Arsip untuk ‘Renungan’ Kategori

Renungan

November 8, 2009

                                                                                       BERANI BERUBAH

Seorang anak sedang bermain dan menemukan kepompong kupu–kupu di sebuah dahan yg rendah. Di ambilnya kepompong tersebut dan tampak ada lubang kecil. Dia tertegun mengamati lubang kecil itu karena ada terlihat seekor kupu–kupu yg sedang berjuang untuk keluar membebaskan diri melalui lubang tersebut. Melihat hal itu, si anak menjadi iba dan mengambil keputusan untuk membantu si kupu–kupu untuk keluar dari kepompongnya. Dia membuka badan kepompong agar sang kupu–kupu bisa keluar dan terbang dengan leluasa. Kupu–kupu pun keluar dengan mudahnya. Akan tetapi, ia masih memiliki tubuh yg lemah dan sayap- sayapnya masih berkerut. Anak itu berharap agar kupu–kupu tersebut bisa terbang, namun kupu–kupu tersebut terpaksa merangkak di sekitarnya dengan tubuh yg lemah dan tidak sempurna. Kupu–kupu itu akhirnya tidak pernah mampu terbang. Si anak tidak mengerti bahwa kupu–kupu perlu berjuang dengan daya usahanya sendiri untuk membebaskan diri. Lubang kecil perlu dilalui kupu–kupu tersebut akan memaksa cairan dari tubuh untuk masuk ke dalam sayap–sayapnya sehingga dia akan siap terbang dan memperoleh kebebasan. Hidup adalah perjuangan, hidup adalah perbuatan (kerja keras), bahakan untuk meraih keberahsilan diperlukan keringat dan air mata. Tidak ada yg instant, semua melalui proses yg ada dalam siklus kehidupan. Setiap tapak kehidupan yg dilalui akan memberikan makna yg luar biasa bagi seorang untuk memasuki tapak kehidupan berikutnya. Pengalaman suka dan duka dalam setiap sendi kehidupan akan memberikan warna tersendiri untuk menghiasi rentang kehidupan kita. Dalam perjalanan hidup kita kadang ingin untuk bisa mengikuti setiap jengkal kehidupan dengan bijaksana dan serius, namun tat kala ada tantangan dan godaan yg menjadi tawaran bagi kita. Fenomena bagi kita sebagai orang terpanggil dalam hidup membiara pada masa kini begitu banyak tantangan. Jika kita ingin tetap setia, tentu melalui perjuangan yg berat. Hidup kita tidak hanya sekedar tumbuh mengikuti siklus kehidupan yg sudah ada, namun harus mengambil titik balik untuk berubah kearah yg lebih baik lagi. Berubah ke bentuk yg lebih baik, dari ulat menjadi kepompong lalu kupu–kupu. Berubah dari cara pikir, perasaan, tingka laku, dan cara pandang terhadap suatu masalah, cara kita menjalani hidup ini, dengan optimis serta penuh harapan….

Renungan

November 8, 2009

            Doa 

      (Mazmur 139)

Tuhan Engkau menyelidiki dan mengenal aku

 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri

Engkau mengerti pikiranku dari jauh

Engkau memeriksa aku

kalau aku berjalan dan berbaring

segala jalanku Kau maklumi

Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu

terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya

Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu

ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak

dan dalam kitabMu semuannya tertulis

Hari – hari yg akan dibentuk

Selidikilah aku ya Allah dan kenallah hatiku

Ujilah aku dan kenallah pikiran–pikiranku

 Lihatlah apakah jalanku serong

dan tuntunlah aku di jalan yang kekal….Amin.

Renungan

November 8, 2009

Doa Mazmur 15

Tuhan, siapa yang boleh menumpang di kemah- Mu ?

Siapa yg boleh diam di gunung-Mu yg kudus ?

Yaitu dia yg berlaku tidak bercela,

yg melakukan apa yg adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,

yg tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya,

yg tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yg tidak menimpakan cela kepada tetangganya,

yang memandang hina orang yg tersingkir,

tetapi memuliakan orang yg takut akan Tuhan.

Yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi,

 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba,

dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama – lamanya.

Renungan

Juli 14, 2009

Bagi Rasa

Pagi itu begitu dingin, cuaca yang tadinya cerah, tiba-tiba murung dan tak mau bersahabat. Kubuka jendela lebar-lebar menangkap hawa dari luar. Ketika menengok kedepan, nampak orang-orang tergesa-gesa takut kahujanan dipagi hari. Pohon cemara yang didepan rumah ditiup angin berderai menggelitik hatiku dengan cara yang jenaka. Teratai yang letaknya tidak jauh dari rumah, mekar bagaikan mentari yang menancarkan senyum kala subuh, menambah keindahan taman kecil Samirono.

