Arsip untuk ‘Drama’ Kategori

Drama

Oktober 26, 2009

KESERAKAHAN

Narator :       Pada suatu hari hidup seorang raja yang bernama Lucia, Lucia adalah raja yang sangat jahat dan kejam di Iceland dan Lucia mempunyai seorang anak yang bernama Haru dan dia adalah pewaris tatah kerajaan.

Lucia:             Anak ku yang terhormat, datanglah ayah mau berbicara kepada mu.

Haru:              Baik ayah.

Lucia:             Anak ku, ayah sudah tua dan tidak mampu memimpin kerajaan lagi dan ayah ingin memberikan tatah kerajaan kepada mu. Apakah kamu bersedia mengantikan posisi ayah ini?

Haru:              Aku bersedia mengantikan posisi ayah.

Narator:        Setelah ayahnya memberikan tatah kerajaan kepada haru 5 hari kemudian ayahnya mati, kemudian Haru langsung mengambil ahli kerajaan dan memberikan pengarahan kepada prajuritnya.

Haru:              Wahai prajurit ku, kini ayahku suadah tiada dan ayah ku memberikan tatah kerajaannya kepadaku dan aku harap kalian bisa diandalkan. Jika ada yang menolak perintahku dia akan dihukum mati.

Prajurit:          Siap tuanku!

Narator:        Setelah itu Haru memulai memimpin kerajaannya dan Haru lebih kejam daripada ayahnya, karena Haru merasa wilayahnya sempit maka dia pun mulai mempersiapkan prajuritnya untuk meyerang kerajaan lain dan memperluas wilayahnya.

Haru:              Wahai prajurit ku, besok kita akan mulai menyerang kerajaan lain untuk mempeluas kerajaan kita dan aku harap besok kita bisa menang dan jika menang kalian boleh merayakannya.

Prajurit:          Hore!!!

Narator:        Setelah pagi.

Haru:              Prajurit ku, ayo kita mulai peperangan ini dan raih kemenangan kita.

Narator:        Karena Haru tidak memiliki strategi maka kalah telak, setalah kalah Haru mulai mencari ahli strategi,ksatria tangguh, dan wakil raja. Ahli strategi bernama Cao-Cao, ksatria tangguh bernama Donrino dan wakil raja adalah Musica.

Cao-Cao:     Tuanku besok kita mau merebut wilayah mana?

Haru:              Aku akan merebut wilayah selatan Greenland, menurut mu strategi bagaimana yang cocok untuk perang besok?

Cao-Cao:     Aku mempunyai strategi yang cukup kuat untuk menang.

Haru:              Strategi seperti apa?

Cao-Cao:     Begini tuanku, petama-tama kita akan mengirim prajurit kecil untuk menyerang pintu utamanya setelah itu kita akan menyerang pintu belakang mereka aku pasti dengan strategi itu kita  akan menang.

Haru:              Baiklah aku akan menggunakan strategi mu itu tapi aku akan mempertimbangkan dengan Musica dulu.

Cao-Cao:     Baiklah tuanku.

Haru:              Musica bagaima menurutmu strategi Cao-Cao ini?

Mucica:        Menurutku strategi Cao-Cao juga boleh.

Haru:              Baiklah Cao-Cao aku akan mengunakan strategimu.

Cao-Cao:     Terima kasih tuan telah mempercayai aku.

Narator:        Ke esokan harinya mereka melakukan strategi yang diberikan oleh Cao-Cao dan akhirnya mereka pun menang, Haru sangat senang sekali sehingga merayakannya dengan meriah.

Haru:              Cao-Cao aku bangga padamu.

Cao-Cao:     Terima kasih tuanku.

Haru:              Donrino kemari, beritau kepada prajurit kita bawah besok kita akan perang lagi untuk memperluas wilah kita lagi.

Donrino:        Baik tuanku, aku akan segera memberitaukan kepada prajurit.

Haru:              Bagus-bagus, cepat laksanakan.

Donrino:        Prajurit ku besok kita akan perang lagi dan tuan Haru menginginkan kondisi prajuritnya siap tempur besok.

Prajurit:          kita mengerti kakak Donrino.

Donrino:        Bagus, sekarang kalian istirahat.

Prajurit:          Siap kakak donrino.

Narator:        Ke esokan harinya mereka pun siap tempur dan strateginya sama seperti strategi kemarin.

Haru:              Wahai prajurit ku ini akan menjadi kemenangan kita yang kedua, Donrino kamu akan menjadi ujun tombok di peperangan ini dan aku harap kamu bertanggung jawab.

Donrino:        Baik tuan ku semua perintahmu akan kujalankan dengan sempurna.

Haru:              Bagus jawaban itu yang ingin kudengar dari kamu.

Musica:         Kelihatannya tuan hari ini sangat bersemangat sekali.

Haru:              Kamu memang sangat pintar membaca hati orang lain.

Musica:         Hahahahahah….

Haru:              Hahahahahahahaha…..

Donrino:        Maju…

Narator:        Karena pada hari itu semua semangat sekali maka pertempuran pun dimenangkan oleh Haru lagi.

