Arsip untuk ‘Psikolingustik’ Kategori

Linguistik

Juli 14, 2009

Pemerolehan Bahasa Anak

1. Pengertian

Istilah pemerolehan dipakai dalam proses penguasaan bahasa, yaitu salah satu proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak ia lahir (Kushartanti, 2005:24). Pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang dipergunakan oleh kanak-kanak untuk menyesuaikan dengan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit.

Dua pandangan yang bertentangan mengenai pemerolehan bahasa pada anak

· Pendapat Skinner è menurut teori, anak-anak mula-mula merupakan tubula rasa atau sesuatu yang kosong dan lingkungan yang mengisinya melalui mekanisme stimulus respon.

· Pendapat Skinner è menurut teori, anak-anak mula-mula merupakan tubula rasa atau sesuatu yang kosong dan lingkungan yang mengisinya melalui mekanisme stimulus respon.

· Chomsky è seorang anak bukanlah suatu tubula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty adalah kemampuan untuk berkembang).

· Chomsky è seorang anak bukanlah suatu tubula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty adalah kemampuan untuk berkembang).

2. Tahap-Tahap Pemerolehan Bahasa Anak Secara LinguistikPeriode Pralingual

Periode ini umumnya dialami pada anak pada usia 0 – 1 tahun. Pada periode ini anak belum mengucapkan bahasa. Periode ini dibagi menjadi dua subtahap, yaitu:

a. Periode Pralingual

Periode ini umumnya dialami pada anak pada usia 0 – 1 tahun. Pada periode ini anak belum mengucapkan bahasa. Periode ini dibagi menjadi dua subtahap, yaitu:

1) Tahap Mendekut (cooing)

Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi yang mirip vokal atau konsonan.

2) Tahap Pengocehan (babbling stage)

Seorang anak yang telah berumur kira-kira enam bulan, ia mulai mengoceh. Dalam tahap ini anak mengucapkan sejumlah besar bunyi ujar yang sebagian besar tidak bermakna, dan sebagian kecil menyerupai kata atau penggal kata yang bermakna hanya karena kebetulan saja. Pada tahap ini anak mengeluarkan gabungan bunyi mirip vokal dan konsonan, contohnya konsonan bilabial p, b, m.

b. Periode Lingual

Periode ini umumnya dialami anak pada usia 1-2,5 tahun. Pada periode ini anak mulai mengucapkan kata-kata. Periode ini dibagi menjadi tiga subtahap:

1. Tahap ujaran holofrastik (tahap satu kata)

Tahap ini, anak sudah mampu memproduksi satu kata yang dapat menyatakan lebih dari satu maksud. Tahap ini boleh dinamakan satu kata sama dengan satu kalimat, yang artinya bahwa satu kata yang diucapkan anak merupakan satu konsep yang lengkap.

2. Tahap ujaran telegrafik (tahap dua kata)

Secara bertahap, anak mulai menggabungkan dua kata untuk membentuk kalimat. Dalam proses ini anak mencoba menyusun kata walaupun ia belum mampu menyertakan bentuk-bentuk partikel atau imbuhan

3. Tahap Ujaran Lebih Dari Dua Kata (Tahap Menyerupai Telegram)

Seorang anak sudah mampu menggunakan lebih dari dua kata , maka jumlah kata yang dipakai dapat tiga, empat bahkan lebih. Pada usia kurang lebih dua tahun, anak sudah mulai menguasai kalimat-kalimat yang lebih lengkap.

4. Periode Diferensiasi

Periode ini umumnya dialami anak pada usia 2,5-5 tahun. Pada periode ini anak dianggap telah menguasai bahasa ibu dengan penguasaan tata bahasa pokok. Pada usia 5 tahun, anak mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang kompleks (Kushartanti, 2005: 25)

3. Usaha Mencapai Keberhasilan Berbahasa Anak

Ada beberapa yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu keberhasilan anak dalam pemerolehan bahasa, yaitu:

1) mengajarkan bahasa dalam situasi rileks,

2) memfokuskan diri pada maksud bicara anak,

3) mempunyai harapan akan keberhasilan berbahasa anak (Munandar, 2001: 89-91)

4. Penutup

Perkembangan kemampuan berbahasa seorang anak, seperti yang telah diuraikan tidak hanya tercermin dari aspek fonologisnya. Perkembangan itu tercermin pula dari aspek sintaktis, yaitu kemampuan menyusun kalimat; dari aspek semantis, yaitu kemampuan untuk memahami atau mengungkapkan makna suatu kata atau kalimat; dan dari aspek pragmatis, yaitu kemampuan untuk menggunakan bahasa dalam konteks sosial.

