Arsip untuk ‘Sastra’ Kategori

Sastra

April 24, 2009

Permasalahan Pengajaran Sastra
di Indonesia

1. Pendahuluan

1. 1 Latar Belakang
Situasi pengajaran sastra di sekolah saat ini tidak hanya memprihatinkan, tapi sudah pada taraf “mengerikan”. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra rendah (Mukhlis A. Hamid, M.S. : 1996). Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra “diomprengkan” pada pengajaran bahasa. Pengajaran sastra memang perlu dibenahi secara menyeluruh. Banyak masalah-masalah yang seharusnya tidak muncul dalam pengajaran sastra di sekolah.
Masalah pertama yaitu tingkat kemampuan guru yang masih perlu diperbaiki. Banyak sekali guru sastra yang kurang memahami apa yang diminati oleh siswanya, sehingga ia tidak mampu memberikan penyajian yang menarik dalam pengajaran sastra. Seorang guru sastra seharusnya mempunyai semangat yang berhubungan dengan pengajarannya (DR. Yus Rusyana: 1982). Guru sastra hendaknya juga menyadari bahwa mengajarkan sastra itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengajarkan sikap terhadap nilai-nilai.
Permasalahan kedua yaitu metode pengajarannya. Selama ini, pengajaran kesusastraan di sekolah hanya menekankan bentuk hafalan. Menurut Setya Yuwana Sudikan dalam tulisannya yang berjudul ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)” dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra ”Gatra”, kegiatan menghafal yang banyak dilakukan adalah menghafal nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, maupun menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia, yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada ujian akhir maupun pada kuis-kuis yang diadakan. Hal ini tentu saja mengingkari dan mengkhianati hakikat sastra yang sesungguhnya. Pengajaran sastra hendaknnya lebih bersifat apresiatif. Keaktifan siswa seharunya lebih ditingkatkan dari yang semula lebih “dikuasai” oleh para guru dan pada gilirannya kini “dibebankan” kepada para siswa.
Ketiga, yaitu ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah. Hal ini tentu saja menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Dalam kurikulum yang sudah disempurnakan saat ini pun materi ajar sastra masih terintegrasi dengan materi kebahasaan. Pelajaran khusus yang bernama “sastra” tidak ada, yang ada hanyalah pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru sastra maupun piahka sekolah seharusnya pandai-pandai memanfaatkan semua media yang ada dalam pengajaran sastra.
Berbagai permasalahan yang telah penulis ungkapkan di atas, sedikit banyak tentu saja mempengaruhi minat belajar sastra siswa. Faktor minat belajar memang merupakan masalah lain yang sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Masalah minat ini sangat personal sifatnya sehingga pola penanganannya pun sangat bervariasi.
Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dua rumusan masalah yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut: (i) Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia; (ii) Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa

2. Kajian Pustaka
Berbagai permasalahan yang ada dalam pengajran sastra jangalah membuat kita semakin ciut. Masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengatasinya. Banyak ahli yang telah meneliti tentang hal ini. Wahyudi (2007) menyatakan bahwa salah satu masalah dalam pembelajaran sastra adalah pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Masih berkaitan dengan anggapan tersebut di atas Tajuddin Noor Ganie (1998) menyatakan bahwa tidak jarang guru yang ditugaskan sebagai pengajar mata pelajaran bahasa dan sastra merangkap tugas sebagai pengajar mata pelajaran lain yang saling berbeda disiplin ilmunya di berbagai sekolah yang berbeda pula. M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajaran Sastra” dalam buku yang berjudul “Sastra Masuk Sekolah” juga mengatakan bahwa tudingan tentang rendahnya mutu pengajran sastra di sekolah diarahkan kepada guru.
Dalam hal ini, Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajaran apresiasi sastra.
Sejalan dengan pendapat Suharianto, M. Atar Semi juga mengatakan bahwa banyak pecinta sastra, bahkan kalanngan sastrawan meneriakkan bahwa peningkatan kualitas pengajran sastra di sekolah mestilah mengadakan guru sastra khusus, atau guru spesialis sastra, tidak lagi seperti sekarang, dirangkap oleh guru bahasa Indonesia. Maka, siap atau tidak siap, yang segera harus dilakukan adalah memperkaya atau juga menyadarkan para guru akan posisi strategis mereka sehingga sekiranya ada yang memang “tersesat” selama ini, dapat dan mampu menata atau berbenah.
Permasalahan sastra yang kedua yaitu metode pengajarannya. Dalam mencapai tujuan pengajran di dalam kelas, kita perlu mempergunakan berbagai cara atau metode. Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra dapat ditempuh dengan cara-cara antara lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
b. Siswa membaca
c. Siswa menonton pementasan drama
d. Siswa bertukar pengalaman
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
f. Siswa membaca nyaring
g. Siswa mengarang
h. Siswa memainkan peranan
Ketersediaan buku-buku penunjang atau buku paket sangatlah penting dalam proses pembelajaran. “Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Namun lain halnya dengan pendapat M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajran Sastra” yang mengatakan bahwa buku penunjang sastra dalam bentuk buku teks untuk peserta didik tidak perlu. Teori-teori dasar tentang sastra dapat dijelaskan oleh guru di depan kelas secara klasikal.
Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami semua permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya, maka penulis akan mencoba menguraikannya di dalm bagian pembahasan.

