Arsip untuk Juni, 2009

Berita

Juni 19, 2009

tv bali 4

Bali Televisi
Bali Televisi (Bali TV) sebagai televisi lokal telah hadir di Bali sejak 24 Mei 2002 untuk memperkaya jagat pertelevisian Bali dan Indonesia. Pintu telah dibuka untuk menyampaikan penghargaan atas khasanah keunikan Bali. Kehadirannya dirancang untuk mampu menumbuhkan inspirasi dan motivasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Bali di masa depan. “Bali Televisi hadir karena pemirsa. Masyarakat Bali membutuhkan media yang memiliki kredibilitas dan mengerti kebutuhan mereka.” demikian kata Gayatri salah karyawati Bali TV yang menyambut kami dan menjelaskan kepada kami, rombongan wisata dari Universitas Sanata Dharma, pada Jumat, (5/6) di aula Bali TV.
Karyawati itu menjelaskan bahwa dalam surat yang dikeluarkan Gubernur Bali tertanggal 29 Juli 2002 secara tegas menyebutkan bahwa Pemerintah Propinsi Bali dan masyarakat Bali sangat berkepentingan terhadap jasa pelayanan informasi lokal dan selama dilakukan uji coba penyiaran, Bali TV sangat mendapat respons positif dari masyarakat Bali. Selain itu, kehadiran Bali TV akan sangat menunjang pelaksanaan otonomi daerah khususnya di bidang pelestarian adat dan budaya serta perkembangan pariwisata Bali.
Bali adalah salah satu destinasi penting di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam percaturan nasional bahkan dunia. Banyak peristiwa nasional dan internasional digelar di Bali sehingga menjadi pusat perhatian. Hal ini ditambah potensi Bali lainnya, misalnya budaya dan tradisi unik, yang informasinya selalu diburu masyarakat dunia. Oleh karena itu, keberadaan media khususnya televisi yang didasari pemahaman yang obyektif atas Bali menjadi semakin relevan.
Dengan maksud memberikan alternatif tontonan yang berkualitas, karyawati itu menjelaskan bahwa Bali TV hadir di dunia pers sejak tujuh tahun silam dengan tujuan memberikan wahana bagi masyarakat Bali untuk berkreasi. Bali TV ingin menjadi lembaga penyiaran profesional yang menyediakan informasi, pendidikan dan hiburan yang memberikan pencerahan bagi masyarakat, tetap pada komitmennya yaitu menjaga budaya dan adat Bali.
Media elektronik yang beralamat di Jl. Hayam Wuruk no. 98, Denpasar, Bali ini hadir di tengah-tengah masyarakat Bali pada umumnya sebagai sarana untuk menyalurkan perubahan, menyebarluaskan pengetahuan, pendidikan, informasi dan hiburan, serta memelihara warisan budaya masyarakat Bali. Selain itu, sasaran dari Bali TV adalah dengan program-program yang ditayangkan dapat membantu masyarakat Bali untuk berkembang dalam keharmonis dengan lingkungan dan masyarakat.
Bali TV yang baru merayakan ulang tahun yang ke-7 ini dioperasikan dengan peralatan peralatan digital yang mutakhir. Seluruh peralatan seperti kamera, editing, master control, dan lain sebagainya menggunakan peralatan dengan spesifikasi unggul guna memberikan tayangan dengan kualitas terbaik. Semua program siaran dipancarkan melalui peralatan transmisi merk ROHDE&SCHWARZ NH/NV 8600 Transmitters Family dengan kekuatan 10K watt. Coverage area Bali TV meliputi seluruh bagian daerah pulau Bali kecuali kota Singaraja, serta daerah di luar Bali meliputi Lombok dan Banyuwangi.

Pragram pemasaran Bali TV sebagai televisi komersial membiayai kegiatan operasional dari para pengiklan. Untuk itu, Bali TV bergiat terus memproduksi program acara yang disukai pemirsa untuk memikat dan mengikat para pengiklan secara rutin berinvestasi pada program yang digemari pemirsa. Program-program Bali TV merangkul semua segmen mulai anak anak, remaja, dewasa dan orang tua.

sma 4

Itulah penjelasan dari wartawan TV Bali kepada mahasiswa Universitas Sanata Dharma, yang mengadakan kunjungan ke TV Bali.
Di luar program pemasaran yang memadukan dengan tepat unsur-unsur pemasaran untuk mengoptimalkan sasaran, Bali TV mengkonsentrasikan sasaran melalui dua cara yaitu penjualan group dan penjualan retail. Penjualan group memberikan paket penawaran menarik dengan diskon dengan bonus khusus langsung kepada pemilik produk atau merek. Program ini dijalankan untuk menjaring pemasang iklan dalam jangka panjang. Sedangkan
penjualan secara retail ini dijual kepada pengiklan yang memiliki program berkala atau tidak rutin dan menyesuaikan dengan pelaksanaan event atau program tertentu.
Dengan moto “Bali TV berkarya dengan kreativitas tak terbatas” ini dengan rendah hati, tetap menerima saran, masukan dan pemikiran positif yang sangat berarti bagi langkah kami ke depan. Bali TV akan tetap eksis atas dukungan pemirsa yang memiliki komitmen yang sama untuk berkontribusi pada Bali. Di Bali TV saatnya kita bergabung mensinergikan semua potensi untuk meraih kegemilangan Bali. Bali TV sekali oke, tetap oke!

