Renungan

Juli 14, 2009 oleh safegoreti

Bagi Rasa

Pagi itu begitu dingin, cuaca yang tadinya cerah, tiba-tiba murung dan tak mau bersahabat. Kubuka jendela lebar-lebar menangkap hawa dari luar. Ketika menengok kedepan, nampak orang-orang tergesa-gesa takut kahujanan dipagi hari. Pohon cemara yang didepan rumah ditiup angin berderai menggelitik hatiku dengan cara yang jenaka. Teratai yang letaknya tidak jauh dari rumah, mekar bagaikan mentari yang menancarkan senyum kala subuh, menambah keindahan taman kecil Samirono.

Aku masih saja duduk terpaku disebuah kursi tua dan membolak-balik koran yang baru saja diberikan oleh Pak Narto, langganan kami. Gelak lawa terdengar bising di kuping, datang dari arah belakang rumah. Maklum…anak kos-kosan. Berapa orang disekelilingku juga sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku masih saja betah di kursi tua itu dengan pandangan kosong. Sunyi masih berperan penting dalam diriku. Entahlah, aku juga belum menemukan sebuah jawaban untuk mengatasi situasi ini. Aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berarti dalam hidup ini.

Hari itu adalah hari yang berantakan bagiku. Aku merasa stres, tertekan dan seakan-akan segala sesuatu tidak mungkin. Aku merasa hidup ini begitu gersang dan sulit untuk dikendalikan, setelah semalam bergulat dalam diri, meraba jadi diri sambil meredam rindu dengan mengerti. Tentu, masih juga mengenang tanah kelahiranku, dengan selusin kenangan masa lalu. Tanpa manulis sanjak, tanpa bertekun diatas buku, tanpa melototkan mata diatas koran, aku ingin menguasai diri dalam sepi. “Hidup ini adalah suatu nilai, hidup telah banyak mengajarku”, tuturku dalam hati.

Dalam kesepian, keheningan, dan kesunyian tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi telepon. Dengan bermalas-malasan, aku beranjak dan menerima telepon itu. Suara dari si penelpon begitu jelas, tapi asing dikupingku. Ia begitu antusias untuk bercerita, setelah mengetahui si penerima telepon adalah aku. Karena keingintahuanku kuat untuk mengetahui lawan bicaraku, maka aku mendesak untuk mengetahui identitasnya. Namun jawabannya begitu jauh dari dugaanku, ia dengan nada yang agak berat melanjutkan pembicaraannya, “Engkau tidak perlu mengetahui, siapa lawan bicaramu tapi yang penting untuk diketahui adalah “Engkau adalah sebuah lagu cinta untukku, sebuah musik yang membuat dunia tersenyum. Aku telah menyanyi bagimu, namun dengan kasih yang membisu, serba terselubung oleh aneka macam kerudung. Sekarang aku menjerit kepadamu tanpa aling-aling semu. Memang bukanlah selamanya kasih sayang itu tak menyadari kedalamannya sendiri sampai datangnya berpisah? Bertahun-tahun kutelusuri kota demi kota, akhirnya aku menemukan cinta yang sejati pada gadis yang berkerudung putih”.

Aku terkejut bercampur bingung dengan pembicaraan yang begitu panjang. Belum sempat bersuara, dengan mantap ia bertutur “Dan supaya engkau tahu, aku lebih berbahagia saat melihat engkau berbahagia. Ingat…rahasia kebahagiaan adalah menjaga agar hati anda terbuka bagi orang lain dan bagi pengalaman-pengalaman hidup. Hati laksana pintu sebuah rumah. Cahaya mata hati hanya dapat masuk bilamana pintu itu terbuka lebar.” Seketika itu juga teleponnya ditutup.

Aku belum juga beranjak dari tempat telepon itu diletakan. Aku masih teringiang-ingiang dengan selusin ucapan tanpa jeda itu, yang menurutku agak aneh kerena belum pernah mendengar pembicaraan yang panjang dari seorang yang misterius, menurutku. Perasaan senang dan bingung bercampur jadi satu. Matahari sudah meninggalkan pagi, langit yang tadinya menangis mulai memancarkan senyum cerahnya. Udara semakin panas suara-suara burung tekukur piraan kami dulu seperti koor guman yang panjang, datang dari arah utara kota Jogjakarta. Pelan-pelan kukembali ketempat dudukku. Seekor burung melintas, mencoba menembus kaca, terpelanting terbang menjauh.

Matahari mulai mengusir awan dan mulai memanasi tubuh. Sekelompok burung terbang membentuk huruf V, barangkali dari persawahan yang jauh. “Mereka hidup dan berbahagia. Terbang, terbang. Bagi mereka waktu adalah hidup itu sendiri. Selalu, dan selalu terbang. Peduli amat!” pikirku. Memang setiap detik dari hidup adalah untuk dinikmati. Waktu yang mengalir tak henti-hentinya adalah kebahagian terbesar bagi yang dapat merasakannya. Koran yang tadinya kubolak-balik untuk mencari berita hangat, kuambil dan kutelusuri artikel demi artikel, sambil bertanya–tanya dalam hati, siapa jejaka yang membuat penasaran pagi ini. Mungkinkah dia adalah seseorang dimasa laluku? Teman masa kini atau…seorang misterius yang diam-diam mengagumi diriku. Entahlah, aku tak peduli. Aku mulai bangkit dari duduk dan mulai menyibukan diri dengan kegiatan seharianku. Melalu perjalanan waktu yang lama, penelepon misterius itu masih sering mengusikku melalui sms, demgan kat-kata yang sudah bagi bagiku “Engkau adalah sebuah lagu cinta bagiku, aku telah menyanyi bagimu namun dengan kasih yang membisu dan serba terselubung oleh aneka macam kerudung”.

Bye…safegoreti, fdcc.

Linguistik

Juli 14, 2009 oleh safegoreti

Pemerolehan Bahasa Anak

1. Pengertian

Istilah pemerolehan dipakai dalam proses penguasaan bahasa, yaitu salah satu proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak ia lahir (Kushartanti, 2005:24). Pemerolehan bahasa atau language acquisition adalah suatu proses yang dipergunakan oleh kanak-kanak untuk menyesuaikan dengan serangkaian hipotesis yang makin bertambah rumit.

Dua pandangan yang bertentangan mengenai pemerolehan bahasa pada anak

· Pendapat Skinner è menurut teori, anak-anak mula-mula merupakan tubula rasa atau sesuatu yang kosong dan lingkungan yang mengisinya melalui mekanisme stimulus respon.

· Pendapat Skinner è menurut teori, anak-anak mula-mula merupakan tubula rasa atau sesuatu yang kosong dan lingkungan yang mengisinya melalui mekanisme stimulus respon.

· Chomsky è seorang anak bukanlah suatu tubula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty adalah kemampuan untuk berkembang).

· Chomsky è seorang anak bukanlah suatu tubula rasa, melainkan telah mempunyai faculty of language (faculty adalah kemampuan untuk berkembang).

2. Tahap-Tahap Pemerolehan Bahasa Anak Secara LinguistikPeriode Pralingual

Periode ini umumnya dialami pada anak pada usia 0 – 1 tahun. Pada periode ini anak belum mengucapkan bahasa. Periode ini dibagi menjadi dua subtahap, yaitu:

a. Periode Pralingual

Periode ini umumnya dialami pada anak pada usia 0 – 1 tahun. Pada periode ini anak belum mengucapkan bahasa. Periode ini dibagi menjadi dua subtahap, yaitu:

1) Tahap Mendekut (cooing)

Pada tahap ini anak mengeluarkan bunyi yang mirip vokal atau konsonan.

2) Tahap Pengocehan (babbling stage)

Seorang anak yang telah berumur kira-kira enam bulan, ia mulai mengoceh. Dalam tahap ini anak mengucapkan sejumlah besar bunyi ujar yang sebagian besar tidak bermakna, dan sebagian kecil menyerupai kata atau penggal kata yang bermakna hanya karena kebetulan saja. Pada tahap ini anak mengeluarkan gabungan bunyi mirip vokal dan konsonan, contohnya konsonan bilabial p, b, m.

b. Periode Lingual

Periode ini umumnya dialami anak pada usia 1-2,5 tahun. Pada periode ini anak mulai mengucapkan kata-kata. Periode ini dibagi menjadi tiga subtahap:

1. Tahap ujaran holofrastik (tahap satu kata)

Tahap ini, anak sudah mampu memproduksi satu kata yang dapat menyatakan lebih dari satu maksud. Tahap ini boleh dinamakan satu kata sama dengan satu kalimat, yang artinya bahwa satu kata yang diucapkan anak merupakan satu konsep yang lengkap.

2. Tahap ujaran telegrafik (tahap dua kata)

Secara bertahap, anak mulai menggabungkan dua kata untuk membentuk kalimat. Dalam proses ini anak mencoba menyusun kata walaupun ia belum mampu menyertakan bentuk-bentuk partikel atau imbuhan

3. Tahap Ujaran Lebih Dari Dua Kata (Tahap Menyerupai Telegram)

Seorang anak sudah mampu menggunakan lebih dari dua kata , maka jumlah kata yang dipakai dapat tiga, empat bahkan lebih. Pada usia kurang lebih dua tahun, anak sudah mulai menguasai kalimat-kalimat yang lebih lengkap.

4. Periode Diferensiasi

Periode ini umumnya dialami anak pada usia 2,5-5 tahun. Pada periode ini anak dianggap telah menguasai bahasa ibu dengan penguasaan tata bahasa pokok. Pada usia 5 tahun, anak mampu menghasilkan kalimat-kalimat yang kompleks (Kushartanti, 2005: 25)

3. Usaha Mencapai Keberhasilan Berbahasa Anak

Ada beberapa yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu keberhasilan anak dalam pemerolehan bahasa, yaitu:

1) mengajarkan bahasa dalam situasi rileks,

2) memfokuskan diri pada maksud bicara anak,

3) mempunyai harapan akan keberhasilan berbahasa anak (Munandar, 2001: 89-91)

4. Penutup

Perkembangan kemampuan berbahasa seorang anak, seperti yang telah diuraikan tidak hanya tercermin dari aspek fonologisnya. Perkembangan itu tercermin pula dari aspek sintaktis, yaitu kemampuan menyusun kalimat; dari aspek semantis, yaitu kemampuan untuk memahami atau mengungkapkan makna suatu kata atau kalimat; dan dari aspek pragmatis, yaitu kemampuan untuk menggunakan bahasa dalam konteks sosial.

Linguistik

Juli 13, 2009 oleh safegoreti

KESANTUNAN DALAM BAHASA INDONESIA

(Menggali Daya Bahasa untuk Berkomunikasi secara Efektif dan Santun

dalam Bahasa Indonesia)

ABSTRAK

Daya bahasa adalah kekuatan yang terdapat dalam bahasa untuk mengefektifkan penyampaian pesan dalam komunikasi. Namun, setiap tindak komunikasi tidak cukup hanya efektif, tetapi juga harus santun. Oleh karena itu, daya bahasa di samping harus mengefektifkan penyampaian pesan juga harus dapat membuat pemakaian bahasa menjadi santun.

Daya bahasa dapat dideskripsikan secara linguistik maupun secara pragmatik. Daya bahasa secara linguistik dapat diidentifikasi melalui berbagai aspek kebahasaan, seperti bunyi, kata, kalimat, leksikon (terutama pilihan kata). Daya bahasa dilihat secara pragmatik dapat diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang sengaja dikonstruk oleh penutur atau penulis untuk tujuan tertentu, seperti praanggapan, tindak tutur, deiksis dan implikatur.

Daya bahasa dapat ditemukan hampir di seluruh pemakaian bahasa. Namun, salah satu pemakaian bahasa yang sangat produktif dalam memanfaatkan daya bahasa adalah karya sastra. Hampir setiap seniman sastra memanfaatkan daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa untuk membangun keindahan dan mengungkapkan amanat agar dapat dinikmati dan dipahami oleh pembacanya.

Sumber data penelitian berupa karya sastra yang dianggap sebagai karya puncak pada zamannnya, baik karya sastra zaman Balai Pustaka, Pujangga Baru, angkatan 45, angkatan 66, serta karya sastra angkatan sesudahnya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan linguistik dan pragmatik. Data penelitian adalah berupa bunyi, kata, kalimat, pilihan kata, serta wacana yang terdapat dalam karya sastra. Data dikumpulkan dengan metode baca dan catat. Instrumen pengumpulan data adalah peneliti sendiri yang dibantu mahasiswa pengumpul data yang sudah dilatih dan dibekali pengetahuan mengenai teknik pengumpulan data secara kualitatif.

Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis secara reflektif interpretatif. Data yang sudah terkumpul digunakan untuk menginventarisasi daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa maupun pemakaian bahasa. Berdasarkan hasil inventarisasi data daya bahasa, kemudian ditentukan ciri-ciri penanda daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa maupun pemakaian bahasa. Setelah data diidentifikasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu untuk selanjutnya dideskripsikan (a) tataran bahasa dan pemakaian bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan, (b) ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa, dan (c) penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun.

1. PENDAHULUAN

Daya bahasa adalah kekuatan yang dimiliki oleh bahasa yang dapat dimanfaatkan oleh penulis atau penutur untuk mengefektifkan penyampaian pesan atau menciptakan kesantunan dalam komunikasi. Ketika seseorang menggunakan bahasa, sebenarnya mereka menggunakan fungsi-fungsi komunikatif bahasa untuk menyampaikan pesan. Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi pada dasarnya adalah menyampaikan pesan. Penyampaian pesan dapat dilakukan dengan cara menolak, membujuk, mengkritik, berimajinasi, bernegosiasi, dsb. Oleh karena itu, agar pesan yang disampaikan dapat sampai kepada pembaca atau pendengar, penutur atau penulis berusaha memanfaatkan daya bahasa seefektif mungkin. Daya bahasa dapat digali melalui berbagai aspek bahasa maupun aspek pemakaian bahasa, seperti bunyi, bentuk kata, kalimat, leksikon (pilihan kata); implikatuir, tindak tutur, praanggapan dan sebagainya.