3. Pembahasan

3. 1 Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia ?
Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, banyak hal yang harus kita benahi. Hal pertama yang agaknya sangat perlu kita sadari adalah bahwa ditilik dari kualitas dan kuantitas guru di Indonesia dapat dikatakan memang sangat rendah. Adanya anggapan pelajaran bahasa dan sastra di tanah air kita adalah pelajaran yang kurang begitu penting, yang manfaatnya masih diragukan dalam kehidupan keseharian ini, maka tugas mengajar untuk mata pelajaran bahasa dan sastra ini tidak jarang diserahkan kepada guru yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat secara kualititatif. Dalam hal ini guru yang bersangkutan tidak mempunyai kapasitas atau latar belakang pendidikan bahasa dan sastra [sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia]. Kalaupun ia adalah seorang sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di LPTK sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Bagaimana mungkin, guru yang pengetahuan dan kemampuan dasar kesastraannya sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa Namun hal ini bukanlah suatu penghalang, banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru sastra. Pertama, secara kita harus menyadarkan diri sendiri bahwa kita secara sadar sudah memilih profesi guru sebagai pekerjaan. Sebagai seorang guru seharusnya kita mengetahui sedikit lebih banyak daripada murid atau subjek ajar. Penyadaran diri ini memacu kita untuk menambah wawasan dan keterampilan dalam bidang yang kita ajarkan secara otodidak. Kedua, kita hanya berperan sebagai organisator dan fasilitator dalam pembelajaran.
Menurut Rusyana (19082, 9-10) seorang guru sastra haruslah mempunyai semangat, mempunyai kecintaan pribadi terhadap sastra, sastra seharusnya menjadi sumber kenikmatannya. Selain itu, guru sastra haruslah rajin membaca karya sastra dan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang sastra. Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajran apresiasi sastra.
Tujuan pengajaran sastra yang sebenarnya bisa tercapai dengan berbagai cara atau metode. Dalam melaksanakan pengajaran, guru hendaknya memilih cara yang sesuai dengan tujuan, bahan, keadaan siswa, dan suasana kelas (DR. Yus Rusyana, 1982: 17). Guru harus kreatif dan memiliki inisiatif yang tinggi untuk menentukan cara dan metode penggajarannya. faktor penggunaan metode penyajian sastra di sekolah erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat belajar pada siswa.
Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra untuk memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi dapat ditempuh dengan cara-cara anatar lain:
a. Siswa mendengarkan cerita
Seorang guru yang pandai bercerita, biasanya akan disenangi siswa-siswanya. Dari kegiatan bercerita itu, secara tidak langsung akan terjalin hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Hubungan ini nantinya akan sangat berharga sekali dalam pendidikan Mengingat kegiatan bercerita ini sangat baik untuk pengajaran sastra maupun pendidikan yang lebih luas, maka kegiatan bercerita ini seharusnya mendapat perhatian yang besar dari guru. Guru harus mempersiapkan banyak cerita dan cara dalam penyamapaiannya.
b. Siswa membaca
Siswa hendaknya didorong bukan saja agar senang membaca di sekolah, tetapi juga di rumah. Meningkatkan minat baca siswa sebenarnya tidaklah sukar, yang harus kita lakukan hanyalah menyediakan bahan untuk mereka baca, memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat-lihat bacaan itu, dan kemudian memilihnya sesuai dengan minat mereka sendiri. Sebagai guru sastra, kita bukan saja harus senang membaca hasil sastra, tetapi juga buku anak-anak.
c. Siswa menonton pementasan drama
Menonton drama merupakan suatu kegiatan yang menggembirakan bagi anak. Sekolah bisa saja mengaakan pagelaran, misalnya pementasan sebuah drama secara sederhana di kelas, atau pementasan drama pada akhir tahun, atau hari pendidikan, dan hari kemerdekaan. Kegiatan menonton pementasan drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh kenikmatan. Hal itu tentu saja berguna bagi kepentingan pengajaran sastra. Mereka nantinnya kan tertarik pula untuk mengetahuinya lebih lanjut.
d. Siswa bertukar pengalaman
Setelah siswa mendengarkan cerita, puisi, mnyaksikan pementasan drama, atau setelah mereka membaca, dengan bimbingan guru, mereka dapat saja memperbincangkannya. Hal-hal yang dibicarakan adalah soal penikmatan. Cara-cara menyampaiakn pengalaman itu tidak terbatas dengan kata-kata saja. siswa bisa saja membuat lukisan, karikatur tentang peristiwa yang terjadi.
e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi
Kesenangan bercerita siswa juga bisa dimanfaatkan untuk pengajaran sastra. Setelah membaca, atau mendengar bermacam-macam cerita, baik lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka tentu mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan. Semuanya itu tentu saja bisa digunakan sebagai bahan bercerita.
Dalam kegiatan bercerita, siswa hendaknya bukan saja menikmati isi yang disampaikannya, tetapi juga menikmati cara menyampaikannya. Guru harus menngusahakan adanya suasana yang menyenangkan, sehingga siswa merasa leluasa untuk berbicara, dan pembicaraannya tidak kaku.
Jika kegiatan bercerita macet, guru bisa mendorongnya dengan mengajukan pertanyaan yang merangsang imajinasi mereka. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru, diharapkan imajinasi anak akan tergugah. Ia bisa memperkaya pembicaraan denga fikiran, perasaan, khayal, kehendak, dll, sehingga ia bisa terlepas dari kekakuan pembicaraan.
f. Siswa membaca nyaring
Siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk membaca dengan ekspresinya sendiri. Bila ada ekspresi yang menurut guru kurang tepat, guru hendaknya membetulakan kesalahan tersebut dengan jalan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggugah dan mengarahkan. Setelah itu, siswa diberi kesempatan untuk mencoba membacanya lagi. Guru tdak perlu memberi contoh dan kemudian anak menirukannya. Guru harus berusaha agar siswa dapat mengekspresikan pengalamannya dengan pembacaannya.
g. Siswa mengarang
Kemampuan mengemukakan sesuatu secara tertulis penting kedudukannya dalam kehidupan kita sekarang. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk dapat mengungkapkan dirinya secara tertulis. Dalam kegiatan ini, yang terpennting adalah mereka mengungkapkan pikiran, perasaannya, khayalnya dengan lancar dan hidup.
Peranan guru dalam mendorong kegiatan siswa sangatlah besar. Guru harus bisa menggugah keinginan dan keberanian murid untuk mengarang. Guru harus pula menunjukkan perhatian dan penghargaan terhadap karangan siswa. Guru bisa saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa berhubungan dengan karangannya, hal ini dilakukan untuk merangsang pengembangan daya batin siswa. Kegiatan karang-mengarang ini bisa kita hubungkan dengan kegiatan lain, seperti mendengarkan, membaca, dan menonton pementasan.
h. Siswa memainkan peranan
Kegitaan ekspresi sastra dapat pula dilakukan oleh siswa dengan memerankan pelaku cerita. Kegiatan membawakan peranan ini sangt bermanfaat, bukan saja untuk keperluan ekspresi, tetapi juga untuk memberikan pengalaman cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Pementasan dapat dilakukan di dalam kelas atau di panggung.

Kedelapan cara untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi di atas tampak sekali bahwa siswa menjadi pelaku yang aktif dalam proses belajar. Hal tersebuit hendaknya menjadi peganngan guru, karena kegiatan siswa dalam pelajarannya sangtlah berfaedah dan membuat pelajaran terlaksana secara efektif. Pengalaman siswa membaca cerita, puisi, drama, atau pengalaman mereka mengarang atau berpentas, dapat digunakan sebagai dasar untuk beroleh pengetahuan tentang sastra.
Untuk mencapai tujuan memperoleh pengetahuan pun, hendaknya guru melibatkan kegiatan siswa. Tentu saja jika memang diperlukan, guru dapat menerangkan dengan cara memberikan ceramah, walaupun hanya sederhana. Setelah itu diadakan tanya jawab.
Kegiatan-kegiatan untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi yang telah dikemukakan di atas pun merupakan usaha usaha untuk menanamkan sikap yang baik terhadap sastra. Siswa dibawa menggemari sastra dan menjadilkan sastra sebagai bagian dari kehidupan mereka.
“Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Ketersediaan buku-buku sastra yang diperlukan di perpustakaan sekolah sebenarnya harus menjadi syarat minimal. Hasan Alwi dalam tulisannya yang berjudul ”Sastra dan Tingkat Keberaksaraan” dalam buku yang berjudul ”Sastra Masuk Sekolah” mengatakan bahwa apresiasi dan pemahaman siswa terhadap sastra akan terasa sangat gersang dan miskin karena mereka hanya mengandalkan bahan yang diberikan guru.
Kendala ketiadaan buku dan bahan penunjang pembelajaran yang dikeluhkan selama ini sebenarnya dapat ditanggulangi melalui beberapa cara. Pertama, pemanfaatan media massa tercetak, seperti koran harian, mingguan, tabloid, dan majalah yang memuat karya sastra. Sekolah dapat berlangganan secara rutin koran atau majalah tertentu sesuai dengan kemampuan dana sekolah. Bila tidak memungkinkan, guru atau pihak sekolah membeli koran atau majalah tertentu pada hari, minggu, atau bulan tertentu sesuai dengan keperluan. Bila hal ini juga tidak memungkinkan, guru menugasi siswa untuk mencari secara personal atau kelompok teks sastra yang dipublikasikan di media cetak sesuai dengan topik yang diajarkan.
Cara lain yang dapat digunakan ialah pemanfaatan berbagai media yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, guru meminta siswa untuk membuat rekaman (kaset atau tertulis) sastra yang ada dalam masyarakat di sekitarnya. Hasil rekaman inilah yang dibawa dan dibicarakan di sekolah. Di samping itu, pemanfaatan media elektronik daerah dan nasional (milik pemerintah atau swasta) yang pada hari dan saat tertentu menayangkan ragam sastra tertentu untuk dinikmati oleh pemirsa. Pembacaan puisi, musikalisasi puisi, drama, dan sebagainya yang ditayangkan di radio dan televisi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa melalui pemberian tugas secara personal ataupun kelompok.

