rp15.000

Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak

yang raut mukanya berbinar-binar.

Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama…..

1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan - GRATIS

2) Ongkos berjaga malam karena menjagamu - GRATIS

3) Ongkos air mata yang menetes karenamu - GRATIS

4) Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu – GRATIS

5) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu – GRATIS

6) Ongkos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu – GRATIS

Jumlah keseluruhan nilai kasihku – GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca.

Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”.

Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang

ditulisnya: “Telah dibayar” .

God Bless my Mother, Mother I Love You

Sr. Maria Goreti Safe, FdCC

RPP-Bahasa Indonesia

April 16, 2009

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

(RPP)

SEKOLAH : SMAN I KEFAMENANU

MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA

KELAS/SEMESTER : X/I

TAHUN PELAJARAN : 2008/2009

Standar Kompetensi :

1. Mendengarkan

Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung /tidak langsung

Kompetensi Dasar :

1.1 Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan nonberita)

Indikator :

1.1.1 Siawa mampu mendefinisikan kemampuan mendengarkan dengan tepat

1.1.2 Siswa mampu membedakan perbedaan mendengarkan dan mendengar dengan tepat

1.1.3 Siswa mampu menuliskan pokok-pokok isi berita ke dalam beberapa kalimat dengan urut dan mudah dipahami.

1.1.4 Siswa mampu menyampaikan secara lisan isi berita yang telah ditulis secara runtut dan jelas.

1.1.5 Siswa mampu mengajukan pertanyaan/tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolah, menambahkan pendapat).

Alokasi waktu : 2 X 45 menit.

1. Tujuan pembelajaran:

1.1.1 Siawa dapat mendefinisikan pengertian mendengarkan dengan tepat.

1.1.2 Siswa dapat membedakan perbedaan antara mendengarkan dan mendengar dengan tepat.

1.1.3 Siswa dapat menuliskan isi berita ke dalam beberapa kalimat dengan urut dan mudah dipahami.

1.1.4 Siswa dapat menyampaikan secara lisan isi berita yang telah ditulis secara runtut dan jelas.

1.1.5 Siswa dapat mengajukan pertanyaan/tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat).

2. Materi pembelajaran:

2.1 Definisi mendenagrkan

Mendengarkan adalah menyimak (listening) yaitu mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, memperhatikan, mengindahkan. Mendenagrkan dilakukan dengan sengaja dan sadar serta melibatkan pikiran dan perasaan (Suryanto, Alex dan Agus Haryanto. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Tangerang: Esis.)

2.2 Perbedaan mendengarkan dan mendengar

Kebanyakan dari kita tidak dapat membedakan pengertian istilah mendengar dan mendengarkan. Mendengarkan mengandung pengertian dapat menangkap bunyi/suara dengan alat dengar/telinga. Mendengar lebih banyak dilakukan secara tidak sengaja. Istilah lain yang lebih tepat untuk mendengarkan adalah menyimak (listening) yaitu mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, memperhatikan, mengindahkan. Istilah tersebut mengandung pengertia lebih mendalam dibandingkan dengan istilah pertama. Mendengarkan dilakukan dengan sengaja dan sadar serta melibatkan pikiran dan perasaan. Secara singkat kedua istilah itu (mendengarkan dan mendengar) dapat dilihat pada tabel dibawa ini.

No

Mendengar

Mendengarkan

1

Dapat menangkap bunyi

Menangkap bunyi

2

Hanya menggunakan telinga

Menggunakan telinga, melibatkan pikiran, dan perasaan

3

Dilakukan dengan tidak sengaja dan tanpa sadar

Dilakukan dengan sengaja dan secara sungguh-sungguh

4

Dilakukan tanpa konsentrasi

Dilakukan dengan penuh konsentrasi

5

Tidak ada tujuan tertentu

Bertujuan menyampaikan informasi

6

Pesan suara belum tentu dikirim ke otak

Pesan suara dikirim ke otak

(Suryanto, Alex dan Agus Haryanto. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Tangerang: Esis.)

2.3 Menuliskan isi berita ke dalam beberapa kalimat dengan urut dan muda dipahami.

Setiap berita mengandung isi informasi yang penting. Dalam dunia jurnalistik, pokok informasi itu dikenal dengan rumusan 5W + 1H, yaitu singkatan dari what, when, where, who, why, dan how. Maksud nya, dalam berita yang ditulis dengan baik dan benar, di dalamnya disampaikan apa yang terjadi, kapan terjadi, di mana terjadi, siapa yang mengalami, mengapa terjadi, dan bagaimana terjadi. Dalam berita keras (hard news) surat kabar yang ditulis dengan piramide terbalik , pokok-pokok isi berita tersebut tertuang pada bagian teras berita (lead).

Contoh 1:

Simaklah berita yang berjudul “Kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes

Paulus II ke Indonesia” dan tulislah isi berita tersebut.

Berdasarkan hasil tayangan berita tersebut, perhatikan contoh di bawa ini!

siapa

mengapa

Kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia

bagaimana

kapan

apa

di mana

Paus Yohanes Paulus II kepala Negara Vatikan yang juga pimpinan agama Katolik seluruh dunia berkenan mengunjungi para dombanya (umatnya) di Indonesia pada 9-15 Oktober 1989. Seperti biasanya, setelah turun dari pesawat, Sri Paus langsung mencium tanah sebagai tanda cinta kasihnya terhadap negara dan bangsa yang dikunjunginya. Dari Bandara Halim Kusuma, Paus langsung menuju istana merdeka guna bertemu Presiden Soeharto dan dilanjutkan upacara kebangsaan dengan mengumandangkan lagu kebanggsaan kedua negara dengan disambung kentuman meriam dua puluh satu kali. Paus berkenan mengunjungi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Keuskupan Ende-Nusa Tenggara Timur, Sumatra Utara, dan Jawa Tangah.

2.4 Menyampaikan secara lisan yang telah ditulis secara runtut dan jelas

Setelah menuliskan isi berita yang berjudul “Kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia”, sampaikanlah secara lisan secara runtut dan jelas dengan memeperhatikan unsusr-unsur berita (5W + 1H) yaitu:

a. Siapa : Paus Yohanes Paulus II

b. Apa : mengunjungi dombanya (umatnya)

c. Di mana : Indonesia (Istana merdeka, Taman Mini Indonesia Indah,

Keuskupan Ende-NTT, Sumatera Utara,

dan Jawa Tengah).

d. Kapan : 9-15 Oktober 1989

e. Mengapa : pimpinan agama Katolik

f. Bagaimana : setelah turun dari pesawat, Sri Paus langsung mencium tanah sebagai tanda cinta kasihnya terhadap negara dan bangsa yang dikunjunginya. Dari Bandara Halim Kusuma, Paus langsung menuju istana merdeka guna bertemu Presiden Soeharto dan dilanjutkan upacara kebangsaan dengan mengumandangkan lagu kebanggsaan kedua negara dengan disambung kentuman meriam dua puluh satu kali. Paus berkenan mengunjungi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. Keuskupan Ende-Nusa Tenggara Timur, Sumatra Utara, dan Jawa Tangah.

2.5 Mengajukan pertanyaan/tanggapan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat).

Menurut Alex Suryanto dan Agus Haryanto dalam buku Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia, pemirsa yang cerdas tidak mungkin menerima informasi begitu saja. Dengan nalar dan penagalaman yang dimiliki, dia akan menganalisis dengan cermat informasi itu sebelum menerimanya. Selanjutnya ia akan menanggapi informasi itu agar semakin memahami maksud yang terkandung dalam cerita tersebut. Menanggapi informasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya yaitu dapat melontarkn pertanyaaan-pertanyaan kritis yang menggugat. Dengan berbagai pertanyaan ia akan memperoleh informasi yang akurat karena dengan cara itu ia menyaring informasi. Pertanyaan itu bukan sekedar menggungkapkan fakta di permukaan, melainkan menelusuri sumber-sumber timbulnya suatu persoalan. Bukan sekedar ingin mengetahui apa, siapa, kapan, dan di mana melainkan mengetahui bagaimana dan mengapa.

