Arsip untuk ‘Linguistik’ Kategori

Linguistik

Juli 13, 2009

KESANTUNAN DALAM BAHASA INDONESIA

(Menggali Daya Bahasa untuk Berkomunikasi secara Efektif dan Santun

dalam Bahasa Indonesia)

ABSTRAK

Daya bahasa adalah kekuatan yang terdapat dalam bahasa untuk mengefektifkan penyampaian pesan dalam komunikasi. Namun, setiap tindak komunikasi tidak cukup hanya efektif, tetapi juga harus santun. Oleh karena itu, daya bahasa di samping harus mengefektifkan penyampaian pesan juga harus dapat membuat pemakaian bahasa menjadi santun.

Daya bahasa dapat dideskripsikan secara linguistik maupun secara pragmatik. Daya bahasa secara linguistik dapat diidentifikasi melalui berbagai aspek kebahasaan, seperti bunyi, kata, kalimat, leksikon (terutama pilihan kata). Daya bahasa dilihat secara pragmatik dapat diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang sengaja dikonstruk oleh penutur atau penulis untuk tujuan tertentu, seperti praanggapan, tindak tutur, deiksis dan implikatur.

Daya bahasa dapat ditemukan hampir di seluruh pemakaian bahasa. Namun, salah satu pemakaian bahasa yang sangat produktif dalam memanfaatkan daya bahasa adalah karya sastra. Hampir setiap seniman sastra memanfaatkan daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa untuk membangun keindahan dan mengungkapkan amanat agar dapat dinikmati dan dipahami oleh pembacanya.

Sumber data penelitian berupa karya sastra yang dianggap sebagai karya puncak pada zamannnya, baik karya sastra zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 45, angkatan 66, serta karya sastra angkatan sesudahnya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan linguistik dan pragmatik. Data penelitian adalah berupa bunyi, kata, kalimat, pilihan kata, serta wacana yang terdapat dalam karya sastra. Data dikumpulkan dengan metode baca dan catat. Instrumen pengumpulan data adalah peneliti sendiri yang dibantu mahasiswa pengumpul data yang sudah dilatih dan dibekali pengetahuan mengenai teknik pengumpulan data secara kualitatif.

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis secara reflektif interpretatif. Data yang sudah terkumpul digunakan untuk menginventarisasi daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa maupun pemakaian bahasa. Berdasarkan hasil inventarisasi data daya bahasa, kemudian ditentukan ciri-ciri penanda daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa maupun pemakaian bahasa. Setelah data diidentifikasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu untuk selanjutnya dideskripsikan (a) tataran bahasa dan pemakaian bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan, (b) ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa, dan (c) penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun.

1. PENDAHULUAN

Daya bahasa adalah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa yang dapat dimanfaatkan oleh penulis atau penutur untuk mengefektifkan penyampaian pesan atau menciptakan kesantunan dalam komunikasi. Ketika seseorang menggunakan bahasa, sebenarnya mereka menggunakan fungsi-fungsi komunikatif bahasa untuk menyampaikan pesan. Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi pada dasarnya adalah menyampaikan pesan. Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan cara menolak, membujuk, mengkritik, berimajinasi, bernegosiasi, dsb. Oleh karena itu, agar pesan yang disampaikan dapat sampai kepada pembaca atau pendengar, penutur atau penulis berusaha memanfaatkan daya bahasa seefektif mungkin. Daya bahasa dapat digali melalui berbagai aspek bahasa maupun aspek pemakaian bahasa, seperti bunyi, bentuk kata, kalimat, leksikon (pilihan kata); implikatuir, tindak tutur, praanggapan dan sebagainya.

Sudaryanto (1989) mengidentifikasi bahwa bunyi memiliki kekuatan tertentu ketika digunakan oleh penutur atau penulis. Pada tataran bunyi, bunyi /i/ memiliki daya bahasa yang dapat menggambarkan keadaan kecil pada suatu benda, seperti kata “muskil”, “kerikil”, “cukil”, “ambil”, “kandil”, “pentil“, “kutil“, dsb.

