Arsip untuk ‘Puisi’ Kategori

Puisi-Timor

November 3, 2009

S a n t i s i m a

Anak Perawan Terjepit Oh, mama…., Oh, papa…. Berapakah harga perawanku? Tidak dijual sayang, jawab sang mama Mengapa harus ditukar dengan emas dan gading? Sang ayah kebingungan mendengar

Anak perawan mengeluh
Mengapa aku belum direstui duduk di pelaminan?
Kekasih hatiku tak punya emas ataupun gading
Yang dia punya hanyalah bejana hati
Tempat untukku bercurah segala rasa
Yang dia miliki hanyalah tilel sarjana
Demi hidupku dan masa depanku

Oh mama……Oh papa …..
Izinkan kami membina mahligai cinta
Jangan biarkan kecantikanku berkerut
Karena cemberut menunggu pinangan

Jangan biarkan perawanku terjepit
Dimakan usia karena mahalnya adat

(Untuk sahabat manisku yang lagi bersedih)

 

 

Ilmu

Bagai kepingan kekayaan
Bagai butiran wawasan
Bagai rantai informasi
Semua teruntai menjadi satu dalam dirimu

Kau menyetir kami
Kau menggerakkan kami
Kau motivator kami
Dalam menggapai impian

Ilmu …
Kaulah otak dari pendidikan
Kaulah mesin dari pengajaran
Kaulah jendela dari wawasan

Walau badai kebodohan melanda
Walau kemalasan menjajah
Aku tetap menuntutmu
Sampai masaku hilang

Oh, Ilmu …
Ukiran jati dirimu
Kan terus membekas
Dalam pikiran kami
Walau umur ditelan zaman

 

 

 

 

 

Kumpulan Puisi

Oktober 21, 2009

            Ilmu Daun

Daun hijau, menguning, jatuh dan membusuk.

Tak beda dengan jagad di jaman ini

Kehidupan semakin berat dan mengerikan

Lihat,  banyak orang menjadi sengsara

Pengangguran memenuhi jagad ini

Sedangkan orang terlantar semakin membebani

 

Zaman apa ini?

Mengapa banyak orang seperti itu?

Apakah ini akibat hukum rimba?

Ataukah hanya kemalasan orang saja?

 

Andai ini dibiarkan, akan menjadi apa jagad ini?

Jagad yang dipenuhi tangisan?

Tangisan meminta sesuap nasi?

Ataukah Jagad  yang dipenuhi kejahatan?

Karena yang miskin berlomba ingin memiliki kekayaan

yang kaya dengan cara mencuri

 

Jangan biarkan ini menjadi

Buatlah daun itu bukan hanya kuning

Tetapi menjadi emas yang berkilauan

Agar tak banyak daun yang jatuh dan membusuk tiada guna

 

Beratnya Hidup

 

Jutaan ton pasir telah ia kumpulkan selama puluhan tahun

Puluhan truk sudah menghampiri ia selama ratusan hari

Ratusan keringat telah ia teteskan di setiap aliran air yang melewatinya

Dan hampir belasan jam per hari ia habiskan di atas sungai

 

Walau sang hari enggan menutup diri

la tetap berkarya demi sesuap nasi untuk keluarganya

Taukah kamu? Bila sungai sedang banjir atau badai hujan sedang mendera,

mereka tidak bisa berbuat apa-apa

Lubang tambang tertutup air, arus sungai semakin deras,

dan air akan meluap naik

 

Tetapi terkadang mereka berbuat nekat, karena anak menangis dan istri

menderita belum makan seharian.

Mungkin dalam setiap doanya, ia ingin menjadi orang yang serba kecukupan

dan tidak usah bersusah payah untuk menambang pasir

 

Yah, itulah kehidupan penambang pasir di sungai

Yang sebagian besar waktunya ia abdikan kepada sungai

Andai sungai dibuat banjir oleh ulah manusia

Berarti manusia itu telah membuat penambang dan keluarganya menderita

 

Tak Mau Putus Belajar

 

Kegigihan dan ketekunan mewarnai kehidupanku

Impian dan angan menjadikan pemberi semangat dalam mengarungi hidup ini

Buku menjadi teman

Guru menjadi sahabat

Keceriaan selalu memancar dari wajahku

Dengan sepeda jawa yang mulai rapuh

Kukayuh menuju sekolah demi mengejar ilmu

 

Tapi pada akhirnya semua itu kandas

Aku mulai murung, sedih, dan tak bersemangat

Ketika ayah berkata tak sanggup lagi menyekolahkan aku

Hatiku hancur

Serasa bumi ini berhenti

Angan pun menghilang meninggalkan aku

Sahabat juga akan meninggalkan aku

 

Namun teman, kegigihan dan ketekunan masih setia bersamaku

Bersama teman aku akan mencari

anganku yang hilang

Dan percaya akan ada secercah harapan yang menanti

 

Liku-Liku Malam

 

Tabir surya telah menutup

Ratu malam mulai memancarkan sinar

Temaram lampu jalan pun turut menghias susana malam

Inilah pesta malam akan dimulai

 

Riuh suara anak-anak jalanan mulai mengusik

Sepajang terotoar di sudut lampu merah menjadi peraduannya

Kejora menjadi kawan dan hujan menjadi lawan

Tak ketinggalan gitar menjadi sahabat.