Contoh 2

Pertanyaan:

1. Mengapa Sri paus Yohanes Paulus II berkunjung ke Indonesia, padahal Indonesia adalah negara muslim!

2. Bagaimana peminpin umum agama katolik ini menjalin hubungan dengan negara-negara yang bermayoritaas bukan agama Katolik!

3. Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran: kooperatif learning dan penugasan

4. Langkah-langkah pembelajaran

No

Kegiatan

Alokasi waktu

1

Kegiatan Pendahuluan

a. Apersepsi

b. Brainstorming

2 menit

5 menit

2

Kegiatan Inti

a. Siswa diajak tanya jawab oleh guru tentang pengertian mendengarkan serta perbedaan mendengarkan dan mendengar.

b. Siswa menyimak berita yang berjudul “Kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia” sambil mencatat pokok –pokok penting dari tayangan berita tersebut.

c. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang.

d. Siswa berdiskusi untuk menyatukan berbagai informasi guna membentuk suatu teks yang utuh berdasarkan unsus-unsur penting dalam berita, yaitu apa, kapan, di mana, siapa, mengapa, dan bagaimana.

e. Salah seorang dari masing-masing anggota diminta untuk menyampaikan/membacakan kesimplann pokok-pokok informasi dari tayangan berita tersebut di depan kelas.

f. Setiap kelompok mendapat masukan/tanggapan dari guru.

10 menit

12 menit

3 menit

10 menit

15 menit

3 menit

3

Kegiatan Penutup

a. Refleksi

b. Siswa diberikan tugas rumah oleh guru

4 menit

3 menit

5. Sumber Pembelajaran

a. Suryanto, Alex dan Agus Haryanto. 2007. Panduan Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia. Tangerang: Esis.

b. CD In Loving Memory Bapa Suci Yohanes Paulus II, Cahaya dari Krakow. 2005. Keuskupan Agung Jakarta.

c. Kompas, Selasa 16 Maret 2009

6. Penilaian

Jenis penilaan teknis tes dan non tes

Bentuk tes tertulis

6.1 Apa yang dimaksud dengan mendengarkan!

6.2 Apa perbedaan antara mendengar dan mendengarkan!

6.3 Identifikasikanlah isi berita di bawa ini ke dalam unsusr-unsusr berita (apa ,siapa, mengapa, kapan, di mana, dan bagaimana).

Simaklah pembacaan berita bawa ini.

Diskusi dan Apresiasi Karya Film Indie

Sebagai salah satu usaha untuk menggeliatkan kreatifitas berbagai komunitas film indie di Yogyakarta, Forum Gambar Gerak kembali mengadakan acara apresiasi karya film melalui kegiatan “Selasa Menonton # 2”. Kegiatan tersebut akan dilakukan hari Selasa, (17/3) pukul 19.30-21.30, di gedung Situs Kriya, kompleks Jogya Nasional Museum (JNM), Jalan Amri Yahya, Gampingan, Wirobrayan, Yogyakarta. Kegiatan akan diisi dengan diskusi dan apresiasi terhadap film karya sejumlah komunitas. Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat muncul terobosan kreatif yang dapat memberikan kontribusi perkembangan komunitas film indie.

(Sumber: Kompas, Selasa 16 Maret 2009)

Bentuk tes lisan

6.4 Sampaikanlah secara lisan isi berita berjudul “Diskusi dan Apresiasi Karya Film Indie” yang telah ditulis secara runtut dan jelas!

6.5 Buatlah 2 pertanyaan/tanggapan berdasarkan informasi yang didengar dan sampaikan secara lisan (menyetujui, menolah, menambahkan pendapat).

7. Kunci Jawaban

7.1 Mendengarkan adalah menyimak (listening) yaitu mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, memperhatikan, mengindahkan. Mendenagrkan dilakukan dengan sengaja dan sadar serta melibatkan pikiran dan perasaan.

7.2 Perbedaan mendengar dan mendengarkan

No

Mendengar

Mendengarkan

1

Dapat menangkap bunyi

Menangkap bunyi

2

Hanya menggunakan telinga

Menggunakan telinga, melibatkan pikiran, dan perasaan

3

Dilakukan dengan tidak sengaja dan tanpa sadar

Dilakukan dengan sengaja dan secara sungguh-sungguh

4

Dilakukan tanpa konsentrasi

Dilakukan dengan penuh konsentrasi

5

Tidak ada tujuan tertentu

Bertujuan menyampaikan informasi

6

Pesan suara belum tentu dikirim ke otak

Pesan suara dikirim ke otak

7.3 Isi informasi dari berita yang disimak dengan rumusan 5W + 1H dengan benar.

Apa : Usaha untuk menggeliatkan kreatifitas berbagai komunitas film indie

Siapa : Forum Gambar Gerak

Kapan : Selasa, (17/3) pukul 19.30-21.30,

Di mana: Gedung Situs Kriya, kompleks Jogya Nasional Museum (JNM), Jalan Amri

Yahya, Gampingan, Wirobrayan, Yogyakarta.

Mengapa : Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat muncul terobosan kreatif yang

dapat memberikan kontribusi perkembangan komunitas film indie.

Bagaimana : Kegiatan akan diisi dengan diskusi dan apresiasi terhadap film karya

sejumlah komunitas.

7.4 Sampaikalah secara lisan isi berita berjudul “Diskusi dan Apresiasi Karya Film Indie” yang telah ditulis secara runtut dan jelas.

Diskusi dan Apresiasi Karya Film Indie

Sebagai salah satu usaha untuk menggeliatkan kreatifitas berbagai komunitas film indie di Yogyakarta, Forum Gambar Gerak kembali mengadakan acara apresiasi karya film melalui kegiatan “Selasa Menonton # 2”. Kegiatan tersebut akan dilakukan hari Selasa, (17/3) pukul 19.30-21.30, di gedung Situs Kriya, kompleks Jogya Nasional Museum (JNM), Jalan Amri Yahya, Gampingan, Wirobrayan, Yogyakarta. Kegiatan akan diisi dengan diskusi dan apresiasi terhadap film karya sejumlah komunitas. Melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat muncul terobosan kreatif yang dapat memberikan kontribusi perkembangan komunitas film indie.

7.5 Ajukkanlah 2 pertanyaan/tanggapan secara lisan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat).

Contoh:

7.5.1 Saya setuju dengan kegiatan tersebut karena kegiatan itu sebagai stimulus agar muncul terobosan kreatif yang dapat memberikan kontribusi perkembangan komunitas film indie.

7.5.2 Selain apresiasi karya film, kegiatan apa saja yang harus dilakukan untuk tetap mempertahankan karya film?

8 Pedoman Penilaian :

Penilaian naratif

No

Kriteria Penilaian

Skor

1

Tes tertulis 1

a. Siswa mendapat skor 10 apabila mendefinisikan pengertian mendengarkan dengan benar.

b. Siswa mendapat skor 5 apabila kurang tepat mendefinisikan pengertian mendengarkan dengan benar.

c. Siswa mendapat skor 1 apabila tidak mendefinisikan pengertian mendengarkan dengan benar.

Tes tertulis 2

a. Siswa mendapat skor 10 apabila mampu menyebutkan 6 perbedaan antara mendengarkan dan mendengar dengan benar.

b. Siswa mendapat skor 5 apabila mampu menyebutkan 3 perbedaan antara mendengarkan dan mendengar dengan benar.

c. Siswa mendapat skor 1 apabila tidak mampu menyebutkan perbedaan antara mendengarkan dan mendengar dengan benar.

