Arsip untuk Juli, 2009

Renungan

Juli 14, 2009

Bagi Rasa

Pagi itu begitu dingin, cuaca yang tadinya cerah, tiba-tiba murung dan tak mau bersahabat. Kubuka jendela lebar-lebar menangkap hawa dari luar. Ketika menengok kedepan, nampak orang-orang tergesa-gesa takut kahujanan dipagi hari. Pohon cemara yang didepan rumah ditiup angin berderai menggelitik hatiku dengan cara yang jenaka. Teratai yang letaknya tidak jauh dari rumah, mekar bagaikan mentari yang menancarkan senyum kala subuh, menambah keindahan taman kecil Samirono.

Aku masih saja duduk terpaku disebuah kursi tua dan membolak-balik koran yang baru saja diberikan oleh Pak Narto, langganan kami. Gelak lawa terdengar bising di kuping, datang dari arah belakang rumah. Maklum…anak kos-kosan. Berapa orang disekelilingku juga sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku masih saja betah di kursi tua itu dengan pandangan kosong. Sunyi masih berperan penting dalam diriku. Entahlah, aku juga belum menemukan sebuah jawaban untuk mengatasi situasi ini. Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup ini.

Hari itu adalah hari yang berantakan bagiku. Aku merasa stres, tertekan dan seakan-akan segala sesuatu tidak mungkin. Aku merasa hidup ini begitu gersang dan sulit untuk dikendalikan, setelah semalam bergulat dalam diri, meraba jadi diri sambil meredam rindu dengan mengerti. Tentu, masih juga mengenang tanah kelahiranku, dengan selusin kenangan masa lalu. Tanpa manulis sanjak, tanpa bertekun diatas buku, tanpa melototkan mata diatas koran, aku ingin menguasai diri dalam sepi. “Hidup ini adalah suatu nilai, hidup telah banyak mengajarku”, tuturku dalam hati.

Dalam kesepian, keheningan, dan kesunyian tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi telepon. Dengan bermalas-malasan, aku beranjak dan menerima telepon itu. Suara dari si penelpon begitu jelas, tapi asing dikupingku. Ia begitu antusias untuk bercerita, setelah mengetahui si penerima telepon adalah aku. Karena keingintahuanku kuat untuk mengetahui lawan bicaraku, maka aku mendesak untuk mengetahui identitasnya. Namun jawabannya begitu jauh dari dugaanku, ia dengan nada yang agak berat melanjutkan pembicaraannya, “Engkau tidak perlu mengetahui, siapa lawan bicaramu tapi yang penting untuk diketahui adalah “Engkau adalah sebuah lagu cinta untukku, sebuah musik yang membuat dunia tersenyum. Aku telah menyanyi bagimu, namun dengan kasih yang membisu, serba terselubung oleh aneka macam kerudung. Sekarang aku menjerit kepadamu tanpa aling-aling semu. Memang bukanlah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri sampai datangnya berpisah? Bertahun-tahun kutelusuri kota demi kota, akhirnya aku menemukan cinta yang sejati pada gadis yang berkerudung putih”.

Aku terkejut bercampur bingung dengan pembicaraan yang begitu panjang. Belum sempat bersuara, dengan mantap ia bertutur “Dan supaya engkau tahu, aku lebih berbahagia saat melihat engkau berbahagia. Ingat…rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati anda terbuka bagi orang lain dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya mata hati hanya dapat masuk bilamana pintu itu terbuka lebar.” Seketika itu juga teleponnya ditutup.

Aku belum juga beranjak dari tempat telepon itu diletakan. Aku masih teringiang-ingiang dengan selusin ucapan tanpa jeda itu, yang menurutku agak aneh kerena belum pernah mendengar pembicaraan yang panjang dari seorang yang misterius, menurutku. Perasaan senang dan bingung bercampur jadi satu. Matahari sudah meninggalkan pagi, langit yang tadinya menangis mulai memancarkan senyum cerahnya. Udara semakin panas suara-suara burung tekukur piraan kami dulu seperti koor guman yang panjang, datang dari arah utara kota Jogjakarta. Pelan-pelan kukembali ketempat dudukku. Seekor burung melintas, mencoba menembus kaca, terpelanting terbang menjauh.

Matahari mulai mengusir awan dan mulai memanasi tubuh. Sekelompok burung terbang membentuk huruf V, barangkali dari persawahan yang jauh. “Mereka hidup dan berbahagia. Terbang, terbang. Bagi mereka waktu adalah hidup itu sendiri. Selalu, dan selalu terbang. Peduli amat!” pikirku. Memang setiap detik dari hidup adalah untuk dinikmati. Waktu yang mengalir tak henti-hentinya adalah kebahagian terbesar bagi yang dapat merasakannya. Koran yang tadinya kubolak-balik untuk mencari berita hangat, kuambil dan kutelusuri artikel demi artikel, sambil bertanya–tanya dalam hati, siapa jejaka yang membuat penasaran pagi ini. Mungkinkah dia adalah seseorang dimasa laluku? Teman masa kini atau…seorang misterius yang diam-diam mengagumi diriku. Entahlah, aku tak peduli. Aku mulai bangkit dari duduk dan mulai menyibukan diri dengan kegiatan seharianku. Melalu perjalanan waktu yang lama, penelepon misterius itu masih sering mengusikku melalui sms, demgan kat-kata yang sudah bagi bagiku “Engkau adalah sebuah lagu cinta bagiku, aku telah menyanyi bagimu namun dengan kasih yang membisu dan serba terselubung oleh aneka macam kerudung”.

Bye…safegoreti, fdcc.

Linguistik

Juli 14, 2009

Pemerolehan Bahasa Anak

1. Pengertian

Istilah pemerolehan dipakai dalam proses penguasaan bahasa, yaitu salah satu proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak ia lahir (Kushartanti, 2005:24). Pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang dipergunakan oleh kanak-kanak untuk menyesuaikan dengan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit.