3. 2 Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa ?
DR. Yus Rusyana (1982) dalam bukunya yanng berjudul “Metode Pengajaran Satra” menyatakan bahwa pengajaran sastra termasuk ke dalam pengajaran yang sudah tua umurnya, dan hingga sekarang tetap bertahan dalam kuirikulum pengajaran di sekolah. Hal ini tentu saja disebabkan oleh nilai pengajaran sastra untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran sastra mempunyai peranan dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti aspek pendidikan susila, sosial, perasaan, sika penilaian, dan keagaman.
Drs. Rizanur Gani dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Sastra Indonesia Respon dan Analisis” memaparkan bahwa peranan pendidikan sastra menjadi lebih dari sekedar pengisian kepala siswa dengan setumpuk kebijaksanaan sastra dan sejarah budaya. Proses penddidikan ini menjelama menjadi upaya membantu pribadi pembaca meningkatkan kemampuannya terlibat dengan buku lebih sukses lagi.
Selain itu, banyak alasan lain mengapa pengajaran sastra penting sekali diberikan kiepada siswa, B. Rahmanto (1988) menyebutkan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:

a. membantu keterampilan berbahasa
Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih meningkatkan empat keterampilan berbahasa. Delam pengajaran sastra, siswa dapat melatih keterampilan menyimaknya dengan mendengarkan suatu karya yang dibacakan guru, teman, atau lewat rekaman. Siswa dapt melatih keterampilan berbicaranya dengan cara ikut berperan dalam suatu drama. Siswa dapat juga melatih keterampilan membacanya dnegan membacakan puisii atau cerita. Dan mendiskusikannya, kemudian menuliskan hasil diskusinya.
b. meningkatkan pengetahuan budaya
Sastra tidak seperti halnya ilmu kimia dan sejarah yang menyajikan ilmu pengatahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam denngan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan ‘sesuatu’ dan kerap menyajikan banyak hal yang bila dihayati dengan benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya.
c. mengembangkan cipta dan rasa
Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, dan sosial, serta religius. Karya sastra dapat memberi peluang untuk menigkatkan kecakapan-kecakapan semacam itu. Pengajaran sastra yang dilakukan denga benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembanngkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain.
d. menunjang pembentukan watak
Dibandingkan pelajaran-pelajran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengena seluruh rangkaian kemungkinan hidup menusia, seperti: kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri sampai pada kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian, dan kematian. Selain itu, pengjaran sastra juga dapat memberikan bantuan dalam usaha pengembanngan berbagai kualitas kepribadian siswa yang meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pengjaran sastra memang benar-benar sangt penting bagi siswa didik kita. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana.

4. Penutup
Itulah gambaran sepintas terhadap kondisi sastra dan pengajaran sastra Indonesia hingga hari ini. Tampaknya masih banyak yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal tidak lagi sarat dengan berbagai masalah pada masa yang akan datang. Bila guru sastra (dan bahasa) Indonesia masih tetap berdiam diri dan hanya duduk mengurut dada, kondisi tersebut akan terus berlanjut pada hari-hari yang akan datang.
Penulisan makalah ini bertujuan mengajak kita untuk kembali memperbaharui niat, menumbuhkan tekad, dan bersiap untuk kembali membenahi pengajaran sastra Indonesia di sekolah. Memang ada di antara kita yang terlanjur menjadi guru dan terlanjur pula memilih menjadi guru bahasa Indonesia. Namun, keterlanjuran itu harus kita nikmati sampai hari-hari yang akan datang. Karenanya, saat ini kita harus memilih: tetap menjadi guru sastra atau beralih ke bidang lain yang mungkin jauh lebih mudah dan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cemerlang. Bila kita tetap memilih menjadi guru sastra Indonesia, mulai sekarang kita harus bertekad membuka diri, menambah wawasan, dan berusaha menjadi guru yang ditunggu-tunggu oleh para siswa.
Sebagai calon guru sastra (dan bahasa) pada masa yang akan datang seharusnya kita punya kemampuan yang lebih baik daripada pendahulu kita. Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada dan ditawarkan dalam pembelajaran sastra saat ini hendaknya dimanfaatkan secara maksimal. Bila perlu, kegiatan lain yang berkait dengan kesastraan yang dilaksanakan di luar kampus kita ikuti untuk menambah bekal ilmu dan bekal keterampilan yang kita butuhkan nanti saat menjadi guru. Semoga ulasan ini menggugah kita semua dalam usaha peningkatan kualitas pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal.

Daftar Pustaka

A. Hamid, Mukhlis. 1996. ”Antara Harapan dan Kenyataan”. diakses di http://gemasastrin.wordpress.com/2007/04/20/pengajaran-sastra-indonesia-di-sekolah/

Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.

Ganie, Tajuddin Noor . 1998. Problema Pengajaran Sastra di Sekolah. diakses di http://www.indomedia.com/BPost/9807/29/opini/opini1.htm

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Sarumpaet, Riris K. Toha (ed.). 2002. Sastra M asuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.

Sudikan, Setya Yuwana. 2006, No 31 Th XXII Juli. ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran). ”Gatra”, hlm. 69.

Wahyudi, Ibnu. 2007. “Menyiasati Kurikulum Pelajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Kiat untuk Mafhum dan Berbenah”. diakses di http://johnherf.wordpress.com/2007/02/07/bahasa-dan-sastra-indonesia-di

SASTRA

April 16, 2009

Permasalahan Pengajaran Sastra

di Indonesia

1. Pendahuluan

1. 1 Latar Belakang

Situasi pengajaran sastra di sekolah saat ini tidak hanya memprihatinkan, tapi sudah pada taraf “mengerikan”. Pengajaran bahasa dan sastra Indonesia selama ini sering diaggap kurang penting dan dianaktirikan oleh para guru, apalagi guru yang pengetahuan dan apresiasi sastra rendah (Mukhlis A. Hamid, M.S. : 1996). Seperti dikatakan Boen S. Oemarjati, sastra “diomprengkan” pada pengajaran bahasa. Pengajaran sastra memang perlu dibenahi secara menyeluruh. Banyak masalah-masalah yang seharusnya tidak muncul dalam pengajaran sastra di sekolah.

Masalah pertama yaitu tingkat kemampuan guru yang masih perlu diperbaiki. Banyak sekali guru sastra yang kurang memahami apa yang diminati oleh siswanya, sehingga ia tidak mampu memberikan penyajian yang menarik dalam pengajaran sastra. Seorang guru sastra seharusnya mempunyai semangat yang berhubungan dengan pengajarannya (DR. Yus Rusyana: 1982). Guru sastra hendaknya juga menyadari bahwa mengajarkan sastra itu bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi mengajarkan sikap terhadap nilai-nilai.

Permasalahan kedua yaitu metode pengajarannya. Selama ini, pengajaran kesusastraan di sekolah hanya menekankan bentuk hafalan. Menurut Setya Yuwana Sudikan dalam tulisannya yang berjudul ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran)” dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra ”Gatra”, kegiatan menghafal yang banyak dilakukan adalah menghafal nama-nama para sastrawan, menghafal peristiwa atau kejadian yang berhubungan dengan kegiatan sastra atau peristiwa sastra, maupun menghafal contoh-contoh soal terdahulu dengan jawaban yang tersedia, yang semata-mata hanya untuk memperoleh nilai bagus pada ujian akhir maupun pada kuis-kuis yang diadakan. Hal ini tentu saja mengingkari dan mengkhianati hakikat sastra yang sesungguhnya. Pengajaran sastra hendaknnya lebih bersifat apresiatif. Keaktifan siswa seharunya lebih ditingkatkan dari yang semula lebih “dikuasai” oleh para guru dan pada gilirannya kini “dibebankan” kepada para siswa.

Ketiga, yaitu ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah. Hal ini tentu saja menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Dalam kurikulum yang sudah disempurnakan saat ini pun materi ajar sastra masih terintegrasi dengan materi kebahasaan. Pelajaran khusus yang bernama “sastra” tidak ada, yang ada hanyalah pelajaran Bahasa Indonesia atau pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Guru sastra maupun piahka sekolah seharusnya pandai-pandai memanfaatkan semua media yang ada dalam pengajaran sastra.