Kata “mampus” memiliki daya bahasa lebih kuat dari pada kata “mati” ketika dipakai untuk mengungkapkan perasaan dongkol pada seseorang. Struktur kalimat tertentu memiliki daya yang berbeda ketika disusun dengan struktur yang berbeda. Misalnya:

(a) Polisi menembak mahasiswa ketika berdemonstrasi.

(b) Mahasiswa tertembak polisi ketika berdemonstrasi.

(c) Ketika berdemonstrasi, mahasiswa tertembak polisi.

(d) Mahasiswa ditembak polisi ketika berdemonstrasi.

Struktur kalimat (a) “polisi menembak mahasiswa” memiliki daya bahasa bahwa “polisi” menjadi pelaku yang secara sengaja melakukan suatu tindakan secara sengaja. Struktur (d) “mahasiswa ditembak polisi” memperlihatkan daya bahasa bahwa mahasiswa melakukan suatu tindakan tertentu sehingga harus ditembak. Struktur (b) “mahasiswa tertembak polisi” yang ditempatkan pada awal kalimat memperlihatkan daya bahasa bahwa peristiwa /tertembak/ lebih penting dari pada peristiwa /berdemonstrasi/. Sementara itu, ketika struktur (c) “mahasiswa tertembak polisi” ditempatkan pada akhir struktur memperlihatkan bahwa polisi secara tidak sengaja melakukan suatu tindakan ketika mahasiswa sedang melakukan suatu tindakan yang lain (berdemonstrasi). Efek (perlokusi) dari ke empat struktur tersebut berbeda-beda.

Memang, banyak orang yang mampu berbahasa Indonesia. Namun, ketika berkomunikasi, kadang-kadang “apa yang dikatakan atau dituliskan” jauh lebih sedikit dari pada “apa yang dipikirkan”. Bahkan, kadang-kadang apa yang dikatakan berbeda dengan “apa yang ingin dikomunikasikan” (Levinson, 1985). Daya bahasa merupakan salah satu cara untuk memperkecil kesenjangan antara “apa yang dipikirkan” dengan “apa yang diungkapkan”. Kesenjangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dikatakan atau yang dituliskan akan dapat dikurangi jika seseorang mampu memanfaatkan daya bahasa untuk berkomunikasi. Namun, kadang-kadang seseorang yang telah mahir menggunakan daya bahasa, ketika berkomunikasi, apa yang dikatakan belum tentu sama dengan apa yang dikomunikasikan karena apa yang dikomunikasikan sering “disembunyikan” di balik apa yang dikatakan untuk menjaga kesopanan (Grice, 1987).

Berkaitan dengan daya bahasa, sebenarnya setiap komunikan dapat menggali dan memanfaatkan daya bahasa. Daya bahasa dapat dipergunakan untuk (a) meningkatkan efek komunikasi, (b) mengurangi kesenjangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang diungkapkan, (c) memperindah pemakaian bahasa, dsb.

Banyak cara untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan sesuai dengan maksud yang ingin dicapai. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan segala potensi atau daya/ kekuatan yang dimiliki oleh bahasa itu. Hal inilah yang kadang-kadang tidak mudah untuk dilakukan karena tidak setiap orang mampu mengenali kekuatan yang dimiliki oleh bahasa. Berdasarkan uraian di atas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut, “bagaimanakah menggali daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun?” Atas dasar rumusan masalah utama tersebut, disusun sub-masalah sebagai berkut.

a. Pada tataran bahasa dan pemakaian bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan?

b. Ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa?

c. Bagaimanakah penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun?

2. STUDI KEPUSTAKAAN

2.1 Daya Bahasa dan Efektifitas Pemakaian Bahasa

Beberapa ahli bahasa telah mengkaji daya bahasa. Sudaryanto (1991) menggali daya bahasa dari aspek linguistik. Hasilnya, hampir seluruh tataran bahasa ternyata mampu memunculkan daya bahasa. Daya bahasa terdapat dalam tataran bunyi, bentuk kata, struktur, leksikon (terutama pilihan kata) dan wacana. Pada tataran bunyi, bunyi bahasa dapat menunjukkan daya bahasa yang berbeda-beda. Kata yang mengandung bunyi /i/ mengandung daya bahasa yang berkadar makna kecil, seperti “cicit”, “kecil”, “muskil”, “kerikil”, “cukil”, “ambil”, “kandil”, “pentil“, “kutil“,dsb. Bunyi /o/ mengandung daya bahasa yang berkadar makna kata relatif besar, seperti kata-kata dalam bahasa Jawa pothol, kémpol, moprol, bedhol, ambrol, mbrojol, mbrobos, mbrodhol, bodhol, dsb.

