Arsip untuk ‘Fiktif’ Kategori

Sastra Lama

April 30, 2009

P u i s i L a m a

1. Macam-macam puisi lama.
a. Pantun
Pantun yaitu salah satu bentuk puisi lama Melayu yang di dalamnya tersirat kehalusan budi dan ketajaman pikiran.
Ciri-ciri;
1) Setiap baris pantun dapat berdiri sendiri.
2) Bersajak ab-ab
3) Bersifat lirik: mengungkapkan perasaan.
4) Tediri atas sampiran dan isi.
5) Dua baris pertama: sampiran, dua baris terakhir:isi.
6) Terdiri ndari 4 baris, tiap baris terdiri dari 4 kata, 9-12 suku kata.
7) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
b. Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, jumlah barisnya lebih dari empat.
Ciri-ciri:
1) Merupakan jenis puisi bebas.
2) Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk mmenjelaskan pemerian.
3) Tidak ada pembayang, setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita.
4) Terdiri dari 6-20 baris.
c. Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde. Mantra
Mantra adalah puisi yang memiliki aspek ritual, diucapkan pada kesempatan tertentu dengan cara-cara tertentu dan ditujukan pada makhluk gaib.
Ciri-ciri:
1) Bersifat lisan, sakti atau magis
2) Adanya perulangan
3) Metafora merupakan unsur penting
4) Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
5) Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.
d. Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk cerita yang mementingkan irama sajak.
Ciri-ciri:
1) Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
2) Bersajak aa-aa, aa-bb
3) Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
4) Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
5) Semua baris diawali huruf capital.
6) Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
7) Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
e. Karmina
Karmina adalah pantun dua seuntai (pantun kilat)yang terdiri dari dua baris, baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi.
Ciri-ciri:
1) Memiliki rumus rima a-a
2) Isi biasanya berupa sindiran.
f. Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisi kisah, cerita, dongeng atau sejarah. Biasanya mengisahkan tentang kehebatan atau kepahlawanan seseorang.

2. Tokoh pembeharu dalam puisi Indonesia dan kebaharuannya.

a. Rustam Effendi
1) Tidak mengikuti pola penulisan pantun atau syair melainkan menggunakan pola penyusunan kalimat.
2) Tiap bait terdiri dari 4 baris, tiap baris terdiri 4 kata, 9-10 suku kata, terbagi oleh jeda dalam dua bagian elahan napas.
3) Cara menyusun larik-lariknya khas: larik 1 dan 3 menjorok kedalam.
4) Tiap bait: 4 larik bersajak ab-ab, mengiatkan kita pada pantun tetapi tak terbagi sampiran dan isi.
5) Menggunakan persajakkan akhir dan persajakan dalam.
6) Lima bait merupakan kesatuan, mengiatkan kita akan syair.
7) Penggunaan tipografi dan enjembement
8) Puisi-puisinya bersifat tulisan bikan lisan.
9) Mencari kesamaan bunyi dalam sebuah baris.
10) Menggunakan konsep licentia poetica (kebebasan penyair).
11) Memperhatikan purwakanti dalam dan akhir.
12) Menjaga penggunaan tanda baca.

b. Chairil Anwar
1) Bahasa yang digunakan terlepas dari cirri-ciri bahasa Indonesia lama yang didominasi bahasa Melayu.
2) Puisi Chairil Anwar lebih mementingkan isi daripada bentuk.
3) Bahasa Indonesia bukan lagi alat menyampaikan perasaan-perasaan yang sangsai dan romantis, tetapi telah mencapai alat pengucapan sastra yang dewasa.
4) Chairil Anwar menciptakan bahasa yang lebig demokratis. Ia tidak lagi menyatakan dirinya dengan kata “beta” tetapi menyebut dirinya dengan kata “aku”.
5) Ungkapan-ungkapannya pendek (tidak panjang).

c. Muhammad Yamin
1) Bentuk puisinya bukan pantun bukan syair maupun gurindam.
2) Baitnya terdiri dari 9 baris.
3) Lebih dekat dengan syair tapi lirik sifatnya.
4) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
5) Berusaha mempromosikan penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.
6) Bersifat lirikdia menulis sajak 9 seuntai( Tanah Air), lalu sajak-sajaknya kemudian berbentuk soneta.

d. Amir Hamzah :
Bentuk kebaharuannya dalam puisi Indonesia:
1. Meninggalkan bentuk tradisional tetapi masih memanfaatkan bentuk-bentuk syair dan pantun
2. Amir,melepaskan bentuk syair yang monoton dan memberi bentuk puisinya sesuai dengan jiwanya. Memberi gaya baru bagi bahasa Indonesia ,kalimat-kalimat yang padat dalam seruannya,tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir,bisa dikataka destructive terhadap bahasa lama tetapi merupakan sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru ( HB Jassin,1986)
3. Puisi Buah Rindu,memakai perlambangan bunga,dipengaruhi oleh kesusastraan sansekerta (fungsi simbolik) telah diubah secara sistimatis dalam artian telah meninggalkan kesan kesusastraan Jawa Purba.
4. Bahasa yang dipakai banyak memakai kata-kata yang arkhais (tidak hidup)
5. Puisinya banyak menggunakan kosa kata lama yang diambilnya dari khasanah bahasa Melayu,Kawi,Sunda,Jawa.
6. Isi sajak Amir Hamzah kebanyakan bernada kerinduan,penuh ratap kesedihan,rasa sunyi dan pasrah diri tapi ia juga menekankan pada rasional. Perumpamaan dan lambang yang diciptakan untuk memperhidup ungkapan sangat bagus dan khas.
7. Memakai kiasan dan pengertian dari sastra mistik
8. Puisi Amir dipengaruhi oleh sejarah dan agama islam. Seperti puisinya yang berjudul “ PadaMu jua.” Yang dimaksud Mu disini adalah Tuhan,sehingga puisi-puisinya dianggap puisi Religius.
9. Puisi Amir Hamzah mendapat pengaruh dari para Sufi dan Parsi.

Secara lebih lengkap jenis-jenis rima diuraika sebagai berikut:

e. Berdasarkan jenisnya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima sempurna.
Yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir
contoh:
Purnama raya,
Bulan bercahaya.
Amat cuaca,
Ke mayapada.

2) Rima tak sempurna.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
contoh:

Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

3) Rima mutlak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

4) Rima terbuka.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
contoh:
Purnama raya,
bulan bercahaya.
Amat cuaca,
ke mayapada.