 

Merah menjadikan rejeki dan hijau perusak rejeki itu

Kertas menjadikan keberuntungan sedangkan koin menjadikan kesialan

Senyum menjadikan kebahagiaan sedangkan murung menjadikan kecemasan

Dan Trantib yang menghantui semuanya itu

 

Sebentar lagi tengah malam mengampiri

Dan angin malam mengiringi mereka pulang

Mereka pulang dengan membawa segenggam kehidupan

Dan mereka pun tidur berselimutkan harapan esok akan lebih baik

 

Tangisan di Tujuh Koma Tiga

 

Lihatlah saudara

Begitu dahsyatnya

Gempa di Tasik Malaya

Tujuh koma tiga

Datang tak terduga

Merobohkan berbagai bangunan

Merusakkan  keindahan sebuah kota

Hanaur hati melihat  keadaan

Kini hanya tersisa puing-puing reruntuhan kota

Yang sudah rata dengan tanah

Banyak orang yang bingung

Sebagian terlihat panik

Tidak sedikit yang takut

Walau hanya satu yang menjerit-jerit histeris

Tetapi semuanya masih diselimuti kegelisahan

Pedih dan perih hatiku

Melihat banyak orang yang terluka

Sebagian karban berdarah

Ada puluhan orang yang meninggal

Sehingga begitu banyak tangisan

Tuhan…

Berilah ketabahan dan kesabaran kepada mereka

Ingatkan kami pula untuk membantu mereka dalam doa

Kami semua percaya, Engkau  punya rencana, dan rencana-Mu selalu indah

Ingatkan  mereka pula bahwa hidup harus terus berjalan

Biar mereka menhadapi  semua ini dengan tegar

Mereka tidak sendiri

Kami berjuang membantu mereka

 

 

Misdinar kecil di lorong Sakristi

 

Ketika misa usai aku melangkahkan kakiku ke sakristi

Aku mendengar seseorang menangis di lorong itu

Lihatlah! Ada gadis kecil di sana

Dia duduk seorang diri, menangis tersedu-sedu

Seakan-akan ada yang berusaha untuk menyakitinya

Aku semakin mendekatinya perlahan dan ia pun melihatku

Ketika kutanya mengapa ia menangis

Dia minta maaf kepadaku

Mengapa? Mengapa dia harus minta maaf  kepadaku?

Ternyata dia merasa belum bisa melayani Tuhan dengan benar

Dia diejek oleh teman-temannya dan menjadi bahan omongan umat

Dia merasa sangat bersalah

Apa artinya sebuah kesalahan kecil

dibanding dengan pelayanan yang tulus

Tuhan, hatinya begitu murni dan lembut

Hatiku terasa perih mendengar jawabnya

Jujur, aku terharu mendengarnya

Oh Tuhan, itu jawaban terindah yang pernah aku dengar

Aku menenangkannya dan berjanji

Akan melatihnya supaya dia bisa melayaniMu dengan benar

Ada perasaan gembira tersirat di wajahnya yang mungil

Hatiku sangat bersyukur, Engkau mengirimkan malaikat kecil untukku

Malaikat kecil yang ingin melayaniMu dengan tulus

 

         Puisi untuk Ayah

 

Bagaikan sinar rembulan yang menyinari bumi

Engkau selalu ada disampingku dari waktu ke waktu

Yang selalu hadir dalam setiap derap langkahku

Yang selalu memberikanku semangat dan dorongan

Dan yang tak pernah letih menemaniku

Ayah wajahmu mengingatkanku akan sebuah perjuangan

Perjuangan yang panjang dan melelahkan yang tiada habisnya

Namun tak kudengar satupun kata yang terlontarkan dari bibirmu

Semuanya itu hanya untuk aku anakmu

Ayah maafkanlah aku yang telah buatmu kecewa

Yang telah buat hatimu hancur karena semua kesalahanku

Aku yakin hatimu pasti menangis melihat tingkah anakmu yang tak tahu balas budi

Ayah dapatkah kau dengar tangisan dari lubuk hatiku

Tangisan dari semua kesalahanku yang telah membuatmu kecewa

Tangisan yang mungkin bagiku tiada arti dan tiada berguna

Sepertinya kata maaf pun tak cukup untuk menebus semua kesalahanku

Ayah hanya sepucuk puisi yang mampu kupersembahkan untukmu

Terima kasih atas semua yang telah engkau berikan padaku

Pengorbananmu akan selalu menyertai derap langkahku

Sampai nanti hingga ujung usiaku

 

Sendiri di Sini

 

Aku merasa diriku bagaikan besi tua tak berdaya

Yang tak pernah dihiraukan sepanjang masa

Meski kuberusaha menanti setia

Tetapi aku tetap terbuang sia-sia

 

Hidupku sungguh terasa hampa

Tanpa kehadiranmu sang pelipur lara

Hatiku terasa ditusuk peluru baja

Saat kutahu kau pergi meninggalkan aku

 

Rasa sedih ‘kan terus terasa

Sampai saat dirimu datang membawa penghangat jiwa

Jiwa yang telah lama menanggung lara

Jiwa yang menginginkan kehangatan cinta

 

Harapan Kosong

 

Malam kelam datang membayang

Menyelimuti mimpi akan bayang-bayang suram

Gerutu hati tak dapat diam

Karena benalu tak kunjung hilang

Akankah aku harus menunggumu?

Ataukah aku harus mencari penggantimu?

Wahai pangeran impianku

Pangeran pembawa damai di kalbu

Penantianku ‘kan terus ada

Sampai saatnya tiba

Saat dimana aku bisa bahagia

Atau saat dimana aku harus melepas dirimu

 

Hidup Adalah Anugerah

 

Hidup ini bagaikan anugerah yang sangat indah

Dimana aku harus selalu melangkah

Menghadapi dunia yang penuh jeripayah

Dengan semangat pantang menyerah

 

Sepatutnya kita tunjukkan kepada-Nya

Bahwa kita bisa

Bahwa kita tak serapuh manusia biasa

Bahwa kita telah mensyukuri kebesaranNya

 

        Kesepianku

 

Hari-hariku kini telah berganti

Disambut mendungnya alam ini

Alam yang tak kunjung menampakan mentari pagi

Hingga akhirnya aku harus menanti sendiri

Akankah ada yang akan menghibur hati

Saat aku sedang sendiri

Meratapi hari yang sepi

Tanpa kehadiranmu sang teman sejati

Kini aku mulai menyadari

Kehadiranmu membawa damai di hati

Tanpamu aku seperti orang mati

Dan rasa sepi akan terus melanda hati ini

 