Tes tertulis 3

a. Siswa mendapat skor 10 apabila mampu menyebutkan pokok informasi dari berita yang disimak dengan rumusan 5W + 1H dengan benar.

b. Siswa mendapat skor 5 apabila hanya menyebutkan sebagian dari pokok informasi dari berita yang disimak dengan rumusan 5W + 1H.

c. Siswa mendapat skor 1 apabila tidak menyebutkan pokok informasi dari berita yang disimak dengan rumusan 5W + 1H dengan benar.

Tes lisan 1

9 Siswa mendapat skor 10 apabila mampu menyampaikan secara lisan isi berita berjudul “Diskusi dan Apresiasi Karya Film Indie” yang telah ditulis secara runtut dan jelas.

10 Siswa mendapat skor 5 apabila kurang mampu menjelas dengan runtut dan jelas secara lisan isi berita berjudul Kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia.”

11 Siswa mendapat skor 1 apabila tidak mampu menjelas dengan runtut dan jelas secara lisan isi berita berjudul Kunjungan Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II ke Indonesia.”

Tes lisan 2

a. Siswa mendapat skor 10 apabila mampu mengajukan 2 pertanyaan/tanggapan secara lisan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat).

b. Siswa mendapat skor 5 apabila mampu mengajukan 1 pertanyaan/tanggapan secara lisan berdasarkan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambahkan pendapat).

c. Siswa mendapat skor 1 apabila tidak aktif mengajukan pertanyaan/tanggapan secara lisan berdasarkan informasi yang didengar

(menyetujui, menolak, menambahkan pendapat).

10

5

1

10

5

1

10

5

1

10

5

1

10

5

1

Mengetahui Yogyakarta, 17 Maret 2009

Kepala Sekolah Guru Bidang Studi

L. Risha Purnama Dewi, S. Pd. Sr. Maria Goreti Safe, FdCC

Seleksi Bahan dan media

April 16, 2009

Seleksi Bahan dan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia

1. pendahuluan

Pada umumnya di dalam kelas guru melakukan banyak kegiatan yang merupakan bagian dari siasat pengajaran. Guru sering kali berfungsi sebagai pemberi motivasi, penyaji informasi, pemimpin latihan dan penguji. Guru membuat keputusan yang mempengruhi seluruh kelas maupun setiap siswa.

Apabila seorang guru mengajarkan bahan pengajaran mengenai setiap pokok bahasan kepada siswa-siswanya, ia harus mengadakan persiapan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.

Bahan atau materi pengajaran yang pertama merupakan bahan pengajaran yang seluruhnya dapat dipelajari sendiri oleh siswa.

2. Memilih materi pengajaran yang sesuai

Menurut Kemp (1977, 44) materi pembelajaran dalam hubungannya dengan proses penyusunan desain intruksional merupakan gabungan antara pengetahuan, ketrampilan dan faktor sikap.

Selesai mengembangkan siasat pengajaran ialah menentukan apakah sudah ada material yang cocok dengan tujuan pengajaran. Siasat pengajaran dapat digunakan untuk menentukan apakah bahan yang telah tersedia sudah memenuhi syarat, atau perlu disesuaikan sebelum dipakai.

2.1 Menurut (Munandir. 1987:199-200) Penilaian bahan dilakukan guna menentukan apakah:

1) Cukup menarik,

2) Isinya sesuai,

3) Urutanya tepat,

4) Informasi yang dibutuhkan ada,

5) Ada soal latihan,

6) Jawaban latihan diberikan,

7) Terdapat tes yang sesuai,

8) Terdapat petunjuk lanjutan yang jelas untuk usaha perbaikan, remediation,

9) Latihan lanjutan, atau kemajuan siswa secara umum,

10) Petunjuk bagi siswa yang mengarahkan mereka dari satu kegiatan yang lain.

2.2 Menentukan materi pokok atau pembelajaran (Depdikbud. 2006:13-14)

Dalam menntukan materi pokok atau pembelajaran harus dipertimbangkan:

a. Relevansi materi pokok dengan SK dan KD;

b. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;

c. Kebermanfaatan bagi peserta didik;

d. Struktur keilmuan;

e. Kedalaman dan keluasan materi;

f. Relefansi dengan kebutuhan peserta didik dan tututan lingkungan;

g. Alokasi waktu.

2.3 Kriteria dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran:

a. Kegiatan pembelajaran disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara profesional sesuai dengan tuntutan kurikulum.

b. Kegiatan pembelajaran disusun berdasarkan atas satu tuntutan Kompetensi Dasar secara utuh.

c. Kegiatan Pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai Kompetensi Dasar.

d. Kegiatan Pembelajaran terpusat pada siswa (student-centered). Guru harus selalu berpikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah ditetapkan.

e. Materi kegiatan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

f. Perumusan kegiatan pembelajaran harus jelas memuat materi yang harus dikuasai untuk mencapai Kompetensi Dasar.

g. Penemuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi KD-KD yang memerlukan prasyarat tertentu.

h. Pembelajaran bersifat spiral (terjadi pengulang-pengulangan pembelajaran materi tertentu).

i. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan kegiatan pembelajaran siswa, yaitu kegiatan (siswa dan guru) dan obyek belajar.

2.4 Prinsip-prinsip penyusunan bahan pembelajaran

Dalam rangka mewujudkan bahan pembelajaran yang tepat sasaran khususnya ketercapaian penguasaan kompetensi pembelajar, sejumlah prinsip memang perku diperhatikan guru dalam menyusun bahan pembelajaran. Prisip-prinsip itu adalah:

a. Keaslian dan validitas

Materi pembelajaran dikatakan asli/ otentik apabila materi tersebut menggambarkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang benar-benar digunakan atau dapat dijumpai dalam komunikasi atau dalam kehidupan nyata. Keaslian materi ini juga mempengaruhi kadar validitasnya, semakin otentik materi, semakin dapat dipercaya kebenaranya.

b. Tingkat kepentingan materi

Materi pembelajaran yang dipilih hendaknya benar-benar penting bagi pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi mereka. Materi yang disusun diharapkan mampu mencapai sasaran minimal indikator-indikator pembelajaran.

c. Keterbelajaran

Materi yang dipilih dan dikembangkan dalam pembelajaran hendaknya benar-benar dapat dipelajari oleh pembelajar.

d. Keajegan/konsisten

Materi yang disiapkan guru hendaknya taat dengan kompetensi yang hendak dicapai.

e. Kebermanfaatan

Materi-materi yang dihadirkan di kelas hendaknya benar-benar bermanfaat untuk hidup mereka. Mater-materi yang dapat langsung dimanfaatkan dalam kehidupan mereka akan sangat membantu penguasaan keterampilan pembelajar.

f. Keberagaman

Bahan/materi pembelajar yang beragam akan membantu pembelajar untuk memahami berbagai jenis teks dan akan memperkaya mereka dengan beragam informasi yang terkandung dalam materi. Selain itu, bahan yang beragam akan semakin memotivasi pembelajar dan mengurangi kebosanan pembelajar.

g. Kemenarikan

Kemenarikan materi dapat dilihat dari aspek penampilan dan isi. Penampilan materi yang menarik (dilengkapi dengan gambar, grafik, warna, dan bagan) tentu sajaakan mempengaruhi pembelajar untuk mempelajarinya. Isi materi dikatakan menarik bila sesuai dengan tingkat umur, minat, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikologisnya.

h. Kebermaknaan

Materi yang bermakana adalah materi yang dikembangkan sesuai kebutuhan pembelajar, memungkinkan mereka dapat mengungkapkan ide,pikiran, gagasan, perasaan, dan informasi kepada orang lain, baik secara lisan maupun tertulis.

Selain delapan prinsip di atas, ada tiga lagi yaitu: Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya harus relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi yang harus dikkuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Prinsip kecakupan ialah materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa mengiuasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompentensi dasar. Sebaliknya, bila terlalu banyak akan buang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya (Depdiknas, 2006: 6-7).