5) Rima tertutup.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

6) Rima aliterasi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
contoh:
Susah sungguh saya sampaikan,
degup degupan didlam kalbu,

7) Rima asonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

8) Rima disonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

f. Berdasarka letaknya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima awal.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
Contoh:
Rajah kalacakra

Ya maraja jaramaya
Ya marani niraman
Ya silapa palasiya
Ya midosa rodomiya
Ya midosa sadomiya
Ya dayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya

2) Rima tengah.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
contoh:

Bunda dan Anak

Masak jambak
buah sebuah
Diperam alam diujung dahan
Merah darah
beruris uris
Bendera masak bagi selera

3) Rima akhir.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
contoh:
syair

inilah taman orang bahari,
pungguk wahai jangan tuan kemari,
bukannya tidak kakandan beri,
jikalau tuan digoda peri,

4) Rima tegak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertical.
Contoh:

Purnama raya
Bulan bercahaya
Amat cuaca
Ke mayapada

5) Rima datar.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horizontal
Contoh:
Anak lakak
Tersera sera
Bunda berlari mengambil jambu
Ibu sugu
Buah sebuah

6) Rima sejajar.
yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
Contoh:
Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

7) Rima berpeluk.
yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
Contoh:
Betapa Kami

Betapa sari
Tidakkah kembang
Melihat terang
Si matahari

3. Gaya atau ekspresi.

1) Tataran grafologis.
a. Tanda kutip.
Contoh: “ Persetan beslit! Persetan kegubernuran! Persetan masa depan yang baik! Persetan patungnya nanti di museum nasional! Persetan! Persetan!!”

b. Tanda kapital.
Contoh: “Di atas meja didapati sepotong kertas tulisan almarhum: DEMI KELENGKAPAN DAN KESEMPURNAAN.”

2) Tipografi tataran wajah.
Contoh:
Tragedy Winka dan Shika

Kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
….

3) Tataran fonologis.
a. Aliterasi
Contoh:

kerdil dekil
Takut tulisan titik lalu tumpah
Keras-keras kerak kena air lembut juga
D e b a t-d e b i t; bolak-balik:
Sering saya susah sesaat
Sebab madahan tida na, dating.
Sering saya sulit menekat.

b. Asonansi.
Contoh: Ini muka penuh luka siapa punya.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu

4) Tataran Sintaksis
a. Repetisi.
Contoh: Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal (Selamat Tinggal, Chairil Anwar)
b. Asindenton dan Paralelisme.
Contoh: Sinar mata mereka, warna wajah mereka, nada-nada suara mereka, arti tiap kata yang mereka ucapan, telah berubah semua.

5) Tataran Semantik.
a. Makna denotatif.
1. Paradok.
Contoh; ” Tiba-tiba saja muncul dalam dirinya untuk mencoba mencari kenikmatan dalam penyiksaan”
2. Antiklimaks.
Contoh: “ Kini dia memacu menuju warna merah yang sangat tua, melalui taraf-taraf hijau tua, jingga merah tua, merah sangat tua.”
b. Makna konotatif.
1. Majas perbandingan.
• Majas perumpamaan.
Contoh: Ujung lidahnya laksana ikan hiu menyambar buntal tadi sekali lagi.
Seputih dan sebersih wajahnya yang tampah gembira.
Tiba-tiba bagaikan gunung berapi yang meletus, wali kota tertawa terbahak-bahak.
• Majas metafora.
Contoh: Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan bertapa
Ke rawa-rawa mesum ini.
Masa lampaunya adalah gumpalan hitam
Di dalam sakunya lah justru terletak kunci kehidupan.
• Majas personifikasi.
Contoh:

Tiupan terompet yang merengekkan lagu kepahlawanan
Senja yang telah tua sekali
Alam semesta dimakinya habis-habisan

• Majas aligori.
Contoh:
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

2. Majas pertentangan.
• Majas hiperbola.
Contoh:
Amarahnya tumpah mualnya luber sudah

• Majas litotes.
Contoh:
Pengapur sebenarnya menginginkan tiaadanya dia sang opseter itu

3. Majas pertautan.
• Majas sinekdok.
 Majas pars prototo.
Contoh:
Pembicaraan empat mata

 Mjas totem proparte.
Contoh:
Negri itu sedang berduka
.
• Majas euvimisme.
Contoh:
Wakil wali kota yang berintelegensi sederhan itu

6. Analisis puisi! Unsur baru dan unsur tradisionalnya:
BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Rustam Efendi

Bukan beta/bijak berperi,
pandai menggubah/madahan syair,
Bukan beta/budak negeri,
musti menurut/undangan mair.

Sarat saraf/saya mungkiri,
untai rangkaian/seloka lama;
Beta buang/beta singkiri,
sebab laguku/menurut sukma.

Susah sungguh/saya sampaikan,
degup-degupan/di dalam kalbu;
Lemah laun/lagu dengungan,
matnya digamat, rasain waktu.

Sering saya/susah sesa’at
sebab madahan/tida na’datang;
Sering saya/sulit menekat,
sebab terkurang/lukisan mamang.

Bukan beta/bijak berlagu,
dapat melemah/bingkaian pantun;
Bukan beta/terbuat baru,
hanya mendengar/bisikan alun.

a. Unsur lamanya, yaitu:
1) Bersajak ab ab.
2) Baris kedua diakhiri tanda ( ; ).
3) Tiap bait terdiri dari 4 baris.
4) Setiap baris terdiri dari 4 kata, 9-19 suku kata.
5) Menggunakan bahasa Melayu lama.
6) Terdapat perulangan kata.
7) Setiap baris merupakan isi dari keseluruhan.
8) Bersifat lirik

b. Unsur barunya, yaitu:
1) Baris partama dan ketiga menjorok kedalam.
2) Baris pertama dan ketiga diakhiri tanda koma ( , ).
3) Terdiri dari dua elahan nafas
4) Baris ke-1 dan ke-3 diawali dengan huruf kapital dan diakhiri tanda koma
5) Tiap bait tidak terbagi atas sampiran dan isi
6) Terdapat perulangan bunyi
7) Kelima baitnya merupakan satu kesatuan

Pesta 200 tahun

Oktober 31, 2008

Rumah Mini

(Samirono Baru, Yogyakarta)

Di tengah kota Yogyakarta tegak sebuah rumah mini. Penghuni berasal dari aneka ragam daerah, bahkan bangsa. Persaudaran dan saling penghargaan menempati tempat tertinggi. Yang tua menjadi model bagi yang muda. Ketaatan, kedisiplinan, dan bekerja bukanlah masalah. Masing-masing orang berusaha merebut baginya mahkota keutamaan cinta kasih. Sr. Aquelina da Costa, sebagai pemimpin komunitas (piko) merasa nyaman karena semua anggota mengarahkan diri pada keutaman yang telah dipatokan. Pembicaraan mereka selalu mengacu pada para pendahulunya, khususnya St. Magdalena pendiri mereka.

Sapaan dan tebar posona ketika pulang kuliah, mempersiapkan doa pagi dan sore dengan intensi-intensi, cake ulang tahun menjadi suatu kebisaan bagi yang berulang tahun. Saling menghargai dan mempergunakan milik bersama secara bertanggung jawab mendapat perhatian serius. Tampaknya mereka saling peduli satu sama lain. ”Ini adalah warisa dari pendiri kita St. Magdalena, yang harus dipelihara, tidak boleh kita sepelekan”, kata Sr. Isabel Xaviar sebagai wakil pimpinan komunitas (wapiko), dan sekaligus mengemban tugas perutusan sebagai pembimbing postulan.