Dua pandangan yang bertentangan mengenai pemerolehan bahasa pada anak

· Pendapat Skinner è menurut teori, anak-anak mula-mula merupakan tubula rasa atau sesuatu yang kosong dan lingkungan yang mengisinya melalui mekanisme stimulus respon.

· Pendapat Skinner è menurut teori, anak-anak mula-mula merupakan tubula rasa atau sesuatu yang kosong dan lingkungan yang mengisinya melalui mekanisme stimulus respon.

· Chomsky è seorang anak bukanlah suatu tubula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty adalah kemampuan untuk berkembang).

· Chomsky è seorang anak bukanlah suatu tubula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty adalah kemampuan untuk berkembang).

2. Tahap-Tahap Pemerolehan Bahasa Anak Secara LinguistikPeriode Pralingual

Periode ini umumnya dialami pada anak pada usia 0 – 1 tahun. Pada periode ini anak belum mengucapkan bahasa. Periode ini dibagi menjadi dua subtahap, yaitu:

a. Periode Pralingual

Periode ini umumnya dialami pada anak pada usia 0 – 1 tahun. Pada periode ini anak belum mengucapkan bahasa. Periode ini dibagi menjadi dua subtahap, yaitu:

1) Tahap Mendekut (cooing)

Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi yang mirip vokal atau konsonan.

2) Tahap Pengocehan (babbling stage)

Seorang anak yang telah berumur kira-kira enam bulan, ia mulai mengoceh. Dalam tahap ini anak mengucapkan sejumlah besar bunyi ujar yang sebagian besar tidak bermakna, dan sebagian kecil menyerupai kata atau penggal kata yang bermakna hanya karena kebetulan saja. Pada tahap ini anak mengeluarkan gabungan bunyi mirip vokal dan konsonan, contohnya konsonan bilabial p, b, m.

b. Periode Lingual

Periode ini umumnya dialami anak pada usia 1-2,5 tahun. Pada periode ini anak mulai mengucapkan kata-kata. Periode ini dibagi menjadi tiga subtahap:

1. Tahap ujaran holofrastik (tahap satu kata)

Tahap ini, anak sudah mampu memproduksi satu kata yang dapat menyatakan lebih dari satu maksud. Tahap ini boleh dinamakan satu kata sama dengan satu kalimat, yang artinya bahwa satu kata yang diucapkan anak merupakan satu konsep yang lengkap.

2. Tahap ujaran telegrafik (tahap dua kata)

Secara bertahap, anak mulai menggabungkan dua kata untuk membentuk kalimat. Dalam proses ini anak mencoba menyusun kata walaupun ia belum mampu menyertakan bentuk-bentuk partikel atau imbuhan

3. Tahap Ujaran Lebih Dari Dua Kata (Tahap Menyerupai Telegram)

Seorang anak sudah mampu menggunakan lebih dari dua kata , maka jumlah kata yang dipakai dapat tiga, empat bahkan lebih. Pada usia kurang lebih dua tahun, anak sudah mulai menguasai kalimat-kalimat yang lebih lengkap.

4. Periode Diferensiasi

Periode ini umumnya dialami anak pada usia 2,5-5 tahun. Pada periode ini anak dianggap telah menguasai bahasa ibu dengan penguasaan tata bahasa pokok. Pada usia 5 tahun, anak mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang kompleks (Kushartanti, 2005: 25)

3. Usaha Mencapai Keberhasilan Berbahasa Anak

Ada beberapa yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu keberhasilan anak dalam pemerolehan bahasa, yaitu:

1) mengajarkan bahasa dalam situasi rileks,

2) memfokuskan diri pada maksud bicara anak,

3) mempunyai harapan akan keberhasilan berbahasa anak (Munandar, 2001: 89-91)

4. Penutup

Perkembangan kemampuan berbahasa seorang anak, seperti yang telah diuraikan tidak hanya tercermin dari aspek fonologisnya. Perkembangan itu tercermin pula dari aspek sintaktis, yaitu kemampuan menyusun kalimat; dari aspek semantis, yaitu kemampuan untuk memahami atau mengungkapkan makna suatu kata atau kalimat; dan dari aspek pragmatis, yaitu kemampuan untuk menggunakan bahasa dalam konteks sosial.

Linguistik

Juli 13, 2009

KESANTUNAN DALAM BAHASA INDONESIA

(Menggali Daya Bahasa untuk Berkomunikasi secara Efektif dan Santun

dalam Bahasa Indonesia)

ABSTRAK

Daya bahasa adalah kekuatan yang terdapat dalam bahasa untuk mengefektifkan penyampaian pesan dalam komunikasi. Namun, setiap tindak komunikasi tidak cukup hanya efektif, tetapi juga harus santun. Oleh karena itu, daya bahasa di samping harus mengefektifkan penyampaian pesan juga harus dapat membuat pemakaian bahasa menjadi santun.

Daya bahasa dapat dideskripsikan secara linguistik maupun secara pragmatik. Daya bahasa secara linguistik dapat diidentifikasi melalui berbagai aspek kebahasaan, seperti bunyi, kata, kalimat, leksikon (terutama pilihan kata). Daya bahasa dilihat secara pragmatik dapat diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang sengaja dikonstruk oleh penutur atau penulis untuk tujuan tertentu, seperti praanggapan, tindak tutur, deiksis dan implikatur.

Daya bahasa dapat ditemukan hampir di seluruh pemakaian bahasa. Namun, salah satu pemakaian bahasa yang sangat produktif dalam memanfaatkan daya bahasa adalah karya sastra. Hampir setiap seniman sastra memanfaatkan daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa untuk membangun keindahan dan mengungkapkan amanat agar dapat dinikmati dan dipahami oleh pembacanya.

Sumber data penelitian berupa karya sastra yang dianggap sebagai karya puncak pada zamannnya, baik karya sastra zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 45, angkatan 66, serta karya sastra angkatan sesudahnya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan linguistik dan pragmatik. Data penelitian adalah berupa bunyi, kata, kalimat, pilihan kata, serta wacana yang terdapat dalam karya sastra. Data dikumpulkan dengan metode baca dan catat. Instrumen pengumpulan data adalah peneliti sendiri yang dibantu mahasiswa pengumpul data yang sudah dilatih dan dibekali pengetahuan mengenai teknik pengumpulan data secara kualitatif.