Ekspedisi

Juni 16, 2009

GUA MARIA SENDANGSONO

Sendangsono 059
Sendangsono adalah tempat ziarah Gua Maria tertua di pulau Jawa. Secara geografis, Sendangsono berada di pegunungan Menoreh dan beralamatkan di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangsono berbatasan dengan Jawa Tengah kira-kira 30 km dari Kota Magelang dan 15 km sebelah selatan Muntilan. Lima tahun yang silam, yaitu tepatnya tahun 2004 telah memperingati usianya yang ke 100 tahun.
Dari Yogyakarta ke Sendangsono dapat ditempuh melalui dua arah yaitu melalui jalan yang mengarah ke Borobudur atau Muntilan. Setelah memasuki arah candi Borobudur peziarah yang belum pernah ke sana bisa mengikuti petunjuk, tetapi petunjuk itu kurang lengkap ke arah Sendangsono. Oleh karena itu, setelah berada di Borobudur, candi Budha yang terkenal di terkenal di Jawa Tengah itu, peziarah bisa bertanya kepada penduduk sekitar untuk mendapat informasi mengenai jalan menuju Sendangsono.
Jalaur lain yang bisa ditempuh yaitu melalui arah barat dari Yogyakarta menuju desa Kalibawang. Meskipun tidak ada petunjuk tetapi dengan bertanya, orang akan dengan mudah menunjukkan jalan ke Kalibawang lalu ke Sendangsono karena tempat itu sudah terkenal. Bagi yang memakai kendaraan umum juga tidak kesulitan karena tersedia ojek motor yang bisa mengantar peziarah dari jalan raya ke lokasi Sendangsono.
Jalan di desa Kalibawang pas untuk satu mobil sehingga harus saling menepi jika berpapasan dengan kendaraan lain. Jalan masuk Sendangsono sudah diaspal. Sendangsono terletak beberapa kilo meter dari jalan raya. Selain jalannya sempit, di sepanjang jalan masuk lokasi Sendangsono terdapat jalan rusak sedikit tetapi mobil sedan masih bisa lewat dengan mulus.

