Arsip untuk ‘Ekspedisi’ Kategori

Ekspedisi

Juni 16, 2009

GUA MARIA SENDANGSONO

Sendangsono 059
Sendangsono adalah tempat ziarah Gua Maria tertua di pulau Jawa. Secara geografis, Sendangsono berada di pegunungan Menoreh dan beralamatkan di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangsono berbatasan dengan Jawa Tengah kira-kira 30 km dari Kota Magelang dan 15 km sebelah selatan Muntilan. Lima tahun yang silam, yaitu tepatnya tahun 2004 telah memperingati usianya yang ke 100 tahun.
Dari Yogyakarta ke Sendangsono dapat ditempuh melalui dua arah yaitu melalui jalan yang mengarah ke Borobudur atau Muntilan. Setelah memasuki arah candi Borobudur peziarah yang belum pernah ke sana bisa mengikuti petunjuk, tetapi petunjuk itu kurang lengkap ke arah Sendangsono. Oleh karena itu, setelah berada di Borobudur, candi Budha yang terkenal di terkenal di Jawa Tengah itu, peziarah bisa bertanya kepada penduduk sekitar untuk mendapat informasi mengenai jalan menuju Sendangsono.
Jalaur lain yang bisa ditempuh yaitu melalui arah barat dari Yogyakarta menuju desa Kalibawang. Meskipun tidak ada petunjuk tetapi dengan bertanya, orang akan dengan mudah menunjukkan jalan ke Kalibawang lalu ke Sendangsono karena tempat itu sudah terkenal. Bagi yang memakai kendaraan umum juga tidak kesulitan karena tersedia ojek motor yang bisa mengantar peziarah dari jalan raya ke lokasi Sendangsono.
Jalan di desa Kalibawang pas untuk satu mobil sehingga harus saling menepi jika berpapasan dengan kendaraan lain. Jalan masuk Sendangsono sudah diaspal. Sendangsono terletak beberapa kilo meter dari jalan raya. Selain jalannya sempit, di sepanjang jalan masuk lokasi Sendangsono terdapat jalan rusak sedikit tetapi mobil sedan masih bisa lewat dengan mulus.

