Arsip untuk ‘Pedagogis’ Kategori

KTSP

April 24, 2009

KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia

1. Pendahuluan
Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh isu pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007.
Adanya tiga macam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar di masyarakat. Guru sebagai orang yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang paling dibingungkan dengan situasi ini. Tulisan ini akan membahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
2. KTSP
KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010.
KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.
Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan komite sekolah. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP.
3. Bahan Ajar
Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan.
Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan.
Untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Kedua jenis sumber ini dapat dimanfaatkan. Bahan bacaan yang mengandung muatan nasional dan global dapat diambil dari surat kabar berskala nasional, sedangkan bahan bacaan yang mengandung muatan lokal dapat diambil dari surat kabar daerah. Berdasarkan bahan bacaan ini, guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual. Peserta didik diperkenalkan dengan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan masyarakat yang tatarannya lebih luas.
Bahan ajar yang beragam jenis dan sumbernya ini tentu juga dapat digunakan untuk pelajaran-pelajaran yang lain (menulis, mendengarkan, dan berbicara).
Mengingat pentingnya televisi dan komputer (internet) dalam kehidupan sekarang ini, guru perlu memanfaatkan bahan ajar dari kedua sumber ini. Televisi dan komputer juga dapat dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang menarik.
4. Metode Pembelajaran
Dalam KTSP guru juga diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat, perhatian, dan kreativitas peserta didik. Karena dalam KTSP guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik, metode ceramah perlu dikurangi. Metode-metode lain, seperti diskusi, pengamatan, tanya-jawab perlu dikembangkan.
Pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi, misalnya, dapat melibatkan partisipasi dari semua peserta didik. Semua peserta didik dapat berbicara, mengemukakan pendapatnya masing-masing. Guru dalam hal ini hanya mengarahkan bagaimana diskusi berjalan. Isu diskusi perlu dikaitkan dengan lingkungan sekitar (sekolah, daerah) hingga lingkungan global.
Kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kegiatan dapat dilakukan di luar kelas (perpustakaan, kantin, taman, dsb.), di luar sekolah (mengunjungi lembaga bahasa, stasiun radio/televisi, penerbit, dsb.). Beragamnya tempat pembelajaran dapat membuat suasana belajar yang tidak membosankan.
Kegiatan pembelajaran dapat juga melibatkan orang tua dan masyarakat. Sekolah dapat mengundang orang yang mempunyai profesi tertentu atau ahli dalam bidang tertentu untuk berbicara dan berdialog dengan peserta didik. Sebagai contoh, dalam pelajaran menulis dan berbicara (wawancara), kalau ada orang tua peserta didik yang berprofesi sebagai wartawan, guru dapat mengundang orang yang bersangkutan untuk berbicara dan berdiskusi tentang pekerjaannya denga peserta didik. Kegiatan seperti ini akan berguna untuk peserta didik, guru, dan orang tua. Mereka dapat saling belajar dan proses pembelajaran menjadi menarik dan bersifat kontekstual.
Dalam lingkungan sekolah, staf sekolah juga dapat dimanfaatkan. Misalnya, untuk pelajaran menulis surat resmi guru bisa meminta staf administrasi untuk berbicara tentang penulisan surat. Di samping berguna sebagai sumber pembelajaran, kegiatan ini juga berguna untuk membentuk lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu adanya hubungan dan kerja sama yang baik di antara peserta didik, guru, dan staf.
Kalau memungkinkan, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan kunjungan peserta didik kepada orang dengan profesi tertentu (misalnya penyunting bahasa atau penterjemah) atau ke lembaga tertentu (misalnya lembaga bahasa atau penerbit) untuk menggali informasi tentang bahasa Indonesia. Kegiatan ini akan membuka wawasan peserta didik dan guru akan profesi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan akan pentingnya bahasa Indonesia sehingga diharapkan muncul sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
5. KTSP: Peluang dan Tantangan
Pemberlakuan KTSP pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah. KTSP merupakan kurikulum yang sesuai dengan dinamika kehidupan di Indonesia sekarang ini dikaitkan dengan isu-isu seperti globalisasi dan otonomi daerah. Akan tetapi, pelaksanaan KTSP menuntut banyak hal dari sekolah dan masyarakat seperti profesionalisme, kreativitas, kemandirian guru dan kepala sekolah, serta keterlibatan masyarakat. Pelaksanaan KTSP juga menuntut banyak hal dari pemerintah seperti perencanaan pendidikan yang baik dan terarah, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, dan birokrasi/prosedur administrasi yang sederhana. KTSP juga menuntut partisipasi dan kepedulian masyarakat. Dengan persiapan yang matang dan suasana yang kondusif, KTSP berpeluang besar untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi yang diharapkan.
Tantangan bagi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah meningkatkan profesionalisme. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, guru perlu terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pembelajaran dan berbahasa Indonesia.
6. Penutup
Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apa pun kurikulumnya, guru bahasa Indonesia harus tetap berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik. Karena kurikulum yang akan berlaku dalam beberapa tahun mendatang adalah KTSP, guru perlu mengenal, mempersiapkan diri, dan menyiasati kurikulum ini. Dengan demikian, guru akan dapat menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul.
DAFTAR PUSTAKA
Alwasilah, A. Chaedar. 2006. “Kurikulum Bahasa Berbasis Sastra.” Makalah untuk Seminar Nasional Kondisi Bahasa Indonesia Masa Kini, Akademi Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Drost, J. 2006. Dari KBK sampai MBS. Jakarta: Buku Kompas.
Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdkarya.
Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya.
_________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Statu Tinjauan Kritis. Yakarta: Rineka Cipta

Seleksi Bahan dan media

April 16, 2009

Seleksi Bahan dan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia

1. pendahuluan

Pada umumnya di dalam kelas guru melakukan banyak kegiatan yang merupakan bagian dari siasat pengajaran. Guru sering kali berfungsi sebagai pemberi motivasi, penyaji informasi, pemimpin latihan dan penguji. Guru membuat keputusan yang mempengruhi seluruh kelas maupun setiap siswa.

Apabila seorang guru mengajarkan bahan pengajaran mengenai setiap pokok bahasan kepada siswa-siswanya, ia harus mengadakan persiapan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.

Bahan atau materi pengajaran yang pertama merupakan bahan pengajaran yang seluruhnya dapat dipelajari sendiri oleh siswa.

2. Memilih materi pengajaran yang sesuai

Menurut Kemp (1977, 44) materi pembelajaran dalam hubungannya dengan proses penyusunan desain intruksional merupakan gabungan antara pengetahuan, ketrampilan dan faktor sikap.

Selesai mengembangkan siasat pengajaran ialah menentukan apakah sudah ada material yang cocok dengan tujuan pengajaran. Siasat pengajaran dapat digunakan untuk menentukan apakah bahan yang telah tersedia sudah memenuhi syarat, atau perlu disesuaikan sebelum dipakai.

2.1 Menurut (Munandir. 1987:199-200) Penilaian bahan dilakukan guna menentukan apakah:

1) Cukup menarik,

2) Isinya sesuai,

3) Urutanya tepat,

4) Informasi yang dibutuhkan ada,

5) Ada soal latihan,

6) Jawaban latihan diberikan,

7) Terdapat tes yang sesuai,

8) Terdapat petunjuk lanjutan yang jelas untuk usaha perbaikan, remediation,

9) Latihan lanjutan, atau kemajuan siswa secara umum,

10) Petunjuk bagi siswa yang mengarahkan mereka dari satu kegiatan yang lain.

2.2 Menentukan materi pokok atau pembelajaran (Depdikbud. 2006:13-14)

Dalam menntukan materi pokok atau pembelajaran harus dipertimbangkan:

a. Relevansi materi pokok dengan SK dan KD;

b. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;

c. Kebermanfaatan bagi peserta didik;

d. Struktur keilmuan;

e. Kedalaman dan keluasan materi;

f. Relefansi dengan kebutuhan peserta didik dan tututan lingkungan;

g. Alokasi waktu.

2.3 Kriteria dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran:

a. Kegiatan pembelajaran disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara profesional sesuai dengan tuntutan kurikulum.

b. Kegiatan pembelajaran disusun berdasarkan atas satu tuntutan Kompetensi Dasar secara utuh.

c. Kegiatan Pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai Kompetensi Dasar.

d. Kegiatan Pembelajaran terpusat pada siswa (student-centered). Guru harus selalu berpikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah ditetapkan.

e. Materi kegiatan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

f. Perumusan kegiatan pembelajaran harus jelas memuat materi yang harus dikuasai untuk mencapai Kompetensi Dasar.

g. Penemuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi KD-KD yang memerlukan prasyarat tertentu.

h. Pembelajaran bersifat spiral (terjadi pengulang-pengulangan pembelajaran materi tertentu).

i. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan kegiatan pembelajaran siswa, yaitu kegiatan (siswa dan guru) dan obyek belajar.

2.4 Prinsip-prinsip penyusunan bahan pembelajaran

Dalam rangka mewujudkan bahan pembelajaran yang tepat sasaran khususnya ketercapaian penguasaan kompetensi pembelajar, sejumlah prinsip memang perku diperhatikan guru dalam menyusun bahan pembelajaran. Prisip-prinsip itu adalah:

a. Keaslian dan validitas

Materi pembelajaran dikatakan asli/ otentik apabila materi tersebut menggambarkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang benar-benar digunakan atau dapat dijumpai dalam komunikasi atau dalam kehidupan nyata. Keaslian materi ini juga mempengaruhi kadar validitasnya, semakin otentik materi, semakin dapat dipercaya kebenaranya.

b. Tingkat kepentingan materi

Materi pembelajaran yang dipilih hendaknya benar-benar penting bagi pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi mereka. Materi yang disusun diharapkan mampu mencapai sasaran minimal indikator-indikator pembelajaran.

c. Keterbelajaran

Materi yang dipilih dan dikembangkan dalam pembelajaran hendaknya benar-benar dapat dipelajari oleh pembelajar.

d. Keajegan/konsisten

Materi yang disiapkan guru hendaknya taat dengan kompetensi yang hendak dicapai.

e. Kebermanfaatan

Materi-materi yang dihadirkan di kelas hendaknya benar-benar bermanfaat untuk hidup mereka. Mater-materi yang dapat langsung dimanfaatkan dalam kehidupan mereka akan sangat membantu penguasaan keterampilan pembelajar.

f. Keberagaman

Bahan/materi pembelajar yang beragam akan membantu pembelajar untuk memahami berbagai jenis teks dan akan memperkaya mereka dengan beragam informasi yang terkandung dalam materi. Selain itu, bahan yang beragam akan semakin memotivasi pembelajar dan mengurangi kebosanan pembelajar.

g. Kemenarikan

Kemenarikan materi dapat dilihat dari aspek penampilan dan isi. Penampilan materi yang menarik (dilengkapi dengan gambar, grafik, warna, dan bagan) tentu sajaakan mempengaruhi pembelajar untuk mempelajarinya. Isi materi dikatakan menarik bila sesuai dengan tingkat umur, minat, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikologisnya.

h. Kebermaknaan

Materi yang bermakana adalah materi yang dikembangkan sesuai kebutuhan pembelajar, memungkinkan mereka dapat mengungkapkan ide,pikiran, gagasan, perasaan, dan informasi kepada orang lain, baik secara lisan maupun tertulis.

Selain delapan prinsip di atas, ada tiga lagi yaitu: Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya harus relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi yang harus dikkuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Prinsip kecakupan ialah materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa mengiuasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompentensi dasar. Sebaliknya, bila terlalu banyak akan buang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya (Depdiknas, 2006: 6-7).

2.5 Seleksi dan pengorganisasian materi

Materi pembelajaran tentang empat keterampilan berbahasa , kebudayaan, dan berpikir literat hendaknya diseleksi dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan siswa berada. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui materi tersebut. Pemilihan materi pembelajaran hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip berikut ini.

a. Kebenaran materi. Sangatlah penting bagi para guru untuk membekali anak-anak dengan materi pembelajaran yang benar dilihat segala aspeknya. Guru hendaknya senantiasa berupaya menjauhkan aspek-aspek kekeliruan dari materi pembelajaran. Beberapa kajian  psikologis menegaskan bahwa sangatlah sulit melepaskan kekeliruan yang tertanam dalam diri siswa melalui kegiatan pembelajaran.

b. Kesesuaian materi dengan tingkat intelektual siswa. Materi tidak boleh berada di atas jangkauan penalaran siswa, sehingga menyulitkan mereka dalam memahaminya, dan jangan pula terlampau mudah, sehingga tidak menarik perhatian siswa. Para siswa, misalnya,  mengalami kesulitan untuk memahami konsep waktu dalam verba bahasa Arab. Karenanya, hal itu tidak sepatutnya disajikan kepada mereka pada kelas-kelas permulaan.

c. Hendaknya materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan siswa dan dengan lingkungan di mana dia hidup. Siswa yang duduk di kelas permulaan, tidak perlu disuguhii bacaan yang tentang keadaan geografis Kerajaan Arab Saudi, tetapi sebaiknya disuguhi topik tentang diri dan keluarganya yang setiap hari dijumpainya.

d. Pemilihan materi juga harus diselaraskan dengan alokasi waktu. Materi jangan terlalu panjang, sehingga membosankan siswa dan menyulitkan mereka. Sebaliknya, materi jangan pula terlampau pendek, sehingga mereka dapat memahaminya dalam waktu singkat dan waktu tersisa digunakan secara tidak produktif.

e. Hendaknya materi disusun dalam urutan yang logis. Setiap bagian materi  harus benar-benar berkaitan dengan materi sebelumnya. Unit-unit materi hendaknya saling berkaitan dan bertaut serta terlihat jelas benang merahnya.

f. Materi hendaknya terbagi ke dalam unit-unit utama. Setiap unit merupakan kumpulan dari unit-unit yang lebih kecil daripada unit utamanya. Tujuan dari pembagian materi ke dalam beberapa unit ini ialah agar pertama-tama guru dapat merancang  kegiatannya, dan agar guru dapat membagi materi dari kurikulum ke dalam  satuan-satuan alamiah yang logis sebagai kegiatan harian, mingguan, atau semesteran. Ini bukan berarti urutan materi itu harus sesuai dengan urutan dalam buku teks, sebab buku disusun selaras dengan tuntutan percetakan, penulisan, dan penyusunan yang belum tentu sesuaii  dengan kegiatan mengajar.

g. Materi pelajaran yang baru hendaknya dikaitkan dengan pelajaran yang lama. Hal ini menuntut guru untuk menghubungkan materi baru dengan materi lama. Sebaiknya guru menjadikan kesulitan pada pelajaran yang lalu sebagai bahan  penyampaian pelajaran yang baru.

Prinsip-prinsip menyeleksi materi Pembelajaran seperti dikemukakan oleh Aziz (1982: 210-217) tersebut, selanjutnya  diorganisasikan menurut landasan dan prinsip-prinsip berikut.

a. Guru memilih bagian materi yang selaras dengan tingkat intelektual siswa dan dengan alokasi waktu yang tersedia.

b. Guru memilah materi ini ke dalam beberapa sekuens – tentu saja di antara sekuens tersebut perlu ada perhentian – dan pada akhir dari setiap sekuens hendaknya ada masa yang dimanfaatkan untuk mereviu sekuens sebelumnya.

c. Hendaknya guru memvariasikan ilustrasi dan contoh, sehingga tampak jelas keuniversilan dan kekokohan teori atau prinsip yang diajarkan.

d. Hendaknya guru memfokuskan diri pada point yang dianggap penting bagi siswa. dia pun hendaknya beralih secara berangsur-angsur dari point yang satu ke point yang lain. peralihan hanya dilakukan jika siswa telah mampu mencerna point sebelumnya. guru jangan hanya mementingkan penjelasan aneka hakikat, tetapi perlu menggali hapalan dan ingatan para siswa.

e. Hendaknya guru menjelaskan hubungan antara point yang satu dengan point yang lain, sehingga dengan cara seperti itu materi pembelajaran merupakan satu kesatuan yang utuh.

f. Perlu diperhatikan pelibatan siswa dalam kkegiatan pembelajaran pada setiap kesempatan yang ada, baik melalui cara bertanya atau diminta mengulangi atau menyebutkan materi yang telah disampaikan. hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar mengerahan upayanya dalam mencapai kebenaran dan agar mereka tidak mengalami kebosanan.

g. Guru perlu memilah antara siswa yang cerdas dan yang normal, antara yang kuat dan yang lemah. demikian pula guru hendaknya mendistribusikan pertanyaan kepada seluruh siswanya secara proporsional, di samping berupaya membangkitkan siswa yang lemah.

2.6 Langkah-langkah penyusunan bahan pembelajaran (Rishe, 2007:127-129)

Langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

b. Sebelum memilih materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipaelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.

c. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran

d. Materi pembelajaran jug dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (depdiknas, 2006: 7-11)

e. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetansi dasar

f. Hal yang dapat dilakukan berkaitan dengan pemilihan jenis materi ini adalah:

1) Mengidentifikasi apakah termasuk fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis materi, hal ini memudahkan guru dalam pembelajaran.

2) Memilih jenis materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.

g. Memilih sumber bahan ajar

Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audiovisual, dsb.

Pemilihan dan pengembangan media

Media pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra).

Peran itu antara lain:

a. media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi,

b. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan

c. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.

3.1 Para ahli mendefinisikan media pembelajaran berbeda-beda. Pada dasarnya media pembelajaran merupakan bagian:

a. sarana pembelajaran berupa alat fisik (manusia, materi, peristiwa),

b. berisi pesan pembelajaran,

c. mampu menciptakan komunikasi efektif atara pembelajar denagn materi pembelajaran, dan

d. mampu mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran (Arsyad, 2005:5).

3.2 Jenis-jenis media pembelajaran

Paul dan David (1999: 144-149, melalui Rishe, 2007: 133, dalam Gatra) mengkategorikan media menjadi enam kategori, yaitu:

a. Media yang tidak diproyeksikan

Meliputi: papan tulis, papan flip, grafik, peta, gambar, realia, model tiruan, papan pameran, dan diorama.

b. Media yang diproyeksikan

Meliputi: OHP, slide, dan proyektor.

c. Media audio

Meliputi: pita kaset, rekaman piringan, dan compact disc.

d. Media film dan video (audio-visual)

Berupa kaset video (DVD dan sejenisnya) yang memuat pengkisahan (film).

e. Multimedia

Menyangkut dengan koleksi berbagai tipe media yang terikat dalam satu topik tertentu. Misal, modul pembelajaran yang berupa teks berisi soal-soal dilengkap[I dengan gambar dan program powerpaint.

Media berbasis komunikasi

Diantaranya teleconference, dan kuliah jarak jauh (telelecture).

3.3 Pemilihan media pembelajaran

Menurut Ade Koesnandar (melalui Rishe, 2007: 133-134, dalam Gatra) ada enam dasar penentuan pemilihan media pembelajara. Dasar ini dikenal denagan ACTION berikut ini penjelasanya:

1. Accsess

Accsess adalah kemudahan memperoleh dan menggunakan media.

2. Cost

Cost berhubungan dengan biaya pengadaan dan penggunaan media.

3. Technology

Technology berhubungan dengan ketersediaan media dan fasilitas pendukungnya.

4. Interactivity

Interactivity berkaitan dengan penciptaan komunikasi dua arah antara media dengan materi pembelajaran serta pencapaian keterpahaman siswa.

5. Organization

Organization berhubungan dengan relasi koordinasi atara guru dan pihak sekolah dalam memanfaatkan fasilitas media pembelajaran yang ada di sekolah.

6. Novelty

Novelty berkaitan dengan perkembangan media pembelajaran yang baru. Guru perlu mengetahui perkembangan media pembelajaran yang baru dengan maksud meningkatkan motivasi dan ketertarkan siswa dalam belajar. Penggunaan alat yang baru akan menambah pemahaman siswa tidak perlu media mahal dan canggih paling tidak siswa menapatkan variasi media dalam pembelajaran di kelas.

3.4 Dasar pemilihan media Arsyad (2007:75, melalui Rishe, 2007: 134)

a. kemampuan institusi

b. kesesuaian dengan materi pembelajaran

c. karakteristik siswa

d. kemampuan dan sikap guru

e. tujuan pembelajaran

f. interaksi/ strategi pembelajaran

g. lokasi pembelajaran

h. waktu

i. kualitas alat

j. kepraktisan

3.5 Penggunaan media pembelajaran

Menurut Rishe (2007: 134-135, dalam Gatra) alasan perlunya media digunakan dalam pembelajaran di kelas adalah:

a. media pembelajaran dapat menarik perhatian pembelajaran.

b. media pembelajatran dapat dijadikan sarana mengingat materi pembelajaran yang lalu.

c. media pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam pemerolehan materi yang baru dan mengingat materi pembelajaran yang lalu.

d. media pembelajaran merupakan sarana pendukung dalam menyediakan contoh-contoh materi yang dapat divisualisasikan secara nyata di dalam kelas.

e. materi pembelajaran menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.

f. media pembelajaran dapat dijadikan untuk menilai kefektovan keseluruhan proses pembelajaran yang diperoleh melalui umpan balik nyata yang diperhatikan para pembelajarnya.

g. media pembelajaran membantu pembelajar dalam memperoleh gambaran utuh tentang suatu materi dan kemudahan memahami materi.

h. media pembelajaran dapat dijadiakan sarana peilaian tugas pembelajaran siswa.

3.6 Langkah-langkah penggunaan media menurut Lisa Livingston (melalui Rishe, 2007:135, dalam Gatra) antara lain:

  1. mengidentifikasi materi pembelajaran yang akan disampaikan di kelas.
  2. mengorganisasikan materi mana yang perlu menggunakan media pembelajaran atau semua media memerlukan media dalam kegiatan pembelajaran.
  3. menentukan jenis media yang akan dipergunakan berkaitan materi pembelajaran.
  4. memastikan medaia yang dipilih dapat dioperasikan oleh guru.
  5. menyusun materi pembelajaran secara utuh kedalam media pembelajaran (pemilihan gambar ilustrasi, kemenarikan, unsur pendukung audio perlu diperhatikan).

3.7 Langkah-langkah pemilihan media

Pada dasarnya pemilihan media hendaknya didasarkan atas pertanyaan yang berhubungan dengan tujuan instruksional, materi dan karakteristik media tertentu dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a. Penerangan atau pengajaran

Menentukan apakah media untuk keperluan informasi atau pengajaran. Penerimaan informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan atau ketrampilanya. Sedangkan pembelajarannya yaitu harus menunjukkan kemampuanya sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.

b. Tentukan tranmisi pesan

c. Tentukan karakteristik pelajaran

Kita melakukan persiapan pendahuluan untuk menyusun desain intruksional, di mana kita telah melakukan analisis tentang perlunya mengajar, merumuskan tujuan umum, dan tujuan intstruksional khusus, telah memilih materi dan metode.

Perlu dianalisis apakah TIK yang telah ditentukan tersebut termasuk di dalam aspek pengetahuan, perasaan atau gerak. Masing-masing aspek ini memerlukan media yang berbeda-beda.

d. Klasifikasi media

Media bisa dikelompokkan sesuai dengan ciri khusus masing-masing. Tiap media mempunyai ciri khas, termasuk kelebihan dan kekurangannya bila dibandingkan dengan media lainnya.

e. Analisis karakteristik masing-masing media

Masing-masing media perlu didiskusikan, dianalisis mengenai kebaikan dan kekurrangannya dalam mencapai objective (TIK) yang telah ditentukan. Diperhatikan juga pertimbangan ekonomi, tersedia dengan mudah atau sukar dan sebagainya.

3.8 Problem-problem dalam pemilihan media

a. Seberapa jauh dalam kegiatan belajar diperlukan simuklasi atau tiruan dengan benda atau keadaan sehari-hari atau senyatanya?

b. Media apakah yang paling praktis dapat di produsir, digunakan dengan sesuai dengan rencana pembelajaran?

c. Apakah diperlukan equipment (peralatan) pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan media tersebut?

d. Seberapa jauh prestasi yang harus dicapai oleh siswa menurut desain instruksional yang telah disusun?

e. Apakah nilai perkuliahan dalam arti banyaknya siswa yang diajar, ketrampilan yang dicapainya sepadan dengan media yang digunakan?

3.9 Kelebihan dan keterbatasan beberapa media

Team pengembangan kurikulum Pusat Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan (TKPK) di dalam diskusi kerja bulan Maret 1978 di Hotel Sabang Jakarta telah mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan beberapa media seperti:

a. Media radio

Kelebehan media radio

1) Meningkatkan kemampuan murid untuk berkomunikasi secara lisan

2) Memberikan penerangan secara lain bagi bagian-bagian yang akan menjadi lebih hidup bila disampaikan secara auditif.

3) Mengembangkan imajinasi murid.

4) Sebagai sarana pemantapan dan pengayaan bahan pelajaran.

5) Memberikan penguatan pada bagian yang penting.

6) Sebagai salah satu cara untuk menyampaikan evaluasi dan feedback kepada murid.

7) Menyampaikan suara, bunyi yang asli yang tidak bisa diperoleh secara langsung dan segera.

8) Memiliki jangkuan yang luas dan dalam waktu yang relatif singkat.

9) Program radio dipersiapkan dengan lebih baik oleh team ahli, dengan bahan-bahan yang relatuf lebih luas sehingga kualitas pelajaran dan isinya lebih bermutu.

10) Sudah merupakan sebagian dari budaya masyarakat.

11) Harga dan biaya pemeliharaan cukup murah.

12) Program radio relatif mudah di buat.

13) Radio mampu menyampaikan kebijaksanaan, informasi secara cepat dan akurat.

14) Pesawat radio mudah dibawa kemana-mana.

Keterbatasan media radio

1) Sarana komunikasi satu arah

2) Sarana penyampai program yang hanya satu kali, tak dapat dihentikan untuk diulang (di luar kontrol pendengagaran/audience).

3) Terikat oleh alat pemancaran dan waktu.

4) Terlalu peka terhadap gangguan sekitar.

5) Hanya dapat didengar saja/menjangkau indera yang terbatas.

6) Terbatasnya bahasa pelajaran yang dapat disampaikan dalam satu program karena terbatasnya intensitas daya murid.

b. Media kaset

Kelebihan media kaset

1) Kaset mulai membudaya alam masyarakat Indonesia.

2) Program kaset dapat diguanakan secara perserorangan atau kelomppok

3) Dapat diulang setiap waktu

4) Mudah diperbanyak

5) Mudah menggunakannya.

Keterbatasan media kaset

1) Media untuk didengar saja

2) Media satu arah

3) Tidak memiliki jangkauan yang luas

3.10 Prinsif-prinsif pemilihan media

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan media yaitu:

  1. Apa media itu sesuai untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan?
  2. Apakah media itu sesuai dengan kemampuan belajar dan pola belajar murid?
  3. Apakah media yang dipilih sesuai dengan bahan pelajaran?
  4. Adakah bahan dan peralatan untuk memproduksi program itu dengan mutu yang memadai?
  5. Apakah bahan dan media itu mudah disediakan?
  6. Apakah sudah tidak ada media atau cara lain yang lebih murah dan lebih mudah pengadaan dan penggunaannya, tetapi daya gunanya sama?
  7. Apakah biaya pengadaan dan penggunaanya seimbang dengan manfaat serta hasil pendayagunaannya?
  8. Apakah program media yang akan diguanakan sudah diuji coba untuk menentukan kesahihannya (validitasnya)?.

3.11 Hal-hal yang perlu diperhatikan

  1. Tidak ada satu media yang paling baik untuk semua tujuan.
  2. Penggunaan harus konsisten dengan tujuan.
  3. Media yang digunakan hendaknya cukup dikenal oleh murid.
  4. Media hendaknya sesuai dengan sifat pembelajaran.
  5. Media harus sesuai dengan kemapuan dan pola belajar siswa.
  6. Media dipilih secara objektif dan tidak didasarkan oleh karena kesukaan subyektif.
  7. Karena lingkungan sekitar mempengaruhi hasil penggunaan pesawat media.

3. Penutup

Pada prinsipnya bahan dan media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran terlebih dalam pembentukan konstruksi pengalaman belajar tentang sesuatu. Selain iyu, bahan dan media pembelajaran harudlah berorientasi pada tujuan pembelajaran yang hendak di capai. Oleh karena itu, para guru diharapkan mampu menganalisis materi pembelajaran yangsesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran, serta guru diharapkan mampu menciptakan media berikut penggunaannya. Dengan demikian, pembelajaran mkenjadi lebih efektif dan kompetensi akan berkembang pada diri siswa secara maksimal.

Daftar Pustaka:

Ansyar, Mohamad.1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 2006. Panduan Pengembangan Silabus dan Pnduan Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Jakarta: CV Timur Putra Mandiri

Gafur, Abd. 1982. Desain Intruksional. Solo: Tiga Serangkai

http://www.puskur.net/download/naskahakademik/naskahakademikbasing/babiii.doc.

Munandir.1987. Rancangan Sistem Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.

Siahaan, Bistok.1987. Pengembangan Materi Pengajaran Bahasa FPS 626.

Jakarta: Depdikbud.

———- . 2007. “Penyusunan Bahan dan Media Pembelajaran”. Gatra. Januari. Hlm. 124-115. Yogyakarta: PBSID FKIP Universitas Sanata Dharma.

Berbicara 3

Oktober 31, 2008

Dialogika

Oktober 31, 2008

BERBICARA III

D I A L O G I K A

A. LATAR BELAKANG

Dialogika dalam kurikulum Pendidikan Bahasa Sastra Indinesia dan Daerah, meliputi diskusi dan seminar, debat dan musyawarah, sebagaimana tercantum dalam silabus mata kuliah Berbicara III dalam semester ganjil ini. Oleh karena itu sebagai mahasiswa yang sedang belajar guna mempersiapkan diri sebagai seorang pemimpin, maka hendaknya menguasai beberapa topik yang telah disebutkan diatas sebagai bekal dikemudian hari.
Karena dengan mempelajari beberapa topik ini orang dilatih dan dibina untuk menyiapkan diri secara baik, berpikir rasional dan tajam, merumuskan secara teliti dan tepat sasar.

B. TOPIK : DIALOGIKA

1. A. Diskusi
1.1. Pengerian
1.2. Unsur-unsur diskusi
1.3. Macam-macam diskusi
1.4. Menyiapkan diskusi
1.5. Etika diskusi
1.6. Syarat-syarat diskusi kelompok
1.7. Metode
1.8. Keterampilan membimbing diskusi
B. Seminar
1.1. Pengertian seminar
1.2. Yang termasuk dalam seminar
1.3. Peranannya masing-masing
1.4. Hal-hal yang pelu diperhatikan dalam seminar

2. Debat
2.1 Pengertian debat
2.2 Bentuk-bentuk debat
2.3 Persiapan debat
2.4 Patokan dalam debat
2.5 Syarat-syarat susunan proporsi
2.6 Taktik debat
2.7 Dasar-dasar penilaian
2.8 Sikap dalam debat
2.9 Norma-norma dalam debat dan bertanya
2.10 Penggunaan debat
2.11 Manfaat debat

3. Musyawarah
3. 1 Pengertian musyawarah
3.2 Unsur unsur musyawarah
3.3 Macam-macam musyawarah
3.4 Persiapan musyawarah
3.5 Etiket musyawarah

C. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana berdiskusi dan seminar yang baik ?
2. Bagaimana berdebat yang baik ?
3. bagaimana bermusyawarah dengan baik?

Sub Rumusan Masalah
A. (1) Diskusi
1. Jelaskan pengertian diskusi?
2. Sebutkan macam-macam dari diskusi?
3. Sebutkan unsur-unsur berdiskusi ?
4. Bagaimana menyiapkan diskusi?
5. Apa etika dalam berdiskusi ?
6. Apa saja syarat-syarat diskusi kelompok kecil!
7. Bagaimana metodenya!
8. Sebutkan keterampilan dalam membimbing diskusi!

(2) Seminar
1. Jelaskan pengertian seminar?
2. Siapa saja yang telibat dalam seminar?
3. Jelaskan peranannya masing-masing.
4. Hal apa sajakah yang perlu diperhatikan dalam seminar?

B. Debat
1. Jelaskan pengertian dari debat ?
2. Sebutkan bentuk-bentk debat.
3. Apa saja persiapan dalam berdebat ?
4. Sebutkan pataokan-patokan dalam berdebta ?
5. Sebutkan syarat-syarat susunan proporsi dalam debat.
6. Sebutkan taktik-taktik dalam debat.
7. Apa saja dasar-dasar penilaian dalam debat?
8. Sikap apa saja yang harus dimiliki dalam debat?
9. Norma-norma apa saja yang harus dimiliki dalam debat dan bertanya
10. Bagaimana menggunakan debat dengan baik dan benar?
11 Apa manfaat debat itu?

D. TUJUAN
A. Untuk memaparkan atau mendiskripsikan pengertian diskusi, unsur-unsur diskusi,
macam-macam diskusi, menyiapkan diskusi, etika berdiskusi dengan baik, syarat-
syarat diskusi kelompok, metode dan keterampilam dalam membimbing diskusi.
Selain itu juga untuk dapat mendeskripsikan pengertian dari seminar, pihak-pihak
yang terlibat dalam seminar serta peranannya masing-masing dan hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam seminar.
B. Untuk merumuskan atau mendeskripsikan pengertian debat, bentuk-bentuk debat,
persiapan debat, patokan dalam debat, syarat-syarat susunan proporsi, taktik-taktik
debat, dasar-dasar penilaian, sikap dalam debat, norma-norma dalam debat dan
bertanya, penggunaan debat, dan manfaat debat dengan baik.
C. Untuk mendeskripsikan pengertian musyawarah, unsur unsur musyawarah, unsur
unsur musyawarah, persiapan musyawarah, etiket dalam musyawarah.

E. METODE
Cara menjawab rumusan masalah ini akan dengan menggunakan studi literatur atau studi pustaka.

F. SISTEMATIKA PENYAJIAN

Makalah dialogika ini disusun sebagai berikut: diawali dengan latar belakang makalah ini disususn, topik umum dan sub topik, perumusan masalah dan sub rumusan masalah, tujuan penyusunan makalah, metode, sistematika penyajian, isi makalah dan penutup atau kesimpulan.