Haru:              Aku bangga sekali dengan keberhasilan kita yang kedua, karena kalian berusaha dengan keras aku akan memberikan hadia kepada kalian semua yaitu pedang baru.

Prajurit:          Terima kasih tuanku.

Donrino:        Tuanku engkau sangatlah bermurah hati.

Haru:              Hahahahah, ini belum seberapa buat ku. Hahahhahah…..

Musica:         Tuanku, besok kita akan menyerang wilayah mana lagi?

Haru:              Besok kita tidak akan menyerang dulu karena kita sudah 2 hari berturut-turut berperang sehingga aku hendak beristirahat dulu 1 hari ini.

Musica:         Baiklah tuanku.

Narator:        Setelah beristirahat mereka pun berencana untuk merebut 2 wilayah lagi.

Cao-Cao:     Tuanku sekarang kita hendak merebut wilayah mana?

Haru:              Kita merebut konoha bagian utara.

Cao-Cao:     Apa tuan tidak telalu cepat merebut wilayah tersebut?

Haru:              Emang ada apa dengan wilayah tersebut?

Cao-Cao:     Di konoha bagian utara prajuritnya terlalu banyak mungkin 2 kali lipat prajurit kita tuanku.

Haru:              Apakah itu benar Musica?

Musica:         Itu bener tuanku hendaknya kita merebut konoha bagian barat saja dulu.

Haru;              Baiklah kalau begitu aku akan bersabar.

Cao-Cao:     Karena ini konoha bagian barat kita akan mengubah strategi sedikit.

Haru:              Apa strategi mu?

Cao-Cao:     Begini tuanku, Pertama-tama kita akan meyerang pintu depan lalu kita berpura-pura mundur karena kekurangan prajurit, setelah itu kita akan langsung menyerang kembli dengan pasukan yang lebih bayak dari sebelumnya. Aku yakin dengan strategi ini kita pasti bisa menang.

Haru:              Baiklah Cao-Cao aku akan menggunakan strategimu.

Narator:        Setelah paginya mereka bergegas berkumpul digaris depan yang kemarin malam direncanakan. Dan strategi Cao-Cao berjalan dengan sukses kembali setelah berhasil merebut wilayah konohan bagian barat Haru pun langsung mempersiapkan prajurit lebih banyak lagi agar memperebutkan wiliyah konoha bagian utara berhasil dengan lancer.

Haru:              Cao-Cao, 3 hari lagi aku akan memperebutkan wilayah konoha bagian utara dan aku sudah mempersiapkan prajurit lebi banyak lagi.

Cao-Cao:     Apakah tuan sudah mempikirkan itu matang-matang?

Haru:              Aku sudah memikirkan dengan matang-matang.

Cao-Cao:     Baik strategi kali ini kita akan meletakan Donrino pada barisan paling depan karena kekuatan Donrino sudah tidak diragukan lagi.

Haru:              bener juga katamu, baik besok aku akan menyuruh Donrino untuk memimpin barisan depan.

Narator:        Karena pada malam itu Donrino tidak bisa tidur maka dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Cao-Cao dengan Haru dan setelah mendengar bawah kekuatannya sudah tidak diragukan lagi dia berencan untuk membunuh Haru karena menurut Donrino Haru adalah sosok raja yang sombong dan serakah. Matahari pun mulai terbit maka prajurit bergegas berkumpul dan membentuk posisi yang telah di rencanakan.

Haru:              Donrino, pada pertarungan ini aku akan menaruhkan kamu pada posisi paling depan karena aku sudah mempercayai kamu.

Donrino:        Baik!

Narator:        Setelah perang selasi dan itu merupakan perang terakhir maka Haru pun beristirahat selama 1 minggu. Disamping itu Donrino sudah mempersiapkan prajurit rahasia untuk membunuh Haru, setelah Donrino mendapat prajurit  lumayan kuat dan banyak maka pada hari istirat Haru Donrino mulai membatah perintah-perintah yang di berikan oleh Haru maka marah Haru dan meyuruh prajuritnya untuk menghukum mati Donrino.

Haru:              Prajurit tangkap dia dan gantung dia di depan umum.

Donrino:        Hai kau raja yang sombong dan serakah, kau pantas mati ditangan ku.

Haru:              Apa kau bilang!!!

Donrino:        Dan kini ajal mu telah tiba, selama ini aku telah salah menilai kamu.

Narator:        Akhirnya Donrino membunuh Haru dengan tangannya sendiri, setelah Donrino membunuh Haru maka Cao-Cao dan Musica pun segerah melarikan diri dari kerajaan Haru setelah itu kerajaan Haru pun runtuh dan wilayah yang diperebutkan dengan susah payah telah direbut oleh kerajaa lain.

Drama

Oktober 26, 2009

Traumei Yang Abadi

Tokoh :

Recca

Tokoh utama perempuan, umur 16 tahun

Siswi progam regular ( kelas khusus), kelas 2 SMA

Perhatian dengan teman-temannya (terutama Racca)

Keahlian : biola

Racca

Tokoh utama laki-laki, umur 16 tahun

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 2 SMA

Pendiam, jaga image (sifatnya cool), lemah dan halus hanya dengan Recca, teman masa kecil Recca

Keahlian : biola

August

Tokoh utama laki-laki, umur 16 tahun

Siswa progam regular (kelas khusus), kelas 2 SMA

Lemah, peduli dengan Recca, atletis

Keahlian : piano

Nico

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 3 SMA, umur 17 tahun

Periang, mood maker, santai, selalu terlihat segar dan bugar.

