Arsip untuk ‘Tokoh’ Kategori

Bakhita

Mei 21, 2008

 

Sta. Yosefina Bakhita

(Madra Nera dari Sudan)

Bakhita. Hidup Bakhita telah diceritakan dalam dua puluh enam bahasa. Hal ini tidaklah mengherankan, karena hidupnya adalah sesuatu yang khusus dan luar biasa. Selama sepuluh tahun menjadi budak dan mengalami semua penghinaan dan penderitaan, tetapi setelah mengenal Tuhan, suatu saat ia berkata “Seandainya saya tahu bahwa ada Tuhan selama tahun-tahun yang panjang dalam perbudakan, penderitaan saya pasti lebih ringan.”

Bakhita, salah satu dari ribuan orang yang diculik dan dijadikan budak setelah dua puluh tahun pembuatan undang-undang penghapusan perbudakan oleh kerajaan Ingris pada tahun 1833, kongres Paris 1856 dengan persetujuan seluruh Negara Eropa dan Mesir.

Siapa Bakhita? Dari mana asalnya? Apa yang telah terjadi dengan dirinya? Bakhita sendiri telah menjawab pertanyaan-pertanyan ini, riwayatnya begitu rumit, pengalaman hidupnya begitu luar biasa.

Kini, saatnya membiarkan Bakhita yang menceritakan kebenaran dari pengalamannya sejak diculik sampai ia dibabtis dan akhirnya menjadi biarawati.

Keluargaku hidup di Olgossa di wilayah Darfur, Sudan, Afrika. Kami keluarga besar, tujuh bersaudara; tiga laki-laki dan tiga perempuan. Saya mempunyai saudari kembar tetapi sampai sekarang saya tidak tahu keadaan keluargaku sejak saya diculik.

Saudari tertua saya diculik saat kami bersama ibu pergi ke ladang. Saudariku bersama adik kecilku tinggal karena tidak enak badan. Syukurlah, adik kecil saya tidak diculik karena bersembunyi di belakang reruntuhan pondok. Saya masih ingat, bagaimana kesedihan kami waktu itu, berbagai usaha ditempuh oleh ayah dan para pekerja kami untuk mencari kakak saya tetapi usaha itu sia-sia, kakak saya tidak ditemukan.

Pada suatau pagi, ketika saya berumur delapan tahun atau sembilan tahun, bersama teman yang berumur dua belas atau tiga belas tahun, berjalan-jalan di padang dekat rumah, tiba-tiba dua orang asing muncul dan menyuruh saya untuk mengambil bungkusan yang terjatuh agak jauh di belakang kami, sementara teman saya disuruh jalan terus. Tanpa curiga, saya menuruti permintaan mereka. Sebelum jauh, seorang dari mereka menarik tangan saya dengan kasar dan menekan pisau ke sisi saya serta berkata “Jika berteriak, engkau akan mati! Mari ikut kami.” Saya ditakut-takuti dengan teror, mata saya terbelalak karena takut, badan saya yang kecil gemetar tak terkendalikan. Saya mencoba untuk berteriak tetapi mereka menyumbat mulut saya.

Pada saat itulah mereka menanya nama saya; karena takut, saya tidak memjawab. “Baik!” kata penculik, “Kami akan memanggilmu Bakhita! Itulah nama yang kami pakai untuk memanggilmu! Bakhita artinya orang yang beruntung’ dan memang engkau adalah orang yang beruntung.” kata mereka.

Saya ditarik dengan kasar ke tengah hutan, melalui jalan setapak, saya dipaksa berjalan sampai sore. Kaki dan tungkai saya berdarah karena kerikil tajam dan semak berduri. Tetapi setiap tangisan tak mampu meluluhkan hati kedua orang itu. Meskipun haus dan lapar mereka memaksa saya untuk berjalan sepanjang malam. Saat subuh kami tiba di kampung mereka, saya dimasukan di sebuah kamar kacil yang gelap tanpa selimut, tikar, tempat tidur; itulah tempat saya selama satu bulan, sementara mereka mencari pembeli budak.

Sungguh tidak mudah untuk melukiskan penderitaan saya. Capai karena menangis dan kesepian. Saya berbaring dilantai bagaikan dalam keadaan pingsan, daya khayal saya membawa saya kepada orang tua dan saudara-saudara yang saya cintai.

Pada suatu pagi, pintu dibuka lebih awal dari biasanya. Di sebelah majikan berdiri seorang pembeli budak, ia membeli saya dan menggabungkan saya dengan enam orang budak yang telah dibelinya (tiga perempuan dan tiga laki-laki). Tanpa menunda waktu, kami berjalan kaki selama delapan hari. Setiap kampung yang kami lalui selalu menambah jumalah kami karena banyak budak yang dibeli oleh majikan yang sama.

Di sepanjang perjalanan, kaki diikat dengan rantai serta gembok besar digantung di leher. Laki-laki berjalan di depan, diikuti perempuan lalu menyusul kami anak-anak tanpa diikat dan berjalan bersama majikan dari belakang. Setelah berhari-hari berjalan kaki, akhirnya tiba di tempat penjualan budak. Singkat cerita, setelah semua budak dijual, saya dan teman sebaya saya dipekerjakan sebagai pembantu mereka untuk sementara. Dalam keadaan seperti itu, kami berusaha untuk meloloskann diri dengan kabur dari rumahnya dan kembali ke kampung halaman kami, tetapi usaha kami sia-sia karena dalam pejalanan, kami ditangkap lagi oleh pedagang budak lain dan diperjual-belikan beberapa kali lagi.

Sampailah saat-saat yang paling mengerikan, pada suatu hari nyonya dari majikan itu mengatakan bahwa semua budak yang belum menjalani operasi harus secepatnya menjalaninya. Oleh karena itu, seorang wanita yang mempunyai keterampilan dalam bidang seni yang kejam datang ke rumah majikan. Ia membawa kami ke beranda, sementara nyonya berdiri di belakang kami dengan sebuah cambuk di tangannya. Adapun perlengkapan yang dibawa oleh wanita itu adalah pisau cukur, sebuah piring yang penuh dengan tepung putih, dan sebuah piring penuh dengan garam.

Lalu ia memerintahkan yang pertama dari antara kami supaya berbaring di tanah sementara dua orang budak yang lain memegangnya; satu pada bagian kakinya dan lain pada tangannya. Lalu wanita itu mulai membuat gambar yang ganjil di atas perut gadis malang itu dengan tepung putih sekitar enam puluh banyaknya. Saya berdiri terpaku, takut setengah mati, ketika melihat apa yang sedang berlangsung, sementara menyadari bahwa giliran saya akan segera datang.