Hidup adalah Roda Berputar

 

Walaupun aku terhempas

Di tengah kesepian

Aku bertanya pada diri

Mengapa ini terjadi

Apa salahku

Dosakah aku

Aku adalah manusia yang berdosa

Hanya memandang waktu berlalu

Yang memandang bulan malam

Melihat kerlib-kerlib bintang

Cahaya yang memukau

 Kubimbing hidupku lagi

Tak kuserahkan masa depanku

Sebagai takdir yang kutanggung

Kukejar laut yang membiru

Agar tak dicuri masa terangku

Kutata hidupku kembali

Demi masa depan yang kudambakan

Aku bukanlah bintang berpijar di saat malam telah tiba

Tetapi aku hanyalah orang

Yang mengabdi padaMu, ya Bapa

 

 Kado Terindah

 

Raut wajahnya penuh ketenangan

Matanya memandang penuh kasih

Tangannya membelai lembut

Senyumnya mendamaikan jiwa

Kau beri segala yang kubutuhkan

Kau korbankan jiwa dan ragamu

Demi sebuah kehidupan baru, yaitu aku

Tak pernah kau tunjukan kesedihanmu

Kau coba tutupi itu dariku

Tak ‘kan habis rasa sabarmu

Untuk setiap tindakan nakalku

Tak ‘kan habis kata maafmu

Bagiku

rasa sayang dan perhatianmu tak ‘kan habis

Tangisku jadi duka bagimu

Tawaku jadi duka bagimu

Bahagiaku jadi segalanya untukmu

Dan bagiku

Ibu, kau kado terindah yang Tuhan beri padaku

saat ini dan selamanya

 

PENANTIAN

 

Aku takut awan gelap ini tak pergi

Aku takut tangis ini tak berakhir

Aku takut cobaan ini tak berujung

Beban ini terlalu berat untuk kupikul

Hidup tak semudah yang dibayangkan

Saat pilihan yang kudiambil salah

Itu hancurkan semuanya

Tapi ada satu keyakinanku

Tuhan tidak akan pernah tinggalkanku

Awan gelap itu boleh saja berganti hujan deras

Tapi akan ada pelangi yang mengakhirinya

            Setiap cobaan yang kita alami

Tuhan pasti telah siapkan akhir yang indah

Entah nanti atau saat ini

Hanya waktu dan penantian yang menjawab

 

 

Bencana Gempa Bumi

 

Saat mata belum terbuka

            Saat mentari belum menampakkan dirinya

Bumi berguncang tak disangka

            Semua orang terjaga setelah terjadi adanya bencana

 

                        Ribuan rumah Kau jadikan rata

                        Ribuan jiwa melayang begitu saja

                        Tak pandang baik atau buruknya manusia

                        Juga tak pandang berapa usia mereka

 

            Manusia hanya dapat berdoa dan berusaha

            Semoga arwah korban bencana senantiasa Kau terima

            Semua itu bukanlah hukuman bagi manusia

            Tetapi semua itu adalah peringatan bagi manusia

             untuk peduli terhadap sesamanya

 

                        Kuberdoa kepadaMu Sang Perkasa

                        Ampunilah dosa mereka

                        Maafkanlah semua kesalahan umatMu

                        Hanya padaMulah kuberdoa

 

 

         Tuhan

 

Belaian kasihMu

Melembutkan jiwaku

Di saat kumenunduk

Kau mengangkat daguku

Kau bagaikan pelita

Di dalam kegelapan

 

Kasihmu s’lalu terpancar dalam hatiku

cintaMu yang tulus

kesabaranMu yang mendalam

adalah bunga abadi bagiku

Kau yang maha kuasa

Kau yang maha agung

 

Aku sadar

Aku hanya manusai biasa

Kau detakkan jantungku

Kau bukakan pintu maaf  bagiku

 

Oh Tuhan

Cahaya kasihMu akan kuletakkan dalam hatiku

Dan akan kubagikan kepada para umatMu

 

 

       Sahabat Jadi Cinta

 

Detik pertemuanku denganmu

menjadi sejarah mengukir mimpi

hari demi hari kulalui hanya bersamamu

indah tak terpandang diam tak bicara

Walaupun banyak waktu terbuang

Tuk memikirkan kehadiranmu di sisiku

Tawamu, senyummu, candamu

Selalu ada di benakku

Apakah ini yang dinamakan  “cinta pertama”?

Namun nyata yang tersirat dalam hidupku

Dua insan yang takkan pernah bisa bersatu

karena persahabatan adalah kunci kebersamaan kita

 

 

 

            Cinta Kasih Tuhan Sungguh Besar

 

Setiap detik engkau memberikan cinta kepada setiap orang

Tapi terkadang manusia tak sadar atas kemurahan hati-Mu

Setiap detik pula manusia mengabaikan-Mu

Mereka datang hanya meminta dan meminta kepada-Mu

Saat mereka senang tak ada yang mengingat Engkau

Sumber hidup dan kasih yang Engkau berikan

Bak air mengalir tenang yang tak ada hentinya

Tetapi Engkau tak mempedulikan semua itu

Engkau sembuhkan orang yang sakit

Engkau tak memandang kasta ataupun harta mereka

Kasih-Mu sungguh besar Tuhan

Bagiku Engkau adalah Bapa yang Maha Pengasih

 

     Kasih Bunda Sepanjang masa

 

Aku tersenyum di ruang sepi dan sunyi

dimana hanya ada aku dan kenangan-kenangan bersamamu

Bunda, aku rindu kasih sayangmu

kau begitu sempurna di mataku

Bunda, sembilan bulan kau kandung aku dalam rahimmu

Kenakalanku menghiasi hari-harimu

lelah tak berarti bagimu untuk temani aku

kau rawat diriku dengan cinta kasihmu

Mengapa cintamu susah untuk aku lupakan

Kenangan bersamamu membuat aku sadar

Cintamu sungguh hebat tertanam di hatiku

dan selalu kukenang selamanya hingga akhir hayatku

 