Hari itu 8 Mei 2008. Hari raya 200 tahun berdirinya konggregasi Putri Putri Cinta Kasih Kanossian, demikian nama sepuluh suster penghuni rumah mini bersama lima postulan yang bermukim di Samirono baru, Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua penghuni rumah mini ini sejak setahunn yang lalu telah melakukan berbagai aktivitas untuk menyambut hari raya itu. Berdasarkan keputusan pimpinan umum (Madre general), tahun 2007 dinyatakan seabgai tahun Mariana. Semua penghuni rumah mini juga tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Berbagai doa dan devosi kepada Bunda Maria telah dilaksanakan, bahkan patung Bunda Maria edaran dalam delegat Indonesia, setelah tiga bulan berada di komunitas Bintaro, Jakarta, juga menetap bersama seisi rumah mini ini selama tiga bulan, sebelum beranjak ke komunitas Kianyar, Bali.

Sejak Februari 2008, pertemuan pembentukan panitia persiapan perayaan 200 tahun berdirinya kongregasi pun digelar. Semua pihak dalam lingkungan Kristoforus Samirono dilipatkan sebagai panitia berlangsungnnya acara tersebut, selain calon awam Kanossa yang sebagian besar berasal dari Bantul, Yogyakarta, dengan Ibu Yuliana Woda (mantan calon suster Kanossian) sebagai promotornya. Jika ditanya mengenai dana persiapan pesta ini; sebenarnya kantong ’rumah mini’ ini nihil, tetapi dengan bantuan ’Yang Kuasa’, semua rencana dan kegiatan yang dirancang panitia dapat berjalan dengan baik.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menyambut hari raya itu: rekoleksi mahasiswa dalam rangka menyambut hari raya Paskah dengan mamire (makan, minum, rekoleksi) gratis. Kegiatan sisoal lain yang dilakukan yaitu kunjungan dan pemberian bantuan sosial kepada anak-anak cacat di wisma Alma Berbah-Sleman,Yogytakarta; bersama umat lingkungan Kristoforus Samirono, Yogyakarta.

Untuk liturgi perayaan Ekaristi 200 tahun konggegasi Kanossian, panitia memilih koor gabungan mudika Paroki Yohanes Rasul Pringwulung dan anggota karawitan (alat musik Jawa) lingkungan Kristoforus Samirono yang bakal memeriahkan pesta syukuran itu . Selain penari, putra-putri altar, pembawa persembahan, lektor, doa umat, penyanyi tunggal pengisi acara pun dipilih dan dipersiapkan secara khusus. Merasa belum lengkap, Aleks, calon awam Kanossa dari Bantul menyediakan diri untuk membuat visualisasi sehubungan dengan ke-5 karya yang diwariskan St. Magdalena, yang akan ditampilkan dalam perayaan Ekaristi. Karena merasa waktu semakin mendekat, latihan pun dimulai. Koor dan karawitan tak pernah absen dengan waktu yang disepakati bersama. Sama halnya dengan latihan visualisasi yang melibatkan sebagian calon awam Kanossa, beberapa suster, semua postulan, dan beberapa mahasiswa.

Untukk konsumsi, panitia bersepakat menyediakan makanan siap saji dalam bentuk kotak berupa dua macam B2 (babi) dan ayam, dilengkapi sayuran, buah-buahan, dan minuman secukupnya yang berjumlah 700 kotak sesuai undangan yang keluar. Sepuluh hari menjelang pesta, undanganpun disebar. Semua kominitas religius di kota Yogyakarta sedikitnya 200-an kominitas diutamakan, selain sahabat dan kenalan dekat suster-suster penghuni rumah mini itu.

Acara puncak tiba. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignasius Suharyo, Pr dimilai pukul 17.00 waktu setempat dan bertempat di Paroki St. Yohanes Rasul Pringwulung. Lagu pembukaan dengan iringan karawitan mengiringi Mgr. Ignasius Suharyo sebagai konselebran utama, para imam (8 orang), para suster, dan postulan memasuki gereja. Demikian perayaan Ekaristi dimulai. Seusai kata pembukaan, tanpa dipandu karena telah tertera dalam buku panduan misa, uskup Semarang dan para konselebran serta semua umat langsung menempati tempat duduk masing-masing dan siap menyaksikan visualisasi yang akan segera ditampilkan.

”Inspice Et Fax Secundum Exepmlar.”, demikian terdengar lantang dan jelas dari mulut Sr. Yohana Yonesta Letek Tokan di belakang layar. Dengan alunan musik insrtumental, Sr. Filomena Dorotea Seran yang berperan sebagai madona dari Kanossa (Magdalena), mulai tampil dari sebelah kiri altar dan langsung disambar oleh kamera. Setelah beberapa langkah di depan altar dengan gaya merenung, lagu ’I will Came to You’ pun dilantunkan oleh Sr. Adriana Meko Nabu dengan suara emasnya dari belakang layar juga sehingga mengundang para hadirin melongokan kepala ke berbagai arah mencari sumber suara itu. Sementara, Sr. Maria Goreti Safe, Sr. Maria Magdalena Eno, Sr. Gabriela (diperankan oleh Erna, calon awan Kanossa) yang masing-masing berperan sebagai perawat, katekis, dan guru, tampil dan langsung berlutut di depan Sr. Filomena (Magdaelana). Menyusul yang lain, yang berperan sebagai orang sakit, pelajar, dan orang yang haus akan Firman Tuhan, langsung duduk berkelompok (tiga kelompok). Setelah mendapat perutusan dari Magdalena, ketiga suster pergi, dan menjalankan misi mereka sesuai tugasnya, sebagai perawat, guru, dan ketekis. Lalu visualisasi ini ditutup dengan lagu ”Magdalena Masih Mengajak Kita” yang dilantunkan sebelum memberi hormat dan kembali ketempat duduk masing-masing. Misa dilanjutkan seperti biasa. Dalam kotbahnya, selain ”proficiat” kepada suster-suster penghuni rumah mini Samirono Baru yang merayakan pesta syukuran 200 tahun, Suharyo mengutip frase ”Inspice Et Fax Secundum Exepmlar” dari tema perayaan Ekaristi, yang akan dijabarkan dalam korbahnya. Selain itu, Bapak Uskup mengatakan ”Para suster tidak memiliki karya di Keuskupan Agung Semarang,tetapi yang diharapkan, supaya keberadaan para suster dapat menjadi saksi kasih Kristus kepada sesama.”

Misa dilanjutkan seperti biasa dengan iringan karawitan dan lagu meriah dari koor gabungan mudika paroki. Setelah berkat penutup, sebelum Uskup Agung Semarang, Ignasius Suharyo bersama para imam menuruni tangga altar, lagu penutup bahasa Itali pun dikidungkan; diawali oleh solis duet putri, dan supaya ada variasi, ayat ke-2 diduetkan oleh kaum hawa dengan dua suara (supran dan tenor) demikian ayat yang lain dinyanyIkan secara berganti. Bapak uskup dan para imam juga tidak rela meninggalkan gereja sampai lagu ”Sui Pasi Magdelana” dinyanyikan. Semua hadirin berdiri melongo menyimak lagu Itali yang dinyanyikan oleh orang berdialek (medok) Jawa dengan intonasi jelas, bagaikan penanyi Itali, Andrea Bocelli. Seusai lagu dinyanyiakan, sebelum dirigen menurunkan tangan, langsung disambar dengan tepuk tangan meriah .