Berbagai permasalahan yang telah penulis ungkapkan di atas, sedikit banyak tentu saja mempengaruhi minat belajar sastra siswa. Faktor minat belajar memang merupakan masalah lain yang sangat mempengaruhi efektivitas pencapaian tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Masalah minat ini sangat personal sifatnya sehingga pola penanganannya pun sangat bervariasi.

Makalah ini mencoba mengulas beberapa hal yang berkait dengan realitas sastra Indonesia saat ini, dampaknya terhadap pengajaran, serta alternatif jalan keluarnya. Ulasan ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran kita untuk menempatkan pengajaran sastra Indonesia pada tempat yang layak dan sejajar dengan mata ajar lainnya.

  1. 2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dua rumusan masalah yang akan dikemukakan adalah sebagai berikut: (i) Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia; (ii) Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa

2. Kajian Pustaka

Berbagai permasalahan yang ada dalam pengajran sastra jangalah membuat kita semakin ciut. Masih banyak cara yang bisa kita tempuh untuk mengatasinya. Banyak ahli yang telah meneliti tentang hal ini. Wahyudi (2007) menyatakan bahwa salah satu masalah dalam pembelajaran sastra adalah pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Masih berkaitan dengan anggapan tersebut di atas Tajuddin Noor Ganie (1998) menyatakan bahwa tidak jarang guru yang ditugaskan sebagai pengajar mata pelajaran bahasa dan sastra merangkap tugas sebagai pengajar mata pelajaran lain yang saling berbeda disiplin ilmunya di berbagai sekolah yang berbeda pula. M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajaran Sastra” dalam buku yang berjudul “Sastra Masuk Sekolah” juga mengatakan bahwa tudingan tentang rendahnya mutu pengajran sastra di sekolah diarahkan kepada guru.

Dalam hal ini, Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajaran apresiasi sastra.

Sejalan dengan pendapat Suharianto, M. Atar Semi juga mengatakan bahwa banyak pecinta sastra, bahkan kalanngan sastrawan meneriakkan bahwa peningkatan kualitas pengajran sastra di sekolah mestilah mengadakan guru sastra khusus, atau guru spesialis sastra, tidak lagi seperti sekarang, dirangkap oleh guru bahasa Indonesia. Maka, siap atau tidak siap, yang segera harus dilakukan adalah memperkaya atau juga menyadarkan para guru akan posisi strategis mereka sehingga sekiranya ada yang memang “tersesat” selama ini, dapat dan mampu menata atau berbenah.

Permasalahan sastra yang kedua yaitu metode pengajarannya. Dalam mencapai tujuan pengajran di dalam kelas, kita perlu mempergunakan berbagai cara atau metode. Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra dapat ditempuh dengan cara-cara antara lain:

a. Siswa mendengarkan cerita

b. Siswa membaca

c. Siswa menonton pementasan drama

d. Siswa bertukar pengalaman

e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi

f. Siswa membaca nyaring

g. Siswa mengarang

h. Siswa memainkan peranan

Ketersediaan buku-buku penunjang atau buku paket sangatlah penting dalam proses pembelajaran. “Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Namun lain halnya dengan pendapat M. Atar Semi dalam tulisannya yang berjudul “ Buku Pendukung Pengajran Sastra” yang mengatakan bahwa buku penunjang sastra dalam bentuk buku teks untuk peserta didik tidak perlu. Teori-teori dasar tentang sastra dapat dijelaskan oleh guru di depan kelas secara klasikal.

Untuk lebih dapat mengetahui dan memahami semua permasalahan dan bagaimana cara mengatasinya, maka penulis akan mencoba menguraikannya di dalm bagian pembahasan.

3. Pembahasan

3. 1 Bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan dalam pengajaran sastra di Indonesia ?

Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Untuk itu, banyak hal yang harus kita benahi. Hal pertama yang agaknya sangat perlu kita sadari adalah bahwa ditilik dari kualitas dan kuantitas guru di Indonesia dapat dikatakan memang sangat rendah. Adanya anggapan pelajaran bahasa dan sastra di tanah air kita adalah pelajaran yang kurang begitu penting, yang manfaatnya masih diragukan dalam kehidupan keseharian ini, maka tugas mengajar untuk mata pelajaran bahasa dan sastra ini tidak jarang diserahkan kepada guru yang sesungguhnya tidak memenuhi syarat secara kualititatif. Dalam hal ini guru yang bersangkutan tidak mempunyai kapasitas atau latar belakang pendidikan bahasa dan sastra [sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia]. Kalaupun ia adalah seorang sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, materi kesastraan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan formal di LPTK sangat terbatas. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Bagaimana mungkin, guru yang pengetahuan dan kemampuan dasar kesastraannya sangat terbatas diminta untuk mengajar siswa Namun hal ini bukanlah suatu penghalang, banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas guru sastra. Pertama, secara kita harus menyadarkan diri sendiri bahwa kita secara sadar sudah memilih profesi guru sebagai pekerjaan. Sebagai seorang guru seharusnya kita mengetahui sedikit lebih banyak daripada murid atau subjek ajar. Penyadaran diri ini memacu kita untuk menambah wawasan dan keterampilan dalam bidang yang kita ajarkan secara otodidak. Kedua, kita hanya berperan sebagai organisator dan fasilitator dalam pembelajaran.

Menurut Rusyana (19082, 9-10) seorang guru sastra haruslah mempunyai semangat, mempunyai kecintaan pribadi terhadap sastra, sastra seharusnya menjadi sumber kenikmatannya. Selain itu, guru sastra haruslah rajin membaca karya sastra dan mengikuti perkembangan pengetahuan tentang sastra. Suharianto (1992: 8) menyarankan agar IKIP/FKIP sebagia lembaga produksi guru harus menghasilkan guru sastra yang memenuhi kriteria: mempunyai minat yang baik terhadap sastra, memiliki pengetahuan yang memadai tentang sastra, memiliki kemampuan mengapresiasi karya sastra yang memadai, memahami hakikat tujuan pengajaran apresiasi sastra, dan menguasai metode pengajran apresiasi sastra.

Tujuan pengajaran sastra yang sebenarnya bisa tercapai dengan berbagai cara atau metode. Dalam melaksanakan pengajaran, guru hendaknya memilih cara yang sesuai dengan tujuan, bahan, keadaan siswa, dan suasana kelas (DR. Yus Rusyana, 1982: 17). Guru harus kreatif dan memiliki inisiatif yang tinggi untuk menentukan cara dan metode penggajarannya. faktor penggunaan metode penyajian sastra di sekolah erat sekali hubungannya dengan penumbuhan minat belajar pada siswa.

Menurut DR. Yus Rusyana (1982: 17-26), tujuan pengajaran sastra untuk memperoleh pengalaman berapresiasi dan berekspresi dapat ditempuh dengan cara-cara anatar lain:

a. Siswa mendengarkan cerita

Seorang guru yang pandai bercerita, biasanya akan disenangi siswa-siswanya. Dari kegiatan bercerita itu, secara tidak langsung akan terjalin hubungan yang akrab antara guru dan siswa. Hubungan ini nantinya akan sangat berharga sekali dalam pendidikan Mengingat kegiatan bercerita ini sangat baik untuk pengajaran sastra maupun pendidikan yang lebih luas, maka kegiatan bercerita ini seharusnya mendapat perhatian yang besar dari guru. Guru harus mempersiapkan banyak cerita dan cara dalam penyamapaiannya.

b. Siswa membaca

Siswa hendaknya didorong bukan saja agar senang membaca di sekolah, tetapi juga di rumah. Meningkatkan minat baca siswa sebenarnya tidaklah sukar, yang harus kita lakukan hanyalah menyediakan bahan untuk mereka baca, memberi kesempatan kepada mereka untuk melihat-lihat bacaan itu, dan kemudian memilihnya sesuai dengan minat mereka sendiri. Sebagai guru sastra, kita bukan saja harus senang membaca hasil sastra, tetapi juga buku anak-anak.

