Arsip untuk Oktober, 2009

Drama

Oktober 26, 2009

KESERAKAHAN

Narator :       Pada suatu hari hidup seorang raja yang bernama Lucia, Lucia adalah raja yang sangat jahat dan kejam di Iceland dan Lucia mempunyai seorang anak yang bernama Haru dan dia adalah pewaris tatah kerajaan.

Lucia:             Anak ku yang terhormat, datanglah ayah mau berbicara kepada mu.

Haru:              Baik ayah.

Lucia:             Anak ku, ayah sudah tua dan tidak mampu memimpin kerajaan lagi dan ayah ingin memberikan tatah kerajaan kepada mu. Apakah kamu bersedia mengantikan posisi ayah ini?

Haru:              Aku bersedia mengantikan posisi ayah.

Narator:        Setelah ayahnya memberikan tatah kerajaan kepada haru 5 hari kemudian ayahnya mati, kemudian Haru langsung mengambil ahli kerajaan dan memberikan pengarahan kepada prajuritnya.

Haru:              Wahai prajurit ku, kini ayahku suadah tiada dan ayah ku memberikan tatah kerajaannya kepadaku dan aku harap kalian bisa diandalkan. Jika ada yang menolak perintahku dia akan dihukum mati.

Prajurit:          Siap tuanku!

Narator:        Setelah itu Haru memulai memimpin kerajaannya dan Haru lebih kejam daripada ayahnya, karena Haru merasa wilayahnya sempit maka dia pun mulai mempersiapkan prajuritnya untuk meyerang kerajaan lain dan memperluas wilayahnya.

Haru:              Wahai prajurit ku, besok kita akan mulai menyerang kerajaan lain untuk mempeluas kerajaan kita dan aku harap besok kita bisa menang dan jika menang kalian boleh merayakannya.

Prajurit:          Hore!!!

Narator:        Setelah pagi.

Haru:              Prajurit ku, ayo kita mulai peperangan ini dan raih kemenangan kita.

Narator:        Karena Haru tidak memiliki strategi maka kalah telak, setalah kalah Haru mulai mencari ahli strategi,ksatria tangguh, dan wakil raja. Ahli strategi bernama Cao-Cao, ksatria tangguh bernama Donrino dan wakil raja adalah Musica.

Cao-Cao:     Tuanku besok kita mau merebut wilayah mana?

Haru:              Aku akan merebut wilayah selatan Greenland, menurut mu strategi bagaimana yang cocok untuk perang besok?

Cao-Cao:     Aku mempunyai strategi yang cukup kuat untuk menang.

Haru:              Strategi seperti apa?

Cao-Cao:     Begini tuanku, petama-tama kita akan mengirim prajurit kecil untuk menyerang pintu utamanya setelah itu kita akan menyerang pintu belakang mereka aku pasti dengan strategi itu kita  akan menang.

Haru:              Baiklah aku akan menggunakan strategi mu itu tapi aku akan mempertimbangkan dengan Musica dulu.

Cao-Cao:     Baiklah tuanku.

Haru:              Musica bagaima menurutmu strategi Cao-Cao ini?

Mucica:        Menurutku strategi Cao-Cao juga boleh.

Haru:              Baiklah Cao-Cao aku akan mengunakan strategimu.

Cao-Cao:     Terima kasih tuan telah mempercayai aku.

Narator:        Ke esokan harinya mereka melakukan strategi yang diberikan oleh Cao-Cao dan akhirnya mereka pun menang, Haru sangat senang sekali sehingga merayakannya dengan meriah.

Haru:              Cao-Cao aku bangga padamu.

Cao-Cao:     Terima kasih tuanku.

Haru:              Donrino kemari, beritau kepada prajurit kita bawah besok kita akan perang lagi untuk memperluas wilah kita lagi.

Donrino:        Baik tuanku, aku akan segera memberitaukan kepada prajurit.

Haru:              Bagus-bagus, cepat laksanakan.

Donrino:        Prajurit ku besok kita akan perang lagi dan tuan Haru menginginkan kondisi prajuritnya siap tempur besok.

Prajurit:          kita mengerti kakak Donrino.

Donrino:        Bagus, sekarang kalian istirahat.

Prajurit:          Siap kakak donrino.

Narator:        Ke esokan harinya mereka pun siap tempur dan strateginya sama seperti strategi kemarin.

Haru:              Wahai prajurit ku ini akan menjadi kemenangan kita yang kedua, Donrino kamu akan menjadi ujun tombok di peperangan ini dan aku harap kamu bertanggung jawab.

Donrino:        Baik tuan ku semua perintahmu akan kujalankan dengan sempurna.

Haru:              Bagus jawaban itu yang ingin kudengar dari kamu.

Musica:         Kelihatannya tuan hari ini sangat bersemangat sekali.

Haru:              Kamu memang sangat pintar membaca hati orang lain.

Musica:         Hahahahahah….

Haru:              Hahahahahahahaha…..

Donrino:        Maju…

Narator:        Karena pada hari itu semua semangat sekali maka pertempuran pun dimenangkan oleh Haru lagi.

Haru:              Aku bangga sekali dengan keberhasilan kita yang kedua, karena kalian berusaha dengan keras aku akan memberikan hadia kepada kalian semua yaitu pedang baru.

Prajurit:          Terima kasih tuanku.

Donrino:        Tuanku engkau sangatlah bermurah hati.

Haru:              Hahahahah, ini belum seberapa buat ku. Hahahhahah…..

Musica:         Tuanku, besok kita akan menyerang wilayah mana lagi?

Haru:              Besok kita tidak akan menyerang dulu karena kita sudah 2 hari berturut-turut berperang sehingga aku hendak beristirahat dulu 1 hari ini.

Musica:         Baiklah tuanku.

Narator:        Setelah beristirahat mereka pun berencana untuk merebut 2 wilayah lagi.

Cao-Cao:     Tuanku sekarang kita hendak merebut wilayah mana?

Haru:              Kita merebut konoha bagian utara.

Cao-Cao:     Apa tuan tidak telalu cepat merebut wilayah tersebut?

Haru:              Emang ada apa dengan wilayah tersebut?

Cao-Cao:     Di konoha bagian utara prajuritnya terlalu banyak mungkin 2 kali lipat prajurit kita tuanku.

Haru:              Apakah itu benar Musica?

Musica:         Itu bener tuanku hendaknya kita merebut konoha bagian barat saja dulu.

Haru;              Baiklah kalau begitu aku akan bersabar.

Cao-Cao:     Karena ini konoha bagian barat kita akan mengubah strategi sedikit.

Haru:              Apa strategi mu?

Cao-Cao:     Begini tuanku, Pertama-tama kita akan meyerang pintu depan lalu kita berpura-pura mundur karena kekurangan prajurit, setelah itu kita akan langsung menyerang kembli dengan pasukan yang lebih bayak dari sebelumnya. Aku yakin dengan strategi ini kita pasti bisa menang.

Haru:              Baiklah Cao-Cao aku akan menggunakan strategimu.

Narator:        Setelah paginya mereka bergegas berkumpul digaris depan yang kemarin malam direncanakan. Dan strategi Cao-Cao berjalan dengan sukses kembali setelah berhasil merebut wilayah konohan bagian barat Haru pun langsung mempersiapkan prajurit lebih banyak lagi agar memperebutkan wiliyah konoha bagian utara berhasil dengan lancer.

Haru:              Cao-Cao, 3 hari lagi aku akan memperebutkan wilayah konoha bagian utara dan aku sudah mempersiapkan prajurit lebi banyak lagi.

Cao-Cao:     Apakah tuan sudah mempikirkan itu matang-matang?

Haru:              Aku sudah memikirkan dengan matang-matang.

Cao-Cao:     Baik strategi kali ini kita akan meletakan Donrino pada barisan paling depan karena kekuatan Donrino sudah tidak diragukan lagi.