Kemampuan memanfaatkan daya bahasa yang terdapat pada tataran bunyi, telah banyak digali oleh para penyair. Hal ini dapat dilihat pada baris-baris puisi yang memanfaatkan daya bunyi. Perhatikan kutipan di bawah ini!

DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN

…………………………………..

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas air mata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu.

Pegilah pergi, setiap pagi

Setelah dahi dan pipi kalian

Ibu ciumi

Mungkin ini pelukan penghabisan

(Ibu itu menyeka sudut-matanya).

Taufiq Ismail, Benteng, 1996.

Bunyi /i/ pada kata “dahi”, “pipi”, “ciumi” bait kedua puisi di atas menggambarkan adanya daya bahasa kerelaan seorang Ibu kepada puteranya yang akan berangkat berdemonstrasi. Bunyi /i/ memunculkan daya bahasa yang menggambarkan perasaan seorang Ibu yang “sedih”untuk melepas anaknya berangkat berdemonstrasi. Hal ini mengingatkan peristiwa masa lalu bahwa ayahnya tewas diterjang peluru tajam ketika melakukan hal yang sama.

Lain halnya dengan kata yang memiliki kemiripan makna (sudaryanto, 1991), seperti “cendhak, cedhak, cendhèk, celak, cepak, cekak”. Kata-kata ini masih dalam medan makna yang sama, tetapi bunyi-bunyi konsonan tengah pada kata-kata tersebut di samping dapat membedakan makna juga memiliki daya bahasa yang berbeda. Misalnya “Dhèwèké nganggo kathok cekak” berbeda makna dan daya bahasanya dengan “Dhèwèké nganggo kathok cendhak”. Kata “cendhak” masih memiliki multi tafsir makna, sehingga daya bahasanya kurang kuat, sedangkan kata “cekak” memiliki monotafsir yang berarti bercelana jauh di atas lutut, dan lebih memiliki daya bahasa yang kuat, yaitu mendekati pangkal paha. Bila daya bahasa bersifat universal, berarti daya bahasa pada bunyi juga dapat ditemukan dalam bahasa Indonesia. Daya bahasa seperti itu ternyata banyak dimanfaatkan oleh penyair. Perhatikan kutipan di bawah ini!

REFLEKSI SEORANG PEJUANG TUA

………………………..

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan

Setelah mereka menyimakkan deru sejarah

Dalam regu perkasa mulailah melangkah

Karena perjuangan hari-hari ini

Adalah perjuangan dari kalbu yang murni

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya

Kecuali duapuluh tahun yang lalu.

Tafiq Ismail

Benteng, 1996.

Kata-kata yang dicetak tebal memberikan daya bahasa yang sangat kuat bahwa “perjuangan memerangi kebatilan merupakan perjuangan hati nurani. Perjuangan seperti ini hanya terjadi di masa perjuangan kemerdekaan” (20 tahun lalu dihitung pada tahun1966).

Daya bahasa dapat juga digali melalui tataran bentukan kata. Kata-kata yang tidak berafik kadang-kadang justru memiliki daya bahasa yang lebih kuat ketika dipakai dibandingkan dengan kata berafik. Misalnya, kata “babat” lebih kuat daya bahasanya dibandingkan dengan kata “membabat” dalam konteks kalimat “Perambah hutan itu babat habis semua pohon yang berdiameter 10 cm ke atas”.

Namun, kata majemuk kadang-kadang juga memiliki daya bahasa yang lebih kuat dari pada kata dasar. Misalnya, kata majemuk “kuda lumping” dalam konteks “Penunggang kuda lumping itu kesurupan lantas makan beling”. Kata “kuda lumping” memiliki daya bahasa yang sangat kuat dibandingkan dengan frasa “penunggang kuda”.