Bagi yang berkendaraan beroda dua dan baru pertama pergi ke daerah perbukitan itu pasti mengalami kesulitan karena jalannya menanjak lalu menurun, dan juga banyak tikungan. Sementara di sebelah kanan dan kiri jalan terlihat jurang yang cukup menakutkan. Maklum, Sendangsono berada di perbukitan Menoreh. Tetapi justru di sepanjang jalan masuk Sendangsono yang begitu menantang itulah, peziarah akan menikmati keindahan alam berupa tebing-tebing dan hamparan perbukitan yang dihiasi aneka tanaman. Suatu keindahanalami yang memang layak dan pantas dipromosikan kepada publik.
Arsitektur Sendangsono
Komplek ziarah Sendangsono yang luasnya hanya sekitar 1 hektar ini memiliki dua tempat parkir yang cukup luas akan tetapi jika musim ziarah atau liburan, tempat itu bisa menjadi sangat padat. Dari depan, jalan masuk lokasi Sendangsono dari tempat parkir, di kiri dan kanan terdapat penjualan barang-barang rohani seperti patung Bunda Maria, Patung Yesus Kristus, salib, rosario, lilin, dan jerigen beserta botol berbentuk patung Bunda Maria untuk diisi air Sendangsono.
Begitu masuk lokasi Sendangsono di sebelah kanan dibangun jalan salib yang jarak satu dengan perhentian ke perhentian lain sangat dekat, hanya beberapa langkah saja. Diorama-diorama kisah sengsara Yesus Kristus berbentuk kecil dan dinaungi atap berwarna merah tua.
Di sekitar tempat tersebut dibuat semacam tempat duduk bertingkat dari batu, dengan maksud tempat ini bisa digunakan sebagai tempat duduk atau tempat untuk berlutut bagi yang berdoa di sekitarnya. Di akhir jalan salib, terdapat pelataran yang berada di tengah dan di bagian bawah terdapat keran air untuk mengambil air dari sumber air Sendangsono.
Di bagian depan sumber air terdapat gua Maria. Di depan gua Maria terdapat pohon sono besar dan sekitar 10 m sebelah kanan pohon sono terdapat pohon beringin yang tidak kalah besarnya sehingga tempat di sekitar gua Maria menjadi teduh dan memberi kenyamanan dan kesejukan bagi peziarah yang ingin memanjatkan devosinya Bunda Maria.
Di dalam lokasi Sendangsono terdapat tiga kapel yang bisa digunakan para peziarah untuk berdoa atau bagi rombongan peziarah yang membawa pastor, biasanya digunakan untuk perayaan ekaristi. Di sebelah kanan berdampingan dengan gua Maria, terdapat salah satu kapel yaitu kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal Mahakudus adalah rumah joglo. Atapnya disusun menjadi tiga lapis. Tiga lapisan atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
Kapel yang kedua adalah Kapel Para Rasul. Bangunan ini berada di sebelah utara gua. Ciri bangunan itu, tiang terdiri dari tiga pilar, atapnya disangga oleh kerangka seperti ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran yang dibuat dengan model kolosium romawi. Sesuai namanya, atap kapel ini terdiri dari 12 sudut untuk menggambarkan ke-12 rasul Yesus.Kapel yang lain adalah Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong dan ditandai dengan tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Ketiga tempat suci ini dipagari. Pagar besi itu dibuka jika akan digunakan untuk ibadat bersama atau merayakan ekaristi.
Halaman gua Maria merupakan bagian dari halaman kapel Tritunggal Mahakudus. Halaman kapel tersebut merupakan ‘pendapa’ yang berfungsi selayaknya tempat tertemuan rakyat dengan junjungannya di tempat terbuka bersuasana dialogis. Di sebelah utara pada dinding bagian pohon sono yang besar dan rindang terpasang dua batu prasasti yang bertanggal 15 Oktober 1972.
Prasasti pertama bertuliskan dua kutipan yaitu “Berkat pada manusai yang menaruh percaya pada Tuhan. Dengan Tuhan selaku harapannya. Ia bagaikan pohon di dekat air yang mempercayakan akar-akarnya pada arus sungai. Bila panas datang tidaklah ia bingung; daun-daunya tetap hijau; tak pernah ia sedih dalam tahun-tahun yang kering” (Yeremia, 17,7-8) dan “Barang siapa berbahagia hendaklah ia datang kepadakKu dan hendaklah ia minum, siapa saja yang percaya akan Daku. Sungai-sungai air hidup akan berpancaran dari batinnya” (Yohanes 7,37).
Prasasti di bawanya bertuliskan “Dipersembahkan dengan rasa syukur penuh harapan di tengah masa yang sedang bergolak oleh umat yang percaya pada rahmat Roh Kudus, keibuan Meriam yang telah mengandung benih sabda Bapa dan melahirkan penyelamat kita, Yesus Kristus.”
Selain kedua prasasti itu, dekat jembatan masuk menuju pelataran Sendangsono terdapat sebuah prasasti dengan tulisan: “Ikatan Arsitek Indonesia menganugerahkan IAI AWARD 1991: Penghargaan Karya Arsitektur Terbaik 1991 kepada Bangunan Ini untuk Kategori Bangunan Khusus Usaha Penataan Lingkungan”.
Di sebelah kanan atas Kapel Bunda Maria Segala bangsa, terdapat sebuah gapura besar menuju pemakaman yang bertuliskan “Makam Lingkungan Semanggung.” Makam itu adalah makam umat Katolik penduduk sekitar Sendangsono. Di sebelah kanan depan gapura itu, langsung terlihat pemakaman dari dua katekis pertama Kalibawang yaitu Barnabas Sarikromo dan Adrianus Sarikromo.
Makam kedua katekis peratama itu kelihatan mencolok dari semua makam di lokasi pemakaman itu karena dibuat lebih tinggi dan agak istimewa dari makam yang lain. Diatas makam yang dibagun menjadi satu bangunan, dipasang satu patung setengah badan berpakaian adat Jawa sebagai suatu penghormatan kepada kedua pewaris iman Khatolik itu. Di antara kedua makam itu, pada bagian kaki yang menghadap ke arah gapura masuk, terpasang sebuah prasasti besar dengan tulisan, “Makam
rnabas Sarikromo.Wafat 15-7-1945. Adrianus Sarikromo. Wafata 6-5-1966. Katekis Pertama di Kalibawang.” Di dekat gapura pemakaman dan depan kapel Bunda Maria Segala Bangsa, juga berdiri tegak Salib Milenium besar berukuran kira-kira 2 meter yang dipasang pada tahun 2000.
Di antara kapel Tri Tunggal dan Kapel Bunda Maria Segala Bangsa terpasang pahatan peristiwa pembabtisan pertama 171 umat Sendangsono. Menurut Aloyisius Agus Suparto (78), pemilik kios yang paling banyak dikunjungi peziarah mengatakan bahwa 171 orang itu dibabtis oleh Romo Van Lith, SJ pada tanggal 14 Desember 1904. “Romo Van Lith adalah salah satu dari dua pastor yang memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang Jawa di Kalibawang ini.” bapak yang tak hentinya mengakui bahwa ia diberkati Bunda Maria di tempat itu menjelaskan.
Antara pelataran gua Maria dan pelataran jalan salib dihubungkan dengan sebuah jembatan berukutan kira-kira 4 meter. Di sebelah kiri dan kanan jembatan dipasang besi bercat merah sebagai pagar sehingga peziarah merasa nyama melewatinya. Di bawa jembatan itu terdapat sekitar 50-an keran air yang dipasang berjejer di sepanjang tembok aliran air lokasi Sendangsono. Untuk mengambil air, dibuatkan trap-trap berupa anak tangga sehingga peziarah tidak kesulitan mengambil air. Pada keran-keran air itulah para peziarah mengisi batol dan jerigen mereka untuk didoakan di depan patung Bunda Maria dan akan dibawa pulang kerumah mereka. Air itu diyakini sebagai air suci. Air dari suci Sendangsono. Pada jembatan yang dibuat dengan memperhatikan daya seninya, peziarah bisa lewat dari situ menuju ke tempat parkir kendaraan bagaian depan.

Patung Bunda Maria
Patung Bunda Maria pada gua yang tersusun dari batu-batu karang itu, tingginya 1,8 cm dan beratnya 300 kilogram. “Patung Bunda Maria di Sendangsono itu didatangkan dari Denmark melalui Semarang, lalu digotong ke Slanden melalui Sentolo, lalu menuju Sendangsono pada tahun 1929 oleh umat Katolih Kalibawang. “Sendangsono dipilih sebagai tempat untuk membangun gua Maria sebagai peringatan kepada peristiwa pembabtisan ke-171 orang di sumber sendang dekat dua pohon sono pada 14 Desember 1904 yang silam oleh Romo Van Lith, SJ.” kata bapak yang dihormati di lingkungan Sendangsono sebagai sesepuh.
Aloysius Agus Suparto yang menuturkan kisah di atas mengaku mengumpulkan berbagai keterangan dari Antonius Sokariyo (katekis awal) Marianus Somokariyo (pamong lingkungan), Plasidus Tanurejo (katekis angkatan kedua), ayahnya, Agustinus Partodikromo, dan para sesepuh di dusun Semanggung, Sendangsono.