Haru:              bener juga katamu, baik besok aku akan menyuruh Donrino untuk memimpin barisan depan.

Narator:        Karena pada malam itu Donrino tidak bisa tidur maka dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Cao-Cao dengan Haru dan setelah mendengar bawah kekuatannya sudah tidak diragukan lagi dia berencan untuk membunuh Haru karena menurut Donrino Haru adalah sosok raja yang sombong dan serakah. Matahari pun mulai terbit maka prajurit bergegas berkumpul dan membentuk posisi yang telah di rencanakan.

Haru:              Donrino, pada pertarungan ini aku akan menaruhkan kamu pada posisi paling depan karena aku sudah mempercayai kamu.

Donrino:        Baik!

Narator:        Setelah perang selasi dan itu merupakan perang terakhir maka Haru pun beristirahat selama 1 minggu. Disamping itu Donrino sudah mempersiapkan prajurit rahasia untuk membunuh Haru, setelah Donrino mendapat prajurit  lumayan kuat dan banyak maka pada hari istirat Haru Donrino mulai membatah perintah-perintah yang di berikan oleh Haru maka marah Haru dan meyuruh prajuritnya untuk menghukum mati Donrino.

Haru:              Prajurit tangkap dia dan gantung dia di depan umum.

Donrino:        Hai kau raja yang sombong dan serakah, kau pantas mati ditangan ku.

Haru:              Apa kau bilang!!!

Donrino:        Dan kini ajal mu telah tiba, selama ini aku telah salah menilai kamu.

Narator:        Akhirnya Donrino membunuh Haru dengan tangannya sendiri, setelah Donrino membunuh Haru maka Cao-Cao dan Musica pun segerah melarikan diri dari kerajaan Haru setelah itu kerajaan Haru pun runtuh dan wilayah yang diperebutkan dengan susah payah telah direbut oleh kerajaa lain.

Drama

Oktober 26, 2009

Traumei Yang Abadi

Tokoh :

Recca

Tokoh utama perempuan, umur 16 tahun

Siswi progam regular ( kelas khusus), kelas 2 SMA

Perhatian dengan teman-temannya (terutama Racca)

Keahlian : biola

Racca

Tokoh utama laki-laki, umur 16 tahun

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 2 SMA

Pendiam, jaga image (sifatnya cool), lemah dan halus hanya dengan Recca, teman masa kecil Recca

Keahlian : biola

August

Tokoh utama laki-laki, umur 16 tahun

Siswa progam regular (kelas khusus), kelas 2 SMA

Lemah, peduli dengan Recca, atletis

Keahlian : piano

Nico

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 3 SMA, umur 17 tahun

Periang, mood maker, santai, selalu terlihat segar dan bugar.

Keahlian : terompet

Lathias

Siswi jurusan musik (kelas khusus), kelas 1 SMA, umur 15 tahun

Pemalu, sopan, kagum dengan Recca

Keahlian : clarinet

Lachas

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 1 SMA, umur 15 tahun

Tukang tidur, bisa tidur dimana aja

Keahlian : cello

Radian

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 3 SMA, umur 17 tahun, baik, sopan, sahabat Nico

Seperti pangeran yang sempurna di mata para siswi jurusan musik

Keahlian : flute

Nikka

Ibu Recca, periang, baik hati, mencemaskan anak satu-satunya

Keahlian : berbagai jenis alat musik

Alva

Guru musik dan dokter, pemalas, dan cuek is the best, tapi peduli

Keahlian : piano

Kiriiyuu

Kepala sekolah, dan ayah Recca, amat suka musik

Keahlian : flute

Seluruh siswa/i jurusan musik dan progam regular

Y Tertarik dengan konser musik

Pemuda yang lewat

Narator

(Adegen dimulai)

Pemuda : Duh! Hujan yang amat deras! Bagaimana ini?(kebingungan)

Narator : Hei, pemuda yang disana. Sedang apa? Daripada kehujanan, lebih baik berteduhlah disini dahulu. Aku juga sedang berteduh.

Pemuda : Aku? Bolehkah? (berjalan mendekati narrator, lalu duduk disebelahnya) aku sedang dalam perjalanan menemui teman masa kecilku.

Narrator : Hoo…. Teman masa kecil ya…. Bagaimana kalau kuceritakan sebuah kisah sambil menunggu hujan reda?

Pemuda : Sebuah kisah? Hum, baiklah….

Narator : Kisah yang akan kuceritakan ini perjuangan demi menyelamatkan nyawa teman masa kecilnya yang berharga. Sebelum itu, tutup matalah (sambil mengerlingkan mata, lalu pemuda itu menutup matanya). Bayangkanlah sebuah rumah yang mempunyai kebun yang luas, dan ada 2 orang remaja yang sedang bermain disana (Recca dan Racca masuk). Bukalah matamu….

Recca : Mainkan lagi Racca (agak antusias). Aku sangat suka bermain biola denganmu.

Racca : Tapi tekhnikku masih kalah darimu. Justru aku yang senang kamu bermain denganku.

Recca : Hahaha…. Kitakan sudah dari kecil bermain bersama. Jangan begitu.

Narator : Saat itu, ada seorang remaja yang hendak menyeberang kerumah tempat Recca dan Racca bermain, tetapi saat itu, ada sebuah truk yang berkecepatan tinggi ke arah anak remaja itu.

August : Recca! Racca!(sambil melambaikan tangannya kepada mereka berdua yang sudah di depan gerbang rumah Recca)

Recca : Itu August. Eh, gawat! Awas! (berlari menerjang August, tapi saat mendorongnya, August hanya terdorong beberapa senti saja) Ups….

Racca : Cih! Gawat! Recca!(langsung menerjang mereka berdua, Recca dan August terdorong ke depan rumah Recca, lalu menoleh) Haha. Ternyata aku yang tak bisa menghindar (tersenyum ke arah Recca dan August, truk itu langsung menabraknya, dan jatuh berlumuran darah)

Recca : Nggak… (kaget, histeris, dan menangis) Racca…. RACCA!!!! (pingsan)

August : Racca! Recca!(ayah dan ibu Recca masuk dan mendekati mereka bertiga)

Kiiriyuu : Recca! Racca! Astaga!(langsung mendatangi Racca)

August : Om, Tante…. Maaf! Ini salahku! Sampai mereka….

Nikka : Sst.. Sudah, jangan katakan itu lagi. Tak apa. Kami tak menyalahkanmu. Rumah Sakit juga sudah kami telepon.

Narator : Saat di Rumah Sakit

Alva : Pak KepSek, luka Racca memang parah, tapi 1 bulan lagi sudah sembuh dan dapat keluar Rumah Sakit. Hanya saja, Recca….

Nikka : Kenapa Va? Recca kenapa? (cemas)

Alva : Karena syok, dia tak sadarkan diri. Entah kapan bisa sadar. Tapi ada 1 cara meskipun tak tahu berhasil atau tidak. Yaitu, rekaman kebahagiaan. Tapi harus direkam oleh orang yang disayanginya.

Kiiriyuu : Berarti, kita harus menunggu sampai Racca pulih? (Alva mengangguk, Nikka menangis dipelukan Kiiriyuu)

Narator : Selang 1 bulan, Racca yang sudah pulih total, sudah diberitahu tentang keadaan Recca. Recca pun sudah dirawat dirumahnya. Di sekolah….(anak-anak kelas khusus masuk, narrator, pemuda keluar)

Alva : Anak-anak, hari ini kalian akan mendapat teman baru. Dia baru saja sembuh dari kecelakaan. Racca, masuklah (Racca masuk)

Racca : Selamat pagi, namaku Racca. Aku dari sekolah Saint Igna.