Sudaryanto (1989) mengidentifikasi bahwa bunyi memiliki kekuatan tertentu ketika digunakan oleh penutur atau penulis. Pada tataran bunyi, bunyi /i/ memiliki daya bahasa yang dapat menggambarkan keadaan kecil pada suatu benda, seperti kata “muskil”, “kerikil”, “cukil”, “ambil”, “kandil”, “pentil“, “kutil“, dsb.

Kata “mampus” memiliki daya bahasa lebih kuat dari pada kata “mati” ketika dipakai untuk mengungkapkan perasaan dongkol pada seseorang. Struktur kalimat tertentu memiliki daya yang berbeda ketika disusun dengan struktur yang berbeda. Misalnya:

(a) Polisi menembak mahasiswa ketika berdemonstrasi.

(b) Mahasiswa tertembak polisi ketika berdemonstrasi.

(c) Ketika berdemonstrasi, mahasiswa tertembak polisi.

(d) Mahasiswa ditembak polisi ketika berdemonstrasi.

Struktur kalimat (a) “polisi menembak mahasiswa” memiliki daya bahasa bahwa “polisi” menjadi pelaku yang secara sengaja melakukan suatu tindakan secara sengaja. Struktur (d) “mahasiswa ditembak polisi” memperlihatkan daya bahasa bahwa mahasiswa melakukan suatu tindakan tertentu sehingga harus ditembak. Struktur (b) “mahasiswa tertembak polisi” yang ditempatkan pada awal kalimat memperlihatkan daya bahasa bahwa peristiwa /tertembak/ lebih penting dari pada peristiwa /berdemonstrasi/. Sementara itu, ketika struktur (c) “mahasiswa tertembak polisi” ditempatkan pada akhir struktur memperlihatkan bahwa polisi secara tidak sengaja melakukan suatu tindakan ketika mahasiswa sedang melakukan suatu tindakan yang lain (berdemonstrasi). Efek (perlokusi) dari ke empat struktur tersebut berbeda-beda.

Memang, banyak orang yang mampu berbahasa Indonesia. Namun, ketika berkomunikasi, kadang-kadang “apa yang dikatakan atau dituliskan” jauh lebih sedikit dari pada “apa yang dipikirkan”. Bahkan, kadang-kadang apa yang dikatakan berbeda dengan “apa yang ingin dikomunikasikan” (Levinson, 1985). Daya bahasa merupakan salah satu cara untuk memperkecil kesenjangan antara “apa yang dipikirkan” dengan “apa yang diungkapkan”. Kesenjangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dikatakan atau yang dituliskan akan dapat dikurangi jika seseorang mampu memanfaatkan daya bahasa untuk berkomunikasi. Namun, kadang-kadang seseorang yang telah mahir menggunakan daya bahasa, ketika berkomunikasi, apa yang dikatakan belum tentu sama dengan apa yang dikomunikasikan karena apa yang dikomunikasikan sering “disembunyikan” di balik apa yang dikatakan untuk menjaga kesopanan (Grice, 1987).

Berkaitan dengan daya bahasa, sebenarnya setiap komunikan dapat menggali dan memanfaatkan daya bahasa. Daya bahasa dapat dipergunakan untuk (a) meningkatkan efek komunikasi, (b) mengurangi kesenjangan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang diungkapkan, (c) memperindah pemakaian bahasa, dsb.

Banyak cara untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan sesuai dengan maksud yang ingin dicapai. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan segala potensi atau daya/ kekuatan yang dimiliki oleh bahasa itu. Hal inilah yang kadang-kadang tidak mudah untuk dilakukan karena tidak setiap orang mampu mengenali kekuatan yang dimiliki oleh bahasa. Berdasarkan uraian di atas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut, “bagaimanakah menggali daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun?” Atas dasar rumusan masalah utama tersebut, disusun sub-masalah sebagai berkut.

a. Pada tataran bahasa dan pemakaian bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan?

b. Ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa?

c. Bagaimanakah penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun?

2. STUDI KEPUSTAKAAN

2.1 Daya Bahasa dan Efektifitas Pemakaian Bahasa

Beberapa ahli bahasa telah mengkaji daya bahasa. Sudaryanto (1991) menggali daya bahasa dari aspek linguistik. Hasilnya, hampir seluruh tataran bahasa ternyata mampu memunculkan daya bahasa. Daya bahasa terdapat dalam tataran bunyi, bentuk kata, struktur, leksikon (terutama pilihan kata) dan wacana. Pada tataran bunyi, bunyi bahasa dapat menunjukkan daya bahasa yang berbeda-beda. Kata yang mengandung bunyi /i/ mengandung daya bahasa yang berkadar makna kecil, seperti “cicit”, “kecil”, “muskil”, “kerikil”, “cukil”, “ambil”, “kandil”, “pentil“, “kutil“,dsb. Bunyi /o/ mengandung daya bahasa yang berkadar makna kata relatif besar, seperti kata-kata dalam bahasa Jawa pothol, kémpol, moprol, bedhol, ambrol, mbrojol, mbrobos, mbrodhol, bodhol, dsb.

Kemampuan memanfaatkan daya bahasa yang terdapat pada tataran bunyi, telah banyak digali oleh para penyair. Hal ini dapat dilihat pada baris-baris puisi yang memanfaatkan daya bunyi. Perhatikan kutipan di bawah ini!

DARI IBU SEORANG DEMONSTRAN

…………………………………..

Ya, ibu tahu, mereka tidak menggunakan gada

Atau gas air mata

Tapi langsung peluru tajam

Tapi itulah yang dihadapi

Ayah kalian almarhum

Delapan belas tahun yang lalu.

Pegilah pergi, setiap pagi

Setelah dahi dan pipi kalian

Ibu ciumi

Mungkin ini pelukan penghabisan

(Ibu itu menyeka sudut-matanya).

Taufiq Ismail, Benteng, 1996.

Bunyi /i/ pada kata “dahi”, “pipi”, “ciumi” bait kedua puisi di atas menggambarkan adanya daya bahasa kerelaan seorang Ibu kepada puteranya yang akan berangkat berdemonstrasi. Bunyi /i/ memunculkan daya bahasa yang menggambarkan perasaan seorang Ibu yang “sedih”untuk melepas anaknya berangkat berdemonstrasi. Hal ini mengingatkan peristiwa masa lalu bahwa ayahnya tewas diterjang peluru tajam ketika melakukan hal yang sama.

Lain halnya dengan kata yang memiliki kemiripan makna (sudaryanto, 1991), seperti “cendhak, cedhak, cendhèk, celak, cepak, cekak”. Kata-kata ini masih dalam medan makna yang sama, tetapi bunyi-bunyi konsonan tengah pada kata-kata tersebut di samping dapat membedakan makna juga memiliki daya bahasa yang berbeda. Misalnya “Dhèwèké nganggo kathok cekak” berbeda makna dan daya bahasanya dengan “Dhèwèké nganggo kathok cendhak”. Kata “cendhak” masih memiliki multi tafsir makna, sehingga daya bahasanya kurang kuat, sedangkan kata “cekak” memiliki monotafsir yang berarti bercelana jauh di atas lutut, dan lebih memiliki daya bahasa yang kuat, yaitu mendekati pangkal paha. Bila daya bahasa bersifat universal, berarti daya bahasa pada bunyi juga dapat ditemukan dalam bahasa Indonesia. Daya bahasa seperti itu ternyata banyak dimanfaatkan oleh penyair. Perhatikan kutipan di bawah ini!

REFLEKSI SEORANG PEJUANG TUA

………………………..

Tentara rakyat telah melucuti Kebatilan

Setelah mereka menyimakkan deru sejarah

Dalam regu perkasa mulailah melangkah

Karena perjuangan hari-hari ini

Adalah perjuangan dari kalbu yang murni

Belum pernah kesatuan terasa begini eratnya

Kecuali duapuluh tahun yang lalu.

Tafiq Ismail

Benteng, 1996.

Kata-kata yang dicetak tebal memberikan daya bahasa yang sangat kuat bahwa “perjuangan memerangi kebatilan merupakan perjuangan hati nurani. Perjuangan seperti ini hanya terjadi di masa perjuangan kemerdekaan” (20 tahun lalu dihitung pada tahun1966).

Daya bahasa dapat juga digali melalui tataran bentukan kata. Kata-kata yang tidak berafik kadang-kadang justru memiliki daya bahasa yang lebih kuat ketika dipakai dibandingkan dengan kata berafik. Misalnya, kata “babat” lebih kuat daya bahasanya dibandingkan dengan kata “membabat” dalam konteks kalimat “Perambah hutan itu babat habis semua pohon yang berdiameter 10 cm ke atas”.

Namun, kata majemuk kadang-kadang juga memiliki daya bahasa yang lebih kuat dari pada kata dasar. Misalnya, kata majemuk “kuda lumping” dalam konteks “Penunggang kuda lumping itu kesurupan lantas makan beling”. Kata “kuda lumping” memiliki daya bahasa yang sangat kuat dibandingkan dengan frasa “penunggang kuda”.

Kata satu dengan kata lain memiliki daya bahasa yang berbeda-beda, seperti kata ‘mati’ atau ‘meninggal’ memiliki daya bahasa yang bersifat netral. Berbeda halnya dengan kata mampus, tewas, gugur, wafat, dsb. memiliki daya bahasa yang berbeda-beda. Kata mampus memiliki daya bahasa negatif yang didalamnya mengandung rasa dendam dan penuh kepuasan karena orang lain yang dibencinya tidak lagi dapat berbuat apa-apa seperti ketika masih berdaya atau hidup. Kata gugur memiliki daya bahasa yang hormat terhadap subjek karena kematiannya terjadi untuk membela kebenaran sehingga perlu mendapat penghargaan/ penghormatan, dsb.

Kata ‘senang’ memiliki daya bahasa yang berbeda dengan kata gembira, riang, sayang, kasih, cinta dsb. Kata gembira misalnya, memiliki daya bahasa karena di dalamnya mengandung rasa puas terhadap suatu keadaan yang diungkapkan dengan keceriaan wajah sambil senyum-senyum. Daya bahasa gembira berbeda dengan daya bahasa kata riang. Kata riang mengandung daya bahasa rasa puas terhadap suatu keadaan yang diungkapkan dengan tersenyum disertai gerakan tubuh seperti menari-nari atau menyanyi/ bersenandung.

Pada tataran struktur, daya bahasa dapat muncul sehingga memiliki kadar pesan yang berbeda antara struktur kalimat satu dengan struktur kalimat yang lain. Perhatikan contoh di bawah ini.

a. Aku memberi sepotong kue untuk pengemis yang kelaparan.

b. Sepotong kue aku berikan untuk pengemis yang kelaparan.

c. Untuk pengemis yang kelaparan aku beri sepotong kue.

Daya bahasa pada kalimat di atas terletak pada penempatan klosa pada awal kalimat. Kalimat (a) dengan menempatkan klosa “aku memberi” memiliki daya bahasa yang berbeda dengan struktur kalimat (b) yang menempatkan klosa “sepotong kue” pada awal kalimat. Begitu pula struktur (c) dengan menempatkan frasa “Untuk pengemis yang kelaparan” pada awal kalimat. Kalimat (a) daya bahasa muncul pada kata “pemberian”, kalimat (b) muncul pada frasa “sepotong kue” dan kalimat (c) muncul pada frasa “pengemis yang kelaparan”.

Bagaimana dengan struktur kalimat lain seperti di bawah ini?

d. Dia menghilang tanpa meninggalkan jejak.

e. Dia menghilang, tidak tahu ke mana perginya.

f. Dia menghilang ketika teman-temannya sedang menyelesaikan pekerjaan.

Unsur kalimat yang dicetak miring (d) memiliki daya bahasa yang sangat kuat karena ada penyangatan dapat menimbulkan makna afeksi “lenyap begitu saja”. Sementara itu, kalimat (e) dan (f) tidak memunculkan daya bahasa yang menimbulkan kesan makna khusus.

Daya bahasa pada wacana dapat muncul ketika kesatuan makna mengungkapkan kesatuan pesan. Pesan yang terungkap dari kesatuan makna tersebut muncul dalam bentuk wacana. Perhatikan kutipan di bawah ini

g. Yèn isih gelem apik karo aku, mbok coba kowé ameng-ameng nyang ngomahé diajak omong-omong kanthi alus. Nèk pancèn isih angèl coba amang-amangen bèn duwé rasa wedi. Déné nèk wis disabarké nganggo cara ngono isih tetap mbeguguk, kondhoa nek aku (ng)amuk bisa tak tumpes kelor.

Wacana di atas memiliki daya yang sangat kuat untuk menyampaikan pesan. Wacana (g) dengan pilihan kata yang tepat dalam setiap kalimatnya, seperti “amêng-amêng”, disusul “omong-omong”, “amang-amang”, dan “(ng)amuk” memiliki daya bahasa yang sangat kuat bagi pendengarnya. Daya bahasa itu muncul karena adanya perbedaan vokal dalam setiap kata. Lebih terasa kuat lagi ketika masing-masing kata memang memiliki makna yang berbeda dan memperlihatkan adanya gradasi dari kata yang sangat biasa ke kata yang memiliki makna afeksi yang sangat kuat, yaitu (ng)amuk.

Daya bahasa dapat juga diungkapkan melalui pemakaian majas.

h. Lha dhèwèké ki utangé wis numpuk nganti sak gunung, sapa sing bisa nulung.Uripku dhéwé waé kaya ngéné.

i. Dapat menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah (semboyan dalam iklan pegadaian).

j. Pilih sendiri tipe rumahnya, tentukan sendiri besar angsurannya (iklan perumahan) majas repetisi.

Wacana (h) daya bahasa muncul karena pemakian majas hiperbola pada utangé … sak gunung” yang menggambarkan bahwa hutangnya sangat banyak. Wacana (i) daya bahasa muncul karena pemakaian majas repetisi pada “menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah yang menggambarkan betapa hebatnya tindakan itu (slogan pegadaian). Wacana (j) daya bahasa timbul karena pembaca dapat marasakan betapa enaknya jika ingin memiliki rumah. Hal ini muncul karena menggunakan daya bahasa repetisi.

