Rumah Mini
(Samirono Baru, Yogyakarta)
Di tengah kota Yogyakarta tegak sebuah rumah mini. Penghuni berasal dari aneka ragam daerah, bahkan bangsa. Persaudaran dan saling penghargaan menempati tempat tertinggi. Yang tua menjadi model bagi yang muda. Ketaatan, kedisiplinan, dan bekerja bukanlah masalah. Masing-masing orang berusaha merebut baginya mahkota keutamaan cinta kasih. Sr. Aquelina da Costa, sebagai pemimpin komunitas (piko) merasa nyaman karena semua anggota mengarahkan diri pada keutaman yang telah dipatokan. Pembicaraan mereka selalu mengacu pada para pendahulunya, khususnya St. Magdalena pendiri mereka.
Sapaan dan tebar posona ketika pulang kuliah, mempersiapkan doa pagi dan sore dengan intensi-intensi, cake ulang tahun menjadi suatu kebisaan bagi yang berulang tahun. Saling menghargai dan mempergunakan milik bersama secara bertanggung jawab mendapat perhatian serius. Tampaknya mereka saling peduli satu sama lain. ”Ini adalah warisa dari pendiri kita St. Magdalena, yang harus dipelihara, tidak boleh kita sepelekan”, kata Sr. Isabel Xaviar sebagai wakil pimpinan komunitas (wapiko), dan sekaligus mengemban tugas perutusan sebagai pembimbing postulan.
Hari itu 8 Mei 2008. Hari raya 200 tahun berdirinya konggregasi Putri Putri Cinta Kasih Kanossian, demikian nama sepuluh suster penghuni rumah mini bersama lima postulan yang bermukim di Samirono baru, Daerah Istimewa Yogyakarta. Semua penghuni rumah mini ini sejak setahunn yang lalu telah melakukan berbagai aktivitas untuk menyambut hari raya itu. Berdasarkan keputusan pimpinan umum (Madre general), tahun 2007 dinyatakan seabgai tahun Mariana. Semua penghuni rumah mini juga tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Berbagai doa dan devosi kepada Bunda Maria telah dilaksanakan, bahkan patung Bunda Maria edaran dalam delegat Indonesia, setelah tiga bulan berada di komunitas Bintaro, Jakarta, juga menetap bersama seisi rumah mini ini selama tiga bulan, sebelum beranjak ke komunitas Kianyar, Bali.
Sejak Februari 2008, pertemuan pembentukan panitia persiapan perayaan 200 tahun berdirinya kongregasi pun digelar. Semua pihak dalam lingkungan Kristoforus Samirono dilipatkan sebagai panitia berlangsungnnya acara tersebut, selain calon awam Kanossa yang sebagian besar berasal dari Bantul, Yogyakarta, dengan Ibu Yuliana Woda (mantan calon suster Kanossian) sebagai promotornya. Jika ditanya mengenai dana persiapan pesta ini; sebenarnya kantong ’rumah mini’ ini nihil, tetapi dengan bantuan ’Yang Kuasa’, semua rencana dan kegiatan yang dirancang panitia dapat berjalan dengan baik.
Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menyambut hari raya itu: rekoleksi mahasiswa dalam rangka menyambut hari raya Paskah dengan mamire (makan, minum, rekoleksi) gratis. Kegiatan sisoal lain yang dilakukan yaitu kunjungan dan pemberian bantuan sosial kepada anak-anak cacat di wisma Alma Berbah-Sleman,Yogytakarta; bersama umat lingkungan Kristoforus Samirono, Yogyakarta.
Untuk liturgi perayaan Ekaristi 200 tahun konggegasi Kanossian, panitia memilih koor gabungan mudika Paroki Yohanes Rasul Pringwulung dan anggota karawitan (alat musik Jawa) lingkungan Kristoforus Samirono yang bakal memeriahkan pesta syukuran itu . Selain penari, putra-putri altar, pembawa persembahan, lektor, doa umat, penyanyi tunggal pengisi acara pun dipilih dan dipersiapkan secara khusus. Merasa belum lengkap, Aleks, calon awam Kanossa dari Bantul menyediakan diri untuk membuat visualisasi sehubungan dengan ke-5 karya yang diwariskan St. Magdalena, yang akan ditampilkan dalam perayaan Ekaristi. Karena merasa waktu semakin mendekat, latihan pun dimulai. Koor dan karawitan tak pernah absen dengan waktu yang disepakati bersama. Sama halnya dengan latihan visualisasi yang melibatkan sebagian calon awam Kanossa, beberapa suster, semua postulan, dan beberapa mahasiswa.
Untukk konsumsi, panitia bersepakat menyediakan makanan siap saji dalam bentuk kotak berupa dua macam B2 (babi) dan ayam, dilengkapi sayuran, buah-buahan, dan minuman secukupnya yang berjumlah 700 kotak sesuai undangan yang keluar. Sepuluh hari menjelang pesta, undanganpun disebar. Semua kominitas religius di kota Yogyakarta sedikitnya 200-an kominitas diutamakan, selain sahabat dan kenalan dekat suster-suster penghuni rumah mini itu.
Acara puncak tiba. Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Ignasius Suharyo, Pr dimilai pukul 17.00 waktu setempat dan bertempat di Paroki St. Yohanes Rasul Pringwulung. Lagu pembukaan dengan iringan karawitan mengiringi Mgr. Ignasius Suharyo sebagai konselebran utama, para imam (8 orang), para suster, dan postulan memasuki gereja. Demikian perayaan Ekaristi dimulai. Seusai kata pembukaan, tanpa dipandu karena telah tertera dalam buku panduan misa, uskup Semarang dan para konselebran serta semua umat langsung menempati tempat duduk masing-masing dan siap menyaksikan visualisasi yang akan segera ditampilkan.
