Arsip untuk ‘Religi’ Kategori

FBB

Januari 15, 2009

 

SELAYANG PANDANG

FORUM BIARAWAN–BIARAWATI

MAHASISWA–YOGYAKARTA

 

  1. PENDAHULUAN

Situasi dan kondisi hidup sekarang kebanyakan orang menjadi egois, curiga, cemburu, bahakan sampai kepada hal–hal besar yang sangat fatal dan dapat merugikan diri sendiri serta banyak orang, seperti membunuh orang, mencuri, pergaulan bebas, perceraian, penyakit, korupsi, dll. Kondisi ini terjadi dalam semua dimensi kehidupan masyarakat. Dalam kalangan orang tua, anak muda, kaya dan miskin, serta pandai dan bodoh. Untuk menjawab persoalan tersebut haruslah ditempatkan dalam prespektif yang luas. Situasi dan kondisi tersebut memang membutuhkan sentuhan kasih Kristus.

Sebagai religius mahasiswa diharapkan harus berpikir kritis untuk menanggapi situasi zaman ini. Dengan realitas yang ada bukan sebagai sesuatu yang melemahkan semangat kita dalam menjalani hidup sebagai kaum religius. Tetapi kondisi tersebut kita jadikan sebagai inspirasi dan media yang aktual untuk mewujudkan semangat kasih Kristus. Diharapkan semua pihak, khususnya kaum religius mahasiswa mencoba mengembangkan diri dalam segi akademik dan humaniora.

Aktualnya bahwa kaum religius mahasiswa mau terlibat dalam kegiatan studi di kampus sebagai suatu perutusan dari komunitas dan tarekat atau kongregasi masing–masing. Namun ke dua hal tersebut diharapkan terjadi keseimbangan hidup antara kegiatan di komunitas dan kegiatan di kampus. Dengan suatu tujuan yaitu agar religius mahasiswa mampu menghayati studi sebagai perutusan.

 

  1. LATAR BELAKANG BERDIRINYA FBB

 

Forum Biarawan–Biarawati, bentuk karena merasa seperjuangan dalam melaksanakan perutusan studi di perguruan tinggi, yang bersifat heterogen. Karena itu banyak hambatan dan tantangan yang dihadapi para religius mahasiswa, lebih khusus lagi yang belajar di Universitas Sanata Dharma (USD) pada Program Studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling (BK).

Maka pada tahun 1999 terbentuklah sebuah wadah bersama dengan nama Forum Komunikasi Biarawan–Biarawati (FKBB) yang anggotanya tidak hanya terbatas pada prodi BK, tetapi semua religius mahasiswa yang studi di USD. Awalnya, wadah ini tidak mempunyai kepengurusan yang resmi, hanya ada suatu komitmen bersama untuk saling berbagi pengalaman suka dan duka sebagai religius mahasiswa. Forum Komunikasi Biarawan–Biarawati (FKBB) di bawa pelindungan koordinator Campus Ministry (CM) USD. Secara berturut–turut, para penanggung jawab CM adalah Rm. Priyono Marwan, SJ, Rm. Cokrosudirja, SJ, Rm. Mutiara Andalas, SJ, Rm. Agung Wijayanto, SJ, Rm. Ing. Nugroho, SJ.

Sejak periode kepengurusan tahun 2000/2001 nama Forum Komunikasi Biarawan–Biarawati (FKBB) berubah menjadi Forum Biarawan–Biarawati (FBB). Perubahan ini terjadi karena sebagai wadah komunikasih, forum ini mulai membuka diri untuk merangkul juga para religius mahasiswa yang bukan mahasiswa USD; yang berasal dari berbagai tarekat dan yang berdomisili kota Yogyakarta yang terkenal sebagai kota pelajar.

Sampai kini, untuk saling mendukung dalam menjalani panggilan sebagai religius, berbagai kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan program kepengurusan yang dipilih untuk satu periode. Kegiatan-kegiatan itu adalah sebagai berikut. Pelayanan sosial: pelayanan kepada kaum muda dan anak–anak, kunjungan keluarga (live in), bakti sosial, kunjungan ke panti asuhan, kunjungan ke penjara, dan temu lintas agama. Untuk pengembangan diri di bidang akademik, kegiatan yang telah dilaksanakan adalah seminar, sarasehan, dan diskusi buku. Dalam bidang rohani, kegiatan yang telah dilaksanakan seperti ziarah, rekoleksi bersama kaum muda, dan aksi panggilan.