Bagi yang berkendaraan beroda dua dan baru pertama pergi ke daerah perbukitan itu pasti mengalami kesulitan karena jalannya menanjak lalu menurun, dan juga banyak tikungan. Sementara di sebelah kanan dan kiri jalan terlihat jurang yang cukup menakutkan. Maklum, Sendangsono berada di perbukitan Menoreh. Tetapi justru di sepanjang jalan masuk Sendangsono yang begitu menantang itulah, peziarah akan menikmati keindahan alam berupa tebing-tebing dan hamparan perbukitan yang dihiasi aneka tanaman. Suatu keindahanalami yang memang layak dan pantas dipromosikan kepada publik.
Arsitektur Sendangsono
Komplek ziarah Sendangsono yang luasnya hanya sekitar 1 hektar ini memiliki dua tempat parkir yang cukup luas akan tetapi jika musim ziarah atau liburan, tempat itu bisa menjadi sangat padat. Dari depan, jalan masuk lokasi Sendangsono dari tempat parkir, di kiri dan kanan terdapat penjualan barang-barang rohani seperti patung Bunda Maria, Patung Yesus Kristus, salib, rosario, lilin, dan jerigen beserta botol berbentuk patung Bunda Maria untuk diisi air Sendangsono.
Begitu masuk lokasi Sendangsono di sebelah kanan dibangun jalan salib yang jarak satu dengan perhentian ke perhentian lain sangat dekat, hanya beberapa langkah saja. Diorama-diorama kisah sengsara Yesus Kristus berbentuk kecil dan dinaungi atap berwarna merah tua.
Di sekitar tempat tersebut dibuat semacam tempat duduk bertingkat dari batu, dengan maksud tempat ini bisa digunakan sebagai tempat duduk atau tempat untuk berlutut bagi yang berdoa di sekitarnya. Di akhir jalan salib, terdapat pelataran yang berada di tengah dan di bagian bawah terdapat keran air untuk mengambil air dari sumber air Sendangsono.
Di bagian depan sumber air terdapat gua Maria. Di depan gua Maria terdapat pohon sono besar dan sekitar 10 m sebelah kanan pohon sono terdapat pohon beringin yang tidak kalah besarnya sehingga tempat di sekitar gua Maria menjadi teduh dan memberi kenyamanan dan kesejukan bagi peziarah yang ingin memanjatkan devosinya Bunda Maria.
Di dalam lokasi Sendangsono terdapat tiga kapel yang bisa digunakan para peziarah untuk berdoa atau bagi rombongan peziarah yang membawa pastor, biasanya digunakan untuk perayaan ekaristi. Di sebelah kanan berdampingan dengan gua Maria, terdapat salah satu kapel yaitu kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal Mahakudus adalah rumah joglo. Atapnya disusun menjadi tiga lapis. Tiga lapisan atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
Kapel yang kedua adalah Kapel Para Rasul. Bangunan ini berada di sebelah utara gua. Ciri bangunan itu, tiang terdiri dari tiga pilar, atapnya disangga oleh kerangka seperti ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran yang dibuat dengan model kolosium romawi. Sesuai namanya, atap kapel ini terdiri dari 12 sudut untuk menggambarkan ke-12 rasul Yesus.Kapel yang lain adalah Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong dan ditandai dengan tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Ketiga tempat suci ini dipagari. Pagar besi itu dibuka jika akan digunakan untuk ibadat bersama atau merayakan ekaristi.
Halaman gua Maria merupakan bagian dari halaman kapel Tritunggal Mahakudus. Halaman kapel tersebut merupakan ‘pendapa’ yang berfungsi selayaknya tempat tertemuan rakyat dengan junjungannya di tempat terbuka bersuasana dialogis. Di sebelah utara pada dinding bagian pohon sono yang besar dan rindang terpasang dua batu prasasti yang bertanggal 15 Oktober 1972.
Prasasti pertama bertuliskan dua kutipan yaitu “Berkat pada manusai yang menaruh percaya pada Tuhan. Dengan Tuhan selaku harapannya. Ia bagaikan pohon di dekat air yang mempercayakan akar-akarnya pada arus sungai. Bila panas datang tidaklah ia bingung; daun-daunya tetap hijau; tak pernah ia sedih dalam tahun-tahun yang kering” (Yeremia, 17,7-8) dan “Barang siapa berbahagia hendaklah ia datang kepadakKu dan hendaklah ia minum, siapa saja yang percaya akan Daku. Sungai-sungai air hidup akan berpancaran dari batinnya” (Yohanes 7,37).
Prasasti di bawanya bertuliskan “Dipersembahkan dengan rasa syukur penuh harapan di tengah masa yang sedang bergolak oleh umat yang percaya pada rahmat Roh Kudus, keibuan Meriam yang telah mengandung benih sabda Bapa dan melahirkan penyelamat kita, Yesus Kristus.”
Selain kedua prasasti itu, dekat jembatan masuk menuju pelataran Sendangsono terdapat sebuah prasasti dengan tulisan: “Ikatan Arsitek Indonesia menganugerahkan IAI AWARD 1991: Penghargaan Karya Arsitektur Terbaik 1991 kepada Bangunan Ini untuk Kategori Bangunan Khusus Usaha Penataan Lingkungan”.
Di sebelah kanan atas Kapel Bunda Maria Segala bangsa, terdapat sebuah gapura besar menuju pemakaman yang bertuliskan “Makam Lingkungan Semanggung.” Makam itu adalah makam umat Katolik penduduk sekitar Sendangsono. Di sebelah kanan depan gapura itu, langsung terlihat pemakaman dari dua katekis pertama Kalibawang yaitu Barnabas Sarikromo dan Adrianus Sarikromo.
Makam kedua katekis peratama itu kelihatan mencolok dari semua makam di lokasi pemakaman itu karena dibuat lebih tinggi dan agak istimewa dari makam yang lain. Diatas makam yang dibagun menjadi satu bangunan, dipasang satu patung setengah badan berpakaian adat Jawa sebagai suatu penghormatan kepada kedua pewaris iman Khatolik itu. Di antara kedua makam itu, pada bagian kaki yang menghadap ke arah gapura masuk, terpasang sebuah prasasti besar dengan tulisan, “Makam
rnabas Sarikromo.Wafat 15-7-1945. Adrianus Sarikromo. Wafata 6-5-1966. Katekis Pertama di Kalibawang.” Di dekat gapura pemakaman dan depan kapel Bunda Maria Segala Bangsa, juga berdiri tegak Salib Milenium besar berukuran kira-kira 2 meter yang dipasang pada tahun 2000.
Di antara kapel Tri Tunggal dan Kapel Bunda Maria Segala Bangsa terpasang pahatan peristiwa pembabtisan pertama 171 umat Sendangsono. Menurut Aloyisius Agus Suparto (78), pemilik kios yang paling banyak dikunjungi peziarah mengatakan bahwa 171 orang itu dibabtis oleh Romo Van Lith, SJ pada tanggal 14 Desember 1904. “Romo Van Lith adalah salah satu dari dua pastor yang memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang Jawa di Kalibawang ini.” bapak yang tak hentinya mengakui bahwa ia diberkati Bunda Maria di tempat itu menjelaskan.
Antara pelataran gua Maria dan pelataran jalan salib dihubungkan dengan sebuah jembatan berukutan kira-kira 4 meter. Di sebelah kiri dan kanan jembatan dipasang besi bercat merah sebagai pagar sehingga peziarah merasa nyama melewatinya. Di bawa jembatan itu terdapat sekitar 50-an keran air yang dipasang berjejer di sepanjang tembok aliran air lokasi Sendangsono. Untuk mengambil air, dibuatkan trap-trap berupa anak tangga sehingga peziarah tidak kesulitan mengambil air. Pada keran-keran air itulah para peziarah mengisi batol dan jerigen mereka untuk didoakan di depan patung Bunda Maria dan akan dibawa pulang kerumah mereka. Air itu diyakini sebagai air suci. Air dari suci Sendangsono. Pada jembatan yang dibuat dengan memperhatikan daya seninya, peziarah bisa lewat dari situ menuju ke tempat parkir kendaraan bagaian depan.