 

     Pancarkanlah

 

Jurang yang dalam ini

Kegelapan yang menakutkan

Hidup yang suram

Lumpur dosa melumuriku

Kuterperosok di dalamnya

 

Cahaya tak kutemukan

Hingga kutak dapat keluar

Semuanya musnah begitu saja

Goresan dosa bertambah

Hidup tiada berarti lagi

 

Tuhan, kumohon

Pancarkan kasih dan setiaMu padaku

Janganlah berpaling dariku

Kelaurkan aku dari jurang keberdosaan

Pulihkanlah aku kembali

 

 Aku percaya

Engkau takkan membiarkanku

Takkan meninggalkanku sendirian

Engkaulah Bapa dan Sahabatkku

Jalan kebenaran dan keselamatanku

 

 

 

Remaja

 

Waktu semakin bergulir

Hari berganti tiada henti

Banyak cerita telah lahir

Mencoba mencari jati diri dalam prestasi

 

Tumbuh dari hati mencoba berdiri

Punya hasrat punya niat

Untuk meraih cita-cita tertinggi

Yang impiannya lahir dari sebuah semangat

 

Akankah itu tercapai?

Wahai para remaja

Capailah impian di tenggah badai

Ketika kekacauan menghantam bangsa

Dimanakah jiwa kesatriamu yang membara bagai api?

Wahai para remaja

 

Wahai para remaja

Hadapilah masa depanmu

Karena engkau merupakan harapan bangsa

Dan ingatlah selalu akan negaramu

 

Senyumanmu

 

Waktu tak pernah terhenti

Terus berjalan menemani langkahku

Membuat setiap detik menjadi sebuah kenangan

Menciptakan mimpi dalam angan-anganku

Langkahku tak pernah terdiam

Terus berputar bagaikan jagad raya ini

Terus mengalir bagai air dalam keheningan

Yang terkadang tak tahu ke mana arahnya

Waktu  tak mungkin terulang lagi

Dan takkan pernah terulang

Tapi air mata ini terus membasahiku

Bayanganmu menjadi kenangan terindah

Yang takkan pernah terlupakan

Dalam kehidupan ini

Aku hanya ingin membuat kenangan dalam senyuman

Untuk mereka yang tersenyum

Aku hanya menghabiskan waktu hidupku

Dengan kebahagian mereka

Dalam terang duniamu

Dalam kegelapan duniamu

Membuat mimpi menjadi sebuah kenyataan

Tak ada lagi keheningan dalam hati ini

Hanya senyuman untukmu

 

Keheningan sebuah Kekecewaan

 

Keheningan menyapa hati

Tinggal dalam kebisuan yang tanpa arti

Suasana mendung menyelumuti raga

Sungguh kesendirian yang menyakitkan

 

Hiruk-pikuk kota t’lah lenyap

Suasanan canda tawa tl’ah hilang

Bahkan detak jantung pun tak terdengar

Hanya terdengar suara tangis

 

Menyisakan sebuah kekecewaan

Berbekas rasa sakit hati

Pergi dengan perkara batin

Menyesakkan s’luruh jiwa raga

 

Termenung

 

Hawa dingin merasuki sumsum tulang

Keheningan mengisi jiwa

Badan dianiaya hembusan angin

Nafas sesak terbalut penat

 

Keramaian pergi menjauh dari anganku

Keheningan bersemayam di hati dan pikiran

Diam membisu dalam nafasku

Termenung dalam heningnya suasana

 

Menatap tak tentu arah memandang

Pandangan kosong melamunkan sosoknya

Melamun dalam kegalauan hati

Kegalauan yang mengusik pikiran

 

Sejuta perasaan berkecamuk dalam hati

Bercengkrama dalam kesunyian hati

Terdiam dalam bibir terkatup

Berbicara dalam kepenatan hati

 

Nyawa Hidupku

 

Ketika aku berjalan sendiri di sebuah lorong itu

Tak ada seseorang pun yang dapat menolongku

Bukanlah kamu ataupun dia

Tetapi hanyalah diriku seorang

 

Aku tak tahu apa yang sedang ku alami

Akankah aku terjebak di sini seorang diri?

Ataukah aku akan keluar dari situ

 karena seseorang yang menolongku?

Tidak…

Karena seseorang itu hanya datang dan menyamarkan semuanya

Bukan untuk menolongku

 

Aku tak tahu apa yang sedang kualami

Kepada siapa aku harus mengeluh?

Dapatkah kupanggil nyawa hidupku?

Agar aku dapat berkeluh kesah kepadanya

 

Aku tak tahu apa yang sedang kualami

Mungkin inilah kehidupan

Kehidupan yang hanya terasa hampa

Karena hidup adalah sebuah perjalanan mencari kebahagiaan

Sekaligus kehilangan kebahagiaan yang lainnya

 

Karena setiap insani pasti akan mengalami hal itu

Apalah arti sebuah nyawa di dalamnya

Jika kita tak bisa menghargai kehidupan

Semuanya akan berlalu begitu saja

 

 

 

 

Tuhanku

 

Aku tahu Kau selalu mendampingiku

Aku tahu Kau tak pernah meninggalkanku

Aku tahu Kau tak jauh dariku

Tak ada yang bisa menggantikan kasih sayang-Mu

Tak ada yang bisa menggantikan kemuliaan-Mu

Tak ada yang bisa menggantikan keagungan-Mu

Tuhan tempatku memohon

Tuhan tempatku meminta

Tuhan tempatku berlindung

Di setiap jalan kehidupanku

Kau tuntunku ke jalan yang benar

Di setiap jalan kehidupanku

Kau selalu memberiku yang terbaik

Saat aku jatuh

Kau angkat aku

Saat aku jatuh

Kau menopang aku

Walau tubuhku penuh dengan dusta dan dosa

Saat hati ini rapuh

Saat jiwa ini letih

Kau pulihkanku

Sebab kaulah Tuhan yang paling mengerti

 