Aku masih saja duduk terpaku disebuah kursi tua dan membolak-balik koran yang baru saja diberikan oleh Pak Narto, langganan kami. Gelak lawa terdengar bising di kuping, datang dari arah belakang rumah. Maklum…anak kos-kosan. Berapa orang disekelilingku juga sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku masih saja betah di kursi tua itu dengan pandangan kosong. Sunyi masih berperan penting dalam diriku. Entahlah, aku juga belum menemukan sebuah jawaban untuk mengatasi situasi ini. Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup ini.

Hari itu adalah hari yang berantakan bagiku. Aku merasa stres, tertekan dan seakan-akan segala sesuatu tidak mungkin. Aku merasa hidup ini begitu gersang dan sulit untuk dikendalikan, setelah semalam bergulat dalam diri, meraba jadi diri sambil meredam rindu dengan mengerti. Tentu, masih juga mengenang tanah kelahiranku, dengan selusin kenangan masa lalu. Tanpa manulis sanjak, tanpa bertekun diatas buku, tanpa melototkan mata diatas koran, aku ingin menguasai diri dalam sepi. “Hidup ini adalah suatu nilai, hidup telah banyak mengajarku”, tuturku dalam hati.

Dalam kesepian, keheningan, dan kesunyian tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi telepon. Dengan bermalas-malasan, aku beranjak dan menerima telepon itu. Suara dari si penelpon begitu jelas, tapi asing dikupingku. Ia begitu antusias untuk bercerita, setelah mengetahui si penerima telepon adalah aku. Karena keingintahuanku kuat untuk mengetahui lawan bicaraku, maka aku mendesak untuk mengetahui identitasnya. Namun jawabannya begitu jauh dari dugaanku, ia dengan nada yang agak berat melanjutkan pembicaraannya, “Engkau tidak perlu mengetahui, siapa lawan bicaramu tapi yang penting untuk diketahui adalah “Engkau adalah sebuah lagu cinta untukku, sebuah musik yang membuat dunia tersenyum. Aku telah menyanyi bagimu, namun dengan kasih yang membisu, serba terselubung oleh aneka macam kerudung. Sekarang aku menjerit kepadamu tanpa aling-aling semu. Memang bukanlah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri sampai datangnya berpisah? Bertahun-tahun kutelusuri kota demi kota, akhirnya aku menemukan cinta yang sejati pada gadis yang berkerudung putih”.

Aku terkejut bercampur bingung dengan pembicaraan yang begitu panjang. Belum sempat bersuara, dengan mantap ia bertutur “Dan supaya engkau tahu, aku lebih berbahagia saat melihat engkau berbahagia. Ingat…rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati anda terbuka bagi orang lain dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya mata hati hanya dapat masuk bilamana pintu itu terbuka lebar.” Seketika itu juga teleponnya ditutup.

Aku belum juga beranjak dari tempat telepon itu diletakan. Aku masih teringiang-ingiang dengan selusin ucapan tanpa jeda itu, yang menurutku agak aneh kerena belum pernah mendengar pembicaraan yang panjang dari seorang yang misterius, menurutku. Perasaan senang dan bingung bercampur jadi satu. Matahari sudah meninggalkan pagi, langit yang tadinya menangis mulai memancarkan senyum cerahnya. Udara semakin panas suara-suara burung tekukur piraan kami dulu seperti koor guman yang panjang, datang dari arah utara kota Jogjakarta. Pelan-pelan kukembali ketempat dudukku. Seekor burung melintas, mencoba menembus kaca, terpelanting terbang menjauh.

Matahari mulai mengusir awan dan mulai memanasi tubuh. Sekelompok burung terbang membentuk huruf V, barangkali dari persawahan yang jauh. “Mereka hidup dan berbahagia. Terbang, terbang. Bagi mereka waktu adalah hidup itu sendiri. Selalu, dan selalu terbang. Peduli amat!” pikirku. Memang setiap detik dari hidup adalah untuk dinikmati. Waktu yang mengalir tak henti-hentinya adalah kebahagian terbesar bagi yang dapat merasakannya. Koran yang tadinya kubolak-balik untuk mencari berita hangat, kuambil dan kutelusuri artikel demi artikel, sambil bertanya–tanya dalam hati, siapa jejaka yang membuat penasaran pagi ini. Mungkinkah dia adalah seseorang dimasa laluku? Teman masa kini atau…seorang misterius yang diam-diam mengagumi diriku. Entahlah, aku tak peduli. Aku mulai bangkit dari duduk dan mulai menyibukan diri dengan kegiatan seharianku. Melalu perjalanan waktu yang lama, penelepon misterius itu masih sering mengusikku melalui sms, demgan kat-kata yang sudah bagi bagiku “Engkau adalah sebuah lagu cinta bagiku, aku telah menyanyi bagimu namun dengan kasih yang membisu dan serba terselubung oleh aneka macam kerudung”.