2.2 Daya Bahasa dan Kesantunan

Daya bahasa juga dapat menunjukkan tingkat kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi. Pemakaian kata tertentu ketika menyampaikan kritik kepada orang lain, dapat terasa keras dan kasar. Perhatikan kutipan di bawah ini.

(1) Pemerintah dinilai gagal memenuhi kebutuhan dasar rakyat, terutama dalam menegakkan kedaulatan ekonomi dan hukum (Amin Rais; Kompas: 05/05/2008:2).

(2) Kegagalan pemerintah ini dipicu akibat ketidaktegasan pemerintah ymembuat kebijakan yang berpihak kepada rakyat (Amin Rais, Kompas: 05/05/2008:2).

(3) ……Adapun untuk kawasan hutan lindung dan konservasi biasanya dialihfungsikan menjadi areal perkebunan, pertambangan, atau hanya diambil kayunya lalu ditelantarkan (Direktur Eksekutif Greenomics Indonesia, Elfian Effendi; Kompas: 07/05/2008:18).

(4) Pemda hasil pemekaran adalah pihak yang paling berambisi mengalihfungsikan hutan lindung di kawasannya (Koordinator Program Nasional Greenomics Indonesia, Vanda Mutia Dewi; 07/05/2008:18)

Kata gagal, kegagalan, ketidaktegasan, ditelantarkan, berambisi dalam konteks di atas menyatakan kritik penutur kepada mitra tutur yang sangat keras. Kata-kata yang dicetak tebal memunculkan daya bahasa yang sangat kuat. Karena kuatnya daya bahasa, kritik yang disampaikan menjadi tidak santun.

Pemakaian kata seperti itu, memang daya bahasa yang muncul sangat kuat. Namun, karena dipakai dalam konteks yang tidak santun, tuturan menjadi tidak memperlihatkan kearifan penutur. Dalam ungkapan Jawa kritik memang diperbolehkan, namun hendaknya disampaikan secara arif, “ngono ya ngono, ning aja ngono”. Dengan demikian, ibarat orang mengail “kena iwake ning aja nganti buthek banyune”.

Dalam konteks kesantunan berbahasa, daya bahasa yang bernada negatif hendaknya tidak digali semaksimal mungkin agar tidak melukai hati mitra tutur. Sebaliknya, daya bahasa yang bernada positif hendaknya digali semaksimal mungkin agar menjadikan tuturan semakin santun.

Suatu tuturan dikatakan santun apabila dapat meminimkan pengungkapan pendapat yang melukai hati mitra tutur (Leech, 1983). Salah satu cara untuk meminimalkan ungkapan yang tidak santun menurut pendapat saya adalah tidak mengeksploitasi daya bahasa yang berkadar tidak santun semaksimal mungkin. Dalam kaitannya dengan hal di atas, Leech menyarankan agar dipakai beberapa maksim kesantunan sebagai berikut, yaitu (a) maksim kebijaksanaan “tact maxim” (berilah keuntungan bagi mitra tutur), (b) maksim kedermawanan “generosity maxim” (maksimalkan kerugian pada diri sendiri), (c) maksim pujian “praise maxim” (maksimalkan pujian kepada mitra tutur), (d) maksim kerendahan hati (minimalkan pujian untuk diri sendiri), (e) maksim kesetujuan (maksimalkan kesetujuan dengan mitra tutur), (f) maksim simpati “sympaty maxim” (maksimalkan ungkapan simpati kepada mitra tutur), (g) maksim pertimbangan “consideration maxim” (minimalkan rasa tidak senang pada mitra tutur dan maksimalkan rasa senang pada mitra tutur).

Dengan maksim-maksim di atas, akibatnya tuturan banyak disampaikan dalam bentuk tidak langsung. Motivasi penggunaan tindak tutur tidak langsung dimaksudkan agar ujaran terasa santun. Karena itulah, ungkapan “ngono ya ngono, ning aja ngono” menjadikan daya bahasa yang cenderung berkadar tidak santun dapat dinetralkan agar tetap santun. Untuk mengoptimalkan daya bahasa, terutama daya bahasa yang cenderung tidak santun, penutur biasanya menggunakan implikatur (Levinson, 1985). Implikatur adalah apa yang tersirat dari suatu ujaran. Jika kita bedakan “apa yang dikatakan” (what is said) dari “apa yang dikomunikasikan” (what is communicated), implikatur termasuk “apa yang dikomunikasikan”.

2.3 Kerangka Berpikir

Berdasarkan uraian di atas, tergambar dengan jelas betapa kuatnya daya bahasa. Oleh karena itu, untuk menggali daya bahasa agar tuturan dapat efektif tetapi tetap memperlihatkan kesantunan dapat dilakukan dengan berbagai cara.

Petama, daya bahasa dapat digali melalui aspek-aspek linguistik, baik yang terdapat dalam tataran bunyi (seperti persajakan aliterasi dan asonansi bunyi pada kata-kata tertentu yang dinilai dapat memunculkan efek makna yang lebih kuat dari pada kalau kata-kata itu dipakai tanpa memperhatikan persajakan), bentuk kata (seperti, kata dalam majas yang dinilai memiliki daya bahasa yang sangat kuat dari pada kata biasa), struktur kalimat/tuturan (seperti, pemfokusan kata dengan menempatkan kata pada awal kalimat), leksikon (terutama diksi) (seperti, menggunakan sinonim kata yang dinilai memiliki efek makna yang lebih kuat dari kata lainnya; atau memilih kata dengan permainan vokal), serta wacana dapat memunculkan daya bahasa yang memiliki pengaruh psikologis yang kuat terhadap pendengar atau pembacanya (ameng-ameng, omong-omong, amang-amang,dan amuk).

Kedua, daya bahasa juga dapat digali melalui aspek-aspek pragmatik. Dari aspek pragmatik, daya bahasa dapat digali melalui maksim-maksim kesantunan berbahasa. Hal ini akan nampak pada maksim-maksim kesantunan, seperti (a) maksim kebijaksanaan “tact maxim”, (b) maksim kedermawanan “generosity maxim”, (c) maksim pujian “praise maxim”, (d) maksim kerendahan hati, (e) maksim kesetujuan, (f) maksim simpati “sympaty maxim”, serta (g) maksim pertimbangan “consideration maxim”.

Secara skematis, kerangka berpikir penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.

Daya Bahasa

Secara Linguistik

Tataran bunyi

Bahasa menjadi efektif dan santun

Tataran bentuk kata

Tataran struktur

Tataran leksikon

Tataran wacana

Secara Pragmatik

Maksim kebijaksanaan

Maksim kedermawanan

Maksim pujian

Maksim kerendahhatian

Maksim kesetujuan

Maksim kesimpatian

Maksim pertimbangan

3. METODE PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Artinya, fenomena-fenomena bahasa dan pemakaian bahasa diamati untuk melihat keteraturan (regularity) sebagai usaha untuk menyusun rumusan kaidah daya bahasa. Kerangka teori digunakan sebagai pemandu peneliti untuk mengkaji fenomena bahasa dan pemakaian bahasa. Dengan demikian, pada akhirnya teori bersifat graunded yang disusun dan dirumuskan atas dasar data yang ditemukan di lapangan.

Setelah data dikumpulkan, analisis data dilakukan secara deskriptif. Artinya, peneliti berusaha untuk menginventarisasi data, mengidentifikasi data, mengklasifikasi data berdasarkan kesamaan ciri, dan pada akhirnya peneliti akan merumuskan kaidah daya bahasa dan pemakaian daya bahasa.

3.2 Sumber Data Penelitian

Sumber data penelitian berupa karya sastra yang dianggap sebagai karya puncak pada zamannnya, yaitu karya sastra angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 45, angkatan 66, serta karya sastra angkatan sesudahnya. Karya sastra yang dijadikan sumber data berupa puisi, cerpen, dan novel atau roman.

3.3 Data dan Teknik Pengumpulannya

Data penelitian adalah berupa bunyi, kata, kalimat, pilihan kata, serta wacana yang terdapat dalam karya sastra, baik puisi, cerpen, novel atau roman. Data dikumpulkan dengan metode baca dan catat. Setiap sumber data dibaca oleh peneliti. Setelah sumber data dibaca, fenomena-fenomena yang dicurigai mengandung daya bahasa (baik dalam bentuk bunyi/fonem, bentuk kata, struktur kalimat, pilihan kata, serta wacana) dicatat sebagai data.

3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian pada dasarnya adalah peneliti sendiri. Namun, dalam pelaksanaannya peneliti dibantu oleh pengumpul data yang sebelumnya sudah diberi pelatihan dan bekal mengenai teori linguistik dan teori pragmatik yang dipakai sebagai dasar pengumpulan data dan teknik-teknik pengumpulan data. Rambu-rambu pengumpulan data tersebut adalah sebagai berikut.

a. Bunyi/fonem dalam kata yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah dilacak kembali sumber aslinya.

b. Bentuk kata (baik asal, dasar, atau turunan) yang diduga memnculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

c. Struktur kalimat yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar mudah dilacak kembali sumber aslinya.

d. Pilihan kata (diksi) yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

e. Wacana yang diduga memunculkan daya bahasa dan kesantunan dibaca dan dicatat dengan menyertakan konteks dan identitas agar dapat dengan mudah ditemukan sumber aslinya.

3.5 Analisis Data

Analsis data dilakukan secara reflektif interpretatif . Data yang sudah terkumpul digunakan untuk menginventarisasi daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa. Berdasarkan hasil inventarisasi daya bahasa, kemudian ditentukan ciri-ciri penanda daya bahasa yang terdapat dalam seluruh tataran bahasa. Setelah data diidentifikasi, kemudian diklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu untuk selanjutnya dideskripsikan (a) tataran bahasa mana sajakah daya bahasa dapat dimunculkan, (b) ciri penanda apa sajakah yang dapat digunakan untuk mengenali daya bahasa, (c) penggunaan daya bahasa agar komunikasi dapat efektif dan santun, dan (d) kaidah yang dapat digunakan untuk memakai daya bahasa.

3.6 Trianggulasi

Trianggulasi adalah proses validasi untuk penelitian kualitatif. Hal ini dilakukan melalui berbagai tahap.

a. Trianggulasi data adalah proses pengumpulan data secara representatif. Data dikatakan representatif apabila sudah tidak lagi menemukan fenomena baru dalam pengumpulan data.

b. Trianggulasi hasil analisis data dilakukan dengan mengkonfirmasi hasil analisis data dengan para pakar bahasa. Hal ini dilakukan dengan cara berdiskusi dengan para pakar bahasa.

4. DAFTAR PUSTAKA

Austin, J.L. 1978. How to Do Things with Words. Cambridge: Harvard University Press.

Brown, P. dan S. Levinson. 1987. Politeness: Some Universals in Language Usage. Cambridge: CUP

Burhan Nurgiyantoro. 1995. Teori Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Cruse, Alan. 2000. Meaning in Language. Oxford: Oxford University Press

Grice, H. P. 1975. “Logic and conversation”. Dalam Cole, P. dan J. L. Morgan [ Syntax and Semantics 3: Speech Acts

Gunarwan, Asim. 2005.”Beberapa Prinsip dalam Komunikasi Verbal: Tinjauan Sosiolinguistik dan Pragmatik” dalam Pranowo (2005). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Jassin, H.B. 1988. Angkatan ’66. Jakarta: CV. Haji Masagung.

Leech, G. N. 1983. Principles of Pragmatics. Harlow: Longman Magnis Suseno, Frans. 1984. Etika .Jawa. Jakarta: Gramedia

Pranarka, Dr. 1979. “Demokratisasi Bahasa” (Makalah). Yogyakarta: Saijanawiyata Tamansiswa.

Pranowo. 2005. “Kesantunan Berbahasa Pam Elit Politik” (makalah). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Pranowo. 2008. Kesantunan dalam Pemakaian Bahasa Indonesia (Hasil Penelitian). Yogyakarta: PBSID, FKIP Universitas Sanata Dharma.

Searle, J.R. 1969. Speech Acts: An Eassey in the Phillosophy of Language. Cambridge University Press.

Sudaryanto. 1991. Potensi Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana Press.

Thomas, Jenny. 1995. Meaning in Interaction: An Introduction to Pragmatics. London & New York: Longman.

Bahasa dan pikiran

Juli 13, 2009 oleh safegoreti

Bahasa Dan Pikiran

Pada kenyataannya bahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran. Seseorang yang sedang memikirkan sesuatu kemudian ingin menyampaikan hasil pemikiran itu dengan menggunakan alat yaitu bahasa.

  1. Pengertian Pikiran

Menurut KBBI Edisi 3, 2007 : Pikiran adalah akal budi atau ingatan. Sedangkan menurut Sri Utami (1992 : 30), menyatakan bahwa berpikir adalah aktivitas mental manusia. Dalam proses berpikir kita merangkai-rangkaikan sebab akibat, menganalisisnya dari hal-hal yang khusus atau kita menganalisisnya dari hal-hal yang khusus ke yang umum. Berpikir berarti merangkaikan konsep-konsep.

  1. Hubungan Bahasa dan Pikiran

Menurut Steinberg ( 1982 : 101 ) bahwa hubungan antara bahasa dan pikiran adalah:

    1. Produksi ujaran yang merupakan dasar pikiran
    2. Bahasa adalah basis dasar pikiran
    3. Sistem bahasa menunujukkan spesifikasi pandangan
    4. Sistem bahasa menunjukkan spesifikasi budaya

  1. Proses Berpikir

Proses berpikir dilalui dengan 3 langkah yaitu :

    1. Pembentukan pikiran

Pembentukan pikiran tersebutan melalui 2 fase yaitu :

v Menganalisis ciri-ciri dari sejumlah objek yang sejenis. Objek tersebut kita perhatikan unsur-unsurnya satu demi satu. Misalnya mau membentuk pengertian manusia. Kita akan menganalisis ciri-ciri manusia Indonesia : Makhluk yang berbudi, berkulit sawo matang, berambut hitam.

v Membandingkan ciri-ciri tersebut dengan yang lain. Misalnya ciri-ciri bangsa Indonesia dengan bangsa Eropa, mana yang sama dan mana yang berbeda.