G. ISI MAKALAH

BAB I
DISKUSI

1. Pengertian Diskusi
Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang diskusi terlebih dahulu kita mengetahui apa pengertian diskusi itu sendiri
a. Menurut Dori Wuwur (1990: 96).Diskusi berasal dari kata bahasa latin discuture yang artinya membeberkan masalah. Dalam arti luas diskusi berarti memberikan jawaban atas pertanyaan atau pembicaraan serius tentang suatu masalah objektif.
b. Diskusi adalah proses bertukar pikiran antara dua orang atau lebih tentang suatu masalah untuk mencapai tujuan tertentu. (Wiyanto. 2000. terampil Diskusi. Jakarta: Grasindo, hlm 1)
c. Menurut Wiyanto (1985: 59 ). Diskusi ialah perundingan untuk bertukar pikiran tentang suatu masalah, yaitu ingin memahami suatu masalah, menemukan sebab, dan mencari jalan keluar atau pemecahanya.
d. Menurut Sukiat (1979: 6) Diskusi kelompok adalah suatu percakapan yang terarah pada suatu pertimbangan dari suatu permasalahan di bawah bimbingan seorang pemimpin yang terlatih
e. Menurut Abdurrahman (1978: 1) Diskusi adalah pertukaran pikiran (gagasan, pendapat) antara dua orang atau lebih secara lisan, biasanya untuk mendapatkan kesamaan (kesepakatan, kecocokan) pikiran (gagasan, pendapat)
f. Menurut Surono (1970 : 8) Diskusi adalah suatu pertukaran pikiran secara teratur dengan tujuan menghasilkan suatu pengertian yang lebih nyata, lebih benar dan lebih luas.
g. Menurut Gilstrap dalam bukunnya Current Strategies for Teachers, diskusi adalah: sebuah forum atau kegiatan dimana orang-orang berbicara bersama dan saling tukar informasi tentang sesuatu masalah dalam rangka mencari jawaban suatu problem yang di dasarkan atas segala bukti yang mungkin.
h. Diskusi adalah suatu proses berpikir bersama untuk memahami suatu masalah, menemukan sebab-sababnya, serta mencari pemecahanya (Kamdhi. 1995: 12).
i. Menurut (KBBI.1996:238), diskusi adalah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah.

2. Unsur–unsur diskusi
Surono dan Bolatou memiliki pendapat yang sama bahwa dalam diskusi ada dua unsur yang perlu kita perhatikan
A. Berpikir
Yang berarti menelaah sungguh-sungguh menelaah suatu persoalan dengan akal budi dan mengemukakan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri mengenai suatu persoalan.
B. Bersama
Yang mendorong orang bergabung dalam berpikir bersama adalah usaha untuk mengetahui realistis tidaknya pemikiran sendiri apabila dikaji dengan pengalaman sesamanya. Mereka tidak berjuang untuk melawan atau mengalahkan ide peserta lainya tetapi berusaha bersama-sama untuk mencari hasil yang lebih nyata dan benar.

Menurut Tarigan (1985: 52) ada tiga unsur dalam diskusi kelompok yaitu:
1. Ketua atau pemimpin (The leader)
2. Para peserta atau partisipan (the particepant)
3. Para pembicara (the speakers)
Unsur diskusi berkaitan dengan sesuatu yang menjadi prasyarat terjadinya kegiatan diskusi, yang meliputi:
1. Materi Diskusi
Materi diskusi meliputi empat hal sebagai berikut:
a. Tema
Tema atau pokok masalah, persoalan atau topik yang merupakan prasyarat paling utama dalam diskusi. Hal ini karena diskusi hanya dapat diadakan atau dilangsungkan jika ada pokok persoalan atau masalah.
Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi agar suatu pokok persoalan dapat didiskusikan.
Menyangkut kepentingan bersama, aktual, mendesak, prinsipal dan subtansial.
b. Tujuan
Tujuan yang hendak dicapai dalam berpikir bersama atau diskusi adalah (1).Menumbuh kembangkan tradisi intelektual.
(2) mengambil keputusan
(3).menyamakan apresiasi, persepsi, dan visi.
(4) menghidupsuburkan kepedulian dan kepekaan.
(5) sarana komunikasi dan konsultasi
c. Langkah-langkah
d. Tata tertib
2. personalia
a. Seksi atau panitia
b. Diskusi
(1). Moderator
Ketua diskusi disebut juga pemimpin diskusi, mederator, atau pemandu diskusi. Tugas dan tanggung jawab ketua sangat berat, karena harus memimpin atau memandu jalannya diskusi. Keberhasilan diskusi, setidak-tidaknya ditentukan oleh kemampuan ketua memandu jalannya diskusi sehingga menemukan pemecahan dari pokok persoalan.
(2). Peserta
Peserta atau anggota diskusi adalah mereka yang sangat berkepentingan dengan pokok persoalan yang akan didiskusikan. Peserta atau anggota diskusi dapat bersifat tetap: sekolah, perguruan tinggi, perkumpulan, organisasi, lembaga, perserikatan, atau kelompok-kelompok lainnya. Dapat juga bersifat sementara: simposium, seminar.
(3). Pemakalah
(4). Pembahas
(5). Nara sumber
Pembicara sering disebut panelis (dalam diskusi panel), narasumber atau penceramah. Kehadiran pembicara sangat dimungkinkan sebagai narasumber; orang yang berkompeten dalam bidang keahlian atau keilmuaan. Biasanya pembicara menyampaikan makalah atau prasaran yang diarahkan sebagai umpan balik dalam diskusi.
(6). MC
3. Fasilitas
Fasilitas dalam suatu diskusi menyangkut sarana dan prasarana yang menunjang dan memperlancar terlaksananya diskusi.
A. Tempat atau ruangan.
Tempat atau ruanganm tidak dapat dipisahkan dengan pelaksanaan diskusi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan tempat atau ruangan.
1. Memadai
Tempat adalah suatu tuntutan yang tidak bisa diingkari adalah tempat berlangsungnya diskusi. Pertama, seluruh sarana penunjang seperti mebel, penerangan, ventilasi. Dua, kapasitas atau daya tampung ruangan. Tiga, letak dan kondisi ruangan. Ruangan yang kita pilih sebaiknya mendukung peserta untuk berkonsentrasi karena terbebas dari suasana bising dan hiruk-pikuk.
2. Bentuk
Yang menjadi inti diskusi adalah proses berfikir bersama, maka bentuk ruangan sebaiknya memungkinkan seluruh peserta saling berhadapan agar dapat berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Beberapa kemungkinan pengaturan ruang:
a. Bentuk setengah lingkaran.
Bentuk ini memungkinkan untuk ruangan yang luas dan peserta yang cukup banyak. Dapat juga digunakan pada ruang yang tidak luas dengan peserta terbatas.
b. Berbentuk lingkaran
Sangat sesuai untuk ruangan yang luas atau sempit; baik untuk banyak peserta atau sedikit.
c. Bentuk segi empat.
Bentuk ini dapat diterapkan untuk ruangan yang luas ataupun sempit.
d. Bentuk segi banyak
Bentuk ini sangat cocok sekali untuk ruangan luas dengan jumlah peserta yang cukup banyak.
3. Tata ruang
Tata ruang sangat berpengaruh dalam proses berpikir bersama. Jika terlalu sederhana atau terlalu mewah maka akan membawa dampak negatif bagi jalannya diskusi. Sebaliknya, ruangan yang diatur sedemikian rupa meski dengan prasarana yang sangat sederhana, akan membawa dampak positif. Ruang yang bersih, rapi, dan teratur akan membuat peserta merasa nyaman. Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait dengan tata ruang meliputi:
a. Pengaturan meja kursi
Meja kursi hendaknya diatur sesuai dengan bentuk yang dipilih (lihat kembali pada perangkat keras). Perlu juga diperhatikan kesesuaian antara meja dan kursi.
b. Dekor
Dekor sangat membantu menciptakan suasana. Paling tidak, penulisan tema diskusi dengan warna dan komposisi yang serasi mampu memotivasi peserta.
c. Tanaman hias
Menempatkan beberapa pot tanaman hias dalam ruang yang digunakan dalam diskusi mampu menciptakan kesegara dan kesejukan.
d. Papan nama
Dalam diskusi resmi, papan nama sangat dibutuhkan. Terlebih jika masing-masing peserta belum saling mengenal. Ada dua macam bentuk papan nama yaitu: papan nama untuk peserta diskusi dan bertuliskan nama masing-masing dan papan nama untuk modrator, narasumber, dan penulis.
e. Lembar peraga
Lembar peraga dan alat tulis sangat dibutuhkan dalam diskusi.
f. Sound system
Sound system sangat dibutuhkan jika ruangan yang digunakan sangat luas.
g. Proyektor overhaed
Dalam diskusi panel, seminar dan simposium handaknya alat ini dipersiapkan.

4. Dana
5. Waktu
Waktu yang dimaksud berkaitan dengan hari, tanggal, dan jam pelaksanaan diskusi. Penentuan waktu sering menimbulkan banyak kendali mengingat setiap orang mempunyai jadwal yang berbeda. Namun, jika pemilihan waktu dilakukan bersama-sama, kendala apapun dapat diatasi.

3. Macam-macam diskusi
Menurut Tarigan (1985: 37) diskusi dibedakan atas beberapa macam :
A. Kelompok tidak resmi
Dalam kelompok tidak resmi (informal Group disscussion) ini termasuk:
(1). Kelompok studi
Kelompok studi ini merupakan suatu hasil pertumbuhan dari keinginan untuk memperoleh informasi.
(2). Kelompok pembentuk kebijaksanaan
Suatu kelompok pembentuk kebijaksanaan pada sebuah fakultas di Perguruan Tinggi dapat menentukan apakah karya seorang pengarang yang sedang dipermasalahkan dapat dimasukan kedalam kurikulum.
(3). Komite
Panita badan yang berbentuk khusus untuk menyelenggarakan suatu usaha atau pekerjaan.
B. Kelompok resmi
(1). Konfrensi
Konfrensi sebagai suatu bentuk diskusi kadang-kadang mengacu kepada pengambilan tindakan, karena berusaha membuat suatu keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan itu.
(2). Diskusi panel
Suatu kelompok yang terdiri dari tiga sampai enam orang ahli yang ditunjukkan untuk mengemukakan pandanganya dari berbagi segi mengenai suatu masalah.
(3). Simposium
Suaru fariasi dari panel yang terdiri dari tiga orang atau lebih yang dianggap ahli dengan pandangan-pandangan yang berbeda mengenai suatu pokok pembicaraan tampil menyampaikan pendapatnya, dan para pendengar mengambil bagian dalam diskusi.
Menurut Wuwur (990:97-99) macam-macam diskusi dapat dibeda empat :
1) Diskusi fak
Diskusi ini bertujuan mengolah suatu bahan secara bersama-sama dibawah bimbingan seorang ahli.
Diskusi fak adalah suatu proses saling menukar pikiran dan pendapat untuk mencapai suatu pengetahuan yang lebih tinggi.
2) Diskusi Podium
Diskusi podium adlah penjelasan masalah oleh wakil-wakil dari berbagai kelompok dan pendapat.
Contoh: menyelesaikan masalah kenaikan uang sekolah
3) Forum diskusi
Forum diskusi adalah salah satu bentuk dialog yang sering dipergunakan dalam bidang politik
4) Diskusi kasualis
Diskusi kasualis adalah penelitian bersama atas satu masalah konkret.

Menurut Gistrap, berdasarkan besar kecilnya kelompok diskusi dapat di bedakan sebagai berikut :
a. Diskusi kelompok kecil
b. Diskusi kelompok besar
Sedangkan berdasarkan sifat, dapat dibedakan menjadi:
a. Diskusi terpimpin
b. Diskusi bebas
Adapun pertemuan–pertemuan yang berlandaskan pada diskusi, misalnya:
a. Seminar e. simposium
b. Workshop f. fishbowl
c. Collogium g. konferensi
d. Panel h. buzz group
Diskusi dapat dikelompok-kelompokan berdasarkan:
Jumlah peserta
a. Diskusi kelompok
b. Diskusi forum
c. Diskusi forum dalam pengolahan dalam diskusi kelompok
Strategi pembahasan
a. Diskusi tanpa pemakalah
biasa dilakukan dalam diskusi kelompok
partisipasi peserta tinggi secara kwantitatif dan kwalitatif
b. Diskusi dengan pemakalah
ada pemakalah yang mempresentasikan makalahnya
pemakalah hendaknya sungguh menguasai tema yang dibahas
c. Diskusi panel
ada 3-4 pakar menyampaikan pendapat
ada diskusi antar pakar yang disaksikan oleh peserta
jika dimungkinkan dibuka diskusi forum
yang diutamakan adalah diskusiantar pakar
d. Simposium
beberapa pakar menyusun dan mempresentasiksnmakalah
tidak ada diskusi antar pemakalah; yang lebih diutamakan makalah
ada tanya jawab pemakalah dengan peserta diskusi
e. Seminar
diselenggarakan oleh lembaga akademik
ada makalah berdasarkan hasil penelitian ilmiah yang dipresentasikan
ada pembahas utama terhadap makalah yang dipresentasikan
peserta adalah pakar dalam bidang (tema) yang diseminarkan
ada pakar senior yang merekomendasikan keilmiahan penelitian, makalah, dan pembahasan dalam seminar
f. brainstorming
tahap pertama : pengumpulan ide/fakta sebanyak-banyaknya dalam waktu yang singkat.
a. ide/fakta yang dikumpulkan belum ditinjau segi kualitas
b. ide/fakta dikelompok-kelompokkan sesuatu dengan tujuan
tahap kedua :
a. ide/fakta dikaji dan diuji
b. segi kwalitas diutamakan
g. kolokium
yang diutamakan dalam kolokium adalah tanya jawab
pakar yang diundang tidak menyiapkan makalah
h. fishbowl
ada diskusi yang bertempat disuatu tempat
diskusi tersebut disaksikan oleh pengamat yang bukan peserta diskusi
pengamat (jumlah dan waktu terbatas) boleh terlibat dalam diskusi seijin moderator
Wiyanto (1985: 65) menyebutkan ada tujuh bentuk diskusi yang meliputi:
1.Diskusi meja bundar
jika jumlah peserta diskusi tidak terlalu banyak (5-15) orang diskusi meja bundar ini dapat dilakukan. Seorang di tunjuk sebagai ketua yang tugasnya memimpin jalanya diskusi.

K K

2. Diskusi berkelompok-kelompok
Bila peserta cukup banyak atau masalah yang dibicarakan bermacam-macam, maka diskusi dapat dilaksanakan berkelompok-kelompok
3. Diskusi panel
Diskusi panel adalah suatu kelompok diskusi terdiri dari tiga sampai enam orang ahli yang di tunjuk untuk mengemukakan pandanganya dari berbagai segi mengenai suatu masalah
4. Seminar
Kata seminar berasal dari bahasa latin “ semin” yang artinya “ biji atau benih’. Seminar berarti benih-benih kebijaksanaan disemikan.
5. Konferensi
Sebagai bentuk diskusi yang mengacu pada diskusi pengambilan tindakan.
6. Simposium
Simposium merupakan variasi dari diskusi panel
7. Kolokium

4. Menyiapkan diskusi
Menurut Wuwur (1990: 99-102) dalam mempersiapkan diskusi ada tiga hal yang perlu diperhatikan :
1. Persiapan bahan
Persiapan bahan atau isi pembicaraan suatu diskusi diawali dengan membatasi tujuan diskusi
2. persiapan personal
sejak awal hendaknya dipastikan ahli atau pakar dan jenis kelompok pendengar yang akan diundang untuk mengambil bagian. Dalam hal ini yang perlu diperhatiakan adlah jumlah peserta.
3. persiapan ruangan
persiapan ruangan perlu diperhatiakn aspek estetis, fungsi, dan cara duduk, karena aspek ini juga menentukan dalam diskusi.
Menurut Surono, (1979 : 15-19 ) ada dua hal yang perlu diketahui sebelum memulai diskusi :
1. Persiapan tentang tema
Tema harus dirumuskan secara menarik, jelas dan tepat, tema harus dibatasi, tema tidak boleh terlalu sulit atau terlalu umum, tujuan diskusi harus jelas, pertanyaan-pertanyaan.
2. Rencana diskusi
Rencana meliputi: tempat, waktu, peserta, alat-alat dan acara diskusi.
3. Pimpinan diskusi
Seorang pemimpin dalam memimpin diskusi perlu tahu sifat-sifat para anggotanya, tabiat-tabiat para anggota dan cara bertindak.
4. Penyelengaraan sidang diskusi
a. Pemimpin datang seperempat jam sebelumnya lalu memeriksa ruangan, Mempersilahkan dan mengatur duduk anggota yang datang.
b. Membuka sidang.
c. Menerangkan tema
d. Pertanyaan-pertanyaan pertama dapat membangkitkan minat para peserta.
e. Menerangkan rencana diskusi
f. Sebelum ditutup diumumkan pertemuan yang akan datang.
5. Beberapa catatan
a. Diskusi yang baik menuju kehasil dan kesimpulan
b. Pemimpin setia pada apa yang telah dikemukakan anggota
c. Kesimpulan harus sepraktis-praktisnya

Menurut Sukiat ( 1979: 15-19 ) sebelum diskusi berlangsung pemimpin diskusi mengadakan persiapan-persiapan meliputi:
1. Mempersiapkan lingkungan fisik
Persiapan fisik meliputi: ruangan, susunan tempat duduk, jumlah peserta, lama diskusi.
2. Mempersiapkan topik yang dibahas.

Menurut Abdurrahman ( 1978:5-9 ) persiapan sebuah diskusi meliputi dua segi:
1. Persiapan kondisi fisik atau penyusunan pentas, misalnya pengaturan tempat duduk dan ruangan.
2. Persiapan perorangan, tanpa persiapan dari masing-masing anggota kelompok, suatu diskusi akan berubah menjadi gelanggang adu domba atau sekedar pertukaran pengalaman dan pandangan

5. Etiket diskusi
Menurut Bulatao (1971:9-13), berpikir dan memecahkan persoalan bersama membutuhkan adanya cukup harga diri dan saling menghargai dalam kelompok.
Ada beberapa tatakrama yang perlu diperhatikan dalam diskusi yaitu :
1. Dengarkanlah si pembicara dengan sepenuh hatimu, dengan seluruh jiwamu, dengan seutuh budimu dan dengan sekuat tenagamu.
2. Kemukakanlah seluruh pendapatmu, dengan sepenuh hatimu dan dengan sekuat tenagamu.
3. Janganlah berbisik kepada tetanggamu.

Menurut Surono (1979: 10-12) diskusi pada umumnya untuk membuka pengertian kita pada keadaan yang kongkrit, memberi alasan-alasan yang kuat, yang mendorong kita untuk bertindak. Oleh karena itu setiap peserta diskusi diharapkan:
1. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya, misalnya mencari bahann dengan membaca buku, artikel-artikel, dengan bertanya-tanya dll.
2. Berani berbicara, mengemukakan buah pikiran dan ide-ide.
3. Jangan saling berbisik, karena tidak menghargai peserta yang sedang berbicara.
4. Berbicara jelas dan obyektif.
5. Tenang menghadapi kritik.
6. Cari kebaikan dan kebenaran.
7. Tetap pada tema, jangan memasukan ide di luar tema.
8. Tanyakanlah hal-hal yang masih kabur.
9. Mengadakan latihan diskusi.
10. Memperdalam bahan-bahan diskusi yang lalu.

Menurut Jaime Bulatao (1979: 6-7) ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap peserta meliputi:
1. Menjadi pendengar yang baik artinya berusaha mendengarkan kawan yang sedang berbicara usahakan mengerti apa yang diucapkannya, hormati pandangan-pandangannya.
2. Menjadi pembicara yang baik. Setiap peserta diharapkan berbicara menyumbangkan buah pikiran tanpa malu-malu, takut salah atau takut ditertawakan.
3. Tidak berbisik-bisik pada kawan di kiri-kanan. Sikap demikian kurang baik, kurang sopan kurang menghormati orang yang sedang berbicara dan tidak menyokong jalannya diskusi.

Menurut Abdurrahman (1978: 25-27) suksesnya sebuah diskusi akan dapat terbina oleh perpaduan kemahiran pemimpin diskusi dan partisipasi para peserta diskusi lainnya dengan cara meliputi:
1. Mendengarkan dengan baik, apa yang dikatakan orang lain.
2. Kadang-kadang minta penjelasan, misalnya “ apa pendapat saudara tentang…….”
3. Menyodorkan dan meminta banyak fakta dan pengetahuan Misalnya “ Apa anda

6. Syarat-syarat diskusi kelompok kecil :
Syarat-syarat diskusi kecil meliputi :
a. kelompok terdiri dari 3-4 orang
b. berlangsung dalam interaksi tatap muka formal
c. mempunyai tujuan yang akan dicapai
7. Metode
Sebagai metode, diskusi mempeunyai kekuatan dan kelemahan.
a. Kekuatan metode diskusi :
1. kaya sumber informasi
2. anggota termotivasi
3. anggota pemalu lebih bebas
4. keterikatan pelaksanaan keputusan
5. kemampuan interaksi
b Kelemahan metode diskusi :
1. memerlukan waktu
2. pemborosan waktu
3. yang kurang agresif dapat frustasi
4. didominasi orang-orang tertentu

8. Keterampilam dalam membimbing diskusi
Ada enam keterampilan dalam membimbing diskusi :
a. memusatkan perhatian :
1. merumuskan tujuan
2. mencermati penyimpangan dari tujuan
3. merangkum pembicaraan
b. memperjelas masalah :
1. meminta komentar
2. memberi informasi
c. menganalisa pandangan :
1. memperjelas hal-hal yang belum dan sudah disepakati
2. meneliti pandangan
d. meningkatkan kontribusi :
1. mengajukan pertanyaan kunci
2. memberi contoh
3. mendukung gagasan
e. menyebarkan kesempatan berpartisipasi :
1. mencegah monopoli
2. mencegah pembicaraan serentak
3. mendorong interaksi
f. menutup diskusi :
1. merangkum hasil diskusi
2. mengevaluasi proses dan hasil diskusi
S E M I N A R

1. Pengertian seminar
Seminar secara harafiah diartikan sebagai “: Menabur benih”. Dari makna harafiah itu dapat ditangkap maknanya lebih luas lagi. Makna menabur benih tentunya dengan tujuan agar benih yang di tebarkannya itu dapat tumbuh dan berkembang .
Berdasarkan dengan uraian di atas maka dapat di artikan bahwa seminar merupakan kegiatan yang melibatkan adanya sumber informasi, penerima informasi. Sumber informasi bertujuan menyampaikan suatu pendapat atau sesuatau yang baru kepada pendengarnya dengan harapan penerima informasi memperoleh sesuatu yang baru tersebut untuk dikembangtumbuhkan menjadi sesuatu yang lebih luas lagi (berkembang) kepada yang lainnya.
Karena materi sebagai bahan informasi di dalam seminar merupakan barang baru, maka kemungkinan yang terjadi ialah bahwa informasi itu ditolak, diterima atau ditangguhkan. Oleh sebab itu biasanya dalam sebuah seminar pasti ada kegiatan diskusi dalam rangka memantapkan eksistensi informasi itu pada posisi benar, ragu atau salah.( Rosalina, 1991: 7-17 ).

2. Pihak-pihak yang terlibat dalam seminar.
Pihak-pihak yang terlibat dalam seminar adalah :
a. Panitia penyelenggara.
b. Pemandu acara atau moderator.
c. Pemakalah.
d. Pembanding.
e. Penambat (notulen).
f. Pengamat.

3. Peranan masing-masing pihak dalam seminar.
Peran masing-masing pihak dalam seminar :
a. Panitia penyelengara.
Panitia biasanya mengatur penyelenggaraan sebuah seminar mulai dari akomodasi, protokoler, publikasi, dokumentasi, konsumsi, atministrasi, transportasi.
Tanggung jawab panitia:
1. Bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendengar yang mengikuti seminar secara langsung.
2. Bertanggung jawab secara langsung terhadap seluruh personiul yang terlibat dalam kegiatan seminar.
3. Bertanggung jawab terhadap masyarakat luas ynag secara tidak langfsung merupakan pendengar.
b. Pemandu acara.
Pemandu acara disebut juga moderator. Yang memiliki tugas sebagai berikut:
1. Mengatur seluruh jalannya seminar sampai seminar dikatakan selesai (bukan kepanitiaannya).
2. Mengatur arus tanya jawab oleh pemakalah dan seminar.
3. Menentukan waktu yang dipergunakan oleh pemakalah maupun oleh pendengar (pada saat bertanya).
4. Meluluruskan pembicaraan jika keluar dari konteks yang dimaksudkan.
5. Menegur pemakalah atau pendengar jika terlihat ada kecenderungan merugikan penyelenggaraan jalannya seminar.
6. Menumbuhkan dan menutup jalannya seminar.
c. Pemakalah.
Pemakalah sering juga disebut penceramah. Hal ini di sebabkan karena pemakalah adalah pembuat makalah yang sekaligus membawakannya dalam bentuk makalah di depan pendengar atau peserta seminar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang pemakalah antara lain:
1. Makalah hendaknya sudah diperhitungkan denganwaktu yang sudah diperhitungkan oleh panitia.
2. Isi simakan benar-benar menarik trau actual dan merupakan sesuatu yang memang dibutuhkan oleh masyarakat pendengar.
3. Pada waktu menyampaikannya harus ditunjang dengan teknik pidato yang baik, komunikatif, mudah dimengerti, singkat, mudah, jelas, efektif, efisien dan intensif.
4. Pandai mengatur emosi.
5. Berwawasan luas.
6. Dapat mempertahankan pendapat, namun tetap berorientasi padsa kebutuhan pendengar.
7. Bersikap konsekuen, konsisten, logis dan fleksibilitas yang memadai.
8. Bersikap terbuka.
d. Pembanding.
Pembanding ialah pemakalah lain yang materinya merupakan pembanding materi pemakalah utama.
Tujuan makalah pembanding ini di antaranya adalah:
1. Memberikan wawasan tambahan kepada pendengar agar terbentuk opininya terhadap makalah utama.
2. Memperjelas eksistensi pemakalah utama.
3. Memeberikan wawasan tambahan tatkala makalah utama mennyinggungnya.
4. Merupakan alat untuk memberikan motivasi kepada suasana seminar secara keseluruhan.
e. Penambat.
Seorang penambat (notulen) mempunyai tugas khusus merekam jalannya seminar dan diskusi secara tertulis. Penambat juga harus siap memberikan informasi kepada moderator jika sekiranya moderator membutuhkannya. Hasil tulisan di sebut tambatan, sedangkan istilah lama di sebut notulasi (hasil tulisan notulen).
f. Pengamat.
Sesuai dengan namanya maka seorang pengamat biasanya bertugas mengamati jalannya seminar termasuk kehiatan diskusinya. Seseorang pengamat biasanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan khusus di bidangnya.

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan saminar
Hal-hal yang diperhatikan agar seminar dapat berjalan dengan baik : Makalah yang dibawakan pemakalah sudah tersedia dalam jumlah yang cukup.
a. Ruangan harus cukup representatif.
b. Sound system harus cukup handal.
c. tersedia konsumsi. terutama untuk sebuah seminar yang cukup lama memakan waktu.
d. Publikasi untuk pelaksanaan untuk menjelang seminar haeus cukup menunjang..
e. Tersedia akomodasi untuk para petuga\s
f. Final cek pelaksanaan yang tepat.
g. Sistem kerja menyangkut job discription panitia harus baik.
h. Desain pengaturan ruang yang baik
i. Sistem protokolernya harus sempurna.
j. Kerja sama dengan berbagai pihak.
k. Mempersiapkan persediaan jika terjadi hal-hal diluar dugaan
l. Mempersiapkan tenaga securty yang memadai.
m. Mempersiapkan antisipasi medis yang baik.
n. Seluruh panitia harus respek dan sensitif terhadap masalah yang timbul
o. Seluruh panitia dan ketua wajib berada di tempat selama pelaksanaan serminar.

BAB II
DEBAT
1. PENGERTIAN
Dalam retorika
Debat pada hakikatnya adalah saling adu argumentasi antar pribadi atau antar kelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan untuk satu pihak.
Menurut Asul Wiyanto
Debat adalah berbicara kepada lawannya untuk membela pendirian atau pendapatnya atau menyerang pendirian/ pendapat lawannya. Debat ini bisa dilakukan satu lawan satu atau kelompok lawan kelompok.
Dalam (KBBI, 1996:214)
Debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Menurut G. Sukadi
Debat adalah saling adu argumentasi antarpribadi atau antarkelompok manusia, dengan tujuan mencapai kemenangan.
Menurut www.wikipedia.co.
Debat adalah kegiatan adu argumen antara dua pihak atau lebih secara perorangan maupun kelompok dalam mendiskusikan dan memutuskan masalah dan perbedaan.

2. BENTUK-BENTUK DEBAT
1.1. Menurut Dori Wuwur ( Retorika, 1991 )
Debat dibedakan menjadi dua bentuk yaitu:
a. Debat Inggris
Dalam debat Inggris ada dua kelompok yang berhadapaan yaitu kelompok pro dan kelompok kontra . Sebelum dimulai, ditentukan dua pembicara dari setiap kelompok. Pda awal debat pemimpin menjelaskan secara singkat tata tertib debat, tetapi ia tidak berbicara tentang isi tema. Moderator hanya bertanggung jawab bahwa setiap pihak menyampaikan pendapat dan posisinya atas cara yang wajar dan pada wajah dan pada akhir debat mengorganisasikan pemungutan suara untuk menentukan pemenangnya.
Dalam debat tertutup, setiap orang hanya berbicara satu kali. Oleh karena itu, pembicara harus menyiapkan diri dan menyusun jalan pikirannya secara teliti. Dan harus menyampaikan sesuatu yang padat dan berisi dalam batas waktu yang singkat. Sebaiknya dalam debat terbuka orang dapat berbicara lebih dari satu kali. Sesudah semua peserta pembicara, kedua pembicara pertama dari msing-masing kelompok menyampaikan kata penutup.

b. Debat Amerika
Dalam debat Amerika juga dua regu berhadapan, tetapi masing-masing regu menyiapkan tema melalui pengumpulan bahan secara teliti dan penyusun menyusun argumentasi yang cermat. Para anggota kelompok debat ini adalah orang-orang yang terlatih dalam seni berbicara. Mereka berdebat di depan sekelompok juri dan publikum. Debat dimulai, apabila salah seorang anggota regu membuka pembicaraan dengan mengemukakan tesis dan di jawab oleh pembicara pertama dari regu yang kedua. Proses selanjutnya berlangsung apabila setiap anggota regu berbicara dalam urutan yang bergantian dengan anggota regu yang lain. Semua anggota dari kedua regu mendapatkan kesempatan untuk berbicara. Setiap pembicara harus menyampikan pandangannya mengenai tema dan tesis yang diperdebatkan.

1.2. Menurut situs www. wikipedia com
Ada tiga bentuk debat yaitu
A. Debat parlementer
Format debat perlementer sering menggunakan peristilahan yang biasa di pakai di debat perlemen sebenarnya, yaitu
1. topik debat disebut mosi ( motion )
2. Tim afirmatif (yang setuju terhadap mosi). Sering disebut juga pemerintah, tim
negatif (yang menentang mosi) disebut oposisi .
3. Pembicara Pertama di panggil sebagai perdana mentri (prime minister)
4. Pemimpin (wasit debat)
5. Penonton (sidang dewan yang terhormat)
6. Interupsi disebut poins of Information (POI)

Debat perlementer dibagi menjadi 4 macam yaitu :
1. Debat perlementer Australia.
Dalam format ini, kedua tim beranggotakan masing-masing tiga orang berhadapan
dalam satu debat, satu tim mewakili pemerintah dan satu tim mewakili oposisi,
dengan urutan sebagai berikut:
a. Pembicara pertama pihak pemerintah-7 menit
b. Pembicara pertama pihak oposisi-7 menit
c. Pembicara kedua pihak pemerintah -7 menit
d. Pembicara kedua pihak oposisi-7 menit
e. Pembicara ketiga pihak pemerintah-7 menit
f. Pembicara ketiga pihak oposisi-7 menit
g. Pidato pihak oposisi -5 menit
h. pidato penutup pihak pemerintah -5 menit.
Pidato penutup menjadi ciri dari format ini. Pidato penutup dibawakan oleh pembicara pertama atau pihak kedua dari masing-masing tim. Pidato penutup dimulai oleh oposisi terlebih dahulu, baru pemerintah.

2. Debat Perlemen Asia.
Debat ini dikembangkan dari pihak Australia. Perbedaan dengan format Australia adalah hanya interupsi yang boleh diajukan antara menit-1 dan menit ke-6 (hanya pada pidato utama tidak pada pidato penutup).

3. Pidato Perlemen Inggris.
Dalam format ini, empat tim beranggotakan masing-masing dua orang bertarung dalam satu debat, dua tim mewakili pemerintah dan dua tim lainnya oposisi, dengan susunan sebagai berikut :

a. Opening Government:
1. Prima minister
2. Deput Primr Minister
b. Closing Government:
1. Member of Geverment
2. Gaverment whip
c. Opening Opposition:
1. Leader of Oposition
2. Deputy Leader of the Oposition
d. Closing Oposition:
1. Member of the oposition
2. Oposition Whip

4. Debat Perlemen Amerika.
Debat Amerika Serikat diikuti oleh dua tim, untuk setiap debat dengan
sususnan sebagai berikut:
a. Pemerintah
1. Perdana Menteri
2. Anggota pemerintahan
b. Oposition
1. Pemimpin oposisi
2. Anggota oposisi

B. Debat Proposal
Dalam gaya debat proposal, dua tim menjadi penganjur dan penentang sebuah rencana yang berhubungan dengan topik debat yang diberikan. Topik yang diberikan umumnya mengenai hubungan perubahan kebijaksanaan yang diinginkan dari pemerintah. Kedua tim biasanya memerankan peran afirmatif (pendukung proposal) dan negatif (menentang proposal). Pada prakteknya, kebanyakan acara debat tipe ini, hanya memiliki satu topik yang sama yang berlaku selama setahun penuh atau selama jangka waktu lainnya yang sudah ditetapkan.
Debat proposal terdiri atas dua tim, beranggotakan masing-masing dua orang dalam setiap debat. Setiap pembicara membawakan dua pidato, satu pidato konstruktif (8 atau 9 menit) yang berisi argumen-argumen baru dan satu pidato sangggahan (empat sampai 6 menit) yang tidak boleh berisi argumen baru, namun dapat berisi fakta pendukung baru untuk mendukung sanggahan. Biasanya sehabis pidato konstruksi, pihak lawan diberikan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan silang atas pidato tersebut. Setiap isu yang tidak ditanggapi oleh pihak lawan dianggap sudah diterima dalam debat. Dewan juri secara saksama mencatat semua pernyataan.

C. Debat Lincoln-Douglas
Nama gaya debat ini diambil dari debat-debat terkenal yang pernah dilakukan disenat Amerika serikat antara dua kandidat Lincoln dan Douglas. Setiap debat gaya ini diikuti oleh dua pendebat yang bertarung satu sama lain.
Argumen dalam debat ini para filosofi dan nilai-nalai abtrak sehingga sering disebut debat nilai atau velue debate. Debat ini menekankan pada fakta pendukung dan lebih mengutamakan logika dan penjelasan.