Setelah membuat gambar dengan tepung, wanita itu mengambil pisau cukur dan membuat irisan-irisan menurut gambar itu, sementara si korban itu berteriak-teriak dan mengeluarkan banyak darah. Tatapi itu belum merupakan akhir operasi yang sangat menyakitkan. Yang paling menyakitkan ketika garam digosok pada enam puluh luka irisan itu, dengan pertimbangan bahwa garam akan merasuk ke dalam luka-luka itu sehingga luka-luka itu cepat sembuh. Orang yang malang itu gemetar sekujur tubuhnya, bagitu pun saya dan teman saya juga menunggu giliran kami. Dan benar sekali, setelah korban pertama dibawa pergi dalam keadaan tak sadarkan diri, tibalah giliran saya.

Saya ragu untuk bergerak tetapi pandangan dari wanita yang berdiri di belang dengan cambuk di tangannya meyakinkan saya bahwa tak ada jalan lain. Cepat-cepat saya berbaring di lantai. Untung wajah saya tidak diapa-apakan, tetapi enam gambar yang rumit digambarkan pada buah dada saya dan enam puluh gambar pada perut dan lengan saya. Sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata apa yang saya rasakan. Saya pikir saya akan mati, terutama ketika garam merasuk kedalam luka-luka saya, tetapi ternyata Tuhan masih menjaga saya.

Dengan bermandikan darah saya sendiri, saya dibawa pergi dan dibaringkan pada sebuah tikar jerami. Ketika sadar, setelah berjam-jam saya berbaring di atas tikar itu tanpa sadarkan diri, saya melihat disamping saya ada dua teman saya yang malang, yang telah menjalani siksaan yang sama. Selama satu bulan kami dihukum untuk berbaring dengan diam tanpa selembar kain pun untuk menghapus darah yang mengalir dari luka-luka kami yang terbuka.

Kini, saya dapat melihat bahwa hanya karena mujizat Tuhan, saya tidak mati. DIA telah menentukan saya untuk hal-hal yang lebih baik.

Singkat cerita, pada suatu hari, majikan mendapat kunjungan dari Wakil Konsul Italia, Callisto Legnani di Sudan. Kehadiran konsul ini membawa angin baru bagi saya. Konsul itu menaruh perhatian dan kasih sayang kepada saya dan membeli saya dari majikan itu, dan itu merupakan jual-beli yang kelima.

Benar-benar saya adalah orang yang beruntung. Majikan saya yang baru ini bersikap ramah dan menyayangi saya. Ia membawa saya ke Italia. Melalui perjalanan yang menyita waktu, akhirnya kami tiba di Italia. Untuk menyenangkan temannya, Tuan konsul menyerahkan saya kepada mereka. Bersama majikan saya yang baru, saya menjadi pengasuh anak mereka yang baru lahir.

Ketika Tuan dan Nyonya memutuskan untuk kembali ke Afrika untuk melanjutkan usahanya, saya diharapkan untuk tinggal bersama anak mereka di asrama suster Kanossian, dengan tujuan agar anaknya mendapat pendidikan yang baik dan sekaligus belajar katekumen. Ini menjadi moment yang baik bagi saya karena juga ikut belajar agama katolik.

Para suster yang suci itu mengajar saya dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada saya yang telah saya imani sejak kanak-kanak tanpa kenal siap Dia. Dengan bimbingan Tuhan, saya dibabtis sebagai orang Katolik pada 9 Januari 1890 dengan nama Yosefina Bakhita. Merupakan suatu moment yang tak pernah dilupakan. Setelah dibabtis, saya masih menjalani katekumen selama empat tahun. Dan akhirnya suara Tuhan semakin jelas, mendorong saya untuk membaktikan diriku seutuhnya hanya kepada Allah.

Pada 7 Desember 1893, saya memasuki novisiat di Venesia, dan satu tahun kemudian saya dipindahkan ke Verona (rumah induk) untuk menerima jubah suci. Dan pada 8 Desember 1896 saya mengucapkan kaul religius sebagai Putri Cinta Kasih Canossian.

Saat menulis semua pengalaman ini, saya telah hidup sebagai religius selama empat belas tahun (1910).”

Inilah memori sederhana Madre Nero (Bunda Hitam-panggilan akrap dari orang-orang dekatnya). Teringat kembali kata-kata Rasul Paulus: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan kepada orang yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8 : 28

Pedagang mamba yang telah menterornya dan membuatnya menderita begitu banyak, secara tidak langsung mengungkapkan pesan Tuhan ketika mereka memberinya nama Bakhita” yang artinya “Orang yang beruntung.”

Bertahun-tahun kemudian, ketika ditanya seorang mahasiswa Italia, “Apa yang akan dilakukan, jika secara kebetulan Bakhita bertemu lagi dengan para penculik.” Tanpa ragu, Bakhita menjawab , “Saya akan berlutut dan mencium tangan mereka. Karena seandainya apa yang telah terjadi dengan saya tidak pernah terjadi, bagaimana saya menjadi orang Katolik bahkan seorang biarawati. Saya mengasihi mereka. Mereka tidak sadar akan penderitaan yang mereka berikan kepada saya. Mereka majikan dan saya hamba. Mereka berbuat begitu berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan kejahatan, mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Jelas, kata-kata Suster Yosefina Bakhita, FdCC menjadi sebuah inspirsi bagi siapa saja yang mau membuka hatinya kepada rahmat dan kasih Allah.

Memperpendek kata, 8 Februari 1947, Suster Yosefina Bakhita menutup usianya di biara Canossa, Schio, Itali. Atas berbagai mujizat yang dialami setiap orang yang menaruh harapannya melalui Suster ini, tahun 1955-1957 Gereja membuka proses biasa bagi keutamaan suster Bakhita pada tingkat keuskupan Vicenza-Itali. Tahun 1968-1969 dimulai proses apostolik yang aktual. Pada 17 Mei 1992 secara resmi Paus Yohanes Paulus II menyatakan suster Yosefina Bakhita sebagai yang berbahagia (Beatifikasi), dan pada 10 Oktober 2000, disaksikan oleh ribuan umat, suster nero (hitam) ini dinyatakan sebagai “Santa oleh Paus Yohanes Paulus II di halaman Gereja Santo Petrus, Italia.

Kini, pesta Santa Yosefina Bakhita dirayakan setiap tanggal 8 Februari.

By…GBU

Sr. Maria Goreti Safe, FdCC.

 

Montessori

Mei 12, 2008

Maria Montessori

Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Italia, telah menyediakan lingkungan yang berbeda hampir 100 tahun lalu. Ia membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan berhitung dasar

Menurut Maria Montessori, tahun prasekolah menjadi masa bagi anak untuk membina kepribadian mereka. Oleh karena itu setiap usaha yang dirancang harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensinya, menimba ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat, dan kepribadian secara utuh.