Kata satu dengan kata lain memiliki daya bahasa yang berbeda-beda, seperti kata ‘mati’ atau ‘meninggal’ memiliki daya bahasa yang bersifat netral. Berbeda halnya dengan kata mampus, tewas, gugur, wafat, dsb. memiliki daya bahasa yang berbeda-beda. Kata mampus memiliki daya bahasa negatif yang didalamnya mengandung rasa dendam dan penuh kepuasan karena orang lain yang dibencinya tidak lagi dapat berbuat apa-apa seperti ketika masih berdaya atau hidup. Kata gugur memiliki daya bahasa yang hormat terhadap subjek karena kematiannya terjadi untuk membela kebenaran sehingga perlu mendapat penghargaan/ penghormatan, dsb.

Kata ‘senang’ memiliki daya bahasa yang berbeda dengan kata gembira, riang, sayang, kasih, cinta dsb. Kata gembira misalnya, memiliki daya bahasa karena di dalamnya mengandung rasa puas terhadap suatu keadaan yang diungkapkan dengan keceriaan wajah sambil senyum-senyum. Daya bahasa gembira berbeda dengan daya bahasa kata riang. Kata riang mengandung daya bahasa rasa puas terhadap suatu keadaan yang diungkapkan dengan tersenyum disertai gerakan tubuh seperti menari-nari atau menyanyi/ bersenandung.

Pada tataran struktur, daya bahasa dapat muncul sehingga memiliki kadar pesan yang berbeda antara struktur kalimat satu dengan struktur kalimat yang lain. Perhatikan contoh di bawah ini.

a. Aku memberi sepotong kue untuk pengemis yang kelaparan.

b. Sepotong kue aku berikan untuk pengemis yang kelaparan.

c. Untuk pengemis yang kelaparan aku beri sepotong kue.

Daya bahasa pada kalimat di atas terletak pada penempatan klosa pada awal kalimat. Kalimat (a) dengan menempatkan klosa “aku memberi” memiliki daya bahasa yang berbeda dengan struktur kalimat (b) yang menempatkan klosa “sepotong kue” pada awal kalimat. Begitu pula struktur (c) dengan menempatkan frasa “Untuk pengemis yang kelaparan” pada awal kalimat. Kalimat (a) daya bahasa muncul pada kata “pemberian”, kalimat (b) muncul pada frasa “sepotong kue” dan kalimat (c) muncul pada frasa “pengemis yang kelaparan”.

Bagaimana dengan struktur kalimat lain seperti di bawah ini?

d. Dia menghilang tanpa meninggalkan jejak.

e. Dia menghilang, tidak tahu ke mana perginya.

f. Dia menghilang ketika teman-temannya sedang menyelesaikan pekerjaan.

Unsur kalimat yang dicetak miring (d) memiliki daya bahasa yang sangat kuat karena ada penyangatan dapat menimbulkan makna afeksi “lenyap begitu saja”. Sementara itu, kalimat (e) dan (f) tidak memunculkan daya bahasa yang menimbulkan kesan makna khusus.

Daya bahasa pada wacana dapat muncul ketika kesatuan makna mengungkapkan kesatuan pesan. Pesan yang terungkap dari kesatuan makna tersebut muncul dalam bentuk wacana. Perhatikan kutipan di bawah ini

g. Yèn isih gelem apik karo aku, mbok coba kowé ameng-ameng nyang ngomahé diajak omong-omong kanthi alus. Nèk pancèn isih angèl coba amang-amangen bèn duwé rasa wedi. Déné nèk wis disabarké nganggo cara ngono isih tetap mbeguguk, kondhoa nek aku (ng)amuk bisa tak tumpes kelor.

Wacana di atas memiliki daya yang sangat kuat untuk menyampaikan pesan. Wacana (g) dengan pilihan kata yang tepat dalam setiap kalimatnya, seperti “amêng-amêng”, disusul “omong-omong”, “amang-amang”, dan “(ng)amuk” memiliki daya bahasa yang sangat kuat bagi pendengarnya. Daya bahasa itu muncul karena adanya perbedaan vokal dalam setiap kata. Lebih terasa kuat lagi ketika masing-masing kata memang memiliki makna yang berbeda dan memperlihatkan adanya gradasi dari kata yang sangat biasa ke kata yang memiliki makna afeksi yang sangat kuat, yaitu (ng)amuk.

