Media

By safegoreti

Peran Media Pembalajaran Bagi Dunia Pendidikan

Bab I
Pendahuluan

Media memiliki peran penting dalam pembelajaran. Paran ini antara lain media sebagai sarana pembentuk konstruksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi. Media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilannya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
Sementara, media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar (Arsyad 2005:5, melalui Rishe, 2007:132, dalam Gatra).
Beberapa peran media yang penulis paparkan di atas, diharapkan dapat memberikan sumbangan minat bagi dunia pendidikan pada umumnya.
Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dikemukakan dalam makalah ini adalah mengapa media pembelajaran sangat penting bagi dunia pendidikan?

Bab II
Kajian Teori

Media berasal dari bahasa Latin medium berarti perantara atau pengantar yaitu perantara atau pengantar sumber pesan kepada penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras.
Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik. Masih berkaitan dengan pengertian media, Bachtiar (1984) memberikan batasan bahwa media pembelajaran sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri siswa. Sementara, Arief S. Sadiman dkk, (1986) berpendapat bahwa media dapat mewakili guru menyampaikan informasi secara lebih teliti, jelas, dan menarik. Menurut Bovee (1997) media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/PKP-4c.pdf .

Berdasarkan kategori media, Paul dan David (1999) melalui Rishe (2007) berpendapat bahwa ada enam kategori, yaitu media yang tidak diproyeksikan, media yang diproyeksikan, media audio, media film dan video, multimedia, dan media berbasis komunikasi. Sementara, menurut Rudy Bretz (1971) dalam Harsja W. Bachtiar (1984) mengidentifikasikan media menjadi tiga unsur pokok yaitu media suara, visual, dan gerak. Selain, Schramm mengkategorikan media dari dua segi: dari segi kompleksitas dan besarnya biaya dan menurut kemampuan daya liputannya. Briggs mengidentifikasikan tiga belas macam media pembelajaran yaitu objek, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film rangkai, film bingkai, film televise, dan film gambar. Gagne menyebutkan tujuh macam pengelompokkan media, yaitu benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Menurut Edling, ada enam macam media pembelajaran yaitu kodifikasi subjektif visual dan kodifikasi objektif audio kodifikasi subjektif audio dan kodifikasi objektif visual pengalaman langsung dengan orang dan pengalam langsung dengan benda-benda. Soeparno (1988), berpendapat bahwa klasifikasi media dilakukan dengan menggunakan tiga unsure berdasarkan karakteristiknya, berdasarkan dimensi presentasinya, dan berdasarkan pemakaiannya.

Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005) melalui Rishe (2007). Peran itu antara ialah media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi, media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru. Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Abdul Gafur (1982) mengatakan bahwa kegiatan belajar mengajar sekarang telah bergerak menuju dikuranginya sistem panyampaian dengan ceramah dan berpindah kea rah digunakannya banyak media Harsja W. Bachtiar (1984) mengatakan bahwa media yang dirancang dengan baik, dalam batas tertentu dapat merangsang timbulnya semacam dialog interaktif dalam diri siswa yang belajar. Menurut Akhmad Sudrajat, media memiliki beberapa fungsi yaitu dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik, melampaui batasan ruang kelas, memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya, media menghasilkan keseragaman pengamatan, menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis, media membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar, pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).
Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami materi yang disajikan di atas, maka penulis akan mencoba menguraikannya pada bagian pembahasan.

Bab III
Pembahasan

A. Pengetian Media

Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Arief S. Sadiman dkk, (1986) memberikan batasan, media berasal dari bahasa Latin merupakan bentuk jamak dari “Medium” yang secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.
Gegne (1970) dalam Arif S. Sudirman,1986:6, menagtakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnnya untuk belajar. Semetara Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Asosiasi Pendidikan Nasional memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk\komunikasi, baik cetak maupun audio visual serta peralatannya (Arif Sudirman 1986:7)
Brown (1973) mengungkapkan bahwa media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran dapat mempengaruhi terhadap efektivitas pembelajaran. Tidak begitu beda, Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra) berpendapat bahwa media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver).
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya media pembelajaran adalah sebagai:
a. sarana pembelajaran berupa alat fisik (manusia, materi, peristiwa),
b. berisi pesan pembelajaran,
c. mampu menciptakan komunikasi efektif atara pembelajar dengan materi pembelajaran, dan
d. mampu mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran

B. Macam-Macam Media

Macam media pembelajaran sangatlah beragam. Banyak ahli mengkategotikan media pembelajaran secara berbeda-beda.
1. Paul dan David (1999: 144-149, melalui Rishe, 2007: 133, dalam Gatra)
mengkategorikan media pembelajaran menjadi enam kategori, yaitu:
a. Media yang tidak diproyeksikan
Meliputi: papan tulis, papan flip, grafik, peta, gambar, realia, model tiruan, papan pameran, dan diorama.
b. Media yang diproyeksikan
Meliputi: OHP, slide, dan proyektor.
c. Media audio
Meliputi: pita kaset, rekaman piringan, dan compact disc.

d. Media film dan video (audio-visual)
Berupa kaset video (DVD dan sejenisnya) yang memuat pengkisahan (film).
e. Multimedia
Menyangkut koleksi berbagai tipe media yang terikat dalam satu topik tertentu. Misalnya, modul pembelajaran yang berupa teks berisi soal-soal dilengkapi dengan gambar dan program powerpaint.
f. Media berbasis komunikasi
Diantaranya teleconference, dan kuliah jarak jauh (telelecture).

1. Rudy Bretz
Menurut Rudy Bretz (1971) dalam Harsja W. Bachtiar (1984) mengidentifikasikan ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok yaitu media suara, visual, dan gerak. Bentuk visual sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gambar visual, garis, dan simbol verbal yang sebenarnya merupakan satu kesinambungan dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indera penglihatan.
Selain itu juga Bretz membedakan antara media rekaman dengan media telekomunikasi (transmisi). Dengan demikian terdapat tujuh klasifikasi media sebagai berikut.
1. Media audio visual gerak. Media audio visual merupakan media yang paling lengkap
yaitu menggunakan kemampampuan visual dan gerak.
2. Media audio visual diam. Merupakan kedua dari segi kelengkapan kemampuannya karena ia memiliki semua kemampuan yang ada pada golongan sebelumnya kecuali penampilan gerak.
3. Media audio visual semi gerak; memiliki kemampuan menampilkan suara serta gerak secara linear jadi tidak dapat menampilkan gerak nyata secara utuh.
4. Media visual gerak; memiliki kemampuan seperti golongan pertama kecuali penampilan suara.
5. Media visual diam; memiliki kemampuan menyampaikan informasi secara visual tetapi tidak dapat menampilkan suara maupun gerak.
6. Media audio; media yang hanya memanipulasikan kemampuan-kemampuan suara semata-mata.
7. Media cetak; merupakan media yang hanya mampu menampilkan informasi berupa huruf-angka (alphanumeric) dan simbol-simbol tertentu saja.

2. Schramm
Dari segi kompleksitas dan besarnya biaya, Schramm membedakan antara media rumit mahal (big media) dan media sederhana (little media). Schramm juga mengelompokkan media menurut kemampuan daya liputannya yaitu
1 liputan luas dan serentak seperti televisi, radio, facsimile
2 liputan terabata pada tempat/ruang seperti film suara, film bisu, audio tape,
piringan audio, foto, poster, papan tulis, dan radio vision
3 media untuk belajar individual (mandiri) seperti buku, modul, program belajar
dengan komputer, dan tilpon.
3. Briggs
Menurut Briggs, perbedaan media didasarkan atas stimulus atau rangsangan yang ditimbulkan dari media itu sendiri, yaitu kesesuaian rangsangan tersebut dengan karekteristik siswa, tugas pembelajaran, bahan, dan transmisinya. Ia mengidentifikasikan 13 macam media yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar yaitu

a. Objek
b. Model
c. suara langsung
d. rekaman audio
e. media cetak
f. pembelajaran terprogram
g. papan tulis
h. media transparansi
i. film rangkai
j. film bingkai
k. film televise, dan
l. film gambar

4. Gagne
Tanpa menyebutkan jenis dari masing-masing medianya, Gagne menyebutkan 7 macam pengelompokkan media yaitu

a. Benda untuk didemostrasikan
b. komunikasi lisan
c. media cetak
d. gambar diam
e. gambar gerak
f. film bersuara
g. dan mesin belajar.