Keahlian : terompet

Lathias

Siswi jurusan musik (kelas khusus), kelas 1 SMA, umur 15 tahun

Pemalu, sopan, kagum dengan Recca

Keahlian : clarinet

Lachas

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 1 SMA, umur 15 tahun

Tukang tidur, bisa tidur dimana aja

Keahlian : cello

Radian

Siswa jurusan musik (kelas khusus), kelas 3 SMA, umur 17 tahun, baik, sopan, sahabat Nico

Seperti pangeran yang sempurna di mata para siswi jurusan musik

Keahlian : flute

Nikka

Ibu Recca, periang, baik hati, mencemaskan anak satu-satunya

Keahlian : berbagai jenis alat musik

Alva

Guru musik dan dokter, pemalas, dan cuek is the best, tapi peduli

Keahlian : piano

Kiriiyuu

Kepala sekolah, dan ayah Recca, amat suka musik

Keahlian : flute

Seluruh siswa/i jurusan musik dan progam regular

Y Tertarik dengan konser musik

Pemuda yang lewat

Narator

(Adegen dimulai)

Pemuda : Duh! Hujan yang amat deras! Bagaimana ini?(kebingungan)

Narator : Hei, pemuda yang disana. Sedang apa? Daripada kehujanan, lebih baik berteduhlah disini dahulu. Aku juga sedang berteduh.

Pemuda : Aku? Bolehkah? (berjalan mendekati narrator, lalu duduk disebelahnya) aku sedang dalam perjalanan menemui teman masa kecilku.

Narrator : Hoo…. Teman masa kecil ya…. Bagaimana kalau kuceritakan sebuah kisah sambil menunggu hujan reda?

Pemuda : Sebuah kisah? Hum, baiklah….

Narator : Kisah yang akan kuceritakan ini perjuangan demi menyelamatkan nyawa teman masa kecilnya yang berharga. Sebelum itu, tutup matalah (sambil mengerlingkan mata, lalu pemuda itu menutup matanya). Bayangkanlah sebuah rumah yang mempunyai kebun yang luas, dan ada 2 orang remaja yang sedang bermain disana (Recca dan Racca masuk). Bukalah matamu….

Recca : Mainkan lagi Racca (agak antusias). Aku sangat suka bermain biola denganmu.

Racca : Tapi tekhnikku masih kalah darimu. Justru aku yang senang kamu bermain denganku.

Recca : Hahaha…. Kitakan sudah dari kecil bermain bersama. Jangan begitu.

Narator : Saat itu, ada seorang remaja yang hendak menyeberang kerumah tempat Recca dan Racca bermain, tetapi saat itu, ada sebuah truk yang berkecepatan tinggi ke arah anak remaja itu.

August : Recca! Racca!(sambil melambaikan tangannya kepada mereka berdua yang sudah di depan gerbang rumah Recca)

Recca : Itu August. Eh, gawat! Awas! (berlari menerjang August, tapi saat mendorongnya, August hanya terdorong beberapa senti saja) Ups….

Racca : Cih! Gawat! Recca!(langsung menerjang mereka berdua, Recca dan August terdorong ke depan rumah Recca, lalu menoleh) Haha. Ternyata aku yang tak bisa menghindar (tersenyum ke arah Recca dan August, truk itu langsung menabraknya, dan jatuh berlumuran darah)

Recca : Nggak… (kaget, histeris, dan menangis) Racca…. RACCA!!!! (pingsan)

August : Racca! Recca!(ayah dan ibu Recca masuk dan mendekati mereka bertiga)

Kiiriyuu : Recca! Racca! Astaga!(langsung mendatangi Racca)

August : Om, Tante…. Maaf! Ini salahku! Sampai mereka….

Nikka : Sst.. Sudah, jangan katakan itu lagi. Tak apa. Kami tak menyalahkanmu. Rumah Sakit juga sudah kami telepon.

Narator : Saat di Rumah Sakit

Alva : Pak KepSek, luka Racca memang parah, tapi 1 bulan lagi sudah sembuh dan dapat keluar Rumah Sakit. Hanya saja, Recca….

Nikka : Kenapa Va? Recca kenapa? (cemas)

Alva : Karena syok, dia tak sadarkan diri. Entah kapan bisa sadar. Tapi ada 1 cara meskipun tak tahu berhasil atau tidak. Yaitu, rekaman kebahagiaan. Tapi harus direkam oleh orang yang disayanginya.