    1. Pembentukan pandapat

Pembentukan adalah meletakkan hubungan antara dua buah pengertian atau lebih yang dinyatakan dalam bentuk bahasa yang disebut kalimat.

Pemebentukan pendapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu :

v Pendapat afirmatif atau positif yaitu pendapat yang mengiakan sesuatu hal. Contoh : Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang berkulit hitam.

v Pendapat negative merupakan pendapat yang tidak menyetujui suatu hal. Misalnya : Bangsa Indonesia bukan merupakan bangsa yang berkulit hitam

v Pendapat modalitas atau pendapat kebarangkalian, atau pendapat yang memungkin-mungkinkan sesuatu. Misalnya : Hari ini mungkin hujan.

    1. Penarikan kesimpulan dan pembentukan keputusan

Keputusan merupakn hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada tiga macam keputusan yaitu :

v Keputusan induktif merupakan keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat yang khusus menuju ke suatu pendapat yang umum.

v Keputusan deduktif merupakan keputusan yang ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus

v Keputusan analogis merupakan keputusan yang diperoelh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat yang ada.

Daftar Pustaka

KBBI Edisi 3. 2007. Jakarta : Balai Pustaka

Pateda, Mansoer. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Flores, NTT : Nusa Indah

Subyakto Nababan, Sri Utami. 1992. Psikolinguistik : Suatu Pengantar . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Dardjowidjoyo, Soendjono. 2003. Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Suryabrata, Sumadi. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Persepsi

Juli 13, 2009 oleh safegoreti

PERSEPSI DALAM SISTEM KOMUNIKASI INTRAPERSONAL

I. PENDAHULUAN

Istilah persepsi adalah suatu proses aktivitas seseorang dalam memberikan kesan, penilaian, pendapat, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu berdasarkan informasi yang ditampilkan dari sumber lain (yang dipersepsi). Melalui persepsi kita dapat mengenali dunia sekitar kita, yaitu seluruh dunia yang terdiri dari benda serta manusia dengan segala kejadian-kejadiannya (Meider, 1958). Dengan persepsi kita dapat berinteraksi dengan dunia sekeliling kita, khususnya antarmanusia. Dalam kehidupan sosial di kelas tidak lepas dari interaksi antara mahasiswa dengan mahasiswa, antara mahasiswa dengan dosen. Adanya interaksi antarkomponen yang ada di dalam kelas menjadikan masing-masing komponen (mahasiswa dan dosen) akan saling memberikan tanggapan, penilaian dan persepsinya. Adanya persepsi ini adalah penting agar dapat menumbuhkan komunikasi aktif, sehingga dapat meningkatkan kapasitas belajar di kelas.

Persepsi adalah suatu proses yang kompleks dimana kita menerima dan menanggapi informasi dari lingkungan (Fleming dan Levie, 1978). Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar. Oleh karena itu menurut Walgito (1981), persepsi merupakan kesan yang pertama untuk mencapai suatu keberhasilan. Persepsi seseorang dalam menangkap informasi dan peristiwa-peristiwa menurut Muhyadi (1989) dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu: 1) orang yang membentuk persepsi itu sendiri, khususnya kondisi intern (kebutuhan, kelelahan, sikap, minat, motivasi, harapan, pengalaman masa lalu dan kepribadian), 2) stimulus yang berupa obyek maupun peristiwa tertentu (benda, orang, proses dan lain-lain), 3) stimulus dimana pembentukan persepsi itu terjadi baik tempat, waktu, suasana (sedih, gembira dan lain-lain). http://www.infoskripsi.com

1. Pengertian

Persepsi pada hakikatnya adalah merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Menurut Young (1956) persepsi merupakan aktivitas mengindera, mengintegrasikan dan memberikan penilaian pada obyek-obyek fisik maupun obyek sosial, dan penginderaan tersebut tergantung pada stimulus fisik dan stimulus sosial yang ada di lingkungannya. Sedangkan Wagito (1981) menyatakan bahwa persepsi merupakan proses psikologis dan hasil dari penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi merupakan suatu fungsi biologis (melalui organ-organ sensoris) yang memungkinkan individu menerima dan mengolah informasi dari lingkungan dan mengadakan perubahan-perubahan di lingkungannya. (Eytonck, 1972). Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi, dan menafsirkan pesan. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi/ sensory stimuli (Desiderato, 1976:129). Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi (http://id.wikipedia.org/wiki/Persepsi).

2. Jenis-jenis persepsi

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis.

a. Persepsi visual (indera penglihatan)

b. Persepsi auditori (indera pendengaran yaitu telinga)

c. Persepsi perabaan (indera taktil yaitu kulit)

d. Persepsi penciuman (indera penciuman yaitu hidung)

e. Persepsi pengecapan (indera pengecapan yaitu lidah)

(http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/persepsi.html)

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Ada tiga faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu perhatian, fungsional, faktor dan stuktural.

a. Faktor perhatian (Attention)

Menurut E. Andersen (1972:46), perhatian adalah proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah (Jalaludin Rakhmat, 1996). Faktor perhatian dapat dibagi menjadi dua:

1) Faktor eksternal penarik perhatian: gerakan, intensitas stimuli, kebaruan (novelty), dan perulangan.

2) Faktor internal pengaruh perhatian: biologis dan sosiopsikologis

b. Faktor fungsional yang menentukan persepsi

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalama masa lalu, dan hal yang yang termasuk apa yang kita sebut faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan stimulus tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Contoh: dalam suasana eksperimen, Levine, Chein, Murphy memperlihatkan gambar-gambar yang tidak jelas kepada dua kelompok mahasiswa. Gambar tersebut lebih sering ditanggapi sebagai makanan oleh kelompok mahasiswa yang lapar dari pada oleh kelompok mahasiswa yang kenyang. Jelas perbedaan itu bermula dari kondisi biologi mahasiswa.

Dari ekperimen itu, Krech Crutchfiel merumuskan dalil persepsi bersifat selektif secara fungsional. Dalil ini berarti bahwa objek-objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Hal ini berkaitan dengan pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, pengalaman, dan latar belakang budaya terhadap persepsi. Contoh:

1. Suasana mental mempengaruhi persepsi. Sekelompok anak-anak disuruh menceritakan gambar seorang laki-laki sebelum dan sesudah bermain “perang-perangan”. Sesudah perang-perang anak-anak cenderung lebih banyak melihat kekejaman orang pada wajah orang dalam gambar itu.

2. Suasana emosi mempengaruh persepsi. Emosi mempengaruhi seseorang dalam menerima dan mengolah informasi pada suatu saat, karena sebagian energi dan perhatiannya adalah emosinya. Seseorang yang sedang tertekan karena baru bertengkar dengan pacar dan mengalami kemacetan, mungkin akan mempersepsikan lelucon temannya sebagai penghinaan.

3. Pengaruh kebudayaan pada persepsi sudah merupakan disiplin tersendiri dalam psikologi antar budaya dan komunikasi antarbudaya. Sekedar contoh, suatu kali di Mesir dilancarkan kampanye Keluarga Berencana. Supaya pesan sampai kepada kelomok yang buta huruf, kampanye dilakukan melalu gambar (gambar 4). Gambar itu dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa beban hidup akan semakin bertambah berat bila jumlah anak bertambah banyak. Tetapi mengejutkan sekali, orang-orang Mesir tidak menafsirkan seperti itu. Mereka justru heran, mengapa orang itu tiba-tiba roboh. Rupanya mereka membaca gambar itu dari kanan ke kiri seperti ketika mereka membaca huruf Arab. Atau misalnya budaya Indonesia, bila kita melihat orang sukses kita cenderung menanggapinya sebagai orang yang memiliki karakteristik baik. Sebaliknya kepada orang yang gagal kita mellimpahkan segala dosa.

4. Pengaruh pengalaman terhadap persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman juga bertambah melalui rangkain peristiwa yang pernah kita hadapi. Hal inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya. Ib lebih berpengalaman mempersepsi anaknya daripada bapak.

5. Pengaruh kebutuhan terhadap persepsi. seseorang akan cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya saat itu. Contoh sederhana, seseorang akan lebih peka mencium bau masakan ketika lapar daripada orang lain yang baru saja makan.

c. Faktor struktural yang menentukan persepsi

Faktor-faktor structural berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada system saraf individu. Menurut Gestalt yang kemudian dikenal dengan teori Gestalt berpendapat bahwa bila kita mempersepsi sesuatu kita mempersepsinya secara keseluruhan. Maksudnya jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak meneliti fakta-fakta secara terpisah, kita harus memandangnya secara keseluruhan. Untuk memahami seseorang kita harus melihat perilakunya tetapi kita juga melihat mengapa ia berperilaku seperti itu. Kita mencoba memahami bukan saja tindakan tetapi motif tindakan itu (konteksnya, lingkungannya, dan dalam masalah yang dihadapinya). Dalam hubungan dengan konteks, Krech dan Crutchfiel berpendapat bahwa:

1. Medan perceptual dan kognitif selalu diorganisasikaan dan diberi arti. Dalam arti kitamengorganisasikan stimulus dengan melihat konteksnya. Walaupun stimuli yang kita terima itu tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang kita persepsi. Solomon Asch (1959) melakukan beberapa eksperimen tentang persepsi orang tentang serangkaian kata-kata sifat. Contohnya, bila saya mengatakan kepada Anda bahwa calon istri Anda cerdas, rajin, lincah, kritis, kepala batu dan dengki; Anda akan membayangkan dia sebagai orang yang bahagia, humoris, dan mudah bergaul. Tetapi jika serangkaian kata sifat itu dibalik dan dimulai dari dengki, kepala batu, dan seterusnya, kesan Anda tentang dia berubah. Menurut Solomon Asch, kata yang disebut pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Kata kritis pada rangkaian pertama mempunyai konotasi positif, sedangkan pada rangkaian kedua berkonotasi negatif.

2. Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Menurut dalil ini, jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua individu yang berkaitan dengan sifat kelompok akan dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek yang berupa asimilasi atau kontras. Contoh: “Bila Tono, seorang peragawan berjas dan berdasi, kita akan menceritakan seperti ini: Tono berpakaian necis. Bila Toni, tukang kebun kita yang berjas dan berdasi, kita akan berkata, Anton berpakaian sangat necis”. Dalam rangka inilah, kita memahami mengapa skandal seks yang dilakukan guru agama lebih jelek dari pada skandal seks yang dilakukan bintang film; atau mengapa polisi yang mencuri lebih jahat daripada gelandangan yang berbuat sama.

3. Dalam komunikasi, dalil kesamaan dan kedekatan ini sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitasnya. Orang menjadi terhormat karena duduk berdampingan dengan anggota kabinet atau presiden. Sebaliknya kredibilitas berkurang karena berdampingan dengan orang yang kredibilitas rendah.

Berita

Juni 19, 2009 oleh safegoreti

tv bali 4

Bali Televisi
Bali Televisi (Bali TV) sebagai televisi lokal telah hadir di Bali sejak 24 Mei 2002 untuk memperkaya jagat pertelevisian Bali dan Indonesia. Pintu telah dibuka untuk menyampaikan penghargaan atas khasanah keunikan Bali. Kehadirannya dirancang untuk mampu menumbuhkan inspirasi dan motivasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Bali di masa depan. “Bali Televisi hadir karena pemirsa. Masyarakat Bali membutuhkan media yang memiliki kredibilitas dan mengerti kebutuhan mereka.” demikian kata Gayatri salah karyawati Bali TV yang menyambut kami dan menjelaskan kepada kami, rombongan wisata dari Universitas Sanata Dharma, pada Jumat, (5/6) di aula Bali TV.
Karyawati itu menjelaskan bahwa dalam surat yang dikeluarkan Gubernur Bali tertanggal 29 Juli 2002 secara tegas menyebutkan bahwa Pemerintah Propinsi Bali dan masyarakat Bali sangat berkepentingan terhadap jasa pelayanan informasi lokal dan selama dilakukan uji coba penyiaran, Bali TV sangat mendapat respons positif dari masyarakat Bali. Selain itu, kehadiran Bali TV akan sangat menunjang pelaksanaan otonomi daerah khususnya di bidang pelestarian adat dan budaya serta perkembangan pariwisata Bali.
Bali adalah salah satu destinasi penting di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam percaturan nasional bahkan dunia. Banyak peristiwa nasional dan internasional digelar di Bali sehingga menjadi pusat perhatian. Hal ini ditambah potensi Bali lainnya, misalnya budaya dan tradisi unik, yang informasinya selalu diburu masyarakat dunia. Oleh karena itu, keberadaan media khususnya televisi yang didasari pemahaman yang obyektif atas Bali menjadi semakin relevan.
Dengan maksud memberikan alternatif tontonan yang berkualitas, karyawati itu menjelaskan bahwa Bali TV hadir di dunia pers sejak tujuh tahun silam dengan tujuan memberikan wahana bagi masyarakat Bali untuk berkreasi. Bali TV ingin menjadi lembaga penyiaran profesional yang menyediakan informasi, pendidikan dan hiburan yang memberikan pencerahan bagi masyarakat, tetap pada komitmennya yaitu menjaga budaya dan adat Bali.
Media elektronik yang beralamat di Jl. Hayam Wuruk no. 98, Denpasar, Bali ini hadir di tengah-tengah masyarakat Bali pada umumnya sebagai sarana untuk menyalurkan perubahan, menyebarluaskan pengetahuan, pendidikan, informasi dan hiburan, serta memelihara warisan budaya masyarakat Bali. Selain itu, sasaran dari Bali TV adalah dengan program-program yang ditayangkan dapat membantu masyarakat Bali untuk berkembang dalam keharmonis dengan lingkungan dan masyarakat.
Bali TV yang baru merayakan ulang tahun yang ke-7 ini dioperasikan dengan peralatan peralatan digital yang mutakhir. Seluruh peralatan seperti kamera, editing, master control, dan lain sebagainya menggunakan peralatan dengan spesifikasi unggul guna memberikan tayangan dengan kualitas terbaik. Semua program siaran dipancarkan melalui peralatan transmisi merk ROHDE&SCHWARZ NH/NV 8600 Transmitters Family dengan kekuatan 10K watt. Coverage area Bali TV meliputi seluruh bagian daerah pulau Bali kecuali kota Singaraja, serta daerah di luar Bali meliputi Lombok dan Banyuwangi.

