Permasalahan Pengajaran Sastra
di Indonesia
1. Pendahuluan
1. 1 Latar Belakang
Situasi pengajaran sastra di sekolah saat ini tidak hanya memprihatinkan, tapi sudah pada taraf “mengerikan”. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra rendah (Mukhlis A. Hamid, M.S. : 1996). Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra “diomprengkan” pada pengajaran bahasa. Pengajaran sastra memang perlu dibenahi secara menyeluruh. Banyak masalah-masalah yang seharusnya tidak muncul dalam pengajaran sastra di sekolah.
Masalah pertama yaitu tingkat kemampuan guru yang masih perlu diperbaiki. Banyak sekali guru sastra yang kurang memahami apa yang diminati oleh siswanya, sehingga ia tidak mampu memberikan penyajian yang menarik dalam pengajaran sastra. Seorang guru sastra seharusnya mempunyai semangat yang berhubungan dengan pengajarannya (DR. Yus Rusyana: 1982). Guru sastra hendaknya juga menyadari bahwa mengajarkan sastra itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengajarkan sikap terhadap nilai-nilai.
Permasalahan kedua yaitu metode pengajarannya. Selama ini, pengajaran kesusastraan di sekolah hanya menekankan bentuk hafalan. Menurut Setya Yuwana Sudikan dalam tulisannya yang berjudul ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)” dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra ”Gatra”, kegiatan menghafal yang banyak dilakukan adalah menghafal nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, maupun menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia, yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada ujian akhir maupun pada kuis-kuis yang diadakan. Hal ini tentu saja mengingkari dan mengkhianati hakikat sastra yang sesungguhnya. Pengajaran sastra hendaknnya lebih bersifat apresiatif. Keaktifan siswa seharunya lebih ditingkatkan dari yang semula lebih “dikuasai” oleh para guru dan pada gilirannya kini “dibebankan” kepada para siswa.
Ketiga, yaitu ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah. Hal ini tentu saja menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Dalam kurikulum yang sudah disempurnakan saat ini pun materi ajar sastra masih terintegrasi dengan materi kebahasaan. Pelajaran khusus yang bernama “sastra” tidak ada, yang ada hanyalah pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru sastra maupun piahka sekolah seharusnya pandai-pandai memanfaatkan semua media yang ada dalam pengajaran sastra.
Berbagai permasalahan yang telah penulis ungkapkan di atas, sedikit banyak tentu saja mempengaruhi minat belajar sastra siswa. Faktor minat belajar memang merupakan masalah lain yang sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Masalah minat ini sangat personal sifatnya sehingga pola penanganannya pun sangat bervariasi.
Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.
1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dua rumusan masalah yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut: (i) Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia; (ii) Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa
2. Kajian Pustaka
Berbagai permasalahan yang ada dalam pengajran sastra jangalah membuat kita semakin ciut. Masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengatasinya. Banyak ahli yang telah meneliti tentang hal ini. Wahyudi (2007) menyatakan bahwa salah satu masalah dalam pembelajaran sastra adalah pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Masih berkaitan dengan anggapan tersebut di atas Tajuddin Noor Ganie (1998) menyatakan bahwa tidak jarang guru yang ditugaskan sebagai pengajar mata pelajaran bahasa dan sastra merangkap tugas sebagai pengajar mata pelajaran lain yang saling berbeda disiplin ilmunya di berbagai sekolah yang berbeda pula. M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajaran Sastra” dalam buku yang berjudul “Sastra Masuk Sekolah” juga mengatakan bahwa tudingan tentang rendahnya mutu pengajran sastra di sekolah diarahkan kepada guru.
Dalam hal ini, Suharianto (1992:
menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajaran apresiasi sastra.
Sejalan dengan pendapat Suharianto, M. Atar Semi juga mengatakan bahwa banyak pecinta sastra, bahkan kalanngan sastrawan meneriakkan bahwa peningkatan kualitas pengajran sastra di sekolah mestilah mengadakan guru sastra khusus, atau guru spesialis sastra, tidak lagi seperti sekarang, dirangkap oleh guru bahasa Indonesia. Maka, siap atau tidak siap, yang segera harus dilakukan adalah memperkaya atau juga menyadarkan para guru akan posisi strategis mereka sehingga sekiranya ada yang memang “tersesat” selama ini, dapat dan mampu menata atau berbenah.