Kegiatan-kegiatan itu mempunyai suatu tujuan luhur yaitu agar para religius mahasiswa lebih meningkatkan persaudaraan, saling meneguhkan, mendukung, dan meningkatkan kerja sama dalam menjalankan tugas perutusan sebagai mahasiswa– mahasiswi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. VISI DAN MISI

VISI

Dengan pengalaman dan pemahaman bersama sebagai orang yang dipanggil untuk menghidupi tiga nasihat injili yang dipahami melalui spiritualitas tarekat atau kongregasi masing–masing yang dihayati dalam perutusan sebagai mahasiswa–mahasiswi.

 

MISI

  1.  
    1. Menghidupi dan mewujudkan ketiga nasihat injili yang dipahami menurut prespektif spiritualitas tarekat atau kongregasi masing–masing dalam ruang lingkup dunia kampus.

    2. Setia pada tuntutan akademik dengan sikap rendah hati, hormat, dan penuh tanggung jawab.

    3. Menempatkan diri sebagai orang yang dipanggil dan diutus di tengah dunia kampus.

    4. Menerima tugas perutusan dengan suka cita dan berusaha mengembangkan secara kreatif.

    5. Meningkatkan persaudaraan, saling meneguhkan, memperkaya, mendukung dan meningkatkan kerja sama dalam menjalankan tugas perutusan sebagai mahasiswa– mahasiswi.

 

  1. MOTTO

Bagi Tuhan dan Sesama ( dari arsip surat–surat thn 1999–2001 )

Know and Love him. ( dari arsip dan sura surat thn 200 –2007 )

………..……..pilih yang mana ……………….

 

  1. TUJUAN

Religius mahasiswa mampu menghayati studi sebagai tugas perutusan dan pengembangan diri dalam aspek humaniora ditengah–tengah era globalisasi.

 

 

 

 

  1. PENGURUS FBB DARI TAHUN KE TAHUN

    1. Tahun 1999 – 2001

Ketua : Br. Paulus Setiawan, SCJ

  1.  
    1. Tahun 2001 – 2002

Ketua : Sr. Margaretha Ada, SSPS

  1.  
    1. Tahun 2002 – 2003

Ketua : Br. Thomas, FIC

  1.  
    1. Tahun 2003 – 2004

Ketua : Fr. Patrik, BHK

  1.  
    1. Tahun 2004 – 2005

Ketua : Fr. Patrik, BHK

  1.  
    1. Tahun 2005 – 2006

Ketua : Br. Teguh Supomo, FIC

  1.  
    1. Tahun 2006 – 2007

Fr. Ireneus, BHK

  1.  
    1. Tahun 2007 – 2008

Ketua : Sr. Kharita, SND

  1.  
    1. Tahun 2008 – 2009

Ketua : Fr. Kardinus, BHK

  1.  
    1. Tahun 2009 – 2010

Ketua : …..?

 

  1. STRUKTUR KEPENGURUSAN

Model 1

Moderator : Rm Koordinator CM – USD.

Ketua :

Wakil :

Sekretaris 1 dan 2 :

Bendahara 1 dan 2 :

Humas :

Anggota 1 – 5 :

 

 

Model 2 ( baru – thn 2008)

Moderator : Rm Koordinator CM – USD.

  1. Ketua :

  2. Wakil :

  3. Sekretaris 1 dan 2

  4. Bendahara 1 dan 2

  5. Ketua Koordinator ( Co )*

  1. Co Mrican ( 3 org )

  2. Co Paingan ( 1 org )

  3. Co Kentungan ( 1 org )

  4. Co IPPAK ( 1 org )

  5. Co PGSD ( 2 org )

  6. Co Luar USD ( 1 org )

 

*). Alasan di bentuk model seperti ini, agar mempermudah dan memperlancar untuk pengurus mengadakan rapat dan kontak person ke setiap fakultas dan kampus dalam segala kegiatan FBB.