Bye…safegoreti, fdcc.

Renungan

April 25, 2009

REFLEKSI RUANG: KOMPUTER, KAPEL, DAN HATI

Jam menunjuk setengah dua belas siang. Kesepuluh jariku masih saja asyik menari-nari pada tuts-tuts keyboard komputer di ruang komputer. Yang sedang saya kerjakan ini ialah tugas mata kuliah yang cukup sulit bagiku, paling tidak di semester ini. Bobotnya tiga kredit. Mata kuliah itu adalah psikolinguistik, sebuah interdisipliner, gabungan antara disiplin psikologi dengan linguistik yang mempelajari, antara lain, bagaimana otak manusia sejak dini dan hingga dewasa merekam, memproses, memperoleh, dan menggunakan bahasa.
Sementara otakku masih mengutak-atik persoalan “otak”, di sebelah, ruang doa, terdengar kumandang suara tak asing: “Ya, Allah, bersegerahlah menolong aku…”. Oh, jadi sudah ibadat siang? Dan saya terhentak kaget karena roda waktu begitu cepat berputar. Sebentar lagi jam satu saya harus balik ke kampus, dan di sana saya mesti mempresentasikan makalah yang belum juga kunjung selesai kubuat ini.
Ah, satu persoalan lagi. Kalau saya nanti menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju kampus, lima belas menit tiadalah cukup bagiku untuk beristirahat barang lima menit buat sebentar saja menarik napas. Karena itu, kalau saya ke ruang doa sekarang, jelas saya akan terlambat tiba di kampus. Akan tetapi, kalau saya tidak ke ruang doa, nah, ini…apa kata hati? Terjadilah, ruang hatiku tiba-tiba tersekat jadi dua: mau ke ruang doa dulu? Atau, mau langsung selesaikan tugas ini lalu berangkat?
***
Dengan rendah hati harus kuakui, kerap ruang hatiku tak mampu memilah, mana ruang doa dan mana ruang komputer. Maka tak jarang pula ruang hatiku itu berkata bahwa ruang komputer, tempat saya mengerjakan tugas-tugas kuliah (tugas yang mulia, tentu!), sama saja dengan ruang doa. Sebab, masih bisikan dari ruang hati, bukankah dengan tekun mengerjakan tugas-tugas, toh itu bagian dari ‘doa’? Dan sebaliknya, bukankah dengan tekun memanjatkan doa di ruang doa (tentu dengan sebuah keyakinan total!), toh itu juga dapat ‘memperlancar’ pengerjaan tugas-tugas? Nah, di sini persis masalahnya: ruang hatiku merelativir dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa.
Untuk keluar dari jerat relativisme macam itu, saya memang butuh sebuah ruang hati yang jernih, tak bercela untuk memilih prioritas nilai. Bagiku, prioritas nilai dapat membantuku untuk membongkar sekat ruang hati yang telah terbelah, tersekat. Prioritas nilai yang saya maksudkan di sini bukan pertama-tama saya harus menentukan ruang mana (entah doa, entah komputer) yang ‘lebih’ penting untuk saya dahulukan, melainkan kedewasaan ruang hati itu sendiri untuk mengambil keputusan. Apalah gunanya kalau saya di ruang komputer hanya asyik ber-games, sementara saudara-saudaraku sekomunitas sedang menunaikan sholat suci? Tapi apalah pula salahnya, jika karena tugas mulia, mengingat ke kampus memang saya diutus untuk itu dan jam kuliah kebetulan sekali bertepatan dengan jam acara di ruang doa, saya terpaksa tidak ikut menunaikan sholat suci bersama karena tugas itu? Inilah yang saya maksudkan dengan kedewasaan ruang hati dalam mengambil keputusan. Kedewasaan ruang hati di sini memang butuh suatu kualitas kepekaan tertentu. Kualitas kepekaan itu haruslah murni, tidak omong kosong! Maksudnya, jangan sampai ruang hati menggunakan alasan “demi tugas mulia”, lalu meniadakan acara di ruang doa.
Untuk sampai pada kedewasaan dan kualitas kepekaan ruang hati dalam mengambil keputusan berkaitan dengan dua ruang yang lain, ruang (doa) dan ruang (komputer), setidaknya saya melihat dua hal. Pertama, hakikat dari doa sendiri, dan apalagi kegiatan doa (berdoa) senantiasa tidak sama dengan hakikat kegiatan di ruang komputer. Konkretnya, ofisi bersama di ruang doa, yang adalah kegiatan doa bersama, jelas berbeda dari kegiatan pribadi saya dalam mengerjakan sebuah paper, makalah, skripsi (atau entah apalah) di ruang komputer. Sebaliknya, sebuah diskusi kelompok di kampus tidaklah sama intensinya dengan sebuah kegiatan doa pribadi saya di ruang doa. Ini jelas!
Kedua, kegiatan saya di luar komunitas (baca: aktivisme) boleh-boleh saja saya hayati sebagai sebuah bentuk doa, tetapi tak boleh saya samakan begitu saja dengan kegiatan berdoa. Bagiku, keduanya tak terpisahkan satu sama lain, tetapi keduanya memang harus tetap dibedakan satu dari yang lain. Sebab, kalau ruang hatiku tak mampu membedakan keduanya, bisa jadi saya akan jatuh pada ekstremisme, lebih mementingkan yang satu sambil melalaikan yang lain. Ekstermisme macam ini akan berefek pada relativisme: saya lalu menyamaratakan keduanya, padahal hakikat, tujuan, dan efek dari keduanya sama sekali berbeda.
Maka dalam konteks refleksi ini, ruang hatiku mau kembali menegaskan bahwa dua ruang yang lain, ruang komputer dan ruang doa, jelas berbeda, dengan mengingat kata-kata St. Magdalena dari Canossa kepada: “Saudara, saya setuju engkau mengajarkan “Tugas suci” asal engkau tidak memadamkan semangat doa dan kebaktian tersuci Akhirnya, bersama St Magdalena pula, pada Pesta Kerahiman Ilahi (Minggu, 19/4/2009) saya pun ingin memohon penerangan hati dengan berdoa: “Allah yang Maha tinggi dan penuh kemuliaan, terangilah kegelapan hatiku dan berilah aku iman yang benar, pengharapan yang teguh dan kasih yang sempurna. Berilah aku, ya Tuhan, perasaan yang peka dan budi yang cerah, agar aku mampu melaksanakan perintahMu yang kudus, dan yang tak akan menyesatkan…Amin.” ***