Sejarah Sendangsono
Sendangsono adalah nama tempat mempunyai sajarah. Awalnya, sebutan Sendangsono tidak untuk menyebut suatu nama tempat. Sendangsono merupakan sebutan untuk sumber air yang berada di bawah pohon Sono. Istilah Sendangsono merupakan gabungan dua kata, ”Sendang” dan ”Sono”. Sendang merupakan istilah Jawa untuk menyebut sumber air. Sono adalah nama sebuah pohon (baca: angsana). Oleh karena itu, Sendangsono merupakan sebutan untuk mata air yang berada di bawah pohon sono.
Dulu, sebelum nama Sendangsono dikenal, orang sering menyebut sumber air itu dengan sumber Semagung. Dalam perkembangannya, orang mengenal dengan nama Sendangsono.
Sendangsono sebagai tempat ziarah merupakan peristiwa lahirnya Gereja atau umat Katolik di sekitar Kalibawang.
Proses terbentuknya tempat ziarah ini berkaitan erat dengan perkembangan umat Katolik di sekitar Kalibawang. Perkembangan umat Katolik yang pesat mendorong lahir dan berkembangnya Sendangsono.Sebelum menjadi tempat ziarah yang berciri katolik, sumber air di bawah pohon Sono dikenal sebagai tempat keramat. Konon, di tempat itu digunakan untuk semedi. Masyarakat sekitar yakin ada roh-roh yang berdiam di tempat itu.
Menurut legenda, bila roh-roh terganggu, mereka akan mencelakai. Konon pula, di pohon Sono itu berdiam seorang ibu yang bernama Dewi Lantamsari dan anak tunggalnya Den Baguse Samijo. Dua makhluk itu menjadi ”penguasa” daerah itu. Menurut dongeng kuna juga, sumber air Semagung juga digunakan sebagai tempat istirahat para bikshu yang mengadakan perjalanan dari Borobudur ke Boro atau sebaliknya.
Dulu Boro dikenal sebagai tempat biara para bikshu meskipun sekarang ini sudah tidak ada bekasnya. Memang bila dilihat dari jaraknya, sumber Semagung ini berada di tengah-tengah antara Borobudur dan Boro. Pada tanggal 14 Desember 1904, sumber air Semagung dipilih sebagai tempat untuk membaptis. Ketika orang-orang sekitar Semagung masuk agama Katolik, sumber air Semagung dan digunakan digunakan untuk membaptis mereka. Oleh karena itu, sumber air Semagung tidak lagi diperlakukan sebagai tempat tinggal roh-roh tetapi digunakan sebagai tempat berjumpa dengan Tuhan.
Peristiwa baptisan itu menjadi awal mula lahirnya umat Katolik yang berciri Jawa. Dan Sendangsono menjadi monumen sejarah berdirinya umat Katolik di sekitar Kalibawang. Maka Sendangsono lahir karena umat Katolik lahir dan berkembang di sana.
Tanah Milik Tuhan
Berkisah mengenai latar belakang dan asal mula Sendangsono, areal itu awalnya tanah milik penduduk setempat. Pak Luis berkisah, “Dulu areal tanah yang sekarang ditempati Bunda Maria adalah tanah milik Abraham Dipodongso. Tanah itu diwariskan kepada anaknya, Yoakim Ronojoyo, dan diwariskan lagi kepada anaknya, Agustinus Partodikromo, ayah saya.” Kisahnya lagi, “Pada waktu itu tempat itu masih hutan/semak dengan dua pohon sono yang besar dan dua pohon beringin yang rindang. Tempat itu dianggap angker oleh penduduk sekitar.”

bunda

Aloysius Agus Suparto menuturkan bahwa pada saat itu ayahnya, Agustinus Partodikromo ditemui Barnabas Sarikromo dan Antonius Sokariyo, katekis-katekis awal dari daerah itu bermusyawarah. Kedua katekis itu mengharapkan sebagian tanah milik ayahnya untuk tempat ziarah. Bapak yang ramah itu menjelaskan, “Awalnya ayah saya tidak setuju, tetapi setelah direnungkan dan meminta pertimbangan dari keluarga, akhirnya ayah merelekan sebagian tanahnya seluas lebih kurang 300 m². Ayah berpendapat bahwa “Segala sesuatu yang ia miliki adalah milik Tuhan. Jadi tanah ini milik Tuhan, ia hanya mengolahnya.”