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis secara reflektif interpretatif. Data yang sudah terkumpul digunakan untuk menginventarisasi daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa maupun pemakaian bahasa. Berdasarkan hasil inventarisasi data daya bahasa, kemudian ditentukan ciri-ciri penanda daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa maupun pemakaian bahasa. Setelah data diidentifikasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu untuk selanjutnya dideskripsikan (a) tataran bahasa dan pemakaian bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan, (b) ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa, dan (c) penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun.

1. PENDAHULUAN

Daya bahasa adalah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa yang dapat dimanfaatkan oleh penulis atau penutur untuk mengefektifkan penyampaian pesan atau menciptakan kesantunan dalam komunikasi. Ketika seseorang menggunakan bahasa, sebenarnya mereka menggunakan fungsi-fungsi komunikatif bahasa untuk menyampaikan pesan. Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi pada dasarnya adalah menyampaikan pesan. Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan cara menolak, membujuk, mengkritik, berimajinasi, bernegosiasi, dsb. Oleh karena itu, agar pesan yang disampaikan dapat sampai kepada pembaca atau pendengar, penutur atau penulis berusaha memanfaatkan daya bahasa seefektif mungkin. Daya bahasa dapat digali melalui berbagai aspek bahasa maupun aspek pemakaian bahasa, seperti bunyi, bentuk kata, kalimat, leksikon (pilihan kata); implikatuir, tindak tutur, praanggapan dan sebagainya.

Sudaryanto (1989) mengidentifikasi bahwa bunyi memiliki kekuatan tertentu ketika digunakan oleh penutur atau penulis. Pada tataran bunyi, bunyi /i/ memiliki daya bahasa yang dapat menggambarkan keadaan kecil pada suatu benda, seperti kata “muskil”, “kerikil”, “cukil”, “ambil”, “kandil”, “pentil“, “kutil“, dsb.

Kata “mampus” memiliki daya bahasa lebih kuat dari pada kata “mati” ketika dipakai untuk mengungkapkan perasaan dongkol pada seseorang. Struktur kalimat tertentu memiliki daya yang berbeda ketika disusun dengan struktur yang berbeda. Misalnya:

(a) Polisi menembak mahasiswa ketika berdemonstrasi.

(b) Mahasiswa tertembak polisi ketika berdemonstrasi.

(c) Ketika berdemonstrasi, mahasiswa tertembak polisi.

(d) Mahasiswa ditembak polisi ketika berdemonstrasi.

Struktur kalimat (a) “polisi menembak mahasiswa” memiliki daya bahasa bahwa “polisi” menjadi pelaku yang secara sengaja melakukan suatu tindakan secara sengaja. Struktur (d) “mahasiswa ditembak polisi” memperlihatkan daya bahasa bahwa mahasiswa melakukan suatu tindakan tertentu sehingga harus ditembak. Struktur (b) “mahasiswa tertembak polisi” yang ditempatkan pada awal kalimat memperlihatkan daya bahasa bahwa peristiwa /tertembak/ lebih penting dari pada peristiwa /berdemonstrasi/. Sementara itu, ketika struktur (c) “mahasiswa tertembak polisi” ditempatkan pada akhir struktur memperlihatkan bahwa polisi secara tidak sengaja melakukan suatu tindakan ketika mahasiswa sedang melakukan suatu tindakan yang lain (berdemonstrasi). Efek (perlokusi) dari ke empat struktur tersebut berbeda-beda.

Memang, banyak orang yang mampu berbahasa Indonesia. Namun, ketika berkomunikasi, kadang-kadang “apa yang dikatakan atau dituliskan” jauh lebih sedikit dari pada “apa yang dipikirkan”. Bahkan, kadang-kadang apa yang dikatakan berbeda dengan “apa yang ingin dikomunikasikan” (Levinson, 1985). Daya bahasa merupakan salah satu cara untuk memperkecil kesenjangan antara “apa yang dipikirkan” dengan “apa yang diungkapkan”. Kesenjangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dikatakan atau yang dituliskan akan dapat dikurangi jika seseorang mampu memanfaatkan daya bahasa untuk berkomunikasi. Namun, kadang-kadang seseorang yang telah mahir menggunakan daya bahasa, ketika berkomunikasi, apa yang dikatakan belum tentu sama dengan apa yang dikomunikasikan karena apa yang dikomunikasikan sering “disembunyikan” di balik apa yang dikatakan untuk menjaga kesopanan (Grice, 1987).

Berkaitan dengan daya bahasa, sebenarnya setiap komunikan dapat menggali dan memanfaatkan daya bahasa. Daya bahasa dapat dipergunakan untuk (a) meningkatkan efek komunikasi, (b) mengurangi kesenjangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang diungkapkan, (c) memperindah pemakaian bahasa, dsb.

Banyak cara untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan sesuai dengan maksud yang ingin dicapai. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan segala potensi atau daya/ kekuatan yang dimiliki oleh bahasa itu. Hal inilah yang kadang-kadang tidak mudah untuk dilakukan karena tidak setiap orang mampu mengenali kekuatan yang dimiliki oleh bahasa. Berdasarkan uraian di atas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut, “bagaimanakah menggali daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun?” Atas dasar rumusan masalah utama tersebut, disusun sub-masalah sebagai berkut.

a. Pada tataran bahasa dan pemakaian bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan?

b. Ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa?

c. Bagaimanakah penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun?