Daya bahasa dapat juga diungkapkan melalui pemakaian majas.

h. Lha dhèwèké ki utangé wis numpuk nganti sak gunung, sapa sing bisa nulung.Uripku dhéwé waé kaya ngéné.

i. Dapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah (semboyan dalam iklan pegadaian).

j. Pilih sendiri tipe rumahnya, tentukan sendiri besar angsurannya (iklan perumahan) majas repetisi.

Wacana (h) daya bahasa muncul karena pemakian majas hiperbola pada utangé … sak gunung” yang menggambarkan bahwa hutangnya sangat banyak. Wacana (i) daya bahasa muncul karena pemakaian majas repetisi pada “menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah yang menggambarkan betapa hebatnya tindakan itu (slogan pegadaian). Wacana (j) daya bahasa timbul karena pembaca dapat marasakan betapa enaknya jika ingin memiliki rumah. Hal ini muncul karena menggunakan daya bahasa repetisi.

2.2 Daya Bahasa dan Kesantunan

Daya bahasa juga dapat menunjukkan tingkat kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi. Pemakaian kata tertentu ketika menyampaikan kritik kepada orang lain, dapat terasa keras dan kasar. Perhatikan kutipan di bawah ini.

(1) Pemerintah dinilai gagal memenuhi kebutuhan dasar rakyat, terutama dalam menegakkan kedaulatan ekonomi dan hukum (Amin Rais; Kompas: 05/05/2008:2).

(2) Kegagalan pemerintah ini dipicu akibat ketidaktegasan pemerintah ymembuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat (Amin Rais, Kompas: 05/05/2008:2).

(3) ……Adapun untuk kawasan hutan lindung dan konservasi biasanya dialihfungsikan menjadi areal perkebunan, pertambangan, atau hanya diambil kayunya lalu ditelantarkan (Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi; Kompas: 07/05/2008:18).

(4) Pemda hasil pemekaran adalah pihak yang paling berambisi mengalihfungsikan hutan lindung di kawasannya (Koordinator Program Nasional Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi; 07/05/2008:18)

Kata gagal, kegagalan, ketidaktegasan, ditelantarkan, berambisi dalam konteks di atas menyatakan kritik penutur kepada mitra tutur yang sangat keras. Kata-kata yang dicetak tebal memunculkan daya bahasa yang sangat kuat. Karena kuatnya daya bahasa, kritik yang disampaikan menjadi tidak santun.

Pemakaian kata seperti itu, memang daya bahasa yang muncul sangat kuat. Namun, karena dipakai dalam konteks yang tidak santun, tuturan menjadi tidak memperlihatkan kearifan penutur. Dalam ungkapan Jawa kritik memang diperbolehkan, namun hendaknya disampaikan secara arif, “ngono ya ngono, ning aja ngono”. Dengan demikian, ibarat orang mengail “kena iwake ning aja nganti buthek banyune”.

Dalam konteks kesantunan berbahasa, daya bahasa yang bernada negatif hendaknya tidak digali semaksimal mungkin agar tidak melukai hati mitra tutur. Sebaliknya, daya bahasa yang bernada positif hendaknya digali semaksimal mungkin agar menjadikan tuturan semakin santun.

Suatu tuturan dikatakan santun apabila dapat meminimkan pengungkapan pendapat yang melukai hati mitra tutur (Leech, 1983). Salah satu cara untuk meminimalkan ungkapan yang tidak santun menurut pendapat saya adalah tidak mengeksploitasi daya bahasa yang berkadar tidak santun semaksimal mungkin. Dalam kaitannya dengan hal di atas, Leech menyarankan agar dipakai beberapa maksim kesantunan sebagai berikut, yaitu (a) maksim kebijaksanaan “tact maxim” (berilah keuntungan bagi mitra tutur), (b) maksim kedermawanan “generosity maxim” (maksimalkan kerugian pada diri sendiri), (c) maksim pujian “praise maxim” (maksimalkan pujian kepada mitra tutur), (d) maksim kerendahan hati (minimalkan pujian untuk diri sendiri), (e) maksim kesetujuan (maksimalkan kesetujuan dengan mitra tutur), (f) maksim simpati “sympaty maxim” (maksimalkan ungkapan simpati kepada mitra tutur), (g) maksim pertimbangan “consideration maxim” (minimalkan rasa tidak senang pada mitra tutur dan maksimalkan rasa senang pada mitra tutur).