Kiiriyuu : Berarti, kita harus menunggu sampai Racca pulih? (Alva mengangguk, Nikka menangis dipelukan Kiiriyuu)

Narator : Selang 1 bulan, Racca yang sudah pulih total, sudah diberitahu tentang keadaan Recca. Recca pun sudah dirawat dirumahnya. Di sekolah….(anak-anak kelas khusus masuk, narrator, pemuda keluar)

Alva : Anak-anak, hari ini kalian akan mendapat teman baru. Dia baru saja sembuh dari kecelakaan. Racca, masuklah (Racca masuk)

Racca : Selamat pagi, namaku Racca. Aku dari sekolah Saint Igna.

Alva : Oke. Sekarang bangkumu di sebelah August. (berjalan ke bangku yang ditunjukkan, lalu duduk)

August : Kenapa? Kamu sudah sembuh? Recca bagaimana?

Racca : Aku sudah sembuh. Recca masih harus istirahat. (mengeluarkan handycam)

Nico : Hei, namaku Nico. Ngomong-ngomong, buat apa handycam itu?

Racca : (senyum) Bukan apa-apa. Hanya merekam.

Radian : Hei, sudah. Jangan ganggu privasi orang lain.

Nico : Iya-iya (malas-malasan) tapi sepi juga, Recca ngga masuk sampai 1 bulan.

Lathias : Apa boleh buat kan? Kalau Kak Recca nggak bisa masuk?

Alva : Wah, kalau tentang Recca kamu jadi berani ya?(senyum) Hei Lachas, jangan tidur!(memukul kepala Lachas pelan dengan buku)

Lachas : Hoahem…. Pak guru ini, aku masih ngantuk…. (langsung tidur lagi)

Nico : Udahlah, Lachas emang gitu. Ngomong-ngomong, kamu bisa main alat musik apa?

Racca : Memang kenapa?

August : Uhuk. Begini, semua yang masuk kelas khusus pasti punya kelebihan. Baik dari jurusan musik maupun program regular, baik kelas 1, 2, atau 3 SMA.

Radian : Keahlianku flute, Nico terompet, Lachas yang sedang tidur itu pintar bermain cello, Lathias kembaran perempuannya clarinet, August piano, dan Recca biola.

Lathias : Kak Recca disebut sebagai jenius di sekolah ini. Bagaimana denganmu?

August : Begini ya, Racca ini juga main biola sama seperti Recca. Dia sahabat kecilnya Recca. Mereka berdua sudah go international.

Nico : Eh, apa? Berarti hebat dong! Ikut saja konser musik besok!

Racca : Kapan?

Lachas : 2½ bulan lagi. Hoahem. Buat penilaian musik nanti kalian sudah siap?

Nico : Wah! Gawat! Aku lupa! Aku latihan dulu di atap!(buru-buru lari pergi keluar)

Radian : Hah…. Orang itu memang selalu begitu.

August : Lebih baik kau juga menyiapkannya. (menepuk pundak Racca)

Narator : 1 bulan kemudian

Racca : Recca, ini rekaman selama 1 bulan ini. Aku mohon kamu cepatlah sembuh. (menangis)

Recca : Racca. Makasih ya…

Racca : (kaget) Recca? Kamu, sudah bangun?

Recca : (menggeleng dan tersenyum) Ini hanya rohku yang terbangun. Tubuhku masih belum terbangun. (mendekati Recca dan mencium kening Racca. Narrator dan pemuda masuk)

Narator : Semenjak itu, Racca dan Recca bisa berbincang-bincang, tetapi keduanya sama-sama terlihat sedih.

Pemuda : Jadi, mereka tak bisa memegang tangan? Waktu bertemunyapun juga terbatas?

Narator : Ya. Itu benar.(keduanya keluar)

Nico : Hey! Racca! Kemarin kemana? Sampai ngga masuk 3 hari. Hari ini kita latihan lho!

August : Racca, jangan-jangan kamu kerumahnya?(memegang pundak Racca)

Racca : Stop. Jangan lanjutkan.(menepis tangan August)

Nico : Hey, Radian. Konser itu, harus pakai baju yang bagus ya?

Radian : Pasti

Nico : Kalau pakai celana jeans nggak boleh ya? Yang paling bagus.

Radian : He? Yang paling bagus ya? (narrator dan pemuda masuk)

Narrator : Semenjak itu, segala kegiatan yang membuat orang lain tertawa selalu direkamnya. 1 bulan kemudian

Pemuda : Apa Racca nggak masuk lagi untuk menyerahkan rekaman?

Narator : Iya. Bahkan sampai 2 minggu. Karena kondisi Recca sempat memburuk. Jadi, Racca tinggal sementara selama 2 minggu. Saat ia kembali ke sekolah…..

August : Hey Racca! Jawab pertanyaanku! Kamu kemana 2 minggu ini? Nggak mikirin kita apa? (August menonjok Racca)

Racca : Aku nggak perlu cerita semuanya ke kamu kan? Lebih baik kalian latihan dulu tanpa aku! (balas nonjok)

August : Sialan kau! Aku nggak ngerti apa maumu! Kamu selalu mikirin dirimu sendiri!

Radian, Lathias : Sudahlah. Jangan teruskan!

Racca : Kalian tahu apa? (mulai menangis dan berteriak) Recca sampai sekarang nggak bangun-bangun juga! Aku udah nggak tahu harus ngapain lagi! Rekaman itupun juga percuma! Walaupun rohnya udah bangun! Tapi tubuhnya belum!