Patung Bunda Maria
Patung Bunda Maria pada gua yang tersusun dari batu-batu karang itu, tingginya 1,8 cm dan beratnya 300 kilogram. “Patung Bunda Maria di Sendangsono itu didatangkan dari Denmark melalui Semarang, lalu digotong ke Slanden melalui Sentolo, lalu menuju Sendangsono pada tahun 1929 oleh umat Katolih Kalibawang. “Sendangsono dipilih sebagai tempat untuk membangun gua Maria sebagai peringatan kepada peristiwa pembabtisan ke-171 orang di sumber sendang dekat dua pohon sono pada 14 Desember 1904 yang silam oleh Romo Van Lith, SJ.” kata bapak yang dihormati di lingkungan Sendangsono sebagai sesepuh.
Aloysius Agus Suparto yang menuturkan kisah di atas mengaku mengumpulkan berbagai keterangan dari Antonius Sokariyo (katekis awal) Marianus Somokariyo (pamong lingkungan), Plasidus Tanurejo (katekis angkatan kedua), ayahnya, Agustinus Partodikromo, dan para sesepuh di dusun Semanggung, Sendangsono.

Sejarah Sendangsono
Sendangsono adalah nama tempat mempunyai sajarah. Awalnya, sebutan Sendangsono tidak untuk menyebut suatu nama tempat. Sendangsono merupakan sebutan untuk sumber air yang berada di bawah pohon Sono. Istilah Sendangsono merupakan gabungan dua kata, ”Sendang” dan ”Sono”. Sendang merupakan istilah Jawa untuk menyebut sumber air. Sono adalah nama sebuah pohon (baca: angsana). Oleh karena itu, Sendangsono merupakan sebutan untuk mata air yang berada di bawah pohon sono.
Dulu, sebelum nama Sendangsono dikenal, orang sering menyebut sumber air itu dengan sumber Semagung. Dalam perkembangannya, orang mengenal dengan nama Sendangsono.
Sendangsono sebagai tempat ziarah merupakan peristiwa lahirnya Gereja atau umat Katolik di sekitar Kalibawang.
Proses terbentuknya tempat ziarah ini berkaitan erat dengan perkembangan umat Katolik di sekitar Kalibawang. Perkembangan umat Katolik yang pesat mendorong lahir dan berkembangnya Sendangsono.Sebelum menjadi tempat ziarah yang berciri katolik, sumber air di bawah pohon Sono dikenal sebagai tempat keramat. Konon, di tempat itu digunakan untuk semedi. Masyarakat sekitar yakin ada roh-roh yang berdiam di tempat itu.
Menurut legenda, bila roh-roh terganggu, mereka akan mencelakai. Konon pula, di pohon Sono itu berdiam seorang ibu yang bernama Dewi Lantamsari dan anak tunggalnya Den Baguse Samijo. Dua makhluk itu menjadi ”penguasa” daerah itu. Menurut dongeng kuna juga, sumber air Semagung juga digunakan sebagai tempat istirahat para bikshu yang mengadakan perjalanan dari Borobudur ke Boro atau sebaliknya.
Dulu Boro dikenal sebagai tempat biara para bikshu meskipun sekarang ini sudah tidak ada bekasnya. Memang bila dilihat dari jaraknya, sumber Semagung ini berada di tengah-tengah antara Borobudur dan Boro. Pada tanggal 14 Desember 1904, sumber air Semagung dipilih sebagai tempat untuk membaptis. Ketika orang-orang sekitar Semagung masuk agama Katolik, sumber air Semagung dan digunakan digunakan untuk membaptis mereka. Oleh karena itu, sumber air Semagung tidak lagi diperlakukan sebagai tempat tinggal roh-roh tetapi digunakan sebagai tempat berjumpa dengan Tuhan.
Peristiwa baptisan itu menjadi awal mula lahirnya umat Katolik yang berciri Jawa. Dan Sendangsono menjadi monumen sejarah berdirinya umat Katolik di sekitar Kalibawang. Maka Sendangsono lahir karena umat Katolik lahir dan berkembang di sana.
Tanah Milik Tuhan
Berkisah mengenai latar belakang dan asal mula Sendangsono, areal itu awalnya tanah milik penduduk setempat. Pak Luis berkisah, “Dulu areal tanah yang sekarang ditempati Bunda Maria adalah tanah milik Abraham Dipodongso. Tanah itu diwariskan kepada anaknya, Yoakim Ronojoyo, dan diwariskan lagi kepada anaknya, Agustinus Partodikromo, ayah saya.” Kisahnya lagi, “Pada waktu itu tempat itu masih hutan/semak dengan dua pohon sono yang besar dan dua pohon beringin yang rindang. Tempat itu dianggap angker oleh penduduk sekitar.”