Jalan hidup dalam dirimu

 

Deg, Deg…

Denyut nadiku

Kupegang kertas penuh dosa

Dalam kantong permenku

Jantungku mulai membeku

Saat malaikat mulai berkkeliling

Otak mulai berputar

Walau tak karuan

Hari berlalu

Lampu gelap mulai menjadi terang

Pintu surga mulai terbuka

Walau hanya anganku

Malaikat mulai menjauh

Kulempar kartas penuh dosa

Dalam jurang perlindungan

Sayang …

Malaikat punya seribu mata

Malaikat munguap

Krek, krek…

Kertas harapanku

Semua umat diam

Diam menatapku

Sang malaikat mengusirku

Hatiku menangis

Menanti bulan menimpaku

Tapi sang malaikat berkata

Bulan menantimu

Tapi…

Tuhan menantimu juga

Tuk hidup dalam dirimu

 

Arus Kehidupan

 

Aku hanya mengikuti arus kehidupan

yang berlari dan terus berlari

dan tak  ‘kan pernah bisa kuhentikan

 

Aku hanya mengikuti arus kehidupan

yang berputar dan terus berputar

dan tak ‘kan pernah bisa kuulang

 

Aku hanya mengikuti arus kehidupan

yang berubah dan terus berubah

dan tak ’kan pernah bisa kembali

 

 

 

Surat  Untuk Tuhan

 

Tuhan

Dimanakah alamat surga?

Ketika aku terdiam diri

Kutulis semua peristiwa hidupku untuk-Mu

Terdengarkah suaraku?

Aku hanyalah semut kecil,

Lemah dan terinjak

Mengahapi dunia yang begitu besar

Dimanakah Engkau?

 

Perjalanan hidup bagaikan koma. Yang ku temukan hanyalah koma, koma, dan koma. Tak ada titik dimana aku bisa berhenti. Menyudahi semua pergelutan panjang. Tak mudah temukan topangan hidup. Sebab yang begitu berarti akan hilang. Seiring dengan berjalanannya waktu, yang akan menghapus semua kenangan. Hanya aku akan terus melangkah. Menghadapi semua takdirku.

 

Ketika waktu berlalu terlalu cepat

Detik demi detik, menit demi menit

Terus menerus berjalan tanpa lelah

Buat kuterhanyut dalam kesibukan

Hingga kusadari semua telah berubah

Aku  tak menjadi sama seperti dulu

 

   Kasih Tuhan

 

Di pagi yang cerah ini

Burung-burung merdu menyanyi dengan gembira

Udara yang sejuk menyegarkan hati

Sungguh agung dan indah kasihMu Tuhan

 

Pencipta alam semesta nan indah

Dengan segala isinya

karyaMu sungguh sempurna Tuhan

atas kebesaran dan keagunganMu

 

Engkau selalu memberi kepada kami

Walau kami jarang berterima kasih padaMu

Tetapi Engkau selalu membimbing kami

Kami merasa kecil di hadapanMu Tuhan

 

 

Tatapan Indoensia

 

Indonesia merintih

Indonesia menangis

Harga diri yang dibangun, hancur sudah

Budaya, politik, sudah teracuni

 

Racun yang masuk, bagaikan t’lah membusuk di darah daging

Hancur sudah, semua impian yang kuharapkan pada Indonesia

Hanya impian semu yang tertinggal

Kau telah berubah, negaraku

Masyarakat, budaya, politik yang dulu diagungkan

Sekarang, bagaikan lebur ditelan bumi

 

Aku kecewa melihat negaraku hancur seperti ini

Bagaikan api yang dulu berkobar

Kini ditiup angin, menjadi padam

Semangatmu kini t’lah padam

Apalagi kini kau sudah lupa pada Yang Kuasa

 

Kau bukan lagi Indonesia yang dulu

Kau bukan lagi negara taat hukum

Kau bagaikan negara komunis

Korupsi menyebar dimana-mana

Katanya rakyatnya selalu taat hukum, rajin beribadah

Dimana Indonesia yang dulu?

 

Banyak beban yang harus kau tanggung Indonesia

Bebanmu sangat berat Indonesia

Terus…terus… dan terus berkembang

Tunjukkan semangatmu yang dulu berkobar tiada henti

 

 

 

Kehidupan

 

Kehidupan bagaikan sebuah misteri

Menunggu waktu yang berjalan

Terasa menyesakkan dada

Meributkan masalah dunia

 

Ada perbuatan baik

Ada pula perbuatan jahat

Dengan persoalan yang memburu

Dan tak kunjung berlalu

 

Kehidupan terasa tak berkata

semua terasa semakin fana

Kehidupan penuh dengan dosa

Namun semuanya hanya teka-teki dunia

 

Kehidupan adalah sebuah keraguan

Tinggal menunggu nasib dan takdir

Memilih mimpi atau kematian

Hanya Tuhanlah yang maha tahu

 

 

Kesalahan dalam hidup

 

Hidupku

Kau anugerahi dengan sempurna

Kau ciptakan aku tanpa kekurangan

Dan dengan suatu kelebihan

 

Aku mempunyai anggota tubuh yang lengkap

Orang tua, kasih sayang, dan perhatian

Semua itu kumiliki dan kudapati

Karena Kau yang merancang semua itu

 

Tapi…

Kusia-siakan hidupku

Tak kumanfaatkan semua yang kumiliki

Semua yang kau berikan padaku

 

Aku sadar semua itu salah

Tapi mengapa tetap saja kulakukan

Tak kuhiraukan semua yang ada

Yang kudapatkan hanyalah kesenangan sesaat

 

Aku tahu

Kau yang menciptakanku, mencintaiku, dan mengutusku

Untuk menjalankan semua rencanaMu

Kini akau mengerti akan semua kesalahanku

Hanya satu kata yang dapat kuucapkan “AKU MENYESAL”

 