August : Astaga! Jadi itu benar? (Racca mengangguk) Sorry, aku nggak tahu.

Nico : Tapi belum benar-benar nggak berhasil kan? Kita coba aja rekam apa yang kita harapin ke Recca. Siapa tahu berhasil.

Lachas : Lebih baik dicoba. Daripada tidak.

Narator : 2 hari sebelum konser, rekaman itu selesai. Semua siswa di Saint Joseph turut berpartisipasi. Racca pulang untuk menyerahkan rekaman tersebut.

Pemuda : Lalu?

August : Jangan-jangan, Racca tidak datang?

Lachas : Dia pasti datang. Aku jamin.

Racca : Sorry telat.(tergopoh-gopoh) Tadi perjalanan kesini aku sempat tertabrak mobil. Tapi tak apa.

Radian, Nico : Gawat! Lebih baik cepat diobati! Lathias!(Lathias mengangguk)

Narator : Mereka mengakhiri konser itu dengan baik. Saat itu

Recca : Racca! (berlari kearah Racca, naik ke panggung, lalu memeluknya) Aku mimpi kamu ketabrak lagi. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi! (menangis)

Racca : Recca, kamu sudah sadar? (Recca mengangguk) Aku juga berusaha keras agar selalu disampingmu. (memeluk erat Recca)

Recca : Buat semuanya, makasih ya, udah bikin aku bangun lagi dari tidur.

(semuanya tersenyum ke arah Recca)

Narator : Setelah itu, Recca ikut bermain 1 lagu. Semua yang ada disana benar-benar terpana melihat penampilan mereka bertujuh ditambah KepSek, Alva, dan Nikka. Alhasil, mereka bertujuh mendapat beasiswa keluar negri selama 3 tahun di tempat yang sama. Semua kenangan yang pernah terjadi takkan pernah terlupa dari mereka. Karena itu adalah kenangan yang berharga….

Pemuda : Cerita yang bagus. Tapi, kenapa kau bisa tahu sedetail itu?

Narator : Karena, (melepaskan jubahnya) aku adalah Alva, sang dokter dan guru musik. Cepatlah menemui orang yang berharga itu. Jangan sampai kehilangannya. Hujan juga sudah reda.

Pemuda : Terima kasih sudah menceritakan kisah yang amat bagus itu. Aku pasti takkan melupakan cerita dan nasihatmu.(berdiri dan bergegas pergi)

Narator : Uhuk…. Kalau pemuda itu begitu, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga punya orang yang berharga buatmu?