Permasalahan sastra yang kedua yaitu metode pengajarannya. Dalam mencapai tujuan pengajran di dalam kelas, kita perlu mempergunakan berbagai cara atau metode. Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra dapat ditempuh dengan cara-cara antara lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
b. Siswa membaca
c. Siswa menonton pementasan drama
d. Siswa bertukar pengalaman
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
f. Siswa membaca nyaring
g. Siswa mengarang
h. Siswa memainkan peranan
Ketersediaan buku-buku penunjang atau buku paket sangatlah penting dalam proses pembelajaran. “Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Namun lain halnya dengan pendapat M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajran Sastra” yang mengatakan bahwa buku penunjang sastra dalam bentuk buku teks untuk peserta didik tidak perlu. Teori-teori dasar tentang sastra dapat dijelaskan oleh guru di depan kelas secara klasikal.
Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami semua permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya, maka penulis akan mencoba menguraikannya di dalm bagian pembahasan.
3. Pembahasan
3. 1 Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia ?
Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, banyak hal yang harus kita benahi. Hal pertama yang agaknya sangat perlu kita sadari adalah bahwa ditilik dari kualitas dan kuantitas guru di Indonesia dapat dikatakan memang sangat rendah. Adanya anggapan pelajaran bahasa dan sastra di tanah air kita adalah pelajaran yang kurang begitu penting, yang manfaatnya masih diragukan dalam kehidupan keseharian ini, maka tugas mengajar untuk mata pelajaran bahasa dan sastra ini tidak jarang diserahkan kepada guru yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat secara kualititatif. Dalam hal ini guru yang bersangkutan tidak mempunyai kapasitas atau latar belakang pendidikan bahasa dan sastra [sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia]. Kalaupun ia adalah seorang sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di LPTK sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Bagaimana mungkin, guru yang pengetahuan dan kemampuan dasar kesastraannya sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa Namun hal ini bukanlah suatu penghalang, banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru sastra. Pertama, secara kita harus menyadarkan diri sendiri bahwa kita secara sadar sudah memilih profesi guru sebagai pekerjaan. Sebagai seorang guru seharusnya kita mengetahui sedikit lebih banyak daripada murid atau subjek ajar. Penyadaran diri ini memacu kita untuk menambah wawasan dan keterampilan dalam bidang yang kita ajarkan secara otodidak. Kedua, kita hanya berperan sebagai organisator dan fasilitator dalam pembelajaran.
Menurut Rusyana (19082, 9-10) seorang guru sastra haruslah mempunyai semangat, mempunyai kecintaan pribadi terhadap sastra, sastra seharusnya menjadi sumber kenikmatannya. Selain itu, guru sastra haruslah rajin membaca karya sastra dan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang sastra. Suharianto (1992:
menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajran apresiasi sastra.
Tujuan pengajaran sastra yang sebenarnya bisa tercapai dengan berbagai cara atau metode. Dalam melaksanakan pengajaran, guru hendaknya memilih cara yang sesuai dengan tujuan, bahan, keadaan siswa, dan suasana kelas (DR. Yus Rusyana, 1982: 17). Guru harus kreatif dan memiliki inisiatif yang tinggi untuk menentukan cara dan metode penggajarannya. faktor penggunaan metode penyajian sastra di sekolah erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat belajar pada siswa.
Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra untuk memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi dapat ditempuh dengan cara-cara anatar lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
Seorang guru yang pandai bercerita, biasanya akan disenangi siswa-siswanya. Dari kegiatan bercerita itu, secara tidak langsung akan terjalin hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Hubungan ini nantinya akan sangat berharga sekali dalam pendidikan Mengingat kegiatan bercerita ini sangat baik untuk pengajaran sastra maupun pendidikan yang lebih luas, maka kegiatan bercerita ini seharusnya mendapat perhatian yang besar dari guru. Guru harus mempersiapkan banyak cerita dan cara dalam penyamapaiannya.