2.5 Seleksi dan pengorganisasian materi

Materi pembelajaran tentang empat keterampilan berbahasa , kebudayaan, dan berpikir literat hendaknya diseleksi dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan siswa berada. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui materi tersebut. Pemilihan materi pembelajaran hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip berikut ini.

a. Kebenaran materi. Sangatlah penting bagi para guru untuk membekali anak-anak dengan materi pembelajaran yang benar dilihat segala aspeknya. Guru hendaknya senantiasa berupaya menjauhkan aspek-aspek kekeliruan dari materi pembelajaran. Beberapa kajian  psikologis menegaskan bahwa sangatlah sulit melepaskan kekeliruan yang tertanam dalam diri siswa melalui kegiatan pembelajaran.

b. Kesesuaian materi dengan tingkat intelektual siswa. Materi tidak boleh berada di atas jangkauan penalaran siswa, sehingga menyulitkan mereka dalam memahaminya, dan jangan pula terlampau mudah, sehingga tidak menarik perhatian siswa. Para siswa, misalnya,  mengalami kesulitan untuk memahami konsep waktu dalam verba bahasa Arab. Karenanya, hal itu tidak sepatutnya disajikan kepada mereka pada kelas-kelas permulaan.

c. Hendaknya materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan siswa dan dengan lingkungan di mana dia hidup. Siswa yang duduk di kelas permulaan, tidak perlu disuguhii bacaan yang tentang keadaan geografis Kerajaan Arab Saudi, tetapi sebaiknya disuguhi topik tentang diri dan keluarganya yang setiap hari dijumpainya.

d. Pemilihan materi juga harus diselaraskan dengan alokasi waktu. Materi jangan terlalu panjang, sehingga membosankan siswa dan menyulitkan mereka. Sebaliknya, materi jangan pula terlampau pendek, sehingga mereka dapat memahaminya dalam waktu singkat dan waktu tersisa digunakan secara tidak produktif.

e. Hendaknya materi disusun dalam urutan yang logis. Setiap bagian materi  harus benar-benar berkaitan dengan materi sebelumnya. Unit-unit materi hendaknya saling berkaitan dan bertaut serta terlihat jelas benang merahnya.

f. Materi hendaknya terbagi ke dalam unit-unit utama. Setiap unit merupakan kumpulan dari unit-unit yang lebih kecil daripada unit utamanya. Tujuan dari pembagian materi ke dalam beberapa unit ini ialah agar pertama-tama guru dapat merancang  kegiatannya, dan agar guru dapat membagi materi dari kurikulum ke dalam  satuan-satuan alamiah yang logis sebagai kegiatan harian, mingguan, atau semesteran. Ini bukan berarti urutan materi itu harus sesuai dengan urutan dalam buku teks, sebab buku disusun selaras dengan tuntutan percetakan, penulisan, dan penyusunan yang belum tentu sesuaii  dengan kegiatan mengajar.

g. Materi pelajaran yang baru hendaknya dikaitkan dengan pelajaran yang lama. Hal ini menuntut guru untuk menghubungkan materi baru dengan materi lama. Sebaiknya guru menjadikan kesulitan pada pelajaran yang lalu sebagai bahan  penyampaian pelajaran yang baru.

Prinsip-prinsip menyeleksi materi Pembelajaran seperti dikemukakan oleh Aziz (1982: 210-217) tersebut, selanjutnya  diorganisasikan menurut landasan dan prinsip-prinsip berikut.

a. Guru memilih bagian materi yang selaras dengan tingkat intelektual siswa dan dengan alokasi waktu yang tersedia.

b. Guru memilah materi ini ke dalam beberapa sekuens – tentu saja di antara sekuens tersebut perlu ada perhentian – dan pada akhir dari setiap sekuens hendaknya ada masa yang dimanfaatkan untuk mereviu sekuens sebelumnya.

c. Hendaknya guru memvariasikan ilustrasi dan contoh, sehingga tampak jelas keuniversilan dan kekokohan teori atau prinsip yang diajarkan.

d. Hendaknya guru memfokuskan diri pada point yang dianggap penting bagi siswa. dia pun hendaknya beralih secara berangsur-angsur dari point yang satu ke point yang lain. peralihan hanya dilakukan jika siswa telah mampu mencerna point sebelumnya. guru jangan hanya mementingkan penjelasan aneka hakikat, tetapi perlu menggali hapalan dan ingatan para siswa.

e. Hendaknya guru menjelaskan hubungan antara point yang satu dengan point yang lain, sehingga dengan cara seperti itu materi pembelajaran merupakan satu kesatuan yang utuh.

f. Perlu diperhatikan pelibatan siswa dalam kkegiatan pembelajaran pada setiap kesempatan yang ada, baik melalui cara bertanya atau diminta mengulangi atau menyebutkan materi yang telah disampaikan. hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar mengerahan upayanya dalam mencapai kebenaran dan agar mereka tidak mengalami kebosanan.

g. Guru perlu memilah antara siswa yang cerdas dan yang normal, antara yang kuat dan yang lemah. demikian pula guru hendaknya mendistribusikan pertanyaan kepada seluruh siswanya secara proporsional, di samping berupaya membangkitkan siswa yang lemah.

2.6 Langkah-langkah penyusunan bahan pembelajaran (Rishe, 2007:127-129)

Langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

b. Sebelum memilih materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipaelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.

c. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran

d. Materi pembelajaran jug dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (depdiknas, 2006: 7-11)

e. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetansi dasar

f. Hal yang dapat dilakukan berkaitan dengan pemilihan jenis materi ini adalah:

1) Mengidentifikasi apakah termasuk fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis materi, hal ini memudahkan guru dalam pembelajaran.

2) Memilih jenis materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.

g. Memilih sumber bahan ajar

Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audiovisual, dsb.

Pemilihan dan pengembangan media

Media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra).

Peran itu antara lain:

a. media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi,

b. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan

c. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.

3.1 Para ahli mendefinisikan media pembelajaran berbeda-beda. Pada dasarnya media pembelajaran merupakan bagian:

a. sarana pembelajaran berupa alat fisik (manusia, materi, peristiwa),

b. berisi pesan pembelajaran,

c. mampu menciptakan komunikasi efektif atara pembelajar denagn materi pembelajaran, dan

d. mampu mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran (Arsyad, 2005:5).

3.2 Jenis-jenis media pembelajaran

Paul dan David (1999: 144-149, melalui Rishe, 2007: 133, dalam Gatra) mengkategorikan media menjadi enam kategori, yaitu:

a. Media yang tidak diproyeksikan

Meliputi: papan tulis, papan flip, grafik, peta, gambar, realia, model tiruan, papan pameran, dan diorama.

b. Media yang diproyeksikan

Meliputi: OHP, slide, dan proyektor.

c. Media audio

Meliputi: pita kaset, rekaman piringan, dan compact disc.

d. Media film dan video (audio-visual)

Berupa kaset video (DVD dan sejenisnya) yang memuat pengkisahan (film).

e. Multimedia

Menyangkut dengan koleksi berbagai tipe media yang terikat dalam satu topik tertentu. Misal, modul pembelajaran yang berupa teks berisi soal-soal dilengkap[I dengan gambar dan program powerpaint.

Media berbasis komunikasi

Diantaranya teleconference, dan kuliah jarak jauh (telelecture).

3.3 Pemilihan media pembelajaran

Menurut Ade Koesnandar (melalui Rishe, 2007: 133-134, dalam Gatra) ada enam dasar penentuan pemilihan media pembelajara. Dasar ini dikenal denagan ACTION berikut ini penjelasanya:

1. Accsess

Accsess adalah kemudahan memperoleh dan menggunakan media.

2. Cost

Cost berhubungan dengan biaya pengadaan dan penggunaan media.