 

  1. KEANGGOTAAN FBB

Terlampir data baru dan masih dalam pendaftaran.

 

  1. PROGRAM KERJA

Di rancang bersama, sekarang belum rampung.

 

  1. LOGO DAN LAMBANG

Di tinjau kembali bersama pengurus, karena belum dijelaskan arti dan maksud dari setiap lambang dan logo yg ada dalam cap yang digunakan selama ini.

 

  1. SUMBER PENDANAAN

 

  1.  
    1. Iuran Anggota FBB.

    2. Sumbangan Campus Ministry – USD

    3. Sumbangan Komunitas.

    4. Donatur

    5. Jual Koran dan kertas bekas.

    6. Membuat Baju atau Jacket untuk di jual.

    7. Membuat kartu atau pin FBB untuk dijual.

    8. Menulis Buku.

 

  1. PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Menjadi religius mahasiswa merupakan tugas perutusan dan panggilan bagi religius yang belajar untuk mempersiapkan diri demi perutusan yang telah dipersiapkan oleh tarekat atau kongregasi masing – masing. Hal ini mempunyai harapan bahwa para anggotanya yang diutus untuk belajar dapat berhasil demi pengembangan diri religius itu sendiri dan juga bagi tarekatnya. Religius yang studi bergulat dengan segala hal yang berkaitan dengan studi.

Salah satu hal penting dalam perjalanan studi adalah menghayati spiritualitas religius sebagai mahasiswa ditengah – tengah arus zaman yang semakin kompleks ini, dengan ikut terlibat dalam kehidupan bersama yang lain. Sebagai religius mahasiswa di harapkan harus berpikir kritis untuk menanggapi situasi zaman ini. Dengan realitas yang ada bukan sebagai sesuatu yang melemahkan semangat kita dalam menjalani hidup sebagai kaum religius. Tetapi kondisi tersebut kita jadikan sebagai inspirasi dan media yang aktual untuk mewujudkan semangat kasih kristus.

 

Saran

 

Kami menyadari sebagai seorang religius yang dikuliahkan banyak mengalami godaan dan tantangan dalam studi maupun dalam menjalin relasi dengan rekan – rekan sesama religius mahasiswa ataupun dengan mahasiswa awam, juga dalam hidup berkomunitas masing – masing. Selain itu kami ingin mencoba mengembangkan diri dalam berbagai aspek terutama dalam pengembangan akademik dan kehidupan rohani dalam kehidupan bersama yang lain di kampus maupun di komunitas masing – masing agar tugas perutusan yang sedang dijalani dapat berhasil dengan baik sesuai dengan harapan.

Religi

Desember 22, 2008

NATAL

Kata natal berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Secara istilah Natal berarti upacara yang dilakukan oleh orang Kristen untuk memperingati hari kelahiran Isa Al Masih – (Tuhan Yesus).

Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan tanggal 25 Desember, sekaligus menjadi momentum penyembahan Dewa Matahari, yang kadang juga diperingati pada tanggal 6 Januari, 18 Oktober, 28 April atau 18 Mei. Oleh Kaisar Konstantin, tanggal 25 Desember tersebut akhirnya disahkan sebagai kelahiran Yesus (Natal).

Kelahiran Yesus

Lukas 2:1-8: Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
Demikian juga Yusuf pergi dan kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud-supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.

Ketika mereka disitu tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya didalam palungan, karena tidak ada tempat yang bagi mereka di rumah penginapan.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.

Dalam injil, Yesus lahir pada masa kekuasaan Kaisar Agustus yang saat itu sedang melaksanakan sensus penduduk (7 M = 579 Romawi). Yusuf, tunangan Maryam Ibu Yesus berasal dari Betlehem, maka mereka bertugas ke sana, dan lahirlah Yesus Betlehem, anak sulung Maria. Maria membungkusnya dengan kain lampin dan membaringkannya dalam palungan (tempat makanan sapi, domba yang terbuat dari kayu). Peristiwa itu terjadi pada malam hari dimana gembala sedang menjaga kawanan ternak mereka di padang rumput.