Pragram pemasaran Bali TV sebagai televisi komersial membiayai kegiatan operasional dari para pengiklan. Untuk itu, Bali TV bergiat terus memproduksi program acara yang disukai pemirsa untuk memikat dan mengikat para pengiklan secara rutin berinvestasi pada program yang digemari pemirsa. Program-program Bali TV merangkul semua segmen mulai anak anak, remaja, dewasa dan orang tua.

sma 4

Itulah penjelasan dari wartawan TV Bali kepada mahasiswa Universitas Sanata Dharma, yang mengadakan kunjungan ke TV Bali.
Di luar program pemasaran yang memadukan dengan tepat unsur-unsur pemasaran untuk mengoptimalkan sasaran, Bali TV mengkonsentrasikan sasaran melalui dua cara yaitu penjualan group dan penjualan retail. Penjualan group memberikan paket penawaran menarik dengan diskon dengan bonus khusus langsung kepada pemilik produk atau merek. Program ini dijalankan untuk menjaring pemasang iklan dalam jangka panjang. Sedangkan
penjualan secara retail ini dijual kepada pengiklan yang memiliki program berkala atau tidak rutin dan menyesuaikan dengan pelaksanaan event atau program tertentu.
Dengan moto “Bali TV berkarya dengan kreativitas tak terbatas” ini dengan rendah hati, tetap menerima saran, masukan dan pemikiran positif yang sangat berarti bagi langkah kami ke depan. Bali TV akan tetap eksis atas dukungan pemirsa yang memiliki komitmen yang sama untuk berkontribusi pada Bali. Di Bali TV saatnya kita bergabung mensinergikan semua potensi untuk meraih kegemilangan Bali. Bali TV sekali oke, tetap oke!

Ekspedisi

Juni 16, 2009 oleh safegoreti

GUA MARIA SENDANGSONO

Sendangsono 059
Sendangsono adalah tempat ziarah Gua Maria tertua di pulau Jawa. Secara geografis, Sendangsono berada di pegunungan Menoreh dan beralamatkan di Dusun Semagung, Desa Banjaroya, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sendangsono berbatasan dengan Jawa Tengah kira-kira 30 km dari Kota Magelang dan 15 km sebelah selatan Muntilan. Lima tahun yang silam, yaitu tepatnya tahun 2004 telah memperingati usianya yang ke 100 tahun.
Dari Yogyakarta ke Sendangsono dapat ditempuh melalui dua arah yaitu melalui jalan yang mengarah ke Borobudur atau Muntilan. Setelah memasuki arah candi Borobudur peziarah yang belum pernah ke sana bisa mengikuti petunjuk, tetapi petunjuk itu kurang lengkap ke arah Sendangsono. Oleh karena itu, setelah berada di Borobudur, candi Budha yang terkenal di terkenal di Jawa Tengah itu, peziarah bisa bertanya kepada penduduk sekitar untuk mendapat informasi mengenai jalan menuju Sendangsono.
Jalaur lain yang bisa ditempuh yaitu melalui arah barat dari Yogyakarta menuju desa Kalibawang. Meskipun tidak ada petunjuk tetapi dengan bertanya, orang akan dengan mudah menunjukkan jalan ke Kalibawang lalu ke Sendangsono karena tempat itu sudah terkenal. Bagi yang memakai kendaraan umum juga tidak kesulitan karena tersedia ojek motor yang bisa mengantar peziarah dari jalan raya ke lokasi Sendangsono.
Jalan di desa Kalibawang pas untuk satu mobil sehingga harus saling menepi jika berpapasan dengan kendaraan lain. Jalan masuk Sendangsono sudah diaspal. Sendangsono terletak beberapa kilo meter dari jalan raya. Selain jalannya sempit, di sepanjang jalan masuk lokasi Sendangsono terdapat jalan rusak sedikit tetapi mobil sedan masih bisa lewat dengan mulus.

Bagi yang berkendaraan beroda dua dan baru pertama pergi ke daerah perbukitan itu pasti mengalami kesulitan karena jalannya menanjak lalu menurun, dan juga banyak tikungan. Sementara di sebelah kanan dan kiri jalan terlihat jurang yang cukup menakutkan. Maklum, Sendangsono berada di perbukitan Menoreh. Tetapi justru di sepanjang jalan masuk Sendangsono yang begitu menantang itulah, peziarah akan menikmati keindahan alam berupa tebing-tebing dan hamparan perbukitan yang dihiasi aneka tanaman. Suatu keindahanalami yang memang layak dan pantas dipromosikan kepada publik.
Arsitektur Sendangsono
Komplek ziarah Sendangsono yang luasnya hanya sekitar 1 hektar ini memiliki dua tempat parkir yang cukup luas akan tetapi jika musim ziarah atau liburan, tempat itu bisa menjadi sangat padat. Dari depan, jalan masuk lokasi Sendangsono dari tempat parkir, di kiri dan kanan terdapat penjualan barang-barang rohani seperti patung Bunda Maria, Patung Yesus Kristus, salib, rosario, lilin, dan jerigen beserta botol berbentuk patung Bunda Maria untuk diisi air Sendangsono.
Begitu masuk lokasi Sendangsono di sebelah kanan dibangun jalan salib yang jarak satu dengan perhentian ke perhentian lain sangat dekat, hanya beberapa langkah saja. Diorama-diorama kisah sengsara Yesus Kristus berbentuk kecil dan dinaungi atap berwarna merah tua.
Di sekitar tempat tersebut dibuat semacam tempat duduk bertingkat dari batu, dengan maksud tempat ini bisa digunakan sebagai tempat duduk atau tempat untuk berlutut bagi yang berdoa di sekitarnya. Di akhir jalan salib, terdapat pelataran yang berada di tengah dan di bagian bawah terdapat keran air untuk mengambil air dari sumber air Sendangsono.
Di bagian depan sumber air terdapat gua Maria. Di depan gua Maria terdapat pohon sono besar dan sekitar 10 m sebelah kanan pohon sono terdapat pohon beringin yang tidak kalah besarnya sehingga tempat di sekitar gua Maria menjadi teduh dan memberi kenyamanan dan kesejukan bagi peziarah yang ingin memanjatkan devosinya Bunda Maria.
Di dalam lokasi Sendangsono terdapat tiga kapel yang bisa digunakan para peziarah untuk berdoa atau bagi rombongan peziarah yang membawa pastor, biasanya digunakan untuk perayaan ekaristi. Di sebelah kanan berdampingan dengan gua Maria, terdapat salah satu kapel yaitu kapel Tri Tunggal Mahakudus. Model bangunan kapel Tri Tunggal Mahakudus adalah rumah joglo. Atapnya disusun menjadi tiga lapis. Tiga lapisan atap itu menggambarkan Tri Tunggal Mahakudus (Trinitas).
Kapel yang kedua adalah Kapel Para Rasul. Bangunan ini berada di sebelah utara gua. Ciri bangunan itu, tiang terdiri dari tiga pilar, atapnya disangga oleh kerangka seperti ruji payung, ujung atap ada 12 sudut dan dibangun di pelataran yang dibuat dengan model kolosium romawi. Sesuai namanya, atap kapel ini terdiri dari 12 sudut untuk menggambarkan ke-12 rasul Yesus.Kapel yang lain adalah Kapel Maria Bunda Segala Bangsa. Ciri bangunannya seperti lorong dan ditandai dengan tembok berbentuk lingkaran. Bangunan itu menggambarkan kerahiman dan ketulusan seorang Ibu. Ketiga tempat suci ini dipagari. Pagar besi itu dibuka jika akan digunakan untuk ibadat bersama atau merayakan ekaristi.
Halaman gua Maria merupakan bagian dari halaman kapel Tritunggal Mahakudus. Halaman kapel tersebut merupakan ‘pendapa’ yang berfungsi selayaknya tempat tertemuan rakyat dengan junjungannya di tempat terbuka bersuasana dialogis. Di sebelah utara pada dinding bagian pohon sono yang besar dan rindang terpasang dua batu prasasti yang bertanggal 15 Oktober 1972.
Prasasti pertama bertuliskan dua kutipan yaitu “Berkat pada manusai yang menaruh percaya pada Tuhan. Dengan Tuhan selaku harapannya. Ia bagaikan pohon di dekat air yang mempercayakan akar-akarnya pada arus sungai. Bila panas datang tidaklah ia bingung; daun-daunya tetap hijau; tak pernah ia sedih dalam tahun-tahun yang kering” (Yeremia, 17,7-8) dan “Barang siapa berbahagia hendaklah ia datang kepadakKu dan hendaklah ia minum, siapa saja yang percaya akan Daku. Sungai-sungai air hidup akan berpancaran dari batinnya” (Yohanes 7,37).
Prasasti di bawanya bertuliskan “Dipersembahkan dengan rasa syukur penuh harapan di tengah masa yang sedang bergolak oleh umat yang percaya pada rahmat Roh Kudus, keibuan Meriam yang telah mengandung benih sabda Bapa dan melahirkan penyelamat kita, Yesus Kristus.”
Selain kedua prasasti itu, dekat jembatan masuk menuju pelataran Sendangsono terdapat sebuah prasasti dengan tulisan: “Ikatan Arsitek Indonesia menganugerahkan IAI AWARD 1991: Penghargaan Karya Arsitektur Terbaik 1991 kepada Bangunan Ini untuk Kategori Bangunan Khusus Usaha Penataan Lingkungan”.
Di sebelah kanan atas Kapel Bunda Maria Segala bangsa, terdapat sebuah gapura besar menuju pemakaman yang bertuliskan “Makam Lingkungan Semanggung.” Makam itu adalah makam umat Katolik penduduk sekitar Sendangsono. Di sebelah kanan depan gapura itu, langsung terlihat pemakaman dari dua katekis pertama Kalibawang yaitu Barnabas Sarikromo dan Adrianus Sarikromo.
Makam kedua katekis peratama itu kelihatan mencolok dari semua makam di lokasi pemakaman itu karena dibuat lebih tinggi dan agak istimewa dari makam yang lain. Diatas makam yang dibagun menjadi satu bangunan, dipasang satu patung setengah badan berpakaian adat Jawa sebagai suatu penghormatan kepada kedua pewaris iman Khatolik itu. Di antara kedua makam itu, pada bagian kaki yang menghadap ke arah gapura masuk, terpasang sebuah prasasti besar dengan tulisan, “Makam
rnabas Sarikromo.Wafat 15-7-1945. Adrianus Sarikromo. Wafata 6-5-1966. Katekis Pertama di Kalibawang.” Di dekat gapura pemakaman dan depan kapel Bunda Maria Segala Bangsa, juga berdiri tegak Salib Milenium besar berukuran kira-kira 2 meter yang dipasang pada tahun 2000.
Di antara kapel Tri Tunggal dan Kapel Bunda Maria Segala Bangsa terpasang pahatan peristiwa pembabtisan pertama 171 umat Sendangsono. Menurut Aloyisius Agus Suparto (78), pemilik kios yang paling banyak dikunjungi peziarah mengatakan bahwa 171 orang itu dibabtis oleh Romo Van Lith, SJ pada tanggal 14 Desember 1904. “Romo Van Lith adalah salah satu dari dua pastor yang memperkenalkan Yesus Kristus kepada orang Jawa di Kalibawang ini.” bapak yang tak hentinya mengakui bahwa ia diberkati Bunda Maria di tempat itu menjelaskan.
Antara pelataran gua Maria dan pelataran jalan salib dihubungkan dengan sebuah jembatan berukutan kira-kira 4 meter. Di sebelah kiri dan kanan jembatan dipasang besi bercat merah sebagai pagar sehingga peziarah merasa nyama melewatinya. Di bawa jembatan itu terdapat sekitar 50-an keran air yang dipasang berjejer di sepanjang tembok aliran air lokasi Sendangsono. Untuk mengambil air, dibuatkan trap-trap berupa anak tangga sehingga peziarah tidak kesulitan mengambil air. Pada keran-keran air itulah para peziarah mengisi batol dan jerigen mereka untuk didoakan di depan patung Bunda Maria dan akan dibawa pulang kerumah mereka. Air itu diyakini sebagai air suci. Air dari suci Sendangsono. Pada jembatan yang dibuat dengan memperhatikan daya seninya, peziarah bisa lewat dari situ menuju ke tempat parkir kendaraan bagaian depan.

Patung Bunda Maria
Patung Bunda Maria pada gua yang tersusun dari batu-batu karang itu, tingginya 1,8 cm dan beratnya 300 kilogram. “Patung Bunda Maria di Sendangsono itu didatangkan dari Denmark melalui Semarang, lalu digotong ke Slanden melalui Sentolo, lalu menuju Sendangsono pada tahun 1929 oleh umat Katolih Kalibawang. “Sendangsono dipilih sebagai tempat untuk membangun gua Maria sebagai peringatan kepada peristiwa pembabtisan ke-171 orang di sumber sendang dekat dua pohon sono pada 14 Desember 1904 yang silam oleh Romo Van Lith, SJ.” kata bapak yang dihormati di lingkungan Sendangsono sebagai sesepuh.
Aloysius Agus Suparto yang menuturkan kisah di atas mengaku mengumpulkan berbagai keterangan dari Antonius Sokariyo (katekis awal) Marianus Somokariyo (pamong lingkungan), Plasidus Tanurejo (katekis angkatan kedua), ayahnya, Agustinus Partodikromo, dan para sesepuh di dusun Semanggung, Sendangsono.