c. Siswa menonton pementasan drama

Menonton drama merupakan suatu kegiatan yang menggembirakan bagi anak. Sekolah bisa saja mengaakan pagelaran, misalnya pementasan sebuah drama secara sederhana di kelas, atau pementasan drama pada akhir tahun, atau hari pendidikan, dan hari kemerdekaan. Kegiatan menonton pementasan drama akan memberikan kesempatan pada anak untuk memperoleh kenikmatan. Hal itu tentu saja berguna bagi kepentingan pengajaran sastra. Mereka nantinnya kan tertarik pula untuk mengetahuinya lebih lanjut.

d. Siswa bertukar pengalaman

Setelah siswa mendengarkan cerita, puisi, mnyaksikan pementasan drama, atau setelah mereka membaca, dengan bimbingan guru, mereka dapat saja memperbincangkannya. Hal-hal yang dibicarakan adalah soal penikmatan. Cara-cara menyampaiakn pengalaman itu tidak terbatas dengan kata-kata saja. siswa bisa saja membuat lukisan, karikatur tentang peristiwa yang terjadi.

e. Siswa bercercerita dan berdeklamasi

Kesenangan bercerita siswa juga bisa dimanfaatkan untuk pengajaran sastra. Setelah membaca, atau mendengar bermacam-macam cerita, baik lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah, mereka tentu mempunyai pengalaman pribadi yang mengesankan. Semuanya itu tentu saja bisa digunakan sebagai bahan bercerita.

Dalam kegiatan bercerita, siswa hendaknya bukan saja menikmati isi yang disampaikannya, tetapi juga menikmati cara menyampaikannya. Guru harus menngusahakan adanya suasana yang menyenangkan, sehingga siswa merasa leluasa untuk berbicara, dan pembicaraannya tidak kaku.

Jika kegiatan bercerita macet, guru bisa mendorongnya dengan mengajukan pertanyaan yang merangsang imajinasi mereka. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru, diharapkan imajinasi anak akan tergugah. Ia bisa memperkaya pembicaraan denga fikiran, perasaan, khayal, kehendak, dll, sehingga ia bisa terlepas dari kekakuan pembicaraan.

f. Siswa membaca nyaring

Siswa hendaknya diberikan kesempatan untuk membaca dengan ekspresinya sendiri. Bila ada ekspresi yang menurut guru kurang tepat, guru hendaknya membetulakan kesalahan tersebut dengan jalan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menggugah dan mengarahkan. Setelah itu, siswa diberi kesempatan untuk mencoba membacanya lagi. Guru tdak perlu memberi contoh dan kemudian anak menirukannya. Guru harus berusaha agar siswa dapat mengekspresikan pengalamannya dengan pembacaannya.

g. Siswa mengarang

Kemampuan mengemukakan sesuatu secara tertulis penting kedudukannya dalam kehidupan kita sekarang. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk dapat mengungkapkan dirinya secara tertulis. Dalam kegiatan ini, yang terpennting adalah mereka mengungkapkan pikiran, perasaannya, khayalnya dengan lancar dan hidup.

Peranan guru dalam mendorong kegiatan siswa sangatlah besar. Guru harus bisa menggugah keinginan dan keberanian murid untuk mengarang. Guru harus pula menunjukkan perhatian dan penghargaan terhadap karangan siswa. Guru bisa saja mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa berhubungan dengan karangannya, hal ini dilakukan untuk merangsang pengembangan daya batin siswa. Kegiatan karang-mengarang ini bisa kita hubungkan dengan kegiatan lain, seperti mendengarkan, membaca, dan menonton pementasan.

h. Siswa memainkan peranan

Kegitaan ekspresi sastra dapat pula dilakukan oleh siswa dengan memerankan pelaku cerita. Kegiatan membawakan peranan ini sangt bermanfaat, bukan saja untuk keperluan ekspresi, tetapi juga untuk memberikan pengalaman cara bertingkah laku dalam hubungan sosial. Pementasan dapat dilakukan di dalam kelas atau di panggung.

Kedelapan cara untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi di atas tampak sekali bahwa siswa menjadi pelaku yang aktif dalam proses belajar. Hal tersebuit hendaknya menjadi peganngan guru, karena kegiatan siswa dalam pelajarannya sangtlah berfaedah dan membuat pelajaran terlaksana secara efektif. Pengalaman siswa membaca cerita, puisi, drama, atau pengalaman mereka mengarang atau berpentas, dapat digunakan sebagai dasar untuk beroleh pengetahuan tentang sastra.

Untuk mencapai tujuan memperoleh pengetahuan pun, hendaknya guru melibatkan kegiatan siswa. Tentu saja jika memang diperlukan, guru dapat menerangkan dengan cara memberikan ceramah, walaupun hanya sederhana. Setelah itu diadakan tanya jawab.

Kegiatan-kegiatan untuk memperoleh pengalaman apresiasi dan ekspresi yang telah dikemukakan di atas pun merupakan usaha usaha untuk menanamkan sikap yang baik terhadap sastra. Siswa dibawa menggemari sastra dan menjadilkan sastra sebagai bagian dari kehidupan mereka.

“Permasalahan utama pembelajaran sastra di Indonesia adalah minimnya ketersediaan buku sastra di sekolah,” kata B Rahmanto, pengajar sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketiadaan buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah menyebabkan pelaksanaan pembelajaran aspek sastra menjadi tidak berimbang dengan aspek bahasa. Ketersediaan buku-buku sastra yang diperlukan di perpustakaan sekolah sebenarnya harus menjadi syarat minimal. Hasan Alwi dalam tulisannya yang berjudul ”Sastra dan Tingkat Keberaksaraan” dalam buku yang berjudul ”Sastra Masuk Sekolah” mengatakan bahwa apresiasi dan pemahaman siswa terhadap sastra akan terasa sangat gersang dan miskin karena mereka hanya mengandalkan bahan yang diberikan guru.

Kendala ketiadaan buku dan bahan penunjang pembelajaran yang dikeluhkan selama ini sebenarnya dapat ditanggulangi melalui beberapa cara. Pertama, pemanfaatan media massa tercetak, seperti koran harian, mingguan, tabloid, dan majalah yang memuat karya sastra. Sekolah dapat berlangganan secara rutin koran atau majalah tertentu sesuai dengan kemampuan dana sekolah. Bila tidak memungkinkan, guru atau pihak sekolah membeli koran atau majalah tertentu pada hari, minggu, atau bulan tertentu sesuai dengan keperluan. Bila hal ini juga tidak memungkinkan, guru menugasi siswa untuk mencari secara personal atau kelompok teks sastra yang dipublikasikan di media cetak sesuai dengan topik yang diajarkan.

Cara lain yang dapat digunakan ialah pemanfaatan berbagai media yang berkembang di masyarakat. Dalam hal ini, guru meminta siswa untuk membuat rekaman (kaset atau tertulis) sastra yang ada dalam masyarakat di sekitarnya. Hasil rekaman inilah yang dibawa dan dibicarakan di sekolah. Di samping itu, pemanfaatan media elektronik daerah dan nasional (milik pemerintah atau swasta) yang pada hari dan saat tertentu menayangkan ragam sastra tertentu untuk dinikmati oleh pemirsa. Pembacaan puisi, musikalisasi puisi, drama, dan sebagainya yang ditayangkan di radio dan televisi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran bagi siswa melalui pemberian tugas secara personal ataupun kelompok.

3. 2 Mengapa pengajaran sastra penting diberikan pada siswa ?

DR. Yus Rusyana (1982) dalam bukunya yanng berjudul “Metode Pengajaran Satra” menyatakan bahwa pengajaran sastra termasuk ke dalam pengajaran yang sudah tua umurnya, dan hingga sekarang tetap bertahan dalam kuirikulum pengajaran di sekolah. Hal ini tentu saja disebabkan oleh nilai pengajaran sastra untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengajaran sastra mempunyai peranan dalam mencapai berbagai aspek dari tujuan pendidikan dan pengajaran, seperti aspek pendidikan susila, sosial, perasaan, sika penilaian, dan keagaman.