Setelah disetujui, kedua katekis itu mengumpulkan umat Katolik dan merencanakan tempat itu untuk mendirikan gua Maria. Pembangunan itu melibatkan seluruh umat Katolik. Mereka bergotong royong mencari bahan material.
Setelah ayah Pak Luis, Agustinus Partodikromo meninggal, untuk perluasan lokasi tempat ziarah gua Maria Sendangsono, pada tahun 1970, sepupu Pak Luis, Bruder Tirto Sumarto, SJ menawarkan untuk membeli tanah warisannya. Pak Luis menjelaskan bahwa saat itu ia menjawab “Saya tidak mau jual. Tanah ini tanah warisan, tetapi jika ini untuk Bunda Maria, saya relakan. Saya tidak mau berhitung dengan Bunda Maria. Saya tidak mau pelit karena bapak saya juga dulu tidak pelit.”
Pak Luis secara jujur mengatakan bahwa dengan memberikan tanah leluhurnya untuk dipakai Bunda Maria adalah hal yang jauh lebih berharga dan bernilai daripada uang sebesar dan sebanyak apapun “Saya sangat bersyukur karena Tuhan memakai tanah kami sebagai RumahNya.” Pak Luis bertutur dengan nada iklas. Ia menambahkan bahwa saat mati ia tidak akan membawa tanah atau uang. Ia menagatakn bahwa Tuhan berkenan menggunakan tanah keluarga mereka, sudah merupakan berkah sangat besar bagi kehidupan keluarga besarnya.
Melalui berkat Bunda Maria di temapt itu, Pak Luis dapat menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi dan sekarang sudah mendapat pekerjaan semua. “Itulah berkata yang saya dapat dari Bunda Maria.” Ia mengatakan bahwa dengan memberi dari hati yang tukus kepada Tuhan, Tuhan juga akan memberi yang terbaik kepadanya bahkan pemberiaanNya berlipat ganda.

Berkat Bunda
Atas berkat dan rahmat dari Bunda Maria, Aloyisius Agus Suparto memulai usahanya di Sendangsono sejak 21 tahun yang silam. Singkat cerita, di sebelah kiri gua Maria, terdapat kios milik Aloyisius Agus Suparto, yang akrap dipanggil Pak Luis oleh penduduk sekitar. Kios tersebut ramai dikunjungi para peziarah. Tidak mengherankan karena di tempat yang strategis, tepat di sebelah kiri gua Maria, hanya dibatasi oleh tembok. Kios yang sudah layak disebut tokoh itu lengkap dengan berbagai makanan ringan, berbagai suvenir benda-benda rohani dari harga yang paling murah sampai paling mahal seperti satu rangkaian rosario bisa mencapai harga Rp. 350.000-Rp. 500.000.
Menurut Ani (25) penjaga kios, “Barang-barang rohani itu mahal karena merupakan barang impor dari Roma-Itali.” Dan kelihatannya, hanya menyebutkan asal barang itu, peziarah tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk mendapatkan satu barang kecil. “Walaupun mahal, saya senang mendapat barang buatan Itali karena tanpa harus pergi ke Itali.” ungkap Tari (32), peziarah dari Jakarta yang baru membeli satu rangkaian Rosario yang bagus made in Roma-Itali dengan harga 450 ribu rupih, di kios Pak Luis pada Minggu, (10/5).
Selain kios, bapak yang tidak mau kiosnya disebut toko ini memiliki warung makan yang banyak dikunjungi peziarah, masih satu atap dengan kios. “Pengunjung warung makan kami sekitar 50-60 tiap hari tetapi jika pada hari Minggu atau bulan Maria (Mei dan Oktober), pengunjung mencapai 300-400 orang per hari. Bahkan kami pernah kewalahan karena kehabisan bahan makanan, seperti sayur-mayur karena belum belanja” ungkap bapak yang memiliki tiga anak dan enam cucu.
Di depan kios dan warung makan terdapat ruangan serbaguna dengan daya tampung 100 orang yang merupakan lantai dua dari sepuluh kamar toilet yang selalu bersih dan siap dipakai oleh peziarah. Di sebelah ruang serbaguna dan toilet terdapat sebuah rumah berlantai dua yang siap dipakai oleh peziarah yang ingin menginap. Dalam rumah itu terdapat empat kamar, setiap kamar terdapat dua tempat tidur berukuran tempat tidur keluarga. Tempat tidur yang satu setinggi lutut dan yang lain lebih pendek sehingga jika tidak dipakai bisa digeser masuk ke kolong tempat tidur yang lebih tinggi.
Tepat di bagian belakang ruang serbaguna dan toilet terdapat dua kolam ikan besar yang menurut Pak Luis, hasil dari kolam ikan itu biasanya tidak diperdagangkan tetapi dibagi-bagi kepada tetangga sebagai rasa ungkapan syukur atas berkat Bunda Maria yang melimpah bagi keluarganya.Di lokasi tanah warisan yang berukuran 300 m², selain terisi penuh oleh bangunan, di antara bagunan itu di tata sedemikian rupa sehingga memancarkan nilai seni tersendiri. “Ini adalah hasil kerja dari anak bungsu saya yang berprofesi sebagai arsitek” ungkap Pak Luis. Ungkapnya lagi, “Segala sesuatu yang saya dan keluarga saya miliki adalah semata-mata berkat dari Bunda Maria. Pujian dan hormatku untuk Bunda tak henti-hentinya. Dia adalah Ibu yang tahu kebutuhan anaknya.”

Peziarah
Di depan patung Bunda Maria, setiap hari banyak peziarah yang khusyuk berdoa dan terdapat banyak lilin pezirah yang sedang menyala dan banyak bunga indah untuk dipersembahkan di depan patung Bunda Maria. Selain itu, diletakan juga jerigen-jerigen dan botol yang berbentuk seperti patung Bunda Maria berisi air yang diambil dari keran (sendang), dengan maksud air itu disucikan dengan berdoa.
Dalam keadaan khusyuk seperti itu, terlihat seorang nenek berambut putih, jalannya tidak tegak lagi (kira-kira berumur 80-an) mengorek-mengorek tumpukan sisa-sisa lelehan lilin yang banyak sekali. Bapak yang hanya mengakhiri pendidikannya di tingkat SMP ini menjelaskan bahwa sisa-sisa lilin yang dikumpulkan itu akan dibawa pulang ke rumahnya untuk didaur ulang. “Nenek itu adalah penduduk lokal yang diberi ijin khusus untuk mengumpulkan sisa-sisa lilin untuk didaur ulang menjadi lilin yang siap pakai.” ujarnya.
Tempat ini ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia pada bulan Mei dan bulan Oktober, bulan Maria gabi umat Katolik. Selain berdoa, pada umumnya para peziarah mengambil air dari sumber air Sendangsono. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Feature