Alva : Oke. Sekarang bangkumu di sebelah August. (berjalan ke bangku yang ditunjukkan, lalu duduk)

August : Kenapa? Kamu sudah sembuh? Recca bagaimana?

Racca : Aku sudah sembuh. Recca masih harus istirahat. (mengeluarkan handycam)

Nico : Hei, namaku Nico. Ngomong-ngomong, buat apa handycam itu?

Racca : (senyum) Bukan apa-apa. Hanya merekam.

Radian : Hei, sudah. Jangan ganggu privasi orang lain.

Nico : Iya-iya (malas-malasan) tapi sepi juga, Recca ngga masuk sampai 1 bulan.

Lathias : Apa boleh buat kan? Kalau Kak Recca nggak bisa masuk?

Alva : Wah, kalau tentang Recca kamu jadi berani ya?(senyum) Hei Lachas, jangan tidur!(memukul kepala Lachas pelan dengan buku)

Lachas : Hoahem…. Pak guru ini, aku masih ngantuk…. (langsung tidur lagi)

Nico : Udahlah, Lachas emang gitu. Ngomong-ngomong, kamu bisa main alat musik apa?

Racca : Memang kenapa?

August : Uhuk. Begini, semua yang masuk kelas khusus pasti punya kelebihan. Baik dari jurusan musik maupun program regular, baik kelas 1, 2, atau 3 SMA.

Radian : Keahlianku flute, Nico terompet, Lachas yang sedang tidur itu pintar bermain cello, Lathias kembaran perempuannya clarinet, August piano, dan Recca biola.

Lathias : Kak Recca disebut sebagai jenius di sekolah ini. Bagaimana denganmu?

August : Begini ya, Racca ini juga main biola sama seperti Recca. Dia sahabat kecilnya Recca. Mereka berdua sudah go international.

Nico : Eh, apa? Berarti hebat dong! Ikut saja konser musik besok!

Racca : Kapan?

Lachas : 2½ bulan lagi. Hoahem. Buat penilaian musik nanti kalian sudah siap?

Nico : Wah! Gawat! Aku lupa! Aku latihan dulu di atap!(buru-buru lari pergi keluar)

Radian : Hah…. Orang itu memang selalu begitu.

August : Lebih baik kau juga menyiapkannya. (menepuk pundak Racca)

Narator : 1 bulan kemudian

Racca : Recca, ini rekaman selama 1 bulan ini. Aku mohon kamu cepatlah sembuh. (menangis)

Recca : Racca. Makasih ya…

Racca : (kaget) Recca? Kamu, sudah bangun?

Recca : (menggeleng dan tersenyum) Ini hanya rohku yang terbangun. Tubuhku masih belum terbangun. (mendekati Recca dan mencium kening Racca. Narrator dan pemuda masuk)

Narator : Semenjak itu, Racca dan Recca bisa berbincang-bincang, tetapi keduanya sama-sama terlihat sedih.

Pemuda : Jadi, mereka tak bisa memegang tangan? Waktu bertemunyapun juga terbatas?

Narator : Ya. Itu benar.(keduanya keluar)

Nico : Hey! Racca! Kemarin kemana? Sampai ngga masuk 3 hari. Hari ini kita latihan lho!

August : Racca, jangan-jangan kamu kerumahnya?(memegang pundak Racca)

Racca : Stop. Jangan lanjutkan.(menepis tangan August)

Nico : Hey, Radian. Konser itu, harus pakai baju yang bagus ya?

Radian : Pasti

Nico : Kalau pakai celana jeans nggak boleh ya? Yang paling bagus.

Radian : He? Yang paling bagus ya? (narrator dan pemuda masuk)

Narrator : Semenjak itu, segala kegiatan yang membuat orang lain tertawa selalu direkamnya. 1 bulan kemudian

Pemuda : Apa Racca nggak masuk lagi untuk menyerahkan rekaman?

Narator : Iya. Bahkan sampai 2 minggu. Karena kondisi Recca sempat memburuk. Jadi, Racca tinggal sementara selama 2 minggu. Saat ia kembali ke sekolah…..

August : Hey Racca! Jawab pertanyaanku! Kamu kemana 2 minggu ini? Nggak mikirin kita apa? (August menonjok Racca)

Racca : Aku nggak perlu cerita semuanya ke kamu kan? Lebih baik kalian latihan dulu tanpa aku! (balas nonjok)

August : Sialan kau! Aku nggak ngerti apa maumu! Kamu selalu mikirin dirimu sendiri!

Radian, Lathias : Sudahlah. Jangan teruskan!

Racca : Kalian tahu apa? (mulai menangis dan berteriak) Recca sampai sekarang nggak bangun-bangun juga! Aku udah nggak tahu harus ngapain lagi! Rekaman itupun juga percuma! Walaupun rohnya udah bangun! Tapi tubuhnya belum!

August : Astaga! Jadi itu benar? (Racca mengangguk) Sorry, aku nggak tahu.

Nico : Tapi belum benar-benar nggak berhasil kan? Kita coba aja rekam apa yang kita harapin ke Recca. Siapa tahu berhasil.

Lachas : Lebih baik dicoba. Daripada tidak.

Narator : 2 hari sebelum konser, rekaman itu selesai. Semua siswa di Saint Joseph turut berpartisipasi. Racca pulang untuk menyerahkan rekaman tersebut.

Pemuda : Lalu?

August : Jangan-jangan, Racca tidak datang?

Lachas : Dia pasti datang. Aku jamin.

Racca : Sorry telat.(tergopoh-gopoh) Tadi perjalanan kesini aku sempat tertabrak mobil. Tapi tak apa.

Radian, Nico : Gawat! Lebih baik cepat diobati! Lathias!(Lathias mengangguk)

Narator : Mereka mengakhiri konser itu dengan baik. Saat itu

Recca : Racca! (berlari kearah Racca, naik ke panggung, lalu memeluknya) Aku mimpi kamu ketabrak lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi! (menangis)

Racca : Recca, kamu sudah sadar? (Recca mengangguk) Aku juga berusaha keras agar selalu disampingmu. (memeluk erat Recca)

Recca : Buat semuanya, makasih ya, udah bikin aku bangun lagi dari tidur.

(semuanya tersenyum ke arah Recca)

Narator : Setelah itu, Recca ikut bermain 1 lagu. Semua yang ada disana benar-benar terpana melihat penampilan mereka bertujuh ditambah KepSek, Alva, dan Nikka. Alhasil, mereka bertujuh mendapat beasiswa keluar negri selama 3 tahun di tempat yang sama. Semua kenangan yang pernah terjadi takkan pernah terlupa dari mereka. Karena itu adalah kenangan yang berharga….

Pemuda : Cerita yang bagus. Tapi, kenapa kau bisa tahu sedetail itu?

Narator : Karena, (melepaskan jubahnya) aku adalah Alva, sang dokter dan guru musik. Cepatlah menemui orang yang berharga itu. Jangan sampai kehilangannya. Hujan juga sudah reda.

Pemuda : Terima kasih sudah menceritakan kisah yang amat bagus itu. Aku pasti takkan melupakan cerita dan nasihatmu.(berdiri dan bergegas pergi)

Narator : Uhuk…. Kalau pemuda itu begitu, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga punya orang yang berharga buatmu?