Sejarah Sendangsono
Sendangsono adalah nama tempat mempunyai sajarah. Awalnya, sebutan Sendangsono tidak untuk menyebut suatu nama tempat. Sendangsono merupakan sebutan untuk sumber air yang berada di bawah pohon Sono. Istilah Sendangsono merupakan gabungan dua kata, ”Sendang” dan ”Sono”. Sendang merupakan istilah Jawa untuk menyebut sumber air. Sono adalah nama sebuah pohon (baca: angsana). Oleh karena itu, Sendangsono merupakan sebutan untuk mata air yang berada di bawah pohon sono.
Dulu, sebelum nama Sendangsono dikenal, orang sering menyebut sumber air itu dengan sumber Semagung. Dalam perkembangannya, orang mengenal dengan nama Sendangsono.
Sendangsono sebagai tempat ziarah merupakan peristiwa lahirnya Gereja atau umat Katolik di sekitar Kalibawang.
Proses terbentuknya tempat ziarah ini berkaitan erat dengan perkembangan umat Katolik di sekitar Kalibawang. Perkembangan umat Katolik yang pesat mendorong lahir dan berkembangnya Sendangsono.Sebelum menjadi tempat ziarah yang berciri katolik, sumber air di bawah pohon Sono dikenal sebagai tempat keramat. Konon, di tempat itu digunakan untuk semedi. Masyarakat sekitar yakin ada roh-roh yang berdiam di tempat itu.
Menurut legenda, bila roh-roh terganggu, mereka akan mencelakai. Konon pula, di pohon Sono itu berdiam seorang ibu yang bernama Dewi Lantamsari dan anak tunggalnya Den Baguse Samijo. Dua makhluk itu menjadi ”penguasa” daerah itu. Menurut dongeng kuna juga, sumber air Semagung juga digunakan sebagai tempat istirahat para bikshu yang mengadakan perjalanan dari Borobudur ke Boro atau sebaliknya.
Dulu Boro dikenal sebagai tempat biara para bikshu meskipun sekarang ini sudah tidak ada bekasnya. Memang bila dilihat dari jaraknya, sumber Semagung ini berada di tengah-tengah antara Borobudur dan Boro. Pada tanggal 14 Desember 1904, sumber air Semagung dipilih sebagai tempat untuk membaptis. Ketika orang-orang sekitar Semagung masuk agama Katolik, sumber air Semagung dan digunakan digunakan untuk membaptis mereka. Oleh karena itu, sumber air Semagung tidak lagi diperlakukan sebagai tempat tinggal roh-roh tetapi digunakan sebagai tempat berjumpa dengan Tuhan.
Peristiwa baptisan itu menjadi awal mula lahirnya umat Katolik yang berciri Jawa. Dan Sendangsono menjadi monumen sejarah berdirinya umat Katolik di sekitar Kalibawang. Maka Sendangsono lahir karena umat Katolik lahir dan berkembang di sana.
Tanah Milik Tuhan
Berkisah mengenai latar belakang dan asal mula Sendangsono, areal itu awalnya tanah milik penduduk setempat. Pak Luis berkisah, “Dulu areal tanah yang sekarang ditempati Bunda Maria adalah tanah milik Abraham Dipodongso. Tanah itu diwariskan kepada anaknya, Yoakim Ronojoyo, dan diwariskan lagi kepada anaknya, Agustinus Partodikromo, ayah saya.” Kisahnya lagi, “Pada waktu itu tempat itu masih hutan/semak dengan dua pohon sono yang besar dan dua pohon beringin yang rindang. Tempat itu dianggap angker oleh penduduk sekitar.”

bunda

Aloysius Agus Suparto menuturkan bahwa pada saat itu ayahnya, Agustinus Partodikromo ditemui Barnabas Sarikromo dan Antonius Sokariyo, katekis-katekis awal dari daerah itu bermusyawarah. Kedua katekis itu mengharapkan sebagian tanah milik ayahnya untuk tempat ziarah. Bapak yang ramah itu menjelaskan, “Awalnya ayah saya tidak setuju, tetapi setelah direnungkan dan meminta pertimbangan dari keluarga, akhirnya ayah merelekan sebagian tanahnya seluas lebih kurang 300 m². Ayah berpendapat bahwa “Segala sesuatu yang ia miliki adalah milik Tuhan. Jadi tanah ini milik Tuhan, ia hanya mengolahnya.”

Setelah disetujui, kedua katekis itu mengumpulkan umat Katolik dan merencanakan tempat itu untuk mendirikan gua Maria. Pembangunan itu melibatkan seluruh umat Katolik. Mereka bergotong royong mencari bahan material.
Setelah ayah Pak Luis, Agustinus Partodikromo meninggal, untuk perluasan lokasi tempat ziarah gua Maria Sendangsono, pada tahun 1970, sepupu Pak Luis, Bruder Tirto Sumarto, SJ menawarkan untuk membeli tanah warisannya. Pak Luis menjelaskan bahwa saat itu ia menjawab “Saya tidak mau jual. Tanah ini tanah warisan, tetapi jika ini untuk Bunda Maria, saya relakan. Saya tidak mau berhitung dengan Bunda Maria. Saya tidak mau pelit karena bapak saya juga dulu tidak pelit.”
Pak Luis secara jujur mengatakan bahwa dengan memberikan tanah leluhurnya untuk dipakai Bunda Maria adalah hal yang jauh lebih berharga dan bernilai daripada uang sebesar dan sebanyak apapun “Saya sangat bersyukur karena Tuhan memakai tanah kami sebagai RumahNya.” Pak Luis bertutur dengan nada iklas. Ia menambahkan bahwa saat mati ia tidak akan membawa tanah atau uang. Ia menagatakn bahwa Tuhan berkenan menggunakan tanah keluarga mereka, sudah merupakan berkah sangat besar bagi kehidupan keluarga besarnya.
Melalui berkat Bunda Maria di temapt itu, Pak Luis dapat menyekolahkan tiga anaknya hingga perguruan tinggi dan sekarang sudah mendapat pekerjaan semua. “Itulah berkata yang saya dapat dari Bunda Maria.” Ia mengatakan bahwa dengan memberi dari hati yang tukus kepada Tuhan, Tuhan juga akan memberi yang terbaik kepadanya bahkan pemberiaanNya berlipat ganda.

Berkat Bunda
Atas berkat dan rahmat dari Bunda Maria, Aloyisius Agus Suparto memulai usahanya di Sendangsono sejak 21 tahun yang silam. Singkat cerita, di sebelah kiri gua Maria, terdapat kios milik Aloyisius Agus Suparto, yang akrap dipanggil Pak Luis oleh penduduk sekitar. Kios tersebut ramai dikunjungi para peziarah. Tidak mengherankan karena di tempat yang strategis, tepat di sebelah kiri gua Maria, hanya dibatasi oleh tembok. Kios yang sudah layak disebut tokoh itu lengkap dengan berbagai makanan ringan, berbagai suvenir benda-benda rohani dari harga yang paling murah sampai paling mahal seperti satu rangkaian rosario bisa mencapai harga Rp. 350.000-Rp. 500.000.
Menurut Ani (25) penjaga kios, “Barang-barang rohani itu mahal karena merupakan barang impor dari Roma-Itali.” Dan kelihatannya, hanya menyebutkan asal barang itu, peziarah tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah banyak hanya untuk mendapatkan satu barang kecil. “Walaupun mahal, saya senang mendapat barang buatan Itali karena tanpa harus pergi ke Itali.” ungkap Tari (32), peziarah dari Jakarta yang baru membeli satu rangkaian Rosario yang bagus made in Roma-Itali dengan harga 450 ribu rupih, di kios Pak Luis pada Minggu, (10/5).
Selain kios, bapak yang tidak mau kiosnya disebut toko ini memiliki warung makan yang banyak dikunjungi peziarah, masih satu atap dengan kios. “Pengunjung warung makan kami sekitar 50-60 tiap hari tetapi jika pada hari Minggu atau bulan Maria (Mei dan Oktober), pengunjung mencapai 300-400 orang per hari. Bahkan kami pernah kewalahan karena kehabisan bahan makanan, seperti sayur-mayur karena belum belanja” ungkap bapak yang memiliki tiga anak dan enam cucu.
Di depan kios dan warung makan terdapat ruangan serbaguna dengan daya tampung 100 orang yang merupakan lantai dua dari sepuluh kamar toilet yang selalu bersih dan siap dipakai oleh peziarah. Di sebelah ruang serbaguna dan toilet terdapat sebuah rumah berlantai dua yang siap dipakai oleh peziarah yang ingin menginap. Dalam rumah itu terdapat empat kamar, setiap kamar terdapat dua tempat tidur berukuran tempat tidur keluarga. Tempat tidur yang satu setinggi lutut dan yang lain lebih pendek sehingga jika tidak dipakai bisa digeser masuk ke kolong tempat tidur yang lebih tinggi.
Tepat di bagian belakang ruang serbaguna dan toilet terdapat dua kolam ikan besar yang menurut Pak Luis, hasil dari kolam ikan itu biasanya tidak diperdagangkan tetapi dibagi-bagi kepada tetangga sebagai rasa ungkapan syukur atas berkat Bunda Maria yang melimpah bagi keluarganya.Di lokasi tanah warisan yang berukuran 300 m², selain terisi penuh oleh bangunan, di antara bagunan itu di tata sedemikian rupa sehingga memancarkan nilai seni tersendiri. “Ini adalah hasil kerja dari anak bungsu saya yang berprofesi sebagai arsitek” ungkap Pak Luis. Ungkapnya lagi, “Segala sesuatu yang saya dan keluarga saya miliki adalah semata-mata berkat dari Bunda Maria. Pujian dan hormatku untuk Bunda tak henti-hentinya. Dia adalah Ibu yang tahu kebutuhan anaknya.”

Peziarah
Di depan patung Bunda Maria, setiap hari banyak peziarah yang khusyuk berdoa dan terdapat banyak lilin pezirah yang sedang menyala dan banyak bunga indah untuk dipersembahkan di depan patung Bunda Maria. Selain itu, diletakan juga jerigen-jerigen dan botol yang berbentuk seperti patung Bunda Maria berisi air yang diambil dari keran (sendang), dengan maksud air itu disucikan dengan berdoa.
Dalam keadaan khusyuk seperti itu, terlihat seorang nenek berambut putih, jalannya tidak tegak lagi (kira-kira berumur 80-an) mengorek-mengorek tumpukan sisa-sisa lelehan lilin yang banyak sekali. Bapak yang hanya mengakhiri pendidikannya di tingkat SMP ini menjelaskan bahwa sisa-sisa lilin yang dikumpulkan itu akan dibawa pulang ke rumahnya untuk didaur ulang. “Nenek itu adalah penduduk lokal yang diberi ijin khusus untuk mengumpulkan sisa-sisa lilin untuk didaur ulang menjadi lilin yang siap pakai.” ujarnya.
Tempat ini ramai dikunjungi peziarah dari seluruh Indonesia pada bulan Mei dan bulan Oktober, bulan Maria gabi umat Katolik. Selain berdoa, pada umumnya para peziarah mengambil air dari sumber air Sendangsono. Mereka percaya bahwa air tersebut dapat menyembuhkan segala macam penyakit.

Feature

Juni 8, 2009 oleh safegoreti

Batu berbentuk lingga kuno

“Inilah penghubung antara jang silam dengan jang mendatang. Pada tanggal 28 Desember 1957, dalam rangka pembangunan gedung ini, ditemukan di tanah ini sebuah batu berbentuk lingga kuno.Warisan nenek moyang kita tahun 882 Masehi jang kini menjadi hak milik Dinas Purbakala Prambanan demi
kelanjutan kebudayaan nasional.”
Demikian tulisan pada prasastri yang ditempelkan di tembok bagian depan Pastoran Kolese SJ de Britto, Jln. Laksda Adisupcipto, no. 161, Yogyakarta. Tulisan yang menggunakan ejaan lama ini, menarik perhatian setiap tamu yang berkunjung. Warmin (56) yang telah mengabdikan dirinya sebagai karyawan sejak tahun 1972 di Pastoran De Brotto, sambil memandang prasasti tersebut, menjelaskan, “Sesuai pernyataan pada prasasti itu, memang benar, pada tahun-tahun pertama pembangunan rumah ini ditemukan batu berbentuk lingga kuno yang bertuliskan bahasa Jawa kuno tetapi saya juga tidak mengerti arti tulisan itu.”
Pernyataan pada prasasti itu merupakan pernyataan peneguhan mengenai suatu hal yang perlu dicatat dalam sejarah Indonesia. Mengapa? Benda bersejarah itu selain mengingatkkan manusia dari generasi ke generasi pada sejarah masa lalu juga bernilai edukatif bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu peniggalan sejarah itu purlu dilestarikan.
Warmin yang memulai kerjanya sejak pukul 05.00-21.00 WIB menjelaskan bahwa peninggalan sejarah yang ditemukan di tempat ini membuktikan bahwa di tempat ini pernah terjadi suatu peristiwa yang sampai sekarang belum ada ahli sejarah yang menemukan titik terang, peristiwa apa yang pernah terjadi di tempat ini.

Sambil menunjuk ‘bingkai foto penemuan batu berbentuk lingga’ peninggalan sejarah yang dipajang di ruang tamu, bapak yang sudah bungkuk dan batuk-batuk ini menjelaskan bahwa batu itu telah dimusiumkan oleh Dinas Purbakala Prambanan sebagai sebuah peninggalan sejarah yang berharga yang perlu dijaga. Pada foto batu yang berbentuk lingga kuno itu bertuliskan “Piagam Demangan ditemukan 28 Desember 1957 di tanah pembangunan de Britto, Yogyakarta.”
Terkait dengan penemuan itu, pria yang hanya mengingat tahun kelahiranya dan telah lupa tanggl lahirnya kecuali lihat di KTP-nya ini memperkirakan ada berbagai benda bersejarah yang memiliki nilai tinggi berada di dalam tanah. Diperkirakan, benda-benda tersebut merupakan peninggalan dari masyarakat primitif.