2. STUDI KEPUSTAKAAN

2.1 Daya Bahasa dan Efektifitas Pemakaian Bahasa

Beberapa ahli bahasa telah mengkaji daya bahasa. Sudaryanto (1991) menggali daya bahasa dari aspek linguistik. Hasilnya, hampir seluruh tataran bahasa ternyata mampu memunculkan daya bahasa. Daya bahasa terdapat dalam tataran bunyi, bentuk kata, struktur, leksikon (terutama pilihan kata) dan wacana. Pada tataran bunyi, bunyi bahasa dapat menunjukkan daya bahasa yang berbeda-beda. Kata yang mengandung bunyi /i/ mengandung daya bahasa yang berkadar makna kecil, seperti “cicit”, “kecil”, “muskil”, “kerikil”, “cukil”, “ambil”, “kandil”, “pentil“, “kutil“,dsb. Bunyi /o/ mengandung daya bahasa yang berkadar makna kata relatif besar, seperti kata-kata dalam bahasa Jawa pothol, kémpol, moprol, bedhol, ambrol, mbrojol, mbrobos, mbrodhol, bodhol, dsb.

Kemampuan memanfaatkan daya bahasa yang terdapat pada tataran bunyi, telah banyak digali oleh para penyair. Hal ini dapat dilihat pada baris-baris puisi yang memanfaatkan daya bunyi. Perhatikan kutipan di bawah ini!

DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN

…………………………………..

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas air mata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu.

Pegilah pergi, setiap pagi

Setelah dahi dan pipi kalian

Ibu ciumi

Mungkin ini pelukan penghabisan

(Ibu itu menyeka sudut-matanya).

Taufiq Ismail, Benteng, 1996.

Bunyi /i/ pada kata “dahi”, “pipi”, “ciumi” bait kedua puisi di atas menggambarkan adanya daya bahasa kerelaan seorang Ibu kepada puteranya yang akan berangkat berdemonstrasi. Bunyi /i/ memunculkan daya bahasa yang menggambarkan perasaan seorang Ibu yang “sedih”untuk melepas anaknya berangkat berdemonstrasi. Hal ini mengingatkan peristiwa masa lalu bahwa ayahnya tewas diterjang peluru tajam ketika melakukan hal yang sama.

Lain halnya dengan kata yang memiliki kemiripan makna (sudaryanto, 1991), seperti “cendhak, cedhak, cendhèk, celak, cepak, cekak”. Kata-kata ini masih dalam medan makna yang sama, tetapi bunyi-bunyi konsonan tengah pada kata-kata tersebut di samping dapat membedakan makna juga memiliki daya bahasa yang berbeda. Misalnya “Dhèwèké nganggo kathok cekak” berbeda makna dan daya bahasanya dengan “Dhèwèké nganggo kathok cendhak”. Kata “cendhak” masih memiliki multi tafsir makna, sehingga daya bahasanya kurang kuat, sedangkan kata “cekak” memiliki monotafsir yang berarti bercelana jauh di atas lutut, dan lebih memiliki daya bahasa yang kuat, yaitu mendekati pangkal paha. Bila daya bahasa bersifat universal, berarti daya bahasa pada bunyi juga dapat ditemukan dalam bahasa Indonesia. Daya bahasa seperti itu ternyata banyak dimanfaatkan oleh penyair. Perhatikan kutipan di bawah ini!

REFLEKSI SEORANG PEJUANG TUA

………………………..

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan

Setelah mereka menyimakkan deru sejarah

Dalam regu perkasa mulailah melangkah

Karena perjuangan hari-hari ini

Adalah perjuangan dari kalbu yang murni

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya

Kecuali duapuluh tahun yang lalu.

Tafiq Ismail

Benteng, 1996.

Kata-kata yang dicetak tebal memberikan daya bahasa yang sangat kuat bahwa “perjuangan memerangi kebatilan merupakan perjuangan hati nurani. Perjuangan seperti ini hanya terjadi di masa perjuangan kemerdekaan” (20 tahun lalu dihitung pada tahun1966).

Daya bahasa dapat juga digali melalui tataran bentukan kata. Kata-kata yang tidak berafik kadang-kadang justru memiliki daya bahasa yang lebih kuat ketika dipakai dibandingkan dengan kata berafik. Misalnya, kata “babat” lebih kuat daya bahasanya dibandingkan dengan kata “membabat” dalam konteks kalimat “Perambah hutan itu babat habis semua pohon yang berdiameter 10 cm ke atas”.

Namun, kata majemuk kadang-kadang juga memiliki daya bahasa yang lebih kuat dari pada kata dasar. Misalnya, kata majemuk “kuda lumping” dalam konteks “Penunggang kuda lumping itu kesurupan lantas makan beling”. Kata “kuda lumping” memiliki daya bahasa yang sangat kuat dibandingkan dengan frasa “penunggang kuda”.

Kata satu dengan kata lain memiliki daya bahasa yang berbeda-beda, seperti kata ‘mati’ atau ‘meninggal’ memiliki daya bahasa yang bersifat netral. Berbeda halnya dengan kata mampus, tewas, gugur, wafat, dsb. memiliki daya bahasa yang berbeda-beda. Kata mampus memiliki daya bahasa negatif yang didalamnya mengandung rasa dendam dan penuh kepuasan karena orang lain yang dibencinya tidak lagi dapat berbuat apa-apa seperti ketika masih berdaya atau hidup. Kata gugur memiliki daya bahasa yang hormat terhadap subjek karena kematiannya terjadi untuk membela kebenaran sehingga perlu mendapat penghargaan/ penghormatan, dsb.

Kata ‘senang’ memiliki daya bahasa yang berbeda dengan kata gembira, riang, sayang, kasih, cinta dsb. Kata gembira misalnya, memiliki daya bahasa karena di dalamnya mengandung rasa puas terhadap suatu keadaan yang diungkapkan dengan keceriaan wajah sambil senyum-senyum. Daya bahasa gembira berbeda dengan daya bahasa kata riang. Kata riang mengandung daya bahasa rasa puas terhadap suatu keadaan yang diungkapkan dengan tersenyum disertai gerakan tubuh seperti menari-nari atau menyanyi/ bersenandung.

Pada tataran struktur, daya bahasa dapat muncul sehingga memiliki kadar pesan yang berbeda antara struktur kalimat satu dengan struktur kalimat yang lain. Perhatikan contoh di bawah ini.

a. Aku memberi sepotong kue untuk pengemis yang kelaparan.

b. Sepotong kue aku berikan untuk pengemis yang kelaparan.

c. Untuk pengemis yang kelaparan aku beri sepotong kue.