Drama

Oktober 26, 2009

Senja dengan kedamaian

Pelaku/Tokoh:
Dika : Anggota OSIS
Deka : Teman Dika
Hadi : Ketua OSIS
Ricky : Anggota OSIS
Narator:
Sebuah sekolah SMA di pinggir jalan raya, di Yogyakarta. Sebuah gerbang, seperti biasa terdapat di sekolahan dan tempat duduk kayu, bertolak belakang tempat duduknya sepasang kursi kayu yang sudah sedikit lapuk dimakan usia untuk duduk siswa-siswi yang sedang menunggu jemputan. SMA itu adalah Pangudi Luhur.
Seperti sekolah pada umumnya, terdapat beberapa ekstra kulikuler yang beragam. Seorang siswa kelas menengah, yang bertubuh tinggi dan pintar mengikuti kegiatan OSIS. Dika namanya. Dika adalah siswa kelas 2 yang bersahabat, dia mempunyai sahabat, dia adalah Deka. Mereka sering disebut Duo PL. Pada hari Senin, akan terjadi rapat OSIS. Ketika hari senin, Dika bertemu dengan Deka di depan gerbang sekolah.
Dika : Wah, hari ini ada rapat OSIS, Dek.(Sambil menggaruk-garuk kepala)
Deka : Santai aja. Itukan udah kewajiban kamu, dinikmati aja.(Sambil berjalan memasuki gerbang)
Dika : Wah, tapi ini beda. Ada si Ricky, aku males banget nih.(Memasang muka siaga satu)
Deka : Wah parah, emangnya dia ikut OSIS???(mengucapkan kalimat dengan nada mengejek)
Dika : Kamu gimana sih? Dia kan ikut.(Sambil menjitak kepala Deka)
Deka : Aaaww!!!Lha emangnya dia gak pernah ikut rapat???(Membalas perlakuan Dika)
Dika : Wah, jarang banget tuh si Ricky ikutan rapat.(Memasuki kelas dengan lemas)
Deka : Kenapa sih loe???Belum sarapan???(Meletakkan tas di atas meja)
Dika : Hari ini benar-benar hari yang menyedihkan.(Duduk di kursi)
Deka : Masa seorang Dika kalah sama Ricky. Dilihat posturnya, kamu kan lebih baik dari si Ricky, masa kamu nyerah gara-gara dia?(Duduk di atas meja sambil memainkan gitar)
Dika : Bukan masalah baik atau nggak, ini masalah sifatnya. Dia kan cerewet banget, aku males kalo di gosipin sama dia, yang keluar dari mulutnya adalah racun bagiku.(Memasang tampang serius dan melihat Deka)
Deka : Walah kayak gitu di pikirin. Jangan terlalu serius menanggapi orang kayak gitu. Kamu kan pintar, rajin, dan…
Dika : Tidak suka menabung!!!(Menyahut Deka)
Hadi : Dika, nanti jangan lupa ada rapat ya.(Datang dengan tiba-tiba)
Dika : (Kaget)Ahh,Iya kak, nanti aku usahain datang.
Hadi : Jangan di usahain donk!!!Kamu harus datang lho, kamu diperlukan dalam rapat ini, kamu banyak membantu.(Merayu Dika)
Dika : Ya kak, aku datang. (Wajahnya agak gugup)
Hadi : Ya udah, aku pergi ke kelas dulu ya.(Pergi tanpa melihat Dika lagi)
Deka : Gimana?Jadi ikut rapat?(Tertawa pelan)
Dika : Kok kamu ketawa sih?Teman sedang susah gak di bantuin.?(Tiduran di meja)
Deka : Ya Tuhan, ini bulan puasa, jangan Zuudon sama orang lain.(Masih memainkan gitarnya)
Dika : Zuudon?
Deka : Zuudon itu artinya jangan curigaan.(Selesai memainkan gitarnya dan duduk di kursi)
Dika : Aku nggak curigaan kok, itu fakta!
Deka : Ya udah, gak usah di omongin, aku males dengernya.(Tiduran juga di meja)
Dika : Ya udah deh, aku hadapin semuanya.(Bangun dari tidurannya dan bersemangat)
Deka : Gitu donk, masa salah satu dari duo PL lemah sih.
Dika : Duo PL itu Cuma julukan, jangan kepedean.(Mencari-cari buku di tasnya)
Deka : Eh iya, Aku pinjem pr Akuntansi donk
Dika : Nih…(Memberikan buku ke Deka)
Narator: Bell pun berdering,
Saat pulang sekolah.
Deka : Udah siap?(Berdiri di depan ruang OSIS)
Dika : Masih ada 10 menit lagi sebelum mulai.(Masih bingung)
Deka : Udah, masuk aja…(Mendorong Dika masuk ke ruang OSIS)
Dika : Oke, oke, oke, aku bisa sendiri.(masuk ke ruang OSIS, dan melihat sekitar. Di lihatnya Ricky sedang mengobrol dengan cewek-cewek di ruang OSIS)
Ricky : Hari jumat kemarin, Nyokap gue pergi ke Eropa, bokap guwe pergi ke Arab.(Berbicara dengan nada sombong)
Dika : Ngapain?Jadi TKI ya???(Menyahut)
Ricky : Ya enggak lah. Orang tuaku kan kerja di luar negeri.(Melirik melihat Dika)
Dika : Oh, gue kira kerja jadi TKI di luar negeri.(Sedikit tertawa)
Ricky : Ya gak mungkin lah.
Hadi : (Masuk ke ruang OSIS) Kita mulai rapatnya.
Dika : (Mengeluarkan selembar kertas dan bolpoin)
Hadi : 3 minggu lagi, sekolah kita akan mengadakan bazaar jadi ada usulan?(mencatat di papan tulis dengan spidol)
Ricky : (Mengangkat tangan) Gimana kalau kita buat seperti festival. Ada pesta dansa, live concert, dan bazaar amal. Standar anak-anak sekolah kita sangat luar biasa, kan. Mereka akan memamerkan barang-barang asli sehingga anak-anak akan beli. Jadi semua barang itu akan dilelang. Tentu semua keuntungan yang didapat akan di ambil sekolah dan di sumbangkan ke panti asuhan.
Dika : (Berpikir sebentar, lalu berdiri) Aku pikir itu sangat tidak masuk akal
Hadi : Tidak masuk akal?
Dika : Bazaar seharusnya diisi barang-barang buatan siswa seperti kue, boneka, aksesoris. Tujuannya untuk saling merekatkan persahabatan. Begitu kan?
Ricky :( Menyahut ucapan Dika) Gila ya! Buat apa kue buatan sendiri dan aksesoris. Memangnya bazaar di kampung? Jangan bercanda.
Dika : (Balas menyahut) Siapa yang bercanda? Melelang barang-barang mahal di bazaar anak-anak SMA, Bercanda ya?(Agak marah)
Ricky : (Diam)
Hadi : Memang benar sih. Kalau begitu kita lakukan voting. (Menulis nama Dika dan Ricky di papan tulis). Jadi, yang setuju dengan ide Ricky angkat tangan (Melihat tangan-tangan yang terangkat). Yang setuju dengan ide Dika angkat tangan (Melihat tangan-tangan yang terangkat). (Menghitung jumlah nilai Ricky dan Dika) Nilai untuk Ricky adalah 12, dan untuk Dika ada 18. Kita pakai idenya Dika, Dika buat proposalnya, hari sabtu harus sudah ada di tangan saya. Sekian dari rapat kita. (Berkemas-kemas)
Dika : (Keluar dari ruang OSIS, menuju kantin) Hai Dek.
Deka : Hai Dik, cepet amat rapatnya. (Sambil menyeruput minumnya)
Dika : (Duduk di samping Deka) Gila si Ricky, usulannya gak mutu banget.(Mengambil sedotan dan menyeruput minuman Deka)
Deka : Emangnya kenapa?
Dika : Masa di sekolah kita mau diadakan bazaar barang-barang asli. Terus, ada live concert dan pesta dansa. Untung usulannya gak jadi.
Deka : Wah parah tuh, horror.
Dika : Gue pulang dulu ya, mesti buat proposal untuk bazaar.(Pergi tanpa menoleh lagi)
Narator : 3 minggu pun berlalu, bazaar di SMA Pangudi Luhur telah di mulai.
Dika : Wah, bazaarnya seru ya Dek. (Bergumam dengan senang)
Deka : Iya, Eh, si Ricky datang tuh sama teman-temannya. (Melihat Ricky dari kejauhan)
Dika : Biarin aja, kita nikmati acaranya aja. (Melihat-lihat sekitar)
Ricky : Heh Dik, apa maksudmu saat rapat OSIS 3 minggu yang lalu, kamu gak suka ideku?
Dika : Sejujurnya iya. Apa kamu gila dengan ide-ide kamu yang memberatkan teman-teman kita
yang miskin? (Melihat Ricky)
Ricky : Alah, orang miskin di belain, Kamu ngajak berantem aku ya?(Menantang Dika)
Deka : Sorry, Dika nggak berminat lawan orang kayak kamu, feminim. (Menatap Ricky dengan
serius)
Ricky : Apa kamu bilang!(Memukul Deka)
Deka : (Balas memukul Ricky)
Hadi : Hei kalian (berteriak)!!! Jangan berkelahi disini. Ricky kamu kan anggota OSIS, kenapa
malah berantem.
Deka : Dia duluan yang mulai kak, dia gak terima kalau idenya Dika lebih diterima. (berbicara
dengan cepat sebelum dihentikan Ricky)
Hadi : Ohh, jadi kamu biang keroknya. Nanti kamu harus ketemu Pembina OSIS di ruang guru. Dan kamu Deka, sebagai hukuman karena berkelahi disini, kamu harus membantu anggota OSIS lainnya untuk membersihkan ruang kelas sehabis bazaar. (Hanya senyum melihat Deka, sambil mengedipkan mata)
Deka : Beres kak, aku memang mau bantu-bantu kok. Ayo Dik, kita lihat-lihat lagi bazaarnya. Dah Ricky. (Nada mengejek Ricky)
Ricky : Cih…(Marah)