Juni 8, 2009

Batu berbentuk lingga kuno

“Inilah penghubung antara jang silam dengan jang mendatang. Pada tanggal 28 Desember 1957, dalam rangka pembangunan gedung ini, ditemukan di tanah ini sebuah batu berbentuk lingga kuno.Warisan nenek moyang kita tahun 882 Masehi jang kini menjadi hak milik Dinas Purbakala Prambanan demi
kelanjutan kebudayaan nasional.”
Demikian tulisan pada prasastri yang ditempelkan di tembok bagian depan Pastoran Kolese SJ de Britto, Jln. Laksda Adisupcipto, no. 161, Yogyakarta. Tulisan yang menggunakan ejaan lama ini, menarik perhatian setiap tamu yang berkunjung. Warmin (56) yang telah mengabdikan dirinya sebagai karyawan sejak tahun 1972 di Pastoran De Brotto, sambil memandang prasasti tersebut, menjelaskan, “Sesuai pernyataan pada prasasti itu, memang benar, pada tahun-tahun pertama pembangunan rumah ini ditemukan batu berbentuk lingga kuno yang bertuliskan bahasa Jawa kuno tetapi saya juga tidak mengerti arti tulisan itu.”
Pernyataan pada prasasti itu merupakan pernyataan peneguhan mengenai suatu hal yang perlu dicatat dalam sejarah Indonesia. Mengapa? Benda bersejarah itu selain mengingatkkan manusia dari generasi ke generasi pada sejarah masa lalu juga bernilai edukatif bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu peniggalan sejarah itu purlu dilestarikan.
Warmin yang memulai kerjanya sejak pukul 05.00-21.00 WIB menjelaskan bahwa peninggalan sejarah yang ditemukan di tempat ini membuktikan bahwa di tempat ini pernah terjadi suatu peristiwa yang sampai sekarang belum ada ahli sejarah yang menemukan titik terang, peristiwa apa yang pernah terjadi di tempat ini.

Sambil menunjuk ‘bingkai foto penemuan batu berbentuk lingga’ peninggalan sejarah yang dipajang di ruang tamu, bapak yang sudah bungkuk dan batuk-batuk ini menjelaskan bahwa batu itu telah dimusiumkan oleh Dinas Purbakala Prambanan sebagai sebuah peninggalan sejarah yang berharga yang perlu dijaga. Pada foto batu yang berbentuk lingga kuno itu bertuliskan “Piagam Demangan ditemukan 28 Desember 1957 di tanah pembangunan de Britto, Yogyakarta.”
Terkait dengan penemuan itu, pria yang hanya mengingat tahun kelahiranya dan telah lupa tanggl lahirnya kecuali lihat di KTP-nya ini memperkirakan ada berbagai benda bersejarah yang memiliki nilai tinggi berada di dalam tanah. Diperkirakan, benda-benda tersebut merupakan peninggalan dari masyarakat primitif.

