PERSEPSI DALAM SISTEM KOMUNIKASI INTRAPERSONAL
I. PENDAHULUAN
Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antarmanusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antarkomponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas.
Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menanggapi informasi dari lingkungan (Fleming dan Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain). http://www.infoskripsi.com
1. Pengertian
Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sedangkan Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972). Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi, dan menafsirkan pesan. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi/ sensory stimuli (Desiderato, 1976:129). Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi (http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi).
2. Jenis-jenis persepsi
Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis.
b. Persepsi auditori (indera pendengaran yaitu telinga)
c. Persepsi perabaan (indera taktil yaitu kulit)
d. Persepsi penciuman (indera penciuman yaitu hidung)
e. Persepsi pengecapan (indera pengecapan yaitu lidah)
(http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/persepsi.html)
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
Ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu perhatian, fungsional, faktor dan stuktural.
a. Faktor perhatian (Attention)
Menurut E. Andersen (1972:46), perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Jalaludin Rakhmat, 1996). Faktor perhatian dapat dibagi menjadi dua:
1) Faktor eksternal penarik perhatian: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan (novelty), dan perulangan.
2) Faktor internal pengaruh perhatian: biologis dan sosiopsikologis
b. Faktor fungsional yang menentukan persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalama masa lalu, dan hal yang yang termasuk apa yang kita sebut faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan stimulus tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Contoh: dalam suasana eksperimen, Levine, Chein, Murphy memperlihatkan gambar-gambar yang tidak jelas kepada dua kelompok mahasiswa. Gambar tersebut lebih sering ditanggapi sebagai makanan oleh kelompok mahasiswa yang lapar dari pada oleh kelompok mahasiswa yang kenyang. Jelas perbedaan itu bermula dari kondisi biologi mahasiswa.
Dari ekperimen itu, Krech Crutchfiel merumuskan dalil persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Hal ini berkaitan dengan pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, pengalaman, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Contoh:
1. Suasana mental mempengaruhi persepsi. Sekelompok anak-anak disuruh menceritakan gambar seorang laki-laki sebelum dan sesudah bermain “perang-perangan”. Sesudah perang-perang anak-anak cenderung lebih banyak melihat kekejaman orang pada wajah orang dalam gambar itu.
2. Suasana emosi mempengaruh persepsi. Emosi mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya adalah emosinya. Seseorang yang sedang tertekan karena baru bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.
3. Pengaruh kebudayaan pada persepsi sudah merupakan disiplin tersendiri dalam psikologi antar budaya dan komunikasi antarbudaya. Sekedar contoh, suatu kali di Mesir dilancarkan kampanye Keluarga Berencana. Supaya pesan sampai kepada kelomok yang buta huruf, kampanye dilakukan melalu gambar (gambar 4). Gambar itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa beban hidup akan semakin bertambah berat bila jumlah anak bertambah banyak. Tetapi mengejutkan sekali, orang-orang Mesir tidak menafsirkan seperti itu. Mereka justru heran, mengapa orang itu tiba-tiba roboh. Rupanya mereka membaca gambar itu dari kanan ke kiri seperti ketika mereka membaca huruf Arab. Atau misalnya budaya Indonesia, bila kita melihat orang sukses kita cenderung menanggapinya sebagai orang yang memiliki karakteristik baik. Sebaliknya kepada orang yang gagal kita mellimpahkan segala dosa.
4. Pengaruh pengalaman terhadap persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman juga bertambah melalui rangkain peristiwa yang pernah kita hadapi. Hal inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya. Ib lebih berpengalaman mempersepsi anaknya daripada bapak.
5. Pengaruh kebutuhan terhadap persepsi. seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.
c. Faktor struktural yang menentukan persepsi
Faktor-faktor structural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada system saraf individu. Menurut Gestalt yang kemudian dikenal dengan teori Gestalt berpendapat bahwa bila kita mempersepsi sesuatu kita mempersepsinya secara keseluruhan. Maksudnya jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak meneliti fakta-fakta secara terpisah, kita harus memandangnya secara keseluruhan. Untuk memahami seseorang kita harus melihat perilakunya tetapi kita juga melihat mengapa ia berperilaku seperti itu. Kita mencoba memahami bukan saja tindakan tetapi motif tindakan itu (konteksnya, lingkungannya, dan dalam masalah yang dihadapinya). Dalam hubungan dengan konteks, Krech dan Crutchfiel berpendapat bahwa:
1. Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikaan dan diberi arti. Dalam arti kitamengorganisasikan stimulus dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi. Solomon Asch (1959) melakukan beberapa eksperimen tentang persepsi orang tentang serangkaian kata-kata sifat. Contohnya, bila saya mengatakan kepada Anda bahwa calon istri Anda cerdas, rajin, lincah, kritis, kepala batu dan dengki; Anda akan membayangkan dia sebagai orang yang bahagia, humoris, dan mudah bergaul. Tetapi jika serangkaian kata sifat itu dibalik dan dimulai dari dengki, kepala batu, dan seterusnya, kesan Anda tentang dia berubah. Menurut Solomon Asch, kata yang disebut pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Kata kritis pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif, sedangkan pada rangkaian kedua berkonotasi negatif.
2. Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras. Contoh: “Bila Tono, seorang peragawan berjas dan berdasi, kita akan menceritakan seperti ini: Tono berpakaian necis. Bila Toni, tukang kebun kita yang berjas dan berdasi, kita akan berkata, Anton berpakaian sangat necis”. Dalam rangka inilah, kita memahami mengapa skandal seks yang dilakukan guru agama lebih jelek dari pada skandal seks yang dilakukan bintang film; atau mengapa polisi yang mencuri lebih jahat daripada gelandangan yang berbuat sama.
3. Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya. Orang menjadi terhormat karena duduk berdampingan dengan anggota kabinet atau presiden. Sebaliknya kredibilitas berkurang karena berdampingan dengan orang yang kredibilitas rendah.