Daya bahasa pada kalimat di atas terletak pada penempatan klosa pada awal kalimat. Kalimat (a) dengan menempatkan klosa “aku memberi” memiliki daya bahasa yang berbeda dengan struktur kalimat (b) yang menempatkan klosa “sepotong kue” pada awal kalimat. Begitu pula struktur (c) dengan menempatkan frasa “Untuk pengemis yang kelaparan” pada awal kalimat. Kalimat (a) daya bahasa muncul pada kata “pemberian”, kalimat (b) muncul pada frasa “sepotong kue” dan kalimat (c) muncul pada frasa “pengemis yang kelaparan”.

Bagaimana dengan struktur kalimat lain seperti di bawah ini?

d. Dia menghilang tanpa meninggalkan jejak.

e. Dia menghilang, tidak tahu ke mana perginya.

f. Dia menghilang ketika teman-temannya sedang menyelesaikan pekerjaan.

Unsur kalimat yang dicetak miring (d) memiliki daya bahasa yang sangat kuat karena ada penyangatan dapat menimbulkan makna afeksi “lenyap begitu saja”. Sementara itu, kalimat (e) dan (f) tidak memunculkan daya bahasa yang menimbulkan kesan makna khusus.

Daya bahasa pada wacana dapat muncul ketika kesatuan makna mengungkapkan kesatuan pesan. Pesan yang terungkap dari kesatuan makna tersebut muncul dalam bentuk wacana. Perhatikan kutipan di bawah ini

g. Yèn isih gelem apik karo aku, mbok coba kowé ameng-ameng nyang ngomahé diajak omong-omong kanthi alus. Nèk pancèn isih angèl coba amang-amangen bèn duwé rasa wedi. Déné nèk wis disabarké nganggo cara ngono isih tetap mbeguguk, kondhoa nek aku (ng)amuk bisa tak tumpes kelor.

Wacana di atas memiliki daya yang sangat kuat untuk menyampaikan pesan. Wacana (g) dengan pilihan kata yang tepat dalam setiap kalimatnya, seperti “amêng-amêng”, disusul “omong-omong”, “amang-amang”, dan “(ng)amuk” memiliki daya bahasa yang sangat kuat bagi pendengarnya. Daya bahasa itu muncul karena adanya perbedaan vokal dalam setiap kata. Lebih terasa kuat lagi ketika masing-masing kata memang memiliki makna yang berbeda dan memperlihatkan adanya gradasi dari kata yang sangat biasa ke kata yang memiliki makna afeksi yang sangat kuat, yaitu (ng)amuk.

Daya bahasa dapat juga diungkapkan melalui pemakaian majas.

h. Lha dhèwèké ki utangé wis numpuk nganti sak gunung, sapa sing bisa nulung.Uripku dhéwé waé kaya ngéné.

i. Dapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah (semboyan dalam iklan pegadaian).

j. Pilih sendiri tipe rumahnya, tentukan sendiri besar angsurannya (iklan perumahan) majas repetisi.

Wacana (h) daya bahasa muncul karena pemakian majas hiperbola pada utangé … sak gunung” yang menggambarkan bahwa hutangnya sangat banyak. Wacana (i) daya bahasa muncul karena pemakaian majas repetisi pada “menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah yang menggambarkan betapa hebatnya tindakan itu (slogan pegadaian). Wacana (j) daya bahasa timbul karena pembaca dapat marasakan betapa enaknya jika ingin memiliki rumah. Hal ini muncul karena menggunakan daya bahasa repetisi.

2.2 Daya Bahasa dan Kesantunan

Daya bahasa juga dapat menunjukkan tingkat kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi. Pemakaian kata tertentu ketika menyampaikan kritik kepada orang lain, dapat terasa keras dan kasar. Perhatikan kutipan di bawah ini.

(1) Pemerintah dinilai gagal memenuhi kebutuhan dasar rakyat, terutama dalam menegakkan kedaulatan ekonomi dan hukum (Amin Rais; Kompas: 05/05/2008:2).

(2) Kegagalan pemerintah ini dipicu akibat ketidaktegasan pemerintah ymembuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat (Amin Rais, Kompas: 05/05/2008:2).

(3) ……Adapun untuk kawasan hutan lindung dan konservasi biasanya dialihfungsikan menjadi areal perkebunan, pertambangan, atau hanya diambil kayunya lalu ditelantarkan (Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi; Kompas: 07/05/2008:18).

(4) Pemda hasil pemekaran adalah pihak yang paling berambisi mengalihfungsikan hutan lindung di kawasannya (Koordinator Program Nasional Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi; 07/05/2008:18)

Kata gagal, kegagalan, ketidaktegasan, ditelantarkan, berambisi dalam konteks di atas menyatakan kritik penutur kepada mitra tutur yang sangat keras. Kata-kata yang dicetak tebal memunculkan daya bahasa yang sangat kuat. Karena kuatnya daya bahasa, kritik yang disampaikan menjadi tidak santun.

Pemakaian kata seperti itu, memang daya bahasa yang muncul sangat kuat. Namun, karena dipakai dalam konteks yang tidak santun, tuturan menjadi tidak memperlihatkan kearifan penutur. Dalam ungkapan Jawa kritik memang diperbolehkan, namun hendaknya disampaikan secara arif, “ngono ya ngono, ning aja ngono”. Dengan demikian, ibarat orang mengail “kena iwake ning aja nganti buthek banyune”.

Dalam konteks kesantunan berbahasa, daya bahasa yang bernada negatif hendaknya tidak digali semaksimal mungkin agar tidak melukai hati mitra tutur. Sebaliknya, daya bahasa yang bernada positif hendaknya digali semaksimal mungkin agar menjadikan tuturan semakin santun.