Pelopor dalam pengembangan metode belajar matematika bagi anak-anak usia dini, Maria Montessori, telah mempraktekkan pembelajaran matematika lewat kegiatan sehari-hari. Pengalaman tersebut diperolehnya setelah menangani anak-anak bermental terbelakang. Ia menciptakan alat-alat belajar dari benda-benda yang akrab di sekeliling kita. Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang diulang setiap hari, misalnya “Ada dua kancing baju yang hilang” atau “Kita memerlukan tiga piring lagi diatas meja.” Atau cara lain yang digunakan adalah menghitung uang logam, yaitu dengan menyebut satu, dua, tiga, empat,…sampai sepuluh. Dengan cara seperti ini, sebagian besar anak-anak mengalami kemajuan yang pesat. Sehingga pada dasarnya, anak yang berumur tiga tahun sudah tahu menghitung sebelum mereka masuk sekolah. Mereka lebih mudah belajar menghitung angka yang sederhana dengan menghitung benda-benda, karena hal inilah yang menjadi alat belajar yang menarik bagi anak-anak. Dibawa ini adalah teorinya dalam bidang belajar menghitung.

Pelajaran Matematika: Pengantar Ilmu Hitung

a. Pelajaran tentang bilangan

Pelajaran ini menggunakan satu set batang kayu yang berwarna alternatif merah dan biru. Caranya: batang kayu disusun mulai dengan warna merah dan selalu mulai dari sisi A: satu; satu, dua; satu, dua, tiga; dan seterusnya sampai sepuluh. Setelah menyusun batang kayu itu, anak disuruh memberi nama pada setiap batang kayu itu. Selanjutnya untuk mengetahui nomor dari batang kayu-batang kayu itu, kita menghitung dari sisi A: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Hal ini akan menarik minat anak untuk mengulanginya pada kesempatan lain (waktu luangnya). Latihan selanjutnya, batang kayu itu digabungkan secara acak diatas karpet. Pengajar memilih satu batang kayu dan menunjukkan kepada anak, sebagai contoh 5. Pengajar kemudian memintanya untuk memberi satu ukuran panjang setelah angka 5, lalu pengajar meminta dia untuk membuktikan pilihannya dengan menempatkan dua potongan kayu itu bersebelahan. Untuk lebih mahir, dapat diulang dalam pelajaran berikutnya.

b. Latihan bilangan dalam bentuk grafik

Latihan ini terdiri dari penempatan setiap benda pada setiap angka. Caranya sebagai berikut: mengatur dua benda sejenis nampan yang terdiri dari lima bagian kecil. Di belakang setiap bagian ditempelkan sebuah kartu yang berisi satu angka. Dalam nampan pertama berisi 0, 1, 2, 3, 4, dan yang kedua berisi 5, 6, 7, 8, 9. Sebagai latihan, pada nampan tersebut, kita menempatkan sebuah benda pada satu angka di depan anak, biarlah mereka menyelesaikan tugas itu sendiri di tempat mereka dan ketika tugasnya selesai, barulah mereka menunjukkan kepada pengajarnya.

Pelajaran tentang nol (zero). Pada pelajaran ini, anak akan menunjukan kartu yang bertulis angka nol, dan bertanya “Apa yang harus saya letakan di sini” Lalu kita menjawab “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zoro is nothing). Tetapi sering kali anak tidak mengerti. Oleh karena itu, pada akhir pelajaran kita membuat suatu permainan. Pengajar berdiri di antara mereka, dan berbalik kepada salah satu dari mereka, lalu berkata, “Mari sayang, datanglah

kepadaku secepatnya dalam waktu nol (zero)”. Anak hampir berlari kepada pengajar dan berbalik kembali ketempatnya. “Tetapi anakku, datanglah pada satu waktu, dan saya mengatakan padamu, datanglah pada waktu nol” (zero times). Dan anak itu mulai ragu, dan berkata “Sekarang, apa yang harus saya lakukan?” Pengajar menjelaskan, “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zero is nothing). “Tetapi apa yang harus saya lakukan kalau tidak ada?” “Jangan lakukan apapun” “Kamu harus tetap duduk. Kamu tidak perlu datang kapanpun. Waktu nol (zero time) tak ada waktu apapun”, Latihan ini diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan mereka akan senang sekali dan berteriak, saat pengajar memanggil mereka untuk datang kepadanya pada waktu nol (zero time), atau memberikan kepada mereka nol ciuman (zero kisses), (diulang-ulang). Mereka akan berteriak, “Zero is nothing ! Zero is nothing !

C. Latihan untuk mengingat angka

Pelajaran ini dilakukan dengan cara memotong angka-angka dari kelender bekas, kemudian dilipat dan dimasukan kedalam sebuah kotak. Kegiatan selanjutnya, setiap anak mengambil satu kertas yang masih dalam keadaan terlipat di dalam kotak dan membukanya setelah ditempat duduk, tetapi masih dalam keadaan rahasia. Kemudian secara sendiri atau dalam bentuk kelompok pergi ke meja pengajar yang diatasnya terletak berbagai jenis benda dan mengambil benda sesuai angkanya. Sementara lipatan kertas itu harus tetap rahasia. Ketika benda-benda itu telah dikumpulkan, kegiatan selanjutnya benda-benda itu disusun diatas meja mereka; jika bendanya ganjil, benda itu dilebihkan di bawa atau di bagian terakhir dua benda. Sususnannya sebagai berikut :

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

X

XX


x : benda

·: lipatan kertas yang berisi angka

Setelah menyusun benda-benda itu, pengajar datang membuka lipatan kertas, membaca angkanya, lalu menghitung benda-benda itu untuk disesuaikan dengan angka yang ada.

Selain latihan ini, sangatlah menarik untuk mempelajari ekspresi anak-anak ketika mereka membuka lipatan kertas yang ada angka nol. Anak yang mendapat zero tidak akan pindah dari tempatnya ketika ia melihat semua teman-temannya bangkait dan mengambil benda-benda itu dengan bebas. Disini akan terlihat dengan jelas perbedaan karakter dari setiap individu. Beberapa dari mereka terlihat tenang dan mampu menyembunyikan perasaan kecewa, tetapi beberapa dari mereka menunjukkan kekacewaannya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa disengaja. Mereka berusaha untuk menyimpan rahasia (zero) itu rapat-rapat.

d. Penjumlahan dan pengurangan dari satu sampai dua puluh,

perkalian dan pembagian

1. Penjumlahan dan perkalian

Pelajaran ini menggunakan batang kayu seperti pada bagian pertama. Caranya: batang kayu nomor 1 diletakkan di sebelah batang kayu nomor 9 (sebelah kanan), dan seterusnya. Kegiatan ini akan dipadu dengan perintah, “Ambil satu dan tambahkan dengan sembilan; ambil dua dan tambahkan dengan delapan, ambil tiga dan tambahkan dengan tujuh, ambil empat dan tambahkan dengan enam. Dengan cara ini kita membuat empat batang kayu menjadi sepuluh. Yang tersisa adalah lima, tetapi susunlah di tempat terpisah, terlihat dari satu sampai sepuluh satu sama lain. Dan akhirnya terlihat jelas bahwa 2 x 5 = 10.