Drama

Oktober 26, 2009

Senja dengan kedamaian

Pelaku/Tokoh:
Dika : Anggota OSIS
Deka : Teman Dika
Hadi : Ketua OSIS
Ricky : Anggota OSIS
Narator:
Sebuah sekolah SMA di pinggir jalan raya, di Yogyakarta. Sebuah gerbang, seperti biasa terdapat di sekolahan dan tempat duduk kayu, bertolak belakang tempat duduknya sepasang kursi kayu yang sudah sedikit lapuk dimakan usia untuk duduk siswa-siswi yang sedang menunggu jemputan. SMA itu adalah Pangudi Luhur.
Seperti sekolah pada umumnya, terdapat beberapa ekstra kulikuler yang beragam. Seorang siswa kelas menengah, yang bertubuh tinggi dan pintar mengikuti kegiatan OSIS. Dika namanya. Dika adalah siswa kelas 2 yang bersahabat, dia mempunyai sahabat, dia adalah Deka. Mereka sering disebut Duo PL. Pada hari Senin, akan terjadi rapat OSIS. Ketika hari senin, Dika bertemu dengan Deka di depan gerbang sekolah.
Dika : Wah, hari ini ada rapat OSIS, Dek.(Sambil menggaruk-garuk kepala)
Deka : Santai aja. Itukan udah kewajiban kamu, dinikmati aja.(Sambil berjalan memasuki gerbang)
Dika : Wah, tapi ini beda. Ada si Ricky, aku males banget nih.(Memasang muka siaga satu)
Deka : Wah parah, emangnya dia ikut OSIS???(mengucapkan kalimat dengan nada mengejek)
Dika : Kamu gimana sih? Dia kan ikut.(Sambil menjitak kepala Deka)
Deka : Aaaww!!!Lha emangnya dia gak pernah ikut rapat???(Membalas perlakuan Dika)
Dika : Wah, jarang banget tuh si Ricky ikutan rapat.(Memasuki kelas dengan lemas)
Deka : Kenapa sih loe???Belum sarapan???(Meletakkan tas di atas meja)
Dika : Hari ini benar-benar hari yang menyedihkan.(Duduk di kursi)
Deka : Masa seorang Dika kalah sama Ricky. Dilihat posturnya, kamu kan lebih baik dari si Ricky, masa kamu nyerah gara-gara dia?(Duduk di atas meja sambil memainkan gitar)
Dika : Bukan masalah baik atau nggak, ini masalah sifatnya. Dia kan cerewet banget, aku males kalo di gosipin sama dia, yang keluar dari mulutnya adalah racun bagiku.(Memasang tampang serius dan melihat Deka)
Deka : Walah kayak gitu di pikirin. Jangan terlalu serius menanggapi orang kayak gitu. Kamu kan pintar, rajin, dan…
Dika : Tidak suka menabung!!!(Menyahut Deka)
Hadi : Dika, nanti jangan lupa ada rapat ya.(Datang dengan tiba-tiba)
Dika : (Kaget)Ahh,Iya kak, nanti aku usahain datang.
Hadi : Jangan di usahain donk!!!Kamu harus datang lho, kamu diperlukan dalam rapat ini, kamu banyak membantu.(Merayu Dika)
Dika : Ya kak, aku datang. (Wajahnya agak gugup)
Hadi : Ya udah, aku pergi ke kelas dulu ya.(Pergi tanpa melihat Dika lagi)
Deka : Gimana?Jadi ikut rapat?(Tertawa pelan)
Dika : Kok kamu ketawa sih?Teman sedang susah gak di bantuin.?(Tiduran di meja)
Deka : Ya Tuhan, ini bulan puasa, jangan Zuudon sama orang lain.(Masih memainkan gitarnya)
Dika : Zuudon?
Deka : Zuudon itu artinya jangan curigaan.(Selesai memainkan gitarnya dan duduk di kursi)
Dika : Aku nggak curigaan kok, itu fakta!
Deka : Ya udah, gak usah di omongin, aku males dengernya.(Tiduran juga di meja)
Dika : Ya udah deh, aku hadapin semuanya.(Bangun dari tidurannya dan bersemangat)
Deka : Gitu donk, masa salah satu dari duo PL lemah sih.
Dika : Duo PL itu Cuma julukan, jangan kepedean.(Mencari-cari buku di tasnya)
Deka : Eh iya, Aku pinjem pr Akuntansi donk
Dika : Nih…(Memberikan buku ke Deka)
Narator: Bell pun berdering,
Saat pulang sekolah.
Deka : Udah siap?(Berdiri di depan ruang OSIS)
Dika : Masih ada 10 menit lagi sebelum mulai.(Masih bingung)
Deka : Udah, masuk aja…(Mendorong Dika masuk ke ruang OSIS)
Dika : Oke, oke, oke, aku bisa sendiri.(masuk ke ruang OSIS, dan melihat sekitar. Di lihatnya Ricky sedang mengobrol dengan cewek-cewek di ruang OSIS)
Ricky : Hari jumat kemarin, Nyokap gue pergi ke Eropa, bokap guwe pergi ke Arab.(Berbicara dengan nada sombong)
Dika : Ngapain?Jadi TKI ya???(Menyahut)
Ricky : Ya enggak lah. Orang tuaku kan kerja di luar negeri.(Melirik melihat Dika)
Dika : Oh, gue kira kerja jadi TKI di luar negeri.(Sedikit tertawa)
Ricky : Ya gak mungkin lah.
Hadi : (Masuk ke ruang OSIS) Kita mulai rapatnya.
Dika : (Mengeluarkan selembar kertas dan bolpoin)
Hadi : 3 minggu lagi, sekolah kita akan mengadakan bazaar jadi ada usulan?(mencatat di papan tulis dengan spidol)
Ricky : (Mengangkat tangan) Gimana kalau kita buat seperti festival. Ada pesta dansa, live concert, dan bazaar amal. Standar anak-anak sekolah kita sangat luar biasa, kan. Mereka akan memamerkan barang-barang asli sehingga anak-anak akan beli. Jadi semua barang itu akan dilelang. Tentu semua keuntungan yang didapat akan di ambil sekolah dan di sumbangkan ke panti asuhan.
Dika : (Berpikir sebentar, lalu berdiri) Aku pikir itu sangat tidak masuk akal
Hadi : Tidak masuk akal?
Dika : Bazaar seharusnya diisi barang-barang buatan siswa seperti kue, boneka, aksesoris. Tujuannya untuk saling merekatkan persahabatan. Begitu kan?
Ricky :( Menyahut ucapan Dika) Gila ya! Buat apa kue buatan sendiri dan aksesoris. Memangnya bazaar di kampung? Jangan bercanda.
Dika : (Balas menyahut) Siapa yang bercanda? Melelang barang-barang mahal di bazaar anak-anak SMA, Bercanda ya?(Agak marah)
Ricky : (Diam)
Hadi : Memang benar sih. Kalau begitu kita lakukan voting. (Menulis nama Dika dan Ricky di papan tulis). Jadi, yang setuju dengan ide Ricky angkat tangan (Melihat tangan-tangan yang terangkat). Yang setuju dengan ide Dika angkat tangan (Melihat tangan-tangan yang terangkat). (Menghitung jumlah nilai Ricky dan Dika) Nilai untuk Ricky adalah 12, dan untuk Dika ada 18. Kita pakai idenya Dika, Dika buat proposalnya, hari sabtu harus sudah ada di tangan saya. Sekian dari rapat kita. (Berkemas-kemas)
Dika : (Keluar dari ruang OSIS, menuju kantin) Hai Dek.
Deka : Hai Dik, cepet amat rapatnya. (Sambil menyeruput minumnya)
Dika : (Duduk di samping Deka) Gila si Ricky, usulannya gak mutu banget.(Mengambil sedotan dan menyeruput minuman Deka)
Deka : Emangnya kenapa?
Dika : Masa di sekolah kita mau diadakan bazaar barang-barang asli. Terus, ada live concert dan pesta dansa. Untung usulannya gak jadi.
Deka : Wah parah tuh, horror.
Dika : Gue pulang dulu ya, mesti buat proposal untuk bazaar.(Pergi tanpa menoleh lagi)
Narator : 3 minggu pun berlalu, bazaar di SMA Pangudi Luhur telah di mulai.
Dika : Wah, bazaarnya seru ya Dek. (Bergumam dengan senang)
Deka : Iya, Eh, si Ricky datang tuh sama teman-temannya. (Melihat Ricky dari kejauhan)
Dika : Biarin aja, kita nikmati acaranya aja. (Melihat-lihat sekitar)
Ricky : Heh Dik, apa maksudmu saat rapat OSIS 3 minggu yang lalu, kamu gak suka ideku?
Dika : Sejujurnya iya. Apa kamu gila dengan ide-ide kamu yang memberatkan teman-teman kita
yang miskin? (Melihat Ricky)
Ricky : Alah, orang miskin di belain, Kamu ngajak berantem aku ya?(Menantang Dika)
Deka : Sorry, Dika nggak berminat lawan orang kayak kamu, feminim. (Menatap Ricky dengan
serius)
Ricky : Apa kamu bilang!(Memukul Deka)
Deka : (Balas memukul Ricky)
Hadi : Hei kalian (berteriak)!!! Jangan berkelahi disini. Ricky kamu kan anggota OSIS, kenapa
malah berantem.
Deka : Dia duluan yang mulai kak, dia gak terima kalau idenya Dika lebih diterima. (berbicara
dengan cepat sebelum dihentikan Ricky)
Hadi : Ohh, jadi kamu biang keroknya. Nanti kamu harus ketemu Pembina OSIS di ruang guru. Dan kamu Deka, sebagai hukuman karena berkelahi disini, kamu harus membantu anggota OSIS lainnya untuk membersihkan ruang kelas sehabis bazaar. (Hanya senyum melihat Deka, sambil mengedipkan mata)
Deka : Beres kak, aku memang mau bantu-bantu kok. Ayo Dik, kita lihat-lihat lagi bazaarnya. Dah Ricky. (Nada mengejek Ricky)
Ricky : Cih…(Marah)