      Dendam alam

 

kehilangan tempat tinggal bagaikan ditelan bumi

bumi yang kembali menunjukan kekuasaannya

yang membuat semua orang berhamburan

bagai beras yang tumpah

berserakan di jalan-jalan

ia bagaikan harimau yang sedang mengamuk

itulah gempa

gempa yang mengguncang bagai kiamat

tanah pun bertindak,

mengubur orang hidup-hidup

 

di tenda-tenda pengungsian

berjejal mereka menahan duka

orang-orang yang mereka cintai telah tiada

tak ada yang bisa disalahkan

inilah karma alam yang harus kita terima

alam yang mulai murka dengan kita

alam yang mulai tak percaya dengan janji-janji palsu

mungkin ini juga adalah peringatan bagi manusia

untuk menepati janjinya pada alam

peringatan kepada manusia agar tetap tunduk akan kuasa Tuhan

 

 

Hutanku

 

Hutanku

Kau adalah paru–paru dunia

Mengeluarkan oksigen demi kelangsungan hidup manusia

Membebaskan kami manusia dari polusi udara.

 

            Hutanku

            Karena keegoisan manusia, kau mulai berkurang jumlahnya

            Kau kini mulai tak kelihatan,

            Seiring dengan perkembangan zaman.

 

Hutanku

Bila kau ada

Kami senang dan tertawa

Bila kau tiada

Semua makhluk hidup akan binasa 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi

Januari 15, 2009

 

1. Tak tergapai lagi

Aku menulis puisi
Tuk lupakan yang dicintai

Walau cinta indah tumbuh di hati
Kenyataan ternyata tak seindah mimpi
Ketika pikiran baru menyadari
Cinta telah pergi

Saat satu hati ingin mencari
Hati yang lain tak ingin kembali
Putuskan jembatan kenangan
Lepaskan genggaman tangan

Aku menulis puisi

Tuk lupakan yang tak tergapai

2. Rindi yang salah

Ku tuliskan kata dalam hati
Terukir jelas namun tak terdengar
Berikan sela untukku bernafas
Dari cinta yang tak berujung
Ku t’lah merindukan jiwa yang salah
Dari raga yang tak ku mengerti
Haruskah ku terus tenggelam
dalam cinta yang tak mungkin ku miliki
Hanya sendiri
Dalam diamnya hati
Sungguh ku merasakan cinta ini
Namun tiadakah jawaban alam
Atas rasa yang tlah mengacaukan malamku
Bibir masih bisa tersenyum
Akankah hati jua….
Awal hanya ingin kau tau
Namun tak terpungkiri bila jiwa tak ingin jauh
Lantunan kata-kata paling setia menemaniku
Menemani dalam galaunya rasa ini
Yang selalu menunggu sesosok jiwa yang ku cinta

 

3. Berharap engkau kembali

dalam keyakinku aku percaya

bahwa kepergianmu bukan untuk sementara

memori tentangmu penuh

memenuhi langi-langit pikiranku

ketika lelah mendatangiku

setitik asa menguatkanku

memintaku bertahan, sebentar saja

aku pun terbang bersama harapan

berharap bisa membawamu kembali

ya, aku akan selalu di sini

 

4. Tak mampu mengenalmu

Memandang bintang berharap
tangan bisa menyentuhnya
Menatap langit berharap
diri bisa terbang di dalamnya

Mengejar angin berharap
dapatkan kesejukkannya
Membayangkan awan berharap
tidur lelap dalam kelembutannya

Harapan hanya tinggal harapan
berharap harapan yang bukan-bukan
Harapan yang nggak semestinya diharapkan

5. Nistakan aku?

Kerlipkan sinar yang tak pernah menepis
Di setiap jalan yang ku lalui
Dari sudut dunia yang Kau punya
Agar ku genggam terus sinar-MU
Sayang mungkin tak kan mungkin
Karena begitu nista diriku
Tuk mengharapkan ku ingin ridho-MU
Dan bila semua waktu tak lagi bersahabat
Ketika semua dunia menjauh
Mungkin cukupkah hari dimana aku hidup
Cukupkah waktu dimana aku berlalu
Dan jika nanti hari dan waktu sungguh telah membatasi rohku
Berikan sinar-Mu walau hanya sepercik

 

  1. MilikMu

kadang….
Kau ada disini

kadang….
Kau selalu di hati

namun….
terlalu banyak penat
yang salah dan tersendat

biar…

biar semua pergi
jauh dan jauh hilang
jangan pernah kembali
selalu saja menjauh terbang

takut…
aku takut mengakui
hidupku yang tak terkendali
terseok dan tersesat arah
nyata tanpa pernah menyerah

 

  1. Waktu terus berjalan

Aku mau diam

Aku mau berjalan…
Aku mau berlari…
Aku mau merangkak sekalipun…
Waktu terus meninggalkanku…

Hidup adalah kumpulan pilihan
Bahagia atau bersedih…
Diam atau bergerak…
Baik atau buruk…
Pilihan akan selalu ada…

 

  1. Berlari

Kuberlari menuju apa yang dituju
Mengapa?
Tergesa-gesakah?
Haruskah aku berhenti di sini?
Tidak juga…
Berhenti sejenak?
Tidak apa-apa…
Untuk apa?
Untuk berlari kembali menuju tujuan
Berlarilah…
Namun hati-hati jangan sampai tersandung

Berlari

  1. Isi hati

Duka tentang penyesalan

menggantung di dalam kalbu
terus membayangi kehidupan
walau dalam kesengsaraan
kertas putih kehidupan
semakin banyak ternodai
terlalu banyak kedukaan
kegelapan dan kehancuran !

ingin membalik halaman
namun tiada kuasa diri
hanya Tuhan yang berhak menjalani
dan membuat semuanya terjadi

 