1.3. Menurut Tarigan
Berdasarkan bentuk, maksud, dan metodenya maka debat dapat
diklasifikasikan atas tipe-tipe atau kategori, yaitu:
a. Debat majelis atau debat perlememter
Maksud dan tujuan debat majelis adalah untuk memberi atau menambahi dukungan bagi suatu undang-undang tertentu dan semua anggota yang ingin menyatakan pandangan dan pendapatnya pun berbicara mendukung atau menentang usul tersebut setelah mendapat izin dari majelis. Pembatasan-pembatasan waktu berdebat dapat diatur oleh tindakan parlementer majelis itu. Dewan-dewan mahasiswa memperdebatkan masalah umum yang telah dipilih sebelumnya, berlangsung selama dua atau tiga hari
b. Debat pemeriksaan ulang
Debat jenis ini merupakan suatu perdebatan yang lebih sulit dan menuntut persiapan yang lebih matang daripada gaya perdebatan formal.
Prosedurnya adalah sebagai berikut :
a) Pembicara afirmatif pertama menyampaikan pidato resminya, dan segera setelah itu dia diperiksa dengan teliti oleh pembicara negatif yang pertama.
b) Setelah tujuh menit pemeriksaan, maka sang penanya diberi kesempatan selama empat menit untuk menyajikan kepada pendengar pengakuan-pengakuan apa saja yang telah diperolehnya dengan pemeriksaaan ulangan itu. Dia dibatasi pada apa yang telah diperolehnya secara aktual dangan pengakuan-pengakuan itu, dan tidak diperkenankan memperkenalkan fakta-fakta atau argumen-argumen baru.
c) Anggota pembicara negatif yang kedua mengemukakan kasus negatif, dan seterusnya diteliti ulang oleh pembicara afirmatif yang kedua. Teknik ini memang agak sulit dan menuntut keterampilan berbahasa yang tinggi yang ada hubungannya dengan pokok permasalahan.(Powers,1951 :303).
Adapun maksud dan tujuan perdebatan seperti ini ialah mengajukan serangkaian pertanyaan yang satu sama lain erat berhubungan , yang akan menyebabkan para individu yang ditanya menunjang posisi yang hendak ditegakkan dan diperkokoh oleh sang penanya.
Pertanyaan haruslah disampaikan dengan tepat, dan jawaban-jawabannya haruslah singkat, lebih disukai “Ya” atau “Tidak”. Batas waktu dari setiap pertanyaan sudah ditetapkan sebelumnya, biasanya berkisar antara delapan sampai lima belas menit per orang. Jumlah pembicara pada setiap pihak berkisar antara satu sampai tiga orang, bergantung kepada berapa dari ketiga fungsi berikut ini: argumen konstruktif, pertanyaan dan rangkuman serta bahan bantahan yang dipegang oleh seorang pembicara. (Mulgave,1954 :66).
c. Debat Formal
Tujuan debat formal adalah memberi kesempatan bagi dua tim pembicara untuk mengemukakan kepada para pendengar sejumlah argumen yang menunjang atau yang membantah suatu usul. setiap pihak diberi jangka waktu yang sama bagi pembicara-pembicara konstruktif atau bantahan.
Jika terdapat dua orang pembicara pada setiap tim, maka pembicara afirmatif yang pertama akan mengemukakan latar belakang perdebatan itu yang mencakup asal usul dan sejarah masalah yang bersangkutan, alasan utama bagi diskusi, definisi dan penjelasan, dan pembatasan lainnya atas ruang lingkup masalah yang menyebabkan masalah-masalah itu perlu diperdebatkan.
Pidato bentahan pertama diberikan oleh pembicara negatif pertama; dan pidato bantahan kedua disampaikan oleh pembicara afirmatif kedua. Bantahan diakhiri dan disimpulkan oleh pembicara negatif kedua dan pembicara afirmatif pertama. Seringkali 10 menit diberikan bagi setiap pidato konstruktif dan lima menit bagi pidato bantahan. Pemasukan argumen yang baru sama sekali tidak diijinkan dalam pidato bantahan. Kalau pembicara neegatif menawarkan suatu rencana alternatif sebagai tambahan bagi argumen yang menentang rencana yang diajukan oleh pembicara afirmatif, maka tangung jawab untuk memberikan bukti yang memuaskan, yang pada permulaannya merupakan tanggung jawab pembicara afirmatif, akan beralih menjadi tanggung jawab pembicara negatif. Demikianlah, setiap pihak mempunyai tanggung jawab untuk menyakinkan para pendengar bahwa rencananyalah yang lebih tepat dan lebih bermanfaat.(Mulgrave, 1954:67).

3. PERSIAPAN DEBAT
Persiapan debat merupakan tugas kelompok, setiap peserta harus ikut serta dan terlibat dalam telaah dan riset perlementer. Langkah-langkahnya antara lain:
a. memilih dan menyusun kata pengutaran usul
b. membatasi istilah-istilah yang dipergunakan
c. menyusun organisasi bahan-bahan bagi masalah yang akan dipertahankan
d. mempersiapkan pidato atau pembicaraan yang hendak disampaikan, dan
persiapan tangkisan atau bantahan. Para anggota harus mempersiapkan dua
jenis pidato yang berbeda yaitu :
1. pidato konstruktif ialah pidato yang membangun dan berguna
2. pidato sanggahan, pidato tangkisan.
e. mempersiapkan laporan-laporan atau catatan singkat yang berkaian dengan
permasalahan yang akan dibicarakan. Laporan singkat ini bertujuan untuk
mempermudah pembicara untuk menguji kecermatan persiapan, kecerahan
penalaran, dan ketepatan fakta-fakta.
Menurut Tarigan ada beberapa hal yang berkaitan dengan laporan singkat yaitu :
1. bentuk dan pengembangan laporan, yaitu laporan tulisan dengan menggunakan simbol
(angka Romawi, huruf kapital, angka Arab, huruf non kapitel) Setiap simbol yang
dipakai diikuti dengan satu pernyataan tegas yang merupakan satu gagasan.
2. Basian-bagian laporan meliputi pendahuluan, isi dan penutup atau kesimpulan.
3. mempersiapkan pidato dan persiapan tangkisan. Para anggota hendaknya
mempersiapkan dua jenis pidato yaitu : pidato konstruktif atau pidato yang
membangun atau berguna dan pidato sanggahan atau tangkisan.

4. PATOKAN DALAM BERDEBAT
Ada beberapa patokan yang dapat dipergunakan dalam proses berdebat adalah :
1. kita harus berkonsentrasi dan membataskan diri pada pokok pikiran lawan bicara pada titik lemah. Apabila dari sepuluh pikiran ada sembilan yang benar, maka kita bertempu pada satu pokok yang lemah itu, sehingga ada kemungkinan untuk menjatuhkan lawan.
2. Apabila posisi kita lemah, maka kita tidak dapat mengemukakan argementasi yang efektif, oleh karena itu kita harus selalu kembali kepada titik lemah lawan bicara.
3. Kita hanya boleh mengemukakan pembuktian apabila kita tahu pasti bahwa alasan lawan bicara tidak lebih kuat dari pada alasan kita sendiri.
4. apabila lawan menunjukan kelemahan argumen kita, maka kita juga harus menunjukan hal yang sama pada pihak lawan. Dengan demikian kita membuktikan bahwa pada pihak lawan juga ada kelemahan. Perdebatan menjadi seimbang dan proses argumentasi dapat diajukan.
5. Kita harus membedakan antara kelemahan-kelemahan yang terjadi dengan hubungan dengan tata sopan santun dan kesalahan-kesalahan argementatif yang dapat menyebabkan lawan bicara.
6. kita harus menunjukan secara jelas kebenaran dan kekuatan kita, sebelum lawan melihan kelemahan-kelemahan kita.
7. Pikiran atau ide itu tidak menentukan, yang menentukan adalah tindakan. Lalu memasukan ide itu secara terencana, ialah pelaksana penguasa dan pemilik ide itu dan bukan orang yang melahirkan ide itu.
8. Siapa yang ingin menemukan kesalahan pada pikiran lawan bicara, dia harus menyiapkan sesuatu yang tidak pernah dimunculkan dalam proses debat itu.
9. Seringkali seseorang dapat berhasil menang dalam debat, apabila dia menyerang
dengan berbagai pendapat yang muncul dengan cara mengejek.
10. Berdebat berarti menundukan lawan lewat argumentasi atau dengan kata lain
menaklukan lawan bicara, tetapi harus dengan cara yang fair dan sportif
sebgaimana dalam pertandingan olah raga.

5. SYARAT-SYARAT SUSUNAN PROPORSI
d. Kesederhanaan
Usul-usul yang rumit dan terbelit-belit menyebabkan analisa yang sukar. Senakin sederhana suatu pernyataan maka semakin bergunalah bagi perdebatan yang sedang berlangsung.
e. Kejelasan
Pernyataan-pernyataan yang samar-samar dan tidak jelas menimbulkan berbagai ragam penafsiran yang timbul dalam perdebatan yang membingungkan.
f. Kepadatan
kata-kata hendaklah dipergunakan sesedikit mungkin dan sepadat mungkin. Kepanjanglebaran akan mengakibatkan suatu usul menjadi tidak praktis dan menyebabkan salah pengertian.
g. Susunan kata afirmatif
Usul yang negatif seakan-akan dapat memutarbalikkan posisi-posisi afirmatif dan negatif. Susunan kata suatu usul hendaknya bersifat afirmatif atau mengiakan; jangan bersifat negatif atau meniadakan.
h. Pernyataan Deklaratif
Suatu pernyataan yang tegas lebih disukai, lebih baik dari paa suatu pertanyaan. Pertanyaan pada umumnya dipergunakan bahi diskusi karena maksud dan tujuannya adalah menyelidiki.
i. Kesatuan
Sebuah gagasan yang tunggal sudah cukup bagi satu perdebatan. Misalnya usul “Badan pembuat undang-undang haruslah mengadakan pemilihan wajib dan haruslah membuat registrasi tetap” mengandung dua buah pukuk perdebatan berbeda: “ pemilihan wajib” dan “registrasi tetap.
j. Usul khusus
Usul-usul yang bersifat umum akan mengakibatkan perdebatan-perdebatan yang terpencar dan tidak memuaskan.Hendaknya usul dibuat se khusus mungkin.
k. Bebas dari purbasangka
Bahasa yang purbasangka akan memperkenalkan asumsi-asumsi atau pra anggaran yang tidak tepat ke dalam usul.
l. Tanggung jawab ubtuk memberikan bukti yang memuaskan terhadap afirmatif.
Susunan kata usul hendaknya dibuat sebaik dan secepat mungkin sehingga pembicara afirmatif akan menganjurkan serta menyokong suatu perubahan.

6. TAKTIK-TAKTIK DEBAT

Taktik-Taktik Debat (Wuwur, 1991 : 133-141) Yaitu :

I. Taktik Afirmasi
Yang termasuk taktik afirmasi adalah:
a. Taktik “Ya”
Menurut taktik ini, pertanyaan dirumuskan sedemikian rupa sehingga lawan bicara hanya dapat menjawab “Ya” dan perlahan-lahan menuntunnya kepada kesimpulan akhir yang jelas, atau mengejutkan yang harus diterima tanpa syarat. Jawaban “Ya” menuntut dari lawan bicara tidak hanya persetujuan rasional, tetapi juga emosional yang tidak dapat dihindarkan.
Contohnya : S : Karena keahlian memelihara kuda adalah perhatian yang tepat untuk
kuda, bukan?
E : Ya
S : Dan bukan setiap orang mengerti anjing pemburu, kecuali si pemburu,
bukan?
E : Ya

b. taktik mengulang
Dalam retorika, dialog gaya bahasa ini sangat penting. Pembicara berusaha untuk menyampaikan pikiran dan idenya secara terus-menerus dengan cara dan rumusan yang berbeda dan menarik. Yang perli diperhatikan adalaha hal yang diulang mengandung ide yang positif dan benar.
Contohnya : Orang tidak sering menunjukan hal ini bahwa…
Sekali lagi saya katakan, betapa penting hal ini…
Secara khusus saya mau tekankan…
Saya mengulangi….

c. taktik sugesti
Taktik ini bertujuan mempermudah lawan bicara, untuk mnyetujui pikiran, anjuran, dan hasil pertimbangn kita.
Contoh : Inilah yang paling tepat dan cocok bagi anda, hanya saja anda belum memiliki
dalam koleksi anda…

d. taktik kebersamaan
Apabila menghdapi kesulitan dalam berdebat, sering satu himbauan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan (perasaan “kita”) atas sukses yang diraih bersama hingga saat ini.
Contohnya : Pikirkan segala kerja sama kita yang berhasil baik selama ini.
Bukankah sampai sat ini kita selalu menyelesaikan segala masalah dengan
cara yang baik?
Oleh karena itu marilah kita bersama-sama berusaha menanggulangi
masalah ini. Apa yang dapat dilakukan?

e. taktik kompromi
Kompromi adalah suatu taktik yang dipakai dalam situasi yang sulit untuk mencapai keseimbangan rasional.
Contoh : Pendapat kami tidak jauh berbeda sebagaimana diperkirakan.
Menurut saya kita sependapat dalam hal ini.
Mari kita pusatkan perhatian kita selanjutnya pada pokok ini.

f. taktik konsensus
Taktik ini menampilkan didepan mata pemdengar rangkuman pendapat kita yang sudah disetujui dan menggerakan hati mereka untuk menuruti pendapat kita, menyetujui perjanjian yang dibuat, menerima anjuran atau membeli hasil produk kita.
Comtoh : Coba kita lihat kembali apa yang kita bicarakan.
Lihat: kita semua sepakat khususnya dalam mengartikan apa itu “demokrasi”
Oleh karena itu kita sebenarnya sependapat bahwa….

2. Taktik defensif
Yang termasuk taktik defentif adalah :

a. taktik menunda
Taktik ini dipergunakan apabila ada keberatan bahwa ceramah atau penjelasan yang dikemukkan kurang jelas atau kurang mengandung argumentasi yang kuat. Pembicara secara taktis menunda penjelasan pada kesempatan berikut.
Comtoh : Saya akan menanggapi pertanyaan anda. Tetapi pada kesempatan ini rasanya
tidak cukup waktu untuk menanggapi pertanyaan anda. Dalam ceramah berikut
saya baru akan memberikan tanggapan mengenai pertanyaan ini.

b. taktik mengelak
Dapat terjadi bahwa pendapat atau pikiran pembicara diragukan. Pembicara mendapat kesulitan untuk menjelaskan posisisnya. Dalam kesempitan dan kesulitan seperti ini, pembicara menyebutkan kutipan atau ucapan seorang ahli sehingga lawan bicara dapat dionfrontasikan langsung dengan pendapat ahli tersebut.
Contoh : ANDRE CIDE mengatakan: “Di dalam silogismus, saya hanya menemukan apa
yang sebelumya saya siratkan”. Perdana menteti X beberapa saat lalu
mengatakan hal yang sama.

c. taktik “Ya….tetapi”
Menurut taktik ini kita menghargai dan menyetujui pendapat lawan bicara, tetapi aplikasinya disesuaikan dengan pendapat kita. Ini adalah satu cara untuk menyingpang secara halus dari titik tolak lawan bicara.
Contoh : Saya dapat memahami secara jelas pendapat anda tetapi…..
Sampai pada tingkat tertentu anda benar, hanya….

d. taktik mengangkat
Untuk memperoleh persetujuan peserta atas pendapat kita, kita mengangkat dan menghormati pendapat yangberbeda dari lawan bicara. Dengan itu dia dapat lebih baik belajar menghargai pendapat kita.
Contohnya : Saudara-saudara, saya tahu bahwa beberapa diantara anda memiliki
pendapat yang berbeda dari pendapat saya. Saya menghormati pendapat
anda. Tetapi coba anda pahami juga pendapat saya….Coba anda
menempatkan diri kedalam situasi saya. Mungkin anda akan bertindak sama
seperti saya.

e. taktik berterima kasih
Orang datang kepadsa kita dengan berbagai kesulitan yang membebani. Kita mengucapkan terima kasih kepadanya atas informasi itu, meskipun tidak menyenangkan kita, tetapi jistru dengan itu mereka dibebaskan dari yekanan emosional.
Contoh : Saya berterima kasih karena anda mau menyampaikan kesulitan anda secara
terus terang. Memang tugas kami untuk membantu anda. Saya mengucapkan
terimakasih karena dengan bagitu kami menyadari kesalahan ini, dan kami
terbantu untuk menolong orang lain.

f. taktik merelativasi
Taktik ini menempatkan keberatan lawan dengan konteks dan relasi, sehingga dengan itu pendapatnya menjadi relatif.
Contoh : Bukan segala sesuatu harus dipandang relatif?
Apa artinya mahal?
Bukankah sering terjadi bahwa barang yang paling murah justru sebenarnya
yang paling mahal?
Bukankah pengertiam sukar dimengerti secara relatif?

g. taktik menguraikan
Apabla lawan bicara menyampaikan seonggok kebertan, kesulitan dan kritikan, maka kita menguraikan dan menganalisis semua beberan itu satu persatu secara teliti sambil menunjukan titik-titik lemahnya.
Contoh : Coba kita teliti katalog keberatan anda satu persatu secara teliti.
Mari kita lihat bersama-sama dimana ada titik lemah.
Mungkin saya dapat membantu.
Apakah mungkin anda melihat pokok ini terlalu dramatis?
Disini dapat muncul salah pengertian yang dapat dijelaskan sebagai berikut….

h. taktik membiarkan
Taktik ini membiarkan lawan bicara menyampaikan maksud dan pikiran, sementara kita mendengar dengan penuh perhatian, tanpa memberikan reaksi. Yang penting adalah tidak menghalangi pembicarannya, kecuali ada pertanyaan. Sesudah selesai kita menjelaskan sambil memberikan tanggapam yang bertentangan dengan pendapatnya.
Contohnya : Bolehkan saya merangkum pembicaraan anda?
Anda berpendapat bahwa….
Apa saya tidak keliri?
Anda yakin bahwa….
Dalam hal ini saya punya pendapat lain…..
Dan saya mohon untuk dipertinmbangkan lagi….

2. Taktik ofensif

Yang termasuk taktik ofensif adalah :

a. taktik antisipasi
Sementara lawan bicara menyampaikan pendapat, kita sudah mengantisipasi kelemahannya. Sesudah itu kita langsung menjatuhkan pendapatnya dengan mengemukan argumentasi kontra.
Contoh : Barang kali anda akan menyampaikan keberatan bahwa…..
Pasti anda mau bertanya kepada saya entah….
Pikiran sebaliknya adalah bahwa…
Oleh karena itu jawabannya adalah bahwa….

b. taktik mengagetkan
Lawan bicara menantang dengan satu pertanyaan negatif. Kita mengejutkan dia dengan jawaban balik dari sudut pandang yang tak diduganya. Jawaban balik ini dpat bersifat paradoks untuk menghilangkan keseimbangan dalam dirinya dan untuk dapat mengarahkan dia.
Contoh : Oleh karena itu saya menasihati anda supaya …..
Justru karena itulah…..
Maka dari itu saya menganjurkan kepada anda….
Keberatan ini memang sudah lama saya nantikan.
Sebagaimana saya, anda mengerti bahwa….
Bahkan anda mengrti lebih baik daripada saya bahwa…..

c. taktik bertanya balik
Taktik ini melemparkan kepada lawan bicara satu pertanyaan balik yang menyebabkan dia melepaskan pendasaran keberatannya, dan menerima kekeliruannya sendiri.
Contoh : Mengapa anda percaya bahwa titik tolak anda adalah satu-satunya yang paling
baik?
Apakah anda juga tidak berpendapat bahwa….

d. taktik provokasi
Taktik ini memaksa lawam bicara untuk bicara terus. Imi adalah suatu pertanyaan agresif, yang serimg dipergunakan oleh para wartawan.
Contoh : Itu saya tidak percaya!
Saya meragukan pendapat itu.
Itu tidak benar, itu omong kosong.
Anda sendiri tidak percaya pada apa yang anda katakan.

e. taktik mencakup
Taktik ini melihat argumentasi lawan dengan satu pengamatan yang mencakup dam lebih tinggi, sehingga dengan iotu argumen itu sendiri dilemahkan dan tidak berlaku untuk dirinya sendiri.
Contohnya : Jawaban “tidak” dari anda, pada mulanya sebenarnya adalah “ya”.
Apabila sekarang anda mengatakan “tidak” , maka menurut hemat saya,
anda sebenarnya mengiyakan hal itu. Sebab “jawaban “ya” itu terdiri dari
banyak jawaban “tidak” dalam hal-hal kecil”

f. taktik melebih-lebihkan
Lewat taktik ini, orang secara sadar melebih-lebihkan pernyataan lawan bicara (pernyataan ekstrem) untuk mempengaruhi lawann bicara atau supaya dia menarik kembali pernyataannya.
Contoh : Dengan itu anda mau mengatakan bahwa semua pejabat itu koruptor?
Tidak, saya tidak bermksud begitu….

g. taktik memotong
Taktik ini dipergunakan untuk mengontrol pembicara yang berbicara terlalu banyak. Pembicaraannya dipotong dengan tiba-tiba dengan alasan untuk menyampaikan sesuatu yang penting.
Contoh : Bolehkah saya menyampaikan sesuatu yang penting secara singkat?
Sabar, boleh saya jawab sebentar?
Coba beri kesempatan kepada tuan B untuk mengungkapkan pendapatnya atas
apa yang baru saja anda katakan?
Saya tidak mau memotong pembicaraan anda tetapi hanya mau berbicara
sedikit.

4. Taktik negasi

a. taktik “tidak”
Taktik ini menyangkal pendapat lawan bicara secara langsung, karena menuntut penjelasan yang tuntas. Dilain pihak cara ini dapat menciptakan permusuhan, karena melukai lawan bicara. Oleh karena itu sebaiknya mengemukakan pertanyaan-pertanyaan ritoris.
Contoh : Bukan, itu tidak benar!
Bukan, tentang hal ini saya tahu lebih baik!
Atau untuk menghindari perasaan tersinggung pada lawan bicara, dapat
dipergunakan rumusan-rumusan yang lebih moderat seperti dibawa ini :
Jangan katakan: Anda hobong! Lebih baik: apa anda sungguh-sungguh
mengatakan yang benar? Atau, jangan katakan: anda tidak membaca
keterangan yang dilampirkan.

b. taktik kontradiksi
Taktik ini mengemukakan pernyatan komtradiksi (pernyataan esensial) atas apa yang dikatakan lawan bicara.
Contoh : Meskipun keberatan anda itu benar, tetapi tidak membuktikan apa-apa!
(Maksudnya apa yang katakan tidak benar.) Itu tidak pernah terjadi tetapi anda
melebih-lebihkan! (Membuktikan bahwa lawan bicara melebih-lebihkan
masalah)

Taktik-taktik Debat (PJ. Heuken, SJ) yaitu:

A. Menolak Argumen Lawan Secara langsung.

1. Mana faktanya?
Cara ini sangat sederhana tetapi menjebak lawan sehingga ia mudah kehilangan akal atau sekurang-kurangnya tidak dapat memngemukakan pokok pikirannya. Dan seandainya ia berusaha untuk membuktikan, maka ia sebenarnya hanya membuang waktu dan tenaga untuk membuktikan fakta yang sebenarnya merupakan prasyarat saja. Selai itu kadang-kadang bukti sulit didapat, tidak tersedia, maka si lawan sudah tersisihkan sebelum memcapai tujuannya.

2. “Sebabnya bukan itu”
Metode ini sering digunakan karena dalam banyak peristiwa sulit untuk menentukan dengan pasti hubungan sebab-akibat yang sesungguhnya. Maka pihak lawan diperlemah dengan menolak apa yang dikemukakannya sebagai sebab, alasan atau dasar, sehingga pendapatnya tidak beralasan dan kurang meyakinkan. Taktik ini dapat dugunakan dalam 3 cara yaiut :
a. memperlemah sebab yang dikemukakan dengan memberikan sebab-sebab lain
yang turut memegang peran.
b. menolak hubungan yang dikemukakan itu sebagai “sebab-akibat” karena sebenarnya hanya merupakan “sebelum sesudahnya” yaitu bersifat berurutan waktu belaka. Misalnya : katanya Firman jatuh sakit, karena dua hari sebelumnya dia kerja keras. Disangkal, memang antara kerja keras dua hari berturut-turut dengan jatuh sakit ada hubungan yang berturutan waktu. Sebab sesungguhnya Firman sakit adalah telah lama suatu bibit penyakit mengendap dalam tubuhnya.
c. hubungan “karena” disangkal dengan menggantikannya dengan hubungan meskipun. Misalmya: Karena setiap hari Pak Romo merokok, dia mencapai usia 75 tahun. Pendapat ini disangkal dengan mengatakan : Meskipun setiap hari Pak Romo merokok, ia mencapai usia 75 tahun. Secara tak langsung ingin dikatakan bahwa ada sebab lain yaitu :P ak Romo mempunyai jantung yang sehat dan kuat.

3. “Apalagi!” dan sebaliknya”

Pangkal-tolak dari serangan metode ini adalah kencatan yang melemahkan dari dasar dari hal yang diserang. Ada dua kemungkinan melancarkan serangan ini :
1. Saya memilih sutu fakta yang tidak dapat disangkal. Atasdasar itu saya menarik kesimpulan yang bertentangan dengan si lawan. Lalu pendapat itu saya hubungkan dengan si lawan dengan menggunakan kata penghubung : “lebih-lebih atau apalagi”
2. Saya memilih satu kencatan yang merupakan hal yang sebaiknya dengan apa yang disebut lawanku. Untuk mencapai kesimpulan itu, saya menggunakan kata penghubung “malah sebaliknya”

B. Menolak Argumen Lawan Seraca Tidak Langsung

4. Gunakanlah pisau analisa
Pendapat yang dikemukakan lawan tidak langsung ditolak, tetapi mulai dipecah-pecah dan dianalisis menurut berbagai segi yang terpisah-pisal. Suatu segi kecil yang tidak dipahami lawan, itulah yang diserang dan dan diuraikan secara mendetail. Lawan yang tidak mendalami hal itu akan bingung, kacau serta bosan.
Contoh : Pihak A mempersoalkan perekonomian yang umum, pihak B mulai meneropong dari segi penjaluran (industri), khususnya pemasaran juga terus dianalisanya sampai segi riset dann seles promotion yang kurang dipahami oleh pihak yang pertama.

5. Bandingkanlah dengan hal yang sejajar
Taktik ini menyerang pandangan atau kesimpulan dengan mengambil suatu yang “sejajar” dan “dikenal” . Hal yang serupa ini digunakan sebagai perbandingan. Kemudian ditunjukan bahwa kesimpulan dari dua hal “serupa” itu berbeda. Maka pandangan atau kesimpulan yang dipertahankan oleh si lawan itu salah, karean berlainan dengan konsekwensi dari tindakan serupa yang telah betul-betul terjadi.
Contoh : A: Pasar yang dibangun di daerah bumijaya, ditengah-tengah kompleks
perumahan rakyat, tidak dapat diterima karena akan mengganggu penduduk
setempat.
B : Kami tolak alasan saudara. Lihat didaerah kemuning telah berdiri proyek
pasar yang serupa dan nyatanya tidak mengganggu daerah setempat.
A : Tetapi daerah Kemuning berbeda dengan daerah kami.
B : Tidak ada perbedaan, sama, serupa! Kedua-duanya daerah perumahan
rakyat, tempat golongan atas dan memiliki ciri sosial ekonomi yang sama.

6. Bersikaplah konsekwen
Sikap atau ucapan lawan diserang karena benar-benar bertentangan dengan tindakannya sendiri. Buktikan bahwa lawan sebenarnya tidak jujur, munafik dan tidak konsekwen pada dirinya sendiri.
Contoh : A.: Menurut pendapatku, memelihara istri muda, menghina martabat kaum
wanita.
B: Saudara bagaimana, berapa banyak yang saudara punya sekarang?
A : Maaf, istriku ada empat dan semuanya kunikahi secara sah menurut hukum
Islam.
B : Well ! Tetapi saudara mengetahui syarat Alquran, bukan? Seorang wanita
harus diperlakukan dengan adil. Bagaimana seorang wanita sekarang, yang
sudah sadar akan martabat pribadinya, dapat diperlakukan dengan adil
dengan istri kedua, ketiga dan keempat? Saudara menganggap wanita seperti
barang, pemuas kebutuhan si pria saja, bukan sebagai pribadi sederajat.

7 Bercerminlah pada dirimu
Serangan lawan secara langsung dikembalikan pada secara langsung dikembalikan kepada lawan itu sendiri. Dengan cara ini kita berusaha agar lawan tutup mulut, mengalah atau mundur sebab merasa serangan ini akan menjadi “senjata makan tuan”
Contihnya : A : Kamu jangann berjudi
B : Uruslah dirimu sendiri, jangan setiap malam mall.

8. Bagaimanakah kalau semua berbuat demikian?
Dalam perdebatan, pertama-tama kita mengingatkan lawan bahwa tindakan atai argumen dapat ditiru oleh orang lain, oleh karena itu maksud jelek harus ditolak, karena tak masuk akal, sebab jika pendapat lawan diterapkan secara umum, akan menimbulkan akibat yang tidak dapat diterima.
Contoh : A : Kami ingin, undang-undang perkawinan menurut agama kami disahkan oleh
negara.
B : Tidak bisa! Bagaimana jika agama lalin juga menuntut hal yang sama?
A : Boleh saja, agama lain menuntut hal yang sama.
B : Ini tidak dapat diterima. Kalau undang-undang perkawinan semua agama
dijadikan undang-undang sipil, karena akan menimbulkan kekacauan dalam
masyarakat.

9. Tambah ini, tambah itu…., stop!
Dalam debat, ada usul yang masuk akal, namun jika tidak masuk akal harus ditolak. Dalam debat kita dapat mengaitkan berbagai hal yang ada atau gagasan lawann untuk memperlihatkan bahwa usul lawan stelah dipandang secara menyeluruh ternyata harus dittolak.
Cntoh : Pemerintah : Guna menambah kas negara akan dipungut sejenis pajak yang
dinamakan sumbangan istimewa.
Wakil rakyat : Tidak bisa !
Pemerintah : Tetapi pajak ini ringan, tidak begitu terasa.
Wakil rakyat : Rakyat suah dibebani berbagai macam pajak : pajak pendapatan,
pajak kekayaan, penjualan, kendaraan bermotor, pajak
pembangunandan sebagainya
Pemerintah : Tapi negara butuh uang, bagaimana jika dikenakan saja tambahan
bea atas impor?
Wakil rakyat : Kami tolak!……..

C. Menggunakan Argumen lawan Sendiri

10. Melebih-lebihkan
Dari gagasann lawan yang logis, ditarik kesimpulan yang berlebih-lebihan, sehingga yang diucapkan menimbilkan kesan yang aneh, tidak masuk akal. Konsekwensi yang berlebih-lebihan ini membuat dasar lawan menjadi lemah. Ia ditertawakan. Lawan dijtuhkan dengan gagasannya sendiri.
Contoh :
Kepala sekolah: Ibu Tuti, sebagai wali kelas III, harap menjaga sopan santun dan disiplin
murid-murid kelas itu.
Ibu Tuti : Apa saya harus menjadi pengasuh anak-anak, yang setiap hari memeriksa
pakaian, rambut, kuku, bacaan-bacaan murid-murid itu? Mereka sudah
cukup dewasa. Sudah kelas III SMA.
Kepala sekolah: Masud saya, agar pergaulan muda-mudi dalam kelas itu lebih sapam dan
tahu batas.
Ibu Tuti : Oh,…..

11. Mengubah ucapan lawan sedikit
Ucapan lawan diubah sedikit sehingga tidak tepat seperti apa yang dikatakan semula. Sering itu hanya tekanan saja. Kemudian ucapan lawan yang telah diubah itu diserang. Jadi dalam taktik ini, pertama-tama ucapan lawan diubah ke arah yang tidak dapat diterima. Kemudian arti ucapan itu diserang sebagai ucapan yang dikemukakan oleh lawan.
Contoh :
A : Pada prinsipnya saya setuju, bahwa penghianatan terhadap sumpah prajurit, harus
dihukum, tetapi cara pelaksanaannya saya tidak setuju.
B : Jadi saudara ingin penghianat-penghianat itu dibebaskan? Itu bertentangan dengan
keadilan.
A : Itu tidak saya katakan. Saudara mengarang dan mengubah arti kata-kata saya.
B : Tidak ! Tapi itulah yang saudara maksudkan.

D. Menunjukan dari Segi/ Sudut Lain
dari Pendapat /Argumen lawan

12. Tiada gading yang tak retak.
Dalam peristiwa sehari-hari kita jumpa dengan pendapat yang memiliki segi positif dan negatif.Tiada sesuatupun didunia ini yang sempurna tanpa cela. Tiada gading yang tak retak. Sebagai contoh : menjadi pilot itu menynagkan, banyak uang, berkeliling dunia tanpa bayar, dikagumi gadis-gadis. Tetapi ada segi negatifnya : nyawa dapat dipertaruhkan dan jarang dapat berkumpul bersama keluarga. Oleh karena itu dalam taktik ini, pendapat lawan dapat diserang dengan mengemukakan segi-segi kabalikannya, yang dengan sengaja tidak disebutkan.
Contoh :
Ayah : Saya usulkan, kita beli rumah baaru yang letaknya dijalan mawar itu. Ruamhnya
besar, pekarangan luas, lagipula tematnya tenang, jauh dari kesibukan dan
keributan.
Ibu : Saya tidak setuju ! Rumah besar membutuhkan banyak pembantu dan sulit
memelihara. Lagipula letaknya lebih jauh dari toko-toko dan pasar. Banyak waktu
harus dibuang hanya untuk mengurus keperluan sehari-hari. Lebih baik kita
pindah kerumah baru dijalan Salak.
Ayah : Rumah dijalan Salak itu terlalu sempit, modelnya telah kuno, tak ada pekarangan
dan jauh dari sekolah anak-anak.
Ibu : Tapi rumah itu dekat dengan pasar, dokter, apotik dan cukup nyaman udaranya.

13. Berdialektika
Dalam debat ini merupakan dasar dari suatu taktik yang amat sederhana tetapi amat ampuh guna menyerang lawan. Pendapat lawan selalu diserang dengan mengemukakan segi lainnya yang bertentangan.
Contoh :
A : Kita memerlukan seorang pemimpin yang sudah berpengalaman dan cukup lama
berjuang demi partai
B : Tldak sekarang ini kita harus menitikberatkan kreatifitasa dan semangat. Oleh karena
itu kita perlukan seorang muda sebagai pemimpin.
A : Bagaimanapun juga saudara harus mengakui bahwa orangyang sudah lebih tua
biasanya lebih matang, tidak emosional, disiplin serta bijaksana sebagai seorang
pemimpin.
B : Tapi, lihat kenyataan sekarang ini, dalam keadaan darurat dan gawat, orang muda
yang berani dan tidak takut bahaya serta tidak terikat oleh aturan yang kolot dan
tradisional, adalah orang yang sangat diperlukan saat ini.