5. Edling
Menurut Edling, ada enam unsur pengalaman belajar yaitu
a. dua untuk pengalaman audio, meliputi kodifikasi subjektif visual dan kodifikasi objektif audio
b. dua untuk pengalaman visual meliputi kodifikasi subjektif audio dan kodifikasi objektif visual
c. dua pengalaman belajar 3 dimensi yaitu pengalaman langsung dengan orang dan pengalam langsung dengan benda-benda.

6. Soeparno
Menurut Soeparno (1988), klasifikasi media dilakukan dengan menggunakan tiga kriteria:
1. Berdasarkan karakteristiknya
Menurut Rudy Bretz, media mempunyai lima karakteristik utama, yaitu suara, gerak, gambar, garis, dan tulisan. Selain itu, ada media yang memiliki karakteristik tunggal dan ada media yang memiliki karakteristik ganda.
Media yang memiliki karakteristik tunggal adalah
a. radio: memiliki karakteristik suara saja,
b. rekaman: memiliki karakteristik suara saja,
c. HP: memiliki karakteristik suara saja,
d. slide: memiliki karakteristik gambar saja,
e. reading book: memiliki karakteristik tukisan saja, dan
f. reading machine: memiliki karakteristik tukisan saja.

Media yang memiliki karakteristik ganda:
a. film bisu: memiliki karakteristik gambar dan gerak,
b. film suara: memiliki karakteristik gambar, gerak, dan suara,
c. TV dan VTR: memiliki karakteristik suara, gambar, dan gerak (garis dan tulisan),
d. OHP: memiliki karakteristik suara, gambar, garis, dan tulisan,
e. slide: memiliki karakteristik gambar dan suara, dan
f. bermain peran, sosiodrama, dan psikodrama: memiliki karakteristik suara dan gerak.
2. Berdasarkan dimensi presentasinya
Berdasarkan dimensi presentasinya, media dapat dibedakan menurut lamanya presentasi dan sifat presentasi.
a. Lama presentasi
Berdasarkan lamanya presentasi, media dapat dibagi menjadi dua:
1. Presentasi sekilas: informasi yang disampaikan hanya sekilas berlalu saja. Media yang tergolong dalam kategori ini adalah radio, rekaman, film, TV, dan flash card.
2. Presentasi tak sekilas: informasi yang dikomunikasikan berlangsung secara relatif lama. Media yang tergolong kategori ini adalah slide, film strips, OHP, flow chart, kubus struktur, dan bumbung subsitusi.
b. Sifat presentasi:
Berdasarkan sifat presentasi, media dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu
1. Media dengan presentasi kontinyu: tidak boleh diputus-putus atau diselingi dengan program lain. Yang tergolong jenis ini adalah radio, TV, dan film.
2. Media dengan presentasi tidak kontinyu: dapat diputus-putus atau diselingi dengan program lain. Yang tergolong jenis ini adalah OHP, kubus struktur, bumbung substitusi, flow chart, dan slot board, epidiascope.
3. Berdasarkan pemakaiannya
Berdasarkan jumlah pemakaiannya, media dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Media untuk kelas besar.
b. Media untuk kelas kecil.
c. Media untuk belajar secara individual.
Berdasarkan usia dan tingkat pendidikan pemakai, media dapat dibedakan sebagai berikut.
a. Media untuk murid TK.
b. Media untuk murid SD.
c. Media untuk siswa SMTP.
d. Media untuk siswa SMTA.
e. Media untuk siswa di perguruan tinggi.