10. Ibu

Segala waktu kian terlewati
Dari benih ku hidup hingga kini
Terjalani semua meski pedih kau lalui
Hanya demi aku…..
Bisu pun tentang likunya hidupmu
Sendiri kau tanamkan sedasarnya hatimu
Dengan kekuatan kasih sayangmu tuk tetap bertahan
Menjaga aku dalam kegelapan yang tiada habis
Namun……
Tiada sedikitpun ku dapat membalas semua itu…..
Ibu……
Lihatlah hatiku yang selalu tertuju padamu…
Mengharapkan kebahagiaan tuk kau dapatkan
Andai dapat aku ambil segala susah sedihmu,,
Biar aku yang merasakan semua bebanmu….
Ibu…..
Maaf….
Setulusnya hati ini berucap
Atas segala salah yang terlaku
Ku tahu…
tiada apapun yang mampu menggantikan pengorbananmu
namun percayalah,
hanya kau tujuan hidupku….
Satu yang kuinginkan hanya kebahagiaanmu…..
Kar’na ku tak akan sanggup
Bila setetes air mata mengalir di pipi indahmu…

 

11. Rindu yang salah

Ku tuliskan kata dalam hati
Terukir jelas namun tak terdengar
Berikan sela untukku bernafas
Dari cinta yang tak berujung
Ku t’lah merindukan jiwa yang salah
Dari raga yang tak ku mengerti
Haruskah ku terus tenggelam
dalam cinta yang tak mungkin ku miliki
Hanya sendiri
Dalam diamnya hati
Sungguh ku merasakan cinta ini
Namun tiadakah jawaban alam
Atas rasa yang tlah mengacaukan malamku
Bibir masih bisa tersenyum
Akankah hati jua….
Awal hanya ingin kau tau
Namun tak terpungkiri bila jiwa tak ingin jauh
Lantunan kata-kata paling setia menemaniku
Menemani dalam galaunya rasa ini
Yang selalu menunggu sesosok jiwa yang ku cinta

 

12. Salahkah?

Salakah aku salahkah

Bertindak silih asah

Berlaku silih asuh

Berperi silih asih

Walau berkeringat basah

Memperbaiki nan salah

Penyebab gelisah resah

Salakah aku salahkah

Berani berbuat salah

Mengoreksi nan salah

Mengeringkan luka parah

Mengubah nan gundah

Mencipta nan indah

Di alam ciptaan Allah

Salahkah aku salahkah

Tega berbuat salah

Membasmi nan salah

Di rumah dan di sekolah

Tanpa resah tanpa gelisah

Tanpa rasa salah

Di atasa jalan Allah

Salahkah aku?

 

 

13. Hidup Bermakna

Hidup bermakna hidup berkarya

Hidup berkarya hidup bermakna

Padati beta sejuta kata

Pada beta sejuta makna

Agar beta tahu bahasa cinta

Agar beta paham sumber segala

Biar beta tahu memuja mama

Biar beta paham memuja pencipta

Beta mau kemarin jada nostalgia

Beta mau hari esok penuh asa

Hari ini beta isi aneka makna

Hari ini beta berdaya karya

 

14. Cinta mengubah semuanya

 

Cinta, cinta mengubah semuanya

Tangan dan wajah, bumi dan langit

Cinta, cinta mengubah segala

bagaimana kau hidup, bagaimana kau mati

 

Cinta mampu menjadikan musim panas terbang cepat

atau malam bagaikan sepasang masa hidup

Ya cinta, cinta mengubah segala

Sekarang aku bergetar pada namamu

Tak satupun akan tetap sama

 

Cinta, cinta mengubah segala

Hari-hari terasa lebih lama

kata-kata berarti lebih

Cinta, cinta mengubah segala

Rasa sakit semakin pedih

 

Cinta itu akan memutar balikan dunia

Dan dunia akan berlangsung terus

Ya cinta, cinta mengubah segala

Membawa kemuliaan, membawa aib bagimu

Tak satupun didunia akan tetap sama

 

Keluar… ke dunia kita pergi

Penuh rencana masa depan

Menyusun tahun-tahun kehidupan

Cinta datang tiba-tiba

dan sekonyong-konyong semua kebijaksanaan kita lenyap

Cinta membuat orang kehilangan akal

Segala peraturan yang pernah kita buat berantakan

Ya cinta, cinta mengubah setiap orang

Hidup atau mati dalam nyalanya

Cinta tak pernah membiarkan kau tetap sama

Cinta tak pernah membiarkan kau tetap sama

 

15. M i m p i

ada kedamaian yang Kau bawakan

ia mengiringi malam ini beserta senyuman di wajahMu
jika Engkau adalah mimpi, bangunkanlah aku;
dan jika Engkau adalah nyata sadarkanlah aku;

aku terlalu berharap akan diriMu

menghiasi langit hatiku dan menerangi rumah jiwaku
cukup lama aku mengharapkanMu,

menghayalkan perasaan yang kusimpan,

hingga aku sendiripun tak mengerti penyakit yang menimpaku saat ini

jika ada rasa dalam hatiMu untukku,

katakanlah kepadaku melalui bait-bait syairMu
dan jika rasa itu tak pernah ada

katakanlah padaku melalui bait-bait kesunyian
jiwaku adalah jiwa yang selalu menerima kesedihan dan kedukaan,

dan aku takkan bersedih sedikitpun jika rasa  ini adalah sebuah mimpi

wahai diriMu , dengarlah perasaan ini;
ia takkan pernah mati,

walaupun ini adalah sebuah mimpi ,

karena ia teramat indah untuk di lupakan.

 

16. K A N G E N

 

Kau tak akan mengerti

bagaimana kesepian-Ku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti

segala luka-Ku

karena cinta telah tersembunyikan pisaunya

membayangkan wajahmu adalah siksa

kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

engkau telah menjadi racun bagi darah-Ku

Apabila Aku dalam kangen dan sepi

itu berarti

Aku adalah tungku tanpa api

jika tiada tanda-tanda perubahan.