Drama

April 30, 2009

Kubur Kosong

 

Pemain:

Prajurit Roma 1, Prajurit Roma 2, Maria, Maria Magdalena, Yohana, Malaikat, Yesus, Yohanes, Petrus.

Peralatan:

  1. Pakaian.
  2. Kubur (dapat dibuat dari kayu dan ditutup dengan kain supaya terlihat seperti batu, dapat berupa sebuah tenda (dome) yang ditutup dengan kain abu-abu, atau dapat juga lorong buntu yang ditempatkan di panggung).
  3. Pintu yang dibuat seperti pintu batu.
  4. Pelbet yang ditutup dengan kain putih.
  5. Jubah putih dengan kerudung untuk Yesus.
  6. Lampu yang terang di dalam kubur.
  7. Tombak dan perapian untuk para prajurit (jika ada).
  8. Efek suara batu digeser.
  9. Tiga jambangan atau kotak tempat rempah-rempah untuk orang meninggal.

Dekorasi:

Kubur dengan perapian di depannya. Akan lebih baik jika adegan didukung dengan pencahayaan yang redup “Kubur yang Kosong”.

Skenario:

(Prajurit 1 dan 2 masuk. Prajurit 1 duduk di dekat perapian; prajurit 2 berjalan mondar-mandir.)

Prajurit 1

:

Apa yang kita kerjakan di sini? Masa kita harus menjaga kuburan orang mati? Siapa juga Dia ini sebenarnya?

 

Prajurit 2

:

Dia seorang tukang kayu dari Nazaret, tapi banyak orang yang percaya bahwa Dia lebih dari itu. Ada legenda yang dipercayai bangsa ini bahwa Raja dari segala raja akan dilahirkan di sebuah kota kecil yang bernama Betlehem, di dekat daerah ini. Mereka akan memanggil Raja ini Kristus. Banyak orang yang percaya bahwa orang dari Nazaret ini adalah Kristus yang dijanjikan itu.

 

Prajurit 1

:

Hmm, Dia sekarang adalah Raja yang sudah mati dan kuburan-Nya ini adalah kerajaan-Nya. Bagaimana kamu tahu semua itu?

 

Prajurit 2

:

(mengangkat bahu dan berpura-pura tidak tertarik sambil menjelaskan dengan berjalan mondar-mandir lagi) Kepercayaan orang-orang di sini menarik juga. Dan … aku melihat Dia mati. Ada tulisan di salib-Nya. Tulisan itu bunyinya Raja orang Yahudi. Ada juga gempa bumi, tidak seperti biasanya ….