Pada hakekatnya, hampir semua media dapat dipakai pada semua tingkatan, asal materinya disesuaikan dengan tingkatan masing-masing.
Terdapat berbagai jenis media belajar, diantaranya :
1. Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
2. Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
3. Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan sejenisnya
4. Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya (http://akhmadsudrajat.wordpress.com/)
Menurut Soeparno (1988) derajat kemedian suatu alat adalah tingkat-tingkatan yang secara gradual (berangsur-angsur) yang memberikan ukuran sejauh mana suatu alat dapat diisi dengan suatu program. Berdasarkan derajat kemediaan suatu alat dapat dibagi menjadi empat kelompok:
1. alat yang derajat kemediaannya tinggi: VTR, TV, dan film;
2. alat yang derajat kemediaannya sedang:slide, OHP, radio, rekaman, film biru, film strips;
3. alat yang derajat kemediaannya rendah: papan tulis, papan tali, papan magnetis, papan flanel, papan selip, kubus struktur, bumbung subtitusi; dan
4. alat yang derajat kemediaannya nol yang berarti alat tersebut sama sekali tidak dapat diisi.

C. Fungsi Media Pembelajaran

Dewasa ini media pembelajaran memegang paran penting di dalam membantu tercapainya proses belajar mengajar. Media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra).
Peran itu antara lain:
a. media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi,
b. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan
c. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
Menurut Akhmad Sudrajat dalam wordpress.com-nya, mengatakan bahwa media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
1. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
2. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (g) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
6. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
8. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak (http://akhmadsudrajat.wordpress.com).

Sementara, menurut R. Rahardjo, media berfungsi untuk:
1. Membuat konkrit konsep yang absrak, misalnya untuk menjelaskan sistem peredaran darah.
2. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan belajar, seperti binatang-bitanang buas atau penguin dari kutup selatan.
3. Menampilkan objek yang terlallu besar, seperti pasar, candi Borobudur, dan sebagainya.
4. Menampilkan objek yang dapat diamati dengan mata telanjang seperti micro organisme.
5. Mengamati gerakkan yang terlalu cepat dengan slowmotion.
6. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkkungannya.
7. Memungkinkan keseragaman pematangan dan persepsi bagi pengalaman belajar siswa.
8. Membangkitkan motivasi belajar
9. Memberi kesan perhatian kepada semua anggota kelompok belajar
10. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan
11. Menyajikan informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu maupun ruang
12. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Bab IV

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran terlebih dalam pembentukan konstruksi pengalaman belajar tentang suatu objek.
2. media pembelajaran haruslah berorientasi pada tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
3. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif
4. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.
5. 5. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik.
6. Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
7. Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
8. Media menghasilkan keseragaman pengamatan
9. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
10. Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
11. Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
13. Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit
sampai dengan abstrak Sementara,
14. Membuat konkrit konsep yang absrak, misalnya untuk menjelaskan sistem
peredaran darah.
15. Membawa objek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam lingkungan
belajar, seperti binatang-bitanang buas atau penguin dari kutup selatan.
16. Menampilkan objek yang terlalu besar, seperti pasar, candi Borobudur,
dan sebagainya.
17. Menampilkan objek yang dapat diamati dengan mata telanjang seperti
micro organisme.
18. Mengamati gerakkan yang terlalu cepat dengan slowmotion.
19. Memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan lingkkungannya.
20. Memungkinkan keseragaman pematangan dan persepsi bagi pengalaman
belajar siswa.
21. Membangkitkan motivasi belajar
22. Memberi kesan perhatian kepada semua anggota kelompok belajar
23. Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun
disimpan menurut kebutuhan
24. Menyajikan informasi belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu
maupun ruang
25. Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Daftar Pustaka

Anderson,Ronald H. 1983. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pemebalajaran.Jakarta:Rajawali.

Gafur, Abd. 1982. Desain Intruksional. Solo: Tiga Serangkai.
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/12/media-pembelajaran
Miarso,Yusufhadi dkk. 1984. Teknologi komunikasi Pendidikan. Jakarta:CV.Rajawali.

Sadiman, Arief.S dkk. 1984.Media Pendidikan.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soeparno.1988. Media Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Inter-Pariwisata.
www.ditnaga-dikti.org/ditnaga/files/PIP/PKP-4c.pdf

…. 2007. Penyususnan Bahan dan Media Pembelajaran. Gatra. Januari. Hlm. 132-135.
Yogyakarta:PBSID FKIP Universitas Sanata Dharma.

Tinggalkan Balasan