Drs. Rizanur Gani dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Sastra Indonesia Respon dan Analisis” memaparkan bahwa peranan pendidikan sastra menjadi lebih dari sekedar pengisian kepala siswa dengan setumpuk kebijaksanaan sastra dan sejarah budaya. Proses penddidikan ini menjelama menjadi upaya membantu pribadi pembaca meningkatkan kemampuannya terlibat dengan buku lebih sukses lagi.

Selain itu, banyak alasan lain mengapa pengajaran sastra penting sekali diberikan kiepada siswa, B. Rahmanto (1988) menyebutkan bahwa pengajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya meliputi empat manfaat, yaitu:

a. membantu keterampilan berbahasa

Mengikutsertakan pengajaran sastra dalam kurikulum berarti akan membantu siswa berlatih meningkatkan empat keterampilan berbahasa. Delam pengajaran sastra, siswa dapat melatih keterampilan menyimaknya dengan mendengarkan suatu karya yang dibacakan guru, teman, atau lewat rekaman. Siswa dapt melatih keterampilan berbicaranya dengan cara ikut berperan dalam suatu drama. Siswa dapat juga melatih keterampilan membacanya dnegan membacakan puisii atau cerita. Dan mendiskusikannya, kemudian menuliskan hasil diskusinya.

b. meningkatkan pengetahuan budaya

Sastra tidak seperti halnya ilmu kimia dan sejarah yang menyajikan ilmu pengatahuan dalam bentuk jadi. Sastra berkaitan erat dengan semua aspek manusia dan alam denngan keseluruhannya. Setiap karya sastra selalu menghadirkan ‘sesuatu’ dan kerap menyajikan banyak hal yang bila dihayati dengan benar akan semakin menambah pengetahuan orang yang menghayatinya.

c. mengembangkan cipta dan rasa

Dalam pengajaran sastra, kecakapan yang perlu dikembangkan adalah kecakapan yang bersifat indra, penalaran, afektif, dan sosial, serta religius. Karya sastra dapat memberi peluang untuk menigkatkan kecakapan-kecakapan semacam itu. Pengajaran sastra yang dilakukan denga benar akan dapat menyediakan kesempatan untuk mengembanngkan kecakapan-kecakapan tersebut lebih dari apa yang disediakan oleh mata pelajaran yang lain.

d. menunjang pembentukan watak

Dibandingkan pelajaran-pelajran lainnya, sastra mempunyai kemungkinan lebih banyak untuk mengantar kita mengena seluruh rangkaian kemungkinan hidup menusia, seperti: kebahagiaan, kebebasan, kesetiaan, kebanggaan diri sampai pada kelemahan, kekalahan, keputusasaan, kebencian, perceraian, dan kematian. Selain itu, pengjaran sastra juga dapat memberikan bantuan dalam usaha pengembanngan berbagai kualitas kepribadian siswa yang meliputi: ketekunan, kepandaian, pengimajian, dan penciptaan.

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa, pengjaran sastra memang benar-benar sangt penting bagi siswa didik kita. Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dari sana.

4. Penutup

Itulah gambaran sepintas terhadap kondisi sastra dan pengajaran sastra Indonesia hingga hari ini. Tampaknya masih banyak yang harus dilakukan untuk menjadikan pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal tidak lagi sarat dengan berbagai masalah pada masa yang akan datang. Bila guru sastra (dan bahasa) Indonesia masih tetap berdiam diri dan hanya duduk mengurut dada, kondisi tersebut akan terus berlanjut pada hari-hari yang akan datang.

Penulisan makalah ini bertujuan mengajak kita untuk kembali memperbaharui niat, menumbuhkan tekad, dan bersiap untuk kembali membenahi pengajaran sastra Indonesia di sekolah. Memang ada di antara kita yang terlanjur menjadi guru dan terlanjur pula memilih menjadi guru bahasa Indonesia. Namun, keterlanjuran itu harus kita nikmati sampai hari-hari yang akan datang. Karenanya, saat ini kita harus memilih: tetap menjadi guru sastra atau beralih ke bidang lain yang mungkin jauh lebih mudah dan menjanjikan masa depan yang jauh lebih cemerlang. Bila kita tetap memilih menjadi guru sastra Indonesia, mulai sekarang kita harus bertekad membuka diri, menambah wawasan, dan berusaha menjadi guru yang ditunggu-tunggu oleh para siswa.

Sebagai calon guru sastra (dan bahasa) pada masa yang akan datang seharusnya kita punya kemampuan yang lebih baik daripada pendahulu kita. Berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada dan ditawarkan dalam pembelajaran sastra saat ini hendaknya dimanfaatkan secara maksimal. Bila perlu, kegiatan lain yang berkait dengan kesastraan yang dilaksanakan di luar kampus kita ikuti untuk menambah bekal ilmu dan bekal keterampilan yang kita butuhkan nanti saat menjadi guru. Semoga ulasan ini menggugah kita semua dalam usaha peningkatan kualitas pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal.

Daftar Pustaka

A. Hamid, Mukhlis. 1996. ”Antara Harapan dan Kenyataan”. diakses di http://gemasastrin.wordpress.com/2007/04/20/pengajaran-sastra-indonesia-di-sekolah/

Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia: Respon dan Analisis. Padang: Dian Dinamika Press.

Ganie, Tajuddin Noor . 1998. Problema Pengajaran Sastra di Sekolah. diakses di http://www.indomedia.com/BPost/9807/29/opini/opini1.htm

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rusyana, Yus. 1982. Metode Pengajaran Sastra. Bandung: Gunung Larang.

Sarumpaet, Riris K. Toha (ed.). 2002. Sastra M asuk Sekolah. Magelang: Indonesia Tera.

Sudikan, Setya Yuwana. 2006, No 31 Th XXII Juli. ”Pembelajaran Apresiasi Sastra Jawa yang Inovatif Di Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama (Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran). ”Gatra”, hlm. 69.

Wahyudi, Ibnu. 2007. “Menyiasati Kurikulum Pelajaran Sastra Indonesia di Sekolah: Kiat untuk Mafhum dan Berbenah”. diakses di http://johnherf.wordpress.com/2007/02/07/bahasa-dan-sastra-indonesia-di

Sastra Melayu Lama

Desember 11, 2008

Sastra Melayu Lama

A. Pengertian sastra Melayu lama

Sastra lama adalah sastra yang berbentuk lisan atau sastra Melayu yang tercipta dari suatu ujaran atau ucapan. Sastra lama masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam pada abad ke-13. Peninggalan sastra lama terlihat pada dua bait syair pada batu nisan seorang muslim di Minye Tujuh, Aceh. Ciri-ciri sastra lama yaitu : anonim atau tidak ada nama pengarangnya, istana sentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan), tema karangan bersifat fantastis, karangan berbentuk tradisional, proses perkembangannya statis,

dan bahasa klise.

Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh jumlah kata dalam 1 baris, jumlah baris dalam 1 bait, persajakan (rima), banyak suku kata tiap baris, dan irama (http://agepelesson.blogspot.com)

Puisi lama adalah puisi yang belum dipengaruhi oleh puisi Barat.Bentu puisi lama adxalah pantun, gurindam, syair, mantra, bidal, dan seloka; puisi tradisional (Abdul Rozak Zaidan, Anita K. Rustapa, dan Hani’ah; 2004:162; dalam Kamus Istilah Sastra)

B. Pengarang sastra Melayu lama dan karyanya

No

Pengarang

Karya

1

G. Francis (Indonesia)

Nyai Dasima

2

A.F van Dewall

Bunga Rampai, Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe, Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan, Kisah Pelayaran ke Makassar.

3

H.F.R Kommer (Indo)

Cerita Siti Aisyah, Cerita Nyi Paina, Cerita Nyai Sarikem, Cerita Nyonya Kong Hong Nio, danNona Leonie.

4

Kat S.J

Warna Sari Melayu

5

F.D.J. Pangemanan

Cerita Si Conat dan Cerita Rossina.