E. Mengalihkan pokok pembicaraan pada hal-hal lain

14. Melarikan diri pada hal-hal umum
Persoalan atau argumen lawan yang khusus dan terbatas dialihkan pada persoalan yang bersifat umum sekali, sehingga argumennya seolah-olah tidak berarti lagi. Misalnya : titik-tolak pandangan si A adalah perekonomian dalam negeri, maka si B memindahkan titik-tolak itu pada pasaran dunia. Dengan demikian tujuan lawan tidak tercapai dalam debat itu, karena masing-masing bertitik-tolak pada dasar yang berbeda.
Contoh :
A : Korupsi harus dibasmi sampai keakar-akarnya sehingga negara kita bebas dari
korupsi.
B : Jauh lebih penting sekarang kita harus meyusun kekuatan untuk menegakkan Orde
Baru dan melaksanakan demokrasi melalui pemilu.

15. “Jikalau” dan “akan tetapi”
Pada hakekatnya, hidup ini memiliki berbagai kemungkinan yang dapat terjadi karena sudah direncanakan, diperkirakan atau secara tak terduga. Misalnya diperkirakan bahwa jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 1000 juta jiwa pada tahun 2010. Tanpa terduga-duga, Perang Dunia III meletus. Mungkin kereta api Surabaya-Jakarta terlambat tiba. Semua kemungkinan ini dapat dijadikan alasan untuk melemahkan pendapat lawan. Alasan kita ini sedapat mungkin harus dikemukakan secara kuat, tepat dan masuk akal sehingga dapat menggoyahkan pendapat lawan. Taktik debat seperti ini sering disebut taktik “jikalau” dan “akan tetapi”.
Contoh :
Atasan : Kami minta saudara Andi agar minggu depan pergi ke Makasar untuk mengurus
persoalan cabang disana. Kira-kira untuk tiga bulan lamanya.
Andi : Maaf Pak, jika saya pergi ke Makasar, bagaimana dengan istri saya yang sudah
hamil tua itu. Bagaimana jikalau terjadi keguguran, pendarahan. Bagaimana
jikalau tiba-tiba ditengah malam sakit perut. Siapa yang akan memanggil bidan
atau dokter. Siapa yang akan mengantarkannya kerumah sakit.
Atasan : Uruslah dulu semuanya itu sebaik-baiknya. Dokter, bidan dan rumah sakit dapat
dihubungi sejak saat ini. Semua pasti akan beres.
Andi : Bagaimana pada saat melahirkan itu, timbul hal-hal yang tak terduga-duga? Jika
istri saya mengalami hal-hal yang kritis, saya perlu ada disampingnya saat itu.

16. Salah tarik
Metode ini merupakan penarikan kesimpulan yang seolah-olah nampak benar, tetapi sesungguhnya salah karena menjadikan sesuatu yang khusus menjadi dasar hukum yang seakan-akan berlaku umum.
Contoh :
A : Dalam zaman Orde baru sekarang ini, hukum selalu ditegakkan
B : Atas dasar apakah saudara menarik kesimpulan seperti itu?
A : Lihatlah, Sudarman, seorang pati ABRI telah dijatuhi hukuman karena korupsi.
B : Betulkah itu? Saudara hanya menyebut beberapa kekecualian. Tengoklah ratusan
koruptor dikalangan pengusaha, pemerintahan dan ABRI yang masih berkeliaran dan
menduduki tempat mereka yang empuk.

17. Mencap
Pendapat diberi cap suatu bentuk aliran, golongan, ideologi yang dianggap oleh masyarakat sebagai sesuatu yang buruk. Hal ini lazim digunakan dalam debat politik, ideologis antara golongan yang sering disertai unsur-unsur emosional. Taktik ini lebih berhasil jika digunakan dalam debat-debat dimuka umum yang kurang kritis. Lawan akan terdesak, lebih-lebih massa mulai terpancing oleh tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada pihak lawan itu.

18. Mensetir
Pendapat atau ucapan orang-orang terkemuka lebih mudah dipercaya dan diakui sebagai sesuatu yang benar. Orang malu atau segan melawan pendapat seorang ahli. Maka dalam debat orang mensetir kata-kata atau pendapat para tokoh terkemuka dan ahli dalam bidangnya masing-masing dengan berbagai macam tujuan : memperkuat pendapat sendiri, melemahkan pendapat lawan, mempersulit kedudukkan lawan, dan menyerang pendapat lawan.
Contoh :
A : Pancasila kita terima. Dalam terapannya harus diselaraskan dengan kondisi dan
keadaan masing-masing daerah.
B : Tidak setuju ! Menerima Pancasila sebagai dasar falsafa negara, berarti kita semua
secara konsekwen, wajib menerapkannya dalam hidup sehari-hari, secara murni dan
tanpa ditambah atau dikurangi.
A : Tetapi ingat, negara kita terdiri dari beberapa agama dan berbagai suku yang
mempunyai pandangan hidupnya masing-masing.
B : Tidak! Dengarkanlah apa yang dikatakan presiden Suharto sendiri : Pancasila kalau
sudah disesuaikan dengan kondisi setempat, berarti tidak sebagai dasar falsafa negara
lagi.

19. Main tersinggung
Dalam debat pihak lawan merasa tersinggung karena ucapan tadi, meskipun hal itu tidak dimaksutkan. Pertama, tersinggung ini dapat bersifat spontan, karena memang orang itu memang bersifat perasa. Tetapi selain itu, tersinggung ini dibuat-buat dengan sengaja yaitu dimaksudkan oleh pihak, kepada siapa argumen itu ditunujukan.
Contoh :
Wakil rakyat : Kami menyatakan keberatan atas usul Bapak untuk mengambil tanah
rakyat, supaya digunakan untuk proyek pertanian kolektif.
Pak camat : Jadi saudara-saudara mau apa? Kalian menyangka saya cari untung
pribadi? Fitnah itu! Menuduh saya merampas tanah rakyat untuk
kepentingan pribadi.
Wakil rakyat : Maaf Pak, bukan itu maksud kami. Tapi proyek ini banyak merugikan para
petani kita.
Pak camat : Jadi saudara kira saya goblok, mengusulkan sesuatu yang merugikan
kecamatan sendiri?
Wakil rakyat : Sekali lagi maaf Pak, Cobalah bersikap sedikit tenang. Kami tidak
bermaksud menuduh seseorang sebagai perampas tanah rakyat atau goblok.

F. Menghindari Pokok Pembicaraan

20. Menolak tema
Pokok persoalan atau tema yang dikemukakan lawan ditolak atau dihindari . Penolakan ini didasarkan pada dua hal : tema itu tidak berguna untuk didebatkan sekarang, hanya akan membuang-buang waktu saja, tema itu melemahkan posisi kita karena mungkin belum siap atau belum mendalaminya.
Contoh :
A : Skandal Maxim-Mantrust harus diperiksa secara terbuka.
B : Itu tidak perlu karena hal itu terjadi diluar negeri bukan di Indonesia.
A : Apa? Ini berhubungan dengan pandangan Jepang kepada kita.
B : Tapi, skandal itu toh tidak merugikan pemerintah kita.
A : Gila ! Ini menyangkut nama baik dan kehormatan bangsa kita di dunia internasional.
B : O.K. ! Baiklah kalau demikian. Sekarang kita bahas lebih dahulu latar belakang
skandal tersebut, yaitu kelemahan sistem pelaksanaan kredit luar negeri. (Lalu
membahas keluar dari tema pokok semula).

21. Menyerang dari belakang
Pandangan atau argumen lawan tidak diserang langsung melainkan dipukul dari belakang. Taktik ini seolah-olah nampak sebagai suatu uraian yang mendalam, tetapi sesungguhnya hanya menyingkirkan pokok tema yang dikemukakan lawan. Taktik ini dapat dilakukan melalui tiga cara : mengemukakan dasar sejarah, kebudayaan, geografis yang melatar belakangi pandangan/argumen lawan itu.

22. Melantur
Pendapat A tidak diserang secara langsung dan terarah tepat pada isi yang dikemukakan, melaikan pihak B berusaha mengacaukan A tadi dengan melantur: bicara hilir-mudik tanpa isi dan tujuan tertentu. Sehingga pihak A yang kurang berpengalaman mudah dibingungkan dan dikacaukan dengan taktik melantur ini. Dan berusaha mengikuti kata-kata pihak B yang melantur, meskipun dia tidak dapat menangkap maksud dan tujuannya. Taktik melantur ini dapat dilawan dengan :
a. Menghentikan bualan pembicara dan menanyakan terus-menerus apa maksud kata-kata
itu, sampai akhirnya terpaksa mengakui bahwa ucapan itu adalah kosong, tidak berisi.
b. Kita secara terus-menerus menunjukan , bahwa si lawan itu tukang omong kosong :
Kamu ini seperti tong kosong nyaring bunyinya.
c. Sacara sabar dan sopan menjawab salah satu dari berbagai hal yang dikatakan dari
pihak “pengoceh” itu. Hal ini dilakukan khususnya jika kita berhadapan dengan orang
yang perlu dihormati atau terpandang. Tetapi dengan segera kita alihkan kembali
perdebatan kepada pokok atau tema kita yang semula.

23. Caranya ditolak
Taktik ini tidak menolak isi pendapat lawan, tetapi menolak caranya saat mengemukakan pendapat. Pihak B menolak pendapat atau saran kelompok A karena dikemukakan secara umum atau dilontarkan secara ngaur, terlalu emosional, keras atau kasar. Taktik ini sering digunakan oleh kaum wanita dan orang-orang yang berkedudukkan tinggi.
Contoh :
A : Tepatlah janjimu sekarang,untuk membayar hutangmu.
B : Kau tidak sopan menagih hutang ditengah jalan. Saya tidak mau bicara soal itu disini.
A : Tapi kau tidak pernah kujumpai dirumah. Sudah sepuluh kali aku datang
kerumahmu, tetapi kau tak pernah ada. Setan kau! kembalikan uang itu, penipu!
B : Jangan berteriak-teriak seperti itu, aku belum tuli.
A : Jangan banyak dalih lagi, lekas bayar hutangmu sekarang juga!
B : Dengan cara seperti ini, aku tak akan memperdulikan kau. (Lalu si B pergi)

Taktikini dapat digunakan dalam kesempata-kesempatan :
a. Kita tidak mau melayani ucapan atau argumen lawan, maka serangan itu kita hindari
dengan menolak cara mengemukakan pendapat atau serangan itu.
b. Dipengadilan, pembela dapat menolak cara tuntutan yang dikemukakan dan minta
kepada hakim untuk mengundurkannya, karena dia belum diberi waktu secukupnya
dan kebebasanyang sepenuhnya untuk berbicara dengan orang yang dibelanya.
c. Lawan mengemukakan pendapat tidak sesuai dengan prosedur yang resmi. Maka kita
menolak untuk mempertimbangkan isi usul/pendapat lawan, karena caranya tidak
dapat diterima.

G. Meyerang Dengan Semu

24. Mengambil hati
Metode ini tidak menyerang pihak lawan seperti metode lainnya tetapi berusaha mengambil hatinya supaya dia akhirnya melepaskan pendapatnya dan menerima pandangan kita. Kita berusaha agar perlawanan kita seolah-olah tidak nampak dihadapan lawan. Caranya menggunakan taktik “mengambil hati” ini juga bermacam-macam:
a. Kita menerima dasar pandangan lawan, tetapi kita menarik dari dasar pandangan sama
itu suatu konklusi yang berbeda.
b. Kita memperlihatkan bahwa kita sebenarnya membela kepentingan pihak lawan.
c. Kita mengakui dan memuji semua usaha, jasa dan niat baik lawan untuk berbuat
sebaik-baiknya tetapi kita menunjukkan kenyataannya.
Contoh :
Kepala sekolah : Saya mengambil keputusan untuk mengeluarkan Husin dari sekolah ini
berdasarkan alasan-alasan yang saya sebutkan diatas.
Orangtua Husin : Saya mengerti sikap Bapak dan memuji semua usaha Bapak untuk
membantu kami mendidik Husin menjadi orang yang berwatak baik
dan berguna bagi masyarakat. Tetapi keputusan ini nampak bagi kami
agak berat. Mohon Bapak mempertimbangkan kembali.
Kepala Sekolah : Maaf saudara, tindakan Husin sudah keterlaluan. Kami tidak dapat
menahannya lebih lama lagi disekolah ini.
Orangtua Husin : Saya tahu, bahwa Bapak adalah seorang pendidik yang ulung,
bijaksana dan penuh cintakasih pada anak-anak didik Bapak. Maka
demi masa depan Husin, berilah satu kesempatan lagi untuk
memperbaiki dirinya.
Kepala Sekolah : Baiklah, keputusan saya ini akan kupertimbangkan lagi. Besok akan
saya sampaikan keputusan terakhir!
Taktik ini dapat digunkan pada kesempatan-kesempatan sebagai berikut :
a. kita berhadapan dengan orang yang lebih tua atau lebih tinggi jabatannya, begitu juga
jika kita berdebat dengan orang yang memiliki nama baik atau ahli dalam bidang itu.
b. Kita ingin menolak suatu usul atau permohonan orang lain tanpa menimbulkan suatu
pesan yang buruk pada diri orang itu terhadap diri atau kelompok kita.
c. Kita ingin mohon suatu pertimbangan kembali atas putusan dari atasan yang tidak
dapat diterima.

Maksud metode ini yaitu melemahkan atau mengubah pendapat atau argumen lawan secara halus dengan memuji bakat, keahlian, keutamaan pihak lawan dan menganggap remeh pertentangan yang ada, supaya lawan tidak melihat kita sebagai lawannya tetapi sebagai teman. Denan begitu dia akan lebih mudah dipengaruhi dan mau menerima pandangan atau argumen kita.

25. Dilema semu
Suatu taktik debat lain adalah menempatkan lawan pada suatu dilema: memaksa lawan sehingga dia terpaksa harus memilih antara dua kemungkinan (alternatif) yang kedua-duanya akan menjatuhkannya. Misal seorang pemudi dihadapkan pada pilihan : menikah dengan pemuda yang dicintainya dengan konsekwensi, orangtuanya tidak menerima dia lagi sebagai anak, ataukah menuruti kemauaan orang tuanya, yang berarti menikah dengan orang kaya yang tidak dicintanya.
Metode ini dapat digunakan dalam kesempatan :
a. Kita ingin memojokkan lawan kesuatu sudut, yang mematahkan argumennya.
Lawan dipaksa untuk menyerah, mengalah atau mengakui kesalahannya.
b. Kita memaksa lawan mengikuti jalan pikiran kita, dengan mengemukakan dua pilihan,
yang kedua-duanya akan menjatuhkan lawan itu sendiri.

Cara melawan taktik dilema adalah :
a. Jangan menjawab salah satu dari dua pilihan yang dikemukakan lawan, tetapi dengan
cerdik mencari jawaban lain yang tak terduga-duga. Untuk ini perlu otak yang cair dan
cerdas.
b. Kita dengan tegas menolak, bahwa sesungguhnya tidak hanya terdapat dua jawaban,
yang telah ditentukan lawan, tetapi masih terdapat banyak memungkinan-kemungkinan
atau alternatif lain.

Maksud metode ini : membawa lawan kepada suatu keadaan, yang membuat dirinya serba salah. Pilih ini salah, pilih itupun salah. Dalam keadaan bingung ini, lawan dapat dibingungkan dan diserang argumen-argumennya.

7. DASAR-DASAR PENILAIAN
Dalam situs www.on-linedebatingTutorial.com, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penilaian para juri dalam kompetisi debat, yaitu seperti berikut:
a. Argumen
Argumen didasari oleh pemikiran yang kuat dan dengan pembahasan yang jelas.

b. Isi.
Dalam memaparkan argumen, akan lebih baik jika didukung dengan contoh-contoh sehingga semakin meyakinkan publik. Contoh-contoh tersebut haruslah menarik, relevan dan inovatif.

c. Kelancaran
Pembicara yang baik haruslah lancar dengan meminimalkan penggunaan catatan kecil. Penggunaan catatan kecil yang terlalu sering dapat mempengaruhi penilaian juri.

d. Humor
Humor dapat menciptakan suasana yang menyenangkan baik bagi para publik maupun bagi para peserta debat itu sendiri.

e. gaya dan sikap dalam presentasi
Pembicara yang baik akan mengkombinasikan humor, dengan bahasa tubuh, tekanan suara, kontak mata dan kelancaran berbicara.

8. SIKAP DALAM DEBAT

Seorang pendebat hendaknya bersikap rendah hati, wajar, ramah, dan sopan untuk menghindari percecokan, pertengkaran, dan menganggapa dirinya paling benar. (Tarigan, 1989:104)
Suara pendebat sebaiknya lantang, penuh semangat, meyakinkan, spontan namun cukup sopan sehingga dapat meyakinkan publik. (Sekretariat Nasional K.M/C.L.C., 1970 : 92)

9. NORMA-NORMA DALAM BERDEBAT DALAM BERTANYA
Menurut Mulgrave, (1954:45) seperti yang dikutip Tarigan, (1984:92-93) ; semua pembicara hendaknya memiliki :
1. Pengetahuan yang sempurna mengenai pokok pembicaraan
2. Kompetensi atau kemampuan menganalisis
3. Pengertian mengenai prinsip-prinsip argumen
4. Apresiasi terhadap kebenaran-kebenaran fakta
5. Kecakapan menemukan buah pikiran yang keliru dengan penalaran
6. keterampilan dalam membuktikan kesalahan
7. Pertimbangan dan persuasi
8. Keterampilan, kelancaran, dan kekuatan dalam cara atau penyampaian pidato

Menurut Powers (1951:311) yang dikutip Tarigan (1985 : 98), dalam mengajukan pernyataan-pernyataan hendaknya kita memperhatikan norma-norma berikut ini :
1. Mengetahui segala sesuatu mengenai usul atau proporsi yang akan didiskusikan
2. Bersungguh-sungguh dalam mencari informasi.
3. jangan menguji pembicara.
4. Singkat dan tepat.
5. Jangan terlalu berbelit-belit.
6. Jauhkan pertanyaan kita dari emosi.
7. Jangan bersifat menuduh, menyalahkan, menggoda, mengusik, menggertak, menakut-
nakuti, atau membingungkan pembicara.
8. Mengajukan pertanyaan yang khusus.
9. Menghindari cara berpikir yang menyesatkan.

10. PENGGUNAAN DEBAT

Debat dipergunakan dalam berbagai kegiatan seperti:
1. Perundang-undangan
Misalnya dalam pembuatan RUU (Rancangan Undang-Undang) atau status diperkenalkannya dalam badan legeslatif, disina terjadi perdebatan antara pihak penganjur (propone) yang berbicara berdasarkan undang-undang dengan pihak penyanggah (opone) yang menentang.

2. Politik
Dalam kampanye-kampanye politik debat digunakan sebagai cara mempermudah para pemberi suara atau pemilih untuk mengetahui bagaimana calon-calon pemimpin mereka yang saling mempertahankan pendapat dan menyerang dari masing-masing pihak.

3. Bisnis (pengusaha perniagaan)
Dewan pemimpin dan eksekutif dalam suatu perusahaan mempergunakan debat untuk memperoleh keputusan dalam berbagai kebijaksanaan.

4. Hukum
Debat dalam bidang ini terjadi antara pihak pembela dan penuntut dalam sebuah sidang.

5. Pendidikan
Dalam perguruan tinggi debat digunakan sebagai sarana penting untuk memperkenalkan komunitas atau masyarakat terhadap masalah-masalah yang sedang hangat diperbincangkan.

11. MANFAAT DEBAT
Debat memiliki karakter pembicaraan yang tinggi, sebab lewat debat orang dilatih dan dibina untuk menyiapkan bahan diskusi secara teliti, berpikir rasional dan tajam, merumuskan pikiran secara teliti dan tepat sasar . Selanjutnya debat membina para peserta untuk berbicara singkat, padat jelas dan mengesankan.

BAB III

MUSYAWARAH

1. Pengertian Musyawarah
A. Menurut Dr. P Hardoyao (Hakekat dan Muatan Flsafat Pancasila, 1988: 135-136) Musyawaran adalah persuasi dan pendekatan dalam menyapaikan penawaran nilai-nila kepada pihak lain maupun menerima nilai-nilai dari pihak lain yang diambil berdasarkan keyakinan bukan karena merasa kalah
B. Menurut W. J. S Powerdarminta (KBBI , 1986: 665) musyawarah adalah rapat perundingan untuk mencapai kesepakatan.
C. Menurut (KBBI, 1996:677), musyawarah adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah.
D. Menurut Departeman Pendididkan dan Kebuadayaan (Pendidikan Moral Pancasila 1986:60) musyawarah adalah salah satu jalan mengambil keputusan secara bersama-sama atas dasar saling menghargai dan saling saling menghormati sehingga setiap pendapat bisa dikemukakan dan merupakan asas demokrasi yang telah diterapkan dalam masyarakat Indonesia.
E. Menurut Kamus Umum Bahasa Indenesia (2002: 665), musyawarat adalah perundingan; rapat perundingan.
F. Menurut : www.google.co.id, Musyawarah adalah cara efektif melahirkan kemenangan bersama.
2. Unsur-Unsur Musyawarah.
Unsur-unsur Musyawarah meliputi:
A. Materi musyawarah :
1) Tema : pokok pikiran yang akan dimuyawarahkan. Tema atau pokok masalah, persoalan atau topik merupakan prasyarat paling utama dalam musyawarah.
2) Tujuan informasi mengenai tata cara teknis penyelenggaraan, informasi mengenai alasan, tujuan dan cara penyelenggaraan
3) Langkah-langkah
4) Tata tertib
B. Personalia :
1) Panitia pembantukanp panitia musyawarah dilaksanakan secara musyawarah. Jumlah anggota Panitia Musyawarah disesuaikan dengan kebutuhan.
2) Dalam Diskusi :
a. Menurut KBBI moderator adalah pemimpin sidang (rapat/diskusi) yang menjadi pengarah pada acara pembicaraan atau pendiskusian masalah.
b. peserta, adalah anggota musyawarah tersebut
c. pemakalah,
d. pembahas,
e. narasumber atau penceramah atau juga pemrasaran. Kehadiran pembicara sangat dimungkinkan sebagai narasumber; orang yang berkompeten dalam bidang keahlian atau keilmuaan. Biasanya pembicara menyampaikan makalah.
f. notulen
C. Fasilitas
1) Ruang
2) Sound system
3) Makalah
4) Media
D. Dana
E. Waktu.
Waktu berkaitan dengan hari, tanggal, dan jam pelaksanaan musyawarah. Penentuan waktu sering menimbulkan banyak kendali mengingat setiap orang mempunyai jadwal yang berbeda. Namun, jika pemilihan waktu dilakukan bersama-sama, kendala apapun dapat diatasi.

3. Macam-Macam Musyawarah
A. Macam-macam musyawarah menurut Badan penerbit Sasongko solo
(Himpunan Ketetapan MPR, 1978:28)
1. Musyawarah perhimpunan majelis
2. Musyawarah pemimpin majelis
3. Musyawarah badan pekerja majelis
4. Musyawarah komisi majelis
5. Musyawarah gabungan pimpian majelis dengan pimpinan komisi
6. Musyawarah panitia Ad Hoe majelis
7. Musyawarah fraksi majelis.
B. Menurut http: hmti-handayani.com
1. Musyawarah besar (MUBES) HMTI STMIK Handayani Makassar sesuai dengan pasal 7 pasal 8 ART STMIK Handayani Makassar.
2. Rapat Kerja (RAKER) adalah rapat yang akan khusus untuk membahas program kerja selama satu priode
3. Pleno adalah sidang yang diadakan pada pertengahan periode untuk mengevaluasi kenerja kepengurusan.
4. Rapat anggota adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota untuk membahas masalah sanksi, moralitas, dan hal-hal krusial lainnya.
5. Rapat dengar pendapat adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota untuk mendengar pendapat terhadap sesuatu masalah yang dihadapi.
6. Rapat presidium adalah rapat yang dihadiri oleh unsur-unsur presidium yaitu ketua umum,sekretaris umum, bendahara, dan ketua-ketua bidang.
C. Menurut http: www. Parlemen.net com, ada tujuh belas (17) jenis rapat DPR yang diatur dalam tatatertib DPR, yang masing-masing mempunyai tujuan ruang lingkup danjangkauan sendiri. Rapat-rapat tersebut adalah:
1. Rapat Palipurna adalah rapat anggota yang dipimpin oleh pimpinan DPR dan merupakan forum tertinggi dalam melaksanakan tugas dan wewenang DPR.
2. Rapat palipurna luar biasa adalah rapat palipurna yang dilasanakan dalammasa reses, dengan syarat diminta oleh presiden dan dengan persetujuan pimpinan DPR, dikendaki oleh pimpinan DPR dengan persetujuan badan musyawarah atau dusulkan oleh sekurang-kurangnya tiga belas anggota dengan persetujan badan musyawarah.
3. Rapat fraksi adalah rapat anggota fraksi yag dipimpin oleh anggota fraksi
4. Rapat pimpinan DPR adalah rapat pimpinan DPR yang dipimpin oleh ketua DPR.
5. Rapat badan musyawarah adalah rapat badan musyawarah yang dipimpin oleh pimpinan badan musyawarah.
6. Rapat Komisi adalah rapat anggota komisi yang dipimpin oleh pimpinan komisi.
7. Rapat gabungan komisi adalah rapat bersama yang diadakan lebih dari satu komisi.
8. Rapat badan legisiasi adalah rapat badan legisiasi yang dipimpin oleh pimpinan badan legisiasi
9. Rapat panitia Anggaran adalah anggota panitia yang dipimpin oleh pimpinan ketua panitia anggaran.
10. Rapat badan urusan rumah tangga (BURT) adalah rapat BURT yang dipimpin oleh pimpinan BURT.
11. Rapat badan kerja sama antar parleman (BKSAP) adalah rapat anggota BKSAP yang dipimpin oleh ketua BKSAP.
12. Rapat badan kehormatan adalah rapat anggota badan kehormatan yang dipimpin oleh pimpinan badan kehormatan.
13. Rapat panitia khusus adalah rapat panitia khusus yang dipimpin oleh ketua panitia khusus.
14. Rapat panitia kerja atau tim adalah rapat anggota panitia kerja yang dipimpin oleh ketua panitia tim
15. Rapat kerja adalah rapat antar komisi, gabungan komisi, badan legisiasi, panitia angaran, dengan pemerintah dalam hal presidenatau mentri yang ditunjuk untuk mewakilinya. Rapat ini dipimpin oleh pimpinan komisi, pimpinan rapat gabungan, pimpinan badan legisiasi, pimpinan panitia angaran, atau pimpinan panitia khusus.
16. Rapat dengar pendapat adalah rapat antara komisi, beberapa komisi, dalam rapat gabungan komisi, badan legisiasi, panitia anggaran, atau panitia khusus dengan pejabat pemerintah yang bersangkutan yang mewakili instansinya, baik atas undangan pimpinan DPR mau pun pemerintah pejabat pemerintah yang bersangkuatan. Rapat ini dipimpin oleh pimpinan komisi, pimpinan rapat gabungan, pimpinan badan legisiasi, pimpinan panitia angaran, atau pimpinan panitia khusus
17. Rapat dengar pendapat umum adalah rapat antar komisi beberapa komisi dalam rapat gabungan komisi, badan legisiasi, panitia anggaran, dengan perseorangan, kelompik organisasi, pimpinan rapat gabungan komisi, pimpinan badan legisiasi, pimpinan panitia anggaran.

4. Persiapan Musyawarah
A. Menurut Sasongko (himpunan Ketetapan MPR 1987:28-29)
1. Undangan dan bahan-bahan untuk musyawarah harus sudah disampaikan kepada anggota selambat-lambatnya dua minggu sebelum persidangan dimulai.
2. Bahan-bahan untuk musyawarah lainnya sudah disampaikan kepada anggota sebelum rapat dimulai.
3. Sebelum menghadiri rapat setiap anggota menanda tangani daftar hadir
4. Apabila daftar hadir sudah di tanda tangani lebih dari separuh jumlah anggota maka pimpinan membuka rapat
5. Jika pada waktu yang telah ditetapkan untuk dimulainya rapat, jumlah anggota yang ditentukan pada ayat empat belum juga tercapai maka pemimpin rapat menunda rapat paling lama satu jam.
6. Jika telah ditunda satu jam belum juga tercapai jumlah yang ditentuan pada ayat empat pemimpin boleh membuka rapat.
7. Untuk dapat mengambil keputusan diperlukan porum sebagaimana diatur dalam bab XI tentang pengambilan keputusan majelis.
5. Etiket Musyawaarah
A. Menurut http: www. Parlemen.net com, mengenai sidang rapat DPR
1. Tata cara rapat
a) Setiap anggota berhak mengisi daftar hadir sebelum rapat dimulai
b) Ketua rapat membuka pada waktu yang telah ditentukan dan jika anggota yang hadir lebih dari separuh unsur fraksi. jika belum separuh dari jumlah anggota maka pemimpin rapat menunda pembukaan rapat maksimal satu jam.
c) Apabila ketua berhakangan maka rapat dipimpin oleh salah seorang wakil ketua rapat.
2. Tata cara permusyawaratan
a) Ketua rapat mempunyai kewajiban untuk menjaga agar rapat berjalan sesuai dengan tata tertib DPR ketua rapat hanya berbicara selaku pimpinan rapat untuk menjelaskan masalah, yang menjadi pembincaraan menjukan duduk persoalan, mengembalikan pembicaraan kepada pokok persoalan, menyimpulkan pembicaraan anggota rapat. Apabila ketua rapat hendak bebicara selaku anggota rapat maka untuk sementara pimpinan rapat diserahkan kepada anggota pimpinan yang lain.
b) ketua rapat dapat menentukan lamanya anggota rapat berbicara. Ketua rapat juga berhat memberi peringatan dan meminta supaya pembicara mengakri pembicaraannya apabila pembicara melampaui batas waktu yang telah ditentukan.
c) setiap waktu dapat diberikan kesempatan kepada anggota rapat melakukan intrupsi untuk meminta penjelasan tentang duduk persoalan sebenarnya mengenai masalah yang sedang dibicarakan, menjelaskan soal menyangkut diri dan tugasnya, mengajukan usul prosedur mengenai soal yang sedang dibicarakan, dan mengajukan usul agar rapat ditunda.
d) ketua rapat berwenang membatasi waktu pembicaraan dalam intrupsi, memperingatkan dan menghentikan pembicaraan apabila intrupsi tidak ada hubungannya dengan materi yang sedang dibicaraka

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

Adalah sesuatu yang sangat penting bagi seorang pemimpin untuk mempelajari seni berbicara, baik segi monologika maupun dialogika, baik di zaman sekarang maupun di zaman yang akan datang. Orang yang menguasai atau memiliki keahlian berbicara, dengan mudah dapat menguasai massa dan dapat berhasil memaparkan ide mereka, sehingga dapat diterima oleh orang lain. Bapak retorika berkebangsaan Romawi, Quintilianus, mengatakan “Hanya orang yang pandai berbicara adalah sungguh-sungguh manusia.”
Memang seorang tokoh masyarakat atau yang disebut seorang pemimpin harus memiliki keahlian berbicara. Maka sebagai mahasiswa atau calon pemimpin, selain mengetahui seni berbicara monologika (pidato, mederator, master of ceremony (MC), wawancara dan bercerita atau berdongeng) yang telah dibahas pada semester genap yang lalu, juga perlu dan sangat penting mengetahui seni berbicara dialogika (diskusi, debat dan musyawarah) yang telah dibahas bersama dalam semester ini.
Oleh karena itu, diharapkan bahwa dari makalah singkat, hasil kerja sama kelompok “Imanuel” ini, dapat memberikan sumbangan dalam mempelajari seni berbicara dialogika. Selamat belajar, semoga menjadi pemimpin-pemimpin yang handal, profesional dan berkualitas untuk nusa dan bangsa ini. Allah menyertai kita “Imanuel”.

B. Saran
Saran dari kelompok kami yaitu supaya bukan hanya debat yang dipraktekan di dalam kelas, tetapi semua seni berbicara dialogika yang telah dipelajari bersama (debat, diskusi dan musyawarah), supaya mahasiswa mempunyai gambaran yang jelas tentang teori yang telah dibahas atau dipelajari itu.

Daftar Pustaka :

Abdurrahman. 1978. Diskusi Sebagai Alat Untuk Memecahkan Masalah. Bandung : PT Karya Nusantara
Bulatao. J. 1071. Teknik Diskusi Berkeompok. Yogyakarta: kanisius
DEPDIKBUD. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
DEPDIKBUD. 1986. Pendidikan Moral Pancasila.Jakarta: Balai Pustaka.
DEPDIKBUD.1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta Balai Pustaka.
Dori Wuwur, Hendrikus SVD.1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius
Hardono. P. 1988. Hakekat dan Muatan Filsafat Pancasila. Jakarta : Balai Pustaka.
http://www. Parlemen. Net. com//
http://hmti-handayani.com//
http://www.wikipedia.com//
http://www. On-lineDebating Tutorial.com//
Kamdhi, J.S.1995. Diskusi Yang Efektif. Cirebon: Kanisius
KKK.1970. Taktik Debat. Jakarta: K.M./CLC.
Poerwadarminta. W. Y. S. 1986. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Poerwadarminta. W.Y. S. 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Ramsom, Mildren. 1966. The Chairmans and Debates Handbook third. Editing London :
Rotledge and Kegan Paul Ltd.
Rosalina, Susi.1991. Contoh MC dan Pidato Praktis Lengkap dengan Seminar. Surabaya: Amanah
Tarigan, Henry Guntur. 1985. Berbicara Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa.
Solo Sasongko, 1978. Himpunan Ketetapan MPR cetakan I. Solo
Sukiat .1979. Diskusi Kelompok .Yogyakarta : Depdikbud.
Surono.Ig. 1979. Petunjuk Penyelenggaraan Rapat dan Teknik Diskus: Intan.
Wiyanto, Asul. 1985. Pidato dan Diskusi .Kediri : Taruma

BERBICARA

Dosen Pembimbing
G. Sukadi

Disusun oleh:
1. Yanti Tri Hantini 061224069
2. Abet Yulius 061224066
3. Repinus 061224080
4. Maria Goreti Safe 061244068
5. Martinus Eka 061224064

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2007

LATAR BELAKANG

Seorang tokoh masyarakat atau yang disebut seorang pemimpin, harus memiliki keahlian berbicara. Seorang tokoh atau ahli yang tidak bisa berbicara di depan umum tentunya akan menjauhkan diri dari masyarakat yang dipimpinnya karena ia tidak sanggup mengadakan komunikasi langsung dengan anggota-anggotanya, meskipun administrasi yang di jalankannya cukup baik, serta betapa jujurnya ia melaksanakan fungsinya, tetapi kalau komunikasi langsung itu tidak ia jalankan dengan semestinya maka dapat dikatakan bahwa ia telah setengah gagal. Maka sebagai seorang pemimpin selain mengetahui apa itu pidato, ia harus mengetahui juga berbagai pengetahuan seperti: Wawancara, Bercerita/Berdongeng, Master of Ceremony (MC), serta Moderator. Untuk memahami beberapa hal yang disebutkan diatas, maka di bawa ini akan kami paparkan penjelasannya.
TUJUAN

Peran seorang pemimpin yang mempelajari pengetahuan seperti ini pada umumnya merupakan suatu hal yang amat penting, baik pada zaman sekarang maupun pada waktu yang akan datang. Mereka yang memiliki keahlian berbicara dengan mudah dapat menguasai massa dan dapat berhasil memaparkan ide mereka sehingga dapat diterima oleh orang lain.