Renungan

April 21, 2009

Sayangi Ibumu

Waktu kamu berumur 1 tahun,

dia menyuapi dan memandikanmu …

sebagai balasannya …

kau menangis sepanjang malam.

Waktu kamu berumur 2 tahun ,

dia mengajarimu cara berjalan ..

sebagai balasannya ….. kamu kabur waktu dia memanggilmu

Waktu kamu berumur 3 tahun,

dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang .. sebagai balasannya ….

kamu buang piring berisi makananmu ke lantai

Waktu kamu berumur 4 tahun,

dia memberimu pensil warna …

sebagai balasannya .. kamu corat coret tembok rumah dan meja makan

Waktu kamu berumur 5 tahun,

dia membelikanmu baju-baju mahal dan indah..sebagai balasannya …

kamu memakainya bermain di kubangan lumpur

Waktu kamu berumur 6 tahun,

dia mengantarmu pergi ke sekolah … sebagai balasannya …

kamu berteriak “NGGAK MAU…!

Waktu berumur 7 tahun,

dia membelikanmu bola …..

sebagai balasannya …

kamu melemparkan bola ke jendela tetangga

Waktu berumur 8 tahun,

dia memberimu es krim … sebagai balasannya…….kamu tumpahkan dan mengotori seluruh bajumu

Waktu kamu berumur 9 tahun ,

dia membayar mahal untuk kursus-kursusmu …

sebagai balasannya ….

kamu sering bolos dan sama sekali nggak mau belajar

Waktu kamu berumur 10 tahun,

dia mengantarmu kemana saja,

dari kolam renang sampai pesta ulang tahun ..

sebagai balasannya … kamu melompat

keluar mobil tanpa memberi salam

Waktu kamu berumur 11 tahun,

dia mengantar kamu dan temen-temen kamu ke bioskop ..

sebagai balasannya … kamu minta dia duduk di barisan lain

Waktu kamu berumur 12 tahun,

dia melarangmu melihat acara tv khusus untuk orang dewasa …

sebagai balasannya …..

kamu tunggu sampai dia keluar rumah

Waktu kamu berumur 13 tahun,

dia menyarankanmu untuk memotong rambut karena sudah waktunya …

sebagai balasannya..