bunda

Aloysius Agus Suparto menuturkan bahwa pada saat itu ayahnya, Agustinus Partodikromo ditemui Barnabas Sarikromo dan Antonius Sokariyo, katekis-katekis awal dari daerah itu bermusyawarah. Kedua katekis itu mengharapkan sebagian tanah milik ayahnya untuk tempat ziarah. Bapak yang ramah itu menjelaskan, “Awalnya ayah saya tidak setuju, tetapi setelah direnungkan dan meminta pertimbangan dari keluarga, akhirnya ayah merelekan sebagian tanahnya seluas lebih kurang 300 m². Ayah berpendapat bahwa “Segala sesuatu yang ia miliki adalah milik Tuhan. Jadi tanah ini milik Tuhan, ia hanya mengolahnya.”

Setelah disetujui, kedua katekis itu mengumpulkan umat Katolik dan merencanakan tempat itu untuk mendirikan gua Maria. Pembangunan itu melibatkan seluruh umat Katolik. Mereka bergotong royong mencari bahan material.
Setelah ayah Pak Luis, Agustinus Partodikromo meninggal, untuk perluasan lokasi tempat ziarah gua Maria Sendangsono, pada tahun 1970, sepupu Pak Luis, Bruder Tirto Sumarto, SJ menawarkan untuk membeli tanah warisannya. Pak Luis menjelaskan bahwa saat itu ia menjawab “Saya tidak mau jual. Tanah ini tanah warisan, tetapi jika ini untuk Bunda Maria, saya relakan. Saya tidak mau berhitung dengan Bunda Maria. Saya tidak mau pelit karena bapak saya juga dulu tidak pelit.”
Pak Luis secara jujur mengatakan bahwa dengan memberikan tanah leluhurnya untuk dipakai Bunda Maria adalah hal yang jauh lebih berharga dan bernilai daripada uang sebesar dan sebanyak apapun “Saya sangat bersyukur karena Tuhan memakai tanah kami sebagai RumahNya.” Pak Luis bertutur dengan nada iklas. Ia menambahkan bahwa saat mati ia tidak akan membawa tanah atau uang. Ia menagatakn bahwa Tuhan berkenan menggunakan tanah keluarga mereka, sudah merupakan berkah sangat besar bagi kehidupan keluarga besarnya.
Melalui berkat Bunda Maria di temapt itu, Pak Luis dapat menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi dan sekarang sudah mendapat pekerjaan semua. “Itulah berkata yang saya dapat dari Bunda Maria.” Ia mengatakan bahwa dengan memberi dari hati yang tukus kepada Tuhan, Tuhan juga akan memberi yang terbaik kepadanya bahkan pemberiaanNya berlipat ganda.