Latihan ini diulang-ulang sambil mengajarkan simbol dari tambah (+), sama dengan (=), dan kali (x). Tulisannya seperti contoh dibawa ini:

9 + 1 = 10

8 + 2 = 10

7 + 3 = 10 5 x 2 = 10

6 + 4 = 10

2. Pengurangan dan pembagian

Pelajaran ini dilakukan dengan cara, persentuhan angka sepuluh tadi, kita ambil empat dan tersisa enam; ambil tiga dan tersisa tujuh; berikut dua dan tersisa delapan; terakhir ambil satu dan tersisa sembilan. Dalam hal ini sisa lima merupakan setengah dari sepuluh dan dengan memotong batang kayu yang panjang menjadi dua, itu menunjukkan pembagian sepuluh dibagi dua, sehingga kita akan memperoleh lima.

Tulisannya seperti contoh dibawa ini :

10 - 4 = 6

10 - 3 = 7

10 - 2 = 8 10 ¸ 2 = 5

10 - 1 = 9

Untuk kemahiran anak-anak bisa diulang pada pelajaran berikutnya.

Pada kotak ini dapat membantu anak-anak untuk mengingat angka.

Bilangan yang tidak bisa dibagi dua adalah semua bilangan yang tidak ada kotak genap dibagian bawa. Itu adalah bilangan ganjil karena tidak dapat diatur dalam pasangan dua dengan dua. Supaya tidak membosankan, sebagai selingan, ambil lagi kumpulan batang kayu itu untuk belajar angka sebelas, dua belas dan seterusnya sampai dua puluh. Caranya, letakkan batang kayu nomor satu setelah sembilan dan letakkan nomor sepuluh disebelahnya, dengan cara yang sama letakkan nomor dua setelah sembilan lalu sepuluh di sebelahnya, sama halnya dengan tiga dan delapan dan seterusnya sampai dua puluh.

e. Pelajaran desimal : kalkulasi aritmatika lebih dari sepuluh

Materi ini terdiri dari kartu persegi empat. Angka sepuluh telah disusun dalam jumlah yang besar mulai dari satu sampai sembilan. Kita meletakkan nomor-nomor ini dalam suatu barisan; 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Kemudian tidak ada angka, kita harus memulai dan mengambil angka satu lagi tetapi angka satu ini lebih tinggi dari arti pertama dan kita menaruh nol di depannya. Ini adalah angka 10. Lalu angka nol ditutup dengan angka satu sehingga akan terbentuk : 11, selanjutnya 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19. Nomor-nomor itu disususn dengan menambahkan batang kayu nomor 1, 2, 3, dan seterusnya sampai 9. Ini akan membentuk kayu yang sangat panjang karena hasilnya sembilan belas. Latihan ini dapat diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan bahkan bisa menambahkan angka-angka itu sampai 100.

Daftar Pustaka :

Montessori, Maria. 2002. The Montessori Method. New York: Dover Publication.

Bagi rasa

Mei 9, 2008

J.E.Tatengkeng

April 27, 2008

A. Riwayat

J.E. Tatengkeng atau lengkapnya Jan Engelbert Tatengkeng adalah penyair Pujangga Baru. Ia biasa dipanggil Oom Jan oleh orang-orang dekatnya, panggilan yang lazim di kalangan masyarakat Sulawesi Utara. Tatengkeng memang merupakan salah satu fam (marga) dari propinsi itu. Oom Jan ini dilahirkan di Kolongan, Sangihe, Sulawesi Utara, pada tanggal 19 Oktober 1907. J.E Tatengkeng menutup usianya pada tanggal 6 Maret 1968 dan dikebumikan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.

J.E. Tatengkeng memulai pendidikannya di sebuah sekolah Belanda, HIS, di Manganitu. Ia kemudian meneruskannya ke Christelijk Middagkweekscool (Sekolah Pendidikan Guru Kristen) di Bandung, Jawa Barat dan Christelijk Hogere Kweekschool (Sekolah Menengah Tinggi Pendidikan Guru Kristen) di Solo, Jawa Tengah.

Di sekolah-sekolah itulah J.E. Tatengkeng mulai berkenalan dengan kesusastraan Belanda dan gerakan Tachtigers “Angkatan 80-an”, yang kemudian banyak mempengaruhi karya-karyanya.

B. Karya-karya J.E. Tatengkeng

Dalam bidang sanjak, terdapat perbedaan di antara sanjak-sanjak yang dihasilkannya sebelum Perang Dunia II dengan sanjak-sanjak yang dihasilkannya sesudah perang tersebut. Sanjak-sanjak yang dihasilkan sebelum perang tersebut bersifat halus, religious, dan banyak mencerminkan kecintaannya, kepada keindahan khususnya kaindahan alam. Contoh sanjak yang dihasilkannya sebelum Perang Dunia II adalah Kuncup, Masih mencari, Anakku, Akhir kata, dan KataMu Tuhan. Sedangkan sanjak yang dihasilkannya sesudah Perang Dunia II bersifat kritik/sinis terhadap keburukan-keburukan yang terdapat dalammasyarakat. Contoh sanjak yang dihasilkannya sesudah Perang Dunia II adalah Aku dilukis, Penumpang kelas I, Aku berjasa, Mengheningkan cipta, dan Aku dan temanku (Moeljono, 1986:50-60)

Selain itu, J.E. Tatengkeng adalah satu-satunya penyair zaman Pujangga Baru yang membawa warna kekristenan dalam karya-karyanya. Hal ini tidaklah aneh, jika ditelusuri latar belakang kehidupannya, ia adalah putra dari seorang guru Injil yang juga merupakan kepala sekolah zending. Di samping itu, tanah kelahirannya, tempat ia dibesarkan oleh orang tuanya, adalah sebuah pulau kecil di timur laut Sulawesi yang konon masyarakatnya hampir seluruhnya beragama Kristen.