RUMUSAN MASALAH

Pidato
1. Pengertian pidato.
2. Macam-macam pidato
3. Syarat-syarat menjadi pemidato yagn baik
4. Bagaimana mempersiapkan pidato.
5. Pemanfaatan media.
6. Penyajian Pidato yang baik.
M C
1. Pengertian M C
2. Tugas M C
3. Macam-macam M C
4. Syarat menjadi M C yang baik
5. Menyiapkan tugas M C
6. Penampilan M C yang baik

Moderator
1. Pengertian moderator
2. Macam-macam moderator
3. Syarat-syarat moderatoe
4. Menyiapkan tugas mnenjadi moderatotr
5. Penampilan moderator yang baik
Wawancara
1. Apa itu wawancara
2. Unsur-unsur wawancara
3. Macam-macam wawancara
4. Syarat-syarat menjadi pewawancara yang baik
5. Pelaksanaan wawancara
Dengeng
1. Pengertian dongeng
2. Unsur-unsur dongeng
3. Cara mendongeng yang baik

I. PIDATO

1. Hakekat pidato
Menurut Goris Keraf, Pidato adalah penyajian penjelasan lisan kepada suatu kelompok
massa.
Dori Wuwur, Pidato adalah kemampuan khusus mengucapkan kata atau kalimat kepada
seseorang atau kelompok orang, untuk mencapai suatu tujuang tertentu,
misalnya memberikan informasi atau memberi motivasi.
Menurut Afqi Maulana, Pidato adalah penyampaian gagasan, pikiran, atau informasi
kepada orang banyak secara lisan dengan cara tertentu.
Menurut Djen Amar, Pidato adalah penyampaian dan penanaman pikiran-pikiran informasi
kepada orang banyak secara lisan dengan cara tertentu.
Menurut Maskurun, Pidato adalah suatu bentuk perbuatan berbicara di hadapan massa
tertentu dengan tujuan tertentu.
Menurut KBBI, Pidato adalah :
a. Pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditunjukan kepada
orang banyak.
b. Wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak

2. Macam-macam pidato
Macam-macam pidato ( menurut Dori Wuwur,1990: 48-50 ) adalah :
a. Bidang politik : pidato kenegaraan, pidato perlemen, pidato kampanye, pidato pada kesempatan demonstrasi, dan pidato pada perayaan nasional. Tujuan pidato ini adalah mempengaruhi dan membakar semangat, oleh karena itu pembicara dituntut menguasai psikologi massa, menguasai teknik dan taktik berbiraca, menguasi teknik penampilan sehingga memberi kesan, sehingga mengundang pihak pendengar untuk percaya kepadanya. Pidato ini umumnya panjang dan dapat dibawakan langsung di hadapan massa atau dapat juga malalui media komunikasi seperti radio dan televisi.

b. Kesempatan khusus.
Pidato ini dibawakan dalam suasana tidak resmi seperti pertemuan keluarga, sidang organisasi, sidang antara para anggota dan pimpinan perusahaan. Pidato ini biasanya disebut sambutan. Sambutan ini lebih diarahkan untuk menggerakan hati dan perasaan pendengar. Jenis-jenis pidato yang dibawakan pada kesempatan ini adalah: pidato upacara selamat datang, pidato untuk memberi motivasi, pidato ucapan syukur, pidato pembukaan dan pidato penutup. Lamanya pidato ini antara 3-5 menit.

c. Kesempatan resmi.
Bentuk pidato pada kesempatan ini juga disebut kata sambutan. Dalam keseptan resmi, pidato sambutan yang dibawakan seharusnya singkat. Sasarannya adalah untuk menggerakan perasaan. Jenis-jenis pidato yang diucapkanpada kesempatan seperti ini adalah: pidato Hari Ulang Tahun (HUT), pidato pernikahan, pidato pelantikan, pidato perpisahan, pidato pesta perak dan pesta emas.
d. Pertemuan informatif.
Pidato yang dibawakan sungguh-sungguh ilmiah, obyektif dan rasional. Konsentrasi pembeberannya lebih terfokus pada penalaran rasional. Jenis-jenis pidato informatif adalah: kuliah, ceramah,referat atau makalah dan pengajaran.

Menurut ( Borman, 1991 ,179-228 ) macam-macam pidato terdiri dari :
a. Pidato informatif, tujuannya adalah menjelaskan kasus, cara
melakukannya, dan berbagai pengtahuan
b. Pidati argumentatif, kemampuan untuk menampilkan alasan dengan cara
yang meyakinkan sebagai pendukung pokok masalah yang akan
dibuktikan dan dapat digunakan dalam konteks komunikasi.
c. Pidato persuasi, pidato yang bertujuan untuk membujuk orang lain agar orang
tersebut mempunyai sikap atau keyakinan yang sama dengan yang
kita harapkan.

Menurut Rendra ( dalam buku Seni Drama untuk remaja, 1993: 66-68 ), ada dua
macam pidato:
a. pidato yang bersifat resmi, ini harus lengkap dan urut tata caranya.
Misalnya pidato sambutan, amanat, ucapan terima kasih, ucapan selamat
mis. selamat datang atau selamat tinggal.
b. Pidato yang bersifat tidak resmi, pidato yang menekankan pada sikap
pribadi, pandangan pribadi, dan perasaan pribadi tetapi pembawaannya harus
tetap pantas. Yang termasuk pidato jenis ini adalah kothbah, ceramah, dan
pidato umum.
Menurut Asul Wiyanto( dalam buku terampil Pidato, 2006:17-21), ada 4 jenis pidato yaitu :
a. Naskah/manuskrip, yaitu pembicara membaca naskah yang telah disiapkan sebelumnya.
Keunggulannya:
Ø Lancar karena tinggal membaca
Ø Tidak ada yang salah karena sudah didipikirkan berulang-ulang
Ø Dapat diwakilkan orang lain
Ø Dapat diarsipkan.

Kelemahannya:
a. Tidak komunikatif karena pembicara tidak memandang pendengar
b. Terasa kaku karena tanpa penghayatan
c. Tidak dapat menyesuaikan dengan situasi dan reaksi pendengar
d. Tidak menarik

b. Hafalan, yaitu jenis pidato yang menyuarakan naskah yang telah
dihafalkan persis dengan naskah aslinya.
Keunggulannya:
a. Lancar kalau benar-benar hafal
b. Tidak ada yang salah kalau benar-benar hafal
c. Mata pembicara dapat memandang pendengar
Kelemahannya :
a. Pembicara cenderung berbicara cepat tanpa penghayatan
b. Tidak dapat menyesuaikaan dengansituasi dan reaksi pendengar
c. Kalau lupa pidatinya gagal total
c. Spontanitas / Impromtu (serta merta) yaitu pembicara berpidato tanpa ada
persiapan sama sekali. Bagi pembicara yang sudah mahir berbicara tanpa persiapan ini kadang-kadang lebih menarik dari pada pidato yang dipersiapkan.
Keunggulannya :
a. Kadang-kadang terasa lebih segar
b. Kadang-kadang terasa lebih menarik
Kelemahannya:
a. Tidak lancar dan kacau bagi pembicara pemula.
b. Kemungkinan gagal amat besar.

d. Menjabarkan kerangka / Ekstemporer yaitu pembicara menyiapkan pokok-
pokok isi pidato kemudian menyusunnya dalam bentuk kerangka pidato.
Keunggulannya:
a. Pokok-pokok isi pidato tidak ada yang terlupakan.
b. Penyampaian isi pidato runtut.
c. Kemungkinan salah kecil.
d. Komunikatif.
Kelemahannya:
a. Tangan kurang bebas bergerak karna memegang kertas.
b. Terkesan kurang siap karena sering melihat catatan.

3. Syarat-syarat menjadi pemidato yang baik
Syarat-syarat menjadi pemidato yang baik adalah :
1. dapat bersuara jelas atau keras
2. memanfaatkan waktu seefisian mungkin
3. dapat menunjukan sikap yang bersahabat dengan pendengar
4. diperlukan kemahiran untuk mengungkapkan pikiran secara lisan dan penguasaan
bahasa.
5. memiliki keberanian, sanggup mengadakan reaksi yang tepat dan cepat
6. dapat menampilkan ide-ide secara benar dan teratur
7. diharapkan bisa menyusun sebuah kerangka atau menetapkan pokok bahasan yang akan dibicarakan
8. Persoalan yang dibawa hendaknya menarik perhatian pendengar ataupun pembicara sendiri
9. Persoalan yang dibahas hendaknya tidak melampaui daya tangkap pendengar atau
sebaliknya terlalu mudah untuk daya intelektual pendengar.
10. mampu menghindari penggunaan kata-kata yang berlebihan serta kalimat-
kalimat yang mendukung frase, mis. Saya kira atau saya sangka
11. dapat mengetahui sampai berapa jauh pengetahuan pendengar tentang pokok
pembicaraan.
12. pembicara mampu menguasai massa
13.diharapkan pembicara tidak menyimpang dari pokok ataupun tema pembicaraan
14. jika ada pendengar yang menunjukan sikap angkuh, diharapkan pembicara tidak membalas dengan sikap angkuh, melainkan pembicara hendaknya menunjukan kepercayaan atas dirinya sendiri diimbangi oleh rasa sopan santun.

Menurut Asul Wiyanro ( Terampil Pidato,20006 : 74-77 ). Seorang pemidato yang baik hendaknya menghindari hal-hal sebagai berikut :
a. Jangan datang terlambat.
b. Jangan berpakaian sekenanya.
c. Jangan membuka pidato dengan permintaan maaf.
d. Jangan berdiri seperti patung.
e. Jangan memeksakan melucu.
f. Jangan kasar dan porno.
g. jangan membicarakan kejelekan orang.
h. Jangan menyerang pihak lain.
i. Jangan menggunakan istilah yang terlalu teknis.
j. Jangan berbicara monoton.
k. Jangan terlalu sering menggunakan bentuk tegun.
l. Jangan sampai marah –marah.
m. Jangan lupa waktu.
n. Jangan berkepanjangan dalam menutup pidato.
o. Jangan langsung meninggalkan pendengar.

4. Bagaimana mempersiapkan tugas pidato
Menurut G. Sukadi (buku Public Speaking bagi pemula, 1993 : 45-76)
Persiapan berbicara di depan publik ada dua yaitu :

a. Persiapa jangka panjang : menumbuhkan pribadi yang sehat,
memperkaya pengtahuan dan pengalaman, melatih diridalam setiap
kesempatan yang tersedia
b. Persiapan jangka pendek : menentukan topik dan tujuan, menganalisis publik dan situasi, mengumpulkan, menyeleksi dan menyusun bahan, menentuan metode, membahaskan ide dan melatih penyajian.
Cara mempersipkan tugas pidato menurut (Goris Keraf, 1970 : 317-318 )
Persiapan
a. menentukan maksud
b. menganalisa pendengar
c. memilih dan menyempitkan pokok
Menyusun pidato :
a. mengumpulkan bahan
b. membuat kerangka uraian
c. menguraikan secara mendetail
Latihan :
* Latihan dengan suara nyaring.

5. Pemanfaatan Media
Untuk menunjang pemidato untuk mengutarakan idenya di butuhkan media
pendukungnya diantaranya :
A. Mikrofon
Cara memegang Mkrofon.
Bila pendengar cukup banyak dan ruangan cukup luas, biasanya panitia menyiapkan sarana berupa pengeras suara (sound system ). Penggunaan sarana ini perlu diperhatikan.
Menurut Asul Wiyanto dalam buku ( Terampil Pidato, 2006 :16-17 )
1. Mikrofon yang sudah ada standarnya jangan dipegang-pegang. Selain menimbulkan bunyi mendengung juga mengesankan pembicara tidak tenang.
2. Mikrpfon yang tidak ada standarnya cara memegangnya secara wajar saja. Jangan dipermainkan kabelnya dan jangan dipakai gaya sepeti penyanyi di panggung. Hal ini mengesankan pembicara tidak tenang bahkan diartikan pembicara kurang sopan karena berpidato sambil bermain-main.
3. Jarak antara mikrofon dan mulut jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh.Jarak ideal biasannya 20 cm. Jarak yang terlalu dekat suara tidak jernih dan seolah pembicara berbisik. Sebaliknya jika terlalu jauh suara tidak akan masuk sound system.
B. Powerpoint
a. Pengertian
Powerpoint adalah bagian dari microsoft office yang biasa digunakan dalam sebuah presentasi yang komponen multimedianya meliputi teks grafik gambar, foto, suara film.
b. Manfaat
Membantu pemakalah dalam menyampaikan bahan secara menarik dan cepat dan digunakan sebagai pengenalan suatu produk.
c. Kelemahan
1. belum tentu semua mahasiswa tahu dan menguasai cara menggunakan pawerpoint.
2. media ini cukup mahal karena perangkat yang digunakan harganya mahal.
3. ketika dalam menyusun presentasi terjadi kesalahan teknis (listrik padam) sementara bahan
yang telah dibuat belum tersimpan, maka dengan sendirinya bahan tersebut akan hilang.
4. data hanya dapat disimpan dalam komputer itu sendiri atau flasdisk
d. Kelebihan
a. dengan powerpoint seseorang dapat menuangkan ide-idenya dalam bentuk vusual yang
menarik dalam waktu yang singkat
b. powerpoit juga memungkinkan presentasi yang berbasis teknologi web, sehingga bahan
presentasi dapat ditayangkan melalui internet.
c. menawarkan banyak format seperti teks, grafik, gamabar, foto, suara dan film.
d. Memungkinkan komunikasi dengan softwere lain seperti Microsoft word atau Microsoft
exel.
e. Langkah-langkahnya
a. pastikan komputer menyala
b. klik start
c. pilih dan klik program microsof powerpoint
d. pilih dan klik ikon desain lalu pilih background yang cocok, klik tanda panah kebawah
yang berada disamping kanan layar
e. klik tulisan to add title kemudian lanjudkan dengan klik tulisan to add subtitle
f. kita memasuki lembar kedua. Pilih dan klik new slide. Kemudian akan muncul slide layout
g. pilih dan klik desain
h. pilih backgraud yang cocok, klik tanda panah disamping kanan kotak.
i. Untuk membuat halaman berikutnya, cara yang dipakai sama seperti saat membuat halaman
kedua.

6. Penyajian pidato yang baik
Menurut Dori Wuwur ( dalam buku Retorika, 1990: 51-54 ) penyajian pidato yang baik meliputi :
1. Pidato yang saklik, apabial memiliki obyektivitas dan unsur-unsur yang mengandung
kebenaran. Juga ada hubungan serasi antara isi pidato dan formulasinya sehingga indah
kedengaran tapi bukan dengan gaya bahasa yang berlebih-lebihan.
2. Pidato yang jelas, pembicara harus memilih ungkapan dan susunan kalimat yang tepat
dan jelas untuk menghindarkan salah pengertian.
3. Pidato yang hidup, sebuah pidato yang baik harus hidup. Untuk menghidupkan pidato
dapat dipergunakan gambar, cerita pendek atau kejadian-kejadian yang relevan
sehingga dapat memancing pendengar.
4. Pidato yang memiliki tujuan, yaitu apa yang mau dicapai. Kalimat yang merumuskan
dan kalimat-kalimat pada bagian pentup pidato harus dirmuskan secara singkat, jelas
dan padat.
5. Pidato yang memiliki klimaks, berusahalah menciptakan titik-titik puncak dalam
pidato untuk memperbesar ketegangan dan rasa ingin tahu pendengar. Usahakan
supaya hal ini diciptakan antara pembukaan dan penutup pidato.
6. Pidato yang memiliki pengulangan, ini penting karena dapat memperkuat isi pidato dan
memperjelas pengertian pendengar juga pokok-pokok pidato tidak segera dilupakan.
7. Pidato yang berisi hal-hal yang mengejutkan, munculkan hal-hal yang mengujutkan
dalam pidato berarti menciptakan hubungan yang baru dan menarik antara kenyataan-
kenyataanyang dalam situasi biasa tidak dapat dilihat, artinya isi dan arti tetap sama
akan tetapi merumuskan dengan mempergunakan bahasa yang berbeda.
8. Pidato yang di batasi, orang tidak boleh membeberkan segala masalah dalasuatu
pidato. Oleh karena itu pidato harus dibatasi pada satu atau dua soal tertentu saja.
9. Pidato yang mengandung humor, humor dalam pidato itu perlu karena dapat
menghidupkan pidato dan memberi kesan yang tak terlupakan pada para pendengar.
Humor juga dapat menyegarkan pikiran pendengar sehingga dapat mencurahkan
perhatian yang lebih besar kepada pidato selanjudnya. Hanya saja tidak boleh terlalu
banyak karena akan memberi kesan bahwa pembicara tidak bersungguh-sungguh.

Master of Ceremony ( MC )

A. Pengertian
Menurut Asul Wiyanto, MC adalah orang yang bertugas menyusun acara dan mengola pelaksanaan acara keseluruhan.
Menurut Lias Aryati, MC biasanya dipakai untuk acara hiburan dan semi hiburan.
Menurut Habib Bahari, MC adalah seorang yang akan memimpin suatu rentetan acara secara teratur dan rapi.

B. Tugas MC
Ø Menurut Asul Wiyanto, tugas MC adalah :
1 menyususn acara
2. menentukan kegiatan
3. Membawakan acara
5. memuaskan hadirin

Ø Menurut Asul Wiyanto, tugas pokok seorang MC adalah :
a. mengumumkan bahwa acara yang akan dilaksanakan akan dimulai
b. memberitahukan susunan mata acara
c. dan mengatur pelaksanaan acara demi acara hingga acara selesai

Untuk lebih jelas berbagai macam tugas MC dapat disebutkan di bawah ini :
1. menyususn acara
2. Mengecek kesiapan
3. membawakan acara
4. mengendalikan waktu
5. memuaskan hadirin

C. Macam-macam acara
Macam-macam acara dapat dibagi menjadi empat bagian :
1. Acara resmi
2. Acara keagamaan
3. Acara kekeluargaan
4. Acara hiburan

D. Syarat-syarat menjadi MC yang baik adalah :
Menurut Lias Aryanti
Syarat umum menjadi MC yang baik adalah :
1. Ekstrovert yaitu orang-orang yang suka mengekspresikan apa yang dipikirkan, dirasakan kepada orang lain; pendek kata orang yang suka memperbincangkan berbagai hal dengan orang lain secara terbuka
2. Generalis yaitu orang yang memiliki pengtahuan umum, yang akan memungkinkan dia untuk “bicara apa saja”
3. Fleksibel yaitu orang yang luwes, mudah menyesuaikan diri dengan situasi
4. Friendly yaitu orang yang mudah bergaul dan karena pembawaannya disenangi orang banyak.
Syarat utama yang harus dimiliki oleh seorang MC adalah :
Ø Pengetahuan dan pengalaman yang luas
Ø Rasa humor
Ø Sabar
Ø Imajinasi
Ø Antusiasme
Ø Rendah hati dan bersahabat
Ø Kemampuan bekerja sama
Menurut Asul Wiyanto,
Syarat / bekal yang harus dimiliki seorang MC adalah :
a. kepribadian
b. semangat
c. pengetahuan
d. keterampilan
E. Menyiapkan tugas MC.
Menurt Asrul Wiyanto, sedikitnya ada tiga tahap persiapan :
1. tahap orintasi
2. tahap penyusunan acara
3. tahap pelatihan
F. Penampilan MC yang baik.
Menurt Asul Wiyanto, penampilan MC yang baik harus memperhatikan
beberapa hal yang penting:
1.cara berpakaian
2. cara bersikap
3. cara memandang hadirin
4. cara berdiri
5. cara memegang mikrofon
6. cara memegang catatan
7. cara menghadiri acara

Menurut Lias Aryanti, penampilan seorang MC harus merupakan suatu
harmonisasi yang serasi dengan penyelenggaraan dan karakteristik
acaranya. Misalnya:
Pada Acara Resmi, yang diselenggarakan dengan dinas dan hikhmat, MC mengenakan :

Busana
Wanita: Seragam kantor, two pieces atau three pieces dengan blazer.
Pria : Seragam kantor, safari atau setelan jas

Make Up
ØNatural

Pada Acara Peresmian yang diselenggarakan dengan sentuhan budaya,
misalnya ada tarian pembuka, penerima tamu dalam busana daerah,
cuplikan upacara adat, dan sebagainya MC mengenakan:
Busana
Wanita: busana daerah atau busana nasional
Pria : busana daerah, batik

Make Up
Ø Lengkap tidak menyolok, pada pagi hari.

Pada Acara Semi Hiburan, yang diselenggarakan dalam suasana santai dan
kekeluargaan, MC mengenakan:

Busana
Wanita : bebas rapi, cocktail dress, busana muslim bila ada
nuansa keagaman
Pria : bebas rapi, batik

Make Up
Ø Lengkap (malam), pagi (tidak menyolok)

Pada Acara Pernikahan, yang dilenggarakan dengan memberikan sentuhan
adat budaya, penyelenggara acara, MC menenakan :
Busana
Wanita: seragam panitia, busana daerah, busana nasional.
Pria : Busana daerah, seragam panitia, batik, setelan jas.

Make Up
Ø Lengkap

Menurut Habib Bari, syarat-syarat seorang MC dan pembawa acara adalah :
a. Memiliki intelegensi tinggi
b. Berkepribadian dan mempunya sifat yang baik
c. Berpenampilan atraktik dan simpatik (santun dan menarik)
d. Memiliki jiwa pemimpin
e. Berbahasa dengan baik
f. Berbicara komunikatif
g. Sabar
h. Cekatan
i. Mempunyai naluri antisipasi yang baiik
j. Memiliki spontanitas yang baik
k. Memiliki rasa humor yang tinggi
l. Berpengetahuan umum luas.

MODERATOR

A. Pengertian Moderator
1. Moderator adalah
a. orang yang bertindak sebagai penengah( hakim, wasit )
b. pemimpin sidang (rapat, diskusi) yang menjadi pengarah pada pembicaraan atau pendiskusian masalah. (KBB; 572)
2. Moderator adalah pemimpin diskusi atau pembahasan suatu masalah sekaligus menjadi penengah dalam perdebatan masalah tersebut.(Asep Syamsul M. Romli. 2005: 76).

B. Macam-Macam Moderator
Macam-macam moderator tergantung berdasarkan acara yang dipandu:
· Dalam Acara resmi
1. Moderator dalam konferensi
Konferensi sebagai suatu bentuk kelompok diskusi resmi kadang-kadang mengacu kepada diskusi pengambilan tindakan, karena berusaha membuat suatu keputusan dan bertindak berdasarkan keputusan tersebut. Konferensi ini terutama dipakai untuk pertemuan antara wakil-wakil dari pelbagai negara untuk membicarakan kepentingan-kepentingan bersama.
2. Moderator dalam diskusi Panel
Panel adalah suatu kelompok diskusi yang terdiri dari tiga sampai enam orang ahli yang ditunjuk untuk mengemukakan pandanganya dari berbagai segi mengenai suatu masalah. Tujuan utama diskusi panel adalah untuk menyampaikan informasi atau pendapat-pendapat. Para anggota sesuatu panel membuat persiapan-persiapan terlebih dahulu, biasanya satu minggu sebelum kegiatan berlangsung ketua atau moderator mengundang para anggota untuk menyusun organisasi diskusi itu.
3. Moderator dalam simposium
Simposium adalah suatu variasi dari panel. Dalam suatu simposium, tiga orang atau lebih yang dianggap ahli dengan pandangan-pandangan yang berbeda mengenai suatu pokok pembicaraan tampil menyampaikan pendapatnya, dan pendegar berpartisipasi mengambil bagian dalam diskusi.

· Dalam Acara tidak resmi
1. Moderator dalam kelompok Studi
Ini merupakan suatu bentuk diskusi yang paling sering terjadi pada mahasiswa perguruan tinggi. Moderator dalam hal ini merupakan suatu penampila khusus oleh seorang yang berwewenang yang diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentar-komentar dari anggota pendengarnya.
2. Moderator dalam kelompok pembentukan kebijaksnaan.
Suatu kelompok pembentuk kebijaksanaan pada sebuah fakultas di perguruan tinggi dapat menentukan apakah karya-karya seorang pengarang yang sedang dipermasalahkan dapat dimasukan kedalam kurikulum atau tidak, dan jika ternyata dimasukan, dimana sebaiknya ditempatkan.
3. Moderator dalam sebuah komite
Komite adalah panitia badan yang dibentuk khusus untuk menyelenggarakan suatu usaha atau pekerjaan. Tugas moderator adalah membagi secara adil tugas-tugas para anggota; mengetahui kapan dan bagaimana menunda atau menggunakan keputusan-keputusan sehingga komite tidak sempat terbagi-bagi dalam tindakan terlalu cepat, dan lain-lain.
(Hendry Guntur Tarigan, 1984:37-42).

C. Syarat-syarat Menjadi Moderator
1. Penampilan
Misalnya dalam hal berpakaian yang pantas, rapi, sopan, sehat jasmani dan rohani, sabar dan sebagainya.
2. Wawasan
Dalam hal ini moderator dapat memandu alur pemikiran dan pembicaraan tentang sebuah topik bahasan dan berpikir cepat dan taktis untuk mengendalikan alur dan arah pembicaraan.
3. Kualitas Vokal
Dalam berbicara hendaknya memperhatikan artikulasi dan intonasi.
4. Teknik Berbicara
Moderator harus menguasai tehnik-tehnik berbicara serta menguasai terutama hal yang berhubungan pemakaian kata.
5. Berjiwa pemimpin
Moderator minimal menguasai tehnik memimpin rapat atau pembahasan suatu masalah, memiliki cukup pengetahuan, tegas, otoritatif, peka, cerdas, tidak memihak dan dapat berkonsentrasi dalam perdebatan.
6. Menguasai topik pcmbicaraan
Minimal moderator harus menguasai latar belakang permasalahan dan arah yang dituju dari diskusi yang dilangsungkan.
7. Cara bersikap
Menghargai waktu, percaya diri, dan rendah hati
8. Berkepribadian
9. Mempunyai kepekaan tinggi
10. Bersimpatik kepada orang lain
11. Tidak memihak
12. Mempunyai rasa humor
13. Mempunyai bakat berbicara dan mendengarkan
14. bersikap ramah, sopan dan terbuka

Dalam buku “Bahasa Indonesia Komunikasi” dijelaskan bahwa seorang pembicara dimuka umum harus menguasai 5 kunci rahasia teknik berbicara yaitu:
1. kontak mata. Adalah kontak yang terjadi antara mata seorang komunikator dengan mata seorang komunikan ketika mereka melakukan tindak komunikasi. Ada 3 cara praktis dalam menggunakan kontak mata:
a. Pandanglah tepat pada matanya
b. Kontak mata dengan sekelompok orang
c. Berbicara lewat mata
2. Berbicara agak keras agar cukup terdengar. Maksudnya adalah komunikator atau pembicara dapat menyampaikan pesan yang dia inginkan secara efektif dan dapat diterima komunikan atau pendengar secara efektif pula.
3. Jangan terlalu cepat. Gunakan kecepatan rata-rata supaya setiap orang yang hadir mampu untuk menerima dan memahami pesan apa yang disampaikan. Rata-rata kemampuan individu untuk menerima pesan adalah 130 – 165 kata per menit.
4. ucapkan setiap kata dengan jelas. Vocal suara yang jelas menjadi tuntutan dari seorang pembicara yang handal.
5. Hilangkan kebiasaan latah

Menurut Dori Wuwur (1990:106-108) hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin diskusi adalah:
1. Pemimpin harus sadar bahwa dia memiliki peranan penengah maksudnya dia bertugas menciptakan keseimbangan antara perbedaan pendapat, baik secara pribadi maupun secara objektif dan menghindarkan pendapat-pendapat yang bersifat ekstrim.
2. Pemimpin tidak memihak seorang pun. Pemimpin harus bersikap adil dan obyektif terhadap semua peserta.
3. Hindarkan kesalahan: berdialog hanya dengan beberapa peserta maksudnya pemimpin mengarahkan perhatiannya kepada setiap peserta
4. Jika perlu, berani menghentikan pembicaraan yang bertele-tele dengan cara memperingatkan para peserta tentang tujuan dan proses diskusi yang sudah ditetapkan apabila tidak berhasil pemimpin harus berani menghentikan pembicaraan.
5. Menertipkan peserta yang memonopoli pembicaraan. Hal ini berarti pemimpin memberi petunjuk dan arah untuk mencapai sasaran diskusi. Cara untunk menertipkan adalah lewat koordinasi yang ketat terhadap peserta-peserta yang ingin berbicara.
6. Sapalah setiap peserta dengan namanya. Pemimpin diharapkan mengetahui nama setiap peserta
7. Hal yang esensial supaya diingat selama diskusi. Yang dimaksud adalah bahwa hasil diskusi dicatat jelas sebaiknya pada papan tulis, flip-chart atau dengan menggunakan Overhead-Projector.

Menurut J. Bulakau S.J (1971:34-39) syarat seorang pemimpin diskusi adalah:
1. Tidak berat sebelah. Dia harus sungguh-sungguh jujur menyerahkan cara pemecahannya ditangan kelompok. Ia tidak boleh condong kepada pihak manapun.
2. Tugas positif: mengatur lalu lintas pembicaraan
3. Pengertian. Pemimpin harus harus peka terhadap apa yang dikatakan oleh setiap anggota dengan pengeritan dan kelapangan dadanya pemimpin kelompok menumbuhkan kepastian dan penghargaan.
4. Membangkitkan keberanian bicara

D. Menyiapkan tugas menjadi moderator
Menurut G.Sukadi (1993:45-75) Persiapan seorang yang akan berbicara di depan publik di bagi menjadi dua, sebagai berikut:
1. Persiapan jangka panjang. Persiapan yang dilakukan didepan publik yang belum jelas waktunya dan kenyataannya .Ada tiga hal yang perlu kita lakukan, yaitu
a Menumbuhkan pribadi yang sehat
b memperkaya pengetahuan dan pengalaman
c melatih diri dalam setiap kesempatan yang tersedia.
2. Persiapan jangka pendek. Persiapan yang dilakukan untuk menghadapi tugas berbicara didepan publik yang tidak jelas kapan dan dimananya yang meliputi langkah-langkahnya:
1. menentukan objek dan tujuan
2. menganalisis publik dan situasi
3. mengumpulkan, menyeleksi, dan menyusun bahan
4. menentukan metode
5. membahasakan ide
6. melatih penyajian

Menurut J. Bulakau S.J.( Tehnik Daskusi Berkelompok , 1971: 33-40 ),
Tugas dan tanggung jawab moderator sebagai berikut :
a. Menjernihkan suasana
b. Mengusahakan tetap sehatnya diskusi
c. Meredakan pertentangan yang tajam
d. Tidak berat sebelah
Harus bersifat jujur dan tidak boleh memihak siapapun
e. Tugas positif: mengatur lalulintas pembicaraan
f. Senjata utama : pengertian
Harus peka terhadap apa yang hendak dikatakan oleh setiap anggota
g. Membangkitkan keberanian bicara

Menurut Henry Guntur Tarigan (1985: 44-45 ) Keberhasilan seorang ketua memimpin suatu diskusi kelompk akan tergantung sepenuhnya kepada kemampuanya memahami serta menjalankan tugasnya. Tugas-tugas itu adalah sebagai berikut:
a. Membuat persiapan yang matang bagi diskusi
b. Mengumumkanjudul atau masalah
c. menyediakan serta menetapkan waktu bagi
i. Pendahuluan
ii. Diskusi
iii. Suatu rangkuman singkat yang merupakan kesimpulan yang dicapai
4. Menjaga keteraturan susunan diskusi
5. memberi kesempatan kepada setiap orang yang ingin mengemukakan pikiran.
6. Menjaga agar minat para peserta tetap besar.
7. menjaga agar diskusi tetap bergerak maju.
8. membuat catatan-catatan mengenai hal yang penting selama diskusi berlangsung.
9. Membuat Rangkuman singakat pada akhir diskusi.

Tugas dan tanggung jawab moderaror atau pemimpin diskusi adalah sebagai berikut,
1. Moderator diharapkan mampu mempelajari dan memahami secara mendalam topik pembicaraan.
2. Moderator sebaiknya mempersiapkan bahan yang sekiranya dapat membantu dalam pemahaman dan pendalaman materi.
3. Mendapatkan biodata pembicara untuk bahan pada saat mengenalkan pembicara
4. Menyiapkan kata pembuka atau pengantar, kata penutup, dan kesimpulan sementara.
5. Berkoordinasi dengan MC tentang tujuan dan gambaran umum acara.
6. Membuka acara, mengenalkan pembicara, mengemukakan topic bahasan, memberi gambaran umum seperti latar belakang masalah atau topik tersebut.
7. Mengatur jalannya seminar sesuai alokasi waktu.
8. Menyimpulkan seluruh hasil pembicaraan dan mencatat point-point penting untuk menyampaikan kesimpulan pada akhir sesi seminar.