6

F. Wiggers

Nyai Isah, Drama Raden Bei Surioretno, danSyair Java Bank Dirampok

7

Gouw Peng Liang

Lo Fen Kui

8

Thio Tjin Boen

Cerita Oey See, Tambahsia

9

R.M.Tirto Adhi Soerjo

Busono, Nyai Permana

10

Hadji Moekti (indo)

Hikayat Siti Mariah

11

Terjemahan

Mengelilingi Bumi dalam 80 hari

12

Terjemahan

Graaf de Monte Cristo

13

Terjemahan

Kapten Flamberger

14

Terjemahan

Rocambole

15

Terjemahan

Robinson Crusoe

16

Terjemahan

Lawan-lawan Merah

17

Dari masyarakat

Ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu lama lainnya

C. Macam-macam puisi lama.

1. Pantun

Pantun yaitu salah satu bentuk puisi lama Melayu yang di dalamnya tersirat kehalusan budi dan ketajaman pikiran.

Contoh

Kayu cendana di atas batu

Sudah diikat dibawa pulang
Adat dunia memang begitu
Benda yang buruk memang terbuang

1.1 Dilihat dari bentuknya, pantun dibagi menjadi:
a. pantun biasa
Pantun biasa sering juga disebut pantun saja.
Contoh :

Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati
b. seloka (pantun berkait)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab

pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan

Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan

c. talibun
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi

harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya. Jika satu bait berisi enam

baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan

empat isi. Jadi, apabila enam baris, sajaknya a – b – c – a – b – c. Bila

terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d
Contoh :
Kalau anak pergi ke pekan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu
d. pantun kilat (karmina), ciri-cirinya: setiap bait terdiri dari 2 baris, baris

pertama merupakan sampiran, baris kedua merupakan isi, bersajak a – setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata.
Contoh :

Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)


1.2 Dilihat dari isinya, pantun dibagi atas:
a. pantun anak-anak
Contoh :

Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang

b. pantun orang muda
Contoh :

Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua

c. pantun orang tua
Contoh :

Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
d. pantun jenaka
Contoh :

Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga
e. pantun teka-teki
Contoh :

Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki

(http://agepe-lesson.blogspot.com)

2. Mantra

Mantra adalah puisi yang memiliki aspek ritual, diucapkan pada kesempatan tertentu dengan cara-cara tertentu dan ditujukan pada makhluk gaib.
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:

Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

http://agepe-lesson.blogspot.com

3. Syair

Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk cerita yang mementingkan irama sajak. Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.

Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)
Berdasarkan isinya, syair dapat dibagi ke dalam enam golongan (Hooykaas, 1937: 66–74; Liaw Yock Fang, 1982: 293– 316). Masing-masing bagian akan diberi contoh dan akan dibahas lebih lanjut. Beberapa golongan tersebut adalah:

1. Syair Romantis: Syair Bidasari

2. Syair Kiasan: Syair Ikan Terubuk Berahikan Puyu-puyu

3. Syair Sejarah: Syair Perang Mengkasar

4. Syair Saduran: Syair Damar Wulan

5. Syair Keagamaan: Syair Perahu

4. Karmina

Karmina adalah pantun dua seuntai (pantun kilat)yang terdiri dari dua baris, baris

pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi.

Contoh:

Sudah gaharu cendana pula

Sudah tahu masih bertanya pula

5. Hikayat

Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisi kisah, cerita, dongeng

atau sejarah. Biasanya mengisahkan tentang kehebatan atau kepahlawanan

seseorang.

6. Gurindam

Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)

Gurindam adalah satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris

kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh.

Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua

berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama

tadi.

Contoh :

Pabila banyak mencela orang

Itulah tanda dirinya kurang

Dengan ibu hendaknya hormat

Supaya badan dapat selamat

Gurindam Dua Belas

Kumpulan gurindam yang dikarang oleh Raja Ali Haji dari kepulauan Riau.

Dinamakan Gurindam Dua Belas oleh karena berisi 12 pasal, antara lain tentang

ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada

anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.
Contoh :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
http://agepe-lesson.blogspot.com

7. Seloka

Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun

perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan.

contoh seloka 4 baris:

anak pak dolah makan lepat,

makan lepat sambil melompat,

nak hantar kad raya dah tak sempat,

pakai sms pun ok wat ?

contoh seloka lebih dari 4 baris:

Baik budi emak si Randang

Dagang lalu ditanakkan

Tiada berkayu rumah diruntuhkan

Anak pulang kelaparan

Anak dipangku diletakkan

Kera dihutan disusui

8. Bidal

Perihabasa atau pepatah yang mengandung nasehat dan sindiran dalam bentuk kalimat singkat dan memperhitungkan rima atau keindahanbunyi.

Contoh:

Ikut hati mati, ikut rasa binasa

9. Fabel

D. Ciri-ciri khusus sastra Melayu lama

1. Ciri-ciri pantun

a. Setiap baris pantun dapat berdiri sendiri.

b. Bersajak ab-ab

c. Bersifat lirik: mengungkapkan perasaan.

d. Tediri atas sampiran dan isi.

e. Dua baris pertama: sampiran, dua baris terakhir:isi.

f. Terdiri ndari 4 baris, tiap baris terdiri dari 4 kata, 9-12 suku kata.

g. Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.

2. Ciri-ciri mantra

a. Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde.

b. Bersifat lisan, sakti atau magis

c. Adanya perulangan

d. Metafora merupakan unsur penting

e. Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan

misterius

f. Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan

persajakan.

3. Ciri-ciri syair

a. terdiri dari 4 baris

b. berirama aaaa

c. keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud

penyair

4. Ciri-ciri karmina

a. Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.

b. Bersajak aa-aa, aa-bb

c. Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.

d. Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.

e. Semua baris diawali huruf capital.

f. Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.

g. Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.

5. Ciri-ciri hikayat

Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama

6. Ciri gurindam

a. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian

b. baris kedua berisikan jawabannya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi.

7. ciri-ciri seloka

a. ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair,

b. namun ada seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

8. Ciri-ciri bidal

1. Merupakan jenis puisi bebas.

2. Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk mmenjelaskan pemerian.

3. Tidak ada pembayang, setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita.

4. Terdiri dari 6-20 baris.

9. Fabel

November kelabu

April 21, 2008

November Kelabu

Senja di perbukita Merapi yang masih memutahkan lahar apinya sejak setahun yang silam berselimutkan kabut. Awan hitam tampak bergelayut berat di langit. Kilat bersahutan membentuk simponi tak beraturan. Sesekali langit terbatuk diikuti semburan dahak sejenak. Sepertinya langit sedang flu berat. Maklumlah, cuaca akhir-akhir ini agak kurang bersahabat. “Tampaknya langit akan menggugurkan air matanya hari ini, gumam Yety. Benar dugaan itu, tak lama kemudian, butir-butir air dari langit membasahi perumahan Samirono dan sekitarnya. Belum sampai lima menit, banjir telah terlihat meluap di lajan-jalan sehingga mengakibatkan kemacetan lalulintas.

Hari itu adalah hari pertama mengawali pekan, dan merupakan hari pertama memasuki bulan Nevember. Suasana kota Yogyakarta yang tadinya panas bagaikan mutahan lahar api dari Merapi, diliputi suasana yang berbeda seketika. Keramaian lalulintas tidak seperti biasanya. Para pengendara sepeda motor tidak tahan mengedarai sepeda motornya, sepertinya ingin menelan beratus-ratus kilometer dalam waktu sedetik. Para pejalan kaki terlihat serius memperhatikan bus-bus yang lalu-lalang untuk beranjak pulang. Di sofa, Yety masih saja duduk terpaku sambil melihat orang lalu-lalang di depan rumah.