Romantisme yang berasal dari Eropa Barat terus menjalar ke Indonesia melalui sastrawan Gerakan 80. Sastrawan Indonesia, J. E. Tatengkeng termasuk Gerakan 80, selain Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbaa, dan Sanusi Pane. Berdasarkan pertimbangan luasnya cakupan dan telah sastra, sajak J.E. Tatengkeng “Di Pantai, Waktu Petang” termasuk sajak romantis

Di Pantai, Waktu Petang

  1. Merca-mercik ombak kecil memecah,
  2. Gerlap-gerlip sri syamsu mengerling,
  3. Terang menyenang terang cuaca,
  4. Biru kemerahan pegunungan keliling.
  5. Berkawan-kawan perahu nelayan
  6. tinggalkan teluk masuk halungan
  7. Merawan-rawan lagunya nelayan
  8. Bayangkan cinta kenang-kenangan
  9. Syamsu menhintai di balik gunung,
  10. Bulab naik tersenyum simpul
  11. Hati pengarang renung-termenung
  12. Memuji rasa sajak terkumpul,
  13. Makin alam lengang dan sunyi
  14. Makin merindu sukma menyanyi

Dengan membaca secara sepintas sajak “Di pantai, Waktu Petang”, ada sesuatu lirik, ada curahan perasaan yang kuat, tetapi lembut. Nampak usaha Tatengkeng menghela secara pelan-pelan dan halus perasaan pembaca ke suasana alam yang menjelang redup memasuki kesunyian malam. Baginya keheningan malam adalah sesuatu yang dinanti-nanti, bagai muara yang diracik oleh berbagai fenomena alam yang patut dinikmati sepuas hati. Terasa benar rasa syukur sang penyair kepada sang Khalik (larik 11).

Larik makin alam lenggang dan sunyi serta makin merindukan sukma menyanyi….yang mengakhiri sajak ini ibarat canang sang penyair bahwa keheninan malam adalah sebuah kerinduan, terminal, saat menunggu, mengasah rasa, dan mewujutkannya dalam bentuk sajak yang bernama seni. Jadi sajak ini bersifat romantisme.

Sajak “Di Pantai, Waktu Petang” lebih emosional, lebih akrab, dan lebih dekat dengan pembaca. Ini adalah kemampuan seniman mewujutkan cita rasanya melalui kata. (Trisman, Sulistiati, Marthalena, 2003:38-41)

Karya-Karya Tatengkeng:

Puisi

Dalam majalah Pujangga Baru

“Hasrat Hati”
“Laut”
“Petang”
“O, Bintang”
“Sinar dan Bayang”
“Sinar di Balik”
“Tangis”
“Anak Kecil”
“Beethoven”
“Alice Nahon”
“Gambaran”
“Katamu Tuhan”
Dalam majalah lain

“Anak Kecil”
“Gadis Bali”
“Gua Gaja”
Ke Balai”
“Sekarang Ini”
“Sinar dan Bayang”
“Aku Dilukis”
“Bertemu Setan”
“Penumpang kelas 1”
“Aku Berjasa”
“Cintaku”
“Mengheningkan Cipta”
“Aku dan Temanku”
“Kepada Dewan Pertimbangan Kebudayaan”
“Sang Pemimpin (Waktu) Kecil”

Prosa

“Datuk yang Ketularan”
“Kemeja Pancawarna”
“Prawira Pers Tukang Nyanyi”
“Saya Masuk Sekolah Belanda”
“Sepuluh Hari Aku Tak Mandi”

C. Pembaharuan

J.E. Tatengkeng adalah golongan pujangga pertama yang berpenda[pat bahwa seni adalah nafsu, seni adalah perasaan (nafsu yang imajinatif, seni adalah pernyataan yang paling individual dari perasaan yang paling individual. Selain itu, seni adalah gerakan sukma, “Gerakan sukma yang menjelma ke indah kata, itulah seni bahasa. Sukma itu ada dalam masyarakat, alam, dan waktu. Sebagai penyair, ia dikenal sebagai penyair yang dekat dengan alam (J.E. Tatengkeng hlm. 42)

Sajak, kritik-kritik, esai-esai asngat penting karena sifatnya yang tegas dan jujur. Bahasa yang digunakan bukanlah bahasa yang baik menurut norma-norma bahasa melayu. struktur puisinya bebas dari pengaruh pantun dan syair atau bentuk puisi Melayu lama lainnya.

Beberapa sanjak yang dihasilkannya menyatakan kepada kita bahwa ia sudah diliputi nasionalisme dan patriotisme seperti yang dialami oleh sebagian besar pemuda Indonesia pada masa itu. Hal ini diperkuat oleh seorang temannya menyakan bahwa pada awal zaman kemerdekaan, Tatengkeng ikut mendirikan Barisan Nasional Indonesia (BNI).

Karena pengetahuannya luas, ia dapat menulis dengan ragam bahasa yang bermacam-macam sesuai dengan fungsi dan tujuan tulisannya. Misalmya ketika ia menulis dengan judul “Coretan Perjalanan” di surat kabar Tinjauan, ia menulis dengan ragam santai. Dalam majalah Poejangga Baroe, Sulawesi, dan Esensi selalu dengan ragam bahasa ilmiah.

Salah satu sajaknya “Kuncup” disusun secara tipografi.

D. Beberapa komentar

  1. Menurut Dr. B. H. Yassin

J.E. Tatengkeng bersifat ramah, suka humor dan banyak cerita. Swajak-sajaknya bersifat halus, romantis, dan religius. Tetapi sejak tahun 1949, sajak-sajakn ya bersifat sinisme yang halus.

2. Drs. Ishas Ngeljaratan (dosen sastra Unhas)

J. E. Tatangken adalah seorang tokoh yang benar-benar berjiwa Pancasila. Ia menulis puisi yang menggambarkan pernyataan cinta seorang pemuda kepada seorang gadis idamannya. Tatengkeng adalah seorang tokoh yang dapat bereaksi secara cepat dan tepat.

Bye…GBU…

Sr. Ety, FdCC. PBSID ‘06, USD, Yogyakarta.

Triyarkara

April 19, 2008

Driyarkara

Menurut Driyarkara, llmu pendidikan adalah pemikiran ilmiah tentang realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik ). Pemikir ilmiah bersifat kritis, metodis, dan sistematis.