Dalam buku yang lain juga dijelaskan tugas moderator adalah sebagai berikut:
a Membuka acara
b Menjelaskan maksud dan tujuan diskusi
c Menjamin kelangsungan diskusi
d Memberikan ajakan untuk setiap peserta agar mengambil bagian dalam diskusi tersebut
e Menyimpulkan dan merumuskan setiap pembicaraan
f Menyiapkan laporan
g Meneliti pokok bahasan
h Mengatur seluruh jalannya acara sampai berakhir.
i Menjembatani, dia1og antara hadirin dengan pembicara.
j. Mencatat pandangan hadirin yang sudah dilontarkan sehingga ia memahami pokok perbedaan pendapat

E. Penampilan moderator yang baik.
Menurut G. Sukadi ( 1993:79-80) seorang pembicara dimuka umum sumber daya tari seseorang bukanlah pada pakaiannya, bukan pada tarias wajah dan sanggulnya .Tetapi bersumber pada:
a Bersumber pada pribadi. Pribadi yang sungguh-sungguh melayani publik.
b Ide yang disajikan. Ide yang memenuhi kebutuhan publik, ide yang memecahkan persoalan publik, merangsang publik untuk berpikir, dan ide-ide baru yang memperkaya khazanah publik.
c Teknik penyampaiannya. Penyampaian yang jelas ,di tangkap oleh telinga, dimengerti oleh budi dan meresap kedalam hati.
d Pakaian. Harus dapat menyesuaiakan dengan situasi, sopan dan tidak melanggar etiket dan penuh percaya diri.

Menurut Rini Darmastuti (2006:104-106)
Seorang penyaji dalam menyampaikan materi sangat dipengaruhi oleh penampilan dirinya baik itu penampilan fisik maupun dia berkomunikasi dengan audience. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penampilan diri adalah:
a cara berpakaian
b cara berbicara. Penyaji hendaknya berbicara secara wajar dan apa adanya apa yang kita keluarkan dari mulut kita adalah sesuatu yang kita yakini kebenaranya.
c Cara berekting. Ekting sangat perlu untuk mengurangi kebosanan audience yang menyaksikan anda berekpresi
d Kesiapan mental. Kemampuan menguasai diri, mengendalikan emosi, dan mengendalikan diri merupakan jurus pertama yang harus dimiliki oleh seorang yang akan menjadi publik figure.
e Pengelolaan waktu. Penyaji perlu memperhatikan cara-cara pemanfaatan waktu penyajian agar berjalan seefisien mungkin

F. Penggunaan Media
1. Kertas dan pensil
2. Mikrofon
3. Power Point
4. Papan tulis
5. Gambar-gambar keterangan atau penjelasan tentang sesuatu yang masih kabur

Kesimpulan

Kemampuan untuk menjadi seorang moderator ada dalam diri seseorang. Seseorang yang terampil dalam memandu acara khususnya dalam seminar akan berhasil dengan baik, jika syarat-syaratnya dipenuhi, antara lain harus mampu mengerti dan menerapkan tugas serta tanggung jawabnya, mempersiapkan diri atau persiapan pelaksanaan, serta persiapan untuk penggunaan bahasa dan vokal.
Jadi, jika seorang moderator ingin berhasil dalam seminar, maka ia harus memenuhi hal-hal yang sudah disebutkan di atas dan menerapkannya. Yang menjadi pertanyaan, apakah anda benar-benar ingin mengembangkan diri dan berani untuk maju; yakinlah bahwa anda mampu dan terampil untuk nenjadi seorang moderator yang handal profesional, dan berkualitas.

WAWANCARA

1 . Pengertiuan atau defenisi

Wawancara adalah: suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu. Merupakan tanya jawab lisan, ketika dua orang atau pengegar informasi, pihak yang lain sebagai pemberi informasi, pihak yang lain sebagai pemberi informasi (Ys. Gunadi :131).
Wawancara sebagai usaha menggali keterangan atau informasi dari orang lain
( patmono Sk :37 ).
Wawancara adalah: suatu teknik mendapatkan keterangan dengan mengajukan serangkaian pertanyaan untuk bahan berita (Kamus istilah jurnalistik)
Wawancara pada umumnya dilakukan oleh wartawan atau tenaga peneliti atau survey kepada tokoh tentang pendapat atau penjelasan terhadap pristiwa (Ys. Gunadi :122).
Wawancara memiliki beberapa pengertaian yaitu
1. Tanya jawab seorang ( pejabat dsb ) yang diperlukan dimitai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal, untuk dibuat dalam surat kabar, disiarkan melalui radio,atau ditayangkan pada layar televisie.
2. Tanya jawab redaksi ( kepala bagian, kepala humas perusahaan dengan pelamar pekerjaan .
3. Tanya jawab penelitian dengan sumber yang ditemukan. (KBBI)
Wawancara adalah: proses memperoleh keterangan untuk tujuan pemnelitian dengan cara tanya jawab secara langsung antara si penanya yang disebut pewawancara dengan si penjawab yang disebut responden atau informan. (Entrogafi Indonesia)

2. UNSUR –UNSUR WAWANCARA

Unsur-unsur wawancara terdiri dari :
a. informasi yang dibutuhkan: misalnya tetang pesawat butuh informasi tentang penumpang
b. pemilik informasi (intervirwee)
c. pewawancara (interviewer)
d. pemilik ketiga (yang memanfaatkan hasil wawancara)

Langkah-langkahnya adalah:
a. menentukan informasi yang dibutuhkan
b. menentukan pemilik informasi yang dibutuhkan
c. menentukan pendekatan
d. menyusun interviw guide
e. menyusun desain wawancara
f. melaksanakan wawancara
g. melaksanakan wawancara
h. mengelola hasil wawancara sesua kebutuhan
Proses wawancara menurut Drs. S. K. Bonar
A. Pewawancara :

1. Pengambilan inisiatip.
2. Melakukan persiapan yang matang
a. menguasai bahan yang akan ditanyakan
b. menyusun pertanyaan-pertayaan yang dapat dan mudah dimengerti
c. mengusai bahasa dari wawancaraman, juga jika dia orang asing
(melainkan penerjemah ) .
d. menghoramti petunjuk-petunjuk dari wawacaraman, seperti :”off
the record” atau “ inside informa ion “, atau background materal.

B. Soal-soal yang dapat diwawancarai pada umumnya adalah :
1. Politik
a. pemerintahan ( depertemen-depertemen, propnsi-propinsi,
kabupaten-kabupaten, kecamatan-kacamatan, desa-desa
b. kepartaian (GOLKAR, PDI, PPP)
c. Idiologi-idiologi ( Pancasilah, Nasional Islam, Komunis)
d. Keadaan luar negeri yang ada hubunganya dengan Indonesia
(ASEAN, Jepang, India, Inggris,perancis ,Australia, Belanda).
2. Ekonomi :
a. keadaan pembagunan dibidang :
b. pertanian
c. Industri
d. Perhubungan
e. Perdagangan
f. Income rakyat
g. Teknologi
3. Sosial- Budaya;
a. Sejarah kolonialisme
b. Sejarah perjuangan kemerdekaan
c. Riwayat hidup, toko-toko (antara lain perjuangan kemerdekaan atau pemerintahan, politik ,ekonomi ,militer dan lain-lain).
d. Perjuangan-perjuangan yang masih hidup
4. Hankamnas
5. Ketahanan sosisl
Salain yang disebut diatas, banyak persoalan yang mengenai kehidupan sehari-hari, keadaan alam, perkembangan ilmu dan lain sebagainya dapat dijadikan bahan wawancara.

C. Wawancarawan
(Adinugroho dalam bukunya Publisistik dan Jurnalistik Jilid II, Penerbit
Gunung Agung Jakarta, hal. 241-144)

1. Pewawancara dalam persiapannya harus mencari informasi mengenai
keadaan wawanracaman:
a. riwayat hidup
b. keadaan wawancaraman secara psychis, material, keluarga dan tempat tinggal
c. riwayat kerja
d. pengalaman-pengalamannya
e. sikap dan sifat-sifatnya
f. hoby-hobynya
g. kelemahan-kelemahannya

2. Kebutuhan-kebutuhan wawancaraman :
a. primary needs
b. sekomndary needs
3. Motif-moti hidup wawancaraman :
a. mengejar kekayaan dan harta
b. mengabdi kepada negara dan bangsa
c. mengabdi pada Tuhan
d. hidup sederhana

4.Tipe-tipe orang : (buku Dr. Koperbau und Charakter)
a. Tipe leptosom : kurus, panjang dengan tulang-tulang yang kurus dan
dada sempit : sukar bicara, murung dan kurang terbuka.
b. Tipe atletis : dada lebar, kaki kuat, muka terbuka : orang sabar,
cerdik dan terbuka
c. tipe piknis : kepala agak bungkuk, juga bahunya (gedrongen figur),
muka agak pucat, curiga dan tidak lekas percaya.
d. Tipe Cycloid : hampir sama dengan tipe atlis, tapi kurang disiplin
dan kurang teratur hidupnya : ramah tama, baik, optimis, humoristis
tapi kadang-kadang bisa pesimistis tetapi adakalanya berpikir kurang
sistimatis.
e. Tipe gemuk : terlalu berat badan, lamban
f. Pengaruh Group pressure dan person pressure.
g. pengaruh impresi pertama

D. Media.
Media cetakan: pers, majalah, buku, pamflet, folder, kalender semua barang
cetakan dan sebagainya. Tujuan pers adalah :informasi, opini,
mass edukation, dan hiburan.
Media Visual : lukisan, foto, televisi, pameran, dan sebagainya.
Media auditip : radio, gramapon, telepon, tape-rekorder dan sebagainya
Media pertemuan : rapat, konferensi, kongres, seminar, kuliah, dan diskusi.

3. MACAM-MACAM WAWANCARA

Macam-macam wawancara secara umum terdiri dari:
a. wawanraca jurnalistik
b. wawancara penelitian
c. wawancara rekruitmen karyawan
d. wawancara bimbingan dan penyuluhan
e. wawancara kriminal
f. wawancara pergaulan

Wawancara kerja menurut :

A. Dr. Kunjana Rahardi, M. Hum. macam-macam wawancara terdiri dari :
a. wawancara kerja terstrutur
Sebelum wawancara berlangsung biasanya pihak pewawancara dari dari perusahaan atau organisasi sudah menyiapkan daftar pertanyaan terlebih dahulu. Dalam wawancara seperti ini dari pihak pelamar pekerjaan juga banyak dimudahkan, karena tidak pernah akan ditemukan pertanyaan-pertanyaan yang datangnya secara spontan dan serba mengagetkan.
b. wawancara konvensional
Wawancara seperti ini cenderung lebih sulit dari pada wawancara pekerjaan dalam model terstruktur seperti telah disebutkan di atas.Dalam wawancara seperti ini anda harus benar-benar sadar bahwa anda sedang diuji, dalam wawancara ini anda akan cepat ketahuan apakah konsep-konsep yang ditanyakan dan dilontarkan akan terjawab dengan baik, lengkap, runtut yang tetap disampaikan atau dikemas dalam suasana yang akrab, ramah dan interaktif. Oleh karena itu Anda harus selalu hati-hati bahwa dalam konvensi atau percakapan yang sedang berlangsung dan dikembangkan itu nasib Anda untuk mengikuti proses rekrutasi berikutnya sebenarnya bergantung sepenuhnya. Jangan mudah dibelokan dalam canda dan tawa, yang sifatnya justru kadangkala justru menjerumuskan dan mamatikan Anda.
c. wawancara kerja komprehensif
Ada kalanya si pewawancara itu menggabungkan atau memadukan antara wawancara perkerjaan model terstruktur dengan wawancara pekerjaan gaya konservatif seperti yang telah dijelaskan di bagian depan. Keuntungan dari model wawancara pekerjaan komprehensif ini, jika dilihat dari sisi pelamarnya, adalah bahwa wawancara pekerjaan itu cenderung akan sangat variatif dan tidak membosankan sifatnya. Dalam hemat penulis, wawancara seperti inilah yang paling ideal untuk diterapakan.
d. wawancara kerja tekanan
Ini bermaksud untuk menguji ketangguhan dan kehebatan dari si pelamar. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sososk karyawan yang nantinya diharapkan menjadi orang yang kuat dan tangguh dalam menjalankan pekerjaan dan tugas-tugas dari perusahaan. Oleh karena itu janganlah kaget jika sejumlah pertanyaan yang berbeban atau bertekanan, sejumlah pertanyaan yang sifatnya memberatkan ternyata disampaikan atau dilontarkan juga kepada Anda. Kadang-kadang Anda disuguhi sejumlah dilema, dan Anda harus benar-benar tepat dalam menanggapinya.
e. wawancara kerja kelompok
Ini biasanya dilakukan oleh sejumlah orang yang memang telah ditentukan secara khusus oleh pihak perusahaan untuk memberikan wawancara pada seorang atau beberapa orang pelamar perkerjaan secara bergantian. Sebagai seorang pekerjaan Anda tidak perlu cemas, merasa takut dan juga mungkin menjadi gerogi, hanya karena beberapa orang secara bersama-sama telah siap menghadapi Anda, yang masih berjati diri sebagai pelamar atau pencari kerja. Santai tapi pasti prinsipnya.

B. Ys. Gunadi, macam-macam wawancara terdiri dari:
1. wawancara dengan orang di jalan.
Wawancara jenis ini biasanya dilakukan secara serta merta setelah terjadi peristiwa penting atau dikeluarkannya suatu kebijaksanaan pemerintah.Secara populer disebut mengumpulkan pendapat umum.
2. wawancara resmi atau mendesak.
Secara kebetulan wartawan bertemu dengan tokoh yang bersangkutan kemudian secara
spontan dilakukan wawancara.
3. wawancara perorangan.
Ini mengenai pribadi seseorang yang bernilai.
4. wawancara yang berhubungan langsung dengan berita yang bersangkutan,
misalnya wawancara kepada orang yang berhasil melakukan pekerjaan penting.
5. wawancara melalui telepon sering dilakukan oleh wartawan luar negeri.
6. wawancara dengan menuliskan pertanyaan-pertanyaan untuk disampaikan
kepada seorang pejabat lewat sekertarisnya
7. wawancara kelompok adalah wawancara kepada beberapa orang, sekitar lima
sekaligus.

C. Menurut Michael Stevans (hal. 44), macam-macam wawancara :

a. wawancara satu-satunya yaitu terdiri dari pewawancara yang berbicara kepada
calon secara pribadi. Jenis wawancara ini meliputi semua topik penting, serinci
mungkin sejauh waktu yang mengijinkan. Wawancara ini untuk mengisihkan
calon-calon yang tidak cocock.
b. wawancara panel bersifat lebih umum dalam sektor publik seperti pelayanan
masyarakat sipil, kesehatan dan perwakilan daerah. Dan terdiri dari beberapa
orang yaitu sekitar tiga sampai emam orang yang mengadakan wawancara
bersama.

D. Menurut Iain Maitland (hal. 83-85)
a. Wawancara perorangan atau wawancara satu-satu.
Wawancara ini dilakukan bila seseorang yang mewawancarai hanya berhadapan dengan yang
diwawancarai.
b. wawancara panel, ini dilakukan bila berhadapan dengan dua orang atau lebih
pewawancara.
c. wawancara bertahap, wawancara ini dilakukan dengan beberapa pewawancara
yang bergiliran bertatap muka dengan seseorang calon dalam suatu wawancara
satu sama lain.

F. Etnografi Indonesia :
a. wawancara tertutup, yaitu wawancara yang pertanyaannya dirancang
sedemilian rupa sehingga kemudian jawaban dari respon sangat terbatas dan
sudah ditentukan sebelumnya
b. wawancara terbuka, yaitu wawancara yang pertanyaannya dirancang
sedemikian rupa sehingga jawaban responden tidak terbatas dalam beberapa
kata yang sudah ditentukan sebelumnya.

5. SYARAT-SYARAT WAWANCARA
a. Pewawancara harus melakukan persiapan-persiapan agar tidak mempermalukan diri sendiri. Kegunaan persiapan juga agar kita dapat menggali informasi atau keterangan yang kita perlukan.
b. sebelum melakukan wawancara, tentukanlah masalah yang akan dipercakapkan atau masalah yang didapatkan dari orang yang bersangkutan.
c. Sesudah itu tentukanlah arah permasalahan yang akan digali.
d. Sesudah masalah digali, tetapkanlah orang yang akan diwawancarai
e. Kenalilah sifat-sifat orang yang akan diawancarai itu sebelum kita berhadapan dengannya. Untuk mengenali orang tersebut, kita harus bertanya kepada orang lain atau membaca riwayat hidup atau juga tulisan-tulisan orang tersebut.
f. Hubungi orang tersebut sebelum melakukan wawancara dengannya, dan buatlah janji mengenai pelaksanaan wawancara.
g. Untuk melakukan wawancara, siapkan segala peralatan yang akan diperlukan, seperti bloknote, ballpoint, tape rokorder (Patmono 38-39)

Keterangan yang hendak diperoleh melalui wawancara biasanya adalah
keterangan-keterangan sebagai berikut:
a. keterangan yang bersifat memastikan fakta, biasa berupa umur, agama, pendididkan, pendapatan, pekerjaan serta beberapa hal khusus yang dimiliki respon
b. keterangan yang memperkuat kepercayaan tentang keadaan fakta, ini biasanya menyangkut kepercayaan atau pendapat respoden mengenai suatu fakta.
c. Keterangan tentang perasaan, keterangan ini menyangkut perasaan respoden terhadap sesuatu yang ditanyakan
d. Keterangan tentang kegiatan, keterangan tentang kegiatan ini ada dua:
Ä keterangan tentang standar etika, menyangkut apa yang sebaiknya
lakukan informan/responden
Ä keterangan tentang standar keiatan, menyangkut penilaian
responden atau informan tentang mungkin tidaknya suatu kegiatan
dilakukan menurut standar yang ada dalam masyarakat
e. keterangan tentang alasan seseorang
keterangan seperti ini adalah keterangan yang berisi alasan-alasan responden tentang anggapan, perasaan, perilaku, atau kebijaksaan yang dikemukakannya.

Tips-tips yang harus diperhatikan oleh seorang pewawancara:
(Etnografi Indonesia)
a. Dalam melakukan wawancara, seorang pewawancara harus jujur.
b. Seorang pewawancara harus baik dan mencatat jawaban, dalam menerapkan definisi, dalam kerja administrasi lainnya.
c. Seorang pewawancara harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, adat-istiadat, maupun situasi dan kondisi ditempat wawancara berlangsung.
d. Dalam melakukan wawancara, pewawancara harus bersikap wajar.

Wawancara dilaksanakan setelah persiapannya matang. Sebelum wawancara dimulai atau sebelum pewawancara berhadapan muka dengan responden atau informan dan mendapatkan keterangan lisan, pewawancara biasanya melakukan persiapan-persiapan tertentu. Berikut ini adalah tahap-tahap yang peneliti dalam melakukan wawancara:
1. Persiapan wawancara
a. Seleksi untuk individu untuk diwawancarai
Ø wawancara perlu mendapat keterangan dan data dari individu-individu
tertentu untuk mendapatkian informasi
Ø wawancara untuk mendapatkan keterangan tentang diri pribadi,
pendirian atau pandangan dari individu untuk keperluan
perbandingan
b. Pendekatan terhadap orang yang telah diseleksi. Pewawancara perlu
mengetahui kapan individu yang hendak diwawancarai memiliki waktu
luang.
c. Pengembangan suasana lancar dalam wawancara.
2. Tahap pelaksanaan wawancara:
Sebelum wawancara dimulai, pewawancara perlu memperhatikan hal-hal
dibawa ini:
a. menerangkan kegunaan serta tujuan wawancara
b. menjelaskan mengapa responden terpilih untuk diwawancara
c. menjelaskan identitas pribadi atau lembaga pewawancara bila penelitian
dilakukan sendiri.
d. menjelaskan sifat wawancara yang dilakukan, apakah rahasia atau tidak.
3.Pencatatan hasil wawancara
Pencatatan hasil wawancara bisa dilakukan secara langsung ketika wawancara
berjalan, bisa juga wawancara berlangsung. Secara umum ada lima cara
pencatatan hasil wawancara yaitu:
a. pencatatan langsung, dilakukan pada saat wawancara berlangsung
b. catatan dari ingatan, dilakukan setelah wawancara berlangsung dengan mengandalkan ingatan pewawancara
c. pencatatan dengan alat perekam, yaitu pentatan dilakukan dengan tipe rekorder
d. pentatan dengan angka atau dengan kata-kata yang mempunyai nilai, yaitu pencatatan yang dilakukan berdasarkan nilai kategori jawaban responden atau informan
e. catatan dengan kode, yaitu pencatatan yang dilakukan dengan kode kategori jawaban responden atau informan.

Selain itu yang perlu juga untuk diperhatikan adalah dalam mengajikan pertanyaan, pewawancara sebaiknya memperhatikan:
a. pewawancara sebaiknya menghindari kata-kata yang mempunyai banyak arti.
b. pewawancara sebaiknya menghindari pertanyaan-pertanyaan panjang.
Pertanyaan panjang sebaiknya dipecah-pecahkan menjadi pertanyaan pendek.
c. pewawancara sebaiknya membuat pertanyaan sekonkrit mungkin
d. pewawancara sebaiknya menyebut semua alternatif yang dapat diberikan
oleh respons atas pertanyaannya atau sebaliknya jangan menyebut suatu
alternatif sama sekali.
e. pewawancara sebaiknya menghindari pokok-pokok pertanyaan yang
mungkin membuat informan malu atau canggung.
f. dalam wawancara yang responden atau informannya harus menilai orang
ketiga, pewawancara sebaiknya menanyakan sifat yang positif maupun yang
negatif dari orang ketiga itu.
(Etnografi Indonesia)

6. PELAKSANAAN WAWANCARA
Ketika tiba waktunya untuk mengadakan wawancara wartawan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Menjaga suasana untuk menciptakan suasana yang baik.
Memang memerlukan waktu lebih, oleh karena itu sebelum memasuki materi yang akan kita percakapkan, terlebih dahulu kita membicarakan hal-hal lain yang menjadi perhatian yang kita hadapi. Misalnya kita mewawancarai tokoh politik, kita mengetahui bahwa tokoh tersebut penggemar burung nuri, maka kita dapat membicarakan terlebih dahulu tentang seluk beluk burung nuri. Hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga suasana jangan membuat orang yang kita wawancarai itu marah atau tersinggung. Sehingga percakapan langsung diputuskan dan jangan marah-marah atau memojokan orang yang kita wawancarai.
b. Bersikap wajar.
Maksudnya jika kita mewawancarai orang yang lebih pintar dari kita, kita harus bisa membawa diri agar tidak direndahkan. Sebaliknya apabila kita hadapi orang bodoh, kita harus mengarahkannya tanpa harus mengguruinya, dengan demikian orang tersebut dapat mengetahui persoalan yang akan kita gali.
c. Memelihara situasi.
Maksudnya jangan sampai kita memasukan situasi diskusi yang berkepanjangan atau bertindak berlebihan sampai menjurus kearah introgasi, apalagi menghakimi. Misalnya kita akan mengadakan wawancara dengan direktur perusahaan untuk mengecek soal PHK yang telah terjadi di perusahaan itu. Apabila kita datang dengan asumsi bahwa pihak perusahaan yang bersalah dan kita langsung menghakimi direktur yang bersangkutan, kita bahkan tak akan mendapat informasi duduk persoalanya. Dalam hal ini kita dituntut netral, sehingga kita dapat menyajikan fakta yang seimbang.
d. Tangkas dalam menarik kesimpulan.
Dengan kesimpulan tepat kita dapat melanjudkan wawancara dengan tepat, kesalahan yang sering dilakukan wartawan adalah pada saat mengambil kesimpulan yang kurang tepat, sehingga orang yang diwawancarai harus mengulangi dari awal bagian-bagian percakapan yang penting.
e. Menjaga pokok persoalan .
Maksudnya jangan lari dari pokok persoalan yang dibicarakan, untuk itu kita harus waspada dan terus-menerus menjaga pokok persoalan yang dibicarakan. Misalnya: kita ingin mendapat gambaran tentang gajah, orang yang kita wawancarai mula-mula bercerita tentang gajah, tetapi ketika ditengah-tengah pembicaraan ia mulai membelokan masalah dengan pembicaraan ular. Begini dik, gajah itu binatang buas yang berdaban besar. Hidupnya di hutan pulau Sumatera, kakinya besar dan puya hidung yang panjang yang disebut belalai. Dengan belalai itu gajah mampu merobohkan gedung besar. Anda tahu belalai itu? Belalai itu seperti ular phyton. Nah, anda tahu ular phyton? Ular phyton itu hidup di sawah, suka makan tikus, kodok dan sebagainya. Tetapi jangan heran, kambingpun dapat ditelannya.
f. Kritis.
Hal yang perlu diperhatikan dalam hal mewawancarai adalah sikap kritis. Sikap ini perlu dimiliki oleh setiap wartawan agar ia mendapat informasi terinci dan selengkap-lengkapnya. Dengan sikap kritis, orang yang kira wawancarai pun akan merasa berhadapan dengan orang yang tahu persoalan.
g. Sopan santun.
Hal yang tak kalah penting adalah sikap sopan santun. Jangan lupa mengucapkan terima kasih setelah wawancara selesai. Hal lain yang berkaitan dengan sopan santun dalam mengadakan wawancara dapat kita daftarkan sebagai berikut :
a. jangan gusar apabila orang yang akan kita wawancarai
menolak dengan alasan sibuk. Tetapi cobalah terus-menerus
meminta waktu dan mengadakan perjanjian
b. untuk membuat perjanjian, kita bisa menelpon atau
mendatangi kerumahnya.
c. jangan datang terlambat pada saat wawancara
d. jangan salah mengeja nama orang yang kita wawancarai
e. jangan lupa membawa alat tulis
f. sebutkan alasan melakukan wawancara dengan tempat kerja
kita, sehingga orang yang kita wawancarai mengerti betul
maksud wawancara kita.
g. jangan janjikan kepada orang yang diwawancarai bahwa hasil
wawancara pasti dimuat. Namun berikan keyakinan kepada orang
tersebut nengenai kegunaan wawancara itu.

MENDONGENG

1. Definisi Mendongeng

Dongeng adalah cerita yang dianggap fiktif dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat. (James and Spaceles)
Dongeng adalah cara berkomunikasi untuk menceritakan sesuatu antarmanusia, baik cerita mengenai orang lain maupun khayalan-khayalan sebagai cerita yang dibuat-buat. (www.kksmelati.multiplay.com).
Dongeng adalah cerita yang tidak benar terjadi (terutama tentang kejadian dulu yang aneh-aneh). Mendongeng berarti menceritakan tentang dongeng. (KBBI)

2. Fungsi dongeng

Menurut kusumo Priyono dalam bukunya “Trampil Mendongeng” (2001 : 15), mendongeng memiliki beberapa fungsi yaitu:
a. merangsang dan menumbuhkan imajinasi dan daya fantasi
b. mempunyai sikap terhadap nilai-nilai luhur budaya bangsa
c. menambah kemampuan berbahasa
d. mempunya rasa hormat, juga terciptanya kepercayaan diri dan sikap terpuji pada anak-anak.
e. Mengembangkan daya penalaran sikap kritis dan kreatif

3.Teknik mendongeng

a. mendongeng langsung
hal-hal yang harus diperhatikan dalam mendongeng secara langsung tanpa alat peraga adalah:
1. posisis duduk tegak dan rileks
2. suasana gembira
3. saat mulai mendongeng, awali dengan nyyanyian atau pantun
4. perubahan mimik muka disesuaikan dengan tokoh yang didongengi.
b. Mendongeng dengan alat peraga biasanya bisa dilakukan dengan media buku cerita, gambar,
boneka, tali, wayang geber, dan sebagainya.

4. Macam-macam mendongeng

Dalam situs www. Kkmelati. Multiply, dongeng dapat dibedakan sbb:
a. Religius tales, yaitu dongeng yang berisikan keagamaan.
Contohnya : Dongeng santa klaus.
b. Berdict tales, yaitu dongeng-dongeng yang berisikan kepahlawanan.
Contohnya : Dongeng hiawata
c. Folk tales, dongeng-dongeng yang berisikan cerita rakyat.
Contohnya : Dongeng Malin Kundang

Sedangkan Kusumo Priyono (2001 : 9), membagi dongeng menjadi beberapa klasifikasi seperti berikut ini :
a. Legenda, yaitu dongeng yang berhubungan dengan masyarakat dan biasanya menceritakan asal mula terjadinya suatu tempat, gunung, danau dan sebagainya.
Contohnya : dongeng Tangkuban Perahu, Asal Mula Kota
Banyuwangi, dan sebagainya.
b. Mite, yaitu dongeng yang berkaitan dengan kepercayaan nenek moyang yang bercerita tentang dewa-dewa.
Contohnya : Dongeng mengenai Nyi Roro Kidul, Legenda Dewa-
Dewa Zaman Yunani kuno, dan sebagainya.
c. Fabel, yaitu dongeng tentang kehidupan binatang yang digambarkan dan bisa berbicara seperti manusia, biasanya bersifat sindiran atau kiasan.
Contohnya : Dongeng Kancil, Katak Hendak Menjadi Lembu, dan
sebagainya.
d. Cerita rakyat, yaitu dongeng yang diwariskan secara turun temurun secara lisan dalam masyarakat tradisional.
Contohnya : Timun Emas, Ande-Ande Lumut, dan sebagainya.
e. Pelipur Lara, yakni dongeng yang disajikan sebagai pengisi waktu istirahat, dibawakan secara romantis, penuh humor dan sangat menarik.
Contohnya : Tukan Kentrung di masyarakat Jawa Timur, Sahibul
Hidayat di kalangan masyarakat Betawi, dan
sebagainya.

5. Petunjuk Mendongeng
Dalam situs www.tandabaca.com dan www.kkmelati.multiply, ada beberapa petunjuk mendongeng diantaranya adalah seperti berikut ;
a. Kuasai materi cerita.
Materi dongeng yang akan kita sampaikan hendaknya kita kuasai sehingga kita dapat berimprovisasi dengan baik. Mengenai materi cerita berbeda dengan hafalan. Kalau kita menghafal, akan sangat sulit seandainya di tengah jalan ternyata ada anak yang bertanya atau menyampaikan gagasan mereka. Sangat mungkin orang yang menghafal sebuah cerita tiba-tiba berhenti ditengah-tengah sehingga sangat mengganggu jalannya cerita.
b. Berbaur dengan Audience
Sebaiknya saat mendongeng berbaur dengan anak-anak yang kita dongengi sehingga akan menjadikan acara mendongeng memjadi lebih menyenangkan.
c. Menghidupkan kata-kata
Menghidupkan kata-kata dapat dilakukan dengan cara memberi sifat pada kata-kata tersebut.
Misalnya : “Tiba-tiba harimau itu menyambar Gurka dengan kukunya yang tajam dan…bett, dada Gurka tersobek hingga mengeluarkan darah yang merah.”
Dari contoh tersebut, kita melihat betapa sebuah kata akan memiliki “Roh” yang berbeda dengan kata yang lain. Mengucapkan kata merah atau darah bersifat mengerikan, menakutkan, dan lain sebagainya. Itulah yang dinamakan menghidupkan kata-kata.
d. Menghidupkan tokoh
“Bibi…Aku tak boleh ikut main sama teman-teman”
“Lho…mengapa demikian?”
“Katanya aku berbeda dengan mereka”.
Sepenggal percakapan tersebut tidak akan menarik seandainya kita hanya membaca dengan biasa. Sebaiknya kita melakukan eksplorasi, ekspresi, dan emosi apa yang muncul ketika seorang anak sedang berkata dengan bibinya. Memberi ekspresi dan emosi inilah yang disebut menghidupkan tokoh apalagi disertai ekspresi mimik pendongeng yang pas.
e. Belajar sedikit mengenai teater
Memiliki kemampuan dalam seni teater akan mempermudah kita menjiwai sebuah dongeng. Kelenturan gerak tubuh dan suara akan membuat cerita yang akan kita dongengkan menjadi lebih hidup.

6. Berlatih Sebelum Mendongeng.
Mendongeng memerlukan latihan khusus agar pendengar tertarik dengan dongeng yang disampaikan. Pendongeng terlebih dahulu harus membaca, menghafal, dan mengenal karakter tokoh-tokoh yang akan didongengkan. Berlatih sebelum mendongeng dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya: berlatih di depan cermin.
Hal-hal yang perlu diperhatikan saat berlatih di depan cermin adalah:
a. penggaturan napas
b. mimik dan ekspresi wajah, sorotan mata
c. gerakan mulut
d. gerakkan bahu dan tubuh
e. gerakakna tangan dan kaki
Dengan berlatih secara rutin maka kita akan memperoleh hasil yang optimal dan siap menjadi pendongeng.

Daftar Pustaka

* Abdulrahman. 1978. Diskusi sebagai alat untuk memecahkan masalah.
Bandung. Nusantara.
* Bonar. S.K. Teknik Wawancara. Jakarta: Gramedia.
* Bari, Habib. 1995, Teknik dan komunikasi penyair TV Radio MC. Jakarta.
Gramedia
* Darmastuti, Rini. 2006. Bahasa Indonesia Komunikasi. Yogyakarta: Gava Media.
* Depdikbud. 1971. Teknik Diskusi Berkelompok. Yogyakarta. Kanisius.
* Depertemen Pendidikan Nasional.1996. KBBI Edisi Kedua. Jakarta: Balai
Pustaka.
* Departemen Pendidikan Nasional. 1997. KBBI. Jakarta. Balai Pustaka.
* Gunadi, Ys. 1998. Himpunan Istilah Komunikasi. Jakarta. PT Gramedia
Widiasarana Indonesia.
* Hendrikus, Dori Wuwur. 1990. Retorika. Yogyakarta: Yayasan Kanisius

* Lias Aryati. 2004. Panduan Untuk Menjadi MC Profesional. Jakarta: Pt
Gramedia.
* Mailtland, Iain. 1993. Merekrut Karyawan: PT Pustaka Binaman Pressindo.
* Rendra. 1993. Seni Drama Untuk Remaja. Jakarta: Pt Dunia Pustaka Jaya.
* Sk, Patmono. 1993. Teknik Jurnalistik. Jakarta: PT BPK Gunung Mulya.
* Stevan, Michael. Berhasil dalam wawancara. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
* Sukadi, G. 1993. Public Speaking. Jakarta: Pt Gramedia
* Sukiat. 1979. Diskusi Kelompok: Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
* Surono. 19. 1979. Petunjuk penyelenggaraan rapat dan Teknik diskusi.
Jakarta. Intan.
* Tarigan, Henry Guntur. 1985. Berbicara sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandug: Angkasa.
* Triwahyuni, Terra dan Abdul Kadin. 2002. Presentasi efektif dnegan Microsoft
Poewrpoint. Yogyakarta: Penerbit Andi.
* Wiyanto, Asul. 2006. Terampil Pidato.Jakarta: PT Grasindo.