Setelah perayan Ekaristi, dilanjutkan dengan acara rama-tama yang bertempat di tempat parkir gereja, yang oleh seksi dekorasi telah ditata sedemikian rupa sehingga setiap orang yang memandangnya mengangguk-anggukan kepala mengaguminya. Suara penyanyi tunggal juga terdengar menggema ketika para tamu, sedikitnya 600 orang dan kebanyakan religius menuruni tangga gereja memasuki ruang acara itu. Sambutan dan ucapan terima kasih dari Sr. Aquelina da Costa selaku piko kepada para undangan setelah dua penari mempertunjukan tari Bali sekaligus membuka acara itu. Acara berikutnya, sambutan dari pastor paroki Pringwulung, Romo Beni Bambang, Pr. Dalam kesempatan ini, selaku pastor paroki, Romo Beni sapaan akrapnya, mengucapkan terima kasih atas kehadiran para suster penghuni rumah mini di paroki Pringwulung, karena walaupun tak ada karya di paroki, suster Kanossian tidak tinggal diam dan studi, tetapi karya kecil lain juga dijalankan seperti mengunjungi orang sakit. ”Oleh karena itu, jika ingin dikunjungi oleh suster Kanossian, sakitlah” kata Romo Beni yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan para undangan yang hadir. Selepas sambutan acara dilanjutkan dengan mami (makan dan mimun) sambil mengikuti beberapa pengisian acara yang telah disiapkan.

Dengan berjalannya waktu, pekik malam semakin terasa di kulit. Tanpa sadar, jam didnding yang bergantung di aula paroki telah menunujukan pukul 22.00 malam. Para undangan berpamit dan kembali. Semua kegiatan pun diakhiri. Tempat parkir paroki menjadi sepi setelah berpoco-poco ria bersama para suster dari beberapa konggregasi, para tunas Xaverian, dan mahasiswa Timor-Timur yang hadir. Pesta perayaan 200 tahun berdirinya konggregasi Putri-Puti Cinta Kasih Kanossian penghuni rumah mini Samirono, Yogyakarta telah selesai. Suster-suster penghuni rumah mini pun kembali kerumahnya dan memulai aktivitasnya sebagaimana biasanya. Good bye pesta 200 tahun konggregasi, penghuni rumah mini ini akan merayakan pesta 201 tahun pada tahun yang akan datang.

Thanks………

Sr. Maria Goreti Safe, FdCC.

(penghuni rumah mini)

Cerpen

September 12, 2008

Tembang yang Tertunda

Valerina adalah seorang wanita karier yang tak pernah menelantarkan Ary suaminya dan kedua anaknya Kezia dan Revo. Dua puluh tahun menikah, sebagai istri, ia tidak pernah mengecewakan mereka. Semua urusan rumah tangga selalu beres. Sebagai anak SMA, Kazia dan Revo tak pernah mengecewakan orang tua mereka. Segala sesuatu yang berhungan dengan masa remaja kedua anak meraka tidak menjadi problem karena Valerina dan Ary adalah orang berwawasan luas dan termasuk orang modern.

Segala urusan anak-anak menjadi urusan orangtua mereka, termasuk masalah dengan pacar kedua anaknya. Terumatama Aryanto selalu ikut campur urusan Revo dan Desi, pacarnya. Jika ada pertengkaran di antara mereka, maka yang akan menyelesaikan adalah Ary, ayah Revo. Suatu saat, karena masalah kecemburuan di antara mereka belum diselesaikan, Aryanto menemui Desi di sekolahnya. Awalnya Desi jual mahal tetapi lama-kelaman Desi telah merubah penampilannya di depan Ary. Ia merasa diperlakuakan sebagai wanita dewasa oleh Ary sebagai laki-laki dewasa yang bisa diajak berdiolog. Mula-mula tentu saja maksud Aryanto hanya pertemuan itu, tetapi akhirnya pertemuan mereka berulang-ulang, dari pertemuan rahasi mereka, jatuh ke pertemuan berikutnya. Ternyata Desi lebih tertarik pada lelaki yang telah matang, bukan anak kemarin sore seperti Revo, putra Ary. Sekarang Desi tidak peduli lagi Revo.

Gosip tetangga sudah menyebar tentang hubungan Ary dengan pacar anaknya. Tapi Valerina tidak percaya, suaminya tidak mungkin menyeleweng karena mereka saling mencinta. Tapi suatu hari Revo pulng dengan wajah merah padam. “Gosip itu benar Ma, bapak selingkuh dengan pacar Revo, bapak menghamili Desi” kata Revo menahan amarahnya. Benar, dikianati kekasih itu menyakitkan, tapi ditipu oleh ayah yang menjadi idolanya memang meremukan.

Berawal dari problem itu, setelah mengelesaikan jenjang SMA, Revo ingin memulai hidup barunya dengan memutuskan melanujutkan studinya di Swiss, di universitas yang pernah di lewati Valeria, ibunya. Kesempatan itu juga digunakan Valerina untuk menenangkan diri dari persoalan yang sedang menimpa rumah tangganya. Tanpa sengaja, di sebuah restoran ternama di Swiss, Valerina bertemu dengan Tristan Putradewa cinta pertamanya waktu semester V universiatas perhotelan 19 tahun lalu, yang telah bercerai dengan istrinya beberapa tahun yang lalu. Tentu penampilannya sudah berubah, tidak seperti sembilan belas tahun yang lalu. “Aku sudah menyiapkan cincin untakmu sembilan belas tahun yang lalu” gumam Tristan sambil menahan emosinya. Setiap tahun selama empat tahun berturut-turut akau membawa cincin itu ke sini. Ketika kamu tidak muncul, kutukar cincin itu dengan cincin kawin istriku. Tetapi bahkan sedang memakaikan cincin itu di jarinya aku masih membayangkan dirimu.

Valerina tak mungkin melupaka semua kenangan bersama Tristan. “Kembali ke sini tahun depan, Val, akan kita lanjutkan tembang kita yang tertunda.” Ucapan Tristan masih segar di ingatan Valerina. “Maafkan aku Tris, aku baru kembali setelah dua puluh tahun menghilang” keluh Valeriana dalam hati.

Dua puluh tahun yang lalu Valerina dan Tristan mengikrarkan janji untuk bertemu kembali setahun kemudian di Swiss. Tetapi setelah kembali ke Jakarta, Valerina tidak dapat menepati janjinya, ia malah menikah dnegan Aryanto dan dikaruniai dua orang anak. Dua puluh tahun kemudian ketika suaminya mengkhianatinya, Valerina kembali ke Swiss untuk menyembuhkan sakit hatinya dan di sanalah dia bertemu dengan Tristan yang dapat mengembalikan kepercayaan dirinya.

Sementara di Jakarta, untuk mempertahankan kerukunan keluarganya, sebagai pengacara yang kaya, Ary telah meloloskan diri dari Desi dengan membayar salah satu bawahannya untuk mengakui Desi sebagai istrinya dan anak dalam kandungan Desi sebagai anaknya di depan orangtua Desi. Namun segala usaha Ary untuk memulihkan kembali kerukunan keluarganya sia-sia belaka karena Valeriana telah bertemu dengan cinta sejatinya dan disanalah mereka melanjutkan tembang mereka yang tertunda.