Driyakara menjelaskan sifat kritis, metodis dan sistematis sebagai berikut:

a. Kritis berarti semua pernyataan, semua afrimasi harus mempunyai dasar yang cukup kuat. Orang yang bersifat kritis ingin mengerti betul-betul (tidak hanya membeo), ingin mentyelami sesuatu dengan seluk beluknya dan adasar-dasrnya.

b. Metodis berarti bahwa dalam proses berpikir dan menyeliki itu orang menggunakan cara tertentu.

c. Sistemmatis berarti bahwa pemikiran ilmiah dalam prosesnya itu dijiwai oleh suatu ide yang menyeluruh dan menyatukan, sehingga pemikiran-pemikiranya dan pendapat-pendapatnya tidak tanpa hubungan, melainkan merupakan kesatuan. (Wahana, 2006:6)

Pendidikan merupakan fenomena insani atau gejala insani yang fundamental dan juga mempunyai sifat kontruktif (membangun) dalam hidup manusia. Oleh karena itu, kita (manusia) harus mengadakan refleksi (pemikiran ) ilmiah tentang pendidikan itu. Refleksi ilmiah sebagai peretanggung jawaban sebagai perbuatan manusia, mendidik dan dididik. Pendidikan juga merupakan manusia. Pendidikan lahir dari pergaulan antara orang dewasa dengan orang yangv belum dewasa dalam suatu kesatuan hidup. Tindakan mendidik yang dilakukan orang dewasa dengan sadar dan sengaja didasari oleh nilai-nilai kemanusiaan. Tindakan tersebut menyebabkan orang yang belum dewasa menjadi dewasa dengan memiliki nilai-nilai kemanusiaan dan hidup menurut nilai-nilai tersebut. Kedewasaan diri merupakan tujhuan pendidikan yangt hendak dicapai melalui perbuatan atau tindakan pendidikan.

Mendidik dan dididik merupakan perbuatan yang fudamental. Artinya, perbuatan yang mengubah dan menentukan hidup manusia. Baik dari pihak pendidik maupun dari pihak anak didik. Bagi anak didik, ia menerima didikan dan bertumbuh sehingga menjadi manusia. Bagi pendidik adalah mendidik diartikan menetukan suatu sikap.

Isi dari perbuatan fudamental ialah pe-manusia-an manusia muda (anak) dan ini berarti hominisasi dan humanisasi. Perwujudan yang primer dan fudamental dari pendidikan itu termuat dalam kesartuan hidup tritunggal (ayah, ibu, dan anak)

Jadi intisari pendidikan menurut Driyakara adalah suatu hubungan manusia antara pendidik dan si pendidik satu sama lain. Kedua belah pihak saling menghargai sebagai manusia dan saling membantu mewujudkan kemanusiaan mereka, namun ada perbedaan yaitu yang satu lebih membimbing dan yang lain lebih dibimbing.

Jadi, ajaran pokok Driyakara adalah “Manusia kawan bagi sesama”. Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini digunakan untuk mengkritisi, mengoreksi dan memperbaiki sosialitas prema; sosialitas yang saling memangsa dan membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia)

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa tujuan pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Pendidikan hendaknya menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di masyarakatnya, yang bertanggungjawab atas hidup sendiri dan orang lain, yang berwatak luhur dan berkeahlian.

Sr. Ety, FdCC.

Ki Hajar Dewantara

April 19, 2008

Ki Hajar Dewantara

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Adapun tujuannya adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebaggai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya(Suwarno, 1985 : 2 – 3). Batasan atau rumusan di atas adaah batasan atau rumusan menurut ahli ilmu pengetahuan yang membahas perilaku manusia terhadap manusia. Pada dasarnya rumusan-rumusan itu ada yang member tekanan pada kegiatan orang dewasa dan ada yang member tekanan pada kehidupan setiap orang dewasa, dan ada yang member tekanan pada kehidupan setia orang. Namun dengan berkembangnya Teori Pendidikan Seumur Hidup (sejak tahun 1960-an), dan pemahaman akan kegiatann fundamental manusia dalam mengembangkan dirinya, maka arti atau makna pendidikan terikat pada ‘waktu sekarang’ dan dapat dilihat dari tiga sudut. Adapun ketiga sudut itu adalah :

1. Sudut orang dewasa susila: “Pendidikan adalah bantuan, pengaruhh orang dewasa susila kepada orang belum dewasa susila tertuju ke pendewasaan diri orang belum dewasa susila”.

2. Sudut orang belumm dewasa susila: “Pendidikan adalah penggunaan bantuan dari orang dewasa susila oleh belum dewasa susila demi pendewasan dirinya”

3. Sudut interaksi keduanya : “Pendidikan adalah kegiatan interaksi orang dewasa susila dan orang belum dewasa susila demi pendewasaan orang yang belum dewasa susila” (Hand out ‘Pengantar Pendidikan’ Drs. Wens Tanlain, M. Pd.,hlm. 18-19).

Tujuan pepndidikan adalah membangun anak didik menjadi manusia merdeka lahir-batin, luhur akal budinya,, serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya (hand out Tamansiswa).

Asas-asas Menurut Ki Hajar Dewantara (pidato peresmian berdirinya

Tamansiswa,1922):

1. Hak seseorang akan mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam perikehidupan umum. Tertib dan damai itulah tujuan yang sesungguh-sungguhnya. Tidak ada ketertiban jika tidak bersandar pada kedamaian. Bertumbuh menurut kodrat adalah tujuan sesungguhnya.

2. Pendidikan berarti mendidik anak akan menjadi manusia yang merdeka secara batinnya, merdeka pikiran dan merdeka tenaga. Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, tetapi mengajar murid supaya dapat mencari sendiri pengatahuan guna beramal kepada kepentingan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu yaitu pengetahuanyang bermanfaat untuk keperluan lahir dan batin dalam hidup bersama.

3. Tentang zaman yang akan dating, rakyat kita ada dalam kebingungan. Sering kali kita tertipu oleh keadaan yang kita pandang perlu cocok untuk hidup kita, padahal itu itu keperluan bangsa asing yang dengan kehidupan bangsa kita sendiri. Demikian sering kali kita merusak kedamaian diri kita sendiri.

4. Pengajaran yang hanya dapat dijangkau oleh sebagaian kecil rakyat, tidak berfaedah untuk bangsa kita. Oleh karena itu semua golongan dari bangsa kita harus mendapat pelajaran secukupnya. Oleh karena itu lebih baik memajukan pengajaran untuk rakyat umum dari pada mempertinggi pengajaran, karena mempertinggi pengajaran seolah-olah mengurangi tersebarnya pengajaran.

5. Untuk dapat berusaha dengan asas bebas yang leluasa, maka kita harus bekerja menurut kekuatan sendiri. Walaupun kita tidak menolak bantuan dari orang lain, akan tetapi jika bantuan itu mengurangi kemerdekaan k ita lahir dan batin harus ditolak

6. Oleh karena kita bersandar pada kekuatan kita sendiri, maka haruslah seggala belanja dari usaha kita itu dipakai sendiri denganuang pendapat biasa. Ini yang dinamakan dengan ‘Zelf beruiping system’. Yang menjadi alatnya adalah semua perusahaan yang tetap berdiri sendiri.