b. Siswa membaca
Siswa hendaknya didorong bukan saja agar senang membaca di sekolah, tetapi juga di rumah. Meningkatkan minat baca siswa sebenarnya tidaklah sukar, yang harus kita lakukan hanyalah menyediakan bahan untuk mereka baca, memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat-lihat bacaan itu, dan kemudian memilihnya sesuai dengan minat mereka sendiri. Sebagai guru sastra, kita bukan saja harus senang membaca hasil sastra, tetapi juga buku anak-anak.
c. Siswa menonton pementasan drama
Menonton drama merupakan suatu kegiatan yang menggembirakan bagi anak. Sekolah bisa saja mengaakan pagelaran, misalnya pementasan sebuah drama secara sederhana di kelas, atau pementasan drama pada akhir tahun, atau hari pendidikan, dan hari kemerdekaan. Kegiatan menonton pementasan drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh kenikmatan. Hal itu tentu saja berguna bagi kepentingan pengajaran sastra. Mereka nantinnya kan tertarik pula untuk mengetahuinya lebih lanjut.
d. Siswa bertukar pengalaman
Setelah siswa mendengarkan cerita, puisi, mnyaksikan pementasan drama, atau setelah mereka membaca, dengan bimbingan guru, mereka dapat saja memperbincangkannya. Hal-hal yang dibicarakan adalah soal penikmatan. Cara-cara menyampaiakn pengalaman itu tidak terbatas dengan kata-kata saja. siswa bisa saja membuat lukisan, karikatur tentang peristiwa yang terjadi.
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
Kesenangan bercerita siswa juga bisa dimanfaatkan untuk pengajaran sastra. Setelah membaca, atau mendengar bermacam-macam cerita, baik lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka tentu mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan. Semuanya itu tentu saja bisa digunakan sebagai bahan bercerita.
Dalam kegiatan bercerita, siswa hendaknya bukan saja menikmati isi yang disampaikannya, tetapi juga menikmati cara menyampaikannya. Guru harus menngusahakan adanya suasana yang menyenangkan, sehingga siswa merasa leluasa untuk berbicara, dan pembicaraannya tidak kaku.
Jika kegiatan bercerita macet, guru bisa mendorongnya dengan mengajukan pertanyaan yang merangsang imajinasi mereka. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru, diharapkan imajinasi anak akan tergugah. Ia bisa memperkaya pembicaraan denga fikiran, perasaan, khayal, kehendak, dll, sehingga ia bisa terlepas dari kekakuan pembicaraan.
f. Siswa membaca nyaring
Siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk membaca dengan ekspresinya sendiri. Bila ada ekspresi yang menurut guru kurang tepat, guru hendaknya membetulakan kesalahan tersebut dengan jalan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggugah dan mengarahkan. Setelah itu, siswa diberi kesempatan untuk mencoba membacanya lagi. Guru tdak perlu memberi contoh dan kemudian anak menirukannya. Guru harus berusaha agar siswa dapat mengekspresikan pengalamannya dengan pembacaannya.
g. Siswa mengarang
Kemampuan mengemukakan sesuatu secara tertulis penting kedudukannya dalam kehidupan kita sekarang. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk dapat mengungkapkan dirinya secara tertulis. Dalam kegiatan ini, yang terpennting adalah mereka mengungkapkan pikiran, perasaannya, khayalnya dengan lancar dan hidup.
Peranan guru dalam mendorong kegiatan siswa sangatlah besar. Guru harus bisa menggugah keinginan dan keberanian murid untuk mengarang. Guru harus pula menunjukkan perhatian dan penghargaan terhadap karangan siswa. Guru bisa saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa berhubungan dengan karangannya, hal ini dilakukan untuk merangsang pengembangan daya batin siswa. Kegiatan karang-mengarang ini bisa kita hubungkan dengan kegiatan lain, seperti mendengarkan, membaca, dan menonton pementasan.
h. Siswa memainkan peranan
Kegitaan ekspresi sastra dapat pula dilakukan oleh siswa dengan memerankan pelaku cerita. Kegiatan membawakan peranan ini sangt bermanfaat, bukan saja untuk keperluan ekspresi, tetapi juga untuk memberikan pengalaman cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Pementasan dapat dilakukan di dalam kelas atau di panggung.