3. Technology

Technology berhubungan dengan ketersediaan media dan fasilitas pendukungnya.

4. Interactivity

Interactivity berkaitan dengan penciptaan komunikasi dua arah antara media dengan materi pembelajaran serta pencapaian keterpahaman siswa.

5. Organization

Organization berhubungan dengan relasi koordinasi atara guru dan pihak sekolah dalam memanfaatkan fasilitas media pembelajaran yang ada di sekolah.

6. Novelty

Novelty berkaitan dengan perkembangan media pembelajaran yang baru. Guru perlu mengetahui perkembangan media pembelajaran yang baru dengan maksud meningkatkan motivasi dan ketertarkan siswa dalam belajar. Penggunaan alat yang baru akan menambah pemahaman siswa tidak perlu media mahal dan canggih paling tidak siswa menapatkan variasi media dalam pembelajaran di kelas.

3.4 Dasar pemilihan media Arsyad (2007:75, melalui Rishe, 2007: 134)

a. kemampuan institusi

b. kesesuaian dengan materi pembelajaran

c. karakteristik siswa

d. kemampuan dan sikap guru

e. tujuan pembelajaran

f. interaksi/ strategi pembelajaran

g. lokasi pembelajaran

h. waktu

i. kualitas alat

j. kepraktisan

3.5 Penggunaan media pembelajaran

Menurut Rishe (2007: 134-135, dalam Gatra) alasan perlunya media digunakan dalam pembelajaran di kelas adalah:

a. media pembelajaran dapat menarik perhatian pembelajaran.

b. media pembelajatran dapat dijadikan sarana mengingat materi pembelajaran yang lalu.

c. media pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam pemerolehan materi yang baru dan mengingat materi pembelajaran yang lalu.

d. media pembelajaran merupakan sarana pendukung dalam menyediakan contoh-contoh materi yang dapat divisualisasikan secara nyata di dalam kelas.

e. materi pembelajaran menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.

f. media pembelajaran dapat dijadikan untuk menilai kefektovan keseluruhan proses pembelajaran yang diperoleh melalui umpan balik nyata yang diperhatikan para pembelajarnya.

g. media pembelajaran membantu pembelajar dalam memperoleh gambaran utuh tentang suatu materi dan kemudahan memahami materi.

h. media pembelajaran dapat dijadiakan sarana peilaian tugas pembelajaran siswa.

3.6 Langkah-langkah penggunaan media menurut Lisa Livingston (melalui Rishe, 2007:135, dalam Gatra) antara lain:

  1. mengidentifikasi materi pembelajaran yang akan disampaikan di kelas.
  2. mengorganisasikan materi mana yang perlu menggunakan media pembelajaran atau semua media memerlukan media dalam kegiatan pembelajaran.
  3. menentukan jenis media yang akan dipergunakan berkaitan materi pembelajaran.
  4. memastikan medaia yang dipilih dapat dioperasikan oleh guru.
  5. menyusun materi pembelajaran secara utuh kedalam media pembelajaran (pemilihan gambar ilustrasi, kemenarikan, unsur pendukung audio perlu diperhatikan).

3.7 Langkah-langkah pemilihan media

Pada dasarnya pemilihan media hendaknya didasarkan atas pertanyaan yang berhubungan dengan tujuan instruksional, materi dan karakteristik media tertentu dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a. Penerangan atau pengajaran

Menentukan apakah media untuk keperluan informasi atau pengajaran. Penerimaan informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan atau ketrampilanya. Sedangkan pembelajarannya yaitu harus menunjukkan kemampuanya sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.

b. Tentukan tranmisi pesan

c. Tentukan karakteristik pelajaran

Kita melakukan persiapan pendahuluan untuk menyusun desain intruksional, di mana kita telah melakukan analisis tentang perlunya mengajar, merumuskan tujuan umum, dan tujuan intstruksional khusus, telah memilih materi dan metode.

Perlu dianalisis apakah TIK yang telah ditentukan tersebut termasuk di dalam aspek pengetahuan, perasaan atau gerak. Masing-masing aspek ini memerlukan media yang berbeda-beda.

d. Klasifikasi media

Media bisa dikelompokkan sesuai dengan ciri khusus masing-masing. Tiap media mempunyai ciri khas, termasuk kelebihan dan kekurangannya bila dibandingkan dengan media lainnya.

e. Analisis karakteristik masing-masing media

Masing-masing media perlu didiskusikan, dianalisis mengenai kebaikan dan kekurrangannya dalam mencapai objective (TIK) yang telah ditentukan. Diperhatikan juga pertimbangan ekonomi, tersedia dengan mudah atau sukar dan sebagainya.

3.8 Problem-problem dalam pemilihan media

a. Seberapa jauh dalam kegiatan belajar diperlukan simuklasi atau tiruan dengan benda atau keadaan sehari-hari atau senyatanya?

b. Media apakah yang paling praktis dapat di produsir, digunakan dengan sesuai dengan rencana pembelajaran?

c. Apakah diperlukan equipment (peralatan) pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan media tersebut?

d. Seberapa jauh prestasi yang harus dicapai oleh siswa menurut desain instruksional yang telah disusun?

e. Apakah nilai perkuliahan dalam arti banyaknya siswa yang diajar, ketrampilan yang dicapainya sepadan dengan media yang digunakan?

3.9 Kelebihan dan keterbatasan beberapa media

Team pengembangan kurikulum Pusat Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan (TKPK) di dalam diskusi kerja bulan Maret 1978 di Hotel Sabang Jakarta telah mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan beberapa media seperti:

a. Media radio

Kelebehan media radio

1) Meningkatkan kemampuan murid untuk berkomunikasi secara lisan

2) Memberikan penerangan secara lain bagi bagian-bagian yang akan menjadi lebih hidup bila disampaikan secara auditif.

3) Mengembangkan imajinasi murid.

4) Sebagai sarana pemantapan dan pengayaan bahan pelajaran.

5) Memberikan penguatan pada bagian yang penting.

6) Sebagai salah satu cara untuk menyampaikan evaluasi dan feedback kepada murid.

7) Menyampaikan suara, bunyi yang asli yang tidak bisa diperoleh secara langsung dan segera.

8) Memiliki jangkuan yang luas dan dalam waktu yang relatif singkat.

9) Program radio dipersiapkan dengan lebih baik oleh team ahli, dengan bahan-bahan yang relatuf lebih luas sehingga kualitas pelajaran dan isinya lebih bermutu.

10) Sudah merupakan sebagian dari budaya masyarakat.

11) Harga dan biaya pemeliharaan cukup murah.

12) Program radio relatif mudah di buat.

13) Radio mampu menyampaikan kebijaksanaan, informasi secara cepat dan akurat.

14) Pesawat radio mudah dibawa kemana-mana.

Keterbatasan media radio

1) Sarana komunikasi satu arah

2) Sarana penyampai program yang hanya satu kali, tak dapat dihentikan untuk diulang (di luar kontrol pendengagaran/audience).

3) Terikat oleh alat pemancaran dan waktu.

4) Terlalu peka terhadap gangguan sekitar.

5) Hanya dapat didengar saja/menjangkau indera yang terbatas.

6) Terbatasnya bahasa pelajaran yang dapat disampaikan dalam satu program karena terbatasnya intensitas daya murid.

b. Media kaset

Kelebihan media kaset

1) Kaset mulai membudaya alam masyarakat Indonesia.

2) Program kaset dapat diguanakan secara perserorangan atau kelomppok

3) Dapat diulang setiap waktu

4) Mudah diperbanyak

5) Mudah menggunakannya.