Feature

Juni 8, 2009 oleh safegoreti

Yudhistira Ghalia Indonesia Terbukti Sukses

Takut tidak lulus ujian, tegang tidak masuk sekolah favorit, tidak usah takut dan bimbang. Temukan solusinya di tokoh buku Yudhistira Ghalia Indonesia di kota asalmu.
Dengan tujuan mencerdaskan sumber daya manusia, Penerbit Yudhistira Ghalia Indonesia telah banyak menerbitkan buku-buku pelajaran dari tingkat pendidikan dasar sampai tingkat perguruan tinggi yang layak untuk Anda miliki dan telah tersebar di berbagai toko Yudhistira Ghalia Indonesia di seluruh kota besar di Indonesia.
Penerbit Yudhistira yang berdiri pada tahun 1971 dan baru disahkan pada 6 Januari 1996 ini didirikan oleh Almarhum Lukman Sa’ad dan kini dipimpin oleh Dr.Tiarnugini ini, memang terkenal karena selalu menerbitkan buku-buku yang high quality. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil penerbitannya. Mengapa? Setelah laku terjual, sebelum buku tersebut dicetak ulung, pelanggang dari berbagai yayasan sudah menelepon berulang-ulang ke bagian percetakan atau toko buku terdekat untuk memesan buku tersebut. Hal ini bukan hanya keberhasilah penulis buku tetapi peran penerbit sangatlah penting. Pihak percetakan yang dengan daya upaya mempromosikan buku tersebut kepada semua yayasan di Indonesia. Saat ditanya tentang taktik ampuh untuk menarik pelanggan, dengan mantap, Direktur Cabang Yogyakarta, Suhari, S.Pd. menjelaskan, “Taktik yang biasanya digunanakan untuk menarik pelanggan adalah dengan menyebar brosur ke berbagai lembaga pendidikan. Usaha lain yang dilakukan Percetakan Yudhistira yaitu melalui jalur internet (website).”
Ketika ditemui di tempat pameran buku, Jogya Expo Center (JEP), Minggu, (15/3), Tri (34) salah satu karyawan Yudhistira menjelaskan bahwa berdasarkan catatan pada brosur, Penerbit Yudhitira Ghalia Indonesia telah menerbitkan 170 judul buku untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), 110 judul buku untuk tingkat Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP), 98 judul buku untuk tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU), dan sedikitnya 50-an judul buku untuk tingkat Perguruan Tinggi. “Penerbit yang memfokuskan penerbitannya pada dunia pendididkan sesuai kurikulum ini bertekat menjadi penerbit buku bermutu dan senantiasa memberikan yang terbaik bagi dunia pendididkan.” jelas Tri.
Di stand no. 3, stand toko buku Yudhistira, pameran buku tahun 2009 di JEC, karyawati yang bekerja sejak pukul 8.00 sampai 16.00 WIB ini menjelaskan, “visi Percetakan Yudhistira yaitu “Mendarmabaktikan diri pada dunia perbukuan untuk berperan serta mencerdaskan kehidupan bangsa guna meningkatkan sumber daya manusia Indonesia.” Ia melanjutkan penjelasannya, “Visi yang luhur ini diterapkan dalam tri misinya yaitu menciptakan buku bermutu untuk memenuhi sarana pendidikan bangsa, memenuhi kebutuhan pelanggan dengan memberikan pelayanan terbaik melalui jaringan distribusi yang kuat dan luas, serta menumbuhkan perusahaan yang sehat secara berkesinambungan dari tahun ke tahun.”
Sehubungan dengan pameran buku yang diadakan oleh anggota IKAPI, Suhari mengatakan bahwa toko buku Yudhistira Ghalia Indonesia cabang Yogyakarta bukan anggota IKAPI tetapi Yudhistira turut mengambil bagian dalam memeriahkan Pesta Buku Tahun 2009, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa anggota IKAPI hanya 49 PT percetaka, sementara yang ikut pameran buku tahun ini, berdasarkan dena penempatan, ada 90 stand yang turut ambil bagian dalam memeriahkan pameran buku tahun ini. Saat ditanya tentang alasan mengapa Yudhistira tidak masuk sebagai anggota IKAPI, Suhari dengan spontan menjelaskan, “Yudhistira tidak masuk anggota IKAPI karena pusat Percetakan Yudhistira tidak berlokasi di Yogyakarta tetapi di Jawa Barat. Di Yogyakarta, Yudhistira hanya membuka usaha penjualan buku.”
Percetakan yang berpusat di Jl. Rancamaya Km. 1. No. 47, Ciawi, Bogor, Jawa Barat ini dalam rentang waktu 37 tahun, melalui kerja keras dan komitmen yang utuh dari seluruh karyawan dan manajemen Yudhistira Ghalia Indonesia telah berhasil meraih kepercayaan publik dengan hasil yang membanggakan. “Penerbit ini mendapat respons positif dari masyarakat. Peminatnya dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan yang signifikan.”ujar Suhari. Hal senada juga disampaikan oleh Tri. Ia berpendapat bahwa berdasarka laporan tiap tahun, diperkirakan sebanyak ribuan juta eksemplar yang terjual.
Saat ditemui stand toko buku Yudhistira di JEC, tempat pemeran buku tahun 2009 yang diadakan oleh 49 anggota IKAPI, Daerah istimewa Yogyakarta, Minggu, (15/3), Toni (23) mahasiswa semester IV Fakultas Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Yogyakarta yang baru membeli buku Panduan Belajar untuk SMA, berpendapat bahwa buku panduan belajar yang sudah cukup lengkap berdasarkan kurikulum ini akan cukup membatu dia untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk persiapan mata kuliah Micro Teaching di kampusnya dan buku itu juga akan dipakai untuk praktek mengajar di SMA semester depan. Menurut Toni, ia sudah lama mencari buku panduan mengajar seperti yang baru dibelinya di beberapa toko buku di Yogyakarta tetapi tidak ada. Dengan bangga ia mangatakan “Tujuan kedatangan saya ke JEC bukan untuk membeli buku. Saya hanya ingin menyegarkan pikiran di sini, tetapi ternyata ketemu buku yang selama ini saya cari di toko Yudhistira.”
Saat dihubungi melalui telepon, Kepala Sekolah SMUN I Insana, NTT, Drs. Melki Suni (45), yang sudah lima tahun menjadi pelanggan Yudhistira, Selasa , (17/3) berpendapat bahwa dengan adanya kerja sama antara pihak sekolahnya dan toko Yudhistira yang berlokasi di Kupang, sekolahnya tidak ketinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan. “Sekolah yang berlokasi di desa, kadang sulit mendapat sumber-sumber yang relevan, tetapi saya beruntung karena bekerja sama dengan toko buku Yudhidtira di Kupang, jadi kami tidak kesulitan.” Guru bidang studi Matematika yang sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama lima tahun ini menjelaskan bahwa jika ada buku penerbitan baru, pihak toko buku Yudhistira langsung memberitahukan, dan jika ada persetujuan antarkedua pihak, biasanya buku langsung dikirimkan melalui paket”. Menurut Pak Melki, panggilan akrapnya, sumber bahan pelajaran sangat berpenaruh bagi tingkat kelulusan tiap tahun. “Saya bersyukur karena sekolah kami yang berlokasi di desa pun tidak kalah saing dengan sekolah yang berlokasi di kota.”katanya membandingkan. Kepala sekolah yang terkenal sebagai kepala sekolah muda, pintar, dan gaul ini, mengatakan bahwa semua yang dikatakannya itu terbukti karena pada ujian nasional setiap tahun, sekolahnya selalu menduduki peringkat lima besar di tingkat provinsi.”
Hal senada juga disampaikan oleh guru bidang studi Bahasa Indonesia, Bernadete Da Silva, S.Pd. (35). Saat dihubungi melalui telepon, Rabu (18/3), berpendapat bahwa dalam hal belajar-mengajar para guru bidang studi dipermudah oleh kepala sekolah dengan membelikan buku panduan mengajar yang sudah lengakap, mulai dari standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator, materi, bahkan sampai evaluasi. Selain buku panduan belajar berdasarkan kurikulum yang berlaku, guru juga dituntut oleh kepala sekolah agar kreatif menggunakan berbagai media pembelajaran dalam menyajikan teori agar siswa memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.” jelas ibu yang akrap disapa Ibu Bernadete.
Menanggapi kedua narasumber di atas, saat dihubungi melalui telepon, Kamis, (19/3), Suhari yang menghabiskan waktunya selama 12 jam per hari di kantor pusat area Yogyakarta yang beralamat di Jl. Sugeng Jeroni, no. 8, Yogyakarta ini mengatakan bahwa selain respon positif dari masyarakat, penerbit ini pun mendapat ancungan jempol dari pemerintah. Mengapa demikian? Ini adalah suatu keberhasilan yang patut disyukuri karena Yudhistira berhasil masuk nominasi penilaan buku pada pusat perbukuan nasional pemerintah Indonesia pada tahun 2004 yang diselenggarakan oleh tim Panitia Nasional Penelaian Buku Pelajaran (PNPBP) pusat perbukuan Depdiknas. Buku-buku yang berhasil diseleksi adalah buku Matematika SD/MI dan buku ILMU Pengetahuan sosia untuk SD/MI.
Hal senada juga dikatakan oleh Tri yang sudah berstatus karyawan tetap di Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Penerbit Yudhistira bekerja sama dengan berbagai sekolah dan yayasan di berbagai kota sehingga jika ada buku baru yang terbit, pihak Yudhistira tidak mengalami kesulitan dalam proses penyaluran buku-buku tersebut. Sebagai rekan kerja, pelanggan buku biasanya diberi kemudahan dengan membarikan diskon sebanyak 10% setiap pembelian, baik dalam jumlah sedikit maupun dalam jumlah banyak.
Selain menerbitkan buku, Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia telah memiliki yayasan pendidikan yang meliputi SLTP, SMU, SMEA, dan STM, dan pendidikan lanjutan untuk tingkat tinggi (Politeknik, STIE, STMIK, STKIP, LPK, serta PKMB) yang terseber di Bandung, Subang, dan Sumedang Jawa Barat. Sampai saat ini, yayasan yang mempekerjakan karyawan sekitar 900-an orang ini, telah meluluskan sekitas 3000 siswa yang telah bekerja dalam berbagai bidang lapangan kerja sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki masing-masing.
Selain visi dan misi Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia yang telah disebutkan diatas, saat ditemui di pameran buku JEC tahun 2009 yang mengambil tema “Pikiran dibuka nurani berbicara”, menurut Suhari, Yayasan Lembaga Pendidikan Yudhistira juga memiliki visi dan misi tersendiri. Pria yang menamatkan pendidikan terakhirnya di UNY tahun 1994 ini menjelaskan bahwa visi Yayasan Pendidikan Yudhistira yaitu mempersiapkan para lulusannya yang terdidik dan taqwa kepada SWT, adaptif, trampil, mandiri, dan mampu mengembangkan diri agar dapat berkompetisi mengisi pasar kerja tingkat menengah sesuai dengan tuntutan otonomi daerah, nasional maupun internasional.Visi ini diterapkan dalam tiga misi yaitu menyiapkan peserta didik melalui upaya peningkatan manajemen sekolah tenaga kependidikan dan pengembangan fasilitas kesiswaan, lingkungan sekolah, proses belajar mengajar, hubungan kerja dengan unit produksi dengan memperhatikan tingkat keterampilan ketercapaian tujuan.
Yayasan penerbit yang telah memiliki 22 lembaga pendidikan ini, kini mempunyai website. Informasi mengenai sekolah-sekolah dari pendididkan menengah sampai pendidikan tinggi yang berada di bawa naungan Yayasan Lembaga Pendidikan Yudhistira ada semua pada alamat website tersebut. Dalam website itu memuat status, waktu belajar, fasilitas, alamat, program studi, syarat dan biaya pendaftaran. Anda bisa mendapatkan informasi secara lengkap pada alamat website ini www.yudhistira.ac. Id.
Direktur Cabang Yogyakarta, Suhari, berpendapat bahwa usaha yang awalnya bersifat mikro ini sekarang sudah berkembang dan mempunyai suatu tujuan yang mulia yaitu untuk memberdayakan masyarakat, khususnya untuk menyerap tenaga kerja, pengentasan kemiskinan di bidang pendidikan, dan memperbaiki mutu pendidikan Indonesia.
Untuk menghubungi Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia, dapatkan alamat Yudhistira di halaman belakang semua buku terbitannya. Namun untuk mempermudah Anda, silahkan menghubungi alamat kantor pusat yang telah disebutkan di atas atau menghubungi toko buku Yudhistira di kota asalmu.
Jadi, jika Anda ingin menjadi orang yang sukses, kunjungilah toko buku Percetakan Yudhistira Ghalia Indonesia di mana saja Anda berada karena percetakan ini kini tersebar di semua kota di Indonesiin percaya diri dan berani menghadapi ujian serta mudah diterima di sekolah favorit; tidak usah takut dan bimbang. Temukan solusinya di tokoh buku Yudhistira Ghalia Indonesia di kota asalmu karena Yudhistira Ghalia Indonesia Terbukti Sukses.