Menurut Matius 2:1, 10, 11:
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Herodus, datanglah orang-orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersuka citalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat anak itu bersama Maria, ibunya.

Jadi menurut Matius, Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodus yang disebut Herodus Agung yang memerintahkan tahun 37 SM – 4 M (749 Romawi), ditandai dengan bintang-bintang yang terlihat oleh orang-orang Majusi dari Timur.

Cukup jelas pertentangan kedua Injil tersebut (Lukas 2:1-8 dan Matius 2:1, 10, 11) dalam menjelaskan kelahiran Yesus. Namun begitu keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka pada malam hari untuk menghindari sengatan matahari. Sebab jelas 25 Desember adalah musim dingin. Sedang suhu udara di kawasan Palestina pada bulan Desember itu sangat rendah sehingga salju merupakan hal tidak mustahil.

Pada Tahun Berapa Yesus Lahir?

Umat Kristen beranggapan bahwa Yesus dilahirkan pada tahun I, karena penanggalan Masehi yang dirancang oleh Dionysius justru dibuat dan disesuaikan dengan tahun kelahiran Yesus. Namun Injil Lukas 2:1 (sudah dikutip sebelumnya) menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan Kaisar Agustus, jadi antara tahun 27 Sebelum Masehi – 14 Sesudah Masehi. Sedangkan Matius 2:1, menyatakan Yesus lahir dalam masa pemerintahan raja Herodes Agung: tahun 37 Sebelum Masehi – 4 sesudah Masehi.

Asal usul Perayaan Natal 25 Desember

Perintah untuk menyelenggarakan peringatan Natal tidak ada dalam Bibel dan Yesus tidak pernah memberikan contoh ataupun memerintahkan pada muridnya untuk menyelenggarakan peringatan kelahirannya.

Perayaan Natal baru masuk dalam ajaran Kristen Katolik pada abad ke 4 M. Dan peringatan ini pun berasal dari upacara adat masyarakat penyembah berhala. Dimana kita ketahui bahwa abad ke-1 sampai abad ke-4 M dunia masih dikuasai oleh imperium romawi yang paganis politheisme.

Ketika Konstantin dan rakyat Romawi menjadi penganut agama Khatolik, mereka tidak mampu meninggalkan adat/budaya pagannya, apalagi terhadap pesta rakyat untuk memperingati hari Sunday (sun = matahari; day = hari) yaitu kelahiran Dewa Matahari tanggal 25 Desember.

Maka supaya agama Khatolik bisa diterima dalam kehidupan masyarakat Romawi diadakanlah sinkretisme (perpaduan agama-budaya/penyembahan berhala), dengan cara menyatukan perayaan kelahiran Sun of God (Dewa Matahari) dengan kelahiran Son of God (Anak Tuhan-Yesus).

Maka pada konsili tahun 325, Konstantin memutuskan dan menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Juga diputuskan: Pertama, hari Minggu (Sunday – hari matahari) dijadikan pengganti hari Sabat yang menurut hitungan jatuh pada Sabtu. Kedua, lambang dewa matahari yaitu sinar yang bersilang dijadikan lambang Kristen. Ketiga, membuat patung-patung Yesus, untuk menggantikan patung Dewa Matahari.

Sesudah Kaisar Konstantin memeluk agama Katolik pada abad ke-4 Masehi, maka rakyat pun ikut memeluk agama Khatolik. Inilah prestasi gemilang hasil proses sinkretisme Kristen oleh Kaisar Konstantin dengan agama paganisme politheisme nenek moyang.

Demikian asal-usul Christmas atau Natal yang dilestarikan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia sampai sekarang.

Marry Christmas 2008 and Happy New Year 2009

Religi

Desember 11, 2008

Pesan Natal 2008

(KWI)

Hidup Dalam Damai

Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam Pesan Natal Bersama 2008 mengajak umat Kristiani di seluruh Indonesia agar hidup dalam perdamaian dengan semua orang.

