Sta. Yosefina Bakhita
(Madra Nera dari Sudan)
Bakhita. Hidup Bakhita telah diceritakan dalam dua puluh enam bahasa. Hal ini tidaklah mengherankan, karena hidupnya adalah sesuatu yang khusus dan luar biasa. Selama sepuluh tahun menjadi budak dan mengalami semua penghinaan dan penderitaan, tetapi setelah mengenal Tuhan, suatu saat ia berkata “Seandainya saya tahu bahwa ada Tuhan selama tahun-tahun yang panjang dalam perbudakan, penderitaan saya pasti lebih ringan.”
Bakhita, salah satu dari ribuan orang yang diculik dan dijadikan budak setelah dua puluh tahun pembuatan undang-undang penghapusan perbudakan oleh kerajaan Ingris pada tahun 1833, kongres Paris 1856 dengan persetujuan seluruh Negara Eropa dan Mesir.
Siapa Bakhita? Dari mana asalnya? Apa yang telah terjadi dengan dirinya? Bakhita sendiri telah menjawab pertanyaan-pertanyan ini, riwayatnya begitu rumit, pengalaman hidupnya begitu luar biasa.
Kini, saatnya membiarkan Bakhita yang menceritakan kebenaran dari pengalamannya sejak diculik sampai ia dibabtis dan akhirnya menjadi biarawati.
“Keluargaku hidup di Olgossa di wilayah Darfur, Sudan, Afrika. Kami keluarga besar, tujuh bersaudara; tiga laki-laki dan tiga perempuan. Saya mempunyai saudari kembar tetapi sampai sekarang saya tidak tahu keadaan keluargaku sejak saya diculik.
Saudari tertua saya diculik saat kami bersama ibu pergi ke ladang. Saudariku bersama adik kecilku tinggal karena tidak enak badan. Syukurlah, adik kecil saya tidak diculik karena bersembunyi di belakang reruntuhan pondok. Saya masih ingat, bagaimana kesedihan kami waktu itu, berbagai usaha ditempuh oleh ayah dan para pekerja kami untuk mencari kakak saya tetapi usaha itu sia-sia, kakak saya tidak ditemukan.
Pada suatau pagi, ketika saya berumur delapan tahun atau sembilan tahun, bersama teman yang berumur dua belas atau tiga belas tahun, berjalan-jalan di padang dekat rumah, tiba-tiba dua orang asing muncul dan menyuruh saya untuk mengambil bungkusan yang terjatuh agak jauh di belakang kami, sementara teman saya disuruh jalan terus. Tanpa curiga, saya menuruti permintaan mereka. Sebelum jauh, seorang dari mereka menarik tangan saya dengan kasar dan menekan pisau ke sisi saya serta berkata “Jika berteriak, engkau akan mati! Mari ikut kami.” Saya ditakut-takuti dengan teror, mata saya terbelalak karena takut, badan saya yang kecil gemetar tak terkendalikan. Saya mencoba untuk berteriak tetapi mereka menyumbat mulut saya.
Pada saat itulah mereka menanya nama saya; karena takut, saya tidak memjawab. “Baik!” kata penculik, “Kami akan memanggilmu Bakhita! Itulah nama yang kami pakai untuk memanggilmu! Bakhita artinya ‘orang yang beruntung’ dan memang engkau adalah orang yang beruntung.” kata mereka.
Saya ditarik dengan kasar ke tengah hutan, melalui jalan setapak, saya dipaksa berjalan sampai sore. Kaki dan tungkai saya berdarah karena kerikil tajam dan semak berduri. Tetapi setiap tangisan tak mampu meluluhkan hati kedua orang itu. Meskipun haus dan lapar mereka memaksa saya untuk berjalan sepanjang malam. Saat subuh kami tiba di kampung mereka, saya dimasukan di sebuah kamar kacil yang gelap tanpa selimut, tikar, tempat tidur; itulah tempat saya selama satu bulan, sementara mereka mencari pembeli budak.
Sungguh tidak mudah untuk melukiskan penderitaan saya. Capai karena menangis dan kesepian. Saya berbaring dilantai bagaikan dalam keadaan pingsan, daya khayal saya membawa saya kepada orang tua dan saudara-saudara yang saya cintai.