Oktober 26, 2009

Untuk sementara belum ada, tapi tapi tungggu tanggal mainnya…okey…

Kumpulan Puisi

Oktober 21, 2009

            Ilmu Daun

Daun hijau, menguning, jatuh dan membusuk.

Tak beda dengan jagad di jaman ini

Kehidupan semakin berat dan mengerikan

Lihat,  banyak orang menjadi sengsara

Pengangguran memenuhi jagad ini

Sedangkan orang terlantar semakin membebani

 

Zaman apa ini?

Mengapa banyak orang seperti itu?

Apakah ini akibat hukum rimba?

Ataukah hanya kemalasan orang saja?

 

Andai ini dibiarkan, akan menjadi apa jagad ini?

Jagad yang dipenuhi tangisan?

Tangisan meminta sesuap nasi?

Ataukah Jagad  yang dipenuhi kejahatan?

Karena yang miskin berlomba ingin memiliki kekayaan

yang kaya dengan cara mencuri

 

Jangan biarkan ini menjadi

Buatlah daun itu bukan hanya kuning

Tetapi menjadi emas yang berkilauan

Agar tak banyak daun yang jatuh dan membusuk tiada guna

 

Beratnya Hidup

 

Jutaan ton pasir telah ia kumpulkan selama puluhan tahun

Puluhan truk sudah menghampiri ia selama ratusan hari

Ratusan keringat telah ia teteskan di setiap aliran air yang melewatinya

Dan hampir belasan jam per hari ia habiskan di atas sungai

 

Walau sang hari enggan menutup diri

la tetap berkarya demi sesuap nasi untuk keluarganya

Taukah kamu? Bila sungai sedang banjir atau badai hujan sedang mendera,

mereka tidak bisa berbuat apa-apa

Lubang tambang tertutup air, arus sungai semakin deras,

dan air akan meluap naik

 

Tetapi terkadang mereka berbuat nekat, karena anak menangis dan istri

menderita belum makan seharian.

Mungkin dalam setiap doanya, ia ingin menjadi orang yang serba kecukupan

dan tidak usah bersusah payah untuk menambang pasir

 

Yah, itulah kehidupan penambang pasir di sungai

Yang sebagian besar waktunya ia abdikan kepada sungai

Andai sungai dibuat banjir oleh ulah manusia

Berarti manusia itu telah membuat penambang dan keluarganya menderita

 

Tak Mau Putus Belajar

 

Kegigihan dan ketekunan mewarnai kehidupanku

Impian dan angan menjadikan pemberi semangat dalam mengarungi hidup ini

Buku menjadi teman

Guru menjadi sahabat

Keceriaan selalu memancar dari wajahku

Dengan sepeda jawa yang mulai rapuh

Kukayuh menuju sekolah demi mengejar ilmu

 

Tapi pada akhirnya semua itu kandas

Aku mulai murung, sedih, dan tak bersemangat

Ketika ayah berkata tak sanggup lagi menyekolahkan aku

Hatiku hancur

Serasa bumi ini berhenti

Angan pun menghilang meninggalkan aku

Sahabat juga akan meninggalkan aku

 

Namun teman, kegigihan dan ketekunan masih setia bersamaku

Bersama teman aku akan mencari

anganku yang hilang

Dan percaya akan ada secercah harapan yang menanti

 

Liku-Liku Malam

 

Tabir surya telah menutup

Ratu malam mulai memancarkan sinar

Temaram lampu jalan pun turut menghias susana malam

Inilah pesta malam akan dimulai

 

Riuh suara anak-anak jalanan mulai mengusik

Sepajang terotoar di sudut lampu merah menjadi peraduannya

Kejora menjadi kawan dan hujan menjadi lawan

Tak ketinggalan gitar menjadi sahabat.

 

Merah menjadikan rejeki dan hijau perusak rejeki itu

Kertas menjadikan keberuntungan sedangkan koin menjadikan kesialan

Senyum menjadikan kebahagiaan sedangkan murung menjadikan kecemasan

Dan Trantib yang menghantui semuanya itu

 

Sebentar lagi tengah malam mengampiri

Dan angin malam mengiringi mereka pulang

Mereka pulang dengan membawa segenggam kehidupan

Dan mereka pun tidur berselimutkan harapan esok akan lebih baik

 

Tangisan di Tujuh Koma Tiga

 

Lihatlah saudara

Begitu dahsyatnya

Gempa di Tasik Malaya

Tujuh koma tiga

Datang tak terduga

Merobohkan berbagai bangunan

Merusakkan  keindahan sebuah kota

Hanaur hati melihat  keadaan

Kini hanya tersisa puing-puing reruntuhan kota

Yang sudah rata dengan tanah

Banyak orang yang bingung

Sebagian terlihat panik

Tidak sedikit yang takut

Walau hanya satu yang menjerit-jerit histeris

Tetapi semuanya masih diselimuti kegelisahan

Pedih dan perih hatiku

Melihat banyak orang yang terluka

Sebagian karban berdarah

Ada puluhan orang yang meninggal

Sehingga begitu banyak tangisan

Tuhan…

Berilah ketabahan dan kesabaran kepada mereka

Ingatkan kami pula untuk membantu mereka dalam doa

Kami semua percaya, Engkau  punya rencana, dan rencana-Mu selalu indah

Ingatkan  mereka pula bahwa hidup harus terus berjalan

Biar mereka menhadapi  semua ini dengan tegar

Mereka tidak sendiri

Kami berjuang membantu mereka

 

 

Misdinar kecil di lorong Sakristi

 

Ketika misa usai aku melangkahkan kakiku ke sakristi

Aku mendengar seseorang menangis di lorong itu

Lihatlah! Ada gadis kecil di sana

Dia duduk seorang diri, menangis tersedu-sedu

Seakan-akan ada yang berusaha untuk menyakitinya

Aku semakin mendekatinya perlahan dan ia pun melihatku

Ketika kutanya mengapa ia menangis

Dia minta maaf kepadaku

Mengapa? Mengapa dia harus minta maaf  kepadaku?