7. Dengan tidak terikat lahir batin serta kesucian hati berniatlah kita untuk berdekatan dengan sang anak. Kita tidak meminta suatu hak, akan tetapi menyerahkan diri untuk berhamba kepada sang anak (hand out Taman Siswa)

Yang dimaksud dengan sistem ‘among’ oleh Ki Hajar Dewantara:

Sistem “Among” adalah sebagai realisasi dan asas kemerdekaan diri, tertib dan damai dalam masyarakat, pimpinan kebijaksanaan dengan laku ‘Tutwuri Handayani. ‘Among’ (mengemong) berarti memberi kebebasan kepada anak didik dan guru akan bertindak bila tindakan anak didik membahayakan keselamatan dirinya. Dalam keadaan biasa pimpinan harus tegas, anak didik harus tunduk pada pimpinan yang berlaku, kedudukan pimpinan diatas peraturan yang berlaku. Sistem ‘among’ adalah cara pendidikan yang dilakukan Tamansiswa yaitu mewajibkan para pamong agar mengikuti dan mementingkan kodrat pribadi anak didik dengan tidak melupakan pengaruh-pengaruh yang melingkunginya (hand out Taman Siswa)

Metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “Educatethe head, the heart, and the hand”.

Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan (relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait); segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.)
Oleh karena itu boleh dapat disimpulkan bahwa sistem ‘among’ adalah suatu sistem yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan dua asas yaitu:

a. Kodrat alam, sebagai syarat mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya.

b. Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir-batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir dan bertindak merdeka (hand out Tamansiswa).

Pendidikan berlangsung dalam tiga lingkungan yang disebut “Tri pusat

Pendidikan” yaitu :

1. Lingkungan keluarga: terutama mengenai budi pekerti, keagamaan dan kemasyarakatan secara informal.

2. Lingkungan sekolah: mengenai ilmu pengetahuan, kecerdasan dan pengembangan budi pekerti secara formal.

3. Lingkungan masyarakat: pengembangan keterampilan, latihan kecakapan, dan pengembangan bakat secara non formal. (hand out Tamansiswa)

Tri pusat itu diwujudkan dalam sistem :

1. Menyelenggarakan pendidikan dalam bentuk perguruan, dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi

2. Menyebarluaskan ajaran hidup ketamansiswaan

Jadi, menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand!”

Ki Hajar Dewantara, pendidik asli Indonesia, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologisnya. Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang. Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya.

Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya, budaya dalam masyarakat itu berbeda-beda.

Sr. Ety

Maria Montessori

April 17, 2008


Maria Montessori

Maria Montessori, dokter wanita pertama asal Italia, telah menyediakan lingkungan yang berbeda hampir 100 tahun lalu. Ia membuktikan bahwa anak-anak usia 3 – 4 tahun dengan mental terbelakang, mampu berkembang baik dalam hal menulis, membaca, dan berhitung dasar

Menurut Maria Montessori, tahun prasekolah menjadi masa bagi anak untuk membina kepribadian mereka. Oleh karena itu setiap usaha yang dirancang harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensinya, menimba ilmu pengetahuan, mengembangkan bakat, dan kepribadian secara utuh.

Pelopor dalam pengembangan metode belajar matematika bagi anak-anak usia dini, Maria Montessori, telah mempraktekkan pembelajaran matematika lewat kegiatan sehari-hari. Pengalaman tersebut diperolehnya setelah menangani anak-anak bermental terbelakang. Ia menciptakan alat-alat belajar dari benda-benda yang akrab di sekeliling kita. Lewat kegiatan-kegiatan sederhana yang diulang setiap hari, misalnya “Ada dua kancing baju yang hilang” atau “Kita memerlukan tiga piring lagi diatas meja.” Atau cara lain yang digunakan adalah menghitung uang logam, yaitu dengan menyebut satu, dua, tiga, empat,…sampai sepuluh. Dengan cara seperti ini, sebagian besar anak-anak mengalami kemajuan yang pesat. Sehingga pada dasarnya, anak yang berumur tiga tahun sudah tahu menghitung sebelum mereka masuk sekolah. Mereka lebih mudah belajar menghitung angka yang sederhana dengan menghitung benda-benda, karena hal inilah yang menjadi alat belajar yang menarik bagi anak-anak. Dibawa ini adalah teorinya dalam bidang belajar menghitung.

Pelajaran Matematika: Pengantar Ilmu Hitung

a. Pelajaran tentang bilangan

Pelajaran ini menggunakan satu set batang kayu yang berwarna alternatif merah dan biru. Caranya: batang kayu disusun mulai dengan warna merah dan selalu mulai dari sisi A: satu; satu, dua; satu, dua, tiga; dan seterusnya sampai sepuluh. Setelah menyusun batang kayu itu, anak disuruh memberi nama pada setiap batang kayu itu. Selanjutnya untuk mengetahui nomor dari batang kayu-batang kayu itu, kita menghitung dari sisi A: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Hal ini akan menarik minat anak untuk mengulanginya pada kesempatan lain (waktu luangnya). Latihan selanjutnya, batang kayu itu digabungkan secara acak diatas karpet. Pengajar memilih satu batang kayu dan menunjukkan kepada anak, sebagai contoh 5. Pengajar kemudian memintanya untuk memberi satu ukuran panjang setelah angka 5, lalu pengajar meminta dia untuk membuktikan pilihannya dengan menempatkan dua potongan kayu itu bersebelahan. Untuk lebih mahir, dapat diulang dalam pelajaran berikutnya.


b. Latihan bilangan dalam bentuk grafik

Latihan ini terdiri dari penempatan setiap benda pada setiap angka. Caranya sebagai berikut: mengatur dua benda sejenis nampan yang terdiri dari lima bagian kecil. Di belakang setiap bagian ditempelkan sebuah kartu yang berisi satu angka. Dalam nampan pertama berisi 0, 1, 2, 3, 4, dan yang kedua berisi 5, 6, 7, 8, 9. Sebagai latihan, pada nampan tersebut, kita menempatkan sebuah benda pada satu angka di depan anak, biarlah mereka menyelesaikan tugas itu sendiri di tempat mereka dan ketika tugasnya selesai, barulah mereka menunjukkan kepada pengajarnya.