Keterbatasan media kaset

1) Media untuk didengar saja

2) Media satu arah

3) Tidak memiliki jangkauan yang luas

3.10 Prinsif-prinsif pemilihan media

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan media yaitu:

  1. Apa media itu sesuai untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan?
  2. Apakah media itu sesuai dengan kemampuan belajar dan pola belajar murid?
  3. Apakah media yang dipilih sesuai dengan bahan pelajaran?
  4. Adakah bahan dan peralatan untuk memproduksi program itu dengan mutu yang memadai?
  5. Apakah bahan dan media itu mudah disediakan?
  6. Apakah sudah tidak ada media atau cara lain yang lebih murah dan lebih mudah pengadaan dan penggunaannya, tetapi daya gunanya sama?
  7. Apakah biaya pengadaan dan penggunaanya seimbang dengan manfaat serta hasil pendayagunaannya?
  8. Apakah program media yang akan diguanakan sudah diuji coba untuk menentukan kesahihannya (validitasnya)?.

3.11 Hal-hal yang perlu diperhatikan

  1. Tidak ada satu media yang paling baik untuk semua tujuan.
  2. Penggunaan harus konsisten dengan tujuan.
  3. Media yang digunakan hendaknya cukup dikenal oleh murid.
  4. Media hendaknya sesuai dengan sifat pembelajaran.
  5. Media harus sesuai dengan kemapuan dan pola belajar siswa.
  6. Media dipilih secara objektif dan tidak didasarkan oleh karena kesukaan subyektif.
  7. Karena lingkungan sekitar mempengaruhi hasil penggunaan pesawat media.

3. Penutup

Pada prinsipnya bahan dan media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran terlebih dalam pembentukan konstruksi pengalaman belajar tentang sesuatu. Selain iyu, bahan dan media pembelajaran harudlah berorientasi pada tujuan pembelajaran yang hendak di capai. Oleh karena itu, para guru diharapkan mampu menganalisis materi pembelajaran yangsesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran, serta guru diharapkan mampu menciptakan media berikut penggunaannya. Dengan demikian, pembelajaran mkenjadi lebih efektif dan kompetensi akan berkembang pada diri siswa secara maksimal.

Daftar Pustaka:

Ansyar, Mohamad.1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 2006. Panduan Pengembangan Silabus dan Pnduan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Jakarta: CV Timur Putra Mandiri

Gafur, Abd. 1982. Desain Intruksional. Solo: Tiga Serangkai

http://www.puskur.net/download/naskahakademik/naskahakademikbasing/babiii.doc.

Munandir.1987. Rancangan Sistem Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.

Siahaan, Bistok.1987. Pengembangan Materi Pengajaran Bahasa FPS 626.

Jakarta: Depdikbud.

———- . 2007. “Penyusunan Bahan dan Media Pembelajaran”. Gatra. Januari. Hlm. 124-115. Yogyakarta: PBSID FKIP Universitas Sanata Dharma.

SASTRA

April 16, 2009

Permasalahan Pengajaran Sastra

di Indonesia

1. Pendahuluan

1. 1 Latar Belakang

Situasi pengajaran sastra di sekolah saat ini tidak hanya memprihatinkan, tapi sudah pada taraf “mengerikan”. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra rendah (Mukhlis A. Hamid, M.S. : 1996). Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra “diomprengkan” pada pengajaran bahasa. Pengajaran sastra memang perlu dibenahi secara menyeluruh. Banyak masalah-masalah yang seharusnya tidak muncul dalam pengajaran sastra di sekolah.

Masalah pertama yaitu tingkat kemampuan guru yang masih perlu diperbaiki. Banyak sekali guru sastra yang kurang memahami apa yang diminati oleh siswanya, sehingga ia tidak mampu memberikan penyajian yang menarik dalam pengajaran sastra. Seorang guru sastra seharusnya mempunyai semangat yang berhubungan dengan pengajarannya (DR. Yus Rusyana: 1982). Guru sastra hendaknya juga menyadari bahwa mengajarkan sastra itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengajarkan sikap terhadap nilai-nilai.

Permasalahan kedua yaitu metode pengajarannya. Selama ini, pengajaran kesusastraan di sekolah hanya menekankan bentuk hafalan. Menurut Setya Yuwana Sudikan dalam tulisannya yang berjudul ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)” dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra ”Gatra”, kegiatan menghafal yang banyak dilakukan adalah menghafal nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, maupun menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia, yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada ujian akhir maupun pada kuis-kuis yang diadakan. Hal ini tentu saja mengingkari dan mengkhianati hakikat sastra yang sesungguhnya. Pengajaran sastra hendaknnya lebih bersifat apresiatif. Keaktifan siswa seharunya lebih ditingkatkan dari yang semula lebih “dikuasai” oleh para guru dan pada gilirannya kini “dibebankan” kepada para siswa.

Ketiga, yaitu ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah. Hal ini tentu saja menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Dalam kurikulum yang sudah disempurnakan saat ini pun materi ajar sastra masih terintegrasi dengan materi kebahasaan. Pelajaran khusus yang bernama “sastra” tidak ada, yang ada hanyalah pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru sastra maupun piahka sekolah seharusnya pandai-pandai memanfaatkan semua media yang ada dalam pengajaran sastra.

Berbagai permasalahan yang telah penulis ungkapkan di atas, sedikit banyak tentu saja mempengaruhi minat belajar sastra siswa. Faktor minat belajar memang merupakan masalah lain yang sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Masalah minat ini sangat personal sifatnya sehingga pola penanganannya pun sangat bervariasi.

Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

  1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dua rumusan masalah yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut: (i) Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia; (ii) Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa

2. Kajian Pustaka

Berbagai permasalahan yang ada dalam pengajran sastra jangalah membuat kita semakin ciut. Masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengatasinya. Banyak ahli yang telah meneliti tentang hal ini. Wahyudi (2007) menyatakan bahwa salah satu masalah dalam pembelajaran sastra adalah pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Masih berkaitan dengan anggapan tersebut di atas Tajuddin Noor Ganie (1998) menyatakan bahwa tidak jarang guru yang ditugaskan sebagai pengajar mata pelajaran bahasa dan sastra merangkap tugas sebagai pengajar mata pelajaran lain yang saling berbeda disiplin ilmunya di berbagai sekolah yang berbeda pula. M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajaran Sastra” dalam buku yang berjudul “Sastra Masuk Sekolah” juga mengatakan bahwa tudingan tentang rendahnya mutu pengajran sastra di sekolah diarahkan kepada guru.

Dalam hal ini, Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajaran apresiasi sastra.

Sejalan dengan pendapat Suharianto, M. Atar Semi juga mengatakan bahwa banyak pecinta sastra, bahkan kalanngan sastrawan meneriakkan bahwa peningkatan kualitas pengajran sastra di sekolah mestilah mengadakan guru sastra khusus, atau guru spesialis sastra, tidak lagi seperti sekarang, dirangkap oleh guru bahasa Indonesia. Maka, siap atau tidak siap, yang segera harus dilakukan adalah memperkaya atau juga menyadarkan para guru akan posisi strategis mereka sehingga sekiranya ada yang memang “tersesat” selama ini, dapat dan mampu menata atau berbenah.

Permasalahan sastra yang kedua yaitu metode pengajarannya. Dalam mencapai tujuan pengajran di dalam kelas, kita perlu mempergunakan berbagai cara atau metode. Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra dapat ditempuh dengan cara-cara antara lain:

a. Siswa mendengarkan cerita

b. Siswa membaca

c. Siswa menonton pementasan drama

d. Siswa bertukar pengalaman

e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi

f. Siswa membaca nyaring

g. Siswa mengarang

h. Siswa memainkan peranan

Ketersediaan buku-buku penunjang atau buku paket sangatlah penting dalam proses pembelajaran. “Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Namun lain halnya dengan pendapat M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajran Sastra” yang mengatakan bahwa buku penunjang sastra dalam bentuk buku teks untuk peserta didik tidak perlu. Teori-teori dasar tentang sastra dapat dijelaskan oleh guru di depan kelas secara klasikal.

Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami semua permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya, maka penulis akan mencoba menguraikannya di dalm bagian pembahasan.

3. Pembahasan

3. 1 Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia ?

Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, banyak hal yang harus kita benahi. Hal pertama yang agaknya sangat perlu kita sadari adalah bahwa ditilik dari kualitas dan kuantitas guru di Indonesia dapat dikatakan memang sangat rendah. Adanya anggapan pelajaran bahasa dan sastra di tanah air kita adalah pelajaran yang kurang begitu penting, yang manfaatnya masih diragukan dalam kehidupan keseharian ini, maka tugas mengajar untuk mata pelajaran bahasa dan sastra ini tidak jarang diserahkan kepada guru yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat secara kualititatif. Dalam hal ini guru yang bersangkutan tidak mempunyai kapasitas atau latar belakang pendidikan bahasa dan sastra [sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia]. Kalaupun ia adalah seorang sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di LPTK sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Bagaimana mungkin, guru yang pengetahuan dan kemampuan dasar kesastraannya sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa Namun hal ini bukanlah suatu penghalang, banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru sastra. Pertama, secara kita harus menyadarkan diri sendiri bahwa kita secara sadar sudah memilih profesi guru sebagai pekerjaan. Sebagai seorang guru seharusnya kita mengetahui sedikit lebih banyak daripada murid atau subjek ajar. Penyadaran diri ini memacu kita untuk menambah wawasan dan keterampilan dalam bidang yang kita ajarkan secara otodidak. Kedua, kita hanya berperan sebagai organisator dan fasilitator dalam pembelajaran.

Menurut Rusyana (19082, 9-10) seorang guru sastra haruslah mempunyai semangat, mempunyai kecintaan pribadi terhadap sastra, sastra seharusnya menjadi sumber kenikmatannya. Selain itu, guru sastra haruslah rajin membaca karya sastra dan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang sastra. Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajran apresiasi sastra.

Tujuan pengajaran sastra yang sebenarnya bisa tercapai dengan berbagai cara atau metode. Dalam melaksanakan pengajaran, guru hendaknya memilih cara yang sesuai dengan tujuan, bahan, keadaan siswa, dan suasana kelas (DR. Yus Rusyana, 1982: 17). Guru harus kreatif dan memiliki inisiatif yang tinggi untuk menentukan cara dan metode penggajarannya. faktor penggunaan metode penyajian sastra di sekolah erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat belajar pada siswa.

Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra untuk memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi dapat ditempuh dengan cara-cara anatar lain:

a. Siswa mendengarkan cerita

Seorang guru yang pandai bercerita, biasanya akan disenangi siswa-siswanya. Dari kegiatan bercerita itu, secara tidak langsung akan terjalin hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Hubungan ini nantinya akan sangat berharga sekali dalam pendidikan Mengingat kegiatan bercerita ini sangat baik untuk pengajaran sastra maupun pendidikan yang lebih luas, maka kegiatan bercerita ini seharusnya mendapat perhatian yang besar dari guru. Guru harus mempersiapkan banyak cerita dan cara dalam penyamapaiannya.

b. Siswa membaca

Siswa hendaknya didorong bukan saja agar senang membaca di sekolah, tetapi juga di rumah. Meningkatkan minat baca siswa sebenarnya tidaklah sukar, yang harus kita lakukan hanyalah menyediakan bahan untuk mereka baca, memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat-lihat bacaan itu, dan kemudian memilihnya sesuai dengan minat mereka sendiri. Sebagai guru sastra, kita bukan saja harus senang membaca hasil sastra, tetapi juga buku anak-anak.

c. Siswa menonton pementasan drama

Menonton drama merupakan suatu kegiatan yang menggembirakan bagi anak. Sekolah bisa saja mengaakan pagelaran, misalnya pementasan sebuah drama secara sederhana di kelas, atau pementasan drama pada akhir tahun, atau hari pendidikan, dan hari kemerdekaan. Kegiatan menonton pementasan drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh kenikmatan. Hal itu tentu saja berguna bagi kepentingan pengajaran sastra. Mereka nantinnya kan tertarik pula untuk mengetahuinya lebih lanjut.

d. Siswa bertukar pengalaman

Setelah siswa mendengarkan cerita, puisi, mnyaksikan pementasan drama, atau setelah mereka membaca, dengan bimbingan guru, mereka dapat saja memperbincangkannya. Hal-hal yang dibicarakan adalah soal penikmatan. Cara-cara menyampaiakn pengalaman itu tidak terbatas dengan kata-kata saja. siswa bisa saja membuat lukisan, karikatur tentang peristiwa yang terjadi.

e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi

Kesenangan bercerita siswa juga bisa dimanfaatkan untuk pengajaran sastra. Setelah membaca, atau mendengar bermacam-macam cerita, baik lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka tentu mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan. Semuanya itu tentu saja bisa digunakan sebagai bahan bercerita.

Dalam kegiatan bercerita, siswa hendaknya bukan saja menikmati isi yang disampaikannya, tetapi juga menikmati cara menyampaikannya. Guru harus menngusahakan adanya suasana yang menyenangkan, sehingga siswa merasa leluasa untuk berbicara, dan pembicaraannya tidak kaku.

Jika kegiatan bercerita macet, guru bisa mendorongnya dengan mengajukan pertanyaan yang merangsang imajinasi mereka. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru, diharapkan imajinasi anak akan tergugah. Ia bisa memperkaya pembicaraan denga fikiran, perasaan, khayal, kehendak, dll, sehingga ia bisa terlepas dari kekakuan pembicaraan.

f. Siswa membaca nyaring

Siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk membaca dengan ekspresinya sendiri. Bila ada ekspresi yang menurut guru kurang tepat, guru hendaknya membetulakan kesalahan tersebut dengan jalan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggugah dan mengarahkan. Setelah itu, siswa diberi kesempatan untuk mencoba membacanya lagi. Guru tdak perlu memberi contoh dan kemudian anak menirukannya. Guru harus berusaha agar siswa dapat mengekspresikan pengalamannya dengan pembacaannya.

g. Siswa mengarang

Kemampuan mengemukakan sesuatu secara tertulis penting kedudukannya dalam kehidupan kita sekarang. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk dapat mengungkapkan dirinya secara tertulis. Dalam kegiatan ini, yang terpennting adalah mereka mengungkapkan pikiran, perasaannya, khayalnya dengan lancar dan hidup.

Peranan guru dalam mendorong kegiatan siswa sangatlah besar. Guru harus bisa menggugah keinginan dan keberanian murid untuk mengarang. Guru harus pula menunjukkan perhatian dan penghargaan terhadap karangan siswa. Guru bisa saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa berhubungan dengan karangannya, hal ini dilakukan untuk merangsang pengembangan daya batin siswa. Kegiatan karang-mengarang ini bisa kita hubungkan dengan kegiatan lain, seperti mendengarkan, membaca, dan menonton pementasan.

h. Siswa memainkan peranan

Kegitaan ekspresi sastra dapat pula dilakukan oleh siswa dengan memerankan pelaku cerita. Kegiatan membawakan peranan ini sangt bermanfaat, bukan saja untuk keperluan ekspresi, tetapi juga untuk memberikan pengalaman cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Pementasan dapat dilakukan di dalam kelas atau di panggung.

Kedelapan cara untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi di atas tampak sekali bahwa siswa menjadi pelaku yang aktif dalam proses belajar. Hal tersebuit hendaknya menjadi peganngan guru, karena kegiatan siswa dalam pelajarannya sangtlah berfaedah dan membuat pelajaran terlaksana secara efektif. Pengalaman siswa membaca cerita, puisi, drama, atau pengalaman mereka mengarang atau berpentas, dapat digunakan sebagai dasar untuk beroleh pengetahuan tentang sastra.