Bahasa dan pikiran

Juli 13, 2009

Bahasa Dan Pikiran

Pada kenyataannya bahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu kemudian ingin menyampaikan hasil pemikiran itu dengan menggunakan alat yaitu bahasa.

  1. Pengertian Pikiran

Menurut KBBI Edisi 3, 2007 : Pikiran adalah akal budi atau ingatan. Sedangkan menurut Sri Utami (1992 : 30), menyatakan bahwa berpikir adalah aktivitas mental manusia. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisisnya dari hal-hal yang khusus atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Berpikir berarti merangkaikan konsep-konsep.

  1. Hubungan Bahasa dan Pikiran

Menurut Steinberg ( 1982 : 101 ) bahwa hubungan antara bahasa dan pikiran adalah:

    1. Produksi ujaran yang merupakan dasar pikiran
    2. Bahasa adalah basis dasar pikiran
    3. Sistem bahasa menunujukkan spesifikasi pandangan
    4. Sistem bahasa menunjukkan spesifikasi budaya

  1. Proses Berpikir

Proses berpikir dilalui dengan 3 langkah yaitu :

    1. Pembentukan pikiran

Pembentukan pikiran tersebutan melalui 2 fase yaitu :

v Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Objek tersebut kita perhatikan unsur-unsurnya satu demi satu. Misalnya mau membentuk pengertian manusia. Kita akan menganalisis ciri-ciri manusia Indonesia : Makhluk yang berbudi, berkulit sawo matang, berambut hitam.

v Membandingkan ciri-ciri tersebut dengan yang lain. Misalnya ciri-ciri bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa, mana yang sama dan mana yang berbeda.

    1. Pembentukan pandapat

Pembentukan adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk bahasa yang disebut kalimat.

Pemebentukan pendapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu :

v Pendapat afirmatif atau positif yaitu pendapat yang mengiakan sesuatu hal. Contoh : Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berkulit hitam.

v Pendapat negative merupakan pendapat yang tidak menyetujui suatu hal. Misalnya : Bangsa Indonesia bukan merupakan bangsa yang berkulit hitam

v Pendapat modalitas atau pendapat kebarangkalian, atau pendapat yang memungkin-mungkinkan sesuatu. Misalnya : Hari ini mungkin hujan.

    1. Penarikan kesimpulan dan pembentukan keputusan

Keputusan merupakn hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam keputusan yaitu :

v Keputusan induktif merupakan keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat yang khusus menuju ke suatu pendapat yang umum.

v Keputusan deduktif merupakan keputusan yang ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus

v Keputusan analogis merupakan keputusan yang diperoelh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat yang ada.

Daftar Pustaka

KBBI Edisi 3. 2007. Jakarta : Balai Pustaka

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores, NTT : Nusa Indah

Subyakto Nababan, Sri Utami. 1992. Psikolinguistik : Suatu Pengantar . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Dardjowidjoyo, Soendjono. 2003. Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Suryabrata, Sumadi. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Persepsi

Juli 13, 2009

PERSEPSI DALAM SISTEM KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

I. PENDAHULUAN

Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antarmanusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antarkomponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas.

Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menanggapi informasi dari lingkungan (Fleming dan Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain). http://www.infoskripsi.com

1. Pengertian

Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sedangkan Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972). Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi, dan menafsirkan pesan. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi/ sensory stimuli (Desiderato, 1976:129). Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi (http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi).

2. Jenis-jenis persepsi

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis.

a. Persepsi visual (indera penglihatan)

b. Persepsi auditori (indera pendengaran yaitu telinga)

c. Persepsi perabaan (indera taktil yaitu kulit)

d. Persepsi penciuman (indera penciuman yaitu hidung)

e. Persepsi pengecapan (indera pengecapan yaitu lidah)

(http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/persepsi.html)

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu perhatian, fungsional, faktor dan stuktural.

a. Faktor perhatian (Attention)

Menurut E. Andersen (1972:46), perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Jalaludin Rakhmat, 1996). Faktor perhatian dapat dibagi menjadi dua:

1) Faktor eksternal penarik perhatian: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan (novelty), dan perulangan.