Pelajaran tentang nol (zero). Pada pelajaran ini, anak akan menunjukan kartu yang bertulis angka nol, dan bertanya “Apa yang harus saya letakan di sini” Lalu kita menjawab “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zoro is nothing). Tetapi sering kali anak tidak mengerti. Oleh karena itu, pada akhir pelajaran kita membuat suatu permainan. Pengajar berdiri di antara mereka, dan berbalik kepada salah satu dari mereka, lalu berkata, “Mari sayang, datanglah

kepadaku secepatnya dalam waktu nol (zero)”. Anak hampir berlari kepada pengajar dan berbalik kembali ketempatnya. “Tetapi anakku, datanglah pada satu waktu, dan saya mengatakan padamu, datanglah pada waktu nol” (zero times). Dan anak itu mulai ragu, dan berkata “Sekarang, apa yang harus saya lakukan?” Pengajar menjelaskan, “Tidak ada; nol tidak ada” (nothing; zero is nothing). “Tetapi apa yang harus saya lakukan kalau tidak ada?” “Jangan lakukan apapun” “Kamu harus tetap duduk. Kamu tidak perlu datang kapanpun. Waktu nol (zero time) tak ada waktu apapun”, Latihan ini diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan mereka akan senang sekali dan berteriak, saat pengajar memanggil mereka untuk datang kepadanya pada waktu nol (zero time), atau memberikan kepada mereka nol ciuman (zero kisses), (diulang-ulang). Mereka akan berteriak, “Zero is nothing ! Zero is nothing !

.

c. Latihan untuk mengingat angka-angka

Pelajaran ini dilakukan dengan cara memotong angka-angka dari kelender bekas, kemudian dilipat dan dimasukan kedalam sebuah kotak. Kegiatan selanjutnya, setiap anak mengambil satu kertas yang masih dalam keadaan terlipat di dalam kotak dan membukanya setelah ditempat duduk, tetapi masih dalam keadaan rahasia. Kemudian secara sendiri atau dalam bentuk kelompok pergi ke meja pengajar yang diatasnya terletak berbagai jenis benda dan mengambil benda sesuai angkanya. Sementara lipatan kertas itu harus tetap rahasia. Ketika benda-benda itu telah dikumpulkan, kegiatan selanjutnya benda-benda itu disusun diatas meja mereka; jika bendanya ganjil, benda itu dilebihkan di bawa atau di bagian terakhir dua benda. Sususnannya sebagai berikut :

·

·

·

·

·

·

·

·

·

·

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

XX

XX

X

XX

XX

XX

X

XX


x :
benda

·: lipatan kertas yang berisi angka

Setelah menyusun benda-benda itu, pengajar datang membuka lipatan kertas, membaca angkanya, lalu menghitung benda-benda itu untuk disesuaikan dengan angka yang ada.

Selain latihan ini, sangatlah menarik untuk mempelajari ekspresi anak-anak ketika mereka membuka lipatan kertas yang ada angka nol. Anak yang mendapat zero tidak akan pindah dari tempatnya ketika ia melihat semua teman-temannya bangkait dan mengambil benda-benda itu dengan bebas. Disini akan terlihat dengan jelas perbedaan karakter dari setiap individu. Beberapa dari mereka terlihat tenang dan mampu menyembunyikan perasaan kecewa, tetapi beberapa dari mereka menunjukkan kekacewaannya dengan menggerak-gerakkan tubuhnya tanpa disengaja. Mereka berusaha untuk menyimpan rahasia (zero) itu rapat-rapat.

d. Penjumlahan dan pengurangan dari satu sampai dua puluh,

perkalian dan pembagian

1. Penjumlahan dan perkalian

Pelajaran ini menggunakan batang kayu seperti pada bagian pertama. Caranya: batang kayu nomor 1 diletakkan di sebelah batang kayu nomor 9 (sebelah kanan), dan seterusnya. Kegiatan ini akan dipadu dengan perintah, “Ambil satu dan tambahkan dengan sembilan; ambil dua dan tambahkan dengan delapan, ambil tiga dan tambahkan dengan tujuh, ambil empat dan tambahkan dengan enam. Dengan cara ini kita membuat empat batang kayu menjadi sepuluh. Yang tersisa adalah lima, tetapi susunlah di tempat terpisah, terlihat dari satu sampai sepuluh satu sama lain. Dan akhirnya terlihat jelas bahwa 2 x 5 = 10.

Latihan ini diulang-ulang sambil mengajarkan simbol dari tambah (+), sama dengan (=), dan kali (x). Tulisannya seperti contoh dibawa ini:

9 + 1 = 10

8 + 2 = 10

7 + 3 = 10 5 x 2 = 10

6 + 4 = 10

2. Pengurangan dan pembagian

Pelajaran ini dilakukan dengan cara, persentuhan angka sepuluh tadi, kita ambil empat dan tersisa enam; ambil tiga dan tersisa tujuh; berikut dua dan tersisa delapan; terakhir ambil satu dan tersisa sembilan. Dalam hal ini sisa lima merupakan setengah dari sepuluh dan dengan memotong batang kayu yang panjang menjadi dua, itu menunjukkan pembagian sepuluh dibagi dua, sehingga kita akan memperoleh lima.

Tulisannya seperti contoh dibawa ini :

10 - 4 = 6

10 - 3 = 7

10 - 2 = 8 10 ¸ 2 = 5

10 - 1 = 9

Untuk kemahiran anak-anak bisa diulang pada pelajaran berikutnya.

Pada kotak ini dapat membantu anak-anak untuk mengingat angka.

Bilangan yang tidak bisa dibagi dua adalah semua bilangan yang tidak ada kotak genap dibagian bawa. Itu adalah bilangan ganjil karena tidak dapat diatur dalam pasangan dua dengan dua. Supaya tidak membosankan, sebagai selingan, ambil lagi kumpulan batang kayu itu untuk belajar angka sebelas, dua belas dan seterusnya sampai dua puluh. Caranya, letakkan batang kayu nomor satu setelah sembilan dan letakkan nomor sepuluh disebelahnya, dengan cara yang sama letakkan nomor dua setelah sembilan lalu sepuluh di sebelahnya, sama halnya dengan tiga dan delapan dan seterusnya sampai dua puluh.

e. Pelajaran desimal : kalkulasi aritmatika lebih dari sepuluh

Materi ini terdiri dari kartu persegi empat. Angka sepuluh telah disusun dalam jumlah yang besar mulai dari satu sampai sembilan. Kita meletakkan nomor-nomor ini dalam suatu barisan; 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Kemudian tidak ada angka, kita harus memulai dan mengambil angka satu lagi tetapi angka satu ini lebih tinggi dari arti pertama dan kita menaruh nol di depannya. Ini adalah angka 10. Lalu angka nol ditutup dengan angka satu sehingga akan terbentuk : 11, selanjutnya 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19. Nomor-nomor itu disususn dengan menambahkan batang kayu nomor 1, 2, 3, dan seterusnya sampai 9. Ini akan membentuk kayu yang sangat panjang karena hasilnya sembilan belas. Latihan ini dapat diulang-ulang sampai anak-anak mengerti dan bahkan bisa menambahkan angka-angka itu sampai 100.

Daftar Pustaka :

Montessori, Maria. 2002. The Montessori Method. New York: Dover Publication.