”Inspice Et Fax Secundum Exepmlar.”, demikian terdengar lantang dan jelas dari mulut Sr. Yohana Yonesta Letek Tokan di belakang layar. Dengan alunan musik insrtumental, Sr. Filomena Dorotea Seran yang berperan sebagai madona dari Kanossa (Magdalena), mulai tampil dari sebelah kiri altar dan langsung disambar oleh kamera. Setelah beberapa langkah di depan altar dengan gaya merenung, lagu ’I will Came to You’ pun dilantunkan oleh Sr. Adriana Meko Nabu dengan suara emasnya dari belakang layar juga sehingga mengundang para hadirin melongokan kepala ke berbagai arah mencari sumber suara itu. Sementara, Sr. Maria Goreti Safe, Sr. Maria Magdalena Eno, Sr. Gabriela (diperankan oleh Erna, calon awan Kanossa) yang masing-masing berperan sebagai perawat, katekis, dan guru, tampil dan langsung berlutut di depan Sr. Filomena (Magdaelana). Menyusul yang lain, yang berperan sebagai orang sakit, pelajar, dan orang yang haus akan Firman Tuhan, langsung duduk berkelompok (tiga kelompok). Setelah mendapat perutusan dari Magdalena, ketiga suster pergi, dan menjalankan misi mereka sesuai tugasnya, sebagai perawat, guru, dan ketekis. Lalu visualisasi ini ditutup dengan lagu ”Magdalena Masih Mengajak Kita” yang dilantunkan sebelum memberi hormat dan kembali ketempat duduk masing-masing. Misa dilanjutkan seperti biasa. Dalam kotbahnya, selain ”proficiat” kepada suster-suster penghuni rumah mini Samirono Baru yang merayakan pesta syukuran 200 tahun, Suharyo mengutip frase ”Inspice Et Fax Secundum Exepmlar” dari tema perayaan Ekaristi, yang akan dijabarkan dalam korbahnya. Selain itu, Bapak Uskup mengatakan ”Para suster tidak memiliki karya di Keuskupan Agung Semarang,tetapi yang diharapkan, supaya keberadaan para suster dapat menjadi saksi kasih Kristus kepada sesama.”
Misa dilanjutkan seperti biasa dengan iringan karawitan dan lagu meriah dari koor gabungan mudika paroki. Setelah berkat penutup, sebelum Uskup Agung Semarang, Ignasius Suharyo bersama para imam menuruni tangga altar, lagu penutup bahasa Itali pun dikidungkan; diawali oleh solis duet putri, dan supaya ada variasi, ayat ke-2 diduetkan oleh kaum hawa dengan dua suara (supran dan tenor) demikian ayat yang lain dinyanyIkan secara berganti. Bapak uskup dan para imam juga tidak rela meninggalkan gereja sampai lagu ”Sui Pasi Magdelana” dinyanyikan. Semua hadirin berdiri melongo menyimak lagu Itali yang dinyanyikan oleh orang berdialek (medok) Jawa dengan intonasi jelas, bagaikan penanyi Itali, Andrea Bocelli. Seusai lagu dinyanyiakan, sebelum dirigen menurunkan tangan, langsung disambar dengan tepuk tangan meriah .
Setelah perayan Ekaristi, dilanjutkan dengan acara rama-tama yang bertempat di tempat parkir gereja, yang oleh seksi dekorasi telah ditata sedemikian rupa sehingga setiap orang yang memandangnya mengangguk-anggukan kepala mengaguminya. Suara penyanyi tunggal juga terdengar menggema ketika para tamu, sedikitnya 600 orang dan kebanyakan religius menuruni tangga gereja memasuki ruang acara itu. Sambutan dan ucapan terima kasih dari Sr. Aquelina da Costa selaku piko kepada para undangan setelah dua penari mempertunjukan tari Bali sekaligus membuka acara itu. Acara berikutnya, sambutan dari pastor paroki Pringwulung, Romo Beni Bambang, Pr. Dalam kesempatan ini, selaku pastor paroki, Romo Beni sapaan akrapnya, mengucapkan terima kasih atas kehadiran para suster penghuni rumah mini di paroki Pringwulung, karena walaupun tak ada karya di paroki, suster Kanossian tidak tinggal diam dan studi, tetapi karya kecil lain juga dijalankan seperti mengunjungi orang sakit. ”Oleh karena itu, jika ingin dikunjungi oleh suster Kanossian, sakitlah” kata Romo Beni yang langsung disambut tawa dan tepuk tangan para undangan yang hadir. Selepas sambutan acara dilanjutkan dengan mami (makan dan mimun) sambil mengikuti beberapa pengisian acara yang telah disiapkan.
Dengan berjalannya waktu, pekik malam semakin terasa di kulit. Tanpa sadar, jam didnding yang bergantung di aula paroki telah menunujukan pukul 22.00 malam. Para undangan berpamit dan kembali. Semua kegiatan pun diakhiri. Tempat parkir paroki menjadi sepi setelah berpoco-poco ria bersama para suster dari beberapa konggregasi, para tunas Xaverian, dan mahasiswa Timor-Timur yang hadir. Pesta perayaan 200 tahun berdirinya konggregasi Putri-Puti Cinta Kasih Kanossian penghuni rumah mini Samirono, Yogyakarta telah selesai. Suster-suster penghuni rumah mini pun kembali kerumahnya dan memulai aktivitasnya sebagaimana biasanya. Good bye pesta 200 tahun konggregasi, penghuni rumah mini ini akan merayakan pesta 201 tahun pada tahun yang akan datang.
Thanks………
Sr. Maria Goreti Safe, FdCC.
(penghuni rumah mini)