kamu bilang dia tidak tahu mode

Waktu kamu berumur 14 tahun,

dia membayar biaya untuk kemahmu selama liburan ..

sebagai balasannya ….. kamu nggak pernah menelponnya

Waktu kamu berumur 15 tahun,

pulang kerja dia ingin memelukmu …

sebagai balasannya …

kamu kunci pintu kamarmu


Waktu kamu berumur 16 tahun,

dia mengajari kamu mengemudi mobil sebagai balasannya …

kamu pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa mempedulikan kepentingannya

Waktu kamu berumur 17 tahun,

dia sedang menunggu telpon yang penting … sebagai balasannya ….

kamu pakai telpon nonstop semalaman,

Waktu kamu berumur 18 tahun,

dia menangis terharu ketika kamu lulus SMA.. sebagai balasannya ….

kamu berpesta dengan teman-temanmu sampai pagi

Waktu kamu berumur 19 tahun,

dia membayar semua kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama …. sebagai balasannya …

kamu minta diturunkan jauh dari pintu gerbang biar nggak malu sama temen-temen.

Waktu kamu berumur 20 tahun,

dia bertanya “Darimana saja seharian ini?”… sebagai balasannya …

kamu menjawab “Ah, cerewet amat sih, pengen tahu urusan orang…..”

Waktu kamu berumur 21 tahun,

dia menyarankanmu satu pekerjaan bagus untuk karier masa depanmu … sebagai balasannya ….

kamu bilang “Aku nggak mau seperti kamu.”

Waktu kamu berumur 22 tahun,

dia memelukmu dan haru waktu kamu lulus perguruan tinggi .. sebagai balasanmu …. kamu nanya kapan kamu bisa main ke luar negeri

Waktu kamu berumur 23 tahun,

dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu … sebagai balasannya …

kamu ceritain ke temanmu betapa jeleknya furniture itu

Waktu kamu berumur 24 tahun,

dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencana di masa depan … sebagai balasannya … kamu mengeluh

“Aduh gimana sih kok bertanya seperti itu.”

Waktu kamu berumur 25 tahun,

dia membantumu membiayai pernikahanmu, sebagai balasannya … kamu pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Waktu kamu berumur 30 tahun,

dia memberimu nasehat bagaimana merawat bayimu … sebagai balasannya …. kamu katakan “Sekarang jamannya sudah beda.”

Waktu kamu berumur 40 tahun ,

dia menelponmu untuk memberitahu pesta salah satu saudara dekatmu ..

sebagai balasannya kamu jawab “Aku sibuk sekali, nggak ada waktu.”

Waktu kamu berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu …. sebagai balasannya ….. kamu baca tentang pengaruh negatif orang tua yang numpang tinggal di rumah anaknya dan hingga SUATU HARI, dia meninggal dengan tenang … dan tiba-tiba kamu teringat semua yang belum pernah kamu lakukan, … dan itu menghantam HATIMU bagaikan pukulan godam.

MAKA …

JIKA ORANGTUAMU MASIH ADA …

BERIKANLAH KASIH SAYANG DAN PERHATIAN

LEBIH DARI YANG PERNAH KAMU BERIKAN SELAMA INI .

JIKA ORA NG TUAMU SUDAH TIADA …

INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TELAH DIBERIKAN DENGAN TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU

Ini adalah mengenai nilai kasih ibu dari seorang anak

yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur.

Kemudian dia mengulurkan sesobek kertas yang

bertulis sesuatu. Si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima

kertas yang diulurkan oleh si anak dan membacanya..

Ongkos upah membantu ibu:

1) Membantu pergi ke warung Rp20.000

2) Menjaga adik Rp20.000

3) Membuang sampah Rp 5.000

4) Membereskan tempat tidur Rp10.000

5) Menyiram bunga Rp15.000

6) Menyapu halaman Rp15.000

Jumlah : Rp85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak

yang raut mukanya berbinar-binar.

Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama…..

1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan - GRATIS

2) Ongkos berjaga malam karena menjagamu - GRATIS

3) Ongkos air mata yang menetes karenamu - GRATIS

4) Ongkos khawatir kerana selalu memikirkan keadaanmu – GRATIS

5) Ongkos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu – GRATIS

6) Ongkos mencuci pakaian, gelas, piring dan keperluanmu – GRATIS

Jumlah keseluruhan nilai kasihku – GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca.

Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “Saya Sayang Ibu”.

Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu didepan surat yang

ditulisnya: “Telah dibayar” .

God Bless my Mother, Mother I Love You

Sr. Maria Goreti Safe, FdCC