Dengan maksim-maksim di atas, akibatnya tuturan banyak disampaikan dalam bentuk tidak langsung. Motivasi penggunaan tindak tutur tidak langsung dimaksudkan agar ujaran terasa santun. Karena itulah, ungkapan “ngono ya ngono, ning aja ngono” menjadikan daya bahasa yang cenderung berkadar tidak santun dapat dinetralkan agar tetap santun. Untuk mengoptimalkan daya bahasa, terutama daya bahasa yang cenderung tidak santun, penutur biasanya menggunakan implikatur (Levinson, 1985). Implikatur adalah apa yang tersirat dari suatu ujaran. Jika kita bedakan “apa yang dikatakan” (what is said) dari “apa yang dikomunikasikan” (what is communicated), implikatur termasuk “apa yang dikomunikasikan”.

2.3 Kerangka Berpikir

Berdasarkan uraian di atas, tergambar dengan jelas betapa kuatnya daya bahasa. Oleh karena itu, untuk menggali daya bahasa agar tuturan dapat efektif tetapi tetap memperlihatkan kesantunan dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Petama, daya bahasa dapat digali melalui aspek-aspek linguistik, baik yang terdapat dalam tataran bunyi (seperti persajakan aliterasi dan asonansi bunyi pada kata-kata tertentu yang dinilai dapat memunculkan efek makna yang lebih kuat dari pada kalau kata-kata itu dipakai tanpa memperhatikan persajakan), bentuk kata (seperti, kata dalam majas yang dinilai memiliki daya bahasa yang sangat kuat dari pada kata biasa), struktur kalimat/tuturan (seperti, pemfokusan kata dengan menempatkan kata pada awal kalimat), leksikon (terutama diksi) (seperti, menggunakan sinonim kata yang dinilai memiliki efek makna yang lebih kuat dari kata lainnya; atau memilih kata dengan permainan vokal), serta wacana dapat memunculkan daya bahasa yang memiliki pengaruh psikologis yang kuat terhadap pendengar atau pembacanya (ameng-ameng, omong-omong, amang-amang,dan amuk).

Kedua, daya bahasa juga dapat digali melalui aspek-aspek pragmatik. Dari aspek pragmatik, daya bahasa dapat digali melalui maksim-maksim kesantunan berbahasa. Hal ini akan nampak pada maksim-maksim kesantunan, seperti (a) maksim kebijaksanaan “tact maxim”, (b) maksim kedermawanan “generosity maxim”, (c) maksim pujian “praise maxim”, (d) maksim kerendahan hati, (e) maksim kesetujuan, (f) maksim simpati “sympaty maxim”, serta (g) maksim pertimbangan “consideration maxim”.

Secara skematis, kerangka berpikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Daya Bahasa

Secara Linguistik

Tataran bunyi

Bahasa menjadi efektif dan santun

Tataran bentuk kata

Tataran struktur

Tataran leksikon

Tataran wacana

Secara Pragmatik

Maksim kebijaksanaan

Maksim kedermawanan

Maksim pujian

Maksim kerendahhatian

Maksim kesetujuan

Maksim kesimpatian

Maksim pertimbangan

3. METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Artinya, fenomena-fenomena bahasa dan pemakaian bahasa diamati untuk melihat keteraturan (regularity) sebagai usaha untuk menyusun rumusan kaidah daya bahasa. Kerangka teori digunakan sebagai pemandu peneliti untuk mengkaji fenomena bahasa dan pemakaian bahasa. Dengan demikian, pada akhirnya teori bersifat graunded yang disusun dan dirumuskan atas dasar data yang ditemukan di lapangan.

Setelah data dikumpulkan, analisis data dilakukan secara deskriptif. Artinya, peneliti berusaha untuk menginventarisasi data, mengidentifikasi data, mengklasifikasi data berdasarkan kesamaan ciri, dan pada akhirnya peneliti akan merumuskan kaidah daya bahasa dan pemakaian daya bahasa.