Setelah mempertimbangkan dengan matang, Valerina kembali ke Jakarta mengurus permohonan cerai mereka. “Kalau mama tanya, Papa mau bercerai atau tidak, jawabannya pasti tidak. Tapi kalau mama mencinta laki-laki itu, Papa rela kehilangan Mama dan anak-anak. Mama boleh menikah dengan dia, kalau itu memang yang mama inginkan.” Kata Aryanto dengan mata berkaca-kaca karena ia sangat mencinta istri dan anak-anaknya.

Valerina sebenarnya tidak tega melakukan hal demikiann kepada suaminya tetapi demi masa depan Desi, yang katanya semua urusan telah beres, tetapi ternyata tidak segampang membalik telapak tangan, menjaga perasaan Revo, dan nama baik mereka, Valerina mengambil langkah itu. Singkat cerita, urusan penceraian selesai dan Valerina bersama kedua anaknya kembali ke Swiss dan memulai hidup barunya bersama Tristan Putradewa, yang telah menunggunaya selama sembilann belas tahun.

Tanggapan saya : novel ini termasuk novel yang modern dengan gaya bahasanya lugas dan mengikuti perkembangan zaman. Ceritanya menarik dan mudah karena pemilihan kata-katanya sederhana.

Kesan saya: novel ini cukup menarik karena menceritakan apa yang sering terjadi di masyarakat, khususnya di Indonesia, cerai adalah hal yang biasa. Dengan membaca novel ini, pembaca dapat belajar sesuatu tentang hidup ini, terutama bagaimana membina relasi yang dalam kelurga.

Cerpen

September 5, 2008

Topeng


Sudah lama Leni merasa sangat bosan tersenyum. Padahal statusnya sebagai biarawati menuntutnya selalu tersenyum. Pikir-pikir, Leni yang biasa dipanggil Sr Leni memutuskan untuk membeli sebuah topeng senyum. Tentu saja bagi Sr Leni sarana untuk mendapatkan topeng senyum itu bukan persoalan yang terlalu sukar karena relasinya baik dan banyak donator. Sementara topeng seperti itu bisa diperoleh di toko-toko, di salon-salon, bahkan di pedagang kaki lima. Tergantung jenis topeng, harga, dan kualitasnya.
Yang dibutuhkan hanyalah sedikit waktu untuk memilih topeng yang pas, yang mengesankan keaslian, yang tidak mendatangkan efek samping, dan yang cocok baginya. “Jangan berdiskusi soal harga. Asal situ mau nyimpan rahasia, berapapun tak jadi soal. Tahu sama tahulah,” kata Sr Leni. Itulah sebabnya setiap ada waktu, ia selalu mencari topeng yang dibutuhkannya.
Suatu sore Sr Leni memasuki sebuah toko besar. “Mau cari yang bagaimana Bu?” seorang menyapanya dengan senyum manis. Entah kenapa, tiba-tiba Sr Leni merasa ia tidak disenyumi secara wajar. “Jangan-jangan ia memakai topeng senyum” pikir Sr Leni. “Ah, tidak. Tidak. Mau lihat-lihat dulu” balas Sr Leni dengan gugup dan juga tersenyum.
“Kalau untuk pesta topeng, ada yang baru Bu. Selama ini orang-orang menggunakan topeng klasik seperti wajah singa, kelelawar, buaya, kadal, anjing dan sejenisnya. Tapi sekarang ada yang lumayan baru. Mumpung lagi ngetren Bu. Pokoknya asyiklah Bu,” kata penjaga toko itu sambil tertawa. Sr Leni juga tertawa. “O, iya juga ya. Persis sekali. Bagus. “Tapi…” Sr Leni sengaja menghentikan kalimatnya. “Saya bukan cari yang seperti itu. Saya sedang mencari yang lebih special dari itu. Wajah yang sama sekali tidak dikenal. Maksud saya, eehm, wajah yang mirip dengan wajah saya sendiri. Dan….”
“O, kalau cuma itu, mudah Bu.” Sambung pemilik toko. “Saya berharap memang begitu. Jangan lupa, wajah itu dalam keadaan tersenyum.” “Jangan khawatir Bu. Topeng itu memang lebih khusus. Tempatnya juga di ruang khusus. Mari ikut saya. Sr Leni dibawa ke ruang atas dengan menaiki escalator.
“Nah, sekarang Ibu tinggal pilih sendiri. Mana yang paling cocok dengan wajah Ibu. Pada prinsipnya topeng-topeng ini fleksibel kok Bu. Topeng ini tidak terlalu merubah struktur wajah pemakainya. Tergantung topeng apa yang akan dipilih. Kalau yang ini, mengesankan agak tertawa dan membuat mata agak melebar.Memberi kesan intelek bagi pemakainya.” “Tidak. Saya tidak butuh yang membari kesan intelek. Nanti saya tidak disukai piko (pimpinan kominitas) saya.” “Oke. Tidak masalah. Nah, yang ini yang memberi kesan senyum tapi dingin. Sangat cocok bagi yang merasa kaya, apalagi, maaf, bagi mereka yang keturunan bangsawan, keturunan darah biru.” “Aduh, bagaimana ya. Begini saja, saya membutuhkan topeng senyum yang mengesan kejujuran dan kepolosan,” potong Sr Leni. “Oh itu. Sebentar ya Bu. Saya cek, apakah masih ada. Soalnya kebetulan topeng seperti itu memang laku sekali.” “Semoga ada. Saya ingin seperti diri saya dulu, ketika masih remaja, tetapi dengan wajah selalu tersenyum.” Terbersit juga ketidaknyamanan di hatinya bahwa ia akan menjadi seorang penipu. Tak lama kemudian penjaga toko datang dengan membawa sebuah bungkusan kecil. “Ibu orang yang beruntung. Kebetulan masih tersisa. Barangkali Ibu perlu memeriksanya atau mencobanya.” “Tidak perlu. Tidak perlu. Cukup saya lihat saja.” jawab Sr Leni.
Sejak memiliki topeng senyum itu, Sr Leni sungguh terhindar dari kerja rutinnya. Ia memutuskan untuk tidak memberitahukan rahasianya kepada seorangpun. Semua urusan yang berkaitan dengan topeng senyumnya itu dia selesaikan di kamar mandi. Topeng itu dipakai pada pagi hari sehabis mandi dan baru dibuka ketika akan tidur malam. Dampak awal yang paling merasakan perubahan Sr Leni tentu di komunitasnya sendiri. Misalnya suatu pagi pikonya menyapa, “Wah, kok kelihatan bahagia sekali. Ada berita gembira ya?”. Bahkan sesama suster dalam komunitas pun berujar, “Kalau tampang Sr Leni kaya gitu, kan enak dilihat.” Tapi teguran-teguran seperti itu tidak ditanggapai Sr Leni dengan serius. Ia hanya menjawab, “Ah, kok mau tahu saja sih urusan orang.”
Pekerjaan Sr Leni lebih lancer. Banyak orang menjadi lebih kerasan bila berurusan dengannya. Setiap berpapasan dengan orang, selalu saja orang itu menegur Sr Leni sambil tersenyum, seolah membalas senyum Sr Leni. “Pagi Sr, hari yang indah.” Setiap orang yang bertemu dengan Sr ini, pasti memujinya bahwa Sr Leni polos, murah hati, flaksibel, dan cepat bergaul. “Dia cocok sebagai biarawati.” kata seorang ibu yang berkunjung ke biara. Tapi di lain waktu, harus diakui juga bahwa tidak jarang ia lupa bahwa ia sedang tersenyum. Ketika ia sedang terkantuk-kantuk di sebuah lift, seorang koleganya menegurnya, “Sr Leni kelihatan tambah muda saja. Seperti masa puber.” Sr Leni tergagap. Ia merasa tak siap membalas canda temannya.
Suatu siang Sr Leni marah besar kepada calon suster (novis) yang tidak beres dalam pekerjaannya. “Sudah saya bilang, pekerjaan itu harus dibereskan segera. Supaya anda tahu, dengan kelalaian anda, semua pekerjaan tertunda. Akan saya laporkan kasus ini kepada magistramu, dan sebagai resikonya, anda siap-siap angkat kaki dari sini.” Sr Leni berharap sang novis itu akan mati ketakutan dan membungkuk-bungkuk untuk meminta maaf. Di luar dugaan, novis itu kelihatan senyum-senyum saja. Betul calon suster itu merasa bersalah dan dia dalam keadaan dimarahi, hanya marah Sr Leni baginya lebih sebagai teguran sayang. Seperti seorang bapak yang sedang marah kepada anaknya yang ketahuan tidak mengerjakan tugasnya. “Wah, bagaimana lagi. Sudah terlanjur, maaf Sr.” jawab sang novis dengan senyum. “Maaf, maaf. Kurang ajar, setan.” Muncul juga keraguan dari sang novis, “Jangan-jangan sr Leni marah benar, tapi wajah Sr. Leni tak bisa menipu. Wajah adalah cermin perasaan, cermin hati. O…Sr Leni tak marah, hanya formalitas saja, biar kelihatan bertanggung jawab, biar dianggap berwibawa. Orang yang memiliki wajah seperti Sr Leni tidak mungkin marah sungguhan.”
Yang tidak kalah bingung dan heran justru Sr Leni denga dirinya sendiri. Mengapa marahnya tidak membuat calonnya ketakutan. Dulu, jangan kan marah dengan berteriak segala. Cukup dengan diam dan memperlihatkan wajah yang merengut, telah membuat semua calon tak memiliki nyali untuk mendekatinya, apalagi menatapnya. Sekarang semuanya menjadi lain. Ia berteriak setinggi langit pun calonnya dengan tenang dan senyum menghadapi semua kemarahannya. Kegelisahann Sr Leni menjadi tak tertahankan ketika ia ditegur oleh pikonya karena dianggap terlalu ramah. “Mulai hari ini saya perintahkan Sr Leni untuk tidak senyum setiap saat, kecuali untuk keperluan-keperluan tertentu.”
Di dalam kamar sebelum tidur, Sr Leni memikirkan teguran piko tadi. “Why? Why? Why?” Buntu kepalanya memikirkan kasus yang dianggap tidak wajar. Ia merasa tidak membuat keramahan apapun. Sr Leni merasa berbuat wajar-wajar saja. Sebelum sungguh terlelap, tiba-tiba Sr Leni mendapat sebuah ide dan membuatnya tersenyum kecil. Ia memutuskan untuk membeli beberapa topeng lagi yang berlainan karakternya. Topeng-topeng itu ia akan pakai sesuai dengan kebutuhan. “Itu akan lebih manusiawi,” katanya dalam hati.