Dari jauh terlihat segerombolan remaja berbusana putih-abu, menyerbu sebuah bus yang hampir lewat.Terlihat akan peristiwa itu, pikiran Yety melayang kepada Wempy, teman sekolahnya di SMA. Yety cinta pada Wempy waktu sekolah. “Telah lama aku tidak dengar berita dari Wempy. Dimana dia sekarang?” pikir Yeti. Ia tersenyum pada dirinya sendiri, ingat saat yang telah lalu dan tidak akan kembali lagi. Saat itu telah lewat dan sekarang hanya dapat dikenang, dengan tidak merusak pikiran dan perasannya. Malahan terdapat sesuatu, semacam kepuasan dengan mengenang dirinya. Yety tersenyum kembali pada dirinya dan keadaannya sekarang. “Ya Tuhan, semoga dia selalu berbahagia” Yety berdoa.

Tiba-tiba sesuatu menggelepar dalam perutnya. Geleparan urat-urat perut yang kosong. Serangkir teh hangat masih penuh di depannya, diangkat tinggi-tinggi seperti orang dalam upacara hendak minum anggur. Teh itu diminum teguk-teguk besar yang tak putus-putus terlihat lewat di tenggorokannya. Setelah menghabiskan secangkir teh hangat itu, tangan kirinya memukul-mukul perutnya. “Sudah diisi sekarang, jangan keroncong lagi” kata Yety kepada perutnya yang kosong. “Belum makan sejak pagi rupanya.” Yety berciraca sendiri pada dirinya. Dan sekarang sesuatu dalam perutnya telah berhenti menggelepar. Tubuhnya yang lemas sekarang rasanya agak segar sedikit. Pening kepalaya telah hilang. “O…karena lapar saja, untung tidak sakit apa-apa” pikirnya. Pikiran itu menggembirakan hatinya.

“Yety…, Yety…” teriak temannya, tapi suara itu tak digubrisnya. Rupanya, sunyi masih tetap berperan penting dalam dirinya siang itu. “Entahlah, aku juga belum menemukan sebuah jawaban untuk mengatasi perasaan ini” tuturnya. “Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku setelah semalam bergulat dalam diri” lanjutnya.

Pada saat itu, tepatnya tiga tahun yang lalu, di tengah hiruk-pikuk keramaian di bandar udara, suara pramugari, melalui pengeras suara mengumumkan bahwa pesawat terbang dengan nomor sekian-sekian yang ditumpangi Wempy segera akan berangkat. Yempy mengelus-elus kedua tangannya pada kedua belah pipi Yety. Dengan suara serak bertahan-tahan, Wempy berbicara lembut “Tidak lama aku pergi, sayang, aku tak mau kehilangan engkau”. Yety memegang telapak tangan Wempy yang masih terletak pada kedua belah pipinya, menjawab, “Selesaikan dahulu apa yang perlu untuk diselasaikan, jangan tergesa-gesa, aku setia menunggumu, sayang”.

Nama wempy terdengar berulang kali dipanggil. Tanpa menghiraukan orang yang berada di samping mereka, Wempy memeluk dan mencium Yety dengan penuh mesrah. Dengan tawa yang dibuat-buat menahan air mata, Yety menyambung: “Wempy, dengan cara kamu memelukku seperti ini, aku merasa seakan-akan kita tak akan berjumpa lagi, seakan-akan ini adalah pelukan yang terakhir”. “Jangan berkata begitu Yety.” jawab Wempy. Ini bukan yang terakhir, justru ini adalah permulaannya. Tanpa engkau, Yety, rasanya aku ini tak berarti. Yet, aku pergi hanya untuk satu tahun.lanjut Wempy.

“Pesawat akan segera take off, saudara yang bernama Wempy, segera masuk pesawat” demikian bunyi yang terdengar melalui pembesar suara di tengah hiruk-pikuk di bandar udara itu. Tanpa kata, Wempy segera berlari-lari menuju pesawat terbang. Yety, yang saat itu seperti kehilanagn sebuah permata besar, belum beranjak dari tempatnya. Matanya masih mengikuti pesawat yang langsung take off setelah Wempy menginjaki pintu pesawat. Tanpa sadar, mulutnya komat-kamit, “Wempy…kamu dimana sekarang” air matanya pun mengalir membasahi pipinya.

“Ya…beginilah hidup, hidup telah banyak mengajarku” tutur Yety, seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri. “Bagaimana tidak, Wempy yang telah dikenalnya dan disayangi selama tiga tahun semasa SMA, tiga tahun yang silam, berpamitan hanya ingin mengikuti kursus musik selama satu tahun, sudah tiga tahun tanpa berita; seolah-olah diantara mereka berdua tidak pernah terjadi apa-apa. “Ya…benar, hari ini tepat tiga tahun kepergian Wempy” kenang Yety. “Apa Wempy mencintaiku hanya karena ia membutuhkanku. Apa tidak lebih dari itu; tetapi inilah kenyataannya; benar, Wempy tidak mencintaiku dengan tulus” gumamnya. Airmata yang sejak tadi hendak disembunyikan, mulai merebak. Mulutnya komat-kamit perlahan terucap, “Wempy, kau memang tega melakukan semua ini, tiga tahun bagiku adalah waktu yang tidak singkat untuk menunggumu”.

Telepon yang letaknya tidak jauh dari tempat duduknya, berdering mengagetkannya. Dengan bermalas-malasan Yety beranjak mengambil telepon itu. “Selamat malam, biasa berbicara dengan Yety?” kata si penelpon. “Semalat malam, saya sendiri” jawab Yety. “Yety…Yety…Yety…” sambung si penelepon dengan nada rendah. Yety termenung sejenak, suara itu memang sudah lama tak didengar tapi sepertinya tidak asing di kupingnya. Yety tahu dengan baik suara itu, tetapi ia tidak cepat menebak, Yety malu jika tebakannya salah. Karena keingintahuan Yety kuat untuk mengetahui lawan bicaranya, maka ia mendesak untuk mengetahui identitasnya. Namun jawabannya begitu jauh dari dugaan Yety, ia dengan nada yang agak berat melanjutkan pembicaraannya, “Engkau tidak perlu mengetahui, siapa lawan bicaramu tapi yang penting untuk diketahui adalah “Engkau adalah sebuah lagu cinta bagiku, sebuah musik yang membuat dunia tersenyum. Aku telah menyanyi bagimu, namun dengan kasih yang membisu, serba terselubung oleh aneka macam peraturan. Sekarang aku menjerit kepadamu tanpa aling-aling semu. Memang bukankah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri sampai datangnya berpisah? Selama ini kutelusuri kota demi kota, akhirnya aku menemukan cinta yang sejati pada sebuah pilihan yang mungkin aneh menurutmu. Aku memilih untuk menjadi seorang biarawan alias imam”. Aku adalah Wempy yang selama ini membuatmu menanti tanpa harapan. Maafkan aku, aku tak akan merubah pilihan ini.” dan telepon pun ditutup.

Siulan burung tekukur piaraan tetangga seperti koor di Gereja, datang dari arah utara kota Jogjakarta. Pelan-pelan Yety kembali ketempat duduknya. Sekelompok burung elang terbang membentuk huruf V, barangkali dari persawahan yang jauh. “Mereka hidup dan berbahagia, terbang, dan terbang. ”Burung-burung itu memberi sebuah pelajaran yang berharga bagiku, akupun ingin terbang meninggalkan masa laluku dan ingin memulai suatu hidup baru.” pikir Yety.

Hujan rintik-rintik turun berbisik-bisik dengan atap. Seekor burung melintas mencoba menggapai dahan pohon, terpelanting dan terbang jauh. Tak lama kemudian matahari dengan malu-malu bangun dari peraduaanya, mengintip jendela bumi dari sela-sela dedaunan dan mulai mengusir awan. Sedikit kilasan kilauan emasnya di setiap butir-butir gerimis. Sang surya telah meninggalkan peraduaannya, suasana kota sudang semakin sunyi, dengan tenang terlihat sedih, Yety ingin memulai sebuah lembaran baru dalam hidupnya.

Maria Goreti Safe, FdCC.

PBSID 06, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.