Feature

Juni 8, 2009

Yudhistira Ghalia Indonesia Terbukti Sukses

Takut tidak lulus ujian, tegang tidak masuk sekolah favorit, tidak usah takut dan bimbang. Temukan solusinya di tokoh buku Yudhistira Ghalia Indonesia di kota asalmu.
Dengan tujuan mencerdaskan sumber daya manusia, Penerbit Yudhistira Ghalia Indonesia telah banyak menerbitkan buku-buku pelajaran dari tingkat pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi yang layak untuk Anda miliki dan telah tersebar di berbagai toko Yudhistira Ghalia Indonesia di seluruh kota besar di Indonesia.
Penerbit Yudhistira yang berdiri pada tahun 1971 dan baru disahkan pada 6 Januari 1996 ini didirikan oleh Almarhum Lukman Sa’ad dan kini dipimpin oleh Dr.Tiarnugini ini, memang terkenal karena selalu menerbitkan buku-buku yang high quality. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penerbitannya. Mengapa? Setelah laku terjual, sebelum buku tersebut dicetak ulung, pelanggang dari berbagai yayasan sudah menelepon berulang-ulang ke bagian percetakan atau toko buku terdekat untuk memesan buku tersebut. Hal ini bukan hanya keberhasilah penulis buku tetapi peran penerbit sangatlah penting. Pihak percetakan yang dengan daya upaya mempromosikan buku tersebut kepada semua yayasan di Indonesia. Saat ditanya tentang taktik ampuh untuk menarik pelanggan, dengan mantap, Direktur Cabang Yogyakarta, Suhari, S.Pd. menjelaskan, “Taktik yang biasanya digunanakan untuk menarik pelanggan adalah dengan menyebar brosur ke berbagai lembaga pendidikan. Usaha lain yang dilakukan Percetakan Yudhistira yaitu melalui jalur internet (website).”
Ketika ditemui di tempat pameran buku, Jogya Expo Center (JEP), Minggu, (15/3), Tri (34) salah satu karyawan Yudhistira menjelaskan bahwa berdasarkan catatan pada brosur, Penerbit Yudhitira Ghalia Indonesia telah menerbitkan 170 judul buku untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), 110 judul buku untuk tingkat Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP), 98 judul buku untuk tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU), dan sedikitnya 50-an judul buku untuk tingkat Perguruan Tinggi. “Penerbit yang memfokuskan penerbitannya pada dunia pendididkan sesuai kurikulum ini bertekat menjadi penerbit buku bermutu dan senantiasa memberikan yang terbaik bagi dunia pendididkan.” jelas Tri.
Di stand no. 3, stand toko buku Yudhistira, pameran buku tahun 2009 di JEC, karyawati yang bekerja sejak pukul 8.00 sampai 16.00 WIB ini menjelaskan, “visi Percetakan Yudhistira yaitu “Mendarmabaktikan diri pada dunia perbukuan untuk berperan serta mencerdaskan kehidupan bangsa guna meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.” Ia melanjutkan penjelasannya, “Visi yang luhur ini diterapkan dalam tri misinya yaitu menciptakan buku bermutu untuk memenuhi sarana pendidikan bangsa, memenuhi kebutuhan pelanggan dengan memberikan pelayanan terbaik melalui jaringan distribusi yang kuat dan luas, serta menumbuhkan perusahaan yang sehat secara berkesinambungan dari tahun ke tahun.”
Sehubungan dengan pameran buku yang diadakan oleh anggota IKAPI, Suhari mengatakan bahwa toko buku Yudhistira Ghalia Indonesia cabang Yogyakarta bukan anggota IKAPI tetapi Yudhistira turut mengambil bagian dalam memeriahkan Pesta Buku Tahun 2009, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa anggota IKAPI hanya 49 PT percetaka, sementara yang ikut pameran buku tahun ini, berdasarkan dena penempatan, ada 90 stand yang turut ambil bagian dalam memeriahkan pameran buku tahun ini. Saat ditanya tentang alasan mengapa Yudhistira tidak masuk sebagai anggota IKAPI, Suhari dengan spontan menjelaskan, “Yudhistira tidak masuk anggota IKAPI karena pusat Percetakan Yudhistira tidak berlokasi di Yogyakarta tetapi di Jawa Barat. Di Yogyakarta, Yudhistira hanya membuka usaha penjualan buku.”
Percetakan yang berpusat di Jl. Rancamaya Km. 1. No. 47, Ciawi, Bogor, Jawa Barat ini dalam rentang waktu 37 tahun, melalui kerja keras dan komitmen yang utuh dari seluruh karyawan dan manajemen Yudhistira Ghalia Indonesia telah berhasil meraih kepercayaan publik dengan hasil yang membanggakan. “Penerbit ini mendapat respons positif dari masyarakat. Peminatnya dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan yang signifikan.”ujar Suhari. Hal senada juga disampaikan oleh Tri. Ia berpendapat bahwa berdasarka laporan tiap tahun, diperkirakan sebanyak ribuan juta eksemplar yang terjual.
Saat ditemui stand toko buku Yudhistira di JEC, tempat pemeran buku tahun 2009 yang diadakan oleh 49 anggota IKAPI, Daerah istimewa Yogyakarta, Minggu, (15/3), Toni (23) mahasiswa semester IV Fakultas Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta yang baru membeli buku Panduan Belajar untuk SMA, berpendapat bahwa buku panduan belajar yang sudah cukup lengkap berdasarkan kurikulum ini akan cukup membatu dia untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk persiapan mata kuliah Micro Teaching di kampusnya dan buku itu juga akan dipakai untuk praktek mengajar di SMA semester depan. Menurut Toni, ia sudah lama mencari buku panduan mengajar seperti yang baru dibelinya di beberapa toko buku di Yogyakarta tetapi tidak ada. Dengan bangga ia mangatakan “Tujuan kedatangan saya ke JEC bukan untuk membeli buku. Saya hanya ingin menyegarkan pikiran di sini, tetapi ternyata ketemu buku yang selama ini saya cari di toko Yudhistira.”