Sr. Maria Goreti, FdCC

November kelabu

April 21, 2008

November Kelabu

Senja di perbukita Merapi yang masih memutahkan lahar apinya sejak setahun yang silam berselimutkan kabut. Awan hitam tampak bergelayut berat di langit. Kilat bersahutan membentuk simponi tak beraturan. Sesekali langit terbatuk diikuti semburan dahak sejenak. Sepertinya langit sedang flu berat. Maklumlah, cuaca akhir-akhir ini agak kurang bersahabat. “Tampaknya langit akan menggugurkan air matanya hari ini, gumam Yety. Benar dugaan itu, tak lama kemudian, butir-butir air dari langit membasahi perumahan Samirono dan sekitarnya. Belum sampai lima menit, banjir telah terlihat meluap di lajan-jalan sehingga mengakibatkan kemacetan lalulintas.

Hari itu adalah hari pertama mengawali pekan, dan merupakan hari pertama memasuki bulan Nevember. Suasana kota Yogyakarta yang tadinya panas bagaikan mutahan lahar api dari Merapi, diliputi suasana yang berbeda seketika. Keramaian lalulintas tidak seperti biasanya. Para pengendara sepeda motor tidak tahan mengedarai sepeda motornya, sepertinya ingin menelan beratus-ratus kilometer dalam waktu sedetik. Para pejalan kaki terlihat serius memperhatikan bus-bus yang lalu-lalang untuk beranjak pulang. Di sofa, Yety masih saja duduk terpaku sambil melihat orang lalu-lalang di depan rumah.

Dari jauh terlihat segerombolan remaja berbusana putih-abu, menyerbu sebuah bus yang hampir lewat.Terlihat akan peristiwa itu, pikiran Yety melayang kepada Wempy, teman sekolahnya di SMA. Yety cinta pada Wempy waktu sekolah. “Telah lama aku tidak dengar berita dari Wempy. Dimana dia sekarang?” pikir Yeti. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, ingat saat yang telah lalu dan tidak akan kembali lagi. Saat itu telah lewat dan sekarang hanya dapat dikenang, dengan tidak merusak pikiran dan perasannya. Malahan terdapat sesuatu, semacam kepuasan dengan mengenang dirinya. Yety tersenyum kembali pada dirinya dan keadaannya sekarang. “Ya Tuhan, semoga dia selalu berbahagia” Yety berdoa.

Tiba-tiba sesuatu menggelepar dalam perutnya. Geleparan urat-urat perut yang kosong. Serangkir teh hangat masih penuh di depannya, diangkat tinggi-tinggi seperti orang dalam upacara hendak minum anggur. Teh itu diminum teguk-teguk besar yang tak putus-putus terlihat lewat di tenggorokannya. Setelah menghabiskan secangkir teh hangat itu, tangan kirinya memukul-mukul perutnya. “Sudah diisi sekarang, jangan keroncong lagi” kata Yety kepada perutnya yang kosong. “Belum makan sejak pagi rupanya.” Yety berciraca sendiri pada dirinya. Dan sekarang sesuatu dalam perutnya telah berhenti menggelepar. Tubuhnya yang lemas sekarang rasanya agak segar sedikit. Pening kepalaya telah hilang. “O…karena lapar saja, untung tidak sakit apa-apa” pikirnya. Pikiran itu menggembirakan hatinya.