Ternyata dia merasa belum bisa melayani Tuhan dengan benar

Dia diejek oleh teman-temannya dan menjadi bahan omongan umat

Dia merasa sangat bersalah

Apa artinya sebuah kesalahan kecil

dibanding dengan pelayanan yang tulus

Tuhan, hatinya begitu murni dan lembut

Hatiku terasa perih mendengar jawabnya

Jujur, aku terharu mendengarnya

Oh Tuhan, itu jawaban terindah yang pernah aku dengar

Aku menenangkannya dan berjanji

Akan melatihnya supaya dia bisa melayaniMu dengan benar

Ada perasaan gembira tersirat di wajahnya yang mungil

Hatiku sangat bersyukur, Engkau mengirimkan malaikat kecil untukku

Malaikat kecil yang ingin melayaniMu dengan tulus

 

         Puisi untuk Ayah

 

Bagaikan sinar rembulan yang menyinari bumi

Engkau selalu ada disampingku dari waktu ke waktu

Yang selalu hadir dalam setiap derap langkahku

Yang selalu memberikanku semangat dan dorongan

Dan yang tak pernah letih menemaniku

Ayah wajahmu mengingatkanku akan sebuah perjuangan

Perjuangan yang panjang dan melelahkan yang tiada habisnya

Namun tak kudengar satupun kata yang terlontarkan dari bibirmu

Semuanya itu hanya untuk aku anakmu

Ayah maafkanlah aku yang telah buatmu kecewa

Yang telah buat hatimu hancur karena semua kesalahanku

Aku yakin hatimu pasti menangis melihat tingkah anakmu yang tak tahu balas budi

Ayah dapatkah kau dengar tangisan dari lubuk hatiku

Tangisan dari semua kesalahanku yang telah membuatmu kecewa

Tangisan yang mungkin bagiku tiada arti dan tiada berguna

Sepertinya kata maaf pun tak cukup untuk menebus semua kesalahanku

Ayah hanya sepucuk puisi yang mampu kupersembahkan untukmu

Terima kasih atas semua yang telah engkau berikan padaku

Pengorbananmu akan selalu menyertai derap langkahku

Sampai nanti hingga ujung usiaku

 

Sendiri di Sini

 

Aku merasa diriku bagaikan besi tua tak berdaya

Yang tak pernah dihiraukan sepanjang masa

Meski kuberusaha menanti setia

Tetapi aku tetap terbuang sia-sia

 

Hidupku sungguh terasa hampa

Tanpa kehadiranmu sang pelipur lara

Hatiku terasa ditusuk peluru baja

Saat kutahu kau pergi meninggalkan aku

 

Rasa sedih ‘kan terus terasa

Sampai saat dirimu datang membawa penghangat jiwa

Jiwa yang telah lama menanggung lara

Jiwa yang menginginkan kehangatan cinta

 

Harapan Kosong

 

Malam kelam datang membayang

Menyelimuti mimpi akan bayang-bayang suram

Gerutu hati tak dapat diam

Karena benalu tak kunjung hilang

Akankah aku harus menunggumu?

Ataukah aku harus mencari penggantimu?

Wahai pangeran impianku

Pangeran pembawa damai di kalbu

Penantianku ‘kan terus ada

Sampai saatnya tiba

Saat dimana aku bisa bahagia

Atau saat dimana aku harus melepas dirimu

 

Hidup Adalah Anugerah

 

Hidup ini bagaikan anugerah yang sangat indah

Dimana aku harus selalu melangkah

Menghadapi dunia yang penuh jeripayah

Dengan semangat pantang menyerah

 

Sepatutnya kita tunjukkan kepada-Nya

Bahwa kita bisa

Bahwa kita tak serapuh manusia biasa

Bahwa kita telah mensyukuri kebesaranNya

 

        Kesepianku

 

Hari-hariku kini telah berganti

Disambut mendungnya alam ini

Alam yang tak kunjung menampakan mentari pagi

Hingga akhirnya aku harus menanti sendiri

Akankah ada yang akan menghibur hati

Saat aku sedang sendiri

Meratapi hari yang sepi

Tanpa kehadiranmu sang teman sejati

Kini aku mulai menyadari

Kehadiranmu membawa damai di hati

Tanpamu aku seperti orang mati

Dan rasa sepi akan terus melanda hati ini

 

Hidup adalah Roda Berputar

 

Walaupun aku terhempas

Di tengah kesepian

Aku bertanya pada diri

Mengapa ini terjadi

Apa salahku

Dosakah aku

Aku adalah manusia yang berdosa

Hanya memandang waktu berlalu

Yang memandang bulan malam

Melihat kerlib-kerlib bintang

Cahaya yang memukau

 Kubimbing hidupku lagi

Tak kuserahkan masa depanku

Sebagai takdir yang kutanggung

Kukejar laut yang membiru

Agar tak dicuri masa terangku

Kutata hidupku kembali

Demi masa depan yang kudambakan

Aku bukanlah bintang berpijar di saat malam telah tiba

Tetapi aku hanyalah orang

Yang mengabdi padaMu, ya Bapa

 

 Kado Terindah

 

Raut wajahnya penuh ketenangan

Matanya memandang penuh kasih

Tangannya membelai lembut

Senyumnya mendamaikan jiwa

Kau beri segala yang kubutuhkan

Kau korbankan jiwa dan ragamu

Demi sebuah kehidupan baru, yaitu aku

Tak pernah kau tunjukan kesedihanmu

Kau coba tutupi itu dariku

Tak ‘kan habis rasa sabarmu

Untuk setiap tindakan nakalku

Tak ‘kan habis kata maafmu

Bagiku

rasa sayang dan perhatianmu tak ‘kan habis

Tangisku jadi duka bagimu

Tawaku jadi duka bagimu

Bahagiaku jadi segalanya untukmu

Dan bagiku

Ibu, kau kado terindah yang Tuhan beri padaku

saat ini dan selamanya

 

PENANTIAN

 

Aku takut awan gelap ini tak pergi

Aku takut tangis ini tak berakhir

Aku takut cobaan ini tak berujung

Beban ini terlalu berat untuk kupikul

Hidup tak semudah yang dibayangkan

Saat pilihan yang kudiambil salah

Itu hancurkan semuanya

Tapi ada satu keyakinanku

Tuhan tidak akan pernah tinggalkanku

Awan gelap itu boleh saja berganti hujan deras

Tapi akan ada pelangi yang mengakhirinya

            Setiap cobaan yang kita alami

Tuhan pasti telah siapkan akhir yang indah

Entah nanti atau saat ini

Hanya waktu dan penantian yang menjawab

 

 

Bencana Gempa Bumi

 

Saat mata belum terbuka

            Saat mentari belum menampakkan dirinya

Bumi berguncang tak disangka

            Semua orang terjaga setelah terjadi adanya bencana

 

                        Ribuan rumah Kau jadikan rata

                        Ribuan jiwa melayang begitu saja

                        Tak pandang baik atau buruknya manusia

                        Juga tak pandang berapa usia mereka

 

            Manusia hanya dapat berdoa dan berusaha

            Semoga arwah korban bencana senantiasa Kau terima

            Semua itu bukanlah hukuman bagi manusia

            Tetapi semua itu adalah peringatan bagi manusia

             untuk peduli terhadap sesamanya

 

                        Kuberdoa kepadaMu Sang Perkasa

                        Ampunilah dosa mereka

                        Maafkanlah semua kesalahan umatMu

                        Hanya padaMulah kuberdoa

 

 

         Tuhan

 

Belaian kasihMu

Melembutkan jiwaku

Di saat kumenunduk

Kau mengangkat daguku

Kau bagaikan pelita

Di dalam kegelapan

 

Kasihmu s’lalu terpancar dalam hatiku

cintaMu yang tulus

kesabaranMu yang mendalam

adalah bunga abadi bagiku

Kau yang maha kuasa

Kau yang maha agung

 

Aku sadar

Aku hanya manusai biasa

Kau detakkan jantungku

Kau bukakan pintu maaf  bagiku

 

Oh Tuhan

Cahaya kasihMu akan kuletakkan dalam hatiku

Dan akan kubagikan kepada para umatMu

 

 

       Sahabat Jadi Cinta

 

Detik pertemuanku denganmu

menjadi sejarah mengukir mimpi

hari demi hari kulalui hanya bersamamu

indah tak terpandang diam tak bicara

Walaupun banyak waktu terbuang

Tuk memikirkan kehadiranmu di sisiku

Tawamu, senyummu, candamu

Selalu ada di benakku

Apakah ini yang dinamakan  “cinta pertama”?