Saat dihubungi melalui telepon, Kepala Sekolah SMUN I Insana, NTT, Drs. Melki Suni (45), yang sudah lima tahun menjadi pelanggan Yudhistira, Selasa , (17/3) berpendapat bahwa dengan adanya kerja sama antara pihak sekolahnya dan toko Yudhistira yang berlokasi di Kupang, sekolahnya tidak ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan. “Sekolah yang berlokasi di desa, kadang sulit mendapat sumber-sumber yang relevan, tetapi saya beruntung karena bekerja sama dengan toko buku Yudhidtira di Kupang, jadi kami tidak kesulitan.” Guru bidang studi Matematika yang sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama lima tahun ini menjelaskan bahwa jika ada buku penerbitan baru, pihak toko buku Yudhistira langsung memberitahukan, dan jika ada persetujuan antarkedua pihak, biasanya buku langsung dikirimkan melalui paket”. Menurut Pak Melki, panggilan akrapnya, sumber bahan pelajaran sangat berpenaruh bagi tingkat kelulusan tiap tahun. “Saya bersyukur karena sekolah kami yang berlokasi di desa pun tidak kalah saing dengan sekolah yang berlokasi di kota.”katanya membandingkan. Kepala sekolah yang terkenal sebagai kepala sekolah muda, pintar, dan gaul ini, mengatakan bahwa semua yang dikatakannya itu terbukti karena pada ujian nasional setiap tahun, sekolahnya selalu menduduki peringkat lima besar di tingkat provinsi.”
Hal senada juga disampaikan oleh guru bidang studi Bahasa Indonesia, Bernadete Da Silva, S.Pd. (35). Saat dihubungi melalui telepon, Rabu (18/3), berpendapat bahwa dalam hal belajar-mengajar para guru bidang studi dipermudah oleh kepala sekolah dengan membelikan buku panduan mengajar yang sudah lengakap, mulai dari standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator, materi, bahkan sampai evaluasi. Selain buku panduan belajar berdasarkan kurikulum yang berlaku, guru juga dituntut oleh kepala sekolah agar kreatif menggunakan berbagai media pembelajaran dalam menyajikan teori agar siswa memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.” jelas ibu yang akrap disapa Ibu Bernadete.
Menanggapi kedua narasumber di atas, saat dihubungi melalui telepon, Kamis, (19/3), Suhari yang menghabiskan waktunya selama 12 jam per hari di kantor pusat area Yogyakarta yang beralamat di Jl. Sugeng Jeroni, no. 8, Yogyakarta ini mengatakan bahwa selain respon positif dari masyarakat, penerbit ini pun mendapat ancungan jempol dari pemerintah. Mengapa demikian? Ini adalah suatu keberhasilan yang patut disyukuri karena Yudhistira berhasil masuk nominasi penilaan buku pada pusat perbukuan nasional pemerintah Indonesia pada tahun 2004 yang diselenggarakan oleh tim Panitia Nasional Penelaian Buku Pelajaran (PNPBP) pusat perbukuan Depdiknas. Buku-buku yang berhasil diseleksi adalah buku Matematika SD/MI dan buku ILMU Pengetahuan sosia untuk SD/MI.
Hal senada juga dikatakan oleh Tri yang sudah berstatus karyawan tetap di Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Penerbit Yudhistira bekerja sama dengan berbagai sekolah dan yayasan di berbagai kota sehingga jika ada buku baru yang terbit, pihak Yudhistira tidak mengalami kesulitan dalam proses penyaluran buku-buku tersebut. Sebagai rekan kerja, pelanggan buku biasanya diberi kemudahan dengan membarikan diskon sebanyak 10% setiap pembelian, baik dalam jumlah sedikit maupun dalam jumlah banyak.
Selain menerbitkan buku, Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia telah memiliki yayasan pendidikan yang meliputi SLTP, SMU, SMEA, dan STM, dan pendidikan lanjutan untuk tingkat tinggi (Politeknik, STIE, STMIK, STKIP, LPK, serta PKMB) yang terseber di Bandung, Subang, dan Sumedang Jawa Barat. Sampai saat ini, yayasan yang mempekerjakan karyawan sekitar 900-an orang ini, telah meluluskan sekitas 3000 siswa yang telah bekerja dalam berbagai bidang lapangan kerja sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki masing-masing.
Selain visi dan misi Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia yang telah disebutkan diatas, saat ditemui di pameran buku JEC tahun 2009 yang mengambil tema “Pikiran dibuka nurani berbicara”, menurut Suhari, Yayasan Lembaga Pendidikan Yudhistira juga memiliki visi dan misi tersendiri. Pria yang menamatkan pendidikan terakhirnya di UNY tahun 1994 ini menjelaskan bahwa visi Yayasan Pendidikan Yudhistira yaitu mempersiapkan para lulusannya yang terdidik dan taqwa kepada SWT, adaptif, trampil, mandiri, dan mampu mengembangkan diri agar dapat berkompetisi mengisi pasar kerja tingkat menengah sesuai dengan tuntutan otonomi daerah, nasional maupun internasional.Visi ini diterapkan dalam tiga misi yaitu menyiapkan peserta didik melalui upaya peningkatan manajemen sekolah tenaga kependidikan dan pengembangan fasilitas kesiswaan, lingkungan sekolah, proses belajar mengajar, hubungan kerja dengan unit produksi dengan memperhatikan tingkat keterampilan ketercapaian tujuan.
Yayasan penerbit yang telah memiliki 22 lembaga pendidikan ini, kini mempunyai website. Informasi mengenai sekolah-sekolah dari pendididkan menengah sampai pendidikan tinggi yang berada di bawa naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Yudhistira ada semua pada alamat website tersebut. Dalam website itu memuat status, waktu belajar, fasilitas, alamat, program studi, syarat dan biaya pendaftaran. Anda bisa mendapatkan informasi secara lengkap pada alamat website ini www.yudhistira.ac. Id.
Direktur Cabang Yogyakarta, Suhari, berpendapat bahwa usaha yang awalnya bersifat mikro ini sekarang sudah berkembang dan mempunyai suatu tujuan yang mulia yaitu untuk memberdayakan masyarakat, khususnya untuk menyerap tenaga kerja, pengentasan kemiskinan di bidang pendidikan, dan memperbaiki mutu pendidikan Indonesia.
Untuk menghubungi Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia, dapatkan alamat Yudhistira di halaman belakang semua buku terbitannya. Namun untuk mempermudah Anda, silahkan menghubungi alamat kantor pusat yang telah disebutkan di atas atau menghubungi toko buku Yudhistira di kota asalmu.
Jadi, jika Anda ingin menjadi orang yang sukses, kunjungilah toko buku Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia di mana saja Anda berada karena percetakan ini kini tersebar di semua kota di Indonesiin percaya diri dan berani menghadapi ujian serta mudah diterima di sekolah favorit; tidak usah takut dan bimbang. Temukan solusinya di tokoh buku Yudhistira Ghalia Indonesia di kota asalmu karena Yudhistira Ghalia Indonesia Terbukti Sukses.