“Yety…, Yety…” teriak temannya, tapi suara itu tak digubrisnya. Rupanya, sunyi masih tetap berperan penting dalam dirinya siang itu. “Entahlah, aku juga belum menemukan sebuah jawaban untuk mengatasi perasaan ini” tuturnya. “Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku setelah semalam bergulat dalam diri” lanjutnya.

Pada saat itu, tepatnya tiga tahun yang lalu, di tengah hiruk-pikuk keramaian di bandar udara, suara pramugari, melalui pengeras suara mengumumkan bahwa pesawat terbang dengan nomor sekian-sekian yang ditumpangi Wempy segera akan berangkat. Yempy mengelus-elus kedua tangannya pada kedua belah pipi Yety. Dengan suara serak bertahan-tahan, Wempy berbicara lembut “Tidak lama aku pergi, sayang, aku tak mau kehilangan engkau”. Yety memegang telapak tangan Wempy yang masih terletak pada kedua belah pipinya, menjawab, “Selesaikan dahulu apa yang perlu untuk diselasaikan, jangan tergesa-gesa, aku setia menunggumu, sayang”.

Nama wempy terdengar berulang kali dipanggil. Tanpa menghiraukan orang yang berada di samping mereka, Wempy memeluk dan mencium Yety dengan penuh mesrah. Dengan tawa yang dibuat-buat menahan air mata, Yety menyambung: “Wempy, dengan cara kamu memelukku seperti ini, aku merasa seakan-akan kita tak akan berjumpa lagi, seakan-akan ini adalah pelukan yang terakhir”. “Jangan berkata begitu Yety.” jawab Wempy. Ini bukan yang terakhir, justru ini adalah permulaannya. Tanpa engkau, Yety, rasanya aku ini tak berarti. Yet, aku pergi hanya untuk satu tahun.lanjut Wempy.

“Pesawat akan segera take off, saudara yang bernama Wempy, segera masuk pesawat” demikian bunyi yang terdengar melalui pembesar suara di tengah hiruk-pikuk di bandar udara itu. Tanpa kata, Wempy segera berlari-lari menuju pesawat terbang. Yety, yang saat itu seperti kehilanagn sebuah permata besar, belum beranjak dari tempatnya. Matanya masih mengikuti pesawat yang langsung take off setelah Wempy menginjaki pintu pesawat. Tanpa sadar, mulutnya komat-kamit, “Wempy…kamu dimana sekarang” air matanya pun mengalir membasahi pipinya.

“Ya…beginilah hidup, hidup telah banyak mengajarku” tutur Yety, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri. “Bagaimana tidak, Wempy yang telah dikenalnya dan disayangi selama tiga tahun semasa SMA, tiga tahun yang silam, berpamitan hanya ingin mengikuti kursus musik selama satu tahun, sudah tiga tahun tanpa berita; seolah-olah diantara mereka berdua tidak pernah terjadi apa-apa. “Ya…benar, hari ini tepat tiga tahun kepergian Wempy” kenang Yety. “Apa Wempy mencintaiku hanya karena ia membutuhkanku. Apa tidak lebih dari itu; tetapi inilah kenyataannya; benar, Wempy tidak mencintaiku dengan tulus” gumamnya. Airmata yang sejak tadi hendak disembunyikan, mulai merebak. Mulutnya komat-kamit perlahan terucap, “Wempy, kau memang tega melakukan semua ini, tiga tahun bagiku adalah waktu yang tidak singkat untuk menunggumu”.

Telepon yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya, berdering mengagetkannya. Dengan bermalas-malasan Yety beranjak mengambil telepon itu. “Selamat malam, biasa berbicara dengan Yety?” kata si penelpon. “Semalat malam, saya sendiri” jawab Yety. “Yety…Yety…Yety…” sambung si penelepon dengan nada rendah. Yety termenung sejenak, suara itu memang sudah lama tak didengar tapi sepertinya tidak asing di kupingnya. Yety tahu dengan baik suara itu, tetapi ia tidak cepat menebak, Yety malu jika tebakannya salah. Karena keingintahuan Yety kuat untuk mengetahui lawan bicaranya, maka ia mendesak untuk mengetahui identitasnya. Namun jawabannya begitu jauh dari dugaan Yety, ia dengan nada yang agak berat melanjutkan pembicaraannya, “Engkau tidak perlu mengetahui, siapa lawan bicaramu tapi yang penting untuk diketahui adalah “Engkau adalah sebuah lagu cinta bagiku, sebuah musik yang membuat dunia tersenyum. Aku telah menyanyi bagimu, namun dengan kasih yang membisu, serba terselubung oleh aneka macam peraturan. Sekarang aku menjerit kepadamu tanpa aling-aling semu. Memang bukankah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri sampai datangnya berpisah? Selama ini kutelusuri kota demi kota, akhirnya aku menemukan cinta yang sejati pada sebuah pilihan yang mungkin aneh menurutmu. Aku memilih untuk menjadi seorang biarawan alias imam”. Aku adalah Wempy yang selama ini membuatmu menanti tanpa harapan. Maafkan aku, aku tak akan merubah pilihan ini.” dan telepon pun ditutup.

Siulan burung tekukur piaraan tetangga seperti koor di Gereja, datang dari arah utara kota Jogjakarta. Pelan-pelan Yety kembali ketempat duduknya. Sekelompok burung elang terbang membentuk huruf V, barangkali dari persawahan yang jauh. “Mereka hidup dan berbahagia, terbang, dan terbang. ”Burung-burung itu memberi sebuah pelajaran yang berharga bagiku, akupun ingin terbang meninggalkan masa laluku dan ingin memulai suatu hidup baru.” pikir Yety.

Hujan rintik-rintik turun berbisik-bisik dengan atap. Seekor burung melintas mencoba menggapai dahan pohon, terpelanting dan terbang jauh. Tak lama kemudian matahari dengan malu-malu bangun dari peraduaanya, mengintip jendela bumi dari sela-sela dedaunan dan mulai mengusir awan. Sedikit kilasan kilauan emasnya di setiap butir-butir gerimis. Sang surya telah meninggalkan peraduaannya, suasana kota sudang semakin sunyi, dengan tenang terlihat sedih, Yety ingin memulai sebuah lembaran baru dalam hidupnya.

Maria Goreti Safe, FdCC.

PBSID 06, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Cerita binatang

April 17, 2008

Cerita Binatang

Seratus Cara Menyelamatkan Diri

Tahukah Kamu, Paman Kucing?” seekor moyet remaja membual di hadapan seekor kucing hutan yang sudah tua. “Aku menguasai banyak cara cerdik untuk menyelamatkan diri dari musuh.” “Oh, ya?” Kucing hutan menanggapi dengan tenang sambil menjilati bulu di telapak kaki bagian depan sebelah kiri. “Mmm, aku punya sekarung cara.” Ada seratus cara menyelamatkan diri di dalamnya. Ia mengulangi bualannya. “Itu bagus sekali.” si kucing memuji.Dengan cara-cara berupa jurus dan tipuan-tipuan, aku punya. Tidak ada musuh yang bisa menyergapku.” lanjut si moyet. “Apalagi si pemburu yang hanya menggunakan senapan dan anjing untuk memburuku, hem…tidak takut sama sekali.” Itu kecilll…! lanjutnya dengan suara meninggi. Ia ingin kucing hutan memujinya lebih hebat. Bukan sekadar. “Bagus sekali”. Karena belum ditanggapi, monyet terus berujar, “Aku bisa menyamar jadi seperti rumput, juga bisa menggali lubang lalu bersembunyi di dalamnya. Dan kalau berlari, lebih kencang dari angin, bisa juga pura-pura mati. Paman lihat!, Lihatlah!” kata moyet sambil bergerak sesuai apa yang baru ia ucapkan. “Paman sendiri punya beberapa cara?” tanya monyet.

