REFLEKSI RUANG: KOMPUTER, KAPEL, DAN HATI
Jam menunjuk setengah dua belas siang. Kesepuluh jariku masih saja asyik menari-nari pada tuts-tuts keyboard komputer di ruang komputer. Yang sedang saya kerjakan ini ialah tugas mata kuliah yang cukup sulit bagiku, paling tidak di semester ini. Bobotnya tiga kredit. Mata kuliah itu adalah psikolinguistik, sebuah interdisipliner, gabungan antara disiplin psikologi dengan linguistik yang mempelajari, antara lain, bagaimana otak manusia sejak dini dan hingga dewasa merekam, memproses, memperoleh, dan menggunakan bahasa.
Sementara otakku masih mengutak-atik persoalan “otak”, di sebelah, ruang doa, terdengar kumandang suara tak asing: “Ya, Allah, bersegerahlah menolong aku…”. Oh, jadi sudah ibadat siang? Dan saya terhentak kaget karena roda waktu begitu cepat berputar. Sebentar lagi jam satu saya harus balik ke kampus, dan di sana saya mesti mempresentasikan makalah yang belum juga kunjung selesai kubuat ini.
Ah, satu persoalan lagi. Kalau saya nanti menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju kampus, lima belas menit tiadalah cukup bagiku untuk beristirahat barang lima menit buat sebentar saja menarik napas. Karena itu, kalau saya ke ruang doa sekarang, jelas saya akan terlambat tiba di kampus. Akan tetapi, kalau saya tidak ke ruang doa, nah, ini…apa kata hati? Terjadilah, ruang hatiku tiba-tiba tersekat jadi dua: mau ke ruang doa dulu? Atau, mau langsung selesaikan tugas ini lalu berangkat?
***
Dengan rendah hati harus kuakui, kerap ruang hatiku tak mampu memilah, mana ruang doa dan mana ruang komputer. Maka tak jarang pula ruang hatiku itu berkata bahwa ruang komputer, tempat saya mengerjakan tugas-tugas kuliah (tugas yang mulia, tentu!), sama saja dengan ruang doa. Sebab, masih bisikan dari ruang hati, bukankah dengan tekun mengerjakan tugas-tugas, toh itu bagian dari ‘doa’? Dan sebaliknya, bukankah dengan tekun memanjatkan doa di ruang doa (tentu dengan sebuah keyakinan total!), toh itu juga dapat ‘memperlancar’ pengerjaan tugas-tugas? Nah, di sini persis masalahnya: ruang hatiku merelativir dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa.
Untuk keluar dari jerat relativisme macam itu, saya memang butuh sebuah ruang hati yang jernih, tak bercela untuk memilih prioritas nilai. Bagiku, prioritas nilai dapat membantuku untuk membongkar sekat ruang hati yang telah terbelah, tersekat. Prioritas nilai yang saya maksudkan di sini bukan pertama-tama saya harus menentukan ruang mana (entah doa, entah komputer) yang ‘lebih’ penting untuk saya dahulukan, melainkan kedewasaan ruang hati itu sendiri untuk mengambil keputusan. Apalah gunanya kalau saya di ruang komputer hanya asyik ber-games, sementara saudara-saudaraku sekomunitas sedang menunaikan sholat suci? Tapi apalah pula salahnya, jika karena tugas mulia, mengingat ke kampus memang saya diutus untuk itu dan jam kuliah kebetulan sekali bertepatan dengan jam acara di ruang doa, saya terpaksa tidak ikut menunaikan sholat suci bersama karena tugas itu? Inilah yang saya maksudkan dengan kedewasaan ruang hati dalam mengambil keputusan. Kedewasaan ruang hati di sini memang butuh suatu kualitas kepekaan tertentu. Kualitas kepekaan itu haruslah murni, tidak omong kosong! Maksudnya, jangan sampai ruang hati menggunakan alasan “demi tugas mulia”, lalu meniadakan acara di ruang doa.
Untuk sampai pada kedewasaan dan kualitas kepekaan ruang hati dalam mengambil keputusan berkaitan dengan dua ruang yang lain, ruang (doa) dan ruang (komputer), setidaknya saya melihat dua hal. Pertama, hakikat dari doa sendiri, dan apalagi kegiatan doa (berdoa) senantiasa tidak sama dengan hakikat kegiatan di ruang komputer. Konkretnya, ofisi bersama di ruang doa, yang adalah kegiatan doa bersama, jelas berbeda dari kegiatan pribadi saya dalam mengerjakan sebuah paper, makalah, skripsi (atau entah apalah) di ruang komputer. Sebaliknya, sebuah diskusi kelompok di kampus tidaklah sama intensinya dengan sebuah kegiatan doa pribadi saya di ruang doa. Ini jelas!
Kedua, kegiatan saya di luar komunitas (baca: aktivisme) boleh-boleh saja saya hayati sebagai sebuah bentuk doa, tetapi tak boleh saya samakan begitu saja dengan kegiatan berdoa. Bagiku, keduanya tak terpisahkan satu sama lain, tetapi keduanya memang harus tetap dibedakan satu dari yang lain. Sebab, kalau ruang hatiku tak mampu membedakan keduanya, bisa jadi saya akan jatuh pada ekstremisme, lebih mementingkan yang satu sambil melalaikan yang lain. Ekstermisme macam ini akan berefek pada relativisme: saya lalu menyamaratakan keduanya, padahal hakikat, tujuan, dan efek dari keduanya sama sekali berbeda.
Maka dalam konteks refleksi ini, ruang hatiku mau kembali menegaskan bahwa dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa, jelas berbeda, dengan mengingat kata-kata St. Magdalena dari Canossa kepada: “Saudara, saya setuju engkau mengajarkan “Tugas suci” asal engkau tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian tersuci Akhirnya, bersama St Magdalena pula, pada Pesta Kerahiman Ilahi (Minggu, 19/4/2009) saya pun ingin memohon penerangan hati dengan berdoa: “Allah yang Maha tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Berilah aku, ya Tuhan, perasaan yang peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintahMu yang kudus, dan yang tak akan menyesatkan…Amin.” ***