Pada suatu pagi, pintu dibuka lebih awal dari biasanya. Di sebelah majikan berdiri seorang pembeli budak, ia membeli saya dan menggabungkan saya dengan enam orang budak yang telah dibelinya (tiga perempuan dan tiga laki-laki). Tanpa menunda waktu, kami berjalan kaki selama delapan hari. Setiap kampung yang kami lalui selalu menambah jumalah kami karena banyak budak yang dibeli oleh majikan yang sama.
Di sepanjang perjalanan, kaki diikat dengan rantai serta gembok besar digantung di leher. Laki-laki berjalan di depan, diikuti perempuan lalu menyusul kami anak-anak tanpa diikat dan berjalan bersama majikan dari belakang. Setelah berhari-hari berjalan kaki, akhirnya tiba di tempat penjualan budak. Singkat cerita, setelah semua budak dijual, saya dan teman sebaya saya dipekerjakan sebagai pembantu mereka untuk sementara. Dalam keadaan seperti itu, kami berusaha untuk meloloskann diri dengan kabur dari rumahnya dan kembali ke kampung halaman kami, tetapi usaha kami sia-sia karena dalam pejalanan, kami ditangkap lagi oleh pedagang budak lain dan diperjual-belikan beberapa kali lagi.
Sampailah saat-saat yang paling mengerikan, pada suatu hari nyonya dari majikan itu mengatakan bahwa semua budak yang belum menjalani operasi harus secepatnya menjalaninya. Oleh karena itu, seorang wanita yang mempunyai keterampilan dalam bidang seni yang kejam datang ke rumah majikan. Ia membawa kami ke beranda, sementara nyonya berdiri di belakang kami dengan sebuah cambuk di tangannya. Adapun perlengkapan yang dibawa oleh wanita itu adalah pisau cukur, sebuah piring yang penuh dengan tepung putih, dan sebuah piring penuh dengan garam.
Lalu ia memerintahkan yang pertama dari antara kami supaya berbaring di tanah sementara dua orang budak yang lain memegangnya; satu pada bagian kakinya dan lain pada tangannya. Lalu wanita itu mulai membuat gambar yang ganjil di atas perut gadis malang itu dengan tepung putih sekitar enam puluh banyaknya. Saya berdiri terpaku, takut setengah mati, ketika melihat apa yang sedang berlangsung, sementara menyadari bahwa giliran saya akan segera datang.
Setelah membuat gambar dengan tepung, wanita itu mengambil pisau cukur dan membuat irisan-irisan menurut gambar itu, sementara si korban itu berteriak-teriak dan mengeluarkan banyak darah. Tatapi itu belum merupakan akhir operasi yang sangat menyakitkan. Yang paling menyakitkan ketika garam digosok pada enam puluh luka irisan itu, dengan pertimbangan bahwa garam akan merasuk ke dalam luka-luka itu sehingga luka-luka itu cepat sembuh. Orang yang malang itu gemetar sekujur tubuhnya, bagitu pun saya dan teman saya juga menunggu giliran kami. Dan benar sekali, setelah korban pertama dibawa pergi dalam keadaan tak sadarkan diri, tibalah giliran saya.
Saya ragu untuk bergerak tetapi pandangan dari wanita yang berdiri di belang dengan cambuk di tangannya meyakinkan saya bahwa tak ada jalan lain. Cepat-cepat saya berbaring di lantai. Untung wajah saya tidak diapa-apakan, tetapi enam gambar yang rumit digambarkan pada buah dada saya dan enam puluh gambar pada perut dan lengan saya. Sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata apa yang saya rasakan. Saya pikir saya akan mati, terutama ketika garam merasuk kedalam luka-luka saya, tetapi ternyata Tuhan masih menjaga saya.
Dengan bermandikan darah saya sendiri, saya dibawa pergi dan dibaringkan pada sebuah tikar jerami. Ketika sadar, setelah berjam-jam saya berbaring di atas tikar itu tanpa sadarkan diri, saya melihat disamping saya ada dua teman saya yang malang, yang telah menjalani siksaan yang sama. Selama satu bulan kami dihukum untuk berbaring dengan diam tanpa selembar kain pun untuk menghapus darah yang mengalir dari luka-luka kami yang terbuka.
Kini, saya dapat melihat bahwa hanya karena mujizat Tuhan, saya tidak mati. DIA telah menentukan saya untuk hal-hal yang lebih baik.