Anak muda”, jawab kucing hutan itu. “Aku hanya punya satu cara melarikan diri,

karena aku sudah tua dan mulai lemah”. “Paman harus belajar beberapa jurus dariku,” saran si monyet.Terima kasih, Anak muda. Jika aku tertangkap, tandanya memang aku sudah tua dan tidak kuat lagi”, ungkap kucing hutan sambil melangkah ke arah batang pohon didekatnya. Ia mencakar-cakar kulit pohon itu, untuk mengasah kukunya supaya tetap tajam.Aha…, kalau begitu, Paman belajar tipuan saja. Ada beberapa tipuan yang tak perlu banyak tenaga, kok”, tutur monyet. “Aku rasa jurus pingsan kejatuhan bulan, bisa Paman pelajari sebentar. Begini, nih…” monyet memperagakan.

Monyet meloncat ke depan, lalu menutup hidungnya dengan dua kaki sampai mukanya memerah kehabisan nafas. Bergulingan hingga semua debu dan tanah menempeli bulu badan, lalu terlentang seperti sudah mati.

Tidak sulit kan, Paman?” ujar monyet sambil mondar-mandir seperti mau mengulangi gerakannya sekali lagi. Tiba-tiba ia melonjat. “Ada yang lebih gampang. Paman pernah melihat aku menggunakannya. Saat aku dikejar lima ekor elang, aku bisa mengelabui mata mereka dengan bertiarap di tanah sambil terus berjalan menjauhi mereka”. Tuturnya berapi-api untuk meyakinkan si kucing tua itu. “Iya…! aku pernah melihatnya, tapi aku tidak tahu, jika anda sedang menggunakan satu jurus dari seratus jurus itu. Aku pikir, anda hanya berusaha untuk menjauhi mereka”, jawab kucing. “Oh, itu bukan sekedar melarikan diri dari musuh, tapi aku sedang menggunakan salah satu jurusku, namanya ‘jurus rubuh’ mengincar kelinci dan elang, Paman”.

Kucing hutan tersenyum mendengar bualan itu. Sebenarnya ia tidak pernah menyaksikan elang-elang mengejar monyet, “Elang lebih suka menangkap anak ayam”, gumamnya.

Di kejauhan terdengar sorak-sorai para pemburu dan gonggongan anjing-anjing milik pemburu.Sepertinya, mereka menuju ke sini, Anak Muda”, kata kucing hutan terperanjat.Tenang, Paman. Aku sudah memberitahu mereka supaya tidak menangkapku”. Jawab monyet sambil membusungkan dadanya. “Cepat bersembunyi atau berlari jauh”, nasehat Kucing hutan. “Paman berlari duluan. Paman kan hanya punya satu cara menyelamatkan diri”, jawab Monyet.

Meski hanya satu cara, tetapi dapat digunakan untuk setiap keadaan” kata Kucing hutan. Baru saja ia mengatakan itu, sorakan dan gonggongan terdengar makin jelas. Berarti para pemburu dan anjing-anjingnya bertambah dekat. Setelah terperanjat sebentar, Kucing hutan langsung terbirit-birit memanjat pohon. Lalu bersembunyi di atas dahan. “Beginilah rencanaku menyelamatkan diri, Anak Muda”. Kucing hutan berbisik keras dari balik daun-daun. “Sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Kucing.

Monyet diam sejenak. Ia kelihatan bingung. “Ah, aku harus bersembunyi di balik batu”, katanya ragu-ragu sambil melangkah tergesah ke arah batu.

Aduh…! Batu ini terlalu kecil untuk bersembinyi”, kata Monyet sambil berdiri dan mondar-mandir ketakutan. “Mmm, aku harus membuat lubang”, katanya dengan semangat. Lalu ia mulai menggali lubang. Kucing hutan tua yang telah aman di balik daun-daun, menggeleng-geleng kepala menyaksikan si monyet yang terlihat ketakutan tanpa ide yang baik untuk menyelamatkan diri.

Aah, tanah di sini terlalu keras. Aku pura-pura mati saja”. Kata monyet. “Ooh, tidak! Nanti aku dimakan anjing-anjing itu”, lanjutnya. “Ya! Aku rasa bersembunyi di balik daun-daun itu ide yang bagus juga”. Kata monyet sambil berpaling kepada kucing yang telah aman dari ancaman bahaya. “Mudah-mudahan saja ia selamat”, Kucing hutan berdoa untuk keselamatan monyet muda itu. Baru saja doa diucapkan, kucing hutan mendengar Monyet menggerutu.Ti-tidak. Rasanya ini bukan ide yang paling cocok” . Ia berlari ke bawah pohon tempat kucing hutan bersembunyi. “Memanjat pohon? Ti-tidak! Itu ide kuno” katanya sambil menggoyang-goyangkan kepala tak setuju. “Huh, kalau saja ada sungai di dekat sini, pasti aku menggunakan jurus renang untuk menyelamatkan diri”, sambungnya. Kucing hutan tua merasa kasihan kepadanya karena kelihatan sudah lemas kecapaian. “Tapi tidak apa-apa, aku banyak akal. Yeaaah! Aku bisa bergelayut di akar-akar itu. Atau lebih baik tiarap di balik gundukan tanah”, kata monyet dengan semangat karena mendapat ide baru. “Tapi…kurasa, tidak juga. Tanah disini terlalu terbuka. Aku pasti akan gampang ketahuan” ungkapnya setelah berpikir sesaat. Melihat kejadian itu, kucing hutan menegaskan, “Putuskanlah satu cara saja untuk menyelamatkan dirimu!” “Ini darurat!” lanjutnya.

Banyak sekali ide sang Monyet muda. Dipikirkan dengan cermat setiap rencananya.

Saat masih berpikir bagaimana cara menyelamatkan diri, para pemburu sudah sangat dekat. Monyet Muda mulai kebingungan, anjing-anjing pemburu sudah mengepungnya. Anjing-anjing itu kekar tinggi dan bertaring tajam. Tidak lama kemudian Monyet pun tertangkap. Monyet Muda sudah kehabisan tenaga ketika seorang pemburu mengarahkan senapan ke arahnya. Door…! Akhirnya sang Monyet Muda mati tertembak. Menyaksiakan kejadian itu, Kucing hutan menunduk sedih. Sejak saat itu, kucing selalu menasehati teman penghuni hutan lainnya, supaya hanya memiliki satu cara untuk menyelamatkan diri, daripada memiliki seratus cara tetapi tidak dapat mempergunakannya dan akhirnya mati konyol.