Sastra Lama

April 30, 2009 oleh safegoreti

P u i s i L a m a

1. Macam-macam puisi lama.
a. Pantun
Pantun yaitu salah satu bentuk puisi lama Melayu yang di dalamnya tersirat kehalusan budi dan ketajaman pikiran.
Ciri-ciri;
1) Setiap baris pantun dapat berdiri sendiri.
2) Bersajak ab-ab
3) Bersifat lirik: mengungkapkan perasaan.
4) Tediri atas sampiran dan isi.
5) Dua baris pertama: sampiran, dua baris terakhir:isi.
6) Terdiri ndari 4 baris, tiap baris terdiri dari 4 kata, 9-12 suku kata.
7) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
b. Talibun
Talibun adalah sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, jumlah barisnya lebih dari empat.
Ciri-ciri:
1) Merupakan jenis puisi bebas.
2) Terdapat beberapa baris dalam rangkap untuk mmenjelaskan pemerian.
3) Tidak ada pembayang, setiap rangkap dapat menjelaskan satu keseluruhan cerita.
4) Terdiri dari 6-20 baris.
c. Berirama akhir abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde. Mantra
Mantra adalah puisi yang memiliki aspek ritual, diucapkan pada kesempatan tertentu dengan cara-cara tertentu dan ditujukan pada makhluk gaib.
Ciri-ciri:
1) Bersifat lisan, sakti atau magis
2) Adanya perulangan
3) Metafora merupakan unsur penting
4) Bersifat esoferik (bahasa khusus antara pembicara dan lawan bicara) dan misterius
5) Lebih bebas dibanding puisi rakyat lainnya dalam hal suku kata, baris dan persajakan.
d. Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk cerita yang mementingkan irama sajak.
Ciri-ciri:
1) Setiap bait merupakan bagian dari keseluruhan.
2) Bersajak aa-aa, aa-bb
3) Bersifat epik: mengisahkan seorang pahlawan.
4) Tidak memiliki sampiran, hanya memiliki isi.
5) Semua baris diawali huruf capital.
6) Semua baris diakhiri koma, kecuali baris ke-4 diakhiri tanda titik.
7) Mengandung dua hal yang bertentangan yaitu rayuan dan perintah.
e. Karmina
Karmina adalah pantun dua seuntai (pantun kilat)yang terdiri dari dua baris, baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua sebagai isi.
Ciri-ciri:
1) Memiliki rumus rima a-a
2) Isi biasanya berupa sindiran.
f. Hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa yang berisi kisah, cerita, dongeng atau sejarah. Biasanya mengisahkan tentang kehebatan atau kepahlawanan seseorang.

2. Tokoh pembeharu dalam puisi Indonesia dan kebaharuannya.

a. Rustam Effendi
1) Tidak mengikuti pola penulisan pantun atau syair melainkan menggunakan pola penyusunan kalimat.
2) Tiap bait terdiri dari 4 baris, tiap baris terdiri 4 kata, 9-10 suku kata, terbagi oleh jeda dalam dua bagian elahan napas.
3) Cara menyusun larik-lariknya khas: larik 1 dan 3 menjorok kedalam.
4) Tiap bait: 4 larik bersajak ab-ab, mengiatkan kita pada pantun tetapi tak terbagi sampiran dan isi.
5) Menggunakan persajakkan akhir dan persajakan dalam.
6) Lima bait merupakan kesatuan, mengiatkan kita akan syair.
7) Penggunaan tipografi dan enjembement
8) Puisi-puisinya bersifat tulisan bikan lisan.
9) Mencari kesamaan bunyi dalam sebuah baris.
10) Menggunakan konsep licentia poetica (kebebasan penyair).
11) Memperhatikan purwakanti dalam dan akhir.
12) Menjaga penggunaan tanda baca.

b. Chairil Anwar
1) Bahasa yang digunakan terlepas dari cirri-ciri bahasa Indonesia lama yang didominasi bahasa Melayu.
2) Puisi Chairil Anwar lebih mementingkan isi daripada bentuk.
3) Bahasa Indonesia bukan lagi alat menyampaikan perasaan-perasaan yang sangsai dan romantis, tetapi telah mencapai alat pengucapan sastra yang dewasa.
4) Chairil Anwar menciptakan bahasa yang lebig demokratis. Ia tidak lagi menyatakan dirinya dengan kata “beta” tetapi menyebut dirinya dengan kata “aku”.
5) Ungkapan-ungkapannya pendek (tidak panjang).

c. Muhammad Yamin
1) Bentuk puisinya bukan pantun bukan syair maupun gurindam.
2) Baitnya terdiri dari 9 baris.
3) Lebih dekat dengan syair tapi lirik sifatnya.
4) Tiap baris terdiri dari dua elahan napas.
5) Berusaha mempromosikan penggunaan bahasa melayu sebagai bahasa persatuan.
6) Bersifat lirikdia menulis sajak 9 seuntai( Tanah Air), lalu sajak-sajaknya kemudian berbentuk soneta.

d. Amir Hamzah :
Bentuk kebaharuannya dalam puisi Indonesia:
1. Meninggalkan bentuk tradisional tetapi masih memanfaatkan bentuk-bentuk syair dan pantun
2. Amir,melepaskan bentuk syair yang monoton dan memberi bentuk puisinya sesuai dengan jiwanya. Memberi gaya baru bagi bahasa Indonesia ,kalimat-kalimat yang padat dalam seruannya,tajam dalam kependekannya. Sehingga susunan kata-kata Amir,bisa dikataka destructive terhadap bahasa lama tetapi merupakan sinar cemerlang untuk gerakan bahasa baru ( HB Jassin,1986)
3. Puisi Buah Rindu,memakai perlambangan bunga,dipengaruhi oleh kesusastraan sansekerta (fungsi simbolik) telah diubah secara sistimatis dalam artian telah meninggalkan kesan kesusastraan Jawa Purba.
4. Bahasa yang dipakai banyak memakai kata-kata yang arkhais (tidak hidup)
5. Puisinya banyak menggunakan kosa kata lama yang diambilnya dari khasanah bahasa Melayu,Kawi,Sunda,Jawa.
6. Isi sajak Amir Hamzah kebanyakan bernada kerinduan,penuh ratap kesedihan,rasa sunyi dan pasrah diri tapi ia juga menekankan pada rasional. Perumpamaan dan lambang yang diciptakan untuk memperhidup ungkapan sangat bagus dan khas.
7. Memakai kiasan dan pengertian dari sastra mistik
8. Puisi Amir dipengaruhi oleh sejarah dan agama islam. Seperti puisinya yang berjudul “ PadaMu jua.” Yang dimaksud Mu disini adalah Tuhan,sehingga puisi-puisinya dianggap puisi Religius.
9. Puisi Amir Hamzah mendapat pengaruh dari para Sufi dan Parsi.

Secara lebih lengkap jenis-jenis rima diuraika sebagai berikut:

e. Berdasarkan jenisnya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima sempurna.
Yaitu persama bunyi pada suku-suku kata terakhir
contoh:
Purnama raya,
Bulan bercahaya.
Amat cuaca,
Ke mayapada.

2) Rima tak sempurna.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada sebagian suku kata terakhir.
contoh:

Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

3) Rima mutlak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada dua kata atau lebih secara mutlak (suku kata sebunyi)
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

4) Rima terbuka.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku akhir terbuka atau dengan vokal sama.
contoh:
Purnama raya,
bulan bercahaya.
Amat cuaca,
ke mayapada.

5) Rima tertutup.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada suku kata tertutup (konsonan).
contoh:

Sering saya susah sesa’at,
sebab madahan tidak ‘nak dating,
Sering saya sulit menekat,
sebab terkurung lukisan mamang.

6) Rima aliterasi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bunyi awal kata pada baris yang sama atau baris yang berlainan.
contoh:
Susah sungguh saya sampaikan,
degup degupan didlam kalbu,

7) Rima asonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada asonansi vokal tengah kata.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

8) Rima disonansi.
yaitu persamaan bunyi yang terdapaat pada huruf-huruf mati/konsonan.
contoh:
Bukan beta bijak berlagu,
dapat melemah bingkaian pantun,
bukan beta berbuat baru,
hanya mendengar bisikan alun.

f. Berdasarka letaknya, rima dibedakan menjadi:
1) Rima awal.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada awal baris pada tiap bait puisi.
Contoh:
Rajah kalacakra

Ya maraja jaramaya
Ya marani niraman
Ya silapa palasiya
Ya midosa rodomiya
Ya midosa sadomiya
Ya dayuda dayudaya
Ya siyaca cayasiya
Ya sihama mahasiya

2) Rima tengah.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di tengah baris pada bait puisi
contoh:

Bunda dan Anak

Masak jambak
buah sebuah
Diperam alam diujung dahan
Merah darah
beruris uris
Bendera masak bagi selera

3) Rima akhir.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat di akhir baris pada tiap bait puisi.
contoh:
syair

inilah taman orang bahari,
pungguk wahai jangan tuan kemari,
bukannya tidak kakandan beri,
jikalau tuan digoda peri,

4) Rima tegak.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada bait-bait puisi yang dilihat secara vertical.
Contoh:

Purnama raya
Bulan bercahaya
Amat cuaca
Ke mayapada

5) Rima datar.
yaitu persamaan bunyi yang terdapat pada baris puisi secara horizontal
Contoh:
Anak lakak
Tersera sera
Bunda berlari mengambil jambu
Ibu sugu
Buah sebuah

6) Rima sejajar.
yaitu persamaan bunyi yang berbentuk sebuah kata yang dipakai berulang-ulang pada larik puisi yang mengandung kesejajaran maksud.
Contoh:
Bukan beta bijak berperi,
pandai mengubah madahan syair;
Bukan beta budak negri,
musti menurut undangan mair.

7) Rima berpeluk.
yaitu persamaan bunyi yang tersusun sama antara akhir larik pertama dan larik keempat, larik kedua dengan lalrik ketiga (ab-ba)
Contoh:
Betapa Kami

Betapa sari
Tidakkah kembang
Melihat terang
Si matahari

3. Gaya atau ekspresi.

1) Tataran grafologis.
a. Tanda kutip.
Contoh: “ Persetan beslit! Persetan kegubernuran! Persetan masa depan yang baik! Persetan patungnya nanti di museum nasional! Persetan! Persetan!!”

b. Tanda kapital.
Contoh: “Di atas meja didapati sepotong kertas tulisan almarhum: DEMI KELENGKAPAN DAN KESEMPURNAAN.”

2) Tipografi tataran wajah.
Contoh:
Tragedy Winka dan Shika

Kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
….

3) Tataran fonologis.
a. Aliterasi
Contoh:

kerdil dekil
Takut tulisan titik lalu tumpah
Keras-keras kerak kena air lembut juga
D e b a t-d e b i t; bolak-balik:
Sering saya susah sesaat
Sebab madahan tida na, dating.
Sering saya sulit menekat.

b. Asonansi.
Contoh: Ini muka penuh luka siapa punya.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu

4) Tataran Sintaksis
a. Repetisi.
Contoh: Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal (Selamat Tinggal, Chairil Anwar)
b. Asindenton dan Paralelisme.
Contoh: Sinar mata mereka, warna wajah mereka, nada-nada suara mereka, arti tiap kata yang mereka ucapan, telah berubah semua.

5) Tataran Semantik.
a. Makna denotatif.
1. Paradok.
Contoh; ” Tiba-tiba saja muncul dalam dirinya untuk mencoba mencari kenikmatan dalam penyiksaan”
2. Antiklimaks.
Contoh: “ Kini dia memacu menuju warna merah yang sangat tua, melalui taraf-taraf hijau tua, jingga merah tua, merah sangat tua.”
b. Makna konotatif.
1. Majas perbandingan.
• Majas perumpamaan.
Contoh: Ujung lidahnya laksana ikan hiu menyambar buntal tadi sekali lagi.
Seputih dan sebersih wajahnya yang tampah gembira.
Tiba-tiba bagaikan gunung berapi yang meletus, wali kota tertawa terbahak-bahak.
• Majas metafora.
Contoh: Bumi ini perempuan jalang
Yang menarik laki-laki jantan dan bertapa
Ke rawa-rawa mesum ini.
Masa lampaunya adalah gumpalan hitam
Di dalam sakunya lah justru terletak kunci kehidupan.
• Majas personifikasi.
Contoh:

Tiupan terompet yang merengekkan lagu kepahlawanan
Senja yang telah tua sekali
Alam semesta dimakinya habis-habisan

• Majas aligori.
Contoh:
Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai
Tersembunyi kembang indah permai
Tidak terlihat orang yang lalu

2. Majas pertentangan.
• Majas hiperbola.
Contoh:
Amarahnya tumpah mualnya luber sudah

• Majas litotes.
Contoh:
Pengapur sebenarnya menginginkan tiaadanya dia sang opseter itu

3. Majas pertautan.
• Majas sinekdok.
 Majas pars prototo.
Contoh:
Pembicaraan empat mata

 Mjas totem proparte.
Contoh:
Negri itu sedang berduka
.
• Majas euvimisme.
Contoh:
Wakil wali kota yang berintelegensi sederhan itu

6. Analisis puisi! Unsur baru dan unsur tradisionalnya:
BUKAN BETA BIJAK BERPERI
Rustam Efendi

Bukan beta/bijak berperi,
pandai menggubah/madahan syair,
Bukan beta/budak negeri,
musti menurut/undangan mair.

Sarat saraf/saya mungkiri,
untai rangkaian/seloka lama;
Beta buang/beta singkiri,
sebab laguku/menurut sukma.

Susah sungguh/saya sampaikan,
degup-degupan/di dalam kalbu;
Lemah laun/lagu dengungan,
matnya digamat, rasain waktu.

Sering saya/susah sesa’at
sebab madahan/tida na’datang;
Sering saya/sulit menekat,
sebab terkurang/lukisan mamang.

Bukan beta/bijak berlagu,
dapat melemah/bingkaian pantun;
Bukan beta/terbuat baru,
hanya mendengar/bisikan alun.

a. Unsur lamanya, yaitu:
1) Bersajak ab ab.
2) Baris kedua diakhiri tanda ( ; ).
3) Tiap bait terdiri dari 4 baris.
4) Setiap baris terdiri dari 4 kata, 9-19 suku kata.
5) Menggunakan bahasa Melayu lama.
6) Terdapat perulangan kata.
7) Setiap baris merupakan isi dari keseluruhan.
8) Bersifat lirik

b. Unsur barunya, yaitu:
1) Baris partama dan ketiga menjorok kedalam.
2) Baris pertama dan ketiga diakhiri tanda koma ( , ).
3) Terdiri dari dua elahan nafas
4) Baris ke-1 dan ke-3 diawali dengan huruf kapital dan diakhiri tanda koma
5) Tiap bait tidak terbagi atas sampiran dan isi
6) Terdapat perulangan bunyi
7) Kelima baitnya merupakan satu kesatuan