Kedelapan cara untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi di atas tampak sekali bahwa siswa menjadi pelaku yang aktif dalam proses belajar. Hal tersebuit hendaknya menjadi peganngan guru, karena kegiatan siswa dalam pelajarannya sangtlah berfaedah dan membuat pelajaran terlaksana secara efektif. Pengalaman siswa membaca cerita, puisi, drama, atau pengalaman mereka mengarang atau berpentas, dapat digunakan sebagai dasar untuk beroleh pengetahuan tentang sastra.
Untuk mencapai tujuan memperoleh pengetahuan pun, hendaknya guru melibatkan kegiatan siswa. Tentu saja jika memang diperlukan, guru dapat menerangkan dengan cara memberikan ceramah, walaupun hanya sederhana. Setelah itu diadakan tanya jawab.
Kegiatan-kegiatan untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi yang telah dikemukakan di atas pun merupakan usaha usaha untuk menanamkan sikap yang baik terhadap sastra. Siswa dibawa menggemari sastra dan menjadilkan sastra sebagai bagian dari kehidupan mereka.
“Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Ketersediaan buku-buku sastra yang diperlukan di perpustakaan sekolah sebenarnya harus menjadi syarat minimal. Hasan Alwi dalam tulisannya yang berjudul ”Sastra dan Tingkat Keberaksaraan” dalam buku yang berjudul ”Sastra Masuk Sekolah” mengatakan bahwa apresiasi dan pemahaman siswa terhadap sastra akan terasa sangat gersang dan miskin karena mereka hanya mengandalkan bahan yang diberikan guru.
Kendala ketiadaan buku dan bahan penunjang pembelajaran yang dikeluhkan selama ini sebenarnya dapat ditanggulangi melalui beberapa cara. Pertama, pemanfaatan media massa tercetak, seperti koran harian, mingguan, tabloid, dan majalah yang memuat karya sastra. Sekolah dapat berlangganan secara rutin koran atau majalah tertentu sesuai dengan kemampuan dana sekolah. Bila tidak memungkinkan, guru atau pihak sekolah membeli koran atau majalah tertentu pada hari, minggu, atau bulan tertentu sesuai dengan keperluan. Bila hal ini juga tidak memungkinkan, guru menugasi siswa untuk mencari secara personal atau kelompok teks sastra yang dipublikasikan di media cetak sesuai dengan topik yang diajarkan.
Cara lain yang dapat digunakan ialah pemanfaatan berbagai media yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, guru meminta siswa untuk membuat rekaman (kaset atau tertulis) sastra yang ada dalam masyarakat di sekitarnya. Hasil rekaman inilah yang dibawa dan dibicarakan di sekolah. Di samping itu, pemanfaatan media elektronik daerah dan nasional (milik pemerintah atau swasta) yang pada hari dan saat tertentu menayangkan ragam sastra tertentu untuk dinikmati oleh pemirsa. Pembacaan puisi, musikalisasi puisi, drama, dan sebagainya yang ditayangkan di radio dan televisi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa melalui pemberian tugas secara personal ataupun kelompok.
3. 2 Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa ?
DR. Yus Rusyana (1982) dalam bukunya yanng berjudul “Metode Pengajaran Satra” menyatakan bahwa pengajaran sastra termasuk ke dalam pengajaran yang sudah tua umurnya, dan hingga sekarang tetap bertahan dalam kuirikulum pengajaran di sekolah. Hal ini tentu saja disebabkan oleh nilai pengajaran sastra untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran sastra mempunyai peranan dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti aspek pendidikan susila, sosial, perasaan, sika penilaian, dan keagaman.
Drs. Rizanur Gani dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Sastra Indonesia Respon dan Analisis” memaparkan bahwa peranan pendidikan sastra menjadi lebih dari sekedar pengisian kepala siswa dengan setumpuk kebijaksanaan sastra dan sejarah budaya. Proses penddidikan ini menjelama menjadi upaya membantu pribadi pembaca meningkatkan kemampuannya terlibat dengan buku lebih sukses lagi.