Berkat Bunda
Atas berkat dan rahmat dari Bunda Maria, Aloyisius Agus Suparto memulai usahanya di Sendangsono sejak 21 tahun yang silam. Singkat cerita, di sebelah kiri gua Maria, terdapat kios milik Aloyisius Agus Suparto, yang akrap dipanggil Pak Luis oleh penduduk sekitar. Kios tersebut ramai dikunjungi para peziarah. Tidak mengherankan karena di tempat yang strategis, tepat di sebelah kiri gua Maria, hanya dibatasi oleh tembok. Kios yang sudah layak disebut tokoh itu lengkap dengan berbagai makanan ringan, berbagai suvenir benda-benda rohani dari harga yang paling murah sampai paling mahal seperti satu rangkaian rosario bisa mencapai harga Rp. 350.000-Rp. 500.000.
Menurut Ani (25) penjaga kios, “Barang-barang rohani itu mahal karena merupakan barang impor dari Roma-Itali.” Dan kelihatannya, hanya menyebutkan asal barang itu, peziarah tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk mendapatkan satu barang kecil. “Walaupun mahal, saya senang mendapat barang buatan Itali karena tanpa harus pergi ke Itali.” ungkap Tari (32), peziarah dari Jakarta yang baru membeli satu rangkaian Rosario yang bagus made in Roma-Itali dengan harga 450 ribu rupih, di kios Pak Luis pada Minggu, (10/5).
Selain kios, bapak yang tidak mau kiosnya disebut toko ini memiliki warung makan yang banyak dikunjungi peziarah, masih satu atap dengan kios. “Pengunjung warung makan kami sekitar 50-60 tiap hari tetapi jika pada hari Minggu atau bulan Maria (Mei dan Oktober), pengunjung mencapai 300-400 orang per hari. Bahkan kami pernah kewalahan karena kehabisan bahan makanan, seperti sayur-mayur karena belum belanja” ungkap bapak yang memiliki tiga anak dan enam cucu.
Di depan kios dan warung makan terdapat ruangan serbaguna dengan daya tampung 100 orang yang merupakan lantai dua dari sepuluh kamar toilet yang selalu bersih dan siap dipakai oleh peziarah. Di sebelah ruang serbaguna dan toilet terdapat sebuah rumah berlantai dua yang siap dipakai oleh peziarah yang ingin menginap. Dalam rumah itu terdapat empat kamar, setiap kamar terdapat dua tempat tidur berukuran tempat tidur keluarga. Tempat tidur yang satu setinggi lutut dan yang lain lebih pendek sehingga jika tidak dipakai bisa digeser masuk ke kolong tempat tidur yang lebih tinggi.
Tepat di bagian belakang ruang serbaguna dan toilet terdapat dua kolam ikan besar yang menurut Pak Luis, hasil dari kolam ikan itu biasanya tidak diperdagangkan tetapi dibagi-bagi kepada tetangga sebagai rasa ungkapan syukur atas berkat Bunda Maria yang melimpah bagi keluarganya.Di lokasi tanah warisan yang berukuran 300 m², selain terisi penuh oleh bangunan, di antara bagunan itu di tata sedemikian rupa sehingga memancarkan nilai seni tersendiri. “Ini adalah hasil kerja dari anak bungsu saya yang berprofesi sebagai arsitek” ungkap Pak Luis. Ungkapnya lagi, “Segala sesuatu yang saya dan keluarga saya miliki adalah semata-mata berkat dari Bunda Maria. Pujian dan hormatku untuk Bunda tak henti-hentinya. Dia adalah Ibu yang tahu kebutuhan anaknya.”

Peziarah
Di depan patung Bunda Maria, setiap hari banyak peziarah yang khusyuk berdoa dan terdapat banyak lilin pezirah yang sedang menyala dan banyak bunga indah untuk dipersembahkan di depan patung Bunda Maria. Selain itu, diletakan juga jerigen-jerigen dan botol yang berbentuk seperti patung Bunda Maria berisi air yang diambil dari keran (sendang), dengan maksud air itu disucikan dengan berdoa.
Dalam keadaan khusyuk seperti itu, terlihat seorang nenek berambut putih, jalannya tidak tegak lagi (kira-kira berumur 80-an) mengorek-mengorek tumpukan sisa-sisa lelehan lilin yang banyak sekali. Bapak yang hanya mengakhiri pendidikannya di tingkat SMP ini menjelaskan bahwa sisa-sisa lilin yang dikumpulkan itu akan dibawa pulang ke rumahnya untuk didaur ulang. “Nenek itu adalah penduduk lokal yang diberi ijin khusus untuk mengumpulkan sisa-sisa lilin untuk didaur ulang menjadi lilin yang siap pakai.” ujarnya.
Tempat ini ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia pada bulan Mei dan bulan Oktober, bulan Maria gabi umat Katolik. Selain berdoa, pada umumnya para peziarah mengambil air dari sumber air Sendangsono. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat menyembuhkan segala macam penyakit.