Pragmatik

Oktober 23, 2008

 

Pragmatik

Istilah pragmatik pertama-tama digunakan oleh filosof kenamaan Charles Morris (1938). Filosof ini memang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu yang mempelajari system tanda (semiotik). Dalam semiotik ini, dia membedakan tiga konsep dasar yaitu sintaktik, semantik, dan pragmatik. Sintaktik mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda. Semantik mempelajari hubungan antara tanda dengan objek. Pragmatik mengkaji hubungan antara tanda dengan penafsir (interpreters). Tanda-tanda yang dimaksud di sini adalah tanda-tanda bahasa bukan yang lain.

Berbeda dengan Charles Morris, Carnap (1938) seseorang filosof dan ahli logika menjelaskan bahwa pragmatik mempelajari konsep-konsep abstrak tertentu yang menunjukkan pada agents. Dengan perkataan lain, pragmatic mempelajari hubungan konsep yang merupakan tanda dengan pemakai tanda tersebut. Selanjutnya, ahli lainkan Montague mengatakan bahwa pragmatic adalah Studi yang mempelajari idexical atau deictic. Dalam pegertian yang terakhir ini, pragmatic berkaitan dengan teori rujukan/deiksis, yaitu pemakaian bahasa yang menunjuk pada rujukan tertentu menurut pemakainya.

Pemerolehan Pragmatik.

Manusia dilahirkan di dalam dunia sosial di mana mereka harus bergaul dengan manusia lain yang di sekitarnya. Sejak awal hidupnya dia sudah bergaul sosial dengan terdekat, meskipun bentuk masih satu arah-orang tua berbicara, dan bayi hanya mendengarnya saja. Dalam perkembangan hidup selanjutnya, dia mulai memperoleh bahasa setapak demi setapak. Pada saat yang sama, dia juga sudah dibawa ke dalam kehidupan sosial di mana terdapat rambu-rambu perilaku kehidupan. Rambu-rambu ini diperlukan karena meskipun manusia itu dilahirkan bebas, tetap saja dia harus hidup bermasyarakat. Ini berarti bahwa dia harus pula menguasai norma-norma sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Sebagian dari norma-norma ini tertanam dalam bahasa sehinngga kempetensi anak tidak hanya terbatas pada apa yang dinamakan pemakaian bahasa (language usage) tetapi juga penggunaan bahasa (language use). Dengan kata lain, anak harus pula menguasai kemampuan pragmatik.

Pragmatik merujuk ke telaah makna dalam interaksi yang mencakup makna si pembicara dan konteks-konteks di mana ujaran yang dikeluarkan (jucker, 1998:830). Ninio dan Snow (1996:45) menyatakan bahwa komunikasi non–verbal pada anak sebelum anak dapat mengeluarkan bentuk yang bermakna sebenarnya merupakan kemampuan pragmatik anak. Mereka mengatakan anak sebanarnya sudah tahu mengenai esensi penggunaan bahasa pada waktu anak berumur beberapa minggu. Kent dan Miolo (1996:304) bahkan mengatakan bahwa janin pun sebenarnaya telah terekspos pada bahasa manusia melelui lingkungan intrauterin. Hal ini kemudian tampak dari kesukaan dari suara ibunya dari pada suara orang lain. perbedana antara orang dewasa dengan bayi hanyalah bahwa bayi menaggapi ujaran oarang dewasa tidak (lebih tepatnya, belum) secara verbal. Senyum, tawa, tangis, dan teriakan kecil semua merupakan piranti pragmatik anak. Dapat dicontohkan, jika anak disuruh oleh orang tua untuk mengambil sesutu benda, dia akan langsung merespon perintah orang tuanya dan memberikan benda itu kepada sasaran yang benar yakni ayah atau ibu.

Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi komunikasi pragmatik antara dia dengan orang lain. Jadi, anak manapun sebanaranya telah menunjukan kemampuan prakmatik sejak dini.

Tindak Bahasa

Dalam peristiwa tutur terdapat tindak tutur yang jenisnya bermacam-macam. Menurut Austin yang kemudian disederhanakan oleh Searle, macam tindak tutur terbagi menjadi lima (Levinson, 1983) yaitu sebagai berikut.

  1. Tindak representatif yaitu tindak yang menjelaskan apa dan bagaimana sesustu itu adanya. Termasuk dalam tindakan ini misalnya mengemukakan, menjelaskan, menyatakan, dan menunjuk.

Contohnya :

A : “Buku itu bukan milik saya”

B : “Lalu milik siapa?”

A : “Saya tidak tahu.”

Dari percakapan singkat di atas, bahwa A menyatakan bahwa buku itu bukan miliknya dan A mengemukakan bahwa ia tidak tahu siapa yang sebenarnya memiliki buku itu.

  1. Tindak komisif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong pembicara melakukan sesuatu misalnya bersumpah dan berjanji.

Contohnya :

A : “Saya berjanji tidak menyebarluaskan masalah ini kepada orang lain, percayalah!”

B : “Baiklah kalau begitu saya akan menceritakannya kepadamu”.

Dari percakapan di atas menunjukkan bahwa A melakukan tindak tutur berjanji kepada B untuk tidak menyebarluaskan masalah tertentu karena A ingin mengetahuinya.

  1. Tindak Direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong penanggap tutur

melakukan sesuatu, misalnya mengusulkan, memohon, memerintah, mendesak, menentang. Dengan kata lain yang bisa memerintah lawan tutur melakukan suatu tindakan verbal maupun non verbal.

Contohnya :

A : “saya haus sekali, tolong ambilkan minum!”

B : “apa dikira saya ini pembantu?” (walaupun begitu B bergegas mengambil air juga).

  1. Tindak ekspresif yaitu tindak tutur yang menyangkut perasaan dan sikap. Tindak tutur ini misalnya berupa tindakan meminta maaf, berterima kasih, mengadukan, menyampaikan, ucapan selamat, mengkritik dan sebagainya. Tindak ekspresif ini berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis pembicara terhadap lawan bicara.

Contohnya :

A :”Mengapa anda belum menyerahkan tugas?”

B :”Maaf pak, tugas itu memang belum selesai saya kerjakan.”

A :”kapan akan anda serahkan?”

B :”insya allah hari kamis pak.”

Dalam pemenggalan percakapan di atas terdapat adanya tindak tutur meminta maaf, sebagai salahsatu contoh tindak ekpresif.

  1. Tindak deklaratif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk memantapkan atau membenarkan sasuatu tindak tutur yang lain atau tindak tutur sebelumnya. Tindak tutur deklaratif ini dinyatakan dengan setuju, tidak setuju, benar, dan lain-lain.

Contohnya:

A :”menurut saya,belajar bahasa di samping dipengaruhi oleh bakat bahasa dipengaruhi juga oleh lingkungan. Setujukah anda dengan pendapat saya ini ?”

B :” Ya, saya setuju dan dapat menerima pendapat saudara.”

Kajian pragmatik

Pragmatik adalah kajian tentang penggunaan bahasa sesungguhnya. Pragmatik mencakup bahasan tentang deiksis, praanggapan, tindak tutur, dan implikatur percakapan. Deiksis adalah kata yang tidak memiliki referen yang tetap ( tetapi berubah-ubah ) seperti kata saya, sini, sekarang. Misalnya dalam dialog antara A dan B, saya secara bergantian mengacu kepada A atau B. Kata sini mengacu kepada tempat yang dekat dengan penutur, kata sekarang mengacu kepada waktu ketika penutur sedang berbicara.

Praanggapan mengacu kepada makna tersirat yang ” mendahului“ makna kalimat yang terucapkan ( tertulis ). Makna ini dapat ditangkap dan disimpulkan oleh pendengar ( pembaca ). Kalau kita mendengar ujaran “ibunya sedang sakit”, maka “makna lain” yang bisa ditangkap, yaitu ‘dia mempunyai ibu.’ Inilah yang disebut praanggapan. Untuk mengecek kebenarannya, kita dapat menggabungkan keduanya dengan menempatkan praanggapan di depan ujaran tadi menjadi: “Dia mempunyai ibu, ibunya sedang sakit”. Tetapi, praanggapan itu akan janggal jika ditempatkan di belakang.

Praanggapan berbeda dengan pengartian. Yang disebut pengartian yaitu “makna lain” yang “mengikuti” suatu ujaran. Misalnya kalau kita mendengar ujaran “ini bunga”, maka sebenarnya ada sejumlah makna yang menyertai makna ujaran itu yaitu “pantas wangi” (ini) bukan kerbau. Kalau digabungkan akan menjadi seperti ini:

ini bunga. Pantas wangi.”

ini bunga. Bukan kerbau.”

Dalam kehidupan sehari-hari pengartian banyak sekali didahului kata “Artinya, ….”, “itu berarti,….” Jadi, semacam simpulan atau tambahan pengertian (atau makna) atas ujaran yang mendahuluinya.

Tindak tutur adalah suatu ujaran sebagai suatu satuan fungsional dalam komunikasi. Di dalam teori tindak tutur, ujaran itu mempunyai dua jenis makna yaitu:

  1. Makna proposisional (disebut juga makna lekusioner). Makana ini merupakan makna harafiah dasar dari ujaran yang disampaikan (dibawa) oleh kata atau struktur yang dikandung oleh ujaran itu.

  2. Makna ilokusioner (daya ilokusioner). Makna ini merupakan efek yang dipunyai oleh teks tertulis atau ujaran terhadap pembaca atau pendengar. Misalnya kalimat “Saya haus.” Makna proposisionalnya adalah apa yang dikatakan tentang keadaan fisik penutur.

Daya ilokusioner adalah efek yang diinginkan penutur yang dipunyai oleh ujaran terhadap pendengar. Ujaran di atas misalnya mungkin dimaksud untuk meminta sesuatu untuk diminum. Sebuah tindak tutur adalah kalimat atau ujaran yang mempunyai makna proposisional dan daya ilokusioner. Sebuah tindak tutur yang dibentuk secara tidak langsung kadang-kadang disebut tindak tutur tidak langsung, seperti tindak tutur dalam contoh di atas (“saya haus”). Tindak tutur ini sering dirasakan lebih sopan untuk membangun tindak tutur tertentu, misalnya permintaan penolakan.

Implikatur percakapan mengacu kepada jenis “kesepakatan bersama” antara penutur dan lawan tuturnya, kesepakatan dalam pemahaman, bahwa yang dibicarakan harus saling berhubungan. Hubungan atau keterkaitan itu sendiri tidak terdapat pada masing-masing ujaran. Artinya, makna keterkaitan itu tidak diungkapkan secara harafiah pada ujaran itu. Dalam hal itu Soemarmo (dalam Dardjowidjojo, 1988) member contoh cakapan berikut:

A: “Kamu masih di sini.”

B: “Bus ke Muntilan baru saja lewat.”

Kalau hanya melihat kedua ujaran A dan B itu kita tidak memperoleh keterkaitan, karena A berbicara (mungkin dengan keterkejutan atau keheranan masih di sini, di Jogja) tentang B yang ada di depannya, sedangkan B berbicara tentang bus yang ke Muntilan. B tidak perlu heran, karena ada kebenaran bahwa “B ada di sini”. Meskipun A berujar demikian. Mengapa? Karena B menyadari bahwa A tahu betul seharusnya B sudah berangkat ke Muntilan (dan tidak “di sini”). Sebaliknya, A juga tidak perlu heran karena B mengucapkan kalimat itu karena kalimat B tadi merupakan alasan mengapa dia belum berangkat (dan arena itu masih di sini). Jadi, implikatur percakapan itu dapat dikatakan sejenis makna yang terkandung dalam cakapan yang dipahami oleh masing-masing partisipan.

 

Perencanaan Pembelajaran

Oktober 3, 2008
  

 

 

Seleksi Bahan dan Media Pembelajaran

Bahasa Indonesia

 

1. pendahuluan

Pada umumnya di dalam kelas guru melakukan banyak kegiatan yang merupakan bagian dari siasat pengajaran. Guru sering kali berfungsi sebagai pemberi motivasi, penyaji informasi, pemimpin latihan dan penguji. Guru membuat keputusan yang mempengruhi seluruh kelas maupun setiap siswa.

Apabila seorang guru mengajarkan bahan pengajaran mengenai setiap pokok bahasan kepada siswa-siswanya, ia harus mengadakan persiapan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar sehingga tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.

Bahan atau materi pengajaran yang pertama merupakan bahan pengajaran yang seluruhnya dapat dipelajari sendiri oleh siswa.

2. Memilih materi pengajaran yang sesuai

Menurut Kemp (1977, 44) materi pembelajaran dalam hubungannya dengan proses penyusunan desain intruksional merupakan gabungan antara pengetahuan, ketrampilan dan faktor sikap.

Selesai mengembangkan siasat pengajaran ialah menentukan apakah sudah ada material yang cocok dengan tujuan pengajaran. Siasat pengajaran dapat digunakan untuk menentukan apakah bahan yang telah tersedia sudah memenuhi syarat, atau perlu disesuaikan sebelum dipakai.

2.1 Menurut (Munandir. 1987:199-200) Penilaian bahan dilakukan guna menentukan apakah:

1) Cukup menarik,

2) Isinya sesuai,

3) Urutanya tepat,

4) Informasi yang dibutuhkan ada,

5) Ada soal latihan,

6) Jawaban latihan diberikan,

7) Terdapat tes yang sesuai,

8) Terdapat petunjuk lanjutan yang jelas untuk usaha perbaikan, remediation,

9) Latihan lanjutan, atau kemajuan siswa secara umum,

10) Petunjuk bagi siswa yang mengarahkan mereka dari satu kegiatan yang lain.

2.2 Menentukan materi pokok atau pembelajaran (Depdikbud. 2006:13-14)Dalam menntukan materi pokok atau pembelajaran harus dipertimbangkan:

a. Relevansi materi pokok dengan SK dan KD;

b. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik;

c. Kebermanfaatan bagi peserta didik;

d. Struktur keilmuan;

e. Kedalaman dan keluasan materi;

f. Relefansi dengan kebutuhan peserta didik dan tututan lingkungan;

g. Alokasi waktu.

2.3 Kriteria dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran:

a. Kegiatan pembelajaran disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik, khususnya guru agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara profesional sesuai dengan tuntutan kurikulum.

b. Kegiatan pembelajaran disusun berdasarkan atas satu tuntutan Kompetensi Dasar secara utuh.

c. Kegiatan Pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai Kompetensi Dasar.

d. Kegiatan Pembelajaran terpusat pada siswa (student-centered). Guru harus selalu berpikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah ditetapkan.

e. Materi kegiatan pembelajaran dapat berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

f. Perumusan kegiatan pembelajaran harus jelas memuat materi yang harus dikuasai untuk mencapai Kompetensi Dasar.

g. Penemuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi KD-KD yang memerlukan prasyarat tertentu.

h. Pembelajaran bersifat spiral (terjadi pengulang-pengulangan pembelajaran materi tertentu).

i. Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan kegiatan pembelajaran siswa, yaitu kegiatan

(siswa dan guru) dan obyek belajar.

2.4 Prinsip-prinsip penyusunan bahan pembelajaran Dalam rangka mewujudkan bahan pembelajaran yang tepat sasaran khususnya ketercapaian penguasaan kompetensi pembelajar, sejumlah prinsip memang perku diperhatikan guru dalam menyusun bahan pembelajaran. Prisip-prinsip itu adalah:

a. Keaslian dan validitas

Materi pembelajaran dikatakan asli/ otentik apabila materi tersebut menggambarkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang benar-benar digunakan atau dapat dijumpai dalam komunikasi atau dalam kehidupan nyata. Keaslian materi ini juga mempengaruhi kadar validitasnya, semakin otentik materi, semakin dapat dipercaya kebenaranya.

b. Tingkat kepentingan materi

Materi pembelajaran yang dipilih hendaknya benar-benar penting bagi pembelajaran dalam meningkatkan kompetensi mereka. Materi yang disusun diharapkan mampu mencapai sasaran minimal indikator-indikator pembelajaran.

c. Keterbelajaran

Materi yang dipilih dan dikembangkan dalam pembelajaran hendaknya benar-benar dapat dipelajari oleh pembelajar.

d. Keajegan/konsisten

Materi yang disiapkan guru hendaknya taat dengan kompetensi yang hendak dicapai.

e. Kebermanfaatan

Materi-materi yang dihadirkan di kelas hendaknya benar-benar bermanfaat untuk hidup mereka. Mater-materi yang dapat langsung dimanfaatkan dalam kehidupan mereka akan sangat membantu penguasaan keterampilan pembelajar.

f. Keberagaman

Bahan/materi pembelajar yang beragam akan membantu pembelajar untuk memahami berbagai jenis teks dan akan memperkaya mereka dengan beragam informasi yang terkandung dalam materi. Selain itu, bahan yang beragam akan semakin memotivasi pembelajar dan mengurangi kebosanan pembelajar.

g. Kemenarikan

Kemenarikan materi dapat dilihat dari aspek penampilan dan isi. Penampilan materi yang menarik (dilengkapi dengan gambar, grafik, warna, dan bagan) tentu sajaakan mempengaruhi pembelajar untuk mempelajarinya. Isi materi dikatakan menarik bila sesuai dengan tingkat umur, minat, perkembangan kognitif, dan perkembangan psikologisnya.

h. Kebermaknaan

Materi yang bermakana adalah materi yang dikembangkan sesuai kebutuhan pembelajar, memungkinkan mereka dapat mengungkapkan ide,pikiran, gagasan, perasaan, dan informasi kepada orang lain, baik secara lisan maupun tertulis.

 

Selain delapan prinsip di atas, ada tiga lagi yaitu: Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya harus relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi yang harus dikkuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam. Prinsip kecakupan ialah materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa mengiuasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompentensi dasar. Sebaliknya, bila terlalu banyak akan buang-buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya (Depdiknas, 2006: 6-7).2.5 Seleksi dan pengorganisasian materi

Materi pembelajaran tentang empat keterampilan berbahasa , kebudayaan, dan berpikir literat hendaknya diseleksi dengan memperhatikan karakteristik siswa dan lingkungan siswa berada. Tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui materi tersebut. Pemilihan materi pembelajaran hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip berikut ini.

a. Kebenaran materi. Sangatlah penting bagi para guru untuk membekali anak-anak dengan materi pembelajaran yang benar dilihat segala aspeknya. Guru hendaknya senantiasa berupaya menjauhkan aspek-aspek kekeliruan dari materi pembelajaran. Beberapa kajian  psikologis menegaskan bahwa sangatlah sulit melepaskan kekeliruan yang tertanam dalam diri siswa melalui kegiatan pembelajaran.

b. Kesesuaian materi dengan tingkat intelektual siswa. Materi tidak boleh berada di atas jangkauan penalaran siswa, sehingga menyulitkan mereka dalam memahaminya, dan jangan pula terlampau mudah, sehingga tidak menarik perhatian siswa. Para siswa, misalnya,  mengalami kesulitan untuk memahami konsep waktu dalam verba bahasa Arab. Karenanya, hal itu tidak sepatutnya disajikan kepada mereka pada kelas-kelas permulaan. 

c. Hendaknya materi pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan siswa dan dengan lingkungan di mana dia hidup. Siswa yang duduk di kelas permulaan, tidak perlu disuguhii bacaan yang tentang keadaan geografis Kerajaan Arab Saudi, tetapi sebaiknya disuguhi topik tentang diri dan keluarganya yang setiap hari dijumpainya. 

d. Pemilihan materi juga harus diselaraskan dengan alokasi waktu. Materi jangan terlalu panjang, sehingga membosankan siswa dan menyulitkan mereka. Sebaliknya, materi jangan pula terlampau pendek, sehingga mereka dapat memahaminya dalam waktu singkat dan waktu tersisa digunakan secara tidak produktif. 

e. Hendaknya materi disusun dalam urutan yang logis. Setiap bagian materi  harus benar-benar berkaitan dengan materi sebelumnya. Unit-unit materi hendaknya saling berkaitan dan bertaut serta terlihat jelas benang merahnya. 

f. Materi hendaknya terbagi ke dalam unit-unit utama. Setiap unit merupakan kumpulan dari unit-unit yang lebih kecil daripada unit utamanya. Tujuan dari pembagian materi ke dalam beberapa unit ini ialah agar pertama-tama guru dapat merancang  kegiatannya, dan agar guru dapat membagi materi dari kurikulum ke dalam  satuan-satuan alamiah yang logis sebagai kegiatan harian, mingguan, atau semesteran. Ini bukan berarti urutan materi itu harus sesuai dengan urutan dalam buku teks, sebab buku disusun selaras dengan tuntutan percetakan, penulisan, dan penyusunan yang belum tentu sesuaii  dengan kegiatan mengajar. 

g. Materi pelajaran yang baru hendaknya dikaitkan dengan pelajaran yang lama. Hal ini menuntut guru untuk menghubungkan materi baru dengan materi lama. Sebaiknya guru menjadikan kesulitan pada pelajaran yang lalu sebagai bahan  penyampaian pelajaran yang baru. 

Prinsip-prinsip menyeleksi materi Pembelajaran seperti dikemukakan oleh Aziz (1982: 210-217) tersebut, selanjutnya  diorganisasikan menurut landasan dan prinsip-prinsip berikut.   

a. Guru memilih bagian materi yang selaras dengan tingkat intelektual siswa dan dengan alokasi waktu yang tersedia. 

b. Guru memilah materi ini ke dalam beberapa sekuens – tentu saja di antara sekuens tersebut perlu ada perhentian – dan pada akhir dari setiap sekuens hendaknya ada masa yang dimanfaatkan untuk mereviu sekuens sebelumnya. 

c. Hendaknya guru memvariasikan ilustrasi dan contoh, sehingga tampak jelas keuniversilan dan kekokohan teori atau prinsip yang diajarkan. 

d. Hendaknya guru memfokuskan diri pada point yang dianggap penting bagi siswa. dia pun hendaknya beralih secara berangsur-angsur dari point yang satu ke point yang lain. peralihan hanya dilakukan jika siswa telah mampu mencerna point sebelumnya. guru jangan hanya mementingkan penjelasan aneka hakikat, tetapi perlu menggali hapalan dan ingatan para siswa. 

e. Hendaknya guru menjelaskan hubungan antara point yang satu dengan point yang lain, sehingga dengan cara seperti itu materi pembelajaran merupakan satu kesatuan yang utuh.  

f. Perlu diperhatikan pelibatan siswa dalam kkegiatan pembelajaran pada setiap kesempatan yang ada, baik melalui cara bertanya atau diminta mengulangi atau menyebutkan materi yang telah disampaikan. hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa agar mengerahan upayanya dalam mencapai kebenaran dan agar mereka tidak mengalami kebosanan. 

g. Guru perlu memilah antara siswa yang cerdas dan yang normal, antara yang kuat dan yang lemah. demikian pula guru hendaknya mendistribusikan pertanyaan kepada seluruh siswanya secara proporsional, di samping berupaya membangkitkan siswa yang lemah. 

2.6 Langkah-langkah penyusunan bahan pembelajaran (Rishe, 2007:127-129)

Langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

b. Sebelum memilih materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipaelajari atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran.

c. Identifikasi jenis-jenis materi pembelajaran

d. Materi pembelajaran jug dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur (depdiknas, 2006: 7-11)

e. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetansi dasar

f. Hal yang dapat dilakukan berkaitan dengan pemilihan jenis materi ini adalah:

1) Mengidentifikasi apakah termasuk fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan lebih daripada satu jenis materi, hal ini memudahkan guru dalam pembelajaran.

2) Memilih jenis materi yang sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar.

 

Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.

g. Memilih sumber bahan ajar

Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Materi pembelajaran atau bahan ajar dapat kita temukan dari berbagai sumber seperti buku pelajaran, majalah, jurnal, koran, internet, media audiovisual, dsb.

3. pemilihan dan pengembangan mediaMedia pembelajaran merupakan bagian perencanaan pembelajaran yang mengarah pada ketercapaian kompetensi pembelajar. Media memiliki peran penting dalam pembelajaran Arsyad (2005:5, melalui Rishe: 132, dalam Gatra).

Peran itu antara lain:

a. media sebagai sarana pembentuk konstuksi pemahaman pembelajaran terhadap suatu materi,

b. media sebagai alat bantu menciptakan suasana pembelajaran yang lebih efektif, dan

c. media sebagai pendukung ketercapaian tujuan pembelajaran yang keberhasilanya ditentukan oleh pemilihan dan penggunaan media pembelajaran oleh para guru.

3.1 Para ahli mendefinisikan media pembelajaran berbeda-beda. Pada dasarnya media pembelajaran merupakan bagian:

a. sarana pembelajaran berupa alat fisik (manusia, materi, peristiwa),

b. berisi pesan pembelajaran,

c. mampu menciptakan komunikasi efektif atara pembelajar denagn materi pembelajaran, dan

d. mampu mendukung ketercapaian tujuan pembelajaran (arsyad, 2005:5).

3.2 Jenis-jenis media pembelajaran

Paul dan David (1999: 144-149, melalui Rishe, 2007: 133, dalam Gatra) mengkategorikan media menjadi enam kategori, yaitu:

a. Media yang tidak diproyeksikan

Meliputi: papan tulis, papan flip, grafik, peta, gambar, realia, model tiruan, papan pameran, dan diorama.

b. Media yang diproyeksikan

Meliputi: OHP, slide, dan proyektor.

c. Media audio

Meliputi: pita kaset, rekaman piringan, dan compact disc.

d. Media film dan video (audio-visual)

Berupa kaset video (DVD dan sejenisnya) yang memuat pengkisahan (film).

e. Multimedia

Menyangkut dengan koleksi berbagai tipe media yang terikat dalam satu topik tertentu. Misal, modul pembelajaran yang berupa teks berisi soal-soal dilengkap[I dengan gambar dan program powerpaint.

f. Media berbasis komunikasi

Diantaranya teleconference, dan kuliah jarak jauh (telelecture).

3.3 Pemilihan media pembelajaranMenurut Ade Koesnandar (melalui Rishe, 2007: 133-134, dalam Gatra) ada enam dasar penentuan pemilihan media pembelajara. Dasar ini dikenal denagan ACTION berikut ini penjelasanya:

1. Accsess

Accsess

2. Cost

berhubungan dengan biaya pengadaan dan penggunaan media.adalah kemudahan memperoleh dan menggunakan media.

Cost

3. Technology

Technology

4. Interactivity

Interactivity

5. Organization

Organization

6. Novelty

Novelty

berkaitan dengan perkembangan media pembelajaran yang baru. Guru perlu mengetahui perkembangan media pembelajaran yang baru dengan maksud meningkatkan motivasi dan ketertarkan siswa dalam belajar. Penggunaan alat yang baru akan menambah pemahaman siswa tidak perlu media mahal dan canggih paling tidak siswa menapatkan variasi media dalam pembelajaran di kelas.berhubungan dengan relasi koordinasi atara guru dan pihak sekolah dalam memanfaatkan fasilitas media pembelajaran yang ada di sekolah. berkaitan dengan penciptaan komunikasi dua arah antara media dengan materi pembelajaran serta pencapaian keterpahaman siswa. berhubungan dengan ketersediaan media dan fasilitas pendukungnya.

3.4 Dasar pemilihan media Arsyad (2007:75, melalui Rishe, 2007: 134)

a. kemampuan institusi

b. kesesuaian dengan materi pembelajaran

c. karakteristik siswa

d. kemampuan dan sikap guru

e. tujuan pembelajaran

f. interaksi/ strategi pembelajaran

g. lokasi pembelajaran

h. waktu

i. kualitas alat

j. kepraktisan

3.5 Penggunaan media pembelajaran

Menurut Rishe (2007: 134-135, dalam Gatra) alasan perlunya media digunakan dalam pembelajaran di kelas adalah:

a. media pembelajaran dapat menarik perhatian pembelajaran.

b. media pembelajatran dapat dijadikan sarana mengingat materi pembelajaran yang lalu.

c. media pembelajaran dapat mempermudah siswa dalam pemerolehan materi yang baru dan mengingat materi pembelajaran yang lalu.

d. media pembelajaran merupakan sarana pendukung dalam menyediakan contoh-contoh materi yang dapat divisualisasikan secara nyata di dalam kelas.

e. materi pembelajaran menciptakan suasana belajar yang lebih interaktif.

f. media pembelajaran dapat dijadikan untuk menilai kefektovan keseluruhan proses pembelajaran yang diperoleh melalui umpan balik nyata yang diperhatikan para pembelajarnya.

g. media pembelajaran membantu pembelajar dalam memperoleh gambaran utuh tentang suatu materi dan kemudahan memahami materi.

h. media pembelajaran dapat dijadiakan sarana peilaian tugas pembelajaran siswa.

3.6 Langkah-langkah penggunaan media menurut Lisa Livingston (melalui Rishe, 2007:135, dalam Gatra) antara lain:

a. mengidentifikasi materi pembelajaran yang akan disampaikan di kelas.

b. mengorganisasikan materi mana yang perlu menggunakan media pembelajaran atau semua media memerlukan media dalam kegiatan pembelajaran.

c. menentukan jenis media yang akan dipergunakan berkaitan materi pembelajaran.

d. memastikan medaia yang dipilih dapat dioperasikan oleh guru.

e. menyusun materi pembelajaran secara utuh kedalam media pembelajaran (pemilihan gambar ilustrasi, kemenarikan, unsur pendukung audio perlu diperhatikan).

3.7 Langkah-langkah pemilihan media

Pada dasarnya pemilihan media hendaknya didasarkan atas pertanyaan yang berhubungan dengan tujuan instruksional, materi dan karakteristik media tertentu dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

a. Penerangan atau pengajaran

Menentukan apakah media untuk keperluan informasi atau pengajaran. Penerimaan informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan atau ketrampilanya. Sedangkan pembelajarannya yaitu harus menunjukkan kemampuanya sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.

b. Tentukan tranmisi pesan

c. Tentukan karakteristik pelajaran

Kita melakukan persiapan pendahuluan untuk menyusun desain intruksional, di mana kita telah melakukan analisis tentang perlunya mengajar, merumuskan tujuan umum, dan tujuan intstruksional khusus, telah memilih materi dan metode.

Perlu dianalisis apakah TIK yang telah ditentukan tersebut termasuk di dalam aspek pengetahuan, perasaan atau gerak. Masing-masing aspek ini memerlukan media yang berbeda-beda.

d. Klasifikasi media

Media bisa dikelompokkan sesuai dengan ciri khusus masing-masing. Tiap media mempunyai ciri khas, termasuk kelebihan dan kekurangannya bila dibandingkan dengan media lainnya.

e. Analisis karakteristik masing-masing media

Masing-masing media perlu didiskusikan, dianalisis mengenai kebaikan dan kekurrangannya dalam mencapai objective (TIK) yang telah ditentukan. Diperhatikan juga pertimbangan ekonomi, tersedia dengan mudah atau sukar dan sebagainya.

3.8 Problem-problem dalam pemilihan media

a. Seberapa jauh dalam kegiatan belajar diperlukan simuklasi atau tiruan dengan benda atau keadaan sehari-hari atau senyatanya?

b. Media apakah yang paling praktis dapat di produsir, digunakan dengan sesuai dengan rencana pembelajaran?

c. Apakah diperlukan equipment (peralatan) pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dengan media tersebut?

d. Seberapa jauh prestasi yang harus dicapai oleh siswa menurut desain instruksional yang telah disusun?

e. Apakah nilai perkuliahan dalam arti banyaknya siswa yang diajar, ketrampilan yang dicapainya sepadan dengan media yang digunakan?

3.9 Kelebihan dan keterbatasan beberapa mediaTeam pengembangan kurikulum Pusat Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan (TKPK) di dalam diskusi kerja bulan Maret 1978 di Hotel Sabang Jakarta telah mengidentifikasi kelebihan dan keterbatasan beberapa media seperti:

a. Media radio

Kelebehan media radio

1) Meningkatkan kemampuan murid untuk berkomunikasi secara lisan

2) Memberikan penerangan secara lain bagi bagian-bagian yang akan menjadi lebih hidup bila disampaikan secara auditif.

3) Mengembangkan imajinasi murid.

4) Sebagai sarana pemantapan dan pengayaan bahan pelajaran.

5) Memberikan penguatan pada bagian yang penting.

6) Sebagai salah satu cara untuk menyampaikan evaluasi dan feedback kepada murid.

7) Menyampaikan suara, bunyi yang asli yang tidak bisa diperoleh secara langsung dan segera.

8) Memiliki jangkuan yang luas dan dalam waktu yang relatif singkat.

9) Program radio dipersiapkan dengan lebih baik oleh team ahli, dengan bahan-bahan yang relatuf lebih luas sehingga

kualitas pelajaran dan isinya lebih bermutu.

10) Sudah merupakan sebagian dari budaya masyarakat.

11) Harga dan biaya pemeliharaan cukup murah.

12) Program radio relatif mudah di buat.

13) Radio mampu menyampaikan kebijaksanaan, informasi secara cepat dan akurat.

14) Pesawat radio mudah dibawa kemana-mana.

Keterbatasan media radio

1) Sarana komunikasi satu arah

2) Sarana penyampai program yang hanya satu kali, tak dapat dihentikan untuk diulang (di luar kontrol pendengagaran/audience).

3) Terikat oleh alat pemancaran dan waktu.

4) Terlalu peka terhadap gangguan sekitar.

5) Hanya dapat didengar saja/menjangkau indera yang terbatas.

6) Terbatasnya bahasa pelajaran yang dapat disampaikan dalam satu program karena terbatasnya intensitas daya murid.

 

b. Media kaset

Kelebihan media kaset

1) Kaset mulai membudaya alam masyarakat Indonesia.

2) Program kaset dapat diguanakan secara perserorangan atau kelomppok

3) Dapat diulang setiap waktu

4) Mudah diperbanyak

5) Mudah menggunakannya.

Keterbatasan media kaset

1) Media untuk didengar saja

2) Media satu arah

3) Tidak memiliki jangkauan yang luas

3.10 Prinsif-prinsif pemilihan media

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan media yaitu:

a. Apa media itu sesuai untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan?

b. Apakah media itu sesuai dengan kemampuan belajar dan pola belajar murid?

c. Apakah media yang dipilih sesuai dengan bahan pelajaran?

d. Adakah bahan dan peralatan untuk memproduksi program itu dengan mutu yang memadai?

e. Apakah bahan dan media itu mudah disediakan?

f. Apakah sudah tidak ada media atau cara lain yang lebih murah dan lebih mudah pengadaan dan penggunaannya, tetapi daya gunanya sama?

g. Apakah biaya pengadaan dan penggunaanya seimbang dengan manfaat serta hasil pendayagunaannya?

h. Apakah program media yang akan diguanakan sudah diuji coba untuk menentukan kesahihannya (validitasnya)?.