 

17. Berharap

Memandang bintang berharap
tangan bisa menyentuhnya
Menatap langit berharap
diri bisa terbang di dalamnya

Mengejar angin berharap
dapatkan kesejukkannya
Membayangkan awan berharap
tidur lelap dalam kelembutannya

Harapan adalah harapan
berharap apa yang diharapkan
Harapan yang semestinya

Karena harapan itu adalah harapan

18. Nistakan aku

Kerlipkan sinar yang tak pernah menepis
Di setiap jalan yang kulalui
Dari sudut dunia yang Kau punya
Agar kugenggam terus sinar-Mu
Sayang mungkin tak kan mungkin
Karena begitu nista diriku
Dan bila semua waktu tak lagi bersahabat
Ketika semua dunia menjauh
Mungkin cukupkah hari dimana aku hidup
Cukupkah waktu dimana aku berlalu
Dan jika nanti hari dan waktu sungguh telah membatasi rohku
Berikan sinar-Mu walau hanya sepercik

19. Penantian

rindu panjang penantian
tertatih-tatih palsunya harapan
dogma-dogma cinta tertekan
dalam sangka tiada beban
luka hati tawa berkembang
cinta jauh lari menghilang
sesaat.. rasa terbang melayang
hidup dalam raga yang mengambang…..

 

20. Milik-Mu

kadang….
Kau ada disini

kadang….
Kau selalu di hati

namun….
terlalu banyak penat
yang salah dan tersendat

biar…

 

21. Waktu Terus Bergulir

Aku mau diam…

Aku mau berjalan…
Aku mau berlari…
Aku mau merangkak sekalipun…
Waktu terus meninggalkanku…

Hidup adalah kumpulan pilihan
Bahagia atau bersedih…
Diam atau bergerak…
Baik atau buruk…
Pilihan akan selalu ada

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi

Oktober 31, 2008

SURAT CINTA

Kutulis surat ini

kala hujan gerimis memahat kaca jendela

bagaikan bunyi tambur mainan

anak-anak zaman

Dan angin mendesah

Mengeluh dan mendesah

Ku tulis surat ini

kala langit menangis

membubuhkan warna senja

Dan dua ekor ikan mas

bercinta dalam kolam

Bukanlah surat cinta ini ditulis

ditulis kearah siapa saja

seperti hujan yang jatuh gerimis

menyentuh arah siapa saja

Bukankah surat cinta ini berkisah

berkisah melintas lembar bumi yang fana

seperti cahaya rembulan atau mentari

menyentuh siapa saja.

Khayalan

April 25, 2008

1.  Kangen

 

Kau tak akan mengerti

bagaimana kesepian-Ku

menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti

segala luka-Ku

karena cinta telah tersembunyikan pisaunya

membayangkan wajahmu adalah siksa

kesepian adalah ketakutan dan kelumpuhan

engkau telah menjadi racun bagi darah-Ku

Apabila Aku dalam kangen dan sepi

itu berarti

Aku adalah tungku tanpa api

jika tiada tanda-tanda perubahan.

 

2. Penguasa

 

Manusia berjas duduk rapi

Menghitung waktu dari pagi

Sok berkuasa di kursi panas

Rakyat jelata dibuatnya ganas

Mulut berbusa bantai KKN

Untuk penguasa pengeret APBN

Gemuruh garang suara mahasiswa

Pertaruhkan kebenaran gejolak jiwa

Wahai…….

Para pemimpin penunpuk hutang

Kapan kemakmuran akan datang

Kasihan kami yang tinggal tulang

Karena makantak sampai serantang

Oh …….bapak berkantong tebal

Berilah makan bagi yang kerdil

Agar kami tak semakin mengcil

Menghadapi dunia yang semakin usil

Bukalah jasmu bahu membahu

Berilah uangmu barang separoh

Agar kami juga tahu

Kalau bapak suka membantu

Dengan tegakkan prinsip baru

Bersatu kita teguh

Bercerai kita runtuh.

 

3. Resah 

 

Saat lara kian membeban

Dan tawa memudar

Goreskan luka pada jiwa yang merana

Saat air mata menggenang

Dan tak satupun sapa terkembang

Benamkan senjaku yang s’makin mengambang

 

Dalam gelap malam sunyi

Sendiri, kujalani resah tak bertepi

Mengembara mencari jati diri

 

Dalam congkak sang surya

Tergelar sejuta asa

Kadang gemakan tawa

Kadang percikkan lara

 

Aku mencari apa yang tak bisa kucari

Aku mendapat apa yang tak kucari

 

Jika kubisa memilih

Kutak ingin seperti ini

Menjadi bukan diriku sendiri

 

Jika kuharus mamilih

Ku hanya ingin waktu

Kan segera berganti

 

Pekat malam semakin menyayat

Sengat surya semakin serakah

Akupun semakin meresah

Oleh asa yang tak kunjung terjamah

 

 

4. M i m p i

Ada kedamaian yang Kau bawakan

 ia mengiringi malam ini beserta senyuman di wajahMu
jika Engkau adalah mimpi, bangunkanlah aku;
dan jika Engkau adalah nyata sadarkanlah aku;

aku terlalu berharap akan diriMu

 menghiasi langit hatiku dan menerangi rumah jiwaku
cukup lama aku mengharapkanMu,

 menghayalkan perasaan yang kusimpan,

 hingga aku sendiripun tak mengerti penyakit yang menimpaku saat ini

jika ada rasa dalam hatiMu untukku,

 katakanlah kepadaku melalui bait-bait syairMu
dan jika rasa itu tak pernah ada

 katakanlah padaku melalui bait-bait kesunyian
jiwaku adalah jiwa yang selalu menerima apa adanya

 dan aku takkan bersedih sedikitpun jika rasa  ini adalah sebuah mimpi

wahai diriMu , dengarlah perasaan ini;
ia takkan pernah mati,

walaupun ini adalah sebuah mimpi ,

karena ia teramat indah untuk dilupakan.

 

 

Safe Goreti , FdCC.

PBSID 06, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.