2) Faktor internal pengaruh perhatian: biologis dan sosiopsikologis

b. Faktor fungsional yang menentukan persepsi

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalama masa lalu, dan hal yang yang termasuk apa yang kita sebut faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan stimulus tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Contoh: dalam suasana eksperimen, Levine, Chein, Murphy memperlihatkan gambar-gambar yang tidak jelas kepada dua kelompok mahasiswa. Gambar tersebut lebih sering ditanggapi sebagai makanan oleh kelompok mahasiswa yang lapar dari pada oleh kelompok mahasiswa yang kenyang. Jelas perbedaan itu bermula dari kondisi biologi mahasiswa.

Dari ekperimen itu, Krech Crutchfiel merumuskan dalil persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Hal ini berkaitan dengan pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, pengalaman, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Contoh:

1. Suasana mental mempengaruhi persepsi. Sekelompok anak-anak disuruh menceritakan gambar seorang laki-laki sebelum dan sesudah bermain “perang-perangan”. Sesudah perang-perang anak-anak cenderung lebih banyak melihat kekejaman orang pada wajah orang dalam gambar itu.

2. Suasana emosi mempengaruh persepsi. Emosi mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya adalah emosinya. Seseorang yang sedang tertekan karena baru bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.

3. Pengaruh kebudayaan pada persepsi sudah merupakan disiplin tersendiri dalam psikologi antar budaya dan komunikasi antarbudaya. Sekedar contoh, suatu kali di Mesir dilancarkan kampanye Keluarga Berencana. Supaya pesan sampai kepada kelomok yang buta huruf, kampanye dilakukan melalu gambar (gambar 4). Gambar itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa beban hidup akan semakin bertambah berat bila jumlah anak bertambah banyak. Tetapi mengejutkan sekali, orang-orang Mesir tidak menafsirkan seperti itu. Mereka justru heran, mengapa orang itu tiba-tiba roboh. Rupanya mereka membaca gambar itu dari kanan ke kiri seperti ketika mereka membaca huruf Arab. Atau misalnya budaya Indonesia, bila kita melihat orang sukses kita cenderung menanggapinya sebagai orang yang memiliki karakteristik baik. Sebaliknya kepada orang yang gagal kita mellimpahkan segala dosa.

4. Pengaruh pengalaman terhadap persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman juga bertambah melalui rangkain peristiwa yang pernah kita hadapi. Hal inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya. Ib lebih berpengalaman mempersepsi anaknya daripada bapak.

5. Pengaruh kebutuhan terhadap persepsi. seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.

c. Faktor struktural yang menentukan persepsi

Faktor-faktor structural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada system saraf individu. Menurut Gestalt yang kemudian dikenal dengan teori Gestalt berpendapat bahwa bila kita mempersepsi sesuatu kita mempersepsinya secara keseluruhan. Maksudnya jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak meneliti fakta-fakta secara terpisah, kita harus memandangnya secara keseluruhan. Untuk memahami seseorang kita harus melihat perilakunya tetapi kita juga melihat mengapa ia berperilaku seperti itu. Kita mencoba memahami bukan saja tindakan tetapi motif tindakan itu (konteksnya, lingkungannya, dan dalam masalah yang dihadapinya). Dalam hubungan dengan konteks, Krech dan Crutchfiel berpendapat bahwa:

1. Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikaan dan diberi arti. Dalam arti kitamengorganisasikan stimulus dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi. Solomon Asch (1959) melakukan beberapa eksperimen tentang persepsi orang tentang serangkaian kata-kata sifat. Contohnya, bila saya mengatakan kepada Anda bahwa calon istri Anda cerdas, rajin, lincah, kritis, kepala batu dan dengki; Anda akan membayangkan dia sebagai orang yang bahagia, humoris, dan mudah bergaul. Tetapi jika serangkaian kata sifat itu dibalik dan dimulai dari dengki, kepala batu, dan seterusnya, kesan Anda tentang dia berubah. Menurut Solomon Asch, kata yang disebut pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Kata kritis pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif, sedangkan pada rangkaian kedua berkonotasi negatif.

2. Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras. Contoh: “Bila Tono, seorang peragawan berjas dan berdasi, kita akan menceritakan seperti ini: Tono berpakaian necis. Bila Toni, tukang kebun kita yang berjas dan berdasi, kita akan berkata, Anton berpakaian sangat necis”. Dalam rangka inilah, kita memahami mengapa skandal seks yang dilakukan guru agama lebih jelek dari pada skandal seks yang dilakukan bintang film; atau mengapa polisi yang mencuri lebih jahat daripada gelandangan yang berbuat sama.

3. Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya. Orang menjadi terhormat karena duduk berdampingan dengan anggota kabinet atau presiden. Sebaliknya kredibilitas berkurang karena berdampingan dengan orang yang kredibilitas rendah.