Singkat cerita, pada suatu hari, majikan mendapat kunjungan dari Wakil Konsul Italia, Callisto Legnani di Sudan. Kehadiran konsul ini membawa angin baru bagi saya. Konsul itu menaruh perhatian dan kasih sayang kepada saya dan membeli saya dari majikan itu, dan itu merupakan jual-beli yang kelima.
Benar-benar saya adalah orang yang beruntung. Majikan saya yang baru ini bersikap ramah dan menyayangi saya. Ia membawa saya ke Italia. Melalui perjalanan yang menyita waktu, akhirnya kami tiba di Italia. Untuk menyenangkan temannya, Tuan konsul menyerahkan saya kepada mereka. Bersama majikan saya yang baru, saya menjadi pengasuh anak mereka yang baru lahir.
Ketika Tuan dan Nyonya memutuskan untuk kembali ke Afrika untuk melanjutkan usahanya, saya diharapkan untuk tinggal bersama anak mereka di asrama suster Kanossian, dengan tujuan agar anaknya mendapat pendidikan yang baik dan sekaligus belajar katekumen. Ini menjadi moment yang baik bagi saya karena juga ikut belajar agama katolik.
Para suster yang suci itu mengajar saya dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada saya yang telah saya imani sejak kanak-kanak tanpa kenal siap Dia. Dengan bimbingan Tuhan, saya dibabtis sebagai orang Katolik pada 9 Januari 1890 dengan nama Yosefina Bakhita. Merupakan suatu moment yang tak pernah dilupakan. Setelah dibabtis, saya masih menjalani katekumen selama empat tahun. Dan akhirnya suara Tuhan semakin jelas, mendorong saya untuk membaktikan diriku seutuhnya hanya kepada Allah.
Pada 7 Desember 1893, saya memasuki novisiat di Venesia, dan satu tahun kemudian saya dipindahkan ke Verona (rumah induk) untuk menerima jubah suci. Dan pada 8 Desember 1896 saya mengucapkan kaul religius sebagai Putri Cinta Kasih Canossian.
Saat menulis semua pengalaman ini, saya telah hidup sebagai religius selama empat belas tahun (1910).”
Inilah memori sederhana Madre Nero (Bunda Hitam-panggilan akrap dari orang-orang dekatnya). Teringat kembali kata-kata Rasul Paulus: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan kepada orang yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8 : 28
Pedagang mamba yang telah menterornya dan membuatnya menderita begitu banyak, secara tidak langsung mengungkapkan pesan Tuhan ketika mereka memberinya nama “Bakhita” yang artinya “Orang yang beruntung.”
Bertahun-tahun kemudian, ketika ditanya seorang mahasiswa Italia, “Apa yang akan dilakukan, jika secara kebetulan Bakhita bertemu lagi dengan para penculik.” Tanpa ragu, Bakhita menjawab , “Saya akan berlutut dan mencium tangan mereka. Karena seandainya apa yang telah terjadi dengan saya tidak pernah terjadi, bagaimana saya menjadi orang Katolik bahkan seorang biarawati. Saya mengasihi mereka. Mereka tidak sadar akan penderitaan yang mereka berikan kepada saya. Mereka majikan dan saya hamba. Mereka berbuat begitu berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan kejahatan, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”
Jelas, kata-kata Suster Yosefina Bakhita, FdCC menjadi sebuah inspirsi bagi siapa saja yang mau membuka hatinya kepada rahmat dan kasih Allah.
Memperpendek kata, 8 Februari 1947, Suster Yosefina Bakhita menutup usianya di biara Canossa, Schio, Itali. Atas berbagai mujizat yang dialami setiap orang yang menaruh harapannya melalui Suster ini, tahun 1955-1957 Gereja membuka proses biasa bagi keutamaan suster Bakhita pada tingkat keuskupan Vicenza-Itali. Tahun 1968-1969 dimulai proses apostolik yang aktual. Pada 17 Mei 1992 secara resmi Paus Yohanes Paulus II menyatakan suster Yosefina Bakhita sebagai yang berbahagia (Beatifikasi), dan pada 10 Oktober 2000, disaksikan oleh ribuan umat, suster nero (hitam) ini dinyatakan sebagai “Santa” oleh Paus Yohanes Paulus II di halaman Gereja Santo Petrus, Italia.
Kini, pesta Santa Yosefina Bakhita dirayakan setiap tanggal 8 Februari.
By…GBU
Sr. Maria Goreti Safe, FdCC.