Selain itu, banyak alasan lain mengapa pengajaran sastra penting sekali diberikan kiepada siswa, B. Rahmanto (1988) menyebutkan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:
a. membantu keterampilan berbahasa
Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih meningkatkan empat keterampilan berbahasa. Delam pengajaran sastra, siswa dapat melatih keterampilan menyimaknya dengan mendengarkan suatu karya yang dibacakan guru, teman, atau lewat rekaman. Siswa dapt melatih keterampilan berbicaranya dengan cara ikut berperan dalam suatu drama. Siswa dapat juga melatih keterampilan membacanya dnegan membacakan puisii atau cerita. Dan mendiskusikannya, kemudian menuliskan hasil diskusinya.
b. meningkatkan pengetahuan budaya
Sastra tidak seperti halnya ilmu kimia dan sejarah yang menyajikan ilmu pengatahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam denngan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan ‘sesuatu’ dan kerap menyajikan banyak hal yang bila dihayati dengan benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya.
c. mengembangkan cipta dan rasa
Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, dan sosial, serta religius. Karya sastra dapat memberi peluang untuk menigkatkan kecakapan-kecakapan semacam itu. Pengajaran sastra yang dilakukan denga benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembanngkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain.
d. menunjang pembentukan watak
Dibandingkan pelajaran-pelajran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengena seluruh rangkaian kemungkinan hidup menusia, seperti: kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri sampai pada kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian, dan kematian. Selain itu, pengjaran sastra juga dapat memberikan bantuan dalam usaha pengembanngan berbagai kualitas kepribadian siswa yang meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.
Dari berbagai penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pengjaran sastra memang benar-benar sangt penting bagi siswa didik kita. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana.
4. Penutup
Itulah gambaran sepintas terhadap kondisi sastra dan pengajaran sastra Indonesia hingga hari ini. Tampaknya masih banyak yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal tidak lagi sarat dengan berbagai masalah pada masa yang akan datang. Bila guru sastra (dan bahasa) Indonesia masih tetap berdiam diri dan hanya duduk mengurut dada, kondisi tersebut akan terus berlanjut pada hari-hari yang akan datang.
Penulisan makalah ini bertujuan mengajak kita untuk kembali memperbaharui niat, menumbuhkan tekad, dan bersiap untuk kembali membenahi pengajaran sastra Indonesia di sekolah. Memang ada di antara kita yang terlanjur menjadi guru dan terlanjur pula memilih menjadi guru bahasa Indonesia. Namun, keterlanjuran itu harus kita nikmati sampai hari-hari yang akan datang. Karenanya, saat ini kita harus memilih: tetap menjadi guru sastra atau beralih ke bidang lain yang mungkin jauh lebih mudah dan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cemerlang. Bila kita tetap memilih menjadi guru sastra Indonesia, mulai sekarang kita harus bertekad membuka diri, menambah wawasan, dan berusaha menjadi guru yang ditunggu-tunggu oleh para siswa.
Sebagai calon guru sastra (dan bahasa) pada masa yang akan datang seharusnya kita punya kemampuan yang lebih baik daripada pendahulu kita. Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada dan ditawarkan dalam pembelajaran sastra saat ini hendaknya dimanfaatkan secara maksimal. Bila perlu, kegiatan lain yang berkait dengan kesastraan yang dilaksanakan di luar kampus kita ikuti untuk menambah bekal ilmu dan bekal keterampilan yang kita butuhkan nanti saat menjadi guru. Semoga ulasan ini menggugah kita semua dalam usaha peningkatan kualitas pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal.
Daftar Pustaka
A. Hamid, Mukhlis. 1996. ”Antara Harapan dan Kenyataan”. diakses di http://gemasastrin.wordpress.com/2007/04/20/pengajaran-sastra-indonesia-di-sekolah/
Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.
Ganie, Tajuddin Noor . 1998. Problema Pengajaran Sastra di Sekolah. diakses di http://www.indomedia.com/BPost/9807/29/opini/opini1.htm
Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.
Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.
Sarumpaet, Riris K. Toha (ed.). 2002. Sastra M asuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.
Sudikan, Setya Yuwana. 2006, No 31 Th XXII Juli. ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran). ”Gatra”, hlm. 69.
Wahyudi, Ibnu. 2007. “Menyiasati Kurikulum Pelajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Kiat untuk Mafhum dan Berbenah”. diakses di http://johnherf.wordpress.com/2007/02/07/bahasa-dan-sastra-indonesia-di