Suatu tuturan dikatakan santun apabila dapat meminimkan pengungkapan pendapat yang melukai hati mitra tutur (Leech, 1983). Salah satu cara untuk meminimalkan ungkapan yang tidak santun menurut pendapat saya adalah tidak mengeksploitasi daya bahasa yang berkadar tidak santun semaksimal mungkin. Dalam kaitannya dengan hal di atas, Leech menyarankan agar dipakai beberapa maksim kesantunan sebagai berikut, yaitu (a) maksim kebijaksanaan “tact maxim” (berilah keuntungan bagi mitra tutur), (b) maksim kedermawanan “generosity maxim” (maksimalkan kerugian pada diri sendiri), (c) maksim pujian “praise maxim” (maksimalkan pujian kepada mitra tutur), (d) maksim kerendahan hati (minimalkan pujian untuk diri sendiri), (e) maksim kesetujuan (maksimalkan kesetujuan dengan mitra tutur), (f) maksim simpati “sympaty maxim” (maksimalkan ungkapan simpati kepada mitra tutur), (g) maksim pertimbangan “consideration maxim” (minimalkan rasa tidak senang pada mitra tutur dan maksimalkan rasa senang pada mitra tutur).

Dengan maksim-maksim di atas, akibatnya tuturan banyak disampaikan dalam bentuk tidak langsung. Motivasi penggunaan tindak tutur tidak langsung dimaksudkan agar ujaran terasa santun. Karena itulah, ungkapan “ngono ya ngono, ning aja ngono” menjadikan daya bahasa yang cenderung berkadar tidak santun dapat dinetralkan agar tetap santun. Untuk mengoptimalkan daya bahasa, terutama daya bahasa yang cenderung tidak santun, penutur biasanya menggunakan implikatur (Levinson, 1985). Implikatur adalah apa yang tersirat dari suatu ujaran. Jika kita bedakan “apa yang dikatakan” (what is said) dari “apa yang dikomunikasikan” (what is communicated), implikatur termasuk “apa yang dikomunikasikan”.

2.3 Kerangka Berpikir

Berdasarkan uraian di atas, tergambar dengan jelas betapa kuatnya daya bahasa. Oleh karena itu, untuk menggali daya bahasa agar tuturan dapat efektif tetapi tetap memperlihatkan kesantunan dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Petama, daya bahasa dapat digali melalui aspek-aspek linguistik, baik yang terdapat dalam tataran bunyi (seperti persajakan aliterasi dan asonansi bunyi pada kata-kata tertentu yang dinilai dapat memunculkan efek makna yang lebih kuat dari pada kalau kata-kata itu dipakai tanpa memperhatikan persajakan), bentuk kata (seperti, kata dalam majas yang dinilai memiliki daya bahasa yang sangat kuat dari pada kata biasa), struktur kalimat/tuturan (seperti, pemfokusan kata dengan menempatkan kata pada awal kalimat), leksikon (terutama diksi) (seperti, menggunakan sinonim kata yang dinilai memiliki efek makna yang lebih kuat dari kata lainnya; atau memilih kata dengan permainan vokal), serta wacana dapat memunculkan daya bahasa yang memiliki pengaruh psikologis yang kuat terhadap pendengar atau pembacanya (ameng-ameng, omong-omong, amang-amang,dan amuk).

Kedua, daya bahasa juga dapat digali melalui aspek-aspek pragmatik. Dari aspek pragmatik, daya bahasa dapat digali melalui maksim-maksim kesantunan berbahasa. Hal ini akan nampak pada maksim-maksim kesantunan, seperti (a) maksim kebijaksanaan “tact maxim”, (b) maksim kedermawanan “generosity maxim”, (c) maksim pujian “praise maxim”, (d) maksim kerendahan hati, (e) maksim kesetujuan, (f) maksim simpati “sympaty maxim”, serta (g) maksim pertimbangan “consideration maxim”.

Secara skematis, kerangka berpikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Daya Bahasa

Secara Linguistik

Tataran bunyi

Bahasa menjadi efektif dan santun

Tataran bentuk kata

Tataran struktur

Tataran leksikon

Tataran wacana

Secara Pragmatik

Maksim kebijaksanaan

Maksim kedermawanan

Maksim pujian

Maksim kerendahhatian

Maksim kesetujuan

Maksim kesimpatian

Maksim pertimbangan

3. METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Artinya, fenomena-fenomena bahasa dan pemakaian bahasa diamati untuk melihat keteraturan (regularity) sebagai usaha untuk menyusun rumusan kaidah daya bahasa. Kerangka teori digunakan sebagai pemandu peneliti untuk mengkaji fenomena bahasa dan pemakaian bahasa. Dengan demikian, pada akhirnya teori bersifat graunded yang disusun dan dirumuskan atas dasar data yang ditemukan di lapangan.

Setelah data dikumpulkan, analisis data dilakukan secara deskriptif. Artinya, peneliti berusaha untuk menginventarisasi data, mengidentifikasi data, mengklasifikasi data berdasarkan kesamaan ciri, dan pada akhirnya peneliti akan merumuskan kaidah daya bahasa dan pemakaian daya bahasa.

3.2 Sumber Data Penelitian

Sumber data penelitian berupa karya sastra yang dianggap sebagai karya puncak pada zamannnya, yaitu karya sastra angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 45, angkatan 66, serta karya sastra angkatan sesudahnya. Karya sastra yang dijadikan sumber data berupa puisi, cerpen, dan novel atau roman.