3.11 Hal-hal yang perlu diperhatikan

a. Tidak ada satu media yang paling baik untuk semua tujuan.

b. Penggunaan harus konsisten dengan tujuan.

c. Media yang digunakan hendaknya cukup dikenal oleh murid.

d. Media hendaknya sesuai dengan sifat pembelajaran.

e. Media harus sesuai dengan kemapuan dan pola belajar siswa.

f. Media dipilih secara objektif dan tidak didasarkan oleh karena kesukaan subyektif.

g. Karena lingkungan sekitar mempengaruhi hasil penggunaan pesawat media.

 

4. Penutup

Pada prinsipnya bahan dan media pembelajaran memiliki peran penting dalam pembelajaran terlebih dalam pembentukan konstruksi pengalaman belajar tentang sesuatu. Selain iyu, bahan dan media pembelajaran harudlah berorientasi pada tujuan pembelajaran yang hendak di capai. Oleh karena itu, para guru diharapkan mampu menganalisis materi pembelajaran yangsesuai kebutuhan dan tujuan pembelajaran, serta guru diharapkan mampu menciptakan media berikut penggunaannya. Dengan demikian, pembelajaran mkenjadi lebih efektif dan kompetensi akan berkembang pada diri siswa secara maksimal.

 

Daftar Pustaka:

Ansyar, Mohamad.1989. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 2006. Panduan Pengembangan Silabus dan Pnduan Pengembangan

 Re ncana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

            Desain Intruksional. Solo: Tiga Serangkai

http://www.puskur.net/download/naskahakademik/naskahakademikbasing/babiii.doc.

Munandir.1987. Rancangan Sistem Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.Siahaan,

Bistok.1987. Pengembangan Materi Pengajaran Bahasa FPS 626..Jakarta: Depdikbud.

———- . 2007. “Penyusunan Bahan dan Media Pembelajaran“. Gatra. Januari.

                        Hlm. 124-115. Yogyakarta: PBSID FKIP Universitas Sanata Dharma.

 

 

 

 

 

Semantik

Oktober 2, 2008

Perubahan Makna

Hakekat perubahan makna:

Perubahan makna pada hakikatnya terjadi karena adanya asosiasi antara makna lama dengan makna baru.

Gejala perubahan makna merupakan akibat dari perkembagan makna oleh para pemakai bahasa. Bahasa beerkembang sesuai dengan perkembangan pikiran manusia.

Yang dimaksud dengan perubahan makna di sini mencakup perluasan, pembatasan, pelemahan, pengaburan, dan pergeseran makna yang nampak dalam penggunaan bahasa

Faktor-faktor yang menyebabkann perubahan makna:

1. Perkembangan Dalam Bidang Ilmu dan Teknologi

Kata yang tadinya mengandung konsep makna yang sederhana, tetap digunakan walaupun konsep makna yang dikandung telah berubah sebagi akibat dari pandangan baru dalam satu bidang ilmu atau sebagai akibat dalam perkembangan teknologi.

2. Perkembangan Sosial dan Budaya

Dalam perkembangan sosial budaya, bentuk suatu kata tetap sama tetapi konsep makna yang dikandungnya sudah berubah.

3. Perbedaan Bidang Pemakaiaan

Setiap bidang kehidupan/ kegiatan memiliki kosa kata sendiri yang hanya dikenal dan digunakan dalam bidang tersebut. Kosa kata dalam bidang tertentu beralih dari bidangnya dan digunakan dalam bidang lain atau menjadi kosa kata lain.

4. Adanya Asosiasi

Kata-kata yang digunakan diluar bidangnya masih memiliki hubungan atau pertautan makna dengan makna yang digunakan dalam bidang asalnya.

5. Pertukaran Tanggapan Indera

Terjadinya pertukaran tanggapan indera yang satu dengan tanggapan indera yang lain.

6. Perbedaan Tanggapan

Pandangan hidup dan ukuran dalam norma kehidupan dalam masyarakat menyebabkan banyak kata yang memiliki nilai-nilai rasa yang rendah, disamping itu juga ada nilai rasa yang tinggi.

7. Adanya Penyingkatan

Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata atau ungkapan yang karena sering digunakan, kemudian tanpa diucapkan atau dituliskan secara keseluruhan orang sudah mengerti maksudnya. Oleh karena itu orang lebih banyak menggunakan singkatannya saja dari pada menggunakan bentuk utuhnya.

8. Proses Gramatikal

Dalam hal ini sebenarnya bukan perubahan makna sebab bentuk kata itu sudah berubah sebagai hasil proses gramatikal.

9. Pengembangan Istilah

Salah satu upaya dalam pengembangan atau pembentukan istilah baru adalah dengan memanfaatkan kosa kata yang ada dengan jalan memberikan makna baru, baik dengan menyempitkan, meluaskan maupun memberi arti baru.  

1. Hubungan SintagmatikSatuan leksikal dapat mengalami perubahan arti karena kekeliruan pemenggalan morfem-morfemnya, persandingan yang lazim (teradat) atau kolokasi, penghilangan salah satu unsurnya.

2. Rumpang Didalam Kosa Kata

Kosa kata suatu bahasa kadang-kadang kekurangan bentuk untuk mengungkapkan konsep tertentu. Penutur bahasa dapat memlih satuan leksikal yang ada dengan menyempitkan maknanya, meluaskan maknanya, memakai kiasan/ metafora, perkembangan acuan yang ada di luar bahasa.

3. Perubahan Konotasi

Konotasi atau disebut juga tautan pikiran yang menyertai makna kognitif sangat bergantung pada pembicaranya, pendengar, dan situasi (keadaan, peristiwa, proses) yang melingkupi.

4. Peralihan Dari Pengacuan yang Konkret ke Pengacuan Abstrak

5. Timbulnya Gejala Sinestesia

Penggabungan dua macam tanggapan panca indera terhadap satu hal yang sama. Penggabungan dua macam tanggapan dapat dikatakan sebagai perubahan makna akibat pertukaran tanggapan indera karena tampaknya sama.

6. Penerjemahan Harfiah

Pemungutan konsep baru yang diungkapkan di dalam bahasa lain terjadi juga lewat penerjemahan kata demi kata, sehingga bentuk terjemahan itu memperoleh arti (makna) baru yang tidak dimiliki sebelumnya.

Jenis-jenis perubahan makna:

1. Perluasan (generalisasi)

adalah suatu proses perubahan makna kata dari yang lebih khusus ke yang lebih umum, atau dari yang lebih sempit ke yang lebih luas.

2. Peninggian (ameliorasi)

adalah peningkatan nilai makna dari makna yang biasa/ buruk menjadi makna yang lebih baik (lebih tinggi, lebih anggun, lebih halus)

3. Pertukaran (sintesia)

adalah perubahan makna yang terjadi sebagai akibat pertukaran tanggapan antara indera yang berbeda

4. Penyempitan (spesialisasi)

adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja (perubahan yang mengakibatkan makna kata menjadi lebih khusus atau lebih sempit dalam aplikasinya)

5. Penurunan (peyorasi)

adalah proses perubahan makna kata menjadi lebih jelek atau lebih rendah dari makna semula

6. Persamaan (asosiasi)

adalah perubahan makna yang terjadi sebagai akibat perubahan sifat

7. Perubahan makna dari bahasa daerah ke dalam bahasa indonesia

contoh : dari bahasa Palembang butuh berarti alat kelamin, dalam bahasa Indonesia butuh berarti perlu .

8. Perubahan makna akibat lingkungan

contoh :

a) Buku ini di cetak di Balai Pustaka.

b) Cetakan batu bata itu besar-besar.

9. Perubahan makna akibat gabungan kata

contoh :

Surat jalan, rumah sakit

Daftar Pustaka:

Chaer, Abdul. 1989. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta

Djajasudarma, Fatimah. 1993. Semantik dan Pemahaman Ilmu Makna. Bandung : Eresco

Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Semantik. Bandung : Angkasa

 

 

Dawan

September 27, 2008

 

Bahasa Dawan (Uab Meto/Baikenu)

 

Pengantar

Bahasa Dawan (Uab Meto) adalah bahasa Austronesia yang digunakan oleh sekitar 600.000 penutur yang sebagian besar berdiam di bagian barat Pulau Timor, yaitu di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kotamadya Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan [TTS], Timor Tengah Utara [TTU], dan sebagian Kabupaten Belu) dan Distrik Oecusse-Ambeno (Timor-Leste), tempat dialek ini disebut Baikenu walaupun penduduk setempat menyebutnya Uab Meto atau Molok Meto.

Berdasarkan pengamatan penulis, secara umum, para penutur bahasa Dawan yang berdiam di luar “Planet Uab Meto”, khususnya di Yogyakarta, masih bangga menggunakan bahasa mereka. Bahasa dengan jumlah penutur yang cukup besar ini acapkali disebut Meto, Uab Atoni Pah Meto, Uab Pah Meto, Timor, Timorese, Timol, Timoreesch, Timoreezen, Timor Dawan, atau Rawan (http://www.ethnologue.com).

Menurut sumber tersebut, bahasa Dawan memiliki dialek-dialek berikut: Amfoan-Fatule’u-Amabi (Amfoan, Amfuang, Fatule’u, Amabi), Amanuban-Amanatun (Amanuban, Amanubang, Amanatun), Mollo-Miomafo (Mollo, Miomafo), Biboki-Insana (Biboki, Insana), Ambenu (Ambeno, Vaikenu, Vaikino, Baikenu, Bikenu, Biqueno), Kusa-Manlea (Kusa, Manlea).

Bahasa Timor ini diklasifikan sebagai Austronesian, Malayo-Polynesian, Central-Eastern, Central Malayo-Polynesian, Timor, Nuclear Timor, West. Walaupun sumber di atas tidak menyebutkan bahasa penduduk Amarasi sebagai salah satu dialek Dawan (karena telah dinyatakan sebagai bahasa terpisah dan kerabat terdekat bahasa Dawan dengan nama alternatif Timor Amarasi), penulis, berdasarkan pengalaman sebagai penutur asli bahasa Dawan yang pernah berkontak dengan sejumlah penutur dialek Amarasi, sependapat dengan Tarno dkk. (Tata Bahasa Dawan, hal.1), yang menyebutkan bahasa Amarasi sebagai dialek integral bahasa Dawan, paling tidak untuk abad ini, begitu juga dengan dialek Kusa-Manlea yang pada tataran kosakata dan bunyi

memiliki banyak kemiripan dengan dialek anak-cucu Na’i Rasi.

Hal paling menonjol yang membedakan dialek Amarasi dengan dialek lainnya, selain dialek Kusa-Manlea, adalah huruf/bunyi r (bukan l) yang digunakan untuk sejumlah besar kata. Kata-kata seperti kolo (burung), laku (ubi), lasi (hal, perihal, perkara, bahasa), plenat (perintah, titah), sulat (surat, buku) dan kalu (kalau, jika) dalam Dawan L masing-masing memiliki padanan kata koro, raku, rasi, prenat, surat dan karu dalam dialek Amarasi. Jika http://www.ethnologue.com menyebutkan dialek Kusa-Manlea sebagai salah

satu dialek bahasa Dawan, maka sewajarnya dicakup juga dialek Amarasi, karena kemiripan kedua buah dialek tersebut.

Seseorang yang bukan pakar kebahasaan, namun memiliki hubungan komunikasi yang intens dengan para penutur dari kedua dialek tersebut, secara praksis akan mengetahui dan dapat menunjukkan perbedaan-perbedaan kedua dialek ini. Sekadar contoh, penggalan dari Kitab Kejadian, pasal 11: 3 (dari Alkitab Online dalam dialek Amarasi) akan memberikan sedikit gambaran tentang kesatuan dialek Amarasi dan dialek-dialek Uab Meto lainnya. (Dialek Amarasi): Hit taktutâ fatu naan ma traem sin tpaek ter. (Dialek lain): Hit taktutâ fatu nan(e) ma tlaem sin tpaek ter.

Secara umum dialek Amarasi, Kusa-Manlea, dan Noemuti (tidak sepenuhnya “r”) sering disebut bahasa Dawan R. Karena begitu beragamnya dialek bahasa Dawan, maka lambat-laun dialek-dialek tersebut dapat berkembang menjadi bahasa-bahasa terpisah, atau sengaja diberi nama terpisah, seperti yang terjadi pada dialek bahasa Dawan Oecusse-Ambeno, yang sudah lebih sering disebut bahasa Baikenu oleh sebagian orang.

Padahal nama tersebut masih asing di telinga para penutur Dawan sendiri. Namun terlepas dari segala macam nama yang diberikan oleh “para pembaptis”, orang-orang Dawan ( Atoni Pah Meto) sendiri pada umumnya masih tetap berpandangan bahwa mereka berbahasa yang satu, walaupun ada perbedaan di sana-sini pada bahasa mereka. Pada umumnya mereka menyebut bahasa mereka dengan salah satu dari nama-nama berikut: Uab Meto, Molok Meto, Lais-Meto, atau Rais-Meto.

Lalu, seperti Shakespeare, kita akan bertanya tentang apa artinya sederet nama yang berbeda jika kesatuan masih terasakan dalam perbedaan itu. Bukankah seseorang pun dapat saja menggunakan sederet alias (nama lain) dengan muatan yang berbeda? Jadi, berdasarkan kenyataan ini, kita dapat berpendapat bahwa para Atoni Pah Meto sudah lama menerapkan moto e pluribus unum (bhinneka tunggal ika) pada alat 3 komunikasi mereka, yang juga menyandang nama Meto.

Dan kenyataan ini tidak jauh berbeda dari pengalaman bahasa Indonesia, atau bahasa Tetun di Timor-Leste, yang sampai saat ini masih memiliki banyak corak lafal, yang semuanya diterima sejauh hal itu tidak menciptakan suasana “Babel” baru. Di era modern ini, dengan kemajuan yang pesat di bidang transportasi dan komunikasi, patutlah kita berharap agar jurang perbedaan komunikasi dalam bahasa.

Dawan akan semakin menyempit, namun tidak mengikis kekhasan setiap dialek yang ada. Dan demi memupuk rasa saling pengertian di antara para penutur dialek yang sangat beragam tersebut, perlu ditumbuhkan rasa hormat yang setara (karena semua dialek itu pada hakikatnya sederajat), dan bukan cibiran atau ejekan, kepada tiap-tiap dialek.

Perbendaharaan Kata

Bahasa Dawan menyerap banyak kosakata dari bahasa Portugis (lensu, meja, kapela, dll.), bahasa Belanda (voris, fanderen, forok, pakansi, dll.), bahasa Indonesia (guru, pegawi, kantor, dll.), dan bahasa Inggris (modem, internet, blog, klik, dll.). Pada umumnya dialek bahasa Dawan di bagian Indonesia (Nusa Tenggara Timur) menyerap banyak kosakata dari bahasa Indonesia, sedangkan di bagian Timor-Leste (Enklave Oecusse-Ambeno) menyerap dari bahasa Portugis. Misalnya obrigadu/-a (terima kasih), sertidaun (surat keterangan), aosliar (pembantu, pesuruh), bispu (uskup), kantu (sudut, pojok), dll. 

Perkembangan Kepustakaan

Dapat dikatakan bahwa bahasa Dawan baru memiliki bentuk tulis ketika ada misionaris Katolik dan Protestan yang mulai giat menggunakannya untuk menghasilkan bahan tulis, baik asli maupun terjemahan, seperti buku ibadat, katekismus1, buku sembahyang dan buku puji-pujian dalam rangka mengajarkan agama kepada para penduduk setempat, yang pada masa itu lebih banyak berbicara bahasa daerah.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada misionaris yang lain, patut dicantumkan tiga nama berikut ini, yakni Pdt. Pieter (1 Kitab pelajaran agama Kristen (dalam bentuk daftar tanya jawab), KBBI Edisi ke-2 hal. 453.)

4 Middelkoop (Belanda), P. Vincent Lechovic, SVD (Slovakia), dan P. Richard Daschbach, SVD (Amerika Serikat) yang, dengan cara mereka masing-masing, telah merintis penggunakan bahasa Dawan dalam bentuk tulis.

Beberapa bahan tulis lama tersebut di atas masih dapat ditemukan di kampung-kampung, tetapi sudah sangat langka. Agaknya kelangkaan ini disebabkan oleh kerusakan dan penerbitan yang terhenti. Dewasa ini tampaknya buku-buku jenis ini lebih banyak tersedia dalam bahasa-bahasa resmi.

Diperlukan kesadaran yang tinggi dan kehendak baik untuk menggalakkan kembali penyediaan kepustakaan dalam bahasa ini guna mendukung upaya-upaya pelestariannya. Karena itu, kehadiran buku-buku, baik religius maupun sekuler, patut disambut dengan gembira.

Menurut informasi lisan yang diperoleh penulis, kini telah hadir dua buah karya terjemahan Alkitab dalam bahasa Dawan dialek TTS (Beno Alekot, Kabar Baik) dan Amarasi. Yang terakhir bahkan telah tersedia di situs internet. Tentu ini adalah kabar gembira dan pertanda baik bagi perkembangan kepustakaan Dawa

Bunyi

Bahasa Dawan memiliki huruf-huruf vokal dan diftong berikut: a, E, e, i, u, o, O, dan ai. Konsonannya terdiri atas p, b, t, k, ?, f, s, h, l, m, dan n (Tarno dkk. hal. 149). Berdasarkan pengamatan penulis, dengan masuknya sejumlah besar kata pungutan (di sini hanya diberikan satu contoh untuk setiap konsonan), muncul konsonan c (camat), d (desa), g (gaji), j (jati), r (radio), v (vitamin), w (wisuda), x (xilofon), y (Yahudi), dan z (zona).

Untuk vokal E dan O, sebaiknya menggunakan simbol è dan ò, jika perlu. Dan untuk menandai konsonan ? di akhir kata, penulis menggunakan aksen sirkumpleks (^) pada vokal di akhir kata; dan bila konsonan itu muncul di tengah kata, maka akan dilambangkan dengan tanda trema (¨) pada vokal kedua (baca bagian berikut).

                                                                  Ejaan dan Aksen

Sejauh ini belum ada ejaan (ortografi) resmi bahasa Dawan yang ditetapkan melalui sebuah kongres bahasa yang resmi pula, sebagaimana yang terjadi pada bahasa Jawa dll. Memang telah ada ejaan yang digunakan dalam naskah-naskah terjemahan, tetapi belum ada keseragaman dalam penulisan. Dari segi bunyi, bahasa Dawan mempunyai banyak tekanan pada kata-katanya. Untuk menandai tekanan-tekanan tersebut, biasanya digunakan apostrof (tanda petik), di depan, di tengah, atau di akhir kata.

Cara ini diterima, namun sebuah kata menjadi lebih panjang karena banyaknya apostrof yang digunakan. Jadi, untuk membuat kata itu lebih pendek dan lebih efisien, penggunaan aksen-aksen tertentu (yang tersedia pada papan tuts komputer internasional) yang ditempatkan di atas kata yang diberi tekanan dipandang lebih sederhana dan lebih jelas.

Sebagian aksen ini sudah lama digunakan dalam bahasa Prancis dan Portugis. Akan tetapi, aksen-aksen yang sama dalam bahasa Dawan memiliki

fungsi (untuk menandai bunyi) yang berbeda. Bandingkan contoh-contoh berikut ini:

  1. Fun-ahunut i au uhakeb ume mese’. = Fun-ahunut i au uhakeb ume mesê. Bulan lalu saya membangun sebuah rumah.

  2. In a-nmui’ oto nua. In lof na’sosa’ es. = In a-nmuî oto nua. In lof nâsosâ

es. Dia mempunyai dua buah mobil. Dia akan menjual salah satu.

  1. Au fe’ oum u’ko kota. = Au fê oum ûko kota. Saya baru saja datang dari

kota.

4. Ho tataf a’naet nato’. = Ho tataf ânaet natô. Kakak sulungmu marah.

5. In olif akliko’ nahín. = In olif aklikô. Adik bungsunya tahu.

6. Miun kle’o-kle’o! = Miun kleö-kleö! Minumlah sedikit demi sedikit!

7. Li’ana’ i nah neik palu’. = Liänâ i nah neik palû. Anak ini makan dengan

lahap.

Tekanan juga muncul di depan kata yang diawali dengan sebuah konsonan.

Tekanan ini biasanya ditandai dengan apostrof pembuka (‘). Contoh: Au nao eu tasi he tifkai/kifkai ikâ. Saya pergi ke laut untuk menjala ikan. Sedangkan untuk membentuk gabungan kata (kata majemuk) dari suatu kata yang telah mengalami metatesis (pergeseran bunyi atau penggantian tempat bunyi dalam sebuah kata) digunakan apostrof penuntup (’). Contoh: Sin esan uem’onen (dari ume [rumah] + onen [doa, sembahyang]). Mereka (berada) di rumah ibadat.

Apabila sebuah kata yang bermetatesis diikuti oleh kata sifat (atau kata lain yang berfungsi sebagai kata sifat), maka, jika dipandang perlu, dua kata tersebut dapat dihubungkan dengan tanda hubung (-). Meskipun demikian penggunaan tanda hubung ini tidak berarti kedua kata tersebut menjadi kata majemuk. Contoh: Sekau es natua uem-feü nae? Siapa yang menghuni rumah baru itu? Kata 6 majemuk yang “utuh” dibentuk dari dua kata yang tidak mengalami pergeseran bunyi yang dirangkaikan dengan tanda hubung dan dimaksudkan untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan, atau untuk menciptakan arti baru. Contoh: ainaf-amaf ibu-bapak, kedua orangtua; olif-tataf bersaudara, sisi-‘makâ makanan, loli-laku umbiumbian, dan lain-lain.

Tata Bahasa

Sebagaimana bahasa Indonesia, bahasa Dawan tidak memiliki kategori kata benda/nomina berdasarkan jenis kelamin kata/gender, misalnya maskulin (laki-laki) dan feminine (perempuan) dalam bahasa-bahasa turunan Latin pada umumnya dan maskulin (laki-laki), feminin (perempuan) dan neuter (banci) dalam bahasa Jerman.

Untuk menunjukkan jenis kelamin manusia, perlu ditambahkan kata atoni atau mone untuk laki-laki, dan bifé atau feto untuk perempuan. Misalnya, liän’atoni (anak laki-laki), anmone (putra, anak lakilaki),

liänbifé, liänfeto (anak perempuan), anfeto (putri, anak perempuan). Dan untuk binatang, ditambahkan kata mone, keso, atau nai untuk jantan, dan ainaf, einaf, oupû untuk betina. Misalnya, faif-mone (babi jantan), bijae keso (sapi jantan), beb-ainaf (itik betina), dan maun-nai (ayam jantan).

Bentuk plural/jamak dalam bahasa Dawan pada umumnya dapat dibuat dengan menambahkan huruf -sin di akhir kata. Tetapi apabila kata benda itu diikuti sebuah kata sifat, maka penanda jamak muncul setelah itu. Namun penjamakan bisa juga dilakukan dengan cara yang tidak beraturan. Hal ini wajar dalam bahasa Dawan. Misalnya, ume [rumah] menjadi ume-sin atau uemnin atau uimnin [rumah-rumah], bifé [perempuan] menjadi bifé-sin atau bifénin [para perempuan/perempuan-perempuan].

Kata kerja bahasa Dawan berubah (dikonjugasikan) menurut subjek, tetapi tidak berubah (dikonjugasikan) menurut kala (waktu) dan modus. Untuk menunjukkan kapan

suatu kegiatan terjadi, diperlukan penambahan keterangan waktu, misalnya neno i(a) [hari ini], afi [kemarin], fini [tadi malam], nokâ [besok], fun-amnenat [bulan depan], dll. Misalnya kata kerja makan untuk orang ketiga tunggal adalah nah. Secara lengkap perubahan itu digambarkan sebagai berikut: 7

Au uah : Saya makan

Ho muah : Engkau/kamu makan

In nah : Dia makan

Hit tah : Kita/Anda makan

Hai miah : Kami makan

H(e)i miah : Kamu/kalian makan

Sin nahan : Mereka makan

 

Struktur kalimat bahasa Dawan mirip dengan yang dimiliki bahasa Tetun Prasa. Misalnya,

  1. In lof nait buku ‘naek nua (Dawan), Nia sei foti livru boot rua

(Tetun); Ia akan mengambil dua buah buku besar;

  1. Hai he mnao on lele (Dawan), Ami atu bá (iha) to’os (Tetun); Kami

mau pergi ke kebun. Tetapi jika dikaji lebih jauh secara gramatikal,

bahasa Dawan lebih sulit daripada bahasa Tetun.

  Sumber:http://uabmeto.blogspot.com

 

 

Semantik

September 19, 2008

Peribahasa

1. Pengertian

Peribahasa

Peribahasa

adalah ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas padat , yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasehat, prinsip hidup atau aturan tingkal laku (KBBI)Peribahasa adalah suatu kiasan bahasa yang berupa kalimat atau kelompok kata yang bersifat padat, ringkas dan berisi tentang norma, nilai, nasihat, perbandingan, perumpamaan, prinsip dan aturan tingkah laku. adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan suatu maksud tertentu (Poedarminta, 1976 : 738 dalam Tarigan, 1986 : 156)

2. Jenis-jenis peribahasa (Tarigan, 1986: 57- 65)

a. Pepetah: peribahasa yang berisi nasehat dan ajaran

Misalnya: Datang tampak muka, pergi tampak punggung (Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula)

b. Perumpaman : ibarat, amsal: persamaan (perbandingan); peribahasa yang menandung perbandingan. Kata-kata kunci dalam perumpamaan: seperti, bagai, laksana, baik, ibarat, bagai (kan), umpama, dan macam.

Misalnya: Bagai air di daunt alas (dikiaskan kepada orang yang tidak tetap hatinya, mudah berubah-ubah jika ada orang yang menyalahkan pendiriannya.

c. Ungkapan: perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk menyatakan suatu maksud dengan arti kiasan.

Misalnya:

a. melihat bulan, datang bulan yang berarti haid

b. celaka tiga belas : selakasekali

c. buah hati : kekasih

Contoh peribahasa· Di mana bumi dipijak di sana langit di junjung
artinya : jika kita pergi ke tempat lain kita harus menyesuaikan, menghormati dan toleransi dengan budaya setempat.

· Tiada rotan akar pun jadi
artinya : tidak ada yang bagus pun yang jelek juga tidak apa-apa.

· Buah yang manis biasanya berulat
artinya : kata-kata yang manis biasanya dapat menyesatkan atau menjerumuskan.

· Tak ada gading yang tak akan retak
artinya : Tidak ada satu pun yang sempurna, semua pasti akan ada saja cacatnya

Cakupan peribahasa: pepatah, perumpamaan, pemeo, dan ungkapan.Pepatah ialah sejenis peribahasa yang berisi nasihat atau ajaran dari orang tua-tua.

Contoh:
Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang jua. ‘ Budi baik itu tidak akan dilupakan orang.’Perumpamaan
ialah sejenis peribahasa yang berisi perbandingan. Biasanya menggunakan kata: seperti, bagai, bak, laksana, dan lain-lain.
Contoh:
Seperti air dengan tebing. ‘persahabatan yang kokoh dan tolong-menolong’Pemeo ialah sejenis peribahasa yang dijadikan semboyan.
Contoh:
Patah tumbuh hilang berganti. ’sesuatu yang hilang pasti ada penggantinya’Idiom

1. Pengertian Idiom

Idiomatik

Kata:

Frasa:

Kalimat:

Jadi makna idiomatik adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frasa, dan kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya (Chaer, 2002:75)

2. Macam-macama idiom

d. Idiom penuh: idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satua makna.

Misalnya: meja hijau : pengadilan, membanting tulang: bekerja keras, dan rumah batu (bermakna ganda) : rumah gandai atau pegadaian (makna gramatikal: rumah yang terbuat dari batu)

e. Idiom sebagian: masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri.

Misalnya: daftar hitam: daftar nama orang-orang yang dicurigai, Koran kuning: Koran yang memuat berita sensasi (Chaer, 2002:75).Contoh:
tinggi hati : sombong
ringan kepala : mudah belajar
darah daging : anak kandung
dingin hati : tidak bersemangat
uang panas : uang tidak halal
panas rezeki : sukar mencari rezeki

cuci mata = cari hiburan dengan melihat sesuatu yang indah
kambing hitam = orang yang menjadi pelimpahan suatu kesalahan yang tidak dilakukannya
jago merah = api dalam kebakaran
kupu-kupu malam = wanita penghibur atau pelacur komersial
ringan tangan = kasar atau suka melakukan tindak kekerasan
hidung belang = pria yang merupakan pelanggan psk atau pekerja seks komersil

Meja hujau (pengadilan) menjual gigi (tertawa keras-keras) kemaluan – idiom: satuan-satuan bahasa (kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan dari unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Misalnya: Majas
ialah bahasa berkias yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu.1. Simile (perumpamaan) ialah majas yang berupa perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berbeda tetapi sengaja dianggap sama.

Biasanya dinyatakan dengan kata: seperti, bagai,sebagai, laksana, bak, ibarat, dan sebagainya.
Contoh: Bedanya seperti langit dan bumi.2. Metafora
ialah perbandingan yang singkat dan padat dinyatakan secara implisit dan langsung.
Contoh: bunga bangsa (pemuda), kuli tinta (wartawan), raja siang (matahari)3. Personifikasi ialah majas yang menggambarkan benda-benda tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat insani (seperti manusia).
Contoh: Badai mengamuk merobohkan rumah-rumah.4. Antitesis ialah majas yang berupa paduan dua kata yang berlawanan.
Contoh: Bahasa dapat menunjukkan tinggi rendahnya bangsa.5. Alegori ialah cerita yang diceritakan dalam lambang-lambang. Alegori kerapkali mengandung sifat-sifat moral atau spiritual.

Biasanya alegori merupakan cerita-cerita yang panjang dengan tujuan yang terselubung. Alegori dapat berbentuk puisi atau prosa.
Misalnya: Kancil dan Buaya.C. Hubungan Makna
Hubungan makna antarkata dapat berwujud : sinonim, antonim, homonim, homograf, homofon, polisemi, hiponim dan hipernim (superordinat).1. Sinonim
Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki makna sama atau hampir sama.
Contoh:
a. Yang sama maknanya:
sudah – telah
sebab – karena
b. Yang hampir sama maknanya
untuk – bagi – buat – guna
cinta – kasih – sayang2. Antonim
Antonim adalah kata-kata yang berlawanan makna.
Contoh:
besar x kecil
ibu x bapak3. Homonim
Homonim ialah dua kata atau lebih yang ejaan dan lafalnya sama, tetapi maknanya berbeda.
Contoh:
buku 1 : buku kaki/tangan ‘ tulang sendi’
buku 2 : buku tulis ‘kitab’4. Homograf
Homograf adalah kata-kata yang sama ejaannya, tetapi ucapan dan artinya berbeda.
Contoh:
mental 1 : mental dari sepeda ‘terpelanting’
mental 2 : mental baja ‘batin, jiwa’5. Homofon
Homofon adalah kata-kata yang ucapannya sama, tetapi ejaan dan artinya berbeda.
Contoh:
sangsi : tidak sangsi ‘ragu-ragu, bimbang’
sanksi : tidak ada sanksinya ‘ tindakan, hukuman’

6. Polisemi
Polisemi adalah satu kata yamg memiliki makna banyak.
Contoh:
a. Didik jatuh dari sepeda.
b. Harga gabah jatuh. ‘merosot’
c. Setiba di rumah dia jatuh sakit. ‘menjadi’
d. Dia jatuh dalam ujian. ‘gagal’7. Hiponim dan Hipernim
Hiponim adalah kata-kata yang tingkatnya ada di bawah kata yang menjadi superordinat/ hipernim (kelas atas), sedangkan hipernim adalah sebaliknya.
Contoh:
Kata bunga merupakan superordinat, sedangkan mawar, melati, anggrek, flamboyan, dan sebagainya merupakan hiponimnya.D. Istilah
Istilah, bentuknya dapat berupa kata atau gabungan kata, tetapi mengungkapkan makna konsep sesuatu (proses, keadaan, atau khas bidang tertentu).

Ada dua kelompok istilah, yaitu istilah umum (digunakan secara umum) dan istilah khusus (digunakan dalam bidang tertentu, misalnya: pertanian, ekonomi, seni, agama, dsb.)

Makna istilah, tidak terpengaruh oleh konteks dan bermakna pasti.
Contoh:
a. Distribusi bahan bakar minyak di Bali mengalami hambatan.
Makna distribusi, ialah pengiriman atau penyaluran ke beberapa orang atau beberapa tempat (istilah umum).
b. Karya sastra menunjukkan fenomena masyarakat tempat karya itu dilahirkan.
Makna fenomena, ialah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah; fakta; kenyataan.
c. Dia berobat kepada okulis. (istilah khusus)
Makna okulis, ialah dokter mata, ahli penyakit mata.

 

Semantik

September 5, 2008

Makna Idiomatikal dan Peribahasa

A. Makna Idiomatikal
1. Pengertian
Idiomatik – idiom: satuan-satuan bahasa (kata, frase, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat diramalkan dari unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Misalnya:
Kata: kemaluan
Frasa: menjual gigi (tertawa keras-keras)
Kalimat: Meja hujau (pengadilan)
Jadi makna idiomatik adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frasa, dan kalimat) yang “menyimpang” dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya (Chaer, 2002:75)
2. Macam-macama idiom
a. Idiom penuh: idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satua makna.
Misalnya: meja hijau : pengadilan, membanting tulang: bekerja keras, dan rumah batu (bermakna ganda) : rumah gandai atau pegadaian (makna gramatikal: rumah yang terbuat dari batu)
b. Idiom sebagian: masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri.
Misalnya: daftar hitam: daftar nama orang-orang yang dicurigai, Koran kuning: Koran yang memuat berita sensasi (Chaer, 2002:75).
B. Peribahasa
1. Pengertian
Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan suatu maksud tertentu (Poedarminta, 1976 : 738 dalam Tarigan, 1986 : 156)
Peribahasa adalah ungkapan atau kalimat-kalimat ringkas padat , yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasehat, prinsip hidup atau aturan tingkal laku (KBBI)
2. Jenis-jenis peribahasa (Tarigan, 1986: 57- 65)
a. Pepetah: peribahasa yang berisi nasehat dan ajaran
Misalnya: Datang tampak muka, pergi tampak punggung (Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula)
b. Perumpaman : ibarat, amsal: persamaan (perbandingan); peribahasa yang menandung perbandingan. Kata-kata kunci dalam perumpamaan: seperti, bagai, laksana, baik, ibarat, bagai (kan), umpama, dan macam.
Misalnya: Bagai air di daunt alas (dikiaskan kepada orang yang tidak tetap hatinya, mudah berubah-ubah jika ada orang yang menyalahkan pendiriannya.
c. Ungkapan: perkataan atau kelompok kata yang khusus untuk menyatakan suatu maksud dengan arti kiasan.
Misalnya:
a. melihat bulan, datang bulan yang berarti haid
b. celaka tiga belas : celaka sekali
c. buah hati : kekasih