Untuk mencapai tujuan memperoleh pengetahuan pun, hendaknya guru melibatkan kegiatan siswa. Tentu saja jika memang diperlukan, guru dapat menerangkan dengan cara memberikan ceramah, walaupun hanya sederhana. Setelah itu diadakan tanya jawab.

Kegiatan-kegiatan untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi yang telah dikemukakan di atas pun merupakan usaha usaha untuk menanamkan sikap yang baik terhadap sastra. Siswa dibawa menggemari sastra dan menjadilkan sastra sebagai bagian dari kehidupan mereka.

“Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Ketersediaan buku-buku sastra yang diperlukan di perpustakaan sekolah sebenarnya harus menjadi syarat minimal. Hasan Alwi dalam tulisannya yang berjudul ”Sastra dan Tingkat Keberaksaraan” dalam buku yang berjudul ”Sastra Masuk Sekolah” mengatakan bahwa apresiasi dan pemahaman siswa terhadap sastra akan terasa sangat gersang dan miskin karena mereka hanya mengandalkan bahan yang diberikan guru.

Kendala ketiadaan buku dan bahan penunjang pembelajaran yang dikeluhkan selama ini sebenarnya dapat ditanggulangi melalui beberapa cara. Pertama, pemanfaatan media massa tercetak, seperti koran harian, mingguan, tabloid, dan majalah yang memuat karya sastra. Sekolah dapat berlangganan secara rutin koran atau majalah tertentu sesuai dengan kemampuan dana sekolah. Bila tidak memungkinkan, guru atau pihak sekolah membeli koran atau majalah tertentu pada hari, minggu, atau bulan tertentu sesuai dengan keperluan. Bila hal ini juga tidak memungkinkan, guru menugasi siswa untuk mencari secara personal atau kelompok teks sastra yang dipublikasikan di media cetak sesuai dengan topik yang diajarkan.

Cara lain yang dapat digunakan ialah pemanfaatan berbagai media yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, guru meminta siswa untuk membuat rekaman (kaset atau tertulis) sastra yang ada dalam masyarakat di sekitarnya. Hasil rekaman inilah yang dibawa dan dibicarakan di sekolah. Di samping itu, pemanfaatan media elektronik daerah dan nasional (milik pemerintah atau swasta) yang pada hari dan saat tertentu menayangkan ragam sastra tertentu untuk dinikmati oleh pemirsa. Pembacaan puisi, musikalisasi puisi, drama, dan sebagainya yang ditayangkan di radio dan televisi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa melalui pemberian tugas secara personal ataupun kelompok.

3. 2 Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa ?

DR. Yus Rusyana (1982) dalam bukunya yanng berjudul “Metode Pengajaran Satra” menyatakan bahwa pengajaran sastra termasuk ke dalam pengajaran yang sudah tua umurnya, dan hingga sekarang tetap bertahan dalam kuirikulum pengajaran di sekolah. Hal ini tentu saja disebabkan oleh nilai pengajaran sastra untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran sastra mempunyai peranan dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti aspek pendidikan susila, sosial, perasaan, sika penilaian, dan keagaman.

Drs. Rizanur Gani dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Sastra Indonesia Respon dan Analisis” memaparkan bahwa peranan pendidikan sastra menjadi lebih dari sekedar pengisian kepala siswa dengan setumpuk kebijaksanaan sastra dan sejarah budaya. Proses penddidikan ini menjelama menjadi upaya membantu pribadi pembaca meningkatkan kemampuannya terlibat dengan buku lebih sukses lagi.

Selain itu, banyak alasan lain mengapa pengajaran sastra penting sekali diberikan kiepada siswa, B. Rahmanto (1988) menyebutkan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:

a. membantu keterampilan berbahasa

Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih meningkatkan empat keterampilan berbahasa. Delam pengajaran sastra, siswa dapat melatih keterampilan menyimaknya dengan mendengarkan suatu karya yang dibacakan guru, teman, atau lewat rekaman. Siswa dapt melatih keterampilan berbicaranya dengan cara ikut berperan dalam suatu drama. Siswa dapat juga melatih keterampilan membacanya dnegan membacakan puisii atau cerita. Dan mendiskusikannya, kemudian menuliskan hasil diskusinya.

b. meningkatkan pengetahuan budaya

Sastra tidak seperti halnya ilmu kimia dan sejarah yang menyajikan ilmu pengatahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam denngan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan ‘sesuatu’ dan kerap menyajikan banyak hal yang bila dihayati dengan benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya.

c. mengembangkan cipta dan rasa

Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, dan sosial, serta religius. Karya sastra dapat memberi peluang untuk menigkatkan kecakapan-kecakapan semacam itu. Pengajaran sastra yang dilakukan denga benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembanngkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain.

d. menunjang pembentukan watak

Dibandingkan pelajaran-pelajran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengena seluruh rangkaian kemungkinan hidup menusia, seperti: kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri sampai pada kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian, dan kematian. Selain itu, pengjaran sastra juga dapat memberikan bantuan dalam usaha pengembanngan berbagai kualitas kepribadian siswa yang meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pengjaran sastra memang benar-benar sangt penting bagi siswa didik kita. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana.

4. Penutup

Itulah gambaran sepintas terhadap kondisi sastra dan pengajaran sastra Indonesia hingga hari ini. Tampaknya masih banyak yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal tidak lagi sarat dengan berbagai masalah pada masa yang akan datang. Bila guru sastra (dan bahasa) Indonesia masih tetap berdiam diri dan hanya duduk mengurut dada, kondisi tersebut akan terus berlanjut pada hari-hari yang akan datang.

Penulisan makalah ini bertujuan mengajak kita untuk kembali memperbaharui niat, menumbuhkan tekad, dan bersiap untuk kembali membenahi pengajaran sastra Indonesia di sekolah. Memang ada di antara kita yang terlanjur menjadi guru dan terlanjur pula memilih menjadi guru bahasa Indonesia. Namun, keterlanjuran itu harus kita nikmati sampai hari-hari yang akan datang. Karenanya, saat ini kita harus memilih: tetap menjadi guru sastra atau beralih ke bidang lain yang mungkin jauh lebih mudah dan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cemerlang. Bila kita tetap memilih menjadi guru sastra Indonesia, mulai sekarang kita harus bertekad membuka diri, menambah wawasan, dan berusaha menjadi guru yang ditunggu-tunggu oleh para siswa.

Sebagai calon guru sastra (dan bahasa) pada masa yang akan datang seharusnya kita punya kemampuan yang lebih baik daripada pendahulu kita. Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada dan ditawarkan dalam pembelajaran sastra saat ini hendaknya dimanfaatkan secara maksimal. Bila perlu, kegiatan lain yang berkait dengan kesastraan yang dilaksanakan di luar kampus kita ikuti untuk menambah bekal ilmu dan bekal keterampilan yang kita butuhkan nanti saat menjadi guru. Semoga ulasan ini menggugah kita semua dalam usaha peningkatan kualitas pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal.

Daftar Pustaka

A. Hamid, Mukhlis. 1996. ”Antara Harapan dan Kenyataan”. diakses di http://gemasastrin.wordpress.com/2007/04/20/pengajaran-sastra-indonesia-di-sekolah/

Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.

Ganie, Tajuddin Noor . 1998. Problema Pengajaran Sastra di Sekolah. diakses di http://www.indomedia.com/BPost/9807/29/opini/opini1.htm

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Sarumpaet, Riris K. Toha (ed.). 2002. Sastra M asuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.

Sudikan, Setya Yuwana. 2006, No 31 Th XXII Juli. ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran). ”Gatra”, hlm. 69.

Wahyudi, Ibnu. 2007. “Menyiasati Kurikulum Pelajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Kiat untuk Mafhum dan Berbenah”. diakses di http://johnherf.wordpress.com/2007/02/07/bahasa-dan-sastra-indonesia-di