Pesan Natal bersama KWI dan PGI yang ditandatangani Ketua Umum PGI Pdt. Dr A.A. Yewangoe, Sekretaris Umum,Pdt.Dr Richard M. Daulay serta Ketua KWI Mgr. Martinus D. Situmorang, O.F.M.Cap dan Sekretaris Jenderal Mgr. A.M. Sutrisnaatmaka, M.S.F.

Pesan Natal Bersama KWI-PGI 2008 bertemakan ‘Hiduplah dalam Perdamaian dengan Semua Orang’. “Di tengah sukacita Natal, perayaan kelahiran Yesus Kristus, marilah kita melantunkan mazmur syukur ke hadirat Allah. Ia datang ke dalam dunia untuk membawa damai bagi seluruh umat manusia. Kedatangan-Nya mendamaikan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya, tulis KWI-PGI.

Sebab itu dapat menjadi petunjuk bagi mereka yang rindu untuk hidup dalam damai, khususnya dalam keadaan dewasa ini yang diwarnai ketegangan dan kecenderungan untuk mementingkan diri atau kelompok sendiri.

Umat Kristiani memahami dirinya sebagai bagian utuh dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Selama ini kita telah tinggal dalam rumah bersama, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam kerukunan dan kedamaian.

Namun, akhir-akhir ini rumah kita dipenuhi dengan berbagai ketegangan, bahkan krisis. Keberadaan negara sebagai rumah bersama tidak lagi dipahami dengan baik oleh para warga bangsa. Berbagai benturan antarkelompok dalam masyarakat membuat warga tidak lagi dapat hidup damai.

Berbagai kelompok berusaha menunjukkan kekuatan mereka di hadapan kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman. Dalam usaha untuk memberi rasa aman kepada seluruh warga negara, pemerintah belum sepenuhnya berhasil mengambil langkah-langkah nyata menuju kebersamaan yang rukun dan damai.

Kita merindukan keadaan damai yang memberi rasa aman bagi warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan afiliasi politik. Rasa aman itu membuat warga negara dapat bekerja sama untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

Dengan rasa aman itu seluruh warga negara dapat menjalin relasi tanpa merasa terancam, tertekan, atau dikucilkan. Memang banyak usaha positif untuk menciptakan perdamaian telah dilakukan oleh seluruh komponen bangsa. Namun, usaha ini belum mencapai hasil yang diharapkan secara maksimal dan masih harus terus dilakukan secara terarah,berencana dan berkualitas.

Dalam suasana hari raya Natal, kelahiran Yesus, Sang Raja Damai, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk mendengarkan nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma. Ia menasihati Jemaat untuk hidup dalam damai dengan semua orang.

Untuk itu Rasul Paulus mengajak mereka untuk memberkati sesama, termasuk orang yang menganiaya mereka (Rm. 12:14). Memberkati berarti memohon agar Allah melimpahkan kasih karunia, damai sejahtera dan perlindungan.

Ia juga menasihati Jemaat untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi melakukan apa yang baik bagi semua orang. Semangat yang diajarkan oleh Rasul Paulus kepada Jemaat Roma itu kiranya juga menjadi semangat umat Kristiani di Indonesia, yang hidup dalam masyarakat majemuk yang terus berubah. Dinafasi oleh semangat Natal, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk melibatkan diri secara proaktif dalam berbagai upaya untuk membangun masyarakat yang damai, memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum dalam mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama.

Berbagai persoalan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat perlu dihadapi secara bersama-sama dan diselesaikan dengan cara-cara dialog.

Selain itu, ikut mengambil bagian secara sungguh-sungguh dalam usaha-usaha menciptakan persaudaraan sejati di antara anak-anak bangsa dengan membangun kehidupan bersama di komunitas masing-masing, serta peka dan tetap berusaha ramah terhadap lingkungan sekitar.

Umat Kristiani pun diminta mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dan jangan sampai dikalahkan oleh kejahatan. Kita perlu menyadari bahwa musuh kita bukanlah sesama warga, melainkan kejahatan yang bisa menggerakkan orang untuk berlaku jahat dan menyakiti sesama.

“Maka, marilah kita melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya supaya jangan ada ruang dimana kejahatan dapat merajalela,” kata KWI dan PGI mengakhiri Pesan Natal Bersama 2008.