3.3 Data dan Teknik Pengumpulannya

Data penelitian adalah berupa bunyi, kata, kalimat, pilihan kata, serta wacana yang terdapat dalam karya sastra, baik puisi, cerpen, novel atau roman. Data dikumpulkan dengan metode baca dan catat. Setiap sumber data dibaca oleh peneliti. Setelah sumber data dibaca, fenomena-fenomena yang dicurigai mengandung daya bahasa (baik dalam bentuk bunyi/fonem, bentuk kata, struktur kalimat, pilihan kata, serta wacana) dicatat sebagai data.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian pada dasarnya adalah peneliti sendiri. Namun, dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh pengumpul data yang sebelumnya sudah diberi pelatihan dan bekal mengenai teori linguistik dan teori pragmatik yang dipakai sebagai dasar pengumpulan data dan teknik-teknik pengumpulan data. Rambu-rambu pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut.

a. Bunyi/fonem dalam kata yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah dilacak kembali sumber aslinya.

b. Bentuk kata (baik asal, dasar, atau turunan) yang diduga memnculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

c. Struktur kalimat yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar mudah dilacak kembali sumber aslinya.

d. Pilihan kata (diksi) yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

e. Wacana yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

3.5 Analisis Data

Analsis data dilakukan secara reflektif interpretatif . Data yang sudah terkumpul digunakan untuk menginventarisasi daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa. Berdasarkan hasil inventarisasi daya bahasa, kemudian ditentukan ciri-ciri penanda daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa. Setelah data diidentifikasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu untuk selanjutnya dideskripsikan (a) tataran bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan, (b) ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa, (c) penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun, dan (d) kaidah yang dapat digunakan untuk memakai daya bahasa.

3.6 Trianggulasi

Trianggulasi adalah proses validasi untuk penelitian kualitatif. Hal ini dilakukan melalui berbagai tahap.

a. Trianggulasi data adalah proses pengumpulan data secara representatif. Data dikatakan representatif apabila sudah tidak lagi menemukan fenomena baru dalam pengumpulan data.

b. Trianggulasi hasil analisis data dilakukan dengan mengkonfirmasi hasil analisis data dengan para pakar bahasa. Hal ini dilakukan dengan cara berdiskusi dengan para pakar bahasa.

4. DAFTAR PUSTAKA

Austin, J.L. 1978. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press.

Brown, P. dan S. Levinson. 1987. Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge: CUP

Burhan Nurgiyantoro. 1995. Teori Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Cruse, Alan. 2000. Meaning in Language. Oxford: Oxford University Press

Grice, H. P. 1975. “Logic and conversation”. Dalam Cole, P. dan J. L. Morgan [ Syntax and Semantics 3: Speech Acts

Gunarwan, Asim. 2005.”Beberapa Prinsip dalam Komunikasi Verbal: Tinjauan Sosiolinguistik dan Pragmatik” dalam Pranowo (2005). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Jassin, H.B. 1988. Angkatan ’66. Jakarta: CV. Haji Masagung.

Leech, G. N. 1983. Principles of Pragmatics. Harlow: Longman Magnis Suseno, Frans. 1984. Etika .Jawa. Jakarta: Gramedia

Pranarka, Dr. 1979. “Demokratisasi Bahasa” (Makalah). Yogyakarta: Saijanawiyata Tamansiswa.

Pranowo. 2005. “Kesantunan Berbahasa Pam Elit Politik” (makalah). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Pranowo. 2008. Kesantunan dalam Pemakaian Bahasa Indonesia (Hasil Penelitian). Yogyakarta: PBSID, FKIP Universitas Sanata Dharma.

Searle, J.R. 1969. Speech Acts: An Eassey in the Phillosophy of Language. Cambridge University Press.

Sudaryanto. 1991. Potensi Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana Press.

Thomas, Jenny. 1995. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. London & New York: Longman.

Bahasa dan pikiran

Juli 13, 2009

Bahasa Dan Pikiran

Pada kenyataannya bahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu kemudian ingin menyampaikan hasil pemikiran itu dengan menggunakan alat yaitu bahasa.

  1. Pengertian Pikiran

Menurut KBBI Edisi 3, 2007 : Pikiran adalah akal budi atau ingatan. Sedangkan menurut Sri Utami (1992 : 30), menyatakan bahwa berpikir adalah aktivitas mental manusia. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisisnya dari hal-hal yang khusus atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Berpikir berarti merangkaikan konsep-konsep.

  1. Hubungan Bahasa dan Pikiran

Menurut Steinberg ( 1982 : 101 ) bahwa hubungan antara bahasa dan pikiran adalah:

    1. Produksi ujaran yang merupakan dasar pikiran
    2. Bahasa adalah basis dasar pikiran
    3. Sistem bahasa menunujukkan spesifikasi pandangan
    4. Sistem bahasa menunjukkan spesifikasi budaya

  1. Proses Berpikir

Proses berpikir dilalui dengan 3 langkah yaitu :

    1. Pembentukan pikiran

Pembentukan pikiran tersebutan melalui 2 fase yaitu :

v Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Objek tersebut kita perhatikan unsur-unsurnya satu demi satu. Misalnya mau membentuk pengertian manusia. Kita akan menganalisis ciri-ciri manusia Indonesia : Makhluk yang berbudi, berkulit sawo matang, berambut hitam.

v Membandingkan ciri-ciri tersebut dengan yang lain. Misalnya ciri-ciri bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa, mana yang sama dan mana yang berbeda.

    1. Pembentukan pandapat

Pembentukan adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk bahasa yang disebut kalimat.

Pemebentukan pendapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu :

v Pendapat afirmatif atau positif yaitu pendapat yang mengiakan sesuatu hal. Contoh : Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berkulit hitam.

v Pendapat negative merupakan pendapat yang tidak menyetujui suatu hal. Misalnya : Bangsa Indonesia bukan merupakan bangsa yang berkulit hitam

v Pendapat modalitas atau pendapat kebarangkalian, atau pendapat yang memungkin-mungkinkan sesuatu. Misalnya : Hari ini mungkin hujan.

    1. Penarikan kesimpulan dan pembentukan keputusan

Keputusan merupakn hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam keputusan yaitu :

v Keputusan induktif merupakan keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat yang khusus menuju ke suatu pendapat yang umum.

v Keputusan deduktif merupakan keputusan yang ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus

v Keputusan analogis merupakan keputusan yang diperoelh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat yang ada.

Daftar Pustaka

KBBI Edisi 3. 2007. Jakarta : Balai Pustaka

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores, NTT : Nusa Indah

Subyakto Nababan, Sri Utami. 1992. Psikolinguistik : Suatu Pengantar . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Dardjowidjoyo, Soendjono. 2003. Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Suryabrata, Sumadi. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Persepsi

Juli 13, 2009

PERSEPSI DALAM SISTEM KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

I. PENDAHULUAN

Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antarmanusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antarkomponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas.

Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menanggapi informasi dari lingkungan (Fleming dan Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain). http://www.infoskripsi.com

1. Pengertian

Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sedangkan Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972). Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi, dan menafsirkan pesan. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi/ sensory stimuli (Desiderato, 1976:129). Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi (http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi).

2. Jenis-jenis persepsi

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis.

a. Persepsi visual (indera penglihatan)

b. Persepsi auditori (indera pendengaran yaitu telinga)

c. Persepsi perabaan (indera taktil yaitu kulit)

d. Persepsi penciuman (indera penciuman yaitu hidung)

e. Persepsi pengecapan (indera pengecapan yaitu lidah)

(http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/persepsi.html)

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu perhatian, fungsional, faktor dan stuktural.

a. Faktor perhatian (Attention)

Menurut E. Andersen (1972:46), perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Jalaludin Rakhmat, 1996). Faktor perhatian dapat dibagi menjadi dua:

1) Faktor eksternal penarik perhatian: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan (novelty), dan perulangan.

2) Faktor internal pengaruh perhatian: biologis dan sosiopsikologis

b. Faktor fungsional yang menentukan persepsi

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalama masa lalu, dan hal yang yang termasuk apa yang kita sebut faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan stimulus tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Contoh: dalam suasana eksperimen, Levine, Chein, Murphy memperlihatkan gambar-gambar yang tidak jelas kepada dua kelompok mahasiswa. Gambar tersebut lebih sering ditanggapi sebagai makanan oleh kelompok mahasiswa yang lapar dari pada oleh kelompok mahasiswa yang kenyang. Jelas perbedaan itu bermula dari kondisi biologi mahasiswa.

Dari ekperimen itu, Krech Crutchfiel merumuskan dalil persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Hal ini berkaitan dengan pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, pengalaman, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Contoh:

1. Suasana mental mempengaruhi persepsi. Sekelompok anak-anak disuruh menceritakan gambar seorang laki-laki sebelum dan sesudah bermain “perang-perangan”. Sesudah perang-perang anak-anak cenderung lebih banyak melihat kekejaman orang pada wajah orang dalam gambar itu.

2. Suasana emosi mempengaruh persepsi. Emosi mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya adalah emosinya. Seseorang yang sedang tertekan karena baru bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.

3. Pengaruh kebudayaan pada persepsi sudah merupakan disiplin tersendiri dalam psikologi antar budaya dan komunikasi antarbudaya. Sekedar contoh, suatu kali di Mesir dilancarkan kampanye Keluarga Berencana. Supaya pesan sampai kepada kelomok yang buta huruf, kampanye dilakukan melalu gambar (gambar 4). Gambar itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa beban hidup akan semakin bertambah berat bila jumlah anak bertambah banyak. Tetapi mengejutkan sekali, orang-orang Mesir tidak menafsirkan seperti itu. Mereka justru heran, mengapa orang itu tiba-tiba roboh. Rupanya mereka membaca gambar itu dari kanan ke kiri seperti ketika mereka membaca huruf Arab. Atau misalnya budaya Indonesia, bila kita melihat orang sukses kita cenderung menanggapinya sebagai orang yang memiliki karakteristik baik. Sebaliknya kepada orang yang gagal kita mellimpahkan segala dosa.

4. Pengaruh pengalaman terhadap persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman juga bertambah melalui rangkain peristiwa yang pernah kita hadapi. Hal inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya. Ib lebih berpengalaman mempersepsi anaknya daripada bapak.

5. Pengaruh kebutuhan terhadap persepsi. seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.

c. Faktor struktural yang menentukan persepsi

Faktor-faktor structural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada system saraf individu. Menurut Gestalt yang kemudian dikenal dengan teori Gestalt berpendapat bahwa bila kita mempersepsi sesuatu kita mempersepsinya secara keseluruhan. Maksudnya jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak meneliti fakta-fakta secara terpisah, kita harus memandangnya secara keseluruhan. Untuk memahami seseorang kita harus melihat perilakunya tetapi kita juga melihat mengapa ia berperilaku seperti itu. Kita mencoba memahami bukan saja tindakan tetapi motif tindakan itu (konteksnya, lingkungannya, dan dalam masalah yang dihadapinya). Dalam hubungan dengan konteks, Krech dan Crutchfiel berpendapat bahwa:

1. Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikaan dan diberi arti. Dalam arti kitamengorganisasikan stimulus dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi. Solomon Asch (1959) melakukan beberapa eksperimen tentang persepsi orang tentang serangkaian kata-kata sifat. Contohnya, bila saya mengatakan kepada Anda bahwa calon istri Anda cerdas, rajin, lincah, kritis, kepala batu dan dengki; Anda akan membayangkan dia sebagai orang yang bahagia, humoris, dan mudah bergaul. Tetapi jika serangkaian kata sifat itu dibalik dan dimulai dari dengki, kepala batu, dan seterusnya, kesan Anda tentang dia berubah. Menurut Solomon Asch, kata yang disebut pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Kata kritis pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif, sedangkan pada rangkaian kedua berkonotasi negatif.

2. Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras. Contoh: “Bila Tono, seorang peragawan berjas dan berdasi, kita akan menceritakan seperti ini: Tono berpakaian necis. Bila Toni, tukang kebun kita yang berjas dan berdasi, kita akan berkata, Anton berpakaian sangat necis”. Dalam rangka inilah, kita memahami mengapa skandal seks yang dilakukan guru agama lebih jelek dari pada skandal seks yang dilakukan bintang film; atau mengapa polisi yang mencuri lebih jahat daripada gelandangan yang berbuat sama.

3. Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya. Orang menjadi terhormat karena duduk berdampingan dengan anggota kabinet atau presiden. Sebaliknya kredibilitas berkurang karena berdampingan dengan orang yang kredibilitas rendah.