 

Prajurit 1

:

O, ya? Kalau memang Dia raja, Dia sekarang sudah mati. Apa yang bisa Dia lakukan?

 

Prajurit 2

:

[berhenti berjalan dan berbicara menghadap jemaat] Dia menyembuhkan orang buta, tuli, dan lumpuh. Dia mengusir roh jahat dan membangkitkan orang mati.

 

Prajurit 1

:

Kamu tidak percaya itu semua, kan?

 

Prajurit 2

:

(berjalan lagi) Aku tidak tahu. Aku dengar Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mati dan akan bangkit lagi pada hari yang ketiga.

 

Prajurit 1

:

Tak seorang pun akan keluar dari kubur batu itu.

 

Prajurit 2

:

Bagaimana jika para pengikut-Nya mencoba untuk mencuri mayat-Nya dan kemudian mengatakan bahwa Dia telah menepati janji-Nya?

 

Prajurit 1

:

Kita ini prajurit. Kita punya tombak. Kita bisa mengatasi masalah seperti itu. Sekarang, aku mau tidur dulu sebentar. Kamu yang menjaga batu itu kalau memang kamu begitu khawatir tentangnya. [menyandarkan kepalanya ke lutut lalu tidur]

(Terdengar suara batu digeser ketika muncul cahaya yang terang dari dalam kubur dan malaikat menggeser batu penutup kubur itu tanpa terlihat.)

Prajurit 2

:

(membangunkan Prajurit 1) Batu itu bergeser!

 

Prajurit 1

:

(berjalan mendekati kubur) Mayat itu hilang! Ada di mana mayat itu?

Prajurit 2

:

Aku tidak tahu! Aku tidak melihat apa-apa!

 

Prajurit 1

:

Lebih baik kita laporkan saja kejadian ini! Ayo!

(Para prajurit lari keluar dan meninggalkan tombak mereka. Kuburan menjadi sunyi dan perlahan cahaya diatur lebih terang. Yohana, Maria, dan Maria Magdalena masuk membawa rempah-rempah untuk mengurapi orang mati.)

Yohana

:

Aku senang matahari sudah terbit. Lebih mudah melihat jalan setapak ini. Aku yakin prajurit yang disuruh menjaga kubur itu akan menghadang kita di sini.

 

Maria

:

Mereka tidak punya alasan untuk menghadang kita. Kita harus meminyaki tubuh Guru kita dengan baik. Apakah menurutmu kita bisa membujuk para prajurit itu untuk menggeser batu itu untuk kita?

 

Maria Magdalena

:

Ah, prajurit Roma! Sepertinya tidak. Kita harus meminta tolong pada

 orang lain.

 

Yohana

:

(nampak terkejut dan menjatuhkan kotak rempah- rempah) Lihat! Batu itu sudah bergeser!

 (Ketiga wanita itu bergegas menuju kubur itu dan melihat ke dalam kubur.)

Malaikat

:

(muncul) Jangan takut. Aku tahu kalian mencari Yesus yang disalibkan itu. Dia tidak ada di sini. Dia sudah bangkit dari kematian seperti yang dikatakan-Nya kepada kalian. Pergilah dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit!

(Maria dan Yohana segera keluar, Maria Magdalena tetap tinggal di situ sambil menangis. Yesus masuk.)

Yesus

:

Ibu, mengapa engkau menangis?

 

Maria Magdalena

:

Mereka sudah mengambil Tuhanku dan aku tidak tahu

 ke mana mereka membawa-Nya.

 

Yesus

:

Siapa yang engkau cari?

 

Maria Magdalena

:

(melihat Dia untuk yang pertama kalinya) Apakah Engkau penunggu taman? Apakah Engkau yang mengambil Tuhanku itu? Tuan, katakanlah di mana Dia sekarang dan aku akan pergi mencari-Nya.

 

Yesus

:

Maria, apakah Engkau tidak mengenali Aku?

 

Maria Magdalena

:

(berlutut dan berniat memegang Dia) Rabuni!

 

 

Yesus

:

Janganlah engkau memegang Aku, Maria, sebab Aku belum pergi kepada Bapa. Pergilah dan katakan kepada saudara-saudara-Ku bahwa Aku akan kembali kepada Bapa-Ku.

(Maria Magdalena segera keluar; Yesus diikuti oleh Malaikat keluar melalui arah yang berlawanan lebih perlahan-lahan. Yohanes, kemudian Petrus dan Maria Magdalena masuk.)

Yohanes

:

(berlutut di luar kubur) Dia tidak ada di tempat kami meletakkan Dia.

 

Petrus

:

(masuk ke dalam kubur dan menyentuh kain kafan) Dia sudah bangkit! Sekarang aku tahu. Kuasa-Nya lebih besar dari para raja yang ada; Dia telah mengalahkan maut!

(Mereka bertiga berdiri dan berkata satu kepada yang lain dan kepada jemaat: “Kristus telah bangkit! Tuhan Yesus Kristus telah bangkit hari ini!” Keluar melalui tiga arah yang berbeda jika memungkinkan.)