3.2 Sumber Data Penelitian

Sumber data penelitian berupa karya sastra yang dianggap sebagai karya puncak pada zamannnya, yaitu karya sastra angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 45, angkatan 66, serta karya sastra angkatan sesudahnya. Karya sastra yang dijadikan sumber data berupa puisi, cerpen, dan novel atau roman.

3.3 Data dan Teknik Pengumpulannya

Data penelitian adalah berupa bunyi, kata, kalimat, pilihan kata, serta wacana yang terdapat dalam karya sastra, baik puisi, cerpen, novel atau roman. Data dikumpulkan dengan metode baca dan catat. Setiap sumber data dibaca oleh peneliti. Setelah sumber data dibaca, fenomena-fenomena yang dicurigai mengandung daya bahasa (baik dalam bentuk bunyi/fonem, bentuk kata, struktur kalimat, pilihan kata, serta wacana) dicatat sebagai data.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian pada dasarnya adalah peneliti sendiri. Namun, dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh pengumpul data yang sebelumnya sudah diberi pelatihan dan bekal mengenai teori linguistik dan teori pragmatik yang dipakai sebagai dasar pengumpulan data dan teknik-teknik pengumpulan data. Rambu-rambu pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut.

a. Bunyi/fonem dalam kata yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah dilacak kembali sumber aslinya.

b. Bentuk kata (baik asal, dasar, atau turunan) yang diduga memnculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

c. Struktur kalimat yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar mudah dilacak kembali sumber aslinya.

d. Pilihan kata (diksi) yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

e. Wacana yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

3.5 Analisis Data

Analsis data dilakukan secara reflektif interpretatif . Data yang sudah terkumpul digunakan untuk menginventarisasi daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa. Berdasarkan hasil inventarisasi daya bahasa, kemudian ditentukan ciri-ciri penanda daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa. Setelah data diidentifikasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu untuk selanjutnya dideskripsikan (a) tataran bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan, (b) ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa, (c) penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun, dan (d) kaidah yang dapat digunakan untuk memakai daya bahasa.

3.6 Trianggulasi

Trianggulasi adalah proses validasi untuk penelitian kualitatif. Hal ini dilakukan melalui berbagai tahap.

a. Trianggulasi data adalah proses pengumpulan data secara representatif. Data dikatakan representatif apabila sudah tidak lagi menemukan fenomena baru dalam pengumpulan data.

b. Trianggulasi hasil analisis data dilakukan dengan mengkonfirmasi hasil analisis data dengan para pakar bahasa. Hal ini dilakukan dengan cara berdiskusi dengan para pakar bahasa.

4. DAFTAR PUSTAKA

Austin, J.L. 1978. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press.

Brown, P. dan S. Levinson. 1987. Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge: CUP

Burhan Nurgiyantoro. 1995. Teori Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Cruse, Alan. 2000. Meaning in Language. Oxford: Oxford University Press

Grice, H. P. 1975. “Logic and conversation”. Dalam Cole, P. dan J. L. Morgan [ Syntax and Semantics 3: Speech Acts

Gunarwan, Asim. 2005.”Beberapa Prinsip dalam Komunikasi Verbal: Tinjauan Sosiolinguistik dan Pragmatik” dalam Pranowo (2005). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Jassin, H.B. 1988. Angkatan ’66. Jakarta: CV. Haji Masagung.

Leech, G. N. 1983. Principles of Pragmatics. Harlow: Longman Magnis Suseno, Frans. 1984. Etika .Jawa. Jakarta: Gramedia

Pranarka, Dr. 1979. “Demokratisasi Bahasa” (Makalah). Yogyakarta: Saijanawiyata Tamansiswa.

Pranowo. 2005. “Kesantunan Berbahasa Pam Elit Politik” (makalah). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Pranowo. 2008. Kesantunan dalam Pemakaian Bahasa Indonesia (Hasil Penelitian). Yogyakarta: PBSID, FKIP Universitas Sanata Dharma.

Searle, J.R. 1969. Speech Acts: An Eassey in the Phillosophy of Language. Cambridge University Press.

Sudaryanto. 1991. Potensi Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana Press.

Thomas, Jenny. 1995. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. London & New York: Longman.