Namun nyata yang tersirat dalam hidupku

Dua insan yang takkan pernah bisa bersatu

karena persahabatan adalah kunci kebersamaan kita

 

 

 

            Cinta Kasih Tuhan Sungguh Besar

 

Setiap detik engkau memberikan cinta kepada setiap orang

Tapi terkadang manusia tak sadar atas kemurahan hati-Mu

Setiap detik pula manusia mengabaikan-Mu

Mereka datang hanya meminta dan meminta kepada-Mu

Saat mereka senang tak ada yang mengingat Engkau

Sumber hidup dan kasih yang Engkau berikan

Bak air mengalir tenang yang tak ada hentinya

Tetapi Engkau tak mempedulikan semua itu

Engkau sembuhkan orang yang sakit

Engkau tak memandang kasta ataupun harta mereka

Kasih-Mu sungguh besar Tuhan

Bagiku Engkau adalah Bapa yang Maha Pengasih

 

     Kasih Bunda Sepanjang masa

 

Aku tersenyum di ruang sepi dan sunyi

dimana hanya ada aku dan kenangan-kenangan bersamamu

Bunda, aku rindu kasih sayangmu

kau begitu sempurna di mataku

Bunda, sembilan bulan kau kandung aku dalam rahimmu

Kenakalanku menghiasi hari-harimu

lelah tak berarti bagimu untuk temani aku

kau rawat diriku dengan cinta kasihmu

Mengapa cintamu susah untuk aku lupakan

Kenangan bersamamu membuat aku sadar

Cintamu sungguh hebat tertanam di hatiku

dan selalu kukenang selamanya hingga akhir hayatku

 

 

     Pancarkanlah

 

Jurang yang dalam ini

Kegelapan yang menakutkan

Hidup yang suram

Lumpur dosa melumuriku

Kuterperosok di dalamnya

 

Cahaya tak kutemukan

Hingga kutak dapat keluar

Semuanya musnah begitu saja

Goresan dosa bertambah

Hidup tiada berarti lagi

 

Tuhan, kumohon

Pancarkan kasih dan setiaMu padaku

Janganlah berpaling dariku

Kelaurkan aku dari jurang keberdosaan

Pulihkanlah aku kembali

 

 Aku percaya

Engkau takkan membiarkanku

Takkan meninggalkanku sendirian

Engkaulah Bapa dan Sahabatkku

Jalan kebenaran dan keselamatanku

 

 

 

Remaja

 

Waktu semakin bergulir

Hari berganti tiada henti

Banyak cerita telah lahir

Mencoba mencari jati diri dalam prestasi

 

Tumbuh dari hati mencoba berdiri

Punya hasrat punya niat

Untuk meraih cita-cita tertinggi

Yang impiannya lahir dari sebuah semangat

 

Akankah itu tercapai?

Wahai para remaja

Capailah impian di tenggah badai

Ketika kekacauan menghantam bangsa

Dimanakah jiwa kesatriamu yang membara bagai api?

Wahai para remaja

 

Wahai para remaja

Hadapilah masa depanmu

Karena engkau merupakan harapan bangsa

Dan ingatlah selalu akan negaramu

 

Senyumanmu

 

Waktu tak pernah terhenti

Terus berjalan menemani langkahku

Membuat setiap detik menjadi sebuah kenangan

Menciptakan mimpi dalam angan-anganku

Langkahku tak pernah terdiam

Terus berputar bagaikan jagad raya ini

Terus mengalir bagai air dalam keheningan

Yang terkadang tak tahu ke mana arahnya

Waktu  tak mungkin terulang lagi

Dan takkan pernah terulang

Tapi air mata ini terus membasahiku

Bayanganmu menjadi kenangan terindah

Yang takkan pernah terlupakan

Dalam kehidupan ini

Aku hanya ingin membuat kenangan dalam senyuman

Untuk mereka yang tersenyum

Aku hanya menghabiskan waktu hidupku

Dengan kebahagian mereka

Dalam terang duniamu

Dalam kegelapan duniamu

Membuat mimpi menjadi sebuah kenyataan

Tak ada lagi keheningan dalam hati ini

Hanya senyuman untukmu

 

Keheningan sebuah Kekecewaan

 

Keheningan menyapa hati

Tinggal dalam kebisuan yang tanpa arti

Suasana mendung menyelumuti raga

Sungguh kesendirian yang menyakitkan

 

Hiruk-pikuk kota t’lah lenyap

Suasanan canda tawa tl’ah hilang

Bahkan detak jantung pun tak terdengar

Hanya terdengar suara tangis

 

Menyisakan sebuah kekecewaan

Berbekas rasa sakit hati

Pergi dengan perkara batin

Menyesakkan s’luruh jiwa raga

 

Termenung

 

Hawa dingin merasuki sumsum tulang

Keheningan mengisi jiwa

Badan dianiaya hembusan angin

Nafas sesak terbalut penat

 

Keramaian pergi menjauh dari anganku

Keheningan bersemayam di hati dan pikiran

Diam membisu dalam nafasku

Termenung dalam heningnya suasana

 

Menatap tak tentu arah memandang

Pandangan kosong melamunkan sosoknya

Melamun dalam kegalauan hati

Kegalauan yang mengusik pikiran

 

Sejuta perasaan berkecamuk dalam hati

Bercengkrama dalam kesunyian hati

Terdiam dalam bibir terkatup

Berbicara dalam kepenatan hati

 

Nyawa Hidupku

 

Ketika aku berjalan sendiri di sebuah lorong itu

Tak ada seseorang pun yang dapat menolongku

Bukanlah kamu ataupun dia

Tetapi hanyalah diriku seorang

 

Aku tak tahu apa yang sedang ku alami

Akankah aku terjebak di sini seorang diri?

Ataukah aku akan keluar dari situ

 karena seseorang yang menolongku?

Tidak…

Karena seseorang itu hanya datang dan menyamarkan semuanya

Bukan untuk menolongku

 

Aku tak tahu apa yang sedang kualami

Kepada siapa aku harus mengeluh?

Dapatkah kupanggil nyawa hidupku?

Agar aku dapat berkeluh kesah kepadanya

 

Aku tak tahu apa yang sedang kualami

Mungkin inilah kehidupan

Kehidupan yang hanya terasa hampa

Karena hidup adalah sebuah perjalanan mencari kebahagiaan

Sekaligus kehilangan kebahagiaan yang lainnya

 

Karena setiap insani pasti akan mengalami hal itu

Apalah arti sebuah nyawa di dalamnya

Jika kita tak bisa menghargai kehidupan

Semuanya akan berlalu begitu saja

 

 

 

 

Tuhanku

 

Aku tahu Kau selalu mendampingiku

Aku tahu Kau tak pernah meninggalkanku

Aku tahu Kau tak jauh dariku

Tak ada yang bisa menggantikan kasih sayang-Mu

Tak ada yang bisa menggantikan kemuliaan-Mu

Tak ada yang bisa menggantikan keagungan-Mu

Tuhan tempatku memohon

Tuhan tempatku meminta

Tuhan tempatku berlindung

Di setiap jalan kehidupanku

Kau tuntunku ke jalan yang benar

Di setiap jalan kehidupanku

Kau selalu memberiku yang terbaik

Saat aku jatuh

Kau angkat aku

Saat aku jatuh

Kau menopang aku

Walau tubuhku penuh dengan dusta dan dosa

Saat hati ini rapuh

Saat jiwa ini letih

Kau pulihkanku

Sebab kaulah Tuhan yang paling mengerti

 

Jalan hidup dalam dirimu

 

Deg, Deg…

Denyut nadiku

Kupegang kertas penuh dosa

Dalam kantong permenku

Jantungku mulai membeku

Saat malaikat mulai berkkeliling

Otak mulai berputar

Walau tak karuan

Hari berlalu

Lampu gelap mulai menjadi terang

Pintu surga mulai terbuka

Walau hanya anganku

Malaikat mulai menjauh

Kulempar kartas penuh dosa

Dalam jurang perlindungan

Sayang …

Malaikat punya seribu mata

Malaikat munguap

Krek, krek…

Kertas harapanku

Semua umat diam

Diam menatapku

Sang malaikat mengusirku

Hatiku menangis

Menanti bulan menimpaku

Tapi sang malaikat berkata

Bulan menantimu

Tapi…

Tuhan menantimu juga

Tuk hidup dalam dirimu

 

Arus Kehidupan

 

Aku hanya mengikuti arus kehidupan

yang berlari dan terus berlari

dan tak  ‘kan pernah bisa kuhentikan

 

Aku hanya mengikuti arus kehidupan

yang berputar dan terus berputar

dan tak ‘kan pernah bisa kuulang

 

Aku hanya mengikuti arus kehidupan

yang berubah dan terus berubah

dan tak ’kan pernah bisa kembali

 

 

 

Surat  Untuk Tuhan

 

Tuhan

Dimanakah alamat surga?

Ketika aku terdiam diri

Kutulis semua peristiwa hidupku untuk-Mu

Terdengarkah suaraku?

Aku hanyalah semut kecil,

Lemah dan terinjak

Mengahapi dunia yang begitu besar

Dimanakah Engkau?

 

Perjalanan hidup bagaikan koma. Yang ku temukan hanyalah koma, koma, dan koma. Tak ada titik dimana aku bisa berhenti. Menyudahi semua pergelutan panjang. Tak mudah temukan topangan hidup. Sebab yang begitu berarti akan hilang. Seiring dengan berjalanannya waktu, yang akan menghapus semua kenangan. Hanya aku akan terus melangkah. Menghadapi semua takdirku.

 

Ketika waktu berlalu terlalu cepat

Detik demi detik, menit demi menit

Terus menerus berjalan tanpa lelah

Buat kuterhanyut dalam kesibukan

Hingga kusadari semua telah berubah

Aku  tak menjadi sama seperti dulu

 

   Kasih Tuhan

 

Di pagi yang cerah ini

Burung-burung merdu menyanyi dengan gembira

Udara yang sejuk menyegarkan hati

Sungguh agung dan indah kasihMu Tuhan

 

Pencipta alam semesta nan indah

Dengan segala isinya

karyaMu sungguh sempurna Tuhan

atas kebesaran dan keagunganMu

 

Engkau selalu memberi kepada kami

Walau kami jarang berterima kasih padaMu

Tetapi Engkau selalu membimbing kami

Kami merasa kecil di hadapanMu Tuhan

 

 

Tatapan Indoensia

 

Indonesia merintih

Indonesia menangis

Harga diri yang dibangun, hancur sudah

Budaya, politik, sudah teracuni

 

Racun yang masuk, bagaikan t’lah membusuk di darah daging

Hancur sudah, semua impian yang kuharapkan pada Indonesia

Hanya impian semu yang tertinggal

Kau telah berubah, negaraku

Masyarakat, budaya, politik yang dulu diagungkan

Sekarang, bagaikan lebur ditelan bumi

 

Aku kecewa melihat negaraku hancur seperti ini

Bagaikan api yang dulu berkobar

Kini ditiup angin, menjadi padam

Semangatmu kini t’lah padam

Apalagi kini kau sudah lupa pada Yang Kuasa

 

Kau bukan lagi Indonesia yang dulu

Kau bukan lagi negara taat hukum

Kau bagaikan negara komunis

Korupsi menyebar dimana-mana

Katanya rakyatnya selalu taat hukum, rajin beribadah

Dimana Indonesia yang dulu?

 

Banyak beban yang harus kau tanggung Indonesia

Bebanmu sangat berat Indonesia

Terus…terus… dan terus berkembang

Tunjukkan semangatmu yang dulu berkobar tiada henti

 

 

 

Kehidupan

 

Kehidupan bagaikan sebuah misteri

Menunggu waktu yang berjalan

Terasa menyesakkan dada

Meributkan masalah dunia

 

Ada perbuatan baik

Ada pula perbuatan jahat

Dengan persoalan yang memburu

Dan tak kunjung berlalu

 

Kehidupan terasa tak berkata

semua terasa semakin fana

Kehidupan penuh dengan dosa

Namun semuanya hanya teka-teki dunia

 

Kehidupan adalah sebuah keraguan

Tinggal menunggu nasib dan takdir

Memilih mimpi atau kematian

Hanya Tuhanlah yang maha tahu

 

 

Kesalahan dalam hidup

 

Hidupku

Kau anugerahi dengan sempurna

Kau ciptakan aku tanpa kekurangan

Dan dengan suatu kelebihan

 

Aku mempunyai anggota tubuh yang lengkap

Orang tua, kasih sayang, dan perhatian

Semua itu kumiliki dan kudapati

Karena Kau yang merancang semua itu

 

Tapi…

Kusia-siakan hidupku

Tak kumanfaatkan semua yang kumiliki

Semua yang kau berikan padaku

 

Aku sadar semua itu salah

Tapi mengapa tetap saja kulakukan

Tak kuhiraukan semua yang ada

Yang kudapatkan hanyalah kesenangan sesaat

 

Aku tahu

Kau yang menciptakanku, mencintaiku, dan mengutusku

Untuk menjalankan semua rencanaMu

Kini akau mengerti akan semua kesalahanku

Hanya satu kata yang dapat kuucapkan “AKU MENYESAL”

 

      Dendam alam

 

kehilangan tempat tinggal bagaikan ditelan bumi

bumi yang kembali menunjukan kekuasaannya

yang membuat semua orang berhamburan

bagai beras yang tumpah

berserakan di jalan-jalan

ia bagaikan harimau yang sedang mengamuk

itulah gempa

gempa yang mengguncang bagai kiamat

tanah pun bertindak,

mengubur orang hidup-hidup

 

di tenda-tenda pengungsian

berjejal mereka menahan duka

orang-orang yang mereka cintai telah tiada

tak ada yang bisa disalahkan

inilah karma alam yang harus kita terima

alam yang mulai murka dengan kita

alam yang mulai tak percaya dengan janji-janji palsu

mungkin ini juga adalah peringatan bagi manusia

untuk menepati janjinya pada alam

peringatan kepada manusia agar tetap tunduk akan kuasa Tuhan

 

 

Hutanku

 

Hutanku

Kau adalah paru–paru dunia

Mengeluarkan oksigen demi kelangsungan hidup manusia

Membebaskan kami manusia dari polusi udara.

 

            Hutanku

            Karena keegoisan manusia, kau mulai berkurang jumlahnya

            Kau kini mulai tak kelihatan,

            Seiring dengan perkembangan zaman.

 

Hutanku

Bila kau ada

Kami senang dan tertawa

Bila